• Tidak ada hasil yang ditemukan

perbandingan hukum antara bunga bank dan riba perspektif

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "perbandingan hukum antara bunga bank dan riba perspektif"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

TESIS

Oleh:

M FAQIH N.P.M. 22002021037

PROGRAM MAGISTER ILMU HUKUM PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS ISLAM MALANG

MALANG 2022

(2)

VIII

Kata Kunci: Bunga Bank, Riba, Hukum Positif, Hukum Ekonomi Islam.

M FAQIH BUDI PARMONO MOH. MUHIBBIN

ABSTRAK

Uang merupakan benda yang dibutuhkan setiap individu manusia untuk mencukupi keperluan sehari-hari. Bahkan kegiatan bermuamalah membutuhkan uang atupun barang. Dalam bermuamalah tentunya membutuhkan suatu sarana prasarana yakni bank. Dalam menggunakan sarana perbankan tidak lepas dari apa yang ada didalamnya diantarnya bunga. Maka dari itu banyak ditemukan ditengah masyarakat sistem bunga yang merajalela, akan tetapi hukum dari bunga tersebut masih banyak persoalan yang dimana transaksi tersebut termasuk kategori riba.

Permasalahan tersebut menjadi perdebatan para ahli terkait hukumnya.

Pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah Bagaimana persamaan dan perbedaan pengaturan bunga bank dan riba, Bagaimana riba ditinjau dari Hukum Islam, Bagaimana bunga bank ditinjau dari Hukum Positif.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah yuridis normatif, sedangkan untuk pendekatan yang digunakan adalah pendekatan perbandingan (comparative approach). Untuk sumber bahan hukum yang digunakan yakni berupa data sekunder, bahan primer menjadi bahan hukum yang bersifat autoritatif, sedangkan bahan tersier menjadi sumber sebagai penunjang dalam penulisan tesis ini.

Setelah melakukan elaborasi dan analisis dapat disimpulkan bahwa hukum riba dalam Alqur’an dengan tegas dinyatakan haram. Sementara status hukum bunga bank ada perbedaan pendapat para pakar baik pakar hukum Islam maupun pakar ekonomi Islam. Ada dua pendapat; pertama, menurut ijma ulama di kalangan semua mazhab fiqh bahwa bunga dengan segala bentuknya termasuk kategori riba Q.s. al-Baqarah 2: 130. Dan kedua, pendapat yang menyatakan bahwa bunga tidak termasuk kategori riba karena yang dinyatakan pada Q.s al- Baqarah 2: 130 riba harus bersifat berlipat ganda (tidak wajar). Al-Qur’an memang tidak secara langsung mengharamkan riba, namun larangan tersebut terjadi dengan cara bertahap hingga empat kali. Begitu juga dengan hadits yang mengecam keras praktik riba. Bunga bank yang dipraktikkan dengan tidak mengambil keuntungan yang berlipat ganda, maka hal itu dibolehkan oleh sebagian ulama dan tidak termasuk riba. Sedangkan bunga bank yang dipraktikkan untuk mengambil keuntungan yang berlipat ganda, maka hal itu tidak diperbolehkan karena kegiatan tersebut masih termasuk riba. Bunga bank dan riba mempunyai hukum yang sama adalah haram, tetapi para ahli masih memperdebatkan kaharaman dari bunga bank. Menurut aliran pragmatis tidak melarang bunga dalam system keuangan modern kecuali luar biasa tingginya bunga tersebut akan menjadi haram. Menurut aliran konservatif menganggap setipa imbalan yang telah ditentukan sebelumnya atas suatu pinjaman sebagai imbalan untuk pembayaran tertunda atas pinjaman adalah riba. Aliran sosio- ekonomis berpendaoat bahwa bunga mempunyai kecenderungan pengumpulan kekayaan ditangan Sebagian orang saja.

(3)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Uang merupakan benda yang dibutuhkan setiap individu manusia untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Bukan hanya untuk membeli barang akan tetapi bisa juga untuk membeli saham, obligasi atau lainnya yang berkaitan dengan uang, Kegiatan tersebut dinamakan muamalah. Dengan adanya uang, kegiatan tukar menukar akan memberikan kemudahan di banding dengan kegiatan perdagangan secara barter.1

Uang dalam ilmu ekonomi tradisional diartikan sebagai setiap alat pertukaran yang dapat diterima secara umum. Alat tukar tersebut bisa berbentuk apapun benda yang dapat diterima oleh setiap individu dalam proses pertukaran jasa dan barang.2

Kebiasaan sosial untuk menggunakan uang dalam bertransaksi sangatlah berguna dalam masyarakat yang besar dan kompleks. Para ekonom menggunakan istilah likuiditas untuk menjelaskan tingkat kemudahan suatu asset untuk diubah menjadi alat tukar di kegiatan perekonomian. Karena uang adalah suatu alat tukar ekonomi, uang merupakan suatu asset yang sangat mudah dicairkan yang tersedia saat ini.3

Oleh sebab itu, harta yang kita miliki mempunyai kedudukan yang sangat penting sebagai salah satu kebutuhan pokok, bekal dan alat tukar menukar bagi setiap manusia dalam menjalani kehidupan didunia ini, utamanya dalam bidang

1Sadono Sukirno, 2012, “Makroekonomi: Teori Pengantar”, Cet-21, Jakarta: Rajawali Pers, hal. 268.

2 Ade Onny Siagian, 2021, “Lembaga-Lembaga Keuangan dan Perbankan: Pengertian, Tujuan, dan Fungsinya”, Solok: Insan Cendekia Mandiri, hal. 1.

3 N. Gregory Mankiw, Euston Quah, Peter Wilson, 2012, “Pengantar Ekonomi Makro”, Jakarta:

Salemba Empat, hal. 139.

(4)

ekonomi.4 Sehingga dengan harta, manusia dapat memaksimalkan pendekatan diri kepada Allah SWT, jika di operasionalkan dan di distribusikan sebagaimana mestinya. Namun dengan demikian, harta juga bisa merusak, menjadi bumerang dan semakin menjauhkan manusia dari jalan Allah jika tidak digunakan sebagaimana mestinya.

Sebagai makhluq sosial, hal tersebut sangat wajar jika terjadi di kehidupan kita. Berbicara tentang uang, kegiatan tersebut telah di atur dalam aspek ekonomi.

Ajaran Islam mengatur tentang ekonomi cukup banyak, hal ini menunjukan bahwa perhatian Islam dalam masalah ekonomi cukup besar. Tetapi tidak semua dibenarkan dalam Islam, apalagi jika kegiatan tersebut merugikan banyak orang seperti percaloan, perjudian, inflasi, riba dan bunga.

Bunga dan riba merupakan permasalahan yang menimbulkan dampak negative, bahkan ilmu ekonomi tidak mampu untuk menginterpretasikannya secara jelas serta menyumbangkan solusi yang tepat tepat untuk mencegah kondisi tersebut terjadi. Seperti yang dijelaskan oleh Moris Elih yang dikutip Ahmad Hasan dalam bukunya al-Auraq al-naqdiyah fi al-Iqtishad al-Islamiyah Qimatuha wa Ahkamuha, problem terbesar yang dihadapi perekonomian dan tidak dapat terselesaikan sampai sekarang adalah pergolakan perekonomian dan perubahan nilai harga mata uang.5

Ekonomi moneter merupakan bagian dari ilmu ekonomi yang mempelajari sifat, fungsi dan pengaruh uang terhadap kegiatan ekonomi. Secara umum, kegiatan ekonomi dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang mempengaruhi tingkat pengangguran, produksi, harga dan hubungan perdagangan atau

4 Ainul Yaqin, 2018, “Fiqh Muamalah Kajian Komprehensif Ekonomi Islam”, Cet. 1, Pamekasan: Duta Media Publishing, hal. 10.

5 Rozalinda, 2017, “Ekonomi Islam: Teori dan Aplikasinya pada Aktivitas Ekonomi”, Cet-4, Depok:

Rajawali Pers, hal. 297.

(5)

pembayaran internasional. Ruang lingkup kajian ekonomi moneter meliputi peran dan fungsi uang dalam perekonomian, sistem moneter dan pengaruhnya terhadap jumlah uang yang beredar, struktur dan fungsi bank sentral, pengaruh jumlah uang dan kredut terhadap kegiatan ekonomi dan pembayaran serta sistem moneter internasional.6

Dengan memahami ruang lingkup kakjian ekonomi moneter kita dapat mengetahui mekanisme penciptaan uang, tingkat bunga, pasar uang, sistem dan kebijakan moneter, pembayaran internasional, serta dapat menganalisa beberapa fenomena moneter yang berkaitan dengan efek kebijakan moneter terhadap kegiatan ekonomi.7

Ekonomi Islam secara mendasar berbeda dengan sistem ekonomi yang lain dalam hal, tujuan, bentuk dan coraknya. Sistem tersebut berusaha memecahkan masalah ekonomi manusia dengan cara menempuh jalan tengah antara pola yang ekstrem yaitu kapitalis dan komunis. Singkatnya, ekonomi Islam adalah sistem ekonomi yang berdasarkan pada Al-Qur’an dan Hadist yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan manusia di dunia dan akhirat. Sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an surat An-Najm ayat 31, yang berbunyi:

“Dan hanya kepunyaan Allah lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang- orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga)”.

Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu masalah jangka Panjang yang harus dilakukan oleh setiap negara dimana sangat diharapkan terjadinya pertumbuhan

6 Jimmy Hasoloan, 2014, “Ekonomi Moneter”, Cet-1, Yogyakarta: Deepublish, hal. 1.

7 Ibid.

(6)

ekonomi yang sangat pesat. Setiap negara mempunyai tujuan yang sama yaitu bagaimana cara untuk mempercepat laju pertumbuhan ekonominya. Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu proses kenaikan output perkapita yang terus menerus dalam jangka Panjang. Pertumbuhan ekonomi menjadi penyebab sehat tidaknya perekonomian suatu Negara dan pertumbuhan ekonomi menjadi syarat mutlak untuk memajukan dan mensejahterahkan bangsa. Bila suatu negara tidak dapat meningkatkan pertumbuhan ekonominya maka akan menimbulkan masalah ekonomi dan sosial yang baru seperti tingginya tingkat kemiskinan yang terjadi.

Pada dasarnya pembangunan ekonomi adalah untuk kesejahteraan bagi masyarakat. Pemerintah pada umumnya untuk menanggulangi masalah dalam berbagai bidang tidak terkecuali dalam bidang ekonomi. Indonesia merupakan negara berkembang yang tidak lepas dari permasalahan ekonomi misalnya tingkat inflasi yang tinggi serta pertumbuhan perekonomian yang lambat. Indikator perekonomian yang penting adalah inflasi yang di upayakan selalu rendah dan stabil laju pertumbuhannya, supaya memberikan dampak yang stabil dalam sektor perekonomian agar tidak menimbulkan penyakit pada makro ekonomi nantinya.

Pada mulanya, mungkin manusia hidup dalam berkecukupan, bahkan hidup dengan harta yang berlebih. Namun bencana yang datang tidak bisa dicegah dan mampu memukul telak siapapun yang tertimpa olehnya menjadikan seseorang jatuh miskin setelah sebelumnya hidup dalm kemewahan, menjadikan seseorang terhina setelah sebelumnya ia hidup dengan kehormatan dan menjadikan hidup sesorang gelisah setelah sebelumnya ia hidup dengan ketenangan dan rasa aman

(7)

dan nyaman. Semua itu disebabkan hanya oleh bencana yang tidak diundang, yang manusia tidak mempunyai kuasa apapun untuk menolaknya.8

Saat ini dunia termasuk Indonesia sedang mengalami pandemi covid-19 atau lebih dikenal dengan virus corona. Dengan adanya pandemi covid-19 ini, pemerintah Indonesia membuat peraturan yakni menyuruh masyarakat Indonesia untuk berdiam diri dirumah dan tidak keluar rumah serta melakukan PSBB untuk menjaga jarak. Hal ini mengakibatkan masyarakat tidak bisa keluar untuk melakukan aktifitas seperti biasanya misal berdagang, Bertani, beternak dan lain sebagainya. Pandemi berarti terjadinya wabah suatu penyakit yang menyerang banyak korban. Sementara covid-19 adalah penyakit menular pada hewan dan manusia yang disebabkan oleh suatu kelompok virus.

Sumber daya manusia merupakan bagian penting dalam aktivitas bekerja.

Karena hal tersebut berhubungan dengan masalah produktifitas dan pencapaian dalam bekerja. Cara yang paling mudah untuk investasi bagi perusahaan adalah dengan proses pengembangan sumber daya manusia.9 Sumber daya manusia di pandang sebagai asset perusahaan yang sangat penting, karena manusia merupakan sumber daya yang dinamis dan selalu dibutuhkan dalam setiap proses produksi barang maupun jasa.10

Sumber daya alampun terbengkalai dan tidak terurus, ekspor impor pun terhambat, nilai tukar mata uang rupiah terhadap mata uang dollar Amerika Serikat pun turun, banyaknya perusahaan menurunkan gaji karyawannya dan banyak perusahaan yang PHK karyawannya, sehingga masyarakat pun menganggur,

8 Yusuf Qardhawi, 2005, “Spektrum Zakat: Dalam Pembangunan Ekonomi Kerakyatan”, Jakarta:

Zikrul Hakim, hal. 66.

9 Saridawati, 2020, “Peranan Pelatihan Dalam Upaya Peningkatan Produktivitas Kerja Karyawan di Lingkungan Departemen Pekerjaan Umum”, Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia.

10 Irma Suwaning Dyastuti, Sasono et all, 2020, “Pengembangan Karir dan Intensi Turnover Karyawan Millenial di PT Tey Yogyakarta”, Jurnal Syntax Idea.

(8)

sedangkan tingkat pengangguran merupakan salah satu simbol dari rendahnya produksi nasional yang dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.

Riba dikenal sebagai istilah yang sangat terkait dengan kegiatan ekonomi.

Pelarangan riba merupakan salah satu pilar utama ekonomi Islam, disamping implementasi zakat dan pelarangan maisir, ghahar dan hal-hal yang bathil. Secara ekonomi, pelarangan riba akan menjamin aliran investasi menjadi optimal.

Pelarangan riba hakekatnya adalah penghapusan ketidakadilan dan penegakan keadilan dalam ekonomi. Penghapusan riba dalam ekonomi Islam dapat dimaknai sebagai penghapusan riba yang terjadi dalam jual beli dan hutang-piutang.

Larangan praktik riba sebenarnya sudah tegas dan jelas dalam Al-Qur’an dan hadits, cukup banyak mengutarakannya dan mencela para pelakunya, sehingga pada prinsipnya disepakati pengharaman riba. Walaupun dalil pengharamannya sudah jelas, tapi masyarakat yang menggunakan jasa bank seakan menganggap riba dan bunga berbeda, karena alasannya dizaman Rasulullah Lembaga seperti perbankan belum ada, di tambah lagi dengan hadirnya perbankan Syariah yang menganut konsep bebas riba dikatakan tidak jauh berbeda dengan bank konvensional yang melakukan Praktik tersebut, sehingga menimbulkan opini di masyarakat bahwa riba di bolehkan.

Mencermati persoalan riba dan bunga ini sebenarnya sangat terkait dengan masalah keuangan dan perbankan. Pada tahun 1997 tragedi krisis moneter menjadi ekonomi di Indonesia terpuruk, bahkan telah menjadi krisis multidimensi.

Perekonomian Indonesia yang ikut serta dalam kisaran krisis yang berkepanjangan ini ditengarai akibat pengelolaan kebijakan moeneter yang tidak efektif.11 Perkembangan selanjutnya krisis tersebut semakain parah. Salah satu

11 Mustafa Edwin Nasution, 2006, “Pengenalan Eksklusif Ekonomi Islam”, Jakarta: Kencana, hal. 261.

(9)

penyebabnya adalah penaikan suku BSI yang semakin melonjak tinggi, sehingga berdampak lebih luas dan fatal bagi seluruh lapisan masyarakat. Hampir semua sektor ekonomi mengalami pertumbuhan negatif selama 1998 dan perkiraan akan berlanjut pada tahun-tahun berikutnya.

Sistem keuangan pada dasarnya adalah tatanan dalam perekonomian suatu negara yang memiliki peran utama dalam menyendiakan jasa-jasa di bidang keuangan oleh lembaga-lembaga keuangan dan lembaga-lembaga penunjang lainnya. Sistem keuangan indonesia pada prinsipnya dapat dibedakan menjadi dua jenis diantaranya: sistem perbankan dan sistem lembaga keuangan bukan bank disebut non depository financial in stitutions.12

Sistem keuangan memainkan peranan penting dalam meningkatkan pertumbuhan dan kesehatan perekonomian suatu negara secara berkelanjutan dan seimbang. Sistem keuangan berfungsi sebagai fasilitator perdagangan domestik dan internasional, memobilisasi simpanan menjadi berbagai instrumen investasi dan menjadi perantara antara penabung dan investor.13

Sistem perbankan ini mengalami perubahan yang cukup prinsipil terutama setelah diatu dalam Undang-Undang Nomor 7 tahun 1992 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 sebagai pengganti Undang- Undang Nomor 14 Tahun 1967, yang memang sudah sangat tidak memadai lagi menampung permasalah dan kompleksitas yang timbul dari industri perbankan dengan pesatnya perkembangan sektor perbankan mengikuti tuntutan kebutuhan masyarakat terhadap jasa-jasa perbankan di samping kuatnya pengaruh arus globalisasi.14

12 Dahlan Siamat, 2000, “Manajemen Lembaga Keuangan”, Jakarta: Inter Media, hal. 21.

13 Djoni S. Gozali & Rachmadi Usman, 2012, “Hukum Perbankan”, Jakarta: Sinar Grafika, hal. 41.

14Ibid, hal. 44

(10)

Sistem keuangan internasional semakin berkembang luas. Hal ini tampak pada semakin banyaknya variasi instrumen keuangan yang beredar di dalam sistem keuangan. Perkembangan instrumen keuangan ini sejalan dengan perkembangan dari lembaga-lembaga keuangan itu sendiri.15 Indonesia sebagai bagian dari komunitas internasional, juga terlibat di dalam perkembangan tersebut. Hal tersebut tercermin dari pertumbuhan ekonomi di lembaga keuangan, seperti contoh: lembaga sekuritas, lembaga asuransi dan lembaga perbankan syariah.

Sesuai dengan laju pertumbuhan ekonomi dan gerak pembangunan suatu bangsa, lembaga keuangan tumbuh dengan berbagai alternatif jasa yang ditawarkan. Lembaga keuangan yang merupakan lembaga perantara dari pihak yang memiliki kelebihan dana (surplus of funds) dngan pihak yang kekurangan dan (lack of funds) memiliki fungsi sebagai perantara keuangan masyarakat (financial intermediary).16

Menurut Pasal 1 Undang-Undang No. 14 Tahun 1967 yang kemudian di ganti dengan Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan di Indonesia, bahwa lembaga keuangan merupakan badan/lembaga yang kegiatannya menarik dan dari masyarakat dalam menyalurkannya kepada masyarakat.

Menteri keuangan mengungkapkan lebih jelas terkait lembaga keuangan yang di sebutkan dalam Surat Keputusan Menteri Keuangan No. Kep. 729/MK/12/1970 tanggal 7 Desember 1970 Pasal 1.a:

“Lembaga keuangan ialah semua badan yang melalui kegiatan-kegiatan dibidang keuangan seperti yang tersebut dalam Pasal 3 secara langsung mapun tidak langsung menghimpun dana terutama dengan jalan mengeluarkan kertas

15Neni Sri Imaniyati, Panji Adam Agus Putra, 2016, “Pengantar Hukum Perbankan Indonesia”, Cet.

Kedua, Bandung: Refika Aditama, hal. 1.

16 Ibid.

(11)

berharga dan menyalurkannya ke dalan masyarakat, terutama guna membiayai investasi-investasi perusahan.”

Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 sebagaimana telah di ubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 telah menyederhanakan sistem perbankan dengan menghilangkan perbedaan fungsi-fungsi operasional bank secara struktural sebagaimana disebut dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1967 yang membedakan antara Bank Umum, Bank Pembangunan, Bank tabungan, Bank Koperasi dan Bank Pengkreditan Rakyat (BPR).

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998, operasionalisasi perbankan nasional dapat didasarkan kepada “sistem bunga” (konvensional) dan/atau “sistem syariah” (prinsip syariah), yang kepengelolaanya bisa dilaksanakan oleh bank konvensional atau bank syariah seperti bank umum ataupun bank pengkreditan rakyat.

Lembaga perbankan merupakan inti dari sistem keuangan dari suatu negara.

Bank adalah lembaga keuangan yang menjadi tempat bagi orang perorangam, badan usaha swasta, badan usaha milik negara, bahkan lembaga-lembaga pemerintahan menyimpan dana-dana yang dimilikinya.17

Lahirnya bank berdasarkan prinsip syariah ini telah menambah semarak khasanah hukum dan mempertegas visi kehidupan perbankan indonesia. Karena sebagian besar bangsa Indonesia beragama Islam, maka kehadiran bank berdasarkan prinsip syariah yang notabene dilandasi unsur-unsur syariat Islam.

17 Hermansyah, 2006, “Hukum Perbankan Nasional Indonesia”, Cet. Kedua, Jakarta: Kencana, hal.

7.

(12)

Tingkat suku bunga yang tinggi, tidak memungkinkan pengusaha untuk membayarnya. Tetapi karena pengusaha memerlukan likuiditas, kredit berbunga tinggi pun diambil juga. Ketidakmampuan pengusaha membayar Kembali kreditnya menimbulkan terjadinya kredit macet dalam jalur besar. Dengan demikian bank- bank yang mengalami kredit yang besar itu, eksistensinya terancam.

Pada umumnya terdapat keterkaitan yang sangat erat terkait perubahan tingkat harga dengan suku bunga. Apabila harga adalah stabil atau tingkat inflasi sangat rendah maka suku bunga akan cenderung pada tingkat yang rendah. Begitu juga sebaliknya, apabila inflasi semakin tinggi, maka suku bunga akan cenderung semakin tinggi.18 Pemilik modal akan terus berusaha untuk mendapatkan suku bunga riil yang tetap besarnya dan ini dilakukan dengan menuntut sukuk bunga dengan nominal yang lebih tinggi pada saat inflasi semakin cepat. Krisis ekonomi dan moneter yang dialami Indonesia telah memberikan pelajaran berharga pada peran yang seharusnya dilakukan oleh bank sentral (Bank Indonesia) dalam perekonomian dan status kelembagaannya dalam suatu negara.19

Dalam kebijakan moneter tertentu akan menyebabkan perubahan tingkat bunga kebijakan moneter yang berkontraksi menyebabkan naiknya tingkat bunga uang dan dalam kebijakan moneter yang ekspansi menyebabkan turunya tingkat bunga uang. Naiknya tingkat bunga uang akan mengurangi investasi, sehingga mengurangi produksi dan turunya tingkat bunga uang akan meningkatnya investasi yang akhirnya meningkatkan produksi.20

18 Sadono Sukirno, 2012, “Makroekonomi: Teori Pengantar”, Cet-21, Jakarta: Rajawali Pers, hal. 238.

19 Khusnul Khaesar, Gugus Irianto, Nanang Suryadi, 2006, “Analisis Makro Dan Mikro: Jembatan Kebijakan Ekonomi Indonesia”, Malang, BPFE-Unibraw, hal. 40.

20 Wily Julitawaty, 2021, “Manajemen Perbankan”, Medan:Yayasan Kita Menulis, hal. 8.

(13)

Setelah dipaparkan latar belakang diatas, maka peneliti akan memaparkan lebih jelas terkait Perbandingan Hukum Antara Bunga Bank Dan Riba Perspektif Hukum Positif Dan Hukum Ekonomi Islam.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas penulis merumuskan masalah Perbandingan Hukum Antara Bunga Bank Dan Riba Perspektif Hukum Positif Dan Hukum Ekonomi Islam. supaya kerangka pembahasan lebih terarah dan baik.

1. Bagaimana Perbedaan Dan Persamaan Pengaturan Bunga Bank Dan Riba?

2. Bagaimana Riba Ditinjau dari Hukum Ekonomi Islam?

3. Bagaimana Bunga Bank Ditinjau dari Hukum Positif?

C. Tujuan Penelitian

1. Untuk Mengetahui dan Menganalisa Perbedaan Dan Persamaan Pengaturan Bunga Bank Dan Riba.

2. Untuk Mengetahui dan Menganalisa Riba Ditinjau dari Hukum Ekonomi Islam.

3. Untuk Mengetahui dan Menganalisa Bunga Bank Ditinjau dari Hukum Positif.

D. Manfaat Penelitian

Sebagai peneliti berharap tentunya ada manfaatnya dalam penulisan Tesis ini, diantaranya:

1. Manfaat Teoritis

Hasil dari penelitian ini dapat memberikan sumbangsih pengetahuan kepada para pembaharuan hukum terutama tentang Bunga Bank dan Riba, serta dapat menjadi referensi bagi penelitian selanjutnya terkait Bunga Bank dan Riba.

2. Manfaat Praktis

(14)

Hasil dari penelitian ini dapat memperkaya wawasan dan pengetahuan terutama mengenai Bunga Bank dan Riba kepada peneliti, serta memberikan kontribusi keilmuan kepada para pembaca mengenai Bunga Bank dan Riba.

E. Orisinalitas Penelitian

1. Skripsi yang berjudul “Status Bunga Bank Konvensional Perspektif Muhammad Sayyid Al-Thanthawi” . Ditulis oleh Nurul Rafiqah Ilhami, Mahasiswa Jurusan Muamalat, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif kasim Riau. Dalam skripsi tersebut membahas terkait bagaimana pendapat Muhammad Sayyid Al- Thanthawi terkait bunga bank.21

2. Skripsi yang berjudul “Pengaruh Tingkat Suku Bunga Bank Indonesia Terhadap Harga Saham Pada PT. Bank Rakyat Indonesia Tbk”. Ditulis oleh Dono Defryanto Wantogia, Mahasiswa Jurusan Manajemen, Universitas Negeri Gorontalo. Dalam skripsi tersebut membahas mengenai tingkat suku bunga bank Indonesia apakah berpengaruh terhadap harga saham pada PT. Bank Rakyat Indonesia Tbk.22

3. Skripsi yang berjudul “Perbandingan Konsep Riba Dan Bunga Bank Menurut Ibnu Qayyim Al Jauziyyah Dan Fazlur Rahman”. Ditulis oleh Ahmad Nurhidayat, Mahasiswa Institute Agama Islam Negeri Bengkulu. Dalam skripsi tersebut meneliti tentang perbandingan pendapat antara Ibnu Qayyim Al Jauziyyah Dan Fazlur Rahman terkait Riba dan Bunga Bank.23

4. Skripsi yang berjudul “Studi Komparatif Pemikiran Muhammad Syafi’I Antonio dan Abdullah Saeed Tentang Riba”. Ditulis oleh Siti Mu’alifah, Mahasiswa

21Nurul Rafiqah Ilhami, 2017, “Status Bunga Bank Konvensional Perspektif Muhammad Sayyid Al- Thanthawi”, Skripsi, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

22Dono Defryanto Wantogio, 2013, “Pengaurh Tingkat Suku Bunga Bank Indonesia Terhadap Harga Saham Pada PT. Bank Rakyat Indonesia Tbk”, Skripsi, Universitas Negeri Gorontalo.

23 Ahmad Nurhidayat, 2019, “Perbandingan Konsep Riba dan Bunga Bank Menurut Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dan Fazlul Rahman”, Skripsi, Institut Agama Islam Negeri Bengkulu.

(15)

Muamalah, Institut Agama Islam Negeri Ponorogo. Dalam skripsi tersebut membahas mengenai riba menurut dua pandangan tokoh yakni Muhammad Syafi’I Antonio dan Abdullah Saeed.24

F. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan untuk memberikan gambaran secara global tentang isi dari bab ke bab yang dijadikan rujukan sehingga akan lebih memudahkan dalam meninjau dan menanggapi isinya, untuk lebih jelasnya akan dipaparkan dari bab satu sampai bab terakhir.

BAB I: Pendahuluan yang meliputi: latar belakang penelitian, rumusan penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, orisinalitas peneltian dan sistematika penulisan. Fungsi dari bab ini untuk memperoleh gambaran terkait penelitian yang di teliti.

BAB II: Tinjauan Pustaka yang meliputi: pengertian bank, jenis-jenis bank, pengertian bunga, sejarah bunga, pengertian riba, jenis-jenis riba dan macam- macam akad. Dari bab ini berfungsi sebagai landasan teori pada bab-bab selanjutnya guna untuk menganalisa data yang diperoleh dari penelitian.

BAB III: Menjelaskan terkait bagaimana metode penelitian yang digunakan peneliti meliputi: Jenis penelitian, pendekatan masalah, sumber bahan hukum, Teknik pengumpulan bahan hukum dan analisi bahan hukum.

BAB IV: pada bab ini akan menjelaskan yang terdapat pada rumusan masalah, yakni: apa perbedaan dan persamaan pengaturan bunga bank dan riba, dan bagaimana riba dan bunga bank di tinjau dari hukum Islam dan hukum positif.

24 Siti Mu’alifah, 2018, “Studi Komparatif Pemikiran Muhammad Syafi’I Antonio dan Abdullah Saeed Tentang Riba”, Skripsi, Institut Agama Islam Negeri Ponorogo.

(16)

BAB V: pada bab yang terakhir ini peneliti akan memaparkan terkait kesimpulan dari penelitian yang dilengkapi dengan saran-saran dari penulis dan diakhiri dengan penutup. Fungsi dari ini untuk memperoleh suatu gambaran dari hasil penelitian berupa kesimpulan penelitian yang diharapkan akan dapat membantu memberikan saran-saran yang berkaitan dengan penelitian ini.

(17)

82 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

Setalah melakukan penelitian dan membahas terkait bunga bank dan riba, peneliti akan mengambil beberapa poin diantaranya sebagai berikut:

1. Ada persamaan pengaturan antara bunga bank dan riba. Dengan kesamaan itulah maka karena riba haram maka bunga bank juga haram. Bunga bank haram karena adanya imbalan atas jasa yang diberikan oleh pemilik modal atas pokok modal yang dipinjamkan. Setelah melakukan elaborasi dan analisis dapat disimpulkan bahwa hukum riba dalam Alqur’an dengan tegas dinyatakan haram. Esensi pelarangan riba (usurios) dalam Islam berdasarkan pertimbangan-pertimbangan moral dan kemanusiaan sebab esensi pelarangan riba adalah penghapusan segala bentuk praktik ekonomi yang menimbulkan kezaliman dan ketidakadilan. Sementara status hukum bunga bank ada perbedaan pendapat para pakar baik pakar hukum Islam maupun pakar ekonomi Islam. Ada dua pendapat; pertama, menurut ijma ulama di kalangan semua mazhab fiqh bahwa bunga dengan segala bentuknya termasuk kategori riba Q.s. al-Baqarah 2: 130. Dan kedua, pendapat yang menyatakan bahwa bunga tidak termasuk kategori riba karena yang dinyatakan pada Q.s al- Baqarah 2:130 riba harus bersifat berlipat ganda (tidak wajar).

2. Praktek riba sebenarnya sudah berjalan sudah cukup lama bahkan sebelum Islam muncul. Terbukti al-Qur’an secara langsung telah menegur dan melarang praktik tersebut. Al-Qur’an memang tidak secara langsung mengharamkan riba, namun larangan tersebut terjadi dengan cara bertahap hingga empat kali.

Begitu juga dengan hadits yang mengecam keras praktik riba. Kandungan yang ada dalam beberapa hadits dapat di klasifikasikan menjadi empat, yaitu

(18)

memandang riba sebagai suatu dosa besar, perbuatan yang haram, larangan terhadap riba jahiliyyah dan riba jual beli.

3. Persoalan tentang bunga bank keberadaannya masih menjadi polemik dikalangan para ulama Islam. Ada yang mengatakan bukan termasuk riba.

Bunga bank yang dipraktikkan dengan tidak mengambil keuntungan yang berlipat ganda, maka hal itu dibolehkan oleh sebagian ulama dan tidak termasuk riba. Sedangkan bunga bank yang dipraktikkan untuk mengambil keuntungan yang berlipat ganda, maka hal itu tidak diperbolehkan karena kegiatan tersebut masih termasuk riba.

B. Saran

Adapun saran yang dapat di petik dari penelitian ini adalah bahwa kajian tentang riba dan bunga bank dalam perspektif Islam merupakan kajian yang menarik untuk dilakukan. Karena hal-hal yang berkaitan dengan keduanya ada dan dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat, bahkan dapat dikatakan mejadi sesuatu yang bakal pasti terjadi di tengah-tengah masyarakat. Maka diperlukan bagi peneliti-peneliti selannjutnya. Dengan adanya penelitian lagi yang berkaitan dengan hal ini, pasti akan memberikan kakayaan pengetahuan, khazanah dan wawasan bagi masyarakat, sehingga dapat mempraktikkan aspek mu’amalah yang jauh dari sistem ekonomi yang bersifat ribawi.

(19)

DAFTAR PUSTAKA A. Buku

Ade Onny Siagian, 2021, “Lembaga-Lembaga Keuangan dan Perbankan:

Pengertian, Tujuan, dan Fungsinya”, Solok: Insan Cendekia Mandiri.

Ainul Yaqin, 2018, “Fiqh Muamalah Kajian Komprehensif Ekonomi Islam”, Cet. 1, Pamekasan: Duta Media Publishing.

Asep Saepul Hamdi, et.,all, 2014, “Metode Penelitian Kuantitatif Aplikasi Dalam Pendidikan”, Cet-1, Yogyakarta: Depublish.

Ascarya, 2007, “Akad dan Produk Bank Syariah”, Jakarta: Raja Grafindo.

Abdullah Saeed, 2003, “Bank Islam dan Bunga. Terjemahan. Muhammad Ufuqul Mubin”, Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Abu Sura’i Abdul Hadi, 1993, “Bunga Bank dalam Islam Terjemahan M. Tholib”, Surabaya: al-Ikhlas.

Benny Djaja, 2020, “Hukum Perbankan”, Yogyakarta: Penerbit ANDI.

Djoni S Gozali, et.,all. 2012, “Hukum Perbankan”, Jakarta: Sinar Grafika.

Dewan Redaksi Ensiklopedia Islam, 2002, “Ensiklopedia Islam”, Cet. 10, Jakarta:

Ichtiar Baru Van Hoeve.

Dahlan Siamat, 2000, “Manajemen Lembaga Keuangan”, Jakarta: Inter Media.

Frederic S Mishkin, 2017, “Ekonomi Uang, Perbankan, dan Pasar Keuangan”, Edisi 11, Jakarta: Salemba Empat.

Fazlur Rahman, 2002, “Doktrin Ekonomi Islam”, Juz. 3, Yogyakarta: Dana Bhakti Prima Yasa.

Hermansyah, 2020, “Hukum Perbankan Nasional Indonesia”, Edisi 3, Cet. 9, Jakarta: Kencana.

Hermansyah, 2006, “Hukum Perbankan Nasional Indonesia”, Cet. 2, Jakarta:

Kencana.

Ivalaina Astarina, et.,all, 2015, “Manajemen Perbankan”, Cet. 1, Sleman:

Depublish.

Jonaedi Efendi, et.,all, 2018, “Metode Penelitian Hukum Normatif dan Empiris”, Cet-2, Depok: Prenadamedia Group.

Jimmy Hasoloan, 2014, “Ekonomi Moneter”, Cet-1, Yogyakarta: Deepublish.

(20)

Khusnul Khaesar, et.,all. 2006, “Analisis Makro Dan Mikro: Jembatan Kebijakan Ekonomi Indonesia, Malang, BPFE-Unibraw.

Komaruddin, 2000, “Kamus Pebankan”, Jakarta: Raja Grasindo Persada.

Lajnah Pentashihah Mushaf Al-Qur’an, 2012, “Pembangunan Ekonomi Umat”, Jakarta: Aku Bisa.

Louis Ma’luf, 2005, “al Munjid fi al Lughah wa al I’lam”, Cet-41, Beirut: Dar al- Masyriq.

Muhaimin, 2020, “Metode Penelitian Hukum”, Cet-1, Mataram, Mataram University Press.

M. Pudjihardjo, et. all, 2019, “Fiqih Muamalah Ekonomi Syariah”, Cet. I, Malang:

UB Press.

Muhammad, 2016, “Bank Syariah Analisis Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman”, Yogyakarta: Exsonisia.

M. Quraish Shihab, 2008, “Tafsir al-Misbah”, Vol. II, Jakarta: Lentera Hati.

Mustafa Edwin Nasution, 2006, “Pengenalan Eksklusif Ekonomi Islam”, Jakarta:

Kencana.

Majamma’ al Lughah al ‘Arabiyyah, 2005, “al Mu’jam al Wasith”, Cet. 4, Kairo:

Maktabah al Syuruq al Dauliyyah.

Muhammad Syafi’I Antonio, 2001, “Bank Syariah dari Teori Ke Praktik”, Cet-1, Jakarta: Gema Insani Press.

Muhammad, 2000, “Lembaga-lembaga Keuangan Umat Kontemporer”, Yogyakarta: UII Press.

M. Umer Chapra, 2000, “Sistem Moneter Islam”, Cet. I, Jakarta: Gema Insani.

M. Zuhri, 1996, “Riba dalam al-Qur’an dan Masalah Perbankan: Sebuah Tilikan Antisipatif”, Jakarta: Raja Grafindo Persada.

M. Umer Chapra, “The Future of Economics: An Islamic Perspectif Terjemahan Ikhwan Abidin Basri”, Jakarta: Gema Insani.

Nurul Huda, et.,all, 2018, “Ekonomi Makro Islam: Pendekatan Teoritis”, Jakarta:

Kencana.

Neni Sri Imaniyati, et.,all. 2016, “Pengantar Hukum Perbankan Indonesia”, Cet. 2, Bandung: Refika Aditama.

N. Gregory Mankiw, et.,all. 2012, “pengantar ekonomi makro”, Jakarta: Salemba Empat.

Peter Muhammad Marzuki, 2008, “Pengantar Ilmu Hukum”, Jakarta, Kencana.

(21)

Rozalinda, 2017, “Ekonomi Islam: Teori dan Aplikasinya pada Aktivitas Ekonomi”, Cet-4, Depok: Rajawali Pers.

Sri Astutik, et.,all, 2020, “Aspek Hukum Perlindungan Bagi Nasabah Bank Syariah”, Surabaya: Unitomo Press.

Sudirman, 2018, “Fiqih Kontemporer”, Edisi. 1, Cet. 1,Yogyakarta: Deepublish.

Suratman, et.,all, 2015, “Metode Penelitian Hukum”, Bandung: Alfa Beta.

Sudirman, 2014, “Fiqih Studies”, Malang: Dream Litera Buana.

Sadono Sukirno, 2012, “Makroekonomi: Teori Pengantar”, Cet-21, Jakarta:

Rajawali Pers.

Sunarto Zulkifli, 2007, “Panduan Praktis Transaksi Perbankan Syariah”, Cet. III, Jakarta: Zikrul Hakim.

Syahirin Harahap, 1993, “Bunga Uang dan Riba dalam Hukum Islam”, Jakarta:

Pustaka al-Husna.

Soejono Soekanto, et.,all, 1990, “Penelitian Hukum Normatif Suatu tinjauan Singkat, Jakarta: Rajawali Pers.

Sayyid Sabiq, “Fiqh al-Sunnah”, Juz 3, Beirut: Dar al-Fikr li al-Thiba’ah wa al-Nasri wa al-Tauzi.

Tim Pengembangan Perbankan Syariah Institut Bankir Indonesia, 2011, “Bank Syariah: Konsep, Produk dan Implementasi Operasional”, Jakarta:

Djambatan.

Tarek Al-Diwani, 2003, “The Problem With Interest”, Jakarta: Akbar Media Eka Sarana.

Wily Julitawaty, 2021, “Manajemen Perbankan”, Medan:Yayasan Kita Menulis.

Wirdyaningsih, et.al, 2015, “Bank dan Asuransi Islam di Indonesia”, Jakarta:

Kencana.

Wahbah Al-Zuhaili, 2011, “Fiqih Ilsma wa Adilatuhu terjemahan Abdul Hayyie al- Kattani dkk”, Jilid 5, Cet. 1, Jakarta: Gema Insani.

Yusuf Qardhawi, 2005, “Spektrum Zakat: Dalam Pembangunan Ekonomi Kerakyatan”, Jakarta: Zikrul Hakim.

B. Jurnal

Irma Suwaning Dyastuti, et.,all, 2020, “Pengembangan Karir dan Intensi Turnover Karyawan Millenial di PT Tey Yogyakarta”, Jurnal Syntax Idea.

(22)

Kornelius Benuf, et.,all, 2020, “Metodologi Penelitian Hukum Sebagai Instrumen Mengurai Permasalahan Hukum Kontempore”, Semarang, Jurnal Gema Keadilan.

Meray Hendrik Mezak, 2006, “Jenis, Metode dan Pendekatan Dalam Penelitian Hukum”, Law Review, Tangerang.

Anita Rahmawaty, “RIba dan Bunga dalam hukum Kontrak Syariah”, Jurnal Dosen STAIN Kudus.

Saridawati, 2020, “Peranan Pelatihan Dalam Upaya Peningkatan Produktivitas Kerja Karyawan di Lingkungan Departemen Pekerjaan Umum”, Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia.

Sumarti, 2020, “Riba Dalam Pandangan Ibnu Katsir: Sebuah Kajian Normatif”, Volume 02 nomor 02, Yogyakarta: Jurnal Syariah dan Hukum.

C. Skripsi dan Tesis

Ahmad Nurhidayat, 2019, “Perbandingan Konsep Riba dan Bunga Bank Menurut Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dan Fazlul Rahman”, Skripsi, Institut Agama Islam Negeri Bengkulu.

Dono Defryanto Wantogio, 2013, “Pengaurh Tingkat Suku Bunga Bank Indonesia Terhadap Harga Saham Pada PT. Bank Rakyat Indonesia Tbk”, Skripsi, Universitas Negeri Gorontalo.

Nurul Rafiqah Ilhami, 2017, “Status Bunga Bank Konvensional Perspektif Muhammad Sayyid Al-Thanthawi”, Skripsi, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

Siti Mu’alifah, 2018, “Studi Komparatif Pemikiran Muhammad Syafi’I Antonio dan Abdullah Saeed Tentang Riba”, Skripsi, Institut Agama Islam Negeri Ponorogo.

Referensi

Dokumen terkait

1) Perlunya peran Bank Indonesia sebagai otoritas moneter di Indonesia mampu menjaga kestabilan jumlah uang beredar dan inflasi di masyarakat. Sehingga setiap

Ada dua sektor dalam perekonomian, sektor riil dan sektor moneter. Sektor moneter muncul sejak dipakainya uang sebagai alat tukar datam transaksi. Suku bunga merupakan

Semua upaya atau tindakan bank sentral untuk mempengaruhi perkembangan moneter (uang beredar, suku bunga, kredit dan nilai tukar) untuk mencapai tujuan

Penelitian ini dilakukan untuk memahami konsep riba menurut Kaum Neo-Modernis, yang diwakili oleh Fazlur Rahman dan Abdullah Saeed. Dengan membahas secara rinci

Juga mempelajari struktur dan fungsi bank sentral, bank umum dan lembaga keuangan bukan bank (LKBB), Teori Permintaan dan Penawaran Uang, Masalah dalam kebijakan moneter,

Dalam pelaksanaannya, Bank Indonesia memiliki kewenangan untuk melakukan kebijakan moneter melalui penetapan sasaran-sasaran moneter (seperti uang beredar atau suku

Ini menjadikan sementara ulama memeras pikiran untuk mencari hubungannya, bahkan sebagian mereka karena tidak puas dengan upaya atau pandangan 'ulama' lain berhenti dan berkesimpulan

KEBIJAKAN BANK SENTRAL Review Fungsi dan Peran Bank Sentral: FUNGSI UTAMA BANK SENTRAL: mengatur sisi permintaan dalam rangka mencapai berbagai tujuan yang diamanatkan •PENGERTIAN