• Tidak ada hasil yang ditemukan

Panduan Praktikum Fitokimia

N/A
N/A
zona makmur

Academic year: 2024

Membagikan "Panduan Praktikum Fitokimia"

Copied!
41
0
0

Teks penuh

1 ml larutan uji ditambah pereaksi Folin Ciocalteu dipanaskan sebentar di atas penangas air dan akan muncul warna biru. Setelah dingin, larutan disentrifugasi, cairan diatasnya dipisahkan dengan cara dekantasi, dan larutan ini digunakan sebagai larutan uji. Larutan tersebut kemudian ditambah dengan larutan Pb(II) asetat 25% atau larutan strychnine nitrate dan akan timbul endapan. Pembuatan larutan uji dengan cara menyaring 5 gram serbuk simplisia dengan 30 ml metanol.

Tes Shinoda: Evaporasi larutan uji sampai kering, tambahkan 2-3 tetes etanol, kemudian tambahkan bubuk Mg dan beberapa tetes HCl 5M. Filtrat yang dihasilkan kemudian diuapkan hingga mengental, kemudian ditambahkan kloroform dan digunakan sebagai larutan uji.

Tugas Pendahuluan

Reaksi Wilson-Taubock: 1 ml larutan uji diuapkan, kemudian ditambahkan beberapa tetes aseton, kemudian ditambahkan sedikit asam borat dan bubuk asam oksalat, kemudian dikeringkan. Flavonoid yang mempunyai gugus hidroksil bebas pada cincin A atau B akan menghasilkan warna biru kehijauan setelah penambahan larutan ini. Adanya alkaloid ditunjukkan dengan munculnya endapan berwarna kuning keputihan bila ditambahkan pereaksi Mayer dan endapan berwarna coklat jingga bila ditambahkan pereaksi Dragendorff.

Pendahuluan

Alat dan bahan

Prosedur kerja

Pemilihan cairan penyaring juga harus mempertimbangkan banyak faktor, yaitu: .. murah dan mudah diperoleh, .. stabil secara fisik dan kimia, .. tidak mudah menguap dan tidak mudah terbakar.. tidak mempengaruhi efisiensi zat, dan. Biarkan proses pencernaan/filtrasi terjadi, tunggu hingga seluruh cairan larut, lihat cairan penyaring bening pada cawan Soxhlet atau periksa adanya senyawa metabolit sekunder pada peralatan Soxhlet. Penguapan hasil ekstraksi yang masih banyak mengandung pelarut disebut juga dengan proses pemekatan, bertujuan untuk memperoleh konsentrasi senyawa yang lebih besar dan memudahkan penyimpanan.

Pada proses konsentrasi, suhu yang digunakan tidak boleh terlalu tinggi untuk mencegah terjadinya penguraian senyawa dalam bentuk ekstrak. Waterbath = cara ini sederhana, mudah digunakan dan cocok untuk pelarut yang mempunyai titik didih tidak terlalu tinggi. Kelemahan cara ini adalah adanya kemungkinan senyawa terurai karena waktu yang diperlukan untuk proses pemekatan lebih lama.

Oven = proses konsentrasi menggunakan oven mempunyai kelebihan yaitu suhu dapat diatur sesuai titik didih pelarut. Lyophilizer memerlukan waktu yang lebih lama, sedangkan spray Dryer digunakan untuk senyawa yang stabil pada suhu tinggi. 12 penangas air dan aliran udara panas, namun metode ini sulit bila digunakan dengan pelarut berair.

Tunggu hingga proses selesai dan cairan filter sudah menguap. Usahakan jangan terlalu kental agar ekstrak kental bisa lebih mudah dituangkan ke dalam labu.

Tujuan praktikum

Sepuluh (10) gram ekstrak ditambahkan ke dalam air suling (50 ml) dalam jumlah tertentu untuk meningkatkan BJ sampel kemudian dimasukkan ke dalam corong pisah. Pertama, fraksinasi dengan pelarut non polar yaitu n-heksana setara dengan 1/3 (15 ml) larutan ekstrak sampel yang telah ditambahkan air suling. Selanjutnya fraksinasi dengan pelarut semi polar yaitu etil asetat, dan proses selanjutnya sama seperti sebelumnya (2X volume etil asetat @ 15 ml).

Masing-masing larutan fraksi diuapkan dengan menggunakan alat penguap putar (untuk fraksi yang akan diteruskan ke kolom. Diambil yang jumlahnya paling besar, dilihat dari adanya endapan atau warna yang lebih pekat.

Pendahuluan Definisi

Sampel dilarutkan dalam cairan elusi dan dipipet untuk ditempatkan di atas adsorben. Sampel dicampur dengan cairan fase diam dalam jumlah yang sama kemudian disebarkan pada adsorben. Sampel yang ditempatkan pada permukaan adsorben kemudian dielusi perlahan melalui dinding kolom dengan fase gerak dan stopcock dibuka.

Fase gerak atau eluen yang digunakan dapat berupa satu pelarut saja atau campuran dua jenis pelarut dengan perbandingan tertentu dan polaritas berbeda. Selama proses elusi, fase gerak dengan polaritas yang meningkat secara bertahap (gradien polaritas) digunakan pada kolom fase normal dengan adsorben silika. Sedangkan pada kolom fasa terbalik dengan fasa diam silika C-18, polaritasnya berangsur-angsur menurun.

Proses elusi dihentikan bila tidak ada lagi sampel yang dapat dikeluarkan oleh fasa gerak dan dapat dideteksi oleh warna fraksi. Setiap fraksi yang muncul dari kromatografi kolom dipantau menggunakan kromatografi lapis tipis (KLT) kemudian dilihat di bawah sinar UV 254 nm dan 365 nm atau menggunakan reagen semprot. Skema pemisahan komponen sampel dalam kromatografi kolom (http://elchem.kaist.ac.kr/vt/chem-ed/sep/lc/graphics/lc-schem.gif).

Cara 1: Pembuatan bubur preabsorbsi

Cara 2: Sampel yang telah kental dilarutkan dengan sejumlah kecil eluen jika perlu dipanaskan di waterbath. Lalu larutan

Cara Kering

Cara basah

Apa jadinya jika kita menerima terlalu banyak hasil kromatografi kolom pada tahap pemurnian suatu senyawa kimia. Pemisahan yang terjadi pada kromatografi lapis tipis (KLT) didasarkan pada: adsorpsi, distribusi atau kombinasi keduanya (tergantung pada jenis pelat, fase diam dan fase gerak yang digunakan). Kromatogram pada KLT merupakan titik tersendiri setelah divisualisasikan dengan atau tanpa pereaksi pendeteksi (semprotan) pada cahaya tampak atau sinar UV pada panjang gelombang 254 dan 366.

Jarak penyebaran senyawa dalam kromatogram dinyatakan dengan nilai Rf (faktor retardasi) atau hRf (seratus faktor retardasi). Nilai Rf yang diperoleh selalu dalam bentuk pecahan dan akan lebih mudah jika Rf kita kalikan dengan 100 yang dinyatakan dengan hRf. Peralatan: Pelat kromatografi, rak penyimpanan (pemanasan diperlukan untuk mengaktifkan fase gerak untuk pemasangan pelat), bejana kromatografi (ruang), pipet mikro (micro Syringe), dispenser reagen, lampu UV 254 dan 366 nm.

Larutan bahan uji (ekstrak, hasil salah satu fraksi dan hasil kromatografi kolom) dan bahan pembanding yang telah disiapkan diteteskan pada pelat (jarak titik 1-1,5 cm) dalam volume tertentu. Pelat ditempatkan dalam wadah (yang jenuh dengan fase gerak), dalam posisi tegak dan tepi bawah direndam dalam fase gerak, tetapi bintik-bintiknya tidak terendam. Pelat disemprot dengan reagen yang sesuai dan pengamatan dilakukan pada (cahaya tampak, UV 254 dan 366 nm).

Nota: Apabila KLT dua hala dilakukan, papan terlebih dahulu dikeringkan dari peringkat pertama pergerakan sebelum dimasukkan ke peringkat kedua pergerakan.

Contoh identifikasi kandungan senyawa dengan KLT a. Senyawa fenol

Komarowsky setelah menyiram piring panas dengan saus pedas, mengamati warna-warna yang muncul yaitu biru, kuning, dan merah. Solusi deteksi: Reagen rantai (untuk cincin γ-lakton), gugus kardenolida akan tampak berwarna merah muda atau ungu-biru jika diamati pada cahaya tampak, warnanya akan menjadi pucat atau memudar setelah beberapa saat, tetapi akan muncul kembali dengan penyemprotan berulang kali.

Tugas Pendahuluan

Setelah menyelesaikan praktikum ini, siswa diharapkan dapat melakukan tes kuantitatif untuk mengetahui kadar senyawa tanin dari simplisia dengan mudah. Analisis kuantitatif harus memperhatikan adanya senyawa fenolik lain yang dapat mengganggu penentuan kandungan tanin. Kandungan tanin yang dihitung sebagai katekin ditujukan untuk simplisia yang mengandung tanin jenis kental.

Metode ini menggunakan metode spektrofotometri dengan serapan diukur pada panjang gelombang 530 nm, dimana pembandingnya adalah katekin. Absorbansi diukur pada panjang gelombang 660 nm, dengan asam tanat atau asam galat dalam air suling sebagai pembanding. Cara ini dapat digunakan untuk mengukur tanin total dengan cara yang sederhana, yaitu dengan mentitrasi air tanin menggunakan larutan KMnO4 dan indikator larutan indigosulfonat, dengan perubahan warna dari biru menjadi kuning cerah.

Alat dan Bahan

Masukkan ke dalam gelas ukur 100 ml lalu tambahkan air suling hingga tanda pada gelas ukur. Standarisasi larutan KMnO4 dengan asam oksalat 0,1 N. Masukkan ke dalam Erlenmeyer 100 ml, tambahkan 10 ml larutan H2SO4 4N, panaskan hingga suhu 70C, lalu titrasi dengan KMnO4 0,1 N. Titrasi dihentikan bila terjadi perubahan warna. dari tidak ada yang berubah menjadi merah muda. Residu disaring kembali dengan cara sebelumnya, kemudian disaring dan filtratnya dimasukkan ke dalam labu takar yang sama.

Larutan dipipet sebanyak 25 ml, dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer 1000 ml, ditambahkan 750 ml air dan 25 ml indikator indigosulfonat. 1 ml larutan uji dipipet dan dimasukkan ke dalam labu takar 25 ml, ditambahkan 1 ml pereaksi vanillin 10%. dalam etanol 95% dan 1 ml HCl pekat, hangatkan dalam penangas air, kemudian tambahkan etanol 95% sampai tanda tera dan diamkan selama 20 menit. Perhitungan kandungan tanin dalam % (b/b) terhadap persamaan katekin dilakukan dengan menggunakan persamaan regresi. Kandungan tanin dihitung secara spektrofotometri sebagai total fenol. a) Solusi komparatif.

Volumenya ditepatkan hingga 10 ml dengan aquades, kemudian dipindahkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditutup dengan pelat alumunium dan dipanaskan dalam penangas air bersuhu 50C selama 5 menit. Larutan uji sebanyak 1 ml dipipet ke dalam labu takar 25 ml, ditambahkan reagen Folin Ciocalteu sebanyak 5 ml, dihomogenisasi perlahan selama 1 menit, kemudian ditambahkan 2 ml natrium karbonat 15%, diaduk perlahan selama 1 menit. Volumenya ditepatkan hingga 10 ml dengan aquades, kemudian dipindahkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditutup dengan pelat alumunium dan dipanaskan dalam penangas air bersuhu 50C selama 5 menit.

Setelah mengikuti praktikum ini, mahasiswa diharapkan mampu melakukan uji kuantitatif untuk mengetahui kadar senyawa flavonoid dari simplisia dengan menggunakan metode sederhana.

Prosedur kerja penetapan kadar flavonoid dengan metode Chang a). Pembuatan kurva baku

Flavonoid merupakan senyawa metabolit sekunder yang mempunyai struktur inti C6-C3-C6, yaitu dua cincin aromatik yang dihubungkan oleh 3 unit atom karbon (C), biasanya melalui ikatan atom. Hal ini menyebabkan senyawa ini lebih mudah larut dalam pelarut polar, seperti metanol, etanol, butanol, etil asetat. Polaritas flavonoid meningkat dengan adanya ikatan gula dalam bentuk glikosida, baik sebagai C-glikosida maupun O-glikosida, yang menyebabkan mudah larut dalam air.

Bahan: Simplisia yang mengandung flavonoid antara lain: daun jambu mete, daun sembung, kulit jeruk, rumput meniran, daun salam. Tempatkan campuran dalam ekstrak metanol dan biarkan bereaksi selama 30 menit pada suhu kamar. Setelah mengikuti praktikum ini, mahasiswa diharapkan mampu melakukan pengujian kuantitatif untuk mengetahui kadar senyawa alkaloid piperin dari simplisia dengan menggunakan metode sederhana.

Alkaloid merupakan senyawa metabolit sekunder yang mengandung unsur nitrogen (N) yang biasanya berada pada cincin heterosiklik dan bersifat basa. Alkaloid pada tumbuhan umumnya berbentuk garam dan larut dalam pelarut polar seperti etanol dan air. Namun alkaloid juga terdapat dalam bentuk basa, sehingga alkaloid lebih mudah larut dalam pelarut non polar seperti eter, benzena, toluena, dan kloroform.

Secara umum penentuan kadar alkaloid dapat ditentukan secara gravimetri (jarang digunakan), titrimetri, spektrometri, KLT-.

Prosedur kerja penetapan kadar piperin dengan metode KLT- densitometri

Tugas pendahuluan

Setelah menyelesaikan praktikum ini, siswa diharapkan dapat mengisolasi senyawa alkaloid piperin dengan metode sederhana dari simplisia. Piperine (C17H19NO3) atau 1-piperoylpiperidine merupakan senyawa alkaloid yang terdapat pada akar dan buah dari keluarga Piperaceae, seperti cabai jawa dan paprika. Bahan: Simplisia cabai/lada jawa, etanol 95%, larutan KOH-etanol 10%, n-heksana, etil asetat, standar piperin.

Referensi

Dokumen terkait

Praktikum fitokimia merupakan kegiatan yang dilakukan dimana mahasiswa dapat belajar mempraktekkan cara penyiapan bahan baku yang berasal dari bahan alam (simplisia),

Panduan ini berisi petunjuk teknis untuk menulis laporan yang baik dan

panduan praktikum

Bagi yang tidak dapat mengikuti suatu acara karena alasan harus ada surat keterangan sakit dari dokter atau tugas dari fakultas dan menggantikannya dengan mengikuti praktikum kelompok

Panduan penggunaan modul praktikum makroalga di

Laporan praktikum untuk menganalisis kandungan fitokimia dalam

Dokumen ini adalah panduan praktikum uji lemak untuk mahasiswa Tadris Kimia di UIN Siber Syekh Nurjati