• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Delik Khusus dalam Penanggulangan Perdagangan Manusia

N/A
N/A
ROSE AMADYA BERLIAN S1 Ilmu Hukum

Academic year: 2025

Membagikan "Peran Delik Khusus dalam Penanggulangan Perdagangan Manusia"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

“MEMBANGUN KERANGKA HUKUM YANG KOKOH: PERAN DELIK KHUSUS DALAM PENANGGULANGAN PERDAGANGAN MANUSIA”

Dosen Mata Kuliah:

Dr. SITI HUMULHAER, SH.,MH.

Disusun Oleh:

ROSE AMADYA BERLIAN (2102010061) QHATTRUNNADA AS ZAHRA (2102010079)

MIA AURELLIA ZAHRA (2102010096)

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS ISLAM SYEKH YUSUF

2024

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah Swt. Berkat rahmat, hidayah, dan karunia-Nya kepada kita semua sehingga makalah ini dapat diselesaikan dengan judul "MEMBANGUN KERANGKA HUKUM

YANG KOKOH: PERAN DELIK KHUSUS DALAMM PENANGGULANGAN

PERDAGANGAN MANUSIA" ini tepat pada waktunya. Adapun tujuan dari penulisan makalah ini sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas EKT 1 mata kuliah Delik – Delik Khusus di

Prodi Ilmu Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Islam Syekh Yusuf. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk menambah wawasan tentang peran delik – delik khusus dalam

menanggulangi perdagangan manusia yang terjadi di Indonesia.

Ucapan terimakasih kepada Ibu Dr. Siti Humulhaer, SH., MH. selaku Dosen mata kuliah Hukum Delik – Delik Khusus yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat menambah pengetahuan

dan wawasan sesuai dengan bidang studi yang ditekuni ini. Penulis menyadari bahwa makalah yang telah diselesaikan ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang

membangun sangat dibutuhkan demi kesempurnaan makalah ini.

(3)

DAFTAR ISI

(4)

A. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Perdagangan manusia menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi oleh masyarakat global pada abad ke-21 ini. Praktik ini tidak hanya merusak hak asasi manusia, tetapi juga merusak martabat manusia secara menyeluruh. Dengan adanya kompleksitas dan keberagaman penyebab serta dampaknya, penanggulangan perdagangan manusia memerlukan pendekatan yang terpadu.

Perdagangan manusia, yang juga dikenal sebagai trafficking, adalah kejahatan transnasional yang melibatkan eksploitasi orang untuk tujuan komersial, seperti eksploitasi seksual atau kerja paksa.

Perdagangan manusia juga merusak integritas individu dan komunitas secara keseluruhan. Korban perdagangan manusia sering kali dianiaya, dipaksa bekerja tanpa bayaran, atau diperdagangkan sebagai objek seksual. Mereka seringkali terjebak dalam lingkaran kekerasan dan eksploitasi yang sulit untuk melarikan diri tanpa bantuan luar. Perdagangan orang merupakan kejahatan yang terorganisir secara baik, melibatkan berbagai metode dari yang konvensional hingga modern.

Dalam kejahatan terorganisir ini, terdapat pembentukan jaringan yang berkembang dari tingkat nasional hingga internasional.1

Dalam upaya untuk melawan perdagangan manusia, banyak yurisdiksi telah memperkenalkan delik-delik khusus yang secara khusus mengatur kejahatan ini. Dalam konteks ini, peran delik khusus dalam kerangka hukum menjadi sangat penting. Delik khusus yang mengatur perdagangan manusia biasanya mencakup berbagai aspek, mulai dari pencegahan dan penuntasan perdagangan manusia hingga perlindungan korban dan hukuman bagi pelaku kejahatan. Regulasi ini sering kali mencakup definisi yang jelas tentang apa yang dianggap sebagai perdagangan manusia, prosedur penyelidikan dan penuntutan, serta langkah-langkah rehabilitasi bagi korban. Dalam konteks ini, peran delik khusus dalam kerangka hukum menjadi sangat penting.

Pasal 1 angka 14 Undang-Undang nomor 8 tahun 1981 menjelaskan bahwa tersangka adalah seseorang yang karena tindakan atau keadaannya, diduga secara wajar sebagai pelaku tindak pidana berdasarkan bukti awal. Hal ini juga berlaku untuk tindak pidana perdagangan orang, sebagaimana diatur dalam Undang-undang nomor 21 tahun 2007. Pasal 1 angka 1 dari Undang-

1 Eko Sopoyono, Brian, Penerapan Sanksi Pidana terhadap Pelaku Perdagangan Manusia (Human Trafficing) di Indonesia, Jurnal Pembangunan Hukum Indonesia, Vol. 1 No. 3 (2019), hal 353

(5)

undang tersebut menjelaskan bahwa perdagangan orang mencakup tindakan perekrutan, transportasi, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman atau penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan, penjeratan utang, atau memberikan bayaran atau manfaat, sehingga memperoleh persetujuan dari orang yang mengendalikan orang tersebut, baik di dalam negeri maupun lintas negara, untuk tujuan eksploitasi atau menyebabkan eksploitasi seseorang. Untuk menetapkan status tersangka dalam tindak pidana perdagangan orang, harus memenuhi unsur yang tercantum dalam pasal 1 Undang-Undang nomor 21 tahun 2007 tersebut.2

Selanjutnya, mengenai eksploitasi seksual yang diatur dalam pasal 1 angka 8, ini mencakup segala bentuk pemanfaatan organ tubuh seksual atau organ tubuh lain dari korban untuk mendapatkan keuntungan, termasuk namun tidak terbatas pada segala kegiatan pelacuran. Ini berarti bahwa eksploitasi seksual tidak terbatas hanya pada kegiatan yang terkait dengan pelacuran.

Pentingnya delik-delik khusus ini juga tercermin dalam kerja sama internasional yang semakin meningkat dalam pencegahan, penegakan hukum, dan rehabilitasi korban perdagangan manusia.

Upaya bersama antarnegara dan lembaga internasional menjadi kunci dalam menghadapi perdagangan manusia yang sering kali lintas batas.

Dengan memahami pentingnya delik-delik khusus dalam mengatur perdagangan manusia, kita dapat lebih memahami upaya yang diperlukan untuk melindungi korban, menegakkan keadilan, dan mencegah kejahatan ini di masa depan.

1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana Peran dari Delik – Delik Khusus dalam menanggulangi perdagangan orang?

2. Apa pentingnya suatu pidana khusus bagi yang melakukan perdagangan orang (Human Trafficking)?

B. Metode Penelitian

2 Wilson Petrus M, Penetapan Kasus Tersangkan dalam Kasus Human Trafficing pada tindakan prostitusi, Yogyakarta (2016), hal 2

(6)

Penelitian ini merupakan jenis penelitian yang dikenal sebagai penelitian hukum normatif, sebagaimana yang dikemukakan oleh Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji. Penelitian hukum normatif ini adalah bentuk penelitian yang melibatkan pengkajian sumber-sumber pustaka atau analisis data sekunder, yang sering disebut sebagai penelitian hukum kepustakaan.3 Dalam penelitian ini, peneliti juga menerapkan metode studi pustaka yang mencakup upaya untuk mengumpulkan informasi yang relevan dengan topik atau permasalahan yang sedang diteliti.

Sumber-sumber informasi tersebut dapat berasal dari berbagai literatur ilmiah, laporan riset, tulisan akademis, serta sumber-sumber tertulis lainnya baik dalam format cetak maupun elektronik. Melalui studi pustaka ini, peneliti memiliki kesempatan untuk memanfaatkan semua informasi dan gagasan yang berkaitan dengan penelitiannya.

C. HASIL DAN PEMBAHASAN

3 Soerjono Soekanto, Penelitian Hukum Normatif: Suatu Tinjauan Singkat, Jakarta Rajawali Pers, Jakarta (2015),

Referensi

Dokumen terkait

Berbeda dengan penelitian ini yang akan dilakukan peneliti peran yang akan dilakukan Migrant Care terhadap masalah perdagangan manusia yang terjadi pada pekerja migran Indonesia

hidup penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan Penulisan Hukum dengan judul “ Peran.. Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Dalam Memberikan Penanggulangan

Permasalahan dalam penulisan makalah ini peran adalah Komisi Penanggulangan Aids (KPA), sebagai pranata sosial yang bersifat nasional, dalam upaya hifz} al-nafsi

Diplomasi pertahanan yang diiringi dengan diplomasi HAM menjadi langkah Indonesia untuk memberantas praktik perdagangan manusia dan segala bentuk perbudakan di

RINGKASAN PERAN KEPOLISIAN DALAM PENANGGULANGAN TINDAK PIDANA JUDI ONLINE Studi kasus Polsek Singosari Arrafi Septian Wibowo Fakultas Hukum Universitas Islam Malang Pada

UPAYA KOMPREHENSIF DALAM PENANGGULANGAN KONFLIK MANUSIA & GAJAH Kaniwa Berliani Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengertahuan Alam Universitas Sumatera Utara,

Dokumen ini merupakan skripsi yang membahas peran sumber daya manusia dalam mewujudkan organisasi yang

Makalah tentang sistem respirasi pada hewan dan manusia untuk tugas Mata Kuliah Fisiologi Hewan, membahas struktur dan fungsi sistem