PERANAN BADAN AMIL ZAKAT NASIONAL (BAZNAS) DALAM MENINGKATKAN
PEREKONOMIAN MUSTAHIK
(STUDI KASUS PADA BAZNAS KOTA SIBOLGA)
JURNAL ILMIAH
Disusun Oleh:
Dhea Tri Anggun Utami 165020501111052
JURUSAN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG
2021
Peranan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Dalam Meningkatkan Perekonomian Mustahik
(Studi Kasus Pada BAZNAS Kota Sibolga)
Dhea Tri Anggun UtamiFakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Malang Email: [email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan perekonomian mustahik setelah mendapatkan zakat melalui Badan Amil Zakat Nasional Kota Sibolga baik melalui zakat produktif maupun zakat konsumtif. Penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh dari hasil wawancara serta dokumentasi dan data sekunder diperoleh dari pengumpulan data berupa dokumen. Penelitian ini terdapat unit analisis yang terdiri dari para mustahik yang mendapatkan bantuan dana melalui Badan Amil Zakat Nasional Sibolga. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif yang menggunakan pendekatan studi kasus dengan memusatkan obyek tertentu pada suatu kasus untuk dipelajari. Metode dalam pengambilan data penelitian ini menggunakan Teknik Interpretasi Data yang dilakukan dua tahapan yakni, reduksi data, dan penyajian data.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa setelah mendapatkan bantuan dana dari Badan Amil Zakat Nasional Kota Sibolga para mustahik dapat meningkatkan penghasilan mereka dan memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
Kata Kunci : Perekonomian Mustahik, Badan Amil Zakat Nasional, Zakat
A. PENDAHULUAN
Badan Amil Zakat Nasional merupakan salah satu lembaga yang dibawahi oleh Kementerian Agama dalam urusan penghimpunan, pendistribusian dan pendayagunaan zakat pada suatu wilayah dengan tujuan untuk memberantas kemiskinan. Salah satu kantor Baznas terletak di Kota Sibolga yang mana untuk penghimpunan Baznas Kota Sibolga Sendoro masih belum bisa menjangkau seluruh golongan masyarakat yang mana jika dihubungkan dengan tujuan dari dibentuknya Baznas tersebut adalah memberantas kemiskinan tidak selaras dengan data yang didapatkan dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Sibolga mencatat bahwa sampai pada tahun Mei kan perekonomian mengalami penurunan yang signifikan hanya sebesar 0,02 persen saja akan tetapi garis kemiskinan meningkat menjadi 425.236/kapita. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tersebut Kecamatan Sibolga Selatan, salah satu Kecamatan dengan jumlah keluarga Pra- Sejahtera paling banyak dengan jumlah 6.248 jiwa.
Tabel 1. Garis Kemiskinan, Jumlah, dan Persentase Penduduk Miskin di Kota Sibolga, 2012- 2019
Tahun Year
Garis Kemiskinan (rupiah/kapita/bulan)
Poverty Line
(Rupiah/vapita/month)
Jumlah Penduduk Miskin (ribu)
Humber of Poor People (thousand)
Persentase
Penduduk Miskin Percentage of Poor People
(1) (2) (3) (4)
2012 322 176 11,13 13,00
2013 333 923 11,08 12,90
2014 342 238 10,57 12,26
2015 355 225 11,56 13,48
2016 391 681 11,54 13,30
2017 413 454 11,91 13,69
2018 415 478 10,81 12,38
2019 425 236 10,82 12,36
Sumber: Data BPS Kota Sibolga, 2020
Berdasarkan data tersebut dapat dilihat bahwa jumlah penduduk miskin di Sibolga cenderung mengalami peningkatan dari tahun ketahun, adapun penurunannya tidak terlalu signifikan. Dalam meningkatkan perekonomian masyarakat mayarakat miskin diperlukan beberapa upaya yang pada akhirnya nanti masyarakat miskin tersebut mampu mandiri dalam meningkatkan perekonomian mereka. Untuk tercapainya tujuan tersebut harus dilakukannya langkah-langkah yang efektif.
Hal inilah yang mendasari pemilihan Kota Sibolga dalam penelitian kali ini jika dilihat dengan banyaknya jumlah penduduk miskin dan masyarakatnya sangat dibutuhkannya andil dari ZIS untuk meningkatkan perekonomian masyarakat miskin tersebut. Kota Sibolga juga merupakan kota kecil dengan mayoritas umat muslim yang kebanyakan dari masyarakatnya setelah menyelesaikan Sekolah Menengah Atas cenderung langsung bekerja, dikarenakan ketidakmampuan keluarga dalam biaya untuk sekolah lebih lanjut. Maka dari itu peneliti melakukan penelitian tersebut untuk mengetahui seberapa besar peranan dari BAZNAS Kota Sibolga dalam meningkatkan perekonomian masyarakat miskin.
Cara untuk mengurangi kemiskinan menurut prespektif Islam adalah dengan cara menumbuhkan budaya zakat, infaq, sedekah (ZIS) dikalangan umat muslim. Budaya zakat, infaq, sedekah (ZIS) bukan hanya untuk meningkatkan spiritual seseorang tapi juga bisa berdampak sosial dan ekonomi yang dapat mengurangi beberapa aspek yaitu tingkat kejahatan, kesenjangan pendapatan dan kemiskinan. Pernyataan di atas terbukti pada masa kepemimpinan Nabi Muhammad SAW dan khalifah sesudahnya dilihat dari hampir semua masyarakat diharuskan untuk berzakat dengan upaya mengurangi masyarakat miskin di masa itu. Pada saat sekarangpun jika dilihat dari perkembangan dan banyaknya lembaga zakat di Indonesia budaya ZIS ini mampu meningkatkan yang awalnya masyarakat sebagai mustahiq sekarang menjadi muzakki karena dengan adanya zakat produktif yang diberikan lembaga zakat.
Tabel 2. Data Pengelolaan Badan Amil Zakat Nasional Kota Sibolga 2020
NO URAIAN 2020 (Rupiah)
A. PENGHIMPUNAN
1 Zakat 2.014.210.041
2 Infaq 132.375.526
Jumlah 2.146.585.567
B. PENYALURAN
1 Zakat 1.561.450.000
2 Infaq 90.000.000
Jumlah 1.651.450.000
Sumber: Data Pengelolaan Baznas Sibolga, 2021
Dari data tersebut dapat dilihat sebagian dana dihimpun dari gaji bulanan pegawai negeri sipil atau yang biasa disebut PNS, dari hasil keseluruhan didapatkan dari 2.565 orang muzakki untuk kemudian disalurkan kepada 7.937 mustahiq yang ada di Sibolga. Badan Amil Zakat Sibolga juga melakukan beberapa Program untuk meningkatkan dari penyaluran pendanaannya.
Program Sibolga Peduli seperti membagikan sembako berupa beras, telur dan minyak sewaktu masa Covid-19. Program Sibolga Cerdas memberikan beasiswa yang sampai saat ini sudah menjaring 1000 orang dari kalangan SD-Mahasiswa. Program Sibolga Taqwa yang memberikan bantuan pendanaan dalam membangun tempat ibadah. Program Sibolga Makmur yang memberikan bantuan pendanaan dalam pembangunan sekolah di Sibolga. Terakhir, ada bantuan renovasi gerobak untuk pedagang di Sibolga Square yang diadakan setiap 2 tahun sekali untuk memperbaiki gerobak usaha mereka menjadi lebih layak dalam penggunaannya.
Dengan adanya Lembaga sosial seperti BAZ diharapkan lebih berperan dalam mewujudkan hal tersebut. Besar-kecilnya peranan dari BAZ dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat miskin di wilayah tersebut dapat dilihat dari beberapa masyarakat yang terlihat dalam beberapa kegiatan secara langsung yang kemudian berperan dalam kehidupan sehari-hari yang mengalami peningkatan.
B. TINJAUAN PUSTAKA Badan Amil Zakat Nasional
Lembaga pengelolaan zakat di Indonesia diatur dengan beberapa peraturan yang ada dalam perundang-undangan yaitu pada UU RI No.38 Tahun 1999 Tentang Zakat yang sudah diubah serta disempurnakan dalam UU RI No. 23 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Zakat. Badan amil zakat adalah sebuah lembaga yang melaksana kegiatan urusan zakat, mulai dari penghimpunan dana zakat melalui muzakki, penyimpanan, pencatatan hingga penyaluran dana zakat kepada mustahik, yang mana fungsi masing-masing dari struktur Badan Amil Zakat dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Dewan Pertimbangan berfungsi memberikan pertimbangan, fatwa, saran dan rekomendari tentang pegembangan hukum dan pemahaman mengenai pengelolaan zakat.
2. Komisi pengawas memiliki fungsi melaksanakan pengawasan internal atau operasional kegiatan yang dilaksanakan badan pelaksana.
3. Badan Pelaksana memiliki fungsi melaksanakan kebijakan BAZ dalam program penghimpunan, penyaluran, pendayagunaan dana zakat.
Pengertian Perekonomian
Perekonomian adalah sistem yang digunakan oleh suatu negara untuk mengalokasikan sumber daya yang dimilikinya baik kepada individu maupun organisasi di negara tersebut.
Menurut Abraham Maslow mengatakan bahwa ekonomi ialah suatu ilmu yang dapat menyelesaikan seluruh permasalahan manusia dalam kehidupan melalui pengelolaan sumber daya yang tersedia. Penhelolaan yang dimaksud disini menggunakan teori dan prinsip menempuh jalan yang efektif dan efisien.
Menurut Anwal menyatakan bahwa ekonomi adalah suatu cabang ilmu yang mempelajari tenang cara menentukan keputusan yang efisien dalam penggunakan sumber daya yang tersedia sehingga kebutuhan dan tujuan dari Negara, masyarakat maupun individu tercapai.
Zakat dalam Peningkatan Perekonomian
Muchtar Efendy menhan gemukakan ada dua alternatif dalam upaya pemberdayaan zakat, yaitu:
1. Pendekatan Parsial berarti forming only a part, not complit atau sebagian tidak menyeluruh. Pendekatan semacam ini merupakan pertolongan yang dilakukan secara langsung dan bersifat insedential, dengan cara ini pendistribusian zakat lebih berbentuk
konsumtif, variatif dan hanya tempory relief (peringanan bebas sesaat). Dalam konteks kesejahteraan sosial, pendekatan semacam ini disebut juga pendekatan tradisional.
Dengan pendekatan ini dampak pendistribusian zakat ada dua cara, ialah:
a. Konsumtif Tradisional
Dalam hal ini zakat hanya dapat dimanfaatkan oleh mustahiq secara langsung, bentuk seperti ini tepatnya diberikan kepada mereka yang benar-benar tidak mampu untuk berusaha dalam mencari rezeki disebabkan karena contohnya sudah lemah insannya atau ada halangan lain yang dapat diterima oleh akal.
b. Konsumtif Kreatif
Dalam hal ini mustahiq dapat mengembangkan dan memanfaatkan zakat dengan baik, misalnya membeli peralatan sekolah, beasiswa dan lain-lain. Dalam bentuk ini lebih sesuai diberikan untuk mereka yang benar-benar kekurangan akan tetapi mempunyai potensi untuk mengembangkan dirinya.
2. Pendekatan struktural atau yang biasa disebut dengan institusional atau produktif yakni cara pendistribusian zakat secara kontiniu atau pendekatan yang lebih cenderung ke arah usaha pengadaan atau perubahan secara terencana. Dengan pendekatan ini, masalah kemiskinan bisa teratasi secara perlahan dikarenakan para mustahiq menggunakan dana zakat yang diterima untuk mengembangkan usaha atau membuka usaha demi kelangsungan masa depan mereka. Melalui pendekatan struktural ini pendistribusian zakat ada dua cara, yaitu:
a. Produktif Tradisional
Yaitu zakat dapat diberikan dalam bentuk barang yang produktif seperti kambing, kerbau, mesin jahit, alat pertukangan dan sebagainya. Bentuk zakat ini lebih sesuai jika diberikan kepada mereka yang tergolong mustahiq yang mampu dan kuat berusaha.
b. Produktif Kreatif
Zakat berwujud dalam bentuk permodalan baik untuk membangun proyek sosial atau untuk menambah modal bagi pedagang kecil.
Pengertian Mustahik
Mustahik adalah orang berhak menerima zakat. Ketentua tentang siapa saja yang berhal menerima zakat telah diatue dengan jelas dalam QS At-Taubah {9}:60.
"sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (muallaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untu (membebaskan) orang yang berutang, untuk kepentingan dijalan Allah, dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana."
Adapun penjelasan adalah sebagai berikut:
1) Fakir, yaitu orang yang penghasilannya tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari pada taraf yang paling minimal sekalipun.
2) Orang miskin, yaitu orang penghasilanya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup (yang pokok) sehari-hari pada taraf minimal.
3) Amil zakat, yaitu lebaga atau perorangan yang mengelola zakat.
4) Muallaf, yaitu oeang yang baru masuk islam 5) Riqab, yaitu untuk memerdekakan hamba sahaya.
6) Gharimin, yaitu untuk membebaskan beban orang yang berhutang untuk kepentingan kebaikan.
7) Sabilillah, yaitu untuk kepentingan di jalan Allah
8) Ibnu sabil, yaitu orang yang dalam perjalanan yang kehabisan bekal dan perjalanan tersebut untuk tujuan kebaikan.
C. METODE PENELITIAN Pendekatan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Menurut I Made Winartha (2006:155), metode analisis deskriptif kualitatif adalah menganalisis, menggambarkan dan meringkas berbagai kondisi, situasi dari berbagai data yang dikumpulkan berupa hasil wawancara atau pengamatan mengenai masalah yang diteliti kerja di lapangan. Penelitian kualitatif bukan berarti tanpa menggunakan dukungan dari data kuantitatif, namun juga lebih menekankan kepada kedalaman berpikir formal dari peneliti dalam menjawab permasalahan yang tengah dihadapi. Penelitian kualitatif bertujuan mengembangkan masalah yang sedang dihadapi, menerangkan tentang realitas yang berkaitan dengan penelusuran teori dari bawah (Grounded theory) dan mengembangkan pemahaman akan satu atau lebih dari fenomena yang dihadapi.
Lokasi Penelitian
Menurut Nasution (2003), Lokasi penelitian menunjukkan pada pengertian tempat atau lokasi sosial penelitian yang dicirikan oleh adanya unsur, yaitu pelaku, tempat, dan kegiatan yang dapat di observasi. Adapun penelitian dilakukan pada Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Sibolga yang berlokasi di Jalan S.Parman No. 64, Kota Sibolga, Sumatera Utara.
Fokus Penelitian
Berdasarkan pemikiran, rumusan masalah, dan tujuan penelitian di atas, maka peneliti telah menentukan fokus penelitian agar dalam penelitian ini mempunyai batasan-batasan yang hendak diteliti. Adapun fokus dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
Tabel 3. Fokus Penelitian
No Rumusan Masalah Fokus Penelitian
1. Bagaimana peranan Badan Amil Zakat dalam meningkatkan perekonomian mustahiq serta bagaimana peningkatan perekonomian mustahiq dalam rangka pemenuhan kebutuhan setelah mendapatkan dana zakat?
a. Peranan Baznas dalam peningkatan perekonomian mustahiq.
b. Dampak terhadap peningkatan perekonomian mustahiq dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari setelah mendapatkan dana zakat.
Sumber: Penulis, 2021
Unit Analisis dan Penentuan Informan
Sesuai dengan rumusan masalah yang dibawa, unit analisis pada penelitian ini berfokus pada peningkatan perekonomian mustahiq setelah mendapatkan dana zakat. Pihak-pihak yang akan dijadikan informan dalam penelitian ini adalah pihak yang secara langsung berkaitan dengan unit analisis tersebut.
Teknik Pengumpulan Data 1. Wawancara
Teknik pengumpulan data ini mendasarkan diri pada laporan tentang diri sendiri atau self- report, atau setidaknya pada pengetahuan dan keyakinan pribadi. Wawancara dapat dilakukan secara terstruktur, dan dapat diakukan melalui tatap muka maupun dengan komunikasi jarak jauh (Sugiyono, 2016). Dalam pelaksanaannya wawancara ini bertujuan untuk menemukan
permasalahan lebih terbuka, dimana narasumber yang diwawancara akan diminta untuk menjelaskan pendapat, alasan, serta ide-idenya.
2. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan pelengkap dari penggunaan metode wawancara dalam penelitian kualitatif. Bahkan kredibilitas hasil penelitian kualitatif ini akan semakin tinggi jika melibatkan atau menggunakan studi dokumen ini dalam metode penelitian kualitatif. Dalam penelitian kali ini menggunakan dokumentasi penyerahan zakat, sewaktu wawancara dengan mustahiq dan pengurus Baznas.
D. PEMBAHASAN Data Informan
Informan dalam penelitian ini dipilih berdasarkan kriteria-kriteria yang berhubungan dengan penelitian yakni mustahik penerima bantuan dana zakat daan pengurus Baznas Kota Sibolga. Berdasarkan hal tersebut maka pihak-pihak yang dijadikan sebagai informan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Tabel 4. Daftar Informan
No Nama Umur Jabatan/Pekerjaan
1 Bapak Nuzar 54 Ketua III BAZNAS Sibolga
2 Ibu Deny 30 Operator Amil
3 Ibu Ilfa 32 Staff Sekretariat
4 Ibu Ramadhani 35 Mustahiq (Penjaga Kantin) 5 Ibu Musli 57 Mustahiq (Pedagang Keliling)
6 Ibu Nayan 63 Mustahiq (Rubiah)
7 Ani 24 Mustahiq (Mahasiswa)
8 Bapak Ali Sutan 48 Mustahiq (Ketua Panitia Pembangunan Masjid) 9 Ibu Suji 36 Mustahiq (Pedagang Sibolga Square)
10 Ibu Iin 42 Mustahiq (Pengrajin bunga)
Sumber: Penulis, 2021
Salah satu informasi yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan dari BAZNAS Kota Sibolga adalah gambaran umum BAZNAS Sibolga secara umum dan pengelolaan dana zakatnya. BAZNAS Sibolga secara umum merupakan badan amil zakat yang didirikan tahun 2002 yang mengacu pada surat keputusan Gubernur Sumatera Utara nomor 451.12-2725-k-1997.
Dengan menurut perundang-undangan baru UU No 23 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Zakat, BAZNAS Kota Sibolga resmi dilantik dengan kepengurusan baru pada tahun 2018 yang dimana pengurus serta staff sendiri ditunjuk oleh Badan Amil Zakat Provinsi Sumatera Utara. Sebagai lembaga penghimpunan zakat, Baznas Kota Sibolga memiliki tanggung jawab yang besar dalam melakukan pengumpulan zakat dan pengentasan kemiskinan seperti tujuan dari Baznas itu sendiri.
Peranan Baznas dalam Peningkatan Perekonomian Mustahik
Baznas adalah sebagai suatu lembaga yang dibentuk oleh pemerintah selaku amil untuk menangani masalah zakat, infak dan sedekah tentunya memiliki peranan yang sangat penting sebagai amil dengan penuh tanggung jawab, bijaksana dan dapat dipercaya. Dalam hal ini sangat menetukan stabilnya dari perekonomian, terutama pada diri pribadi sebagai manusia yang tidak lepas dari hubungan sosial kemasyarakatan. Dalam peranannya, Baznas berfungsi dalam mengembangkan ekonomi ummat pada umumnya dan khususnya pemberdayaan potensi masyarakat yang berekonomi lemah dengan adanya program zakat produktif dengan tujuan bisa membantu ekonomi dan kesejarahteraan masyarakat miskin yang ada di Kota Sibolga. Baznas
Kota Sibolga juga lebih berfokus dalam memberikan dana zakat kepada masyarakat fakir dan miskin terlebih dahulu. Pada tahun 2020 sudah terkumpul dana zakat sebesar Rp 2.014.210.041 yang dimana dari dana tersebut diberikan kepada fakir miskin sebesar 70%. Baznas Kota Sibolga juga tidak mengambil jatah dari ashnaf amil dikarenakan keputusan dari pemerintah yang dimana hal tersebut dilandasi oleh masyarakat miskin dan fakir yang lebih membutuhkan dari dana tersebut.
Adapun bentuk-bentuk pelaksanaan kegiatan yang dilakukan oleh BAZNAS Kota Sibolga, yaitu:
1. Bidang Dakwah/Advokasi : Bantuan dakwah dan advokasi ini meliputi bantuan pembangunan masjid/ musollah, bantuan guru mengaji, amil, pembinaan muallaf, gharim, dan bilal rubiah.
2. Bidang Ekonomi: Baznas dalam bidang ini memeberi bantuan pengembangan ekonomi dan SDM yang meliputi program bantuan bina usaha miskin dan santunan anak yatim.
3. Bidang Pendidikan: Program bantuan pendidikan seperti pemberian beasiswa untuk pelajar dari tingkat SD-Kuliah serta untuk murid MDA.
4. Bantuan Kesehatan: Program bantuan kesehatan ini seperti pengobatan langsung, khitanan massal.
5. Bidang Kemanusiaan: Program dalam bidang kemanusiaan yang diberikan oleh Baznas yaitu bantuan bencana alam, santunan lansia, paket fitrah, santunan masyarakat miskin.
Dengan melihat beberapa bantuan yang selama ini diberikan oleh baznas dalam berbagai bentuk pendayagunaan. Dari hasil wawancara dengan beberapa informan diketahui bahwasannya peran baznas sangat penting bagi kehidupan masyarakat karena dapat membantu dan juga mengurangi beban hidup masyarakat yang kurang mampu yang ada di Kota Sibolga. Melalui pola pemberdayaan seperti itu, zakat orang yang kaya dapat terus dikembangkan atau digulirkan kepada mustahiq yang memperoleh keterampilan dan modal tersebut diharapkan dapat mengembangkan usahanya agae perokonomiannya menjadi semakin meningkat sehingga lambat laun predikat mustahiq akan berubah menjadi muzakki.
Dengan demikian dana zakat dapat dijadikan sebagai sumber dana potensial yang dapat dikelola sebagai investasi sosial-ekonomi. Pada intinya baznas menginginkan kepada mustahiq adanya komitmen yang jelas dan tegas agar semua progeam kegiatan oleh baznas dapat terlaksana dengan sebaik-baiknya agar baznas bisa melaksanakan semua kegiatan yang direncanakan dalam membantu masyarakat untuk meningkatkan perekonomian masyarakat tersebut.
Karakteristik Masyarakat Miskin Menurut Baznas Kota Sibolga
Dalam rangka mengoptimalkan dari pengaruh zakat, maka dilakukannya dua pendekatan seperti parsial dan struktural. Berdasarkan pendekatan tersebut Bapak Nuzar selaku Wakil Ketua III Baznas Sibolga menyatakan bahwa bentuk pemberian zakat berdasarkan golongan miskin yang dibagi dalam 3 kriteria, yaitu:
1. Golongan yang tidak memiliki kemampuan sama sekali untuk berusaha dikarenakan beberapa faktor usia seperti lansia maka bantuan yang diberikan adalah bantuan zakat dalam bentuk konsumtif.
2. Mereka yang tidak memiliki pekeraan tapi masih tergolong sehat secara fisik dan jasmani, serta memiliki keterampilan. Bantuan yang dilakukan untuk golongan ini adalah dengan diberikan berupa latihan sehingga mereka menjadi mandiri dalam memenuhi kebutuhannya.
3. Mereka yang miskin karena suatu hal yang disebabkan karena adanya musibah, sedangkan fisik dan mentalnya masih berpotensi untuk bekerja dan berusaha, maka diberikan bantuan produktif.
Golongan (2) dan (3) menerima penyaluran dana zakat dari Baznas secara produktif yang dimana para penerima zakat dapat mengembangkan dana yang telah diberikan dengan harapannya adanya kemandirian dari para mustahiq. Pemberian zakat produktif lebih jauh lagi dengan diharapkan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat dan memutus lingkaran kemiskinan,
dimana hal tersebut terjadi karena rendahnya tingkat dari kesejahteraan dikarenakan produktivitas dalam menghasilkan nilai tambah yang rendah.
Produktivitas sangat erat kaitannya dengan modal, akses pasar dan kualitas sumber daya manusia, yang menjadi acuan dalam pengelolaan dana zakat adalah keterbatasannya modan dan kualitas sumber daya manusia yang cenderung kurang. Produktivitas yang dimaksudkan disini adalah setelah mustahiq menerima zakat produktif baik berupa bantuan beasiswa atau perbaikan usaha, harapannya mustahiq mampu menghasilkan sesuatu yang memiliki nilai tambah. Hal tersebut ditujukan untuk dapat meningkatkan perekonomian dari si penerima zakat tersebut.
Dampak terhadap Peningkatan Perekonomian Mustahik dalam Memenuhi Kebutuhan Sehari-hari Setelah Mendapatkan Dana Zakat.
Pengelolaan zakat bertujuan untuk meningkatkan pelayanan bagi masyarkat dalam menunaikan zakat, meningkatkan fungsi dan peranan keagamaan dalam meningkatakn perekonomian masyarakat dan kesejahteraan serta meningkatkan hasil guna dan daya guna zakat.
Dalam menyalurkan zakat dan infak baznas betul-betul memberikan kepada delapan ashnaf yang telah ditentukan meliputi bidang sesuai dengan tujuannya. Dan kedepannya baznas mengharapkan bantuan yang diberikan kepada masyarakat akan lebih baik lagi. Tentunya ini tidak terlepas dari kualitas baznas dan sosialisasi baznas. Selain itu yang tidak kalah pentingnya adalah penyuluhan tentang zakat dan aspek pemanfaatannya. Ini menjadi indikator yang sangat penting dalam pengelolaan zakat tentunya berlandaskan dengan aturan yang ada. Strategi pengelolaan zakat, utamanya aspek penataan manajemen sangat diutuhkan adanya transparansi karena dnegan cara ini dapat menyebabkan efektifitas pengelolaan zakat.
Oleh karena itu, Baznas Kota Sibolga dalam meningkatkan perekonomian masyarakat miskin berupaya lebih dalam peningkatan fuski dan peranannya dalam upaya mewujudkan kesejahteraan masyarakat miskin dan keadilan sosial, meningkatan pelayan terhadap muzakki dalam menunaikan zakat infak sesuatu dengan ketentuan agar jumlah dana setiap tahunnya terus bertambah dan ini akan berdampak sangat baik membantu para mustahiq serta meingkatkan hasil guna dan daya guna zakat infaq. Selain itu juga mengadakan bimbingan dan penyuluhan kepada para mustahiq agar kedepan mereka juga bisa menjadi muzakki. Selain itu badan amil zakat nasional kota Sibolga juga menerapkan beberapa strategi, sebagai berikut:
1. Meningkatkan sosialisasi dan koordinasi kepada pemerintah daerah mengenai peranan baznas kota sibolga dalam pencapaian strategi pemberdayaan dana zakat baznas kota sibolga.
2. Meningkatkan sosisalisasi penyebarluasan materi-materi penyuluhan zakat dalam upaya mendapatkan dukungan dan kesadaran semua pihak yang terkait.
3. Meningkatkan efektifitas kerja melalui kerja sama pihak terkait dan pihak-pihak potensial.
4. Meningkatkan intensitas penyuluhan secara berkesinambungan dan terencana dengan memanfaatkan seluruh sarana secara optimal.
5. Meningkatkan transparansi sistem pelaporan pertanggung jawaban dan memanfaatkan media publikasi secara optimal.
E. PENUTUP Kesimpulan
Penelitian ini menjelaskan mengenai kesimpulan dari pembahasan yang sudah di paparkan pada bab sebelumnya berdasarkan penelitian di lapangan maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Baznas masih terus berupaya dalam melakukan program untuk meningkatkan perekonomian masyarakat di Kota Sibolga dan sosialisasi yang dilakukan Baznas masih belum terlalu meluas kepada masyarakat sehingga masyarakat masih belum sepenuhnya memberikan zakat kepada Baznas serta masih terdapat beberapa kendala secara interal di dalam Baznas karena kurangnya tenaga kerja.
2. Mustahiq yang mendapatkan bantuan zakat dari Baznas sudah mampu untuk mengelola dan menghidupi kebutuhan sehari-hari.
3. Kurangya pengawasan Baznas kepada Mustahiq yang mendapatkan dana bergulir sehingga terjadi kegagalan program dan Baznas dalam penghimpunan dana zakat setiap tahun mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya.
Saran
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan mengenai peranan zakat terhadap peningkatan perekonomian mustahiq, maka saran yang dapat peneliti berikan yaitu:
1. Baznas harus melakukan sosialisasi secara optimal kesemua golongan masyarakat agar dapat menjalankan program yang lebih baik lagi dan Baznas sebaiknya melakukan penerimaan panitia zakat ketika mendekati untuk pembagian zakat agar proses dari penyaluran zakat bisa berjalan dengan tepat, dan cepat serta Baznas harus terus melakukan pengawasan kepada mustahiq agar tidak terjadi kegagalan program di kedepannya.
2. Dalam penyaluran zakat sebaiknya Baznas turut langsung untuk mendata mustahiq yang berhak menerima zakatnya agar tidak ada beberapa calon mustahiq yang namanya tidak terdaftar.
3. Pelayanan lembaga zakat harus memudahkan akses para mustahiq untuk memperoleh hak-haknya dari dana zakat. Sekaligus juga dibutuhkan dukungan dari para muzakki, baik perorangan maupun lembaga badan usaha agar menyalurkan zakat, infak dan sedekah yang lebih besar guna mendukung program-program dari lembaga zakat.
UCAPAN TERIMA KASIH
Saya mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu sehingga penelitian ini dapat terselesiakan. Ucapan terima kasih saya sampaikan kepada Ibu Ajeng Kartika Galuh, S.E., ME. selaku dosen pembimbing skripsi saya serta Ibu Yenny Kornitasari , SE., ME. dan Ibu Dra. Marlina Ekawaty , M.Si., Ph.D selaku dosen penguji skripsi. Penulis juga menyampaikan rasa terima kasih kepada Asosiasi Dosen Ilmu Ekonomi Universitas Brawijaya dan Jurusan Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya sehingga jurnal ini bisa diterbitkan.
DAFTAR PUSTAKA Al-Hadist.
Al-Quran.
Authar, N. A. (jilid 4). Al Shan`ani.
Dianto, A. M. (2014). Peranan Lembaga Amil Zakat Nasional Baitul Maal Hidayatullah dalam Meningkatkan Kesejahteraan Mustahiq Kabupaten Tulungagung. An-Nusbah , 138-158.
Effendi, M. (1996). Manajemen Suatu Pendekatan Berdasarkan Ajaran Islam. Bharata.
Firdaningsih, Wahyudi, M. S., & Hakim, R. (2019). Delapan Golongan Penerima Zakat Analisis Teks dan Konteks. Equilibrium: Jurnal Ekonomi Syariah , 316-342.
Gunawan, I. Metode Penelitian Kualitatif Teori dan Praktik. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Hafidhuddin, D. Zakat dalam Perekonomian Modern. Jakarta: Gema Insani.
Haq, M. K., & Djayusman, R. R. (2015). Analisis Efisiensi Lembaga Amil Zakat terhadap Pengentasan Kemiskinan (Studi Kasus di LAZ USO 2008-2013.
Hasan, M. A. (2016). Zakat dan Infak: Salah Satu Solusi Mengatasi Problema Sosial di Indonesia. Jakarta:
Prenada Media Group.
Hidajat, R. (2017). Penerapan Manajemen Zakat produktif dalam Meningkatkan Ekonomi Umat di PKPU (Pos Keadilan Peduli Umat) Kota Makassar.
MH, S. H. Pengantar Hukum Zakat dan Wakaf. Surabaya: Al Ikhlas.
Nugrahani, I. R., & Mulyawisdawati, R. A. (2019). Peran Zakat Produktif dalam Pemberdayaan Ekonomi Mustahiq (Studi Kasus Lembaga Amil Zakat Dompet Dhuafa Republika Yogyakarta 2017).
Purwanti, D. (2020). Pengaruh Zakat, Infak, dan Sedekah terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia.
Qordawi, Y. (1994). Kiat Sukses Mengelola Zakat. Jakarta: Media Da`wah.
Ramadhita. (2017). Optimalisasi Peran Lembaga Amil Zakat Dalam Kehidupan Sosial.
Ramli, P. D. (2010). Pemberdayaaan Sistem Pengelolaan Zakat dalam Rangka Mengurangi Kemiskinan Di Kabupaten Sidrap. 4-6.
Sibolga, B. P. (2020). Laporan Sosio Ekonomi 2020. Sibolga.
Siddiqi, N. Pemikiran Ekonomi Islam. Suatu Penelitian Kepustakaan masa kini. Lembaga Islam untuk Peneliitian dan Pengembangan Masyarakat. Jakarta: Batara.
Sutantri. (2020). Analisa Pengelolaan Zakat di Badan Amil Zakat Nasional di Kota Kediri.
Syaputra, A. D. (2016). Peranan LAZISMU dalam Mengentas Kemiskinan Masyarakat D.I Yogyakarta.
(2011). Undang Undang RI No 23 Tahun 2011 Tentang Pengelolaan Zakat. Jakarta.
Undang-Undang Dasar, Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila. (1993). Jakarta.
Wahyuni, S. (2017). Peranan LAZ Sebagai Pengelola Zakat Dalam Pendayagunaan Zakat Produktif: Studi Kasus Rumah Zakat Medan.