P-ISSN: 2722-9270 ejournal.uksw.edu/jms
Penyuluhan Mengenai Hukum Perkawinan di Gereja Katolik Santo Paulus Miki Salatiga
Indirani Wauran* Oliviani Yanto
Fakultas Hukum Universitas Kristen Satya Wacana
A R T I C L E I N F O
Article history:
Received 4 Agustus 2022 Revised 18 Agustus 2022 Accepted 5 September 2022
Keywords:
Perkawinan, Hukum Perkawinan, Penyuluhan
A B S T R A C T
Marriage is an inner and outer bond between a man and a woman as husband and wife to form a happy and eternal family (household) based on God Almighty. Marriage is an event that often occurs in human life and society; however, people often do not understand marriage law. Therefore, it is crucial to conduct legal counseling regarding marriage so that the public understands the legal rules surrounding the marriage, including the principles of marriage, the legal requirements of marriage, and the legal consequences of marriage. This counseling aims to understand marriage law, especially one based on the Indonesian Marriage Law. Therefore, the method presents marriage law material, followed by a question-and-answer session. This counseling was online using zoom.us, attended by congregation of Saint Paul Miki Church in Salatiga. This activity provides benefits in the form of increased knowledge and understanding of marriage law for unmarried and married participants.
A B S T R A K
Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Perkawinan merupakan sebuah peristiwa yang jamak terjadi dalam kehidupan manusia dan masyarakat, namun demikian orang seringkali kurang memahami bahwa mengenai perkawinan diatur oleh hukum. Oleh karena itu penting untuk dilakukan penyuluhan hukum mengenai perkawinan agar masyarakat memahami aturan-aturan hukum seputar perkawinan antara lain mengenai prinsip-prinsip perkawinan, syarat sah-nya perkawinan, dan akibat hukum adanya perkawinan.
Penyuluhan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mengenai hukum perkawinan, khususnya hukum perkawinan yang didasarkan pada Undang-Undang Perkawinan Indonesia. Oleh karena itu metoda yang dipakai adalah pemaparan materi hukum perkawinan kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab.
Penyuluhan ini dilakukan secara online menggunakan aplikasi zoom.us dan diikuti oleh warga Gereja Santo Paulus Miki Salatiga.
Kegiatan ini dirasakan memberi manfaat berupa peningkatan
*Corresponding author: [email protected]
565 pengetahuan dan pemahaman mengenai hukum perkawinan baik bagi peserta yang belum menikah maupun yang sudah menikah.
PENDAHULUAN
Perkawinan merupakan salah satu budaya dan bagian dari siklus hidup manusia (Lindha, Mahendra, Argyo, 2015). Oleh karena itu di Indonesia perkawinan masih dianggap sebagai suatu hal yang alamiah terjadi ketika seseorang berada dalam usia tertentu. Menurut data Badan Pusat Statistik, pada tahun 2016 terdapat 1,8 juta pernikahan (http://bps.go.id). Sementara itu situs katadata.com memberi informasi bahwa jumlah pernikahan pada tahun 2018 sebanyak 2 juta, dan menurun di tahun 2020 di angka 1,8 juta pernikahan. Data ini memperkuat bahwa pernikahan masih merupakan bagian dari kebudayaan bahkan ada tuntutan ‘keharusan’ untuk menikah di masyarakat.
Perkawinan dianggap bagian dari siklus hidup manusia, maka sangat penting masyarakat memahami hukum terkait perkawinan. Seringkali masyarakat tidak menaruh perhatian terkait hukum perkawinan yang kemudian memunculkan masalah hukum di kemudian hari. Pemahaman akan hukum akan memberikan perlindungan bukan saja bagi pihak yang melangsungkan perkawinan namun juga bagi anak yang dilahirkan akibat dari perkawinan tersebut.
Pemahaman masyarakat atas hukum perkawinan adalah hal yang penting, maka kesempatan melakukan pengabdian masyarakat dalam bentuk penyuluhan hukum terkait perkawinan harus dimanfaatkan dengan baik. Penyuluhan ini merupakan bentuk nyata dari pelaksanaan tanggung jawab moral Fakultas Hukum UKSW kepada masyarakat, khususnya yang tergabung dalam Gereja Katolik Santo Paulus Miki di Salatiga. Sasaran dari kegiatan ini merupakan umat warga Gereja baik yang belum menikah maupun yang sudah menikah. Tujuan dari penyelenggaraan penyuluhan ini adalah untuk memberikan pemahaman mengenai hukum perkawinan sekaligus kesempatan untuk memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seputar hukum perkawinan yang dimiliki oleh peserta penyuluhan.
Dasar hukum mengenai perkawinan terdapat pada UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan sebagaimana diubah dengan UU No. 16 Tahun 2019 tentang Perubahan atas UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (selanjutnya disebut UU Perkawinan).
Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa (Pasal 1 UU Perkawinan).
Berdasarkan pengaturan Pasal 1 UU Perkawinan tersebut diketahui bahwa perkawinan dalam hukum Indonesia merupakan ikatan lahir dan batin. Ini artinya perkawinan harus didasarkan pada kehendak bebas dan bukan karena paksaan.
566
Kemudian, setelah melangsungkan perkawinan terjadi ikatan lahiriah dan batiniah diantara para pihak. Para pihak yang dimaksudkan disini dengan jelas disebutkan berjenis kelamin pria dan wanita. Oleh karenanya perkawinan di Indonesia tidak bisa dilangsungkan oleh pihak yang memiliki jenis kelamin yang sama (pria dengan pria atau wanita dengan wanita). Selain itu, diketahui pula bahwa ikatan lahir batin tersebut berlangsung antara seorang pria dan seorang wanita. Dengan demikian pada prinsipnya dalam satu waktu seseorang hanya boleh terikat dalam satu perkawinan (asas monogami). Namun demikian asas monogami di Indonesia tidak bersifat mutlak (Ismiranto, 2019) hal ini dapat dilihat pula pada Pasal 3 sampai dengan Pasal 5 UU Perkawinan. Penerapan pengaturan tersebut tentu tidak terlepas dari ketentuan Pasal 2 ayat (1) mengenai keabsahan perkawinan menurut hukum agama. Dengan kata lain, asas monogami dapat disimpangi hanya oleh pemeluk agama atau kepercayaan yang ajaran agama atau kepercayaannya memang mengijinkan untuk itu. Hal lain yang dapat diketahui dari Pasal 1 UU Perkawinan menyangkut dasar dilangsungkan perkawinan. Perkawinan di Indonesia bukan semata-mata ikatan yang didasarkan pada perjanjian namun didasarkan pada Ketuhanan Yang Maha Esa (Munawar, 2015).
Beberapa pokok terkait perkawinan seperti dikemukakan pada paragraf di atas perlu dijelaskan kepada masyarakat agar tidak menimbulkan tafsir yang berbeda dan menimbulkan kebingungan atau kerancuan. Selain itu disampaikan pula beberapa hal lain dalam hukum perkawinan seperti syarat melangsungkan perkawinan dan akibat hukum dari sebuah perkawinan.
METODE PELAKSANAAN
Pengabdian Masyarakat ini dilaksanakan pada tanggal 8 April 2022 secara online melalui media zoom.us. Media ini dipilih dengan kesadaran untuk meminimalisir kerumunan namun tetap memberikan transfer pengetahuan kepada masyarakat khususnya mengenai hukum perkawinan. Kegiatan ini diikuti oleh peserta yang merupakan umat Gereja Katolik Santo Paulus Miki Salatiga dan beberapa peserta masyarakat umum.
Penyelenggara kegiatan ini adalah Gereja Katolik Santo Paulus Miki bekerjasama dengan Fakultas Hukum Universitas Kristen Satya Wacana. Metode yang digunakan oleh penyelenggara adalah membuat poster kegiatan kemudian mengumumkan ke berbagai media sosial termasuk media sosial FH UKSW dan publikasi melalui grup-grup whatsapp.
Pada pelaksanaan, dilakukan terlebih dahulu pemaparan materi mengenai hukum perkawinan oleh para nara sumber yaitu Indirani Wauran (dosen FH UKSW) dan Oliviani (mahasiswa FH UKSW) dan kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab.
567
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada pengabdian masyarakat ini dipaparkan terlebih dahulu beberapa hal penting dalam hukum perkawinan antara lain menyangkut syarat sahnya perkawinan, dan akibat hukum adanya perkawinan. Syarat sah-nya perkawinan diatur pada Pasal 2 UU Perkawinan yang menyatakan bahwa perkawinan baru memenuhi keabsahan ketika dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaan (Pasal 2 ayat (1) UU Perkawinan). Selanjutnya perkawinan tersebut dicatatkan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku (Pasal 2 ayat (2) UU Perkawinan).
Ketentuan di atas terkait dengan keabsahan perkawinan pernah menjadi pokok diskusi dalam persidangan di Mahkamah Konstitusi sebagaimana termuat dalam Putusan Mahkamah Konstitusi No. 46/PUU-VIII/2010. Dalam perkara pengujian Undang-Undang tersebut pemohon mendalilkan bahwa ketentuan Pasal 2 ayat (2) UU Perkawinan merugikan hak konstitusionalnya sebagai warga negara karena perkawinan yang telah sah menuntut hukum agama tetap tidak diakui keabsahannya karena tidak dicatatkan. Hal ini kemudian berakibat hukum pada status hukum anak yang lahir dari perkawinan tersebut. Menurut Pasal 43 ayat (1) UU Perkawinan, anak yang dilahirkan di luar perkawinan yang sah hanya memiliki hubungan hukum dengan Ibu dan keluarga Ibu. Harus diakui mengenai status hukum pencatatan perkawinan memang menjadi perdebatan antara yang berpendapat pencatatan tidak menentukan keabsahan perkawinan atau sebaliknya; tidak dicatatkannya perkawinan maka perkawinan tidak memiliki kekuatan hukum (Usman, 2017 dan Ceprudin, 2016).
Terhadap permasalahan makna hukum (legal meaning) pencatatan perkawinan tersebut, Mahkamah Konstitusi dalam pertimbangannya memperhatikan Penjelasan Umum angka 4 huruf b UU 1/1974 tentang asas-asas atau prinsip-prinsip perkawinan yang menyatakan,
“... bahwa suatu perkawinan adalah sah bilamana dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu; dan di samping itu tiap-tiap perkawinan harus dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pencatatan tiap-tiap perkawinan adalah sama halnya dengan pencatatan peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan seseorang, misalnya kelahiran, kematian yang dinyatakan dalam surat-surat keterangan, suatu akte yang juga dimuat dalam daftar pencatatan” (Putusan MK, 2010).
Selanjutnya Mahkamah Konstitusi memberikan penjelasan terkait makna hukum pencatatan perkawinan sebagai berikut (Putusan MK, 2010):
Berdasarkan Penjelasan UU 1/1974 di atas nyatalah bahwa (i) pencatatan perkawinan bukanlah merupakan faktor yang menentukan sahnya perkawinan;
dan (ii) pencatatan merupakan kewajiban administratif yang diwajibkan berdasarkan peraturan perundang-undangan.
Adapun faktor yang menentukan sahnya perkawinan adalah syarat-syarat yang ditentukan oleh agama dari masing-masing pasangan calon mempelai.
568
Diwajibkannya pencatatan perkawinan oleh negara melalui peraturan perundang-undangan merupakan kewajiban administratif.
Memperhatikan makna hukum yang diberikan oleh Mahkamah Konstitusi di atas, nampak jelas bahwa keabsahan perkawinan semata-mata ditentukan oleh keabsahan menurut hukum agama dan tidak ditentukan oleh pencatatan perkawinan. Oleh karenanya ketika suatu perkawinan sudah dinyatakan sah berdasar hukum agama, maka petugas pencatat (KUA untuk yang beragama Islam dan Catatan Sipil bagi yang beragama selain Islam dan aliran kepercayaan) tidak memiliki hak untuk menolak mencatat perkawinan tersebut. Terhadap pertimbangan Mahkamah Konstitusi tersebut, hakim konstitusi Maria Farida Indrati memiliki alasan berbeda yang pada pokoknya mengatakan bahwa pencatatan perkawinan merupakan tindakan yang ditujukan untuk memberikan perlindungan bagi istri dan anak yang lahir dari perkawinan tersebut. Dikatakan bahwa pencatatan perkawinan adalah dimensi sosial yang dimaksudkan untuk memberikan jaminan atas status dan akibat hukum dari suatu peristiwa hukum seperti juga pencatatan tentang kelahiran dan kematian (Putusan MK, 2010).
Pada sesi pemaparan materi juga disampaikan mengenai syarat sahnya perkawinan yaitu adanya persetujuan kedua calon mempelai, ada ijin dari orang tua bagi yang belum berusia 21 tahun, usia kedua calon mempelai sudah mencapai 19 tahun, kedua mempelai tidak terikat perkawinan dengan orang lain, tidak berada dalam waktu tunggu (bagi janda), dan antar kedua calon mempelai tidak terdapat hubungan darah. Kemudian selanjutnya disampaikan pula akibat hukum adanya perkawinan bagi suami/istri sendiri, akibat yang menyangkut harta kekayaan, dan akibat terhadap anak.
Peserta dalam penyuluhan ini cukup aktif dalam memberikan komentar, berbagi pengalaman atau bertanya seputar hukum perkawinan.
Gambar 1
Tangkapan Layar Penyuluhan dengan Media zoom.us
569
Setelah pemaparan materi, dilakukan sesi tanya jawab. Beberapa pertanyaan yang diajukan oleh peserta dalam sesi ini yaitu:
1. Lusius Susiharyawan
Pertanyaan : Terkait dengan perkawinan campur beda agama yang sedang viral, bagaimana pandangan hukum, karena yang ribet (sulit) itu catatan sipil ?
Jawaban : Perkawinan antar agama terjadi sebagai realitas sosial yang tidak dapat dihindari padahal dalam UU Perkawinan, tidak diatur secara tegas (Erwinsyahbana, 2018). Perlu dijelaskan terlebih dahulu bahwa syarat sahnya perkawinan adalah sah menurut hukum agama. Katolik memungkinkan dilangsungkan perkawinan campur, pada Kanon 1124 terjadi Mista Religio, Perkawinan dilangsungkan oleh orang yang baptis Katolik atau yang diterima dalam Gereja Katolik dengan orang yang baptis tidak Katolik. Hal tersebut diperbolehkan dan menggunakan izin dan ada prosedur tambahan yang harus dilakukan. Perkawinan beda agama bisa saja dilakukan dalam Katolik disebut disparitas khusus (orang yang baptis Katolik atau diterima dalam Gereja Katolik dengan seseorang yang tidak baptis) dan ada dispensasi Uskup. Pada dasarnya, salah satu syarat perkawinan sah adalah sah menurut hukum agamanya. Perkawinan beda agama antara Katolik dan Non-Katolik dapat dilangsungkan hanya Pemberkatan bukan Sakramental. Dengan demikian perkawinan tersebut diakui Gereja Katolik sehingga dianggap sah menurut hukum agama. Ketika sebuah perkawinan sah menurut hukum agama maka seharusnya perkawinan tersebut bisa dicatatkan. Ditambahkan pula bahwa perkawinan beda agama bisa meminta permohonan kepada pengadilan untuk ditetapkan sebagai suami istri baru setelah itu dicatatkan. Namun hal tersebut tidak banyak dimanfaatkan
2. Sedjati Wonosobo
Pertanyaan : Apa fungsi dari pencatatan dalam suatu perkawinan ?
Jawaban : Dijelaskan bahwa Pasal 2 UU Perkawinan menyatakan bahwa Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan dicatat menurut Peraturan perundang- undangan yang berlaku. Lalu muncul dua pandangan, Pertama pencatatan menentukan syarat sahnya perkawinan artinya jika perkawinan tidak dicatatkan menjadi tidak sah walaupun sah menurut hukum agama. Kedua, pencatatan itu hanya kewajiban
570
administratif saja yang menentukan sah itu hanya yang menurut agama dalam Pasal 2 UU Perkawinan. Dalam putusan MK No.
46 Tahun 2010, dalam pertimbangan hakim pencatatan perkawinan tidak menjadi syarat sahnya. Pertimbangan hakim dalam putusan a quo memiliki pendapat berbeda (Concurring opinion) yang oleh Prof. Maria Farida yang mengatakan bahwa seharusnya pencatatan perkawinan menentukan syarat sahnya perkawinan karena pencatatan lebih dari sekadar administratif namun terbukanya perlindungan untuk perempuan dan anak.
Pertimbangan sosiologis perlindungan perempuan dan anak masih lemah. Maka dalam pencatatan terdapat intervensi dari Negara agar perlindungan tersebut lebih terjamin.
Pada kesempatan ini ditambahkan pula jawaban dari salah seorang peserta yaitu Ibu Rini bahwa perkawinan yang tidak dicatatkan maka bukti pernikahan dari Negara yang selalu ada tidak akan pernah didapat. Jika terjadi perceraian, yang ditanyakan adalah akta perkawinan dan akta tersebut dikeluarkan oleh catatan sipil. Maka pengadilan selalu menuntut bukti perkawinan adalah akta perkawinan yang dikeluarkan oleh catatan sipil. Pencatatan merupakan bentuk perlindungan hukum bagi istri, suami, anak dan bahkan perkawinan yang dilaksanakan berdasarkan hukum agama kalau dalam hukum islam disebut perkawinan siri dan hal tersebut menimbulkan pertanyaan terkait kedudukan anak dan dalam hal ini anak yang lahir dari perkawinan siri adalah anak luar kawin. Peristiwa dimana hakim pengadilan menuntut akta perkawinan berarti pencatatan sebagai sebuah syarat terjadinya perkawinan. Sehingga pencatatan merupakan syarat yang harus dipenuhi.
Selanjutnya dilengkapi pula penjelasan oleh Oliviani bahwa Pencatatan memberikan keabsahan dalam suatu perkawinan yang dimana itu memberi kepastian dan perlindungan hukum.
Pencatatan memiliki dampak terhadap suami istri ataupun anak sehingga untuk menghindari konflik pencatatan diperlukan guna melindungi suami isti ataupun anak.
3. Mardian Putra Frans
Pertanyaan : Ada diskriminasi terhadap adat istiadat dalam UU Perkawinan dimana dalam UU Perkawinan dikatakan perkawinan hanya sah menurut agama lantas bagaimana dengan pihak yang ada di
571
daerah yang belum termasuk orang yang beragama sedangkan secara asasi adat istiadat itu diakui ?
Jawaban : Pasal 2 UU Perkawinan menyatakan bahwa Perkawinan sah menurut agama dan keparcayaan sehingga sesungguhnya UU Perkawinan mengakui kepercayaan sebagai keabsahan untuk melangsungkan suatu perkawinan. Pada praktiknya ada kantor catatan sipil yang menolak dan jalan pintas yang ditempuh adalah menuliskan salah satu agama dari kedua belah pihak.
Pada kesempatan ini Ibu Rini menambahkan bahwa kepercayaan belum menjadi salah satu dari 6 agama di Indonesia. Pada KTP kalau ditulis agama kepercayaan seharusnya catatan sipil menerima tapi catatan sipil lebih berlebihan dari peraturan yang ada. Oleh karena itu dibutuhkan pencerahan pada catatan sipil dengan cara diundang sebagai salah satu pembicara. Perkawinan adat di Indonesia masih banyak dilaksanakan tapi tidak dicatatkan sehingga tidak memiliki akta perkawinan. Hal tersebut menjadi masalah sehingga jika terjadi masalah perceraian atau harta kekayaan dan dibawa ke instansi resmi akan kesulitan dan akhirnya tidak terjadi perlindungan. Masih dalam jalan yang panjang Indonesia menerima perkawinan adat sebagai salah satu agama. Banyak masyarakat Indonesia masih bertumpu pada adat seyogianya menjadi jalan keluar. Dalam perkawinan adat pemuka agama dan catatan sipil diundang. Bu Rini menyetujui perkawinan menurut adat harus dipertimbangan menjadi salah satu jalan sehingga hanya dilakukan pencatatan.
Menutup penjelasan pada bagian ini, Oliviani menambahkan bahwa keberadaan hukum adat memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam masyarakat jika dibandingkan dengan hukum positif yang berlaku di Indonesia. Dalam UU Perkawinan telah menyatakan tentang ‘kepercayaan’. Frasa ‘kepercayaan’ ini bisa ditindaklanjuti dalam peraturan perundang-undangan dibawahnya.
4. Maria Dominika
Pertanyaan : Apa saja yang membuat pasangan yang menikah bisa diekskomunikasi dari gereja ?
Jawaban : Jawaban atas pertanyaan ini diberikan oleh salah seorang peserta yaitu Bapak Lusius Susiharyawan. Dijelaskan bahwa ekskomunikasi dalam gereja terjadi jika pasangan melakukan aborsi. Tidak ada kata ampun bagi aborsi dalam gereja. Selain itu
572
ekskomunikasi terjadi jika pasangan melaksakan perceraian secara pengadilan negeri dan menikah lagi. Prosedur hingga dikatakan ekskomunikasi dikecualikan bagi aborsi artinya jika aborsi maka secara langsung atau secara otomatis terkadi ekskomunikasi. Disamping itu, ada sebab-sebab lain yang mengakibatkan seseorang ditempatkan dalam ekskomunikasi dalam gereja karena melakukan dosa berat dengan prosedur- prosedur yang diatur dalam hukum gereja.
5. Maria Dominika
Pertanyaan: Bagaimana mengatasi terjadinya paksaan pernikahan jika di antara kedua belah pihak tidak ada kesepakatan ?
Jawaban: Pertanyaan ini merupakan masalah sosiologis yang harus diakui masih terjadi di masyarakat. Paksaan yang sering terjadi justru berasal dari keluarga dan lingkungan terdekat dan ditambah lagi budaya bahwa menikah adalah bagian dari siklus hidup yang harus dilakukan. Ada paksaan secara halus (terjadi dalam lingkungan masyarakat misal seperti pertanyaan “kapan menikah?”) dan paksaan yang terjadi secara kasar (diharuskan oleh orang tua atau wali). Secara hukum tidak ada cara mengatasi tapi salah satu syarat sah adanya perkawinan adalah persetujuan kedua belah pihak artinya salah satu pihak yang tidak setuju bisa mengatakan tidak mau menikah. Dalam gereja Katolik, sebelum pernikahan dilangsungkan ada pemeriksaan secara Kanonik (percakapan kedua calon mempelai, baik itu calon istri dengan romo dan calon suami dengan Romo tanpa dihadiri pihak lain).
Hal tersebut dilakukan guna memeriksa apakah ada paksaan untuk melangsungkan perkawinan. Selain itu percakapan Kanonik juga bertujuan untuk memeriksa apakah ada larangan dalam perkawinan menurut gereja Katolik yang dipenuhi atau tidak. Kalau dari pemeriksaan Kanonik tersebut ada indikasi pada paksaan dan/atau larangan menikah, Romo tidak akan melayani pernikahan tersebut. Ini adalah kesempatan untuk mengatakan tidak mau melangsungkan perkawinan, sehingga menghindari paksaan untuk menikah.
Menanggapi pertanyaan ini, salah satu peserta yaitu Ibu Rini menambahkan bahwa paksaan menikah merupakan persoalan mendasar bagi perempuan dan perempuan harus berani membangun diri untuk bisa mengatakan iya dan tidak. Hal tersebut harus diupayakan melalui empowering salah satunya
573
melalui pendidikan. Perempuan diupayakan harus pada posisi yang bisa memutuskan untuk dirinya dan hal tersebut tidak mudah. Dalam gereja terdapat kelompok yang melakukan empowering terhadap perempuan sehingga perempuan tidak hanya dijadikan sebagai objek dan tidak mudah dipaksa.
Sebagai penutup, Oliviani Hukum menghendaki untuk membatalkan jika antara kedua belah pihak ada yang tidak menyetujui adanya perkawinan. Dalam hal ini ada peluang bagi wanita untuk memperjuangkan apa yang menjadi keinginannya.
Peluang tersebut dapat ditempuh melalui komunikasi diikuti dengan keberanian dari seorang wanita. Keberanian didapat melalui kegiatan yang diadakan saat ini, sosialisasi melalui media sosial dan didasarkan pada iman kepercayaan masing-masing.
Keberanian juga muncul melalui komunitas dalam gereja ataupun komunitas positif yang mendukung kita untuk memiliki prinsip yang kuat.
6. Fredeilino Putra De Sousa
Pertanyaan : Terkait dengan paksaan, terdapat situasi dimana seorang perempuan sudah hamil, tapi timbul dilema apakah perempuan ini mau menikah atau tidak dengan pria yang telah menghamilinya. Jadi sudah terjadi hamil diluar perkawinan tapi dari perempuan belum memiliki keinginan untuk menikah. Hanya saja situasi kultural masyarakat berpendapat ketika terjadi kehamilan sebelum perkawinan lebih baik segera dilangsungkan perkawinan supaya tidak dihina orang dan kedepan juga memikirkan soal kedudukan anak itu seperti apa. Apakah hal yang demikian termasuk dalam kategori paksaan atau tidak ? Jawaban: Harus diakui, peristiwa seperti itu cukup sering terjadi di
masyarakat. Jika melihat pada peraturan perundang-undangan, hal itu bukan termasuk dalam kategori paksaan menurut hukum karena pada dasarnya si wanita bisa menolak. Pada prinsipnya perempuan yang hamil diluar perkawinan tidak diharuskan menikah karena kondisi kehamilannya. Ada seorang perempuan berusia 16 tahun meminta dispensasi dari pengadilan untuk melangsungkan perkawinan karena kondisinya yang sedang hamil. Lalu, pengadilan menolak dispensasi tersebut karena kondisi kehamilan tidak bisa dijadikan landasan untuk dijadikan alasan untuk melangsungkan perkawinan. Terkait dengan anak, masyarakat memiliki stigma yang berbeda antara anak sah dan
574
anak luar kawin. Secara hukum, anak tersebut memiliki hubungan secara otomatis dengan ibu dan keluarga ibu dan dalam Putusan MK No. 46 Tahun 2010 membuat penafsiran baru terhadap anak luar kawin dimana anak luar kawin memiliki hubungan hukum dengan ayah dan keluarga ayahnya jika dapat dibuktikan dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Menanggapi hal ini, salah seorang peserta Bapak Lusius Susiharyawan menambahkan, dalam gereja Katolik salah satu yang menjadi syarat adalah adanya pengumuman sebanyak tiga kali sebelum dilakukan pernikahan, tetapi ketika ada keadaan mendesak bisa saja pengumuman tersebut tidak sampai tiga kali dengan syarat wanita yang hamil menikah sama partner yang menghamili.
Terakhir, Oliviani menambahkan bahwa Anak luar kawin bisa mendapat pengesahan menurut hukum. Dimana subjek yang diakui dalam pengesahan adalah anak luar kawin sehingga anak luar kawin dapat menjadi anak sah menurut hukum
SIMPULAN
Kegiatan pengabdian masyarakat yang berupa penyuluhan ini nampak sederhana, akan tetapi seperti tergambar dalam uraian di atas, kegiatan ini memberikan dampak langsung berupa menambah pengetahuan dan wawasan para peserta mengenai hukum perkawinan di Indonesia. Perkawinan merupakan bagian dari kehidupan manusia, oleh karenanya sudah sepantasnya jika masyarakat paham mengenai peraturan seputar perkawinan di Indonesia.
Selain memberikan informasi, penyuluhan yang diberikan juga memberikan implikasi pada evaluasi penerapan peraturan mengenai keabsahan perkawinan.
Diharapkan dimasa mendatang, petugas pencatat perkawinan lebih memahami peraturan mengenai perkawinan sehingga tidak menjadikan pencatatan perkawinan sebagai penentu keabsahan perkawinan melainkan ebagai tindakan administratif sebagaimana tafsir yang diberikan oleh Mahkamah Konstitusi.
DAFTAR PUSTAKA
Annur, CM. (2022). Tren Pernikahan di Indonesia Kian Menurun dalam 10 Tahun Terakhir. https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2022/02/26/tren- pernikahan-di-indonesia-kian-menurun-dalam-10-tahun-
terakhir#:~:text=Laporan%20Statistik%20Indonesia%20mencatat%20ada,yakn i%202%2C31%20juta%20pernikahan.
575
Ceprudin. (2017). Perlindungan Hukum Terhadap Perkawinan Penganut Sedulur Sikep di Kabupaten Kudus. Refleksi Hukum: Jurnal ilmu Hukum, 1(1):81-96.
Erwinsyahbana, T. (2018). Aspek Hukum Perkawinan antar Agama dan Problematika Yuridisnya. Refleksi Hukum: Jurnal ilmu Hukum, 3(1):97-114.
Ismiranto, D. (2019). Asas Monogami dalam Sistem Hukum Perkawinan di Indonesia dan Tunisia. Jurnal Negara dan Keadilan, 8(1): 1-7.
Munawar, A. (2015). Perkawinan Menurut Hukum Positif yang Berlaku di Indonesia.
Jurnal UIR Law Review, VII(13):21-31.
Oktarina, LP, Wijaya M, Demartoto A. (2015). Pemaknaan Perkawinan: Studi Kasus Pada Perempuan yang Bekerja di Kecamatan Bulukerto Kabupaten Wonogiri.
Jurnal Analisa Sosiologi, 4(1): 75-90.
Usman, R. (2017). Makna Pencatatan Perkawinan dalam Peraturan Perundang- undangan Perkawinan di Indonesia. Jurnal Legislasi Indonesia, 14(3): 255-274.
UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan sebagaimana diubah dengan UU No. 16 Tahun 2019 tentang Perubahan atas UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
Putusan Mahkamah Kontitusi No. 46/PUU-VIII/2010.
Jumlah Nikah, Talak dan Cerai, serta Rujuk (Pasangan Nikah), 2014- 2016https://www.bps.go.id/indicator/27/176/1/jumlah-nikah-talak-dan-cerai- serta-rujuk.html.
LAMPIRAN
Berikut disajikan beberapa gambar yang menyangkut beberapa pokok materi yang disampaikan: