• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENYUSUNAN SKALA PSIKOLOGI (forgiveness)

Gabriella Nadya

Academic year: 2023

Membagikan "PENYUSUNAN SKALA PSIKOLOGI (forgiveness)"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

PENYUSUNAN SKALA PSIKOLOGI TEORI FORGIVENESS

Kelompok 1 :

Aisya Nabila Aslam 10520043

Dina Fitriani 10520293

Dwiana Maharani 10520319

Gabriella Nadya M. Hetharua 10520412

Muhammad Irfan Naufal 10520660

Ocsha Puteri 10520775

Pramesti Regita Angelina 10520783

Sanda Novalia Rahmah 10520946

4PA23 Dosen Pengampu:

Dr. Nurul Qomariyah, MPsi., Psi

Fakultas Psikologi Universita Gunadarma

(2)

1. Definisi Forgiveness

Menurut McCullough dkk (2000) forgiveness adalah apa yang mereka (orang yang memaafkan) pikirkan, rasakan, ingin lakukan, atau benar-benar lakukan terhadap orang yang telah menyinggung dan melukai mereka menjadi lebih positif dan kurang negatif.

Menurut Younger dkk (2004) sikap forgiveness adalah salah satu dari banyak respon yang mungkin dapat merugikan diri sendiri tetapi dapat menjadi respon yang positif dan sehat yang melibatkan keputusan untuk melepaskan kemarahan dan tidak membalas dendam.

Menurut Steven (2013) forgiveness biasanya didefinisikan sebagai proses menyimpulkan kebencian (kemarahan), kemarahan atau sakit hati, sebagai akibat dari perbedaan atau kesalahan pelanggaran yang dirasakan, dan/atau berhenti menuntut hukuman atau restitusi.

2. Aspek-Aspek Forgiveness

Menurut McCullough, Root, dan Cohen (2006), terdapat tiga aspek yang pada perilaku forgiveness yaitu avoidance motivation, revenge motivation, dan benevolence motivation:

a. Avoidance Motivation

Seseorang yang merasa terluka cenderung memiliki dorongan untuk menghindari dan mengakhiri hubungan dengan orang yang menyebabkan rasa sakit tersebut. Di sisi lain, seseorang yang berusaha untuk berperilaku forgiveness akan merasa semakin kurang terdorong untuk menghindari orang yang melakukan kesalahan tersebut, serta menghilangkan keinginan untuk menjaga jarak dengan orang yang telah menyakitinya.

b. Revenge Motivation

Seseorang yang pernah mengalami luka dari orang lain cenderung memiliki keinginan untuk membalas dendam terhadap pelaku sebagai bentuk kemarahan. Namun, bagi individu yang menganut prinsip forgiveness, dorongan untuk membalas dendam terhadap orang yang menyakiti akan semakin berkurang. Individu yang memiliki sikap forgiveness yang baik akan melupakan keinginan untuk membalas dendam terhadap orang yang telah menyakiti mereka.

c. Benevolence Motivation

Seseorang yang memilih untuk berperilaku forgiveness akan semakin terdorong oleh niat baik dan keinginan untuk mencapai perdamaian dengan pelaku, meskipun tindakan yang dilakukan termasuk berbahaya. Individu yang memiliki sikap forgiveness berharap melihat kesejahteraan orang yang pernah menyakiti mereka.

(3)

Menurut Mauger dkk (dalam Mascaskill, Maltby dan Day, 2010), terdapat dua aspek forgiveness yaitu forgiveness of self dan forgiveness of other:

a. Forgiveness of Self (memaafkan diri sendiri)

Ketika seseorang mengampuni dirinya sendiri terkait perasaan bersalah, penyesalan atas kesalahan yang dilakukan, dan juga merubah pandangan negatif terhadap diri sendiri.

b. Forgiveness of Others (memaafkan orang lain)

Ketika seseorang berperilaku forgiveness pada dirinya sendiri atas perlakuan yang telah menyebabkan luka atau perasaan sakit hati pada orang lain.

3. Proses Forgiveness

Menurut Enright & Fitzgibbons (2000), terdapat empat proses yang harus dilalui dalam perilaku forgiveness yaitu uncovering phase, decision phase, work phase, dan deepening phase:

a. Uncovering Phase (fase pengungkapan)

Fase pertama ini menjelaskan wawasan seseorang tentang apakah ketidakadilan dan cedera berikutnya telah membahayakan hidupnya. Ini bisa menjadi waktu yang menyakitkan secara emosional karena ketidakadilan orang lain, ini bisa menjadi motivator untuk berubah. Rasa sakit emosional bisa menjadi motivator untuk memikirkan dan mencoba berperilaku forgiveness.

b. Decision Phase (fase keputusan)

Ini adalah waktu bagi seseorang untuk berpikir tentang apa itu pengampunan.

Keputusan untuk berperilaku forgiveness adalah proses kognitif. Individu tersebut harus membedakan komitmen untuk berperilaku forgiveness dan semua yang terlibat dalam proses tersebut. Jika tidak saat berkomitmen untuk berperilaku forgiveness, idnividu dapat menyimpulkan bahwa sebagaian besar pekerjaannya telah selesai.

Sebaliknya, ini baru permulaan.

c. Work Phase (fase kerja)

Di sini orang tersebut mulai memahami bahwa orang yang menyinggung dari pelanggaran (atau pelanggaran) yang dilakukan. Orang yang berperilaku forgiveness mungkin mulai merasakan belas kasihan terhadap orang tersebut. Fokus bergeser dari diri sendiri, ke orang yang menyinggung.

d. Deepening Phase (fase pendalaman)

(4)

Forgiveness adalah target yang bergerak. Saat orang tersebut belajar untuk berperilaku forgiveness, mereka mungkin memilih untuk menerapkan pembelajaran itu ke arah pengampunan yang lebih dalam. Kemudian, mereka mungkin menggeneralisasikan pembelajaran pada situasi dan orang baru.

Kemudian Lewis (Sriwahyuni, 2015) membagi empat proses dalam forgiveness yaitu:

a. Membalut rasa sakit

Sakit hati dibiarkan berarti merasakan sakit tanpa mengobatinya sehingga lambat laun akan menggerogoti kebahagiaan dan ketentraman.

b. Meredakan kebencian

Kebencian sangat berbahaya karena kebencian justru melukai si pembenci sendiri melebihi orang yang dibenci, oleh karena itu membutuhkan penyembuhan.

c. Upaya penyembuhan diri sendiri

Seseorang tidak mudah melepaskan kesalahan yang dilakukan orang lain, sebab akan lebih mudah dengan jalan melepaskan orang itu dari kesalahannya dalam ingatannya.

d. Memerlukan ketulusan

Pihak yang menyakiti harus tulus menyatakan kepada pihak yang disakiti dengan tidak akan menyakiti hati lagi. Mereka juga harus berjanji untuk berjalan bersama di masa mendatang dan saling membutuhkan satu sama lain.

4. Dimensi Forgiveness

Menurut Worthington (1998), terdapat dua dimensi yang pada perilaku forgiveness intrapsychic state dan interpersonal act:

a. Intrapsychic state

Sikap forgiveness mengacu pada sikap emosional berdasarkan penilaian kognitif dan interpretasi. Berperilaku forgiveness pada seseorang berarti berhenti merasa marah atau kesal atas pelanggarannya. Bentuk pengampunan ini pada dasarnya bersifat intrapsikis.

b. Interpersonal act

Forgiveness adalah tindakan sosial yang terjadi di antara orang-orang. Ini adalah langkah untuk mengembalikan hubungan di antara mereka ke kondisi sebelum pelanggaran. Forgiveness menandakan bahwa korban tidak akan membalas dendam lebih lanjut.

(5)

Menurut Donald Shiver & Mary Lean (A’isyah, 2021) terdapat empat dimensi forgiveness yaitu:

a. Kebenaran Sejarah, artinya forgiveness tidak bermakna jika kebenaran tidak diungkapkan.

b. Empati terhadap si pembuat salah, bagaimanapun ia juga seorang manusia yang bisa berbuat khilaf dan dosa.

c. Membebaskan hatinya untuk membalas dendam terhadap prang yang menyakiti.

d. Berkomitmen untuk memperbaiki hubungan yang retak.

5. Faktor Yang Mempengaruhi Forgiveness

Menurut Worthington (1998), terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi seseorang untuk beperilaku forgiveness:

a. Orang tersebut melakukan kesalahan dan mengharapkan perilaku forgiveness dari orang lain. Sampai saat ini, alasan paling sering yang dikemukakan oleh banyak orang untuk mengampuni orang lain berasal dari pengakuan yang menyakitkan bahwa kita semua memiliki kesalahan, seperti orang lain di sekitar kita.

b. Orang tersebut berkeinginan untuk memulihkan ikatan dengan pelaku, meskipun dengan pendekatan yang berbeda. Jika individu tersebut enggan berperilaku forgiveness pada orang yang bersalah, maka dia tidak akan pernah memiliki teman.

c. Orang tersebut perlu melalui pengalaman ini agar bisa melanjutkan hidup. Ini bisa menjadi motivasi untuk mengampuni orang lain, meskipun dia mungkin lebih memilih untuk tidak bersinggungan dengan pelaku lagi. Alasan ini merupakan pengakuan pribadi untuk memberikan pengampunan, dan sebenarnya tidak memprediksi hubungan yang baik antara orang tersebut dan pelaku di masa mendatang.

d. Orang tersebut berkeinginan untuk mengambil tindakan yang tepat. Meskipun dia mungkin merasa ragu terhadap kemampuan atau niat pelaku untuk berubah di masa depan, individu tersebut bisa jadi akan berperilaku forgiveness sebagai langkah moral untuk masa depan.

a. Empati

Empati merupakan kemampuan seseorang untuk merasakan dan memahami perasaan atau pengalaman orang lain. Kemampuan ini sangat terkait dengan pengambilan peran. Melalui empati terhadap pihak yang menyakiti, seseorang dapat memahami perasaan mereka, merasa bersalah, dan tertekan karena perilaku yang menyakitkan.

(6)

Oleh karena itu, beberapa penelitian menunjukkan bahwa empati memiliki pengaruh terhadap proses forgiveness.

b. Atribusi terhadap pelaku dan kesalahannya

Penilaian akan mempengaruhi setiap perilaku individu. Artinya, bahwa setiap perilaku itu ada penyebabnya dan penilaian dapat mengubah perilaku individu (termasuk forgiveness) di masa mendatang.

c. Tingkat kelukaan

Beberapa orang menyangkal dan menutupi rasa sakit hati mereka karena takut menghadapinya dan mengakui betapa menyakitkannya. Mereka takut merasa seperti orang yang dikhianati dan diperlakukan kejam. Rasa takut ini mencegah mereka mengakui sakit hati karena khawatir akan membenci orang yang mereka cintai, meskipun orang tersebut melukai mereka. Mereka menggunakan berbagai cara untuk menyangkal rasa sakit hati. Di sisi lain, orang sering kali merasa sakit hati ketika menyadari bahwa hubungan interpersonal yang mereka anggap abadi ternyata hanya bersifat sementara. Hal ini menyebabkan kesedihan yang mendalam. Pada situasi seperti ini, perilaku forgiveness sulit atau bahkan tidak mungkin terjadi.

d. Karakteristik kepribadian

Ciri kepribadian tertentu seperti ekstravert menggambarkan beberapa karakteristik seperti memiliki kehidupan sosial yang aktif, berani mengungkapkan diri, dan tegas.

Selain itu, mereka juga cenderung hangat, kooperatif, tidak egois, menyenangkan, jujur, dermawan, sopan, dan fleksibel. Mereka juga memiliki kemampuan untuk berempati dan bersahabat. Karakteristik lain yang dianggap memiliki peran penting adalah kecerdasan, analitis, imajinatif, kreatif, sederhana, dan sopan.

e. Kualitas hubungan

Seseorang yang dapat menunjukan sikap forgiveness pada pihak lain didasari oleh komitmen tinggi terhadap hubungan mereka. Ada empat alasan mengapa kualitas hubungan mempengaruhi perilaku forgiveness dalam hubungan interpersonal.

Pertama, pasangan yang berperilaku forgiveness memiliki motivasi yang tinggi untuk menjaga hubungan. Kedua, dalam hubungan yang erat, terdapat orientasi jangka panjang dalam membangun hubungan di antara mereka. Ketiga, dalam kualitas hubungan yang baik, kepentingan individu dan pasangan bersatu. Keempat, kualitas hubungan memiliki orientasi kolektivitas yang mendorong pihak yang terlibat untuk berperilaku saling menguntungkan.

Referensi

Dokumen terkait

SATUAN ACARA PERKULIAHAN – FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS GUNADARMA MATA KULIAH : PENYUSUNAN SKALA PSIKOLOGI1. KODE MATAKULIAH / SKS = IT-051212 /

Apabila aitem yang memiliki indeks daya diskriminasi sarna dengan atau lebih besar daripada 0,30 jumlahnya melebihi jumlah aitem yang direncanakan untuk dijadikan skala,

Selesai mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan dapat memahami tentang konsep-konsep dasar dan teknik-teknik penyusunan skala psiko- logis..

Hubungan kepribadian hardiness dengan optimisme pada calon tenaga kerja Indonesia (CTKI) wanita di BLKLN DISNAKERTRANS Jawa Tengah.. Jurnal Psikologi

 Desain penelitian dalam mengidentifikasi respons menipu dilakukan dengan membandingkan rerata skor total skala psikologi dari dua kelompok yang memiliki motivasi yang berbeda..

• Skala ini digunakan untuk mengukur sikap tidak dalam bentuk pilihan ganda atau checklist, tetapi tersusun dari sebuah garis kontinum8. • Nilai yg sangat negatif terletak di

Hubungan antara body dissatisfaction dan perilaku diet pada remaja putri.. Fakultas Psikologi , Universitas

Apabila dikaitkan dengan stres kerja, seorang perawat yang memiliki tingkat forgiveness tinggi (total forgiveness), ia akan mampu mengubah emosi-emosi negatif