PENINGKATAN HASIL BELAJAR PAI MELALUI METODE DRILL KELAS 7 TUNAGRAHITA DI SLB
YAYUK MURNIAWAN1 Email [email protected]
ABSTRAK
Analisis ini bertujuan untuk mengetahui permasalahan yang terjadi pada peningkatan hasil belajar Materi Sholat Wajib kelas 7 Tunagrahita SLBN 1 Muara Teweh Tahun Ajaran 2020/2021 sebelum dan sesudah penerapan metode Drill, sampel pengamatan adalah siswa SLBN 1 Muara Teweh, materi sholat wajib dengan metode drill, terjadi peningkatkan hasil belajar dengan nilai rata-rata, yaitu siklus I 61 (25%), siklus II 68 (50%), siklus III 73 (100%), peningkatkan aspek keaktifan, perhatian dan penguasaan dilihat dari jumlah skor siswa , yaitu siklus I (25), siklus II (26), siklus III (32), peningkatkan pemahaman (nama, waktu,rokaat, gerakan dan keutamaan, prilaku yang mencerminkan ibadah sholat wajib) saat praktek, yaitu pada siklus I (14), siklus II (19), siklus III (24). Penelitian ini akan memberikan informasi tentang implementasi Materi Sholat Wajib untuk siswa Tunagrahita, sehingga memberikan manfaat Teoritis sebagai referensi dalam penelitian yang terbaru khususnya penerapan metode Drill dan berpartisipasi dalam pengembangan pengetahuan di sekolah serta memberikan khasanah keilmuan bagi para guru sehingga menjadi pendidik yang inovatif serta kreatif, manfaat Praktis bagi guru sebagai bahan pertimbangan dalam merancang dan melaksanakan program pembelajaran dengan alternatif model pembelajaran, dapat menambah wawasan pengetahuan siswa Tunagrahita, menumbuhkan suasana belajar yang menyenangkan untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran serta menciptakan peserta didik yang berkualitas
Kata kunci: peningkatan hasil belajar, tunagrahita, metode drill PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan suatu keharusan bagi manusia karena pada hakikatnya manusia lahir dalam keadaan tidak berdaya, dan tidak langsung dapat berdiri sendiri, dapat memelihara dirinya sendiri. Manusia pada saat lahir sepenuhnya memerlukan bantuan orang tuanya. Karena itu pendidikan merupakan bimbingan orang dewasa mutlak diperlukan manusia. Pendidikan merupakan hal yang wajib didapatkan oleh seluruh manusia tanpa terkecuali dan merupakan hal yang melekat erat hubungannya dengan manusia.
(Sadullah, 2014).
Pengertian pendidikan sendiri adalah semua perbuatan atau semua usaha dari generasi tua untuk mengalihkan (melimpahkan) pengetahuannya, pengalamannya, kecakapan serta keterampilannya kepada generasi muda, sebagai usaha untuk menyiapkan mereka agar dapat memenuhi fungsi hidupnya, baik jasmaniah maupun rohaniah. (Zuhairini,1997) Pendidikan dimaknai sebagai memanusiakan manusia, menjadikan manusia seutuhnya atau upaya yang dilakukan secara sadar dalam rangka mengembangkan potensi yang telah dimiliki oleh manusia (peserta didik) kepada kondisi yang lebih baik, yang menyangkut jasmaniah dan rohaniah. (Nizar, 2014) Sebagaimana yang telah dirumuskan dalam UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 pasal 3, bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat.
Dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. (Kastoloni, 2014) Dari UU tersebut dijelaskan bahwasanya tujuan utama dari pendidikan yaitu mengembangkan kemampuan, membentuk watak dan juga mengembangkan potensi peserta didik, pendidik harus menyediakan jalan yang menjadi perantara bagi pertumbuhan yang seimbang dari manusia, yang mencakup aspek spiritual, intelektual, perasaan, baik secara individu maupun kelompok. Secara tidak langsung, dalam pendidikan, seorang guru harus mampu memberikan reinforcement (penguatan) kepada siswa dalam upaya membantu merealisasikan penggalian potensi diri yang ada, untuk mewujudkan penggalian totalitas potensi siswa tersebut guru harus mampu memberikan dan menciptakan suasana proses pembelajaran yang baik untuk menopang tujuan pembelajaran yang telah dicitakan. Perubahan sebagai hasil belajar dapat ditunjukkan dalam berbagai bentuk seperti perubahan pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, keterampilan, kecakapan, kebiasaan serta perubahan aspek-aspek lain pada individu yang sedangbelajar.
Proses belajar ini akan lebih berhasil jika bermakna. ( Kastoloni, 2014)
Sebagai seorang pendidik/guru harus dapat memberikan segala bentuk peluang kepada seorang peserta didik yang mencakup berbagai aspek pendidikan yang berguna agar peserta didik dapat menemukan potensi yang terdapat dalam dirinya dan terus menggalinya sehingga dapat menjadi skill atau keahlian yang dapat dimanfaatkan bagi dirinya sendiri ataupun orang lain (Surawan : 2020). Maka dari itu, sangat diperlukan peran seorang pendidik yang professional agar dapat menumbuhkan bakat potensi terpendam yang dimiliki siswanya. Dalam pembelajaran setiap individu tentunya berhak untuk mendapatkan suatu layanan pendidikan tanpa
terkecuali, pada anak berkebutuhan khusus (ABK) sekalipun. Mereka berhak makan bersama, berkumpul bersama layaknya orang pada umumnya, begitu pula dalam hal pendidikan. Seorang ABK tentu berhak untuk memperoleh pendidikan yang layak seperti orang pada umumnya. Meskipun memiliki berbagai kekurangan yang ada dalam dirinya seperti kemampuan intelektual yang rendah atau kekurangan secara fisik, bukan berarti tidak perlu mandapatkan layanan pendidikan seperti orang normal pada umumnya. Bisa jadi seorang ABK yang memiliki kekurangan fisik atau nonfisik memiliki kelebihan terpendam yang unik, bahkan bisa jadi bakat ataupun potensi yang ada dalam dirinya melebihi orang yang normal. Oleh sebab itu tidak dibenarkan apabila seorang ABK dilarang untuk memperoleh haknya sebagai manusia, yaitu layanan pendidikan yang layak.
UU No. 2 Tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional Pasal 5 menyatakan, bahwa setiap warga mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan. Kemudian pada pasal 8 ayat 1 dari UU yang sama menyebutkan, bahwa warga negara yang memiliki kelainan fisik dan/atau mental berhak memperoleh pendidikan luar biasa adalah pendidikan yang disesuaikan dengan kelainan peserta didik berkenaan dengan penyelenggaraan pendidikan yang bersangkutan. Berdasarkan Undang-Undang yang telah disebutkan maka sudah sangat jelas bahwa seluruh individu termasuk anak berkebutuhan khusus memiliki hak yang sama dalam hal memperoleh layanan pendidikan. Dalam hal layanan pendidikan, agama Islam juga mengajarkan agar tidak memilih antara individu tertentu. Agama Islam memberi keutamaan agar saling membantu dan memberi nasehat kepada sesama muslim, tanpa terkecuali. Jadi, anak berkebutuhan khusus pun juga memperoleh hak untuk belajar dan diberikan layanan pendidikan yang layak sebagaimana anak normal pada umumnya. Anak berkebutuhan khusus selain membutuhkan keterampilan dan ilmu pengetahuan umum seperti ilmu alam, membaca, berhitung dan lainnya, juga membutuhkan pendidikan agama karena bertujuan untuk membentuk pribadi muslim seutuhnya, mengembangkan seluruh potensi manusia yang berbentuk jasmaniah maupun rohaniah, menumbuh suburkan hubungan yang harmonis setiap pribadi dengan Allah, manusia dan alam semesta (Daulay dan Pasa, 2012:3). Jadi pendidikan yang diberikan untuk para ABK tidak hanya berfokus pada bakat dan potensi yang dimiliki seorang ABK saja, pendidikan agama juga merupakan hal yang sangat penting. Seorang ABK hendaknya diberikan pendidikan agama sejak dini dan terus dibimbing sehingga memiliki pribadi muslim seutuhnya dan memiliki hubungan yang harmonis dengan Allah, manusia dan juga alam.
Peran seorang pendidik dalam dunia pendidikan pada umumnya sangatlah penting, tidak terkecuali dalam dunia pendidikan anak
berkebutuhan khusus, salah satu harapannya yaitu seorang guru yang tulus ikhlas mengajarkan segala ilmunya kepada para ABK, sehingga para ABK dapat termotivasi dan tidak memiliki rasa minder terhadap orang disekitarnya.
Kondisi peserta didik sebelum melakukan penelitian tindakan kelas masih menunjukkan rendahnya pemahaman peserta didik dalam menerima materi pelajaran. Kondisi awal yang demikian inilah yang menjadi acuan dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas. Berdasakan hasil belajar siswa kelas 7 tunagrahita yang diperoleh sebelum tindakan penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kelas baru mecapai 20% menunjukkan bahwa jumlah siswa yang telah tuntas hanya satu siswa, sedangkan peserta didik yang belum tuntas sebanyak empat siswa (80%). Dengan hasil belajar yang demikian berarti belum mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang diharapkan.
Data yang diperoleh sebelum penelitian tindakan kelas tersebut menjadi dasar pijakan dalam melaksanakan penelitian tindakan kelas (PTK) menggunakan metode drill pada siswa kelas 7 Tunagrahita di SLBN-1 Muara Teweh. Berhubungan dengan hal tersebut penulis berniat untuk melaksanakan penelitian mengenai upaya peningkatan hasil belajar materi Sholat Wajib pada ABK tunagrahita pada salah satu lembaga pendidikan, yaitu Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Muara Teweh. Penelitian dilaksanakan kepada siswa kelas 7 tunagrahita di SLB Negeri 1 Muara Teweh.
Penelitian ini dilaksanakan menggunakan metode drill. Metode drill sendiri yaitu latihan secara berulang-ulang yang dimaksudkan untuk mengembangkan keterampilan dan pengetahuan dari para siswa.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). PTK merupakan penerapan penemuan fakta pada pemecahan masalah dalam situasi sosial dengan pandangan untuk meningkatkan kualitas tindakan yang dilakukan di dalamnya, yang melibatkan kolaborasi dan kerjasama para peneliti, praktisi dan orang awam. Peneliti akan melakukan penelitian langsung di dalam kelas terhadap anak-anak Tunagrahita yang terdapat di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Muara Teweh. PTK adalah suatu pendekatan untuk peningkatkan pendidikan dengan melakukan perubahan ke arah perbaikan terhadap hasil pendidikan dan pembelajaran tujuan penelitian ini untuk memperbaiki dan peningkatkan hasil belajar secara berkesinambungan kualitas praktik pembelajaran secara berkesinambungan,sehingga meningkatkan mutu hasil intruksional, mengembangkan keterampilan guru, meningkatkan relevansi, menigkatkan efisiensi pengelolaan intruksional serta menumbuhkan budaya meneliti pada
komunitas guru. PTK juga sebagai inovasi dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan seorang pendidik agar senantiasa mengadakan penelitian yang dapat meningkatkan keefisiensian pengelolaan yang membangun dalam kegiatan pembelajaran. PTK terdiri atas empat kegiatan yang dilakukan dalam siklus berulang. Empat kegiatan yang ada pada setiap siklus yaitu perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi yang dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 1.1 Skema siklus penelitian menurut Arikunto
Lokasi dan Waktu Penelitian Latar penelitian Lokasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah di SLBN Negeri 1 Muara Teweh.Waktu penelitian.Waktu pelaksanaan penelitian ini yaitu pada semester 1 tahun ajaran 2020/2021.Subyek Penelitian Subyek dalam penelitian tindakan kelas ini adalah peserta didik kelas 7 Tunagrahita SLBN 1 Muara Teweh dengan jumlah peserta didik 4 siswa. Peneliti menggunakan pola kolaboratif yaitu peneliti sebagai pengamat dan guru yang melaksanakannya. Langkah- langkah Penelitian, Menurut Kurt Lewin dalam bukunya Zainal Aqib 2006:21 dalam pelaksanaan PTK mencakup empat langkah, yaitu: Perencanaan dengan menyiapkan RPP Materi Sholat Wajib dengan menerapkan metode drill pada mata pelajaran Materi sholat wajib, Menyiapkan fasilitas dan sarana yang digunakan dalam pembelajaran. Menyiapkan soal tes tertulis. Mempersiapkan instrument penilaian Pelaksanaan tindakan. Dalam tahap ini peneliti bersama guru melaksanakan satuan perencanaan tindakan yang telah tertulis di RPP Materi Sholat Wajib yang terdiri dari tiga kegiatan, yaitu pendahuluan, inti dan penutup. Pengamatan Pada bagian pengamatan peneliti bersama guru melakukan pengamatan yang meliputi proses dan hasil dari pelaksanaan kegiatan.Tujuan pengamatan ini untuk mengumpulkan bukti hasil tindakan agar dapat dievaluasi dan dijadikan landasan dalam melakukan refleksi.Refleksi Setelah dilakukan perencanaan, tindakan dan pengamatan, peneliti bersama guru kelas melakukan analisis data mengenai proses, masalah dan hambatan yang dijumpai dan dilanjutkan dengan refleksi sesuai pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan melalui metode drill.
Instrumen Penilaian Tes tertulis Tes ini digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah mengikuti pembelajaran dengan menggunakan metode drill pada materi sholat wajib. Lembar observasi Pedoman observasi ini berisikan catatan lapangan yang mendiskripsikan proses kegiatan pembelajaran dan kemampuan siswa setelah siswa melakukan kegiatan pembelajaran, disamping itu juga obsever mendokumentasikan dengan foto- foto serta mencatat proses pembelajaran untuk mendapatkan data tentang aktivitas siswa selama kegiatan belajar berlangsung. Pengumpulan data dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik pengumpulan data dengan metode sebagai berikut: Observasi Observasi merupakan metode pengumpulan data melalui pengamatan dan pencatatan secara sistematis. Metode ini digunakan untuk mengetahui tingkat kelemahan dan kelebihan dalam pembelajaran berkaitan dengan proses kegiatan belajar mengajar oleh guru dan siswa untuk menigkatkan prestasi belajar siswa pada materi sholat wajib Tes Tes digunakan untuk mengetahui prestasi belajar siswa pada materi sholat wajib Wawancara Wawancara dilaksanakan untuk mengetahui keadaan sekolah, peserta didik ataupun guru berkaitan dengan penelitian yang dilaksanakan. Dokumentasi Metode ini penulis gunakan untuk mendapatkan data di SLB Negeri 1 Muara Teweh dan aspek-aspek yang berhubungan dengan administrasi sekolah seperti gambaran mengenai kegiatan siswa kelas 7 Tunagrahita, selama proses pembelajaran Materi Sholat Wajib berlangsung. Dokumentasi berupa RPP, jumlah guru dan siswa, nilai siswa sebelum dan sesudah penelitian, foto dan lain sebagainya yang dianggap penting. Analisis Data Sesuai dengan rancangan penelitian yang digunakan maka analisis data yang dilakukan adalah sebagai berikut: Mengumpulkan hasil data pengamatan dan tes. Menentukan kriteria nilai (70-100 tuntas dan 0-60 tidak tuntas) Data keaktifan siswa diambil dari keaktifan siswa ketika pembelajaran, kemudian di analisis dicari rata-rata menggunakan rumus. Hasil belajar dianalisis dengan membandingkan tes antara siklus. Nilai per tes digunakan untuk mengetahui seberapa efektif penggunaan metode drill dalam pembelajaran Materi sholat
wajib Menurut Djamarah metode analisis dihitung menggunakan statistik sederhana yaitu untuk mengetahui rata-rata dari hasil observasi maka
dirumuskan:
HASIL DAN PEMBAHASAN
Setelah melakukan berbagai kegiatan pada siklus I, siklus II dan III diperoleh data nilai mata pelajaran Materi sholat wajib dengan menggunakan metode drill pada materi sholat wajib. Berikut hasil penelitian :
1. siklus I: peserta didik yang telah mencapai KKM adalah sebanyak 1 siswa (25%), sedangkan siswa yang belum mencapai KKM adalah 3 siswa (75%).rata-rata kelas Pada siklus I ini hasil belajar siswa mengalami peningkatan dari kondisi awal sebelum penelitian. Namun karena banyak yang belum mencapai KKM
2. Siklus II: peserta didik yang telah mencapai KKM adalah sebanyak 2 siswa (50%), sedangkan siswa yang belum mencapai KKM 2 siswa (50%).
Pada siklus II ini hasil belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus I.
Namun karena jumlah siswa belum mencapai KKM
3. Siklus III: peserta didik yang telah mencapai KKM adalah sebanyak 4 siswa(100%), mengalami peningkatan dari siklus II. dan mencapai KKM 4. Hasil rata-rata kelas meningkat dari nilai pra siklus5,75 menjadi 61.pada
siklus I,pada siklus II meningkat menjadi 68, pada siklus III menjasi 73 5. Hasil pengamatan aspek keaktifan, perhatian dan penguasaan dalam KBM
terhadap peserta didik pada siklus I, IIdan siklus III. Terlihat dari hasil skor yang terus meningkat, dari pra siklus mendapatkan 19 skor, kemudian pada siklus I skor meningkat menjadi 25. Pada siklus II dan menjadi 29 pada siklus III menjadi 32. Hasil pengamatan dalam materi sholat wajib pada siklus I, II dan III Berdasarkan data rekapitulasi dari hasil pengamatan sholat wajib di atas dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan metode drill dapat meningkatkan hasil belajar siswa tunagrahita, khususnya dalam materi sholat wajib. meningkat. Pada siklus I jumlah skor yang diperoleh 14, pada siklus II jumlah skor meningkat menjadi 19. siklus III menjadi 24
Dari rekapitulasi di atas membuktikan dengan menggunakan metode drill terjadi peningkatkan hasil belajar siswa tunagrahita pada pembelajaran Materi Sholat Wajib. mencapai KKM yang telah di tentukan.
KESIMPULAN
Bedasarkan hasil penelitian tindakan kelas dengan menggunakan metode drill atau latihan yang dilaksanakan pada siswa tunagrahita SMPLB Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Muara Teweh, dapat ditarik kesimpulan
sebagai berikut:
1. Peningkatkan hasil belajar siswa tunagrahita SMPLB Negeri 1 Muara Teweh, dengan nilai rata-rata hasil belajar setiap siklus, yaitu siklus I 61 (25%), siklus II 68 (50%), siklus III 73 (100%).
2. Peningkatkan aspek keaktifan, perhatian dan penguasaan siswa tunagrahita terhadap pembelajaran Pendidikan Agama Islam Hal ini dapat dilihat dengan jumlah skor siswa pada setiap siklus, yaitu siklus I (25), siklus II (26), siklus III (32).
3. Peningkatkan pemahaman (nama, waktu,rokaat, gerakan dan keutamaan, prilaku yang mencerminkan ibadah sholat wajib) dengan jumlah skor siswa pada saat praktek disetiap siklusnya, yaitu pada siklus I (14), siklus II (19), siklus III (24).
DAFTAR PUSTAKA
Apriyanto, Nunung. 2012. Seluk Beluk Tunagrahita & Strategi Pembelajarannya.
Jogjakarta: Javalitera.
Aqib, Zainal. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Arikunto, Suharsimi. 2010. Evaluasi Program Pendidikan: Pedoman TeoritisPraktis Bagi Mahasiswi dan Praktisi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Baharuddin, dan Wahyuni Esa Nur. 2010. Teori Belajar dan Pembelajaran.
Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.
Djaramah, Saeful Bahri. 2006. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta.
Hasanah, Nur. 2015. Dampak Kompetensi Profesional Guru Dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah di Kota Salatiga. Salatiga: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan. Vol. 9, No. 2:451-454.
Kastolani. 2014. Model Pembelajaran Inovatif: Teori Dan Aplikasi. Salatiga: Stain Salatiga Press.
Kunandar. 2011. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Marijan. 2012. Metode Pendidikan Anak Membangun Karakter Anak yang Berbudi Mulia, Cerdas dan Berprestasi. Yogyakarta: Sabda Media.
Nasih, Ahmad Munjin dan Lilik Nur Kholidah. 2009. Metode dan Teknik Pembelajaran Materi Sholat WajibBandung: PT. Refika Aditama.
Nazarudin.2007.Managemen Pembelajaran (Implementasi Konsep Karakteristik dan Metodologi Pendidikan Agama Islamdi Sekolah Umum). Jogjakarta: Teras.
Roestiyah. 2008. Strategi Belajar dan Mengajar. Jakarta: Asdi Mahasatya.
Sadulloh, Uyoh. 2014. PEDAGOGIK (Ilmu Pendidikan). Bandung:
Alfabeta, cv.
Sumadayo, Samsu, 2013, Penelitian Tindakan Kelas (PTK), Graha Ilmu:
Yogyakarta.
Surawan. (2020). Dinamika Dalam Belajar : Sebuah Kajian Psikologi Penelitian.
Yogyakarta : K-Media.