• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pentingnya Bagi Kehidupan

N/A
N/A
dini arub

Academic year: 2025

Membagikan " Pentingnya Bagi Kehidupan"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Air merupakan hasil dari siklus siklus hidrologi yang sangat penting bagi kelangsungan hidup di muka bumi. Semua makhluk hidup baik manusia, hewan dan tumbuhan memerlukan air. Bagi manusia, air diperlukan untuk membantu metabolisme yang ada didalam tubuh, karena hampir tiga perempat dari tubuh kita adalah air. Berikut adalah fungsi air bagi tubuh :

a) Membentuk sel-sel baru, memelihara dan mengganti sel-sel yang rusak b) Melarutkan dan membawa nutrisi-nutrisi, oksigen dan hormon ke

seluruh sel tubuh yang membutuhkan

c) Melarutkan dan mengeluarkan sampah-sampah dan racun dari dalam tubuh kita

d) Katalisator dalam metabolisme tubuh serta mampu meredam benturan bagi organ vital

e) Pelumas bagi sendi-sendi dan menstabilkan suhu tubuh

Manusia tidak dapat bertahan hidup tanpa air lebih dari 4-5 hari. Selain itu, manusia memanfaatkan air dalam kegiatan sehari-harinya seperti MCK, mencuci, memasak, membersihkan kotoran. Tak hanya itu, air juga sangat dibutuhkan untuk keperluan industri, pertanian, pemadam kebakaran, tempat rekreasi dan lainnya.

Di Bumi, badan air terbesar terdapat di laut sebesar 97 persen dan sisanya sebesar 3 persen adalah air tawar yang kita digunakan untuk menunjang kehidupan sehari-hari. Dari air tawar itu dua per tiga nya adalah gletser dan es di kutub yang berfungsi menstabilkan iklim global dan hanya satu pertiganya saja yang dapat dimanfaatkan 7 milyar jiwa manusia di dunia (2011).

Jumlah air yang terbatas dan semakin banyaknya manusia menyebabkan terjadinya krisis air bersih. Selain jumlahnya, kualitas air tawar

(2)

yang ada pun semakin rusak. Perebutan penggunaan air bersih untuk berbagai penggunaan menyebabkan hilangnya akses yang layak terhadap air bersih bagi sebagian orang. Perilaku boros air bersih menyebabkan semakin banyak lagi orang yang kehilangan akses terhadap air bersih.

Selain manusia yang tinggal di daerah dengan ketersediaan air yang kurang, kualitas air yang kurang baik menyebabkan mereka yang tinggal dekat badan air juga mengalami kesulitan akses terhadap air bersih dan sanitasi yang baik. Pencemaran air sungai, seperti untuk industri, pertanian, dan kegiatan domestik menambah beban sungai sehingga tidak mampu lagi menyediakan manusia penghuni bantaran sungai dengan air yang berkualitas baik. Penghuni bantaran sungai saat ini terpaksa memanfaatkan air kotor untuk kegiatan sehari-hari. (WWF Indonesia, 2012)

Dari berbagai manfaat air dan permasalahannya, sudah sepatutnya sumber air dijaga sebaik mungkin. Selain itu, hal tersebut juga sebagai pertanda bahwa pengolahan air bersih dan pengolahan air limbah sebelum dibuang sangat diperlukan saat ini.

Bandara Supadio merupakan sebuah instansi yang dalam kegiatannya membutuhkan air dalam jumlah banyak, karena pada area bandara terdapat rumah-rumah dinas, gedung perkantoran dan gedung terminal yang membutuhkan air bersih. Selain membutuhkan air bersih, bandara juga menghasilkan limbah cair domestik dalam jumlah yang cukup besar. Oleh karena itu, agar mendapatkan pengetahuan lebih tentang pengolahan air limbah dan air bersih maka diadakanlah kunjungan lapangan ke Bandar Udara Supadio yang memiliki kedua instalasi tersebut, baik pengolahan air limbah maupun pengolahan air bersih

(3)

1.2 Tujuan

Dengan melakukan kunjungan ke Bandara Supadio ini, bertujuan untuk : 1. Memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Rekayasa Lingkungan.

2. Mengetahui bagaimana proses pengolahan limbah yang dilakukan oleh Bandara Supadio serta proses pengolahan air bersih untuk dipergunakan oleh masyarakat dan instansi yang berada di sekitar bandara.

1.3 Manfaat

Dari kunjungan tersebut, diharapkan mahasiswa Teknik Lingkungan dapat memperoleh ilmu pengetahuan dan pengalaman mengenai cara mengolah limbah yang berasal dari bandara serta pengolahan air bersih untuk dikonsumsi oleh masyarakat sekitar bandara.

(4)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Air Limbah

Air limbah merupakan air bekas yang sudah tidak terpakai lagi sebagai hasil dari adanya berbagai kegiatan manusia sehari-hari. Air limbah tersebut biasanya dibuang ke alam yaitu tanah dan badan air. Menurut Ehless dan Steel, air limbah adalah cairan buangan yang berasal dari rumah tangga, industri, dan tempat-tempat umum lainnya dan biasanya mengandung bahan-bahan atau zat yang dapat membahayakan kehidupan manusia serta mengganggu kelestarian lingkungan. Sedangkan menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 tahun 2001, air limbah adalah sisa dari suatu usaha dan atau kegiatan yang berwujud cair. Air limbah dapat berasal dari rumah tangga (domestic) maupun industri (industry).

Air limbah dapat berasal dari berbagai sumber, antara lain :

a. Rumah Tangga, seperti air bekas cucian, air bekas memasak, air bekas mandi, dan lainnya.

b. Perkotaan, seperti air limbah dari perkantoran, perdagangan, selokan, dan tempat-tempat ibadah.

c. Industri seperti pabrik baja, pabrik tinta, pabrik cat, dan pabrik karet.

(karakteristik air limbah) 2.2 Karakteristik Air limbah

Penyebab utama pencemaran air adalah pembuangan limbah cair yang mengandung zat pencemar. Limbah yang turut andil dalam pencemaran air secara umum dikelompokkan menjadi limbah domestic, industry dan pertanian. Guna mengetahui lebih luas tentang air limbah, perlu diketahui juga secara detail mengenai kandungan yang ada dalam air limbah dan karakteristiknya. Karakteristik air llimbah dibedakan menjadi tiga bagian besar yaitu karakteristik fisik, kimia, dan biologi.

(5)

Tabel 1. Karakteristik fisik, kimia dan biologi air limbah

Karakteristik Sumber

Fisik : 1. Warna

2. Bau 3. Padatan 4. Temperatur

Limbah domestik, limbah industry, penguraian material organik.

Dekomposisi air limbah dan limbah industry Limbah domestic, industry dan erosi tanah Limbah industry dan domestik

Kimia Organik 1. Karbohidrat 2. Lemak, oli, dan

pelumas 3. Protein 4. Surfaktan

Limbah industri, komersial, dan domestik.

Limbah industri, komersial, dan domestic

Limbah industri, komersial, dan domestic Limbah industri, komersial, dan domestic Kimia Anorganik

1. Alkalinitas 2. Logam berat 3. pH

4. Sulfur

Limbah domestic dan infiltrasi air bawah tanah.

Limbah industry

Limbah industri, komersial, dan domestik Limbah industri, komersial, dan domestik.

Gas

1. H2S (Hidrogen Sulfida)

2. CH4 (methan)

Dekomposisi limbah domestic

Dekomposisi limbah domestic Biologi

1. Hewan 2. Tumbuhan 3. Bakteri

4. Virus

Aliran limbah terbuka dan instalasi pengolahan Air limbah terbuka

Pengaliran limbah domestic dan infiltrasi air permukaan

Limbah domestic

(6)

2.3 Baku Mutu Air

Baku mutu adalah peraturan pemerintah yang harus dilaksanakan yang berisi spesifikasi dari jumlah bahan pencemar kandungan yang boleh berada dalam media. Secara objektif, baku mutu merupakan sasaran ke arah mana suatu pengelolaan lingkungan ditujukan. Kriteria baku mutu adalah kompilasi atau hasil dari suatu pengolahan data ilmiah yang akan digunakan untuk menentukan apakah suatu kualitas air atau udara yang ada dapat digunakan sesuai objektif penggunaan tertentu.

Dasar hukum baku mutu lingkungan terdapat dalam Undang-undang No.4 Tahun 1982 pasal 15 yang berbunyi : “Perlindungan lingkungan hidup dilakukan berdasarkan baku mutu lingkungan yang diatur dengan peraturan perundang-undangan.”

2.3.1 Baku Mutu Air Limbah

Menurut Permen LHK Nomor P.68/Menlhk/Setjen/Kum.1/8/2016, baku mutu air limbah adalah ukuran batas atau kadar unsur pencemar dan/atau jumlah unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam air limbah yang akan dibuang atau dilepas ke dalam sumber air dari suatu usaha dan/atau kegiatan.

Parameter Satuan Kadar maksimum*

pH - 6-9

BOD mg/L 30

COD mg/L 100

TSS mg/L 30

Minyak dan Lemak mg/L 5

Amoniak mg/L 10

Total Coliform Jumlah/100mL 3000

Debit L/orang/hari 100

(7)

2.4 Instalasi Pengolahan Air Limbah

IPAL adalah sebuah struktur teknik dan perangkat peralatan besarta perlengkapanya yang dirancang secara khusus untuk memproses atau mengolah cairan sisa proses, sehhingga sisa proses tersebut menjadi layak untuk dibuang ke lingkungan.

Pengoperasian dan pemeliharan IPAL :

1. Dalam mengoperasikan bangunan pengolahan limbah harus dimungkinkan untuk dilakukan pembersihan terhadap lumpur, material yang mengendap setiap periode waktu tertentu.

2. Dalam operasi apabila bangunan tidak dimungkinkan untuk melakukan pembersihan secara otomatis maka diusahakan ada bangunan cadangan yang dapat bekerja secara seri, sehingga apabila terjadi perbaikan atau ada pekerjaan pemeliharaan, bangunan yang lainnya dapat melaksanakan fungsinya dengan baik.

3. Pelumasan untuk peralatan mekanis dan melakukan kalibrasi alat secara rutin.

2.4.1 Tujuan Pengolahan Limbah

Tujuan utama pengolahan air limbah adalah untuk mengurangi BOD, partikel tercmpur, serta membunuh organisme patogen. Selain itu, diperlukan juga tambahan pengolahan untuk menghilangkan bahan nutrisi, komponen beracun, serta bahan yang tidak dapat didegradasikan agar konsentrasi yang ada menjadi rendah. Untuk itu diperlukan pengolahan secara bertahap agar bahan tersebut di atas dapat dikurangi. Berikut ini adalah beberapa kegiatan yang biasanya dipergunakan pada pengolahan air limbah berikut tujuan dari kegiatan yang dilakasanakan:

(8)

Jenis kegiatan 1. Penyaringan

2. Perajangan

3. Bak penangkap pasir 4. Bak penangkap lemak 5. Tangki ekualisasi 6. Netralisasi

7. Pengendapan/ pengapungan

8. Reaktor lumpur aktif/aerasi 9. Karbon aktif

10. Pengendapan kimiawi 11. Nitrifikasi/denitrifikasi

12. Air stripping 13. Pertukaran ion

14. Saringan pasir

15. Osmosis/ elektrodialisis 16. Desinfeksi

Tujuan pengolahan

1. Untuk menghilangkan zat padat

2. Memotong benda yang berada di dalam air limbah

3. Menghilangkan pasir dan koral 4. Memisahkan benda terapung 5. Melunakan air limbah 6. Menetralkan asam atau basa

7. Menghilangkan benda

tercampur

8. Menghilangkan bahan organik 9. Menghilangkan bau, benda

yang tidak dapat diuraikan 10. Untuk mengendapkan fosfat 11. Menghilangkan nitrat secara

biologis

12. Menghilangkan amoniak 13. Menghilangkan jenis zat

tertentu

14. Menghilangkan partikel padat yang lebih kecil

15. Menghilangkan zat terlarut 16. Membunuh mikroorganisme 2.4 Sewage Treatment Plant

Merujuk Peraturan Gubernur DKI Jakarta No 122 tahun 2005, tentang tata cara membuang air limbah ke saluran kota, maka pengelola gedung melakukan treatment, untuk mengolah air limbah melalui proses recycling.

“Proses recycling air limbah domestik atau Sewage Treatment Plant (STP) dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain  'Rotor disk atau Konventional/Extended aeration.

Rotor disk adalah sistem di mana pemberian oksigen bagi bakteri dengan cara membiakan bakteri yang menempel pada disk sehingga bakteri

(9)

akan kontak dengan oksigen, sedang pada saat bakteri ada di dalam cairan mereka akan makan kotoran yang ada pada cairan tersebut. Sementara Konventional/Extended aeration, suatu sistem di mana pemberian oksigen dilakukan dengan cara menyemburkan oksigen ke dalam cairan dengan mengunakan blower. Pada sistem ini diperlukan area yang luas.

2.4.1 Perawatan STP

1. Periksa harian kondisi basket screen dan bila ada kotoran bersihkan, hal ini agar aliran air limbah dapat lancar ke proses STP.

2. Bersihkan grease trap dari lemak. Apa-bila terlalu lama maka lemak akan mengeras. Dan bisa menyebabkan bau, jika pemakaian atau kapasitas air limbah besar maka bisa kita lakukan pengangkutan lemak secara harian.

3. Pengangkutan lumpur kita lakukan setahun sekali atau dua kali tergantung beban limbah.

4. Pemeriksaan dan pemeliharaan rutin pompa, pompa submersible, gearbox, penambahan pelumas pada bearing kita lakukan rutin 3 bulan sekali.

5. Pengecekan rantai dan komponen transmisi yang ada tiap 3 bulan sekali.

6. Backwash sand filter dan karbon filter setiap minggu atau menurut kondisi filter yang ada, hal ini dapat kita lihat dari tekanan

pada pressure gauge.

7. Pengecekan air limbah ke BPLH tiap 3 bulan sekali.

2.5 Sistem Pengolahan Air Limbah Lumpur Aktif

Lumpur aktif (activated sludge) adalah proses pertumbuhan mikroba tersuspensi yang pertama kali dilakukan di Ingris pada awal abad 19. Sejak itu proses ini diadopsi seluruh dunia sebagai pengolah air limbah domestik sekunder secara biologi. Proses ini pada dasarnya merupakan pengolahan aerobik yang mengoksidasi material organik menjadi CO2 dan H2O, NH4. dan sel biomassa baru. Udara disalurkan melalui pompa blower (diffused) atau melalui aerasi mekanik. Sel mikroba membentuk flok yang akan mengendap di tangki penjernihan (Gariel Bitton, 1994).

Frank et all (1996) mencoba menggambarkan bahwa dalam sistem pengolah lumpur aktif baik untuk domestik maupun industri mengandung 1-

(10)

5% padatan total dan 95-99% bulk water (liqour ?). Pembuangan kelebihan lumpur merupakan proses yang mahal, dilakukan dengan mengurangi volume lumpur melalui proses pengepresan (dewatering). Pada bagian lain dinyatakan pula bahwa konsentrasi besi yang tinggi konsentrasi besi yang tinggi, 70-90%

dalam bentuk Fe (III), ditemukan dalam lumpur aktif.

Bakteri merupakan unsur utama dalam flok lumpur aktif. Lebih dari 300 jenis bakteri yang dapat ditemukan dalam lumpur aktif. Bakteri tersebut bertanggung jawab terhadap oksidasi material organik dan tranformasi nutrien, dan bakteri menghasilkan polisakarida dan material polimer yang membantu flokulasi biomassa mikrobiologi. Genus yang umum dijumpai adalah : Zooglea, Pseudomonas, Flavobacterium, Alcaligenes, Bacillus, Achromobacter, Corynebacterium, Comomonas, Brevibacterium, dan Acinetobacter, disamping itu ada pula mikroorganisme berfilamen, yaitu Sphaerotilus dan Beggiatoa, Vitreoscilla yang dapat menyebabkan sludge bulking. Sludge bulking adalah suatu kondisi dimana solid sukar untuk mengendap sehingga proses pemisahan solid dan liquid menjadi sangat sulit. Pada kondisi seperti ini maka solid dapat terbawa ke saluran efluen dan menyebabkan penurunan kualitas efluen

2.6 Air bersih

Istilah air bersih digunakan untuk menentukan air yang dikonsumsi oleh manusia. Air yang dikategorikan dalam air bersih bukan hanya air untuk minum dan memasak, melainkan juga air untuk mencuci pakaian, mencuci peralatan rumah tangga, dan sebagainya.

2.6.1 Sumber/Asal Air Baku Utama

Dalam memilih sumber air untuk dikonsumsi, makah harus diperhatikan syarat-syarat utama yang meliputi kualitas, kuantitas, kontinuitas, dan biaya yang diperlukan untuk mengolah air tersebut. Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari dan akan menjadi air minum setelah dimasak terlebih dahulu. Sebagai batasannya, air bersih adalah air yang memenuhi persyaratan bagi sistem penyediaan air minum, dimana persyaratan yang dimaksud adalah persyaratan dari segi

(11)

kualitas air yang meliputi kualitas fisik, kimia, biologis, dan radiologis sehingga apabila dikonsumsi tidak menimbulkan efek samping (Ketentuan Umum Permenkes No.416/Menkes/PER/IX/1990).

Beberapa sumber air baku yang dapat digunakan untuk penyediaan air bersih adalah sebagai berikut :

1. Air Hujan

Air hujan juga disebut dengan air angkasa. Terdapat tiga sifat kualitas dari air hujan yaitu bersifat lunak (tidak mengandung larutan garam dan mineral), pada umumnya bersifat lebih bersih, dan dapat bersifat korosif jika mengandung zat-zat seperti NH3, CO2, atau SO2. Adanya konsentrasi SO2 yang tinggi, apabila bercampur dengan air hujan, akan menyebabkan hujan asam (acid rain).

Dari segi kuantitas, air hujan tergantung pada besar kecilnya curah hujan. Sehingga hujan tidak dapat menjadi sumber air bersih karena jumlahnya yang berfluktuasi. Begitu juga jika ditinjau dari segi kontinuitasnya, air hujan tidak dapat diambil secara terus menerus karena tergantung musim.

2. Air Permukaan

Air permukaan yang biasa dimanfaatkan sebagai sumber air baku air bersih adalah air waduk (berasal dari air hujan), air sungai (berasal dari air hujan dan mata air), dan air danau (berasal dari air hujan, air sungai, atau mata air).

Pada umumnya, air permukaan telah terkontaminasi dengan berbagai zat yang berbahaya bagi kesehatan, sehingga memerlukan pengolahan terlebih dahulu. Zat pencemar ini berasal dari buangan domestik, buangan industri, dan limbah pertanian. Akan tetapi, jika dilihat dari kontinuitas dan kuantitas dari air permukaan, dapat

(12)

dianggap tidak menimbulkan masalah yang besar jika digunakan sebagai sumber air bersih.

3. Air Tanah

Air tanah banyak mengandung garam dan mineral yang terlarut saat air melalui lapisan-lapisan tanah. Ini artinya, air tanah bebas dari polutan karena berada di bawah permukaan tanah. Tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa air tanah dapat tercemar oleh zat-zat berbahaya seperti Fe, Zn, dan kesadahan yang terbawa oleh aliran permukaan tanah.

Jika ditinjau dari segi kuantitas, apabila air tanah dipakai sebagai sumber air, relatif cukup. Tetapi jika dari segi kontinuitasnya, maka pengambilan air tanah harus dibatasi, karena dikhawatirkan dengan pengambilan yang secara terus menerus akan menyebabkan penurunan muka air tanah.

4. Mata Air

Dari segi kualitas, mata air merupakan sumber yang sangat baik jika dipakai sebagai air baku karenan berasal dari dalam tanah yang muncul ke permukaan akibat tekanan, sehingga belum terkontaminasi oleh zat-zat pencemar. Biasanya lokasi mata air merupakan daerah yang terbuka, sehingga mudah terkontaminasi oleh lingkungan sekitar. Contohnya, banyak ditemukan bakteri e.coli di dalam mata air.

Dilihat dari segi kuantitasnya, jumlah dan kapasitas mata air sangat terbatas, sehingga hanya mampu memenuhi kebutuhan masyarakat yang berada di sekitar mata air tersebut. Begitu pula apabila mata air tersebut terus menerus diambil, semakin lama akan berkurang dan akhirnya habis.

2.6.2 Karakteristik Air

Air yang dikategorikan bersih memiliki syarat dari segi fisik, kimia, dan mikrobiologi.

1. Persyaratan Fisik

(13)

Air yang memiliki kualitas yang baik harus memiliki syarat sebagai berikut.

a. Tidak berwarna. Jika air berwarna, maka dapat dikatakan bahwa air tersebut mengandung bahan-bahan lain yang berbahaya bagi

kesehatan.

b. Memiliki temperatur normal. Air yang baik memiliki temperatur yang sama dengan temperatur udara (20-26º C). Air yang memiliki

temperatur di bawah atau di atas dari temperatur udara, maka

memiliki kandungan zat seperti fenol yang terlarut di dalam air cukup banyak atau sedang terjadi proses tertentu yang mengeluarkan atau menyerap energi di dalam air.

c. Tidak memiliki rasa.

d. Tidak berbau. Air yang berbau busuk mengandung zat organik yang sedang mengalami dekomposisi (pengurai) oleh mikroorganisme air.

e. Jernih (tidak keruh). Air yang keruh dapat disesbkan oleh adanya butiran-butiran koloid dari bahan tanah liat. Semakin banyak kandungan koloid maka air akan semakin keruh

2. Persyaratan Kimia :

a. pH netral. Air yang layak konsumsi mempunyai pH 7. Apabila pH di bawah 7, maka air bersifat asam. Sedangkan apabila pH di atas 7, maka air bersifat basa (memiliki rasa yang pahit).

b. Tidak mengandung bahan kimia beracun, seperti sianida sulfida dan fenolik.

c. Tidak mengandung garam atau ion-ion logam, seperti Fe, Mg, Ca, K, Hg, Zn, Mn, D, dan Cr.

d. Kesadahan rendah. Tingginya kesadahan berhubungan dengan garam- garam yang terlarut di dalam air terutama garam Ca dan Mg.

e. Tidak mengandung bahan organik. Kandungan bahan organik dalam air dapat terurai menjadi zat-zat yang berbahaya bagi kesehatan, seperti H2S, SO42-, dan NO3.

3. Persyaratan mikrobiologis :

(14)

a. Tidak mengandung bakteri patogen, misalnya bakteri golongan coli, Salmonella typhi, vibrio chlotera. Bakteri-bakteri tersebut mudah tersebar melalui air.

b. Tidak mengandung bakteri non-patogen, seperti actinomycetes, Phytoplankton coliform, dan dadocera.

(15)

2.6.3 Pengolahan Air Bersih

Metode yang digunakan untuk pengolahan air sangat tergantung pada kontaminan yang ada di dalam air dan tujuan penggunaan air tersebut.

Tujuan penggunaan air diantaranya untuk keperluan domestik (minum, masak, MCK), sistem pendingin, reaktan, da uap/steam.

Operasi atau Proses Penerapan

Satuan Operasi

1. Saringan (screening) Saringan kuarsa digunakan untuk melindungi pompa dari padatan mengapung. Saringan halus digunakan untuk menghilangkan padatan

mengapung dan tersuspensi.

2. Saringan mikron (microscreening)

Digunakan untuk menghilangkan impuritas yang halus seperti alga, pasir, dan sebagainya.

3. Aerasi Untuk menambah maupun

mengeluarkan gas-gas dari air.

4. Mixing Untuk mencampur bahan-bahan kimia dan gas-gas yang diperlukan untuk pengolahan.

5. Flokulasi Untuk mempercepat penggumpalan partikel dengan pengadukan sangat lambat.

6. Sedimentasi Untuk menghilangkan partikel-partikel seperti tanah dan pasir atau padatan (flok) tersuspensi.

7. Filtrasi Untuk menyaring padatan yang masih tersisa setelah

pengendapan/sedimentasi.

(16)

Satuan Proses

1. Koagulasi Proses penambahan bahan-bahan kimia untuk membentuk gumpalan (flok) yang selanjutnya dipisahkan pada proses flokulasi.

2. Disinfeksi Digunakan untuk mematikan bakteri patogen yang ada di dalam air.

3. Presipitasi Penghilang komponen ion terlarut seperti kalsium dan magnesium (kesadahan) dengan penambahan bahan-bahan kimia sehingga akan menimbulkan endapan.

4. Ion Exchange Untuk penghilangan sebagian maupun seluruh kation dan anion yang terlarut dalam air.

5. Adsorpsi Untuk penghilangan senyawa-senyawa organik penyebab adanya warna, bau, dan rasa pada air.

6. Oksidasi kimia Untuk mengoksidasi berbagai senyawa yang ditemukan di dalam air yang menyebabkan rasa, warna, dan kerak.

(17)

BAB III

GAMBARAN UMUM LOKASI KEGIATAN 3.1 Waktu dan Lokasi Kegiatan

Kegiatan tersebut dilaksanakan pada hari Senin, 30 Oktober 2017 pukul 10.00-12.30 bertempat di Jalan Arteri Supadio Km. 17, Limbung, Kubu Raya, Kalimantan Barat.

3.2 Profil Instansi

Bandar Udara International Supadio (IATA: PNK, ICAO: WIOO) adalah bandar udara yang dikelola oleh PT. Angkasa Pura II dan memiliki luas 528 hektar serta berjarak 17 km dari Kota Pontianak. Bandara ini dibangun pada tahun 1940 dengan nama Bandara Sungai Durian, yang kemudian berganti nama menjadi Bandar Udara Supadio pada tahun 1980.

(18)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengolahan Air Limbah

Air limbah yang dihasilkan di Bandara Supadio ada limbah B3 dan limbah domestic. Sebelum dibuang ke saluran perkotaan, air limbah domestik diolah terlebih dahulu di STP (Sewage Treatment Plant). STP merupakan sistem pengelolaan air limbah pada bangunan gedung seperti hotel, apartemen, condotel, rumah sakit, dan sebagainya. Setiap harinya STP yang terdapat di Bandara Supadio Pontianak dapat menampung dan mengolah limbah cair domestik sebanyak 500 m3. Limbah yang ada di STP akan diolah menggunakan metode Extended Aeration yang merupakan sistem pengolahan air limbah dengan proses lumpur aktif. Setelah melalui serangkaian proses pengolahan, air limbah kemudian dibuang/ dialirkan ke saluran perkotaan.

Berikut adalah Cara kerja peralatan pada STP (Sewage Treatment Plant) : A. Pemeriksaan Sistem

1. Mematikan seluruh sistem (power off)

2. Periksa isi minyak pelumas pada root blower/ air blower.

3. Buka control panel dan periksalah seluruh starter dan circuit breaker.

4. Periksalah seluruh dudukan motor dan root blower.

B. Start Up

1. Start Circuit Breaker pada Central Power Supply.

2. Jalankan semua peralatan STP ini.

3. Bersihkan bak dari sisa pekerjaan konstruksi (kayu, potongan pipa, kabel dan lain-lain).

4. Isi seluruh bak dengan air bersih sampai penuh.

5. Buka Valve Air Diffuser (Air Spiroturb) sebesar 100%.

6. Start Air Blower, periksa dan atur gerakan turbulensi air agar seragam di permukaan Bak Aerasi.

(19)

7. Sebelum Airlift System dijalankan, pastikan dahulu bahwa dasar bak pengendapan sudah bersih.

8. Buka Valve Airlift System dan atur sampai didapatkan aliran yang baik ke arah bak Aerasi/ Aeration.

9. Periksa laju air Over Flow dari Settling Tank – Chlorine Tank harus mengalir dengan baik.

10. Air limbah yang masuk sekarang sudah siap diolah.

C. Cara Kerja Peralatan STP 1. Grease Trap

Grease Trap / Penyaring Minyak adalah perangkat yang dirancang untuk mencegat minyak sebelum memasuki sistem pembuangan air limbah. Alat ini membantu untuk memisahkan minyak dari air, sehingga minyak / lemak tidak menggumpal dan mengeras di pipa pembuangan. Air dari buangan dapur mengalir masuk ke Basket Screen. Dimana kotoran akan tertahan di dalam Basket Screen dan harus dikeluarkan secara rutin dan berkala (manual). Air akan mengalir secara gravitasi ke Equalizing Tank.. Minyak dan lemak yang mengapung harus dikeluarkan dari Grease Trap secara rutin dan berkala (manual). Air limbah dari dapur secara gravitasi mengalir ke dalam Equalizing Tank melalui Grease Trap. Hal ini dimaksudkan agar minyak dan lemak tertangkap oleh Grease Trap dan tidak mengalir ke dalam System STP.

2. Screen Tank

Air limbah dari gedung secara gravitasi mengalir kedalam Equalizing Tank melalui Screen Tank. Didalam screen tank terdapat basket screen, salah satu penyaring. Screen Tank berfungsi untuk menangkap kotoran yang terbawa oleh air, dimana kotoran akan tertahan oleh Screen untuk menghindari Screen tertutup oleh kotoran, maka kotoran yang tertangkap harus dikeluarkan secara rutin dan berkala (manual).

(20)

3. Equalizing Tank

Di dalam Equalizing Tank dilakukan pemerataan air limbah oleh Air Diffuser (alat untuk mengalirkan udara kedalam airdan membentuk gelembung-gelembung kecil udara) dengan Supply udara dari Root Blower. Didalam Equalizing Tank dipasang Fine Bubble Diffuser untuk proses pemerataan kondisi Air Limbah (didalam tangki ini, Fine Bubble Diffuser berfungsi sebagai pengaduk) yang mendapatkan tenaga dari Air Blower (Root Blower). Air Limbah yang sudah merata kondisinya didalam Equalizing Tank, ditransfer secara otomatis ke Aeration Tank menggunakan 2 buah Equalizing Pump (1 unit expansi) secara bergantian dan apabila terjadi beban lebih (peak flow) maka kedua buah Equalizing Pump akan bekerja bersamaan.

4. Aeration Tank

Setelah dilakukan pemerataan di dalam Equalizing Tank, air limbah dialirkan secara gravitasi kedalam Aeration Tank. Didalam Aeration Tank dipasang Fine Bubble Diffuser untuk proses pemberian oksigen (O2) dengan cara penghembusan udara guna memberikan kehidupan bagi bakteri aerobik. Fine Bubble Diffuser ini mendapat hembusan udara dari Air Blower. Bakteri Aerobik hidup ini, yang akan menguraikan Air Limbah yang rutin masuk kedalam Aeration Tank.

Lalu secara overflow dipindahkan ke sedimentation Tank.

Bakteri ini akan mati jika hembusan udara (Air Blower) tidak dioperasikan. Jika terjadi hal demikian, langkah yang perlu diijalankan :

1. Bakteri aerobic tidak perlu ditambah, sebab air limbah domestik sudah mengandung bakteri aerobic yang siap di kembang-biakan.

2. Hidupkan Air Blower secara rutin terus menerus bergantian satu dengan lainnya (Non Stop 24 Jam/Hari), maka kehidupan bakteri dapat diwujudkan kembali. Air dari Aeration Tank mengalir ke Chlorination Tank melalui Sedimentation Tank

(21)

secara gravitasi sebelum dialirkan ke Effluent Tank untuk dibuang ke saluran kota (Drainage).

Jika dalam Bak Aerasi sudah beroperasi cukup lama akan bertambah banyaklah lumpur aktif lebih dari 50% ( > 50% ) dalam 1 ( satu ) liter air limbah, maka lumpur aktif harus dikurangi untuk memaksimalkan proses Aerasi. Jika hal ini terjadi ( Lumpur Aktif berlebihan ), lakukan penyedotan di Holding Tank dengan menggunakan Vaccum Car ( mobil tinja ) untuk menyedot lumpur supaya dibuang.

5. Sedimentation Tank

Setelah proses Aerasi, kemudian air limbah secara gravitasi melewati Sparing pipa Over Flow masuk kedalam Sedimentation Tank.

Sedimentation tank disebut juga bak pengendapan. Sedimentation Tank ini berfungsi untuk mempercepat pengendapan Lumpur Aktif (Activated Sludge) agar terpisah dengan air yang sudah mulai jernih dari hasil pengolahan dalam Aeration Tank. Didalam Sedimentation Tank terdapat Airlift & Scum Removal yang berfungsi untuk mengembalikan Lumpur Aktif (bakteri yang hidup) dan buih kedalam Holding Tank untuk proses pengolahan rutin. Airlift & Scum Removal bekerja menggunakan tenaga udara yang dihembuskan dari Air Blower. Pengembalian lumpur aktif dan buih harus continue (terus menerus) agar proses pengolahan berhasil baik. Air limbah yang sudah diolah (lebih jernih) mengalir secara gravitasi melalui kanal masuk kedalam Disifectant Tank.

Dengan Airlift & Scum Removal dibantu Air Lifting ( Dorongan udara Air Blower ) Lumpur Aktif dan buih dikembalikan ke Equalizing Tank & Holding Tank untuk menjaga lumpur aktif didalam Aeration Tank tetap stabil.

(22)

6. Disinfectant Tank

Air limbah yang telah diolah di Aeration Tank dan dipisahkan dengan lumpur aktifnya di Sedimentation Tank akan dialirkan melalui kanal secara gravitasi ke Disifectant Tank untuk proses Chorinasi dari Chlorine Tank yang disupply menggunakan Dosing Pump. Setelah di Chlorinasi / diberi Cairan Clorine agar bakteri yang terbawa dapat dibunuh, lalu dialirkan secara gravitasi ke Effluent Tank. Chlorine Tank (Tempat / Wadah Chlorine Cair) harus selalu di isi secara berkala.

7. Intermediate Water Tank

Intermediate Water Tank merupakan bak penampungan sementara air limbah yang sudah diolah, sebelum diolah kembali melalui Recycling System. Dengan menggunakan Dosing Pump, Chemical (PAC) dimasukan kedalam untuk pembentukan flok-flok dari kotoran (shidge) yang lolos dari sedimentation tank agar memudahkan proses penyaringan didalam Recycle System.

8. Effluent Tank

Air limbah yang telah selesai melewati seluruh proses STP dan tidak di olah kembali melalui Recycling System, akan dibuang ke Saluran Kota (Drainage) dengan menggunakan Effluent Pump. Air yang sudah melewati proses Chlorinasi, akan mengalir secara gravitasi ke Effluent Tank dan kemudian akan dialirkan menggunakan Effluent Pump untuk dibuang ke saluran kota (Drainage). Effluent Pump menggunakan 2 buah pompa (1 unit ekspansi) bekerja secara bergantian (secara otomatis / dikontrol oleh float switch) dan apabila beban lebih (peak flow) maka kedua buah pompa otomatis akan bekerja secara bersamaan.

Selain bisa langsung dibuang ke saluran kota, air yang sudah di Chlorinasi juga bisa digunakan untuk di Flushing dan siram taman atau yang lain setelah melalui proses Recycling System (manual book terpisah). Setelah air sudah melalui proses Recycling System

(23)

ditampung di Recycle Water Tank untuk kemudian di distribusikan dengan bantuan Distribution Pump.

9. Holding Tank

Holding Tank berfungsi sebagai penampungan Lumpur Aktif (Activated Sludge) yang dialirkan dari Sedimentation Tank melalui Airlift. Lumpur Aktif (Activated Sludge) ini berguna untuk supply jika proses didalam Aeration Tank kurang maksimal. Selain itu juga berfungsi untuk penyedotan jika lumpur aktif yang berada di dalam Aeration Tank lebih dari 50% ( > 50% ).

Didalam Holding Tank terdapat Diffuser Pipe yang berfungsi untuk proses pemberian oksigen (O2) dengan cara penghembusan udara guna memberikan kehidupan bagi bakteri aerobic yang terdapat di dalam lumpur aktif.

10.Recycle Water Tank

Air yang sudah diolah melalui Recycling System ditampung di Recycle Water Tank yang sebelumnya sudah di Inject Chemical (chlorine) dengan menggunakan Dosing Pump.Dari Recycle Water Tank ini kemudian air dapat di distribusikan dengan bantuan Distribution Pump.

4.2 Pengolahan Air Bersih

Dalam mengolah air bersih, Bandara Supadio menggunakan anak Sungai Kapuas sebagai sumber air baku. Pengambilan air baku sesuai dengan gravitasi pasang surut air sungai/parit. Pengolahan air bersih yang dilakukan di Water Treatment Plant Bandara Supadio memiliki proses yang sama seperti yang PDAM lakukan, namun lebih sederhana dan dalam skala yang lebih kecil. Pada WTP, terdapat 2 bak yang berisi hasil akhir air bersih yang siap didistribusikan ke rumah dinas dan Bandara Supadio. Bak besar yang berkapasitas 500 m3 berisi air yang digunakan untuk konsumsi bandara.

(24)

Sedangkan air pada bak kedua yang berukuran lebih kecil dengan kapasitas 300 m3 dialirkan ke rumah-rumah dinas.

Air baku yang berasal dari anak sungai Kapuas yang sampai ke WTP akan dialirkan ke waduk air baku. pada waduk air baku terdapat sekat sekat (buffle). Setelah sampai di waduk air baku, air tersebut langsung mengalami proses koagulasi dengan menambahkan tawas sebagai koagulan.

Pencampuran tawas dilakukan bersamaan dengan masuknya air di bak penampungan. Pada proses koagulasi air dibuat bergerak agar tawas dapat larut dalam air baku. Setelah dicampur dengan tawas, kemudianair mengalami proses sedimentasi atau pengendapan. Setelah flok-flok diendapkan, air yang lebih bersih mengalami proses filtrasi. Filter yang digunakan adalah batu , pasir dan ijuk. Kemudian, air akan diberi kaporit dan kapur toohor. Fungsi kaporit adalah sebagai disinfektan, sedangkan kapur tohor sebagai pengurang kadar pH.

Semua proses pengolahan air bersih kecuali proses penambahan bahan kimia dilakukan secara otomatis. Berikut adalah prosedur standar operasional yang diterapkan di WTP Bandara Supadio pada waduk penampungan air baku dan waduk penjernihan :

4.2.1 Persiapan

1. Periksa Power Supply

2. Periksa posisi rotor apakah ada benda menempel yang dapat memberatkan atau menahan pompa.

3. Periksa kondisi bak air, tinggi air pada waduk air baku dan waduk air penjernihan, dan debit air (pasang surut) air sungai.

4.2.2 Operasional Waduk Air Baku 1. Isi bak penampungan air baku

a. Air baku yang didapat dari air sungai/parit

(25)

b. Pengaturan keran inlet pada posisi yang benar, yaitu saat air pasang kran terbuka, saat kondisi surut kran tertutup. Sesuai dengan kondisi ketinggian air baku di sungai/parit.

2. Operasikan/ON kan satu dari tiga pompa di waduk air baku untuk men- supply air baku ke waduk penjernihan air.

a. Buka kran outlet pompa air

b. Pompa dioperasikan dari pukul 6.30 s/d 12.00 atau hingga bak pengendapan dan ketiga bak penjernihan penuh.

c. Pastikan air baku telah sampai pada bak pengendapan air.

4.2.3 Operasional Waduk Penjernihan Air 1. Distribusi ke Gedung Terminal

a. Operasikan/ON kan pompa hidrofooruntuk gedung terminal, buka kran outlet hidrofoor

i. Pompa dioperasikan dari pukul 06.00 s/d 07.30 atau hinggabak air gedung terminal penuh

ii. Untuk mencapai bak terminal penuh menghabiskan 1 bak (11/2 jam pompa) jjika penerbangan normal dan 11/3 bak (2 jam pompa) jika penerbangan extend

iii. Pastikan air sampai ke gedung terminal, apabila sudah penuh pompa hidrofoor dimatikan/off

2. Distribusi ke perkantoran dan perumahan

Air perumahan dinas didapat dari 2 sumber yakni dari water tower dan hidrofoor akan mengalir langsung ke perumahan dan sebagian naik ke water tower.

a. Operasikan atau nyalakan pompa air hidrofoor, buka kran untuk gedung perkantoran dan perumahan.

b. Buka kran outlet water tower. Pompa hidrofoor dan kran tower dibuka dari jam 06.00 s/d 07.00.

(26)

c. Tutup kran ke perkantoran dan perumahan, maka pompa hidrofoor mengisi ke water tower, sampai penuh untuk persiapan mengalirkan air ke perkantoran dan perumahan pada tahap kedua . d. Distribusi air perumahan pada tahap kedua, nyalakan pompa

hidrofoor, buka kran outlet water tower.

e. Pompa hidrofoor dan kran outlet water tower (perumahan) dibuka dari jam 08.00 s/d 09.00.

f. Tutup kran ke perumahan, maka pompa hidrofoor mengisi ke water tower, sampai penuh untuk persiapan distribusi air ke perkantoran dan perumahan pada esok hari. Kran ke rumah kacab dibuka jam 06.00 ditutup pukul 08.00 (distribusi air perumahan tahap kedua).

g. Jika air di penampungan cargo berkurang, maka dilakukan kembali pengisian bak penampung air di kargo kurang lebih 10 s/d 15 menit.

h. Jika air di penampungan air terminal berkurang, maka dilakukan kembali pengisian bak penampungan air di terminal kurang lebih 1 jam.

3. Penjernihan Air Lanjutan (untuk operasional hari berikutnya)

Saat pompa hidrofoor untuk gedung terminal atau pompa hidrofoor perkantoran dan perumahan diaktifkan, maka

a. Pukul 06.00, buka kran outlet bak air penyringan, biarkan air pengendapan kemarinmengisi ketiga bak air jernih, untuk menggantikan air yang sedang diisap.

b. 06.30 air dari waduk air baku sudah didistribusikan ke bak pengendapan.

4.2.4 Operasional Pengelolaan Air

1. Pastikan keran inlet pada posisi yang benar, yaitu saat air pasang kran terbuka, saat kondisi surut kran tertutup. Sesuai dengan kondisi ketinggian air baku di sungai/parit.

(27)

2. Operasikan salah satu dari ketiga pompa di waduk air baku untuk men supply air baku ke waduk penjernihan air.Pastikan air baku telah sampai pada bak pengendapan air.

3. Pastikan air baku telah sampai pada bak pengendapan air.

4. Pastikan posisi kran outletdari bak penyaringan dengan benar saat bak panampungan bersih penuh, kran ditutup, saat bak penampungan air bersih kosong/berkurang kran akan dibuka.

5. Pastikan jumlah campuran kimia pnjernih air (tawas, kaporit dan kapur tohor) pada takaran yang benar, sesaikan dengan kondisi air baku.

4.1.4.1 SOP Penggunaan bahan kimia

4.1.4.1.1 Takaran Penggunaan Bahan Kimia

1) Tawas : 15 – 25 Kg

2) Kaporit : 3 – 4 Kg 3) KApur Tohor : 1 – 5 Kg

4.1.4.1.2 Prosedur penambahan Zat/Bahan Kimia 1) Tawas

Tawas dituangpada tempat yang sudah disediakan pada saat awal air baku mengalir/jamoperasional (secara bertahap)

2) Kaporit

Tuangkan kaporit pada wadah yang telah disediakan (ember) tambahkan air dan taburkan untuk ketiga bak penjernihan.

Jangan hanya dituangkan karena akan berpengaruh pada proses pengendapan

3) Kapur Tohor

Tuangkan kapur tohor pada wadah yang telah disediakan (ember) tambahkan air dan taburkan untuk ketiga bak penjernihan. Jangan hanya dituangkan karena akan berpengaruh pada proses pengendapan

(28)

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan

Dari kegiatan kuliah lapangan ke Bandara Supadio yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :

1. Terdapat dua pengolahan air yang dilakukan di Bandara Supadio, yaitu pengolahan air limbah dan pengolahan air bersih

2. Setiap bangunan memiliki septic tank sebagai penampungan pertama sebelum dialirkan ke STP.

3. Pada STP limbah diolah dengan menggunakan sistem aerasi lanjutan (extended aeration) yang merupakan satu dari sistem pengolahan air limbah dengan lumpur aktif

4. Pada WTP (Water Treatment Plant) air baku diolah menjadi air bersih sesuai standar dengan cara umum pengolahan air, namun lebih sederhana

5. Pada WTP terdapat 3 bak, yaitu bak penampungan dan pengendapan, bak penjernihan, bak hasil akhir.

6. Air baku yang digunakan berasal dari anak sungai Kapuas yang merupakan air tanah gambut yang memiliki warna cokelat.

5.2 Saran

Berdasarkan hasil kunjungan yang dilakukan, diharapkan pihak Bandara dapat memperhatikan sampah padat yang ada disekitar bangunan STP agar tidak mengganggu.

(29)

DAFTAR PUSTAKA

Asmadi dan Suharno. 2012. Dasar-Dasar Teknologi Pengolahan Air Limbah.

Yogyakarta : Gosyen Publishing.

Budiyono dan Siswo Sumardiono. 2013. Teknik Pengolahan Air. Yogyakarta : Graha Ilmu

Hadihardaja, Joetata. dkk. 1997. Rekayasa Lingkungan. Jakarta : Penerbit Gunadarma.

Kusnaedi. 2010. Mengolah Air Kotor untuk Air Minum. Bekasi : Penebar Swadaya.

Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor:

P.68/Menlhk/Setjen/Kum.1/8/2016 Tentang Baku Mutu Air Limbah Domestik

Sugiharto. 2005. Dasar-Dasar Pengelolaan Air Limbah. Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia.

https://www.wwf.or.id/?26120/Air-Bersih-dan-Kehidupan-Manusia (diakses tanggal 5 November 2017)

http://engineeringbuilding.blogspot.co.id/2012/03/pengelolanaan-sewage- treatment-plant.html?m=1 (diakses tanggal 5 november 2017)

(30)

LAMPIRAN Pengolahan Air Limbah

(31)

Pengolahan Air Bersih

(32)
(33)

LAPORAN

KULIAH LAPANGAN

PENGANTAR REKAYASA LINGKUNGAN (BANDAR UDARA SUPADIO)

KELOMPOK VII

1. Muhammad Ridho Septian (D1051151061) 2. Kesia Gus Nengsih (D1051171011)

3. Via Octaviani (D1051171015)

4. Dini Arub Arisma (D1051171017) 5. Ilmi Citra Mulyani (D1051171019) 6. Rizqa Khairunnisa (D1051171021) 7. Muhammad Tamdjidillah (D1051171039)

8. Astisza Syahla L. Parabi (D1051171041)

9. Andri Wahyudi (D1051171043)

DOSEN PENGAMPU : 1. Hendri Sutrisno ST, MT.

2. Herda Desmaiani S.Si, M.Sc 3. Ochih Saziati S.Si, M.Sc

PRODI TEKNIK LINGKUNGAN JURUSAN TEKNIK SIPIL

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS TANJUNGPURA

PONTIANAK 2017

Gambar

Tabel 1. Karakteristik fisik, kimia dan biologi air limbah

Referensi

Dokumen terkait

Setiap hari kamu membutuhkan udara. Kamu juga butuh tanah, air, dan makhluk lainnya. Semua demi kelangsungan hidup. Kebutuhan kita tersedia di lingkungan sekitar. Apa yang

b. Fungsi al-mā’ yang kedua adalah untuk digunakan sebagai bahan konsumsi manusia. Air adalah kebutuhan vital makhluk hidup. Tanpa air, makhluk hidup tidak akan mampu bertahan dalam

Air merupakan kebutuhan yang sangat pokok bagi kehidupan. Semua makhluk hidup memerlukan air. Tanpa air tak akan ada kehidupan. Demikian pula manusia tak dapat hidup tanpa

Manusia adalah makhluk sosial dimana manusia tidak mampu untuk hidup sendiri dan membutuhkan interaksi dengan manusia lainnya yang bertujuan untuk kelangsungan

kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Pengertian lingkungan hidup bisa dikatakan sebagai segala sesuatu yang ada di sekitar manusia

Sumber daya alam seperti air, udara, tanah, energi, satwa, tumbuhan, dan lain-lain merupakan sumber daya yang esensial bagi kelangsungan hidup manusia. Kualitas sumber

manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Lingkungan hidup juga sistem kehidupan

Makhluk hidup terdiri dari manusia, hewan (air maupun darat) serta tumbuhan. Tidak hanya memeiliki kemampuan untuk bernafas dan bergerak, makhluk hidup juga mempunyai