• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perencanaan dan Perancangan Akademi Balet di Denpasar

N/A
N/A
Utari

Academic year: 2024

Membagikan " Perencanaan dan Perancangan Akademi Balet di Denpasar"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

PROPOSAL SEMINAR

Diajukan sebagai salah satu syarat penyusunan Seminar Tugas Akhir pada Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Udayana

Proposal Judul :

1. Perencanaan dan Perancangan Akademi Balet di Denpasar 2. Agrowisata Jeruk di Kabupaten Bangli

3. Pilates Center di Ubud, Gianyar

Disusun oleh :

Ni Made Dwi Utari 2105521079

PROGRAM STUDI ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS UDAYANA

2024

(2)

PROPOSAL SEMINAR

Perencanaan dan Perancangan Akademi Balet di Denpasar Diusulkan Oleh :

Ni Made Dwi Utari (2105521079)

I. Judul

Perencanaan dan Perancangan Akademi Balet di Denpasar II. Latar Belakang

Balet merupakan salah satu bentuk kebudayaan berupa seni tarian klasik yang berasal dari negara Perancis dan biasanya dipandang sebagai kesenian elite yang kebarat-baratan. Balet mulai dikenal di Italia pada abad ke-15 dimana pada masa itu Balet mulanya merupakan tarian pengiring drama yang biasanya ditampilkan pada acara-acara kerajaan sehingga Balet hanya dapat dinikmati oleh kalangan atas saja. Balet di Indonesia mula-mula diperkenalkan oleh orang orang Belanda pada masa penjajahan dan sejak itu semakin berkembang karena pada dasarnya bangsa Indonesia adalah bangsa yang menghargai kebudayaan (Sedyawati,1982, hal.161).

Balet sebagai seni tari klasik yang berasal dari budaya barat telah lama berkembang di Indonesia. Balet tidak hanya terbatas pada anak-anak saja, orang dewasa pun juga dapat mempelajarinya sebagai hobi semata. Namun, perkembangannya yang cenderung lambat menyebabkan seni tari ini kurang dapat menonjol di tengah masyarakat, terutama masyarakat Bali. Padahal, jika ditekuni dengan serius, ballet dapat berkembang, dan menjadi pekerjaan.

Di sisi lain, pertunjukan ballet juga dapat menjadi salah satu objek wisata.

Bagi anak-anak, usia belia adalah usia emas yang sangat baik untuk mendorong pertumbuhan baik segi fisik maupun mental.

Banyak pertunjukan tari balet yang dilakukan di hotel-hotel berbintang dan dengan harga tiket masuk yang mahal yang menyebabkan tidak dapat

(3)

terjangkau untuk masyarakat kelas menengah ke bawah. Maka dari itu diperlukan suatu tempat yang dapat menampung segala kreativitas khusus tari balet dan tempat pertunjukan yang dapat terjangkau untuk kalangan menengah ke bawah sehingga tidak terkesan bahwa tari balet hanya untuk kalangan atas.

Di Bali, sudah terdapat beberapa sekolah balet seperti shine ballet school dan Universal Dance Studio. Namun, sekolah-sekolah balet yang sudah ada baru merupakan tempat kursus dengan fasilitas seadanya. Hal ini menimbulkan adanya kebutuhan akan sebuah wadah yang dapat menampung, membina dan menyalurkan segala aktivitas yang berhubungan dengan balet, terutama yang bersifat edukatif maupun rekreatif.

Akademi balet di Kota Denpasar adalah wujud nyata penyediaan sarana fisik untuk semakin meningkatkan pembinaan dan prestasi penari-penari balet di Bali khususnya serta pembibitan penari-penari baru maupun peningkatan mutu pelatih dan koreografer balet. Dengan adanya sarana fisik tersebut para penari dan koreografer memiliki tempat untuk berlatih dan mengembangkan diri, mengekspresikan rasa berkesenian mereka sehingga dapat menghasilkan karya-karya besar. Sementara itu masyarakat, baik insane balet maupun awam dapat memperoleh sesuatu yang diapresiasi.

III. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, dapat dirumuskan permasalahan terkait dengan Perencanaan dan Perancangan Akademi Balet di Denpasar adalah bagaimana merancang akademi balet yang mampu mewadahi kegiatan untuk mengembangkan minat dan bakat dalam seni tari balet serta meningkatkan kualitas pembinaan pengembangan tari balet untuk masyarakat di Kota Denpasar secara maksimal.

IV. Tujuan dan Sasaran

Tujuan yang diharapkan berdasarkan rumusan masalah di atas adalah dapat menghasilkan rancangan desain yang dapat memfasilitasi kegiatan pengembangan bakat seni tari balet di Kota Denpasar secara maksimal

(4)

Adapun sasaran yang dapat dijabarkan, yaitu sebagai berikut:

1. Fungsionalitas

Merancang ruang-ruang untuk para siswa/siswi ballerina berdasarkan kebutuhan ruang baik yang bersifat pokok, pendukung, maupun pelengkap sehingga dapat berfungsi dengan baik sesuai dengan aktivitas penggunanya.

2. Sirkulasi

Menyediakan sistem sirkulasi studio balet yang baik, jelas, dan mudah dicapai bagi pengunjung, pengelola, dan servis.

3. Kenyamanan

Luasan, penghawaan dan pencahayaan pada ruang yang dibuat agar para penari nyaman dalam melakukan berbagai gerakan.

4. Keamanan

Merancang studio tari yang aman dan dapat meminimalisir kecelakaan pada saat para penari berlatih.

5. Efisiensi Energi

Dapat meminimalisir penggunaan energi tak terbarukan pada ruangan-ruangan yang harus menggunakan banyak energi listrik.

6. Maintenance

Meminimalisir biaya perawatan bangunan dengan menggunakan material yang mudah dibersihkan namun tetap sesuai dengan rangkaian kebutuhan kegiatan balet.

V. Pemahaman Terhadap Proyek

(5)

Mengacu kepada judul proposal seminar “Perencanaan dan Perancangan Akademi Balet di Denpasar” terdapat beberapa rincian teori yang dapat digunakan untuk memahami proyek tersebut:

a. Pengertian Akademi Balet

Akademi balet merupakan tempat yang secara khusus menyediakan pelatihan dan pendidikan dengan fokus pada pengembangan keterampilan menari, fleksibilitas, postur tubuh, dan ekspresi artistik untuk mengembangkan bakat dan hobby para peminat balet, yang di dalamnya tersedia berbagai fasilitas yang akan mendukung kegiatan balet tersebut.

b. Fungsi yang diwadahi

Beberapa fungsi yang akan diwadahi dari Perencanaan dan Perancangan Akademi Balet di Denpasar. Terdapat tiga fungsi yang diwadahi yaitu :

1. Fungsi utama

Menyediakan pendidikan formal dan nonformal dalam seni balet untuk berbagai tingkat usia dan kemampuan, mulai dari pemula hingga profesional.

2. Fungsi pendukung

Kegiatan penunjang pada Akademi Balet di Denpasar ini berupa kegiatan sarana rekreasi dengan tujuan untuk hiburan sekaligus memperkenalkan kepada masyarakat terkait pertunjukan balet.

3. Fungsi pelengkap

Akademi balet ini juga terdapat fasilitas pelengkap dimana agar setiap kegiatan yang ada di dalam akademi ini dapat berlangsung dengan baik. Kebijakan-kebijakan dalam perizinan maupun perawatan setiap fasilitas pada akademi ini akan dikelola dengan baik.

c. Fasilitas dan Kriteria Akademi balet

Fasilitas yang tersedia di Akademi balet akan dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan pengguna, termasuk pengunjung, staf, dan civitas, yakni berupa :

(6)

1. Ruang kelas berdasarkan tingkatan kemampuan siswa mulai dari studio untuk beginner class hingga advanced class.

2. Kantin dan Cafe yang menawarkan tempat-tempat makan yang beragam, mulai dari makanan lokal hingga internasional.

3. Ruang pertunjukan untuk melakukan pagelaran tari balet.

4. Area berbelanja yang berisikan perlengkapan balet.

5. Smart Learning Studio yang berfungsi sebagai mini studio yang dapat digunakan oleh para penari yang ingin belajar dan berlatih balet secara mandiri.

VI. Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam pengumpulan data maupun pengumpulan informasi dalam perancangan dan penyelesaian rumusan masalah “Perencanaan dan Perancangan Akademi Balet di Denpasar”, yaitu:

a. Data Primer

Data yang diperoleh secara langsung melalui sumber yang valid dan sesuai dengan fokus pembahasan sebagai berikut:

1. Observasi

Observasi yaitu teknik pengumpulan data dengan cara mengamati secara partisipan maupun non-partisipan. Dimana penulis mencatat secara langsung kondisi maupun data yang ada di lapangan.

2. Wawancara

Wawancara merupakan teknik pengumpulan data dengan cara menanyakan maupun memberikan pertanyaan kepada narasumber.

b. Data Sekunder

Data sekunder diperoleh melalui literatur dan jurnal penelitian maupun hasil objek perancangan sejenis sehingga tidak langsung berhubungan dengan narasumber maupun sumber data dan informasi.

1. Studi literatur/pustaka

(7)

Merupakan salah satu teknik pengumpulan data yaitu dengan mengumpulkan kajian teori dalam pemenuhan pembahasan yaitu melalui media cetak maupun e-informasi.

2. Studi Kasus dan Studi Komparasi

Studi ini dilakukan dengan mengambil objek-objek yang sejenis yang akan dikomparasi sehingga didapatkan pemahaman dalam perancangan yang dapat membantu proses desain.

3. Studi artikel dan lainnya

Merupakan salah satu teknik pengumpulan data dengan menggunakan artikel informasi/berita di internet dengan sumber yang terpercaya secara digital.

VII. Daftar Pustaka

TRIYANINGSIH, TRIYANINGSIH (2010) PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR (DP3A) SEKOLAH BALET DI SURAKARTA. Tesis Diploma, Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Susilo, Indri (2008) Perancangan interior sekolah balet Marllupi di Surabaya.

Tesis Diploma, Universitas Kristen Petra.

(8)

PROPOSAL SEMINAR

Agrowisata Jeruk di Kabupaten Bangli Diusulkan Oleh :

Ni Made Dwi Utari (2105521079)

I. Judul

Agrowisata Jeruk di Kabupaten Bangli II. Latar Belakang

Sektor pariwisata merupakan sektor andalan sebagai penghasil devisa negara. Khususnya di Bali, beraneka ragam sumber daya pariwisata telah di kembangkan menjadi daya tarik wisata potensial di Bali, baik yang berbasis alam, budaya, maupun agama. Berdasarkan peta kecenderungan pariwisata yang ada di Bali, di setiap kabupaten terdapat beberapa jenis wisata andalan yang memiliki ciri khas nya masing masing, misalnya di Kabupaten Bangli perkembangan wisata sedang mengalami peningkatan, terdapat beberapa objek wisata baru seperti pemandian air panas, waterboom, wisata petik stroberi dan objek wisata lainnya yang dapat mengakomodasi jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Bangli.

Kabupaten Bangli merupakan kabupaten yang memiliki hasil perkebunan yang cukup melimpah, salah satu hasil perkebunan yang terkenal di kalangan masyarakat adalah buah jeruk. Kondisi geografis yang mendukung berkat iklim pegunungan yang sejuk dan tanahnya yang subur menyebabkan jeruk mudah untuk dibudidayakan di Kabupaten Bangli.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Provinsi Bali, jumlah produksi buah jeruk pada Kabupaten Bangli adalah 87.011 ton pada tahun 2022, angka ini sangat tinggi jika dibandingkan dengan produksi jeruk di kabupaten

(9)

lainnya seperti Kabupaten Gianyar (39.654 ton), Kabupaten Buleleng ( 4.657 ton), dan Kabupaten Badung (2.659 ton). Sektor ini memberikan kontribusi penting terhadap perekonomian lokal dan menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat setempat. Namun, potensi besar ini belum sepenuhnya dioptimalkan, khususnya dalam mendukung sektor pariwisata.

Agrowisata jeruk di Bangli akan menjadi peluang yang menjanjikan, mengingat tren wisatawan yang semakin tertarik pada pengalaman otentik dan interaksi langsung dengan alam serta kehidupan lokal. Melalui agrowisata ini, pengunjung tidak hanya dapat menikmati keindahan kebun jeruk dan memetik langsung buah segar dari pohonnya, tetapi juga mendapatkan wawasan mengenai proses budidaya, memanen, hingga pengolahan produk turunan dari jeruk.

Oleh karena itu, berdasarkan kondisi geografis wilayah, Kabupaten Bangli merupakan tempat yang cocok untuk mengembangkan sektor agrowisata jeruk di Bali. Dalam perencanaan agrowisata ini juga dapat dikembangkan beberapa fasilitas lain untuk memenuhi kebutuhan wisatawan yang dapat memberikan manfaat berupa edukasi dan rekreasi. Integrasi kedua sektor ini diharapkan dapat memberikan suatu peningkatan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Bangli serta dapat memberikan dampak positif yang luas bagi perekonomian daerah, peningkatan kesejahteraan petani, dan pelestarian lingkungan di sekitarnya.

III. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang pada uraian sebelumnya, dapat ditarik rumusan permasalahan mengenai rancangan agrowisata jeruk di Kabupaten Bangli, yaitu bagaimana merancang sebuah fasilitas agrowisata tersebut dengan memanfaatkan potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang ada di Kabupaten Bangli agar menjadi suatu tempat wisata yang dapat menjadi tempat edukasi dan rekreasi yang dapat dinikmati bagi semua kalangan serta bermanfaat terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar.

IV. Tujuan dan Sasaran

(10)

Adapun tujuan yang diharapkan dari pemecahan masalah di atas, yaitu dapat menghasilkan rancangan sebuah fasilitas wisata yang dapat menjadi tempat edukasi dan rekreasi yang dapat dinikmati bagi semua kalangan serta bermanfaat terhadap masyarakat dan lingkungan sekitar.

Adapun sasaran yang dapat dijabarkan, yaitu sebagai berikut:

1. Fungsionalitas

Merancang ruang-ruang berdasarkan kebutuhan ruang baik yang bersifat pokok, pendukung, maupun pelengkap sehingga dapat berfungsi dengan baik sesuai dengan aktivitas penggunanya.

2. Sirkulasi

Menyediakan sistem sirkulasi studio balet yang baik, jelas, dan mudah dicapai bagi pengunjung, pengelola, dan servis.

3. Kenyamanan dan keamanan

Merancang fasilitas wisata edukasi yang dapat memberikan rasa nyaman dan aman bagi pengunjung, sehingga pengunjung tidak merasakan suatu permasalahan pada fasilitas ini.

4. Penataan Bangunan dan Ruang Luar

Penataan massa bangunan dan ruang luar yang sesuai sehingga tidak mengganggu kegiatan agrowisata. Mampu mewadahi semua kegiatan yang terdapat pada fasilitas agrowisata

5. Tampilan Bangunana

Dapat menampilkan wujud bangunan yang memiliki tampilan yang mencirikan bangunan yang bersifat alami dan menampilkan wujud bangunan yang nyaman dan natural. Menampilkan bangunan yang bersifat edukasi dan wisata rekreasi serta ruang luar yang menarik.

(11)

V. Pemahaman Terhadap Proyek

Mengacu kepada judul proposal seminar “Agrowisata Jeruk di Kabupaten Bangli” terdapat beberapa rincian teori yang dapat digunakan untuk memahami proyek tersebut:

a. Pengertian Agrowisata

Agrowisata adalah aktivitas wisata yang melibatkan penggunaan lahan pertanian atau perkebunan serta fasilitas terkait yang menjadi daya tarik bagi wisatawan. Agrowisata merupakan wisata yang memberikan manfaat kepada wisatawan dengan memanfaatkan potensi lingkungan yang ada. Berdasarkan landasan teori yang telah dipaparkan sebelumnya perencanaan agrowisata jeruk di Kabupaten Bangli merupakan suatu objek wisata yang memanfaatkan komoditi lokal khususnya pada tanaman jeruk yang ada di Kabupaten Bangli serta dapat memberikan manfaat berupa rekreasi dan edukasi.

b. Fungsi yang diwadahi

Beberapa fungsi yang akan diwadahi dari perencanaan agrowisata jeruk di Kabupaten Bangli. Terdapat tiga fungsi yang diwadahi yaitu :

1. Fungsi utama

Bertani dan perkebunan merupakan kegiatan utama pada agrowisata jeruk ini adalah berkeliling area perkebunan melihat dan merasakan keindahan serta merasakan pengalaman secara langsung tentang proses pengolahan. Pelestarian alam dengan cara memberikan edukasi terhadap wisatawan yang berkunjung dengan cara langsung turun kelapangan untuk menambah wawasan cara berkebun dan menyaksikan tata cara pengolahan tanaman anggur.

Kegiatan pelatihan perkebunan terhadap petani lokal yang ada di

(12)

Kabupaten Bangli dan juga masyarakat umum untuk semakin memperkenalkan perkebunan di masyarakat.

2. Fungsi pendukung

Kegiatan penunjang pada agrowisata jeruk di Kabupaten Bangli ini berupa kegiatan sarana rekreasi dengan tujuan untuk memberikan kesehatan fisik maupun mental kepada pengunjung yang akan berkunjung dengan melakukan suatu kegiatan tracking di area perkebunan secara sederhana. Selain kegiatan tracking juga terdapat permainan anak dan juga sarana rekreasi lainnya, dan kegiatan penunjang lain adalah keperluan pengunjung dalam berkreasi yang harus dapat terakomodasi dengan baik.

3. Fungsi pelengkap

Agrowisata jeruk ini juga terdapat fasilitas pelengkap dimana agar setiap kegiatan yang ada di dalam agrowisata ini dapat berlangsung dengan baik. Kebijakan-kebijakan dalam perizinan maupun perawatan setiap fasilitas pada agrowisata ini akan dikelola dengan baik.

VI. Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam pengumpulan data maupun pengumpulan informasi dalam perancangan dan penyelesaian rumusan masalah “Agrowisata Jeruk di Kabupaten Bangli”, yaitu:

a. Data Primer

Data yang diperoleh secara langsung melalui sumber yang valid dan sesuai dengan fokus pembahasan sebagai berikut:

1. Observasi

Observasi yaitu teknik pengumpulan data dengan cara mengamati secara partisipan maupun non-partisipan. Dimana penulis mencatat secara langsung kondisi maupun data yang ada di lapangan.

2. Wawancara

Wawancara merupakan teknik pengumpulan data dengan cara menanyakan maupun memberikan pertanyaan kepada narasumber.

(13)

b. Data Sekunder

Data sekunder diperoleh melalui literatur dan jurnal penelitian maupun hasil objek perancangan sejenis sehingga tidak langsung berhubungan dengan narasumber maupun sumber data dan informasi.

1. Studi literatur/pustaka

Merupakan salah satu teknik pengumpulan data yaitu dengan mengumpulkan kajian teori dalam pemenuhan pembahasan yaitu melalui media cetak maupun e-informasi.

2. Studi Kasus dan Studi Komparasi

Studi ini dilakukan dengan mengambil objek-objek yang sejenis yang akan dikomparasi sehingga didapatkan pemahaman dalam perancangan yang dapat membantu proses desain.

3. Studi artikel dan lainnya

Merupakan salah satu teknik pengumpulan data dengan menggunakan artikel informasi/berita di internet dengan sumber yang terpercaya secara digital.

VII. Daftar Pustaka

Ni Wayan Sulastini, Made Tamba, I Made Budiasa, & I Gusti Ayu Diah Yuniti.

(2022). ANALISIS PEMASARAN JERUK KEPROK DI KINTAMANI, BANGLI. AGRIMETA : Jurnal Pertanian Berbasis Keseimbangan Ekosistem , 12 (24), 32–36. Diambil dari https://e- journal.unmas.ac.id/index.php/agrimeta/article/view/5444

Suryaniti, Bintang. Analisis Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Pendapatan Petani Jeruk Di Kintamani, Kabupaten Bangli. E-Jurnal Ekonomi Pembangunan Universitas Udayana , [Sl], Hal. 2764-2796, Desember. 2018. Issn 2303-0178. Tersedia Di:

Https://Ojs.Unud.Ac.Id/Index.Php/Eep/Article/View/42213 . Tanggal Diakses:12 September. 2024

(14)

PROPOSAL SEMINAR Pilates Center di Ubud, Gianyar

Diusulkan oleh :

Ni Made Dwi Utari (2105521079)

I. Judul

Pilates Center di Ubud, Gianyar

II. Latar Belakang

Seiring berkembangnya zaman semakin berubah pula kehidupan manusia, dari pola hidup dan kegiatan di setiap pekerjaan yang menuntut masyarakat khususnya kota-kota besar untuk siap dalam kondisi yang selalu prima. Kesehatan sudah menjadi sebuah gaya hidup yang mulai banyak dilakukan berbagai kalangan masyarakat. Gaya hidup sehat adalah sebuah pola aktivitas positif yang bertujuan menjaga kualitas tubuh. Faktor-faktor tersebut dapat meningkatkan kesehatan seseorang. Saat tingkat kesehatan seseorang meningkat, maka kualitas hidup juga akan meningkat.

Salah satu jenis olahraga yang sedang tren di kalangan masyarakat pada saat ini adalah pilates. Pilates merupakan olahraga abad dua puluh yang dikembangkan oleh Joseph Pilates yang digunakan untuk melawan kesehatan yang buruk. Metode ini meningkatkan daya tahan, kekuatan, fleksibilitas dan keseimbangan dinamis yang melibatkan konsentris dan kontraksi eksentrik sehingga otot dapat bergerak secara statik dan dinamis (Tuğba Kuru Çolak, 2023). Studi tentang pilates dalam beberapa literatur menunjukkan bahwa latihan pilates secara positif mempengaruhi otot inti daya tahan tubuh, kesehatan mental, dan kualitas hidup sehat individu (Halil I, 2023).

Ubud merupakan salah satu daerah yang dikenal sebagai pusat seni, budaya dan spiritualitas yang menarik wisatawan lokal maupun mancanegara.

Dengan keindahan alamnya yang tenang, serta lingkungannya yang

(15)

mendukung untuk gaya hidup sehat, ubud telah menjadi tujuan populer bagi mereka yang ingin mencari ketenangan dan kesehatan holistik. Berbagai penawaran seperti pusat yoga, spa, dan meditasi ada di sana, namun untuk kegiatan pilates sendiri kebanyakan hanya berupa studio kecil dengan fasilitas yang seadanya. Dengan meningkatnya daya tarik masyarakat atas kegiatan olahraga ini tidak dibarengi dengan perkembangan sebuah sarana dan prasarana olahraga pilates di Ubud, serta mahalnya kelas pilates mengakibatkan beberapa orang memilih untuk berolahraga di rumah saja dengan kualitas sarana dan prasarana olahraga seadanya.

Melihat permasalahan tersebut, maka pengadaan fasilitas pilates center di Ubud ini diharapkan dapat menjadi wadah masyarakat maupun wisatawan untuk melakukan aktivitas pilates yang didasari dengan hubungan atau keterikatan positif manusia dengan alam sekitarnya dalam rangka memelihara kesehatan jiwa dan raga. Dengan fasilitas yang lengkap dan instruktur yang berpengalaman, pusat ini dapat menawarkan program- program pelatihan yang beragam, sehingga tidak hanya akan meningkatkan kualitas hidup penduduk setempat tetapi juga memberikan kontribusi positif terhadap pariwisata di Kabupaten Gianyar, khususnya di sektor pariwisata kesehatan (wellness tourism).

III. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, dapat dirumuskan permasalahan terkait dengan Pilates Center di Ubud, Gianyar adalah bagaimana menghasilkan rancangan sebuah Pilates Center yang mampu mewadahi kebutuhan masyarakat untuk melakukan kegiatan pilates di Ubud, Gianyar.

IV. Tujuan dan Sasaran

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka munculah tujuan untuk merancang Pilates Center yang mampu mewadahi kebutuhan masyarakat dalam melakukan kegiatan pilates di Ubud, Gianyar.

Adapun sasaran yang dapat dijabarkan, yaitu sebagai berikut:

(16)

1. Fungsional

Merancang suatu pusat pilates di Kabupaten gianyar tepatnya di daerah ubud yang memfasilitasi fungsi utama aktivitas pilates baik dari teori, praktikal, dan konsultasi, serta fungsi pendukung dan penunjang lainnya sesuai dengan kebutuhan civitas.

2. Sirkulasi

Mampu menampilkan sirkulasi yang terarah dengan baik, mudah, dan efisien bagi pengunjung sehingga sirkulasi yang diciptakan tidak mengganggu kegiatan yoga dan meditasi yang berlangsung.

3. Bentuk dan Tampilan

Menampilkan bentuk bangunan sebagai fasilitas untuk melakukan kegiatan olahraga.

4. Interaksi

Ruang yang diciptakan mampu membangun interaksi pengunjung, baik interaksi sesama manusia, maupun interaksi dengan alam dalam melakukan kegiatan pilates maupun selepas kegiatan pilates.

5. Kenyamanan

Merencanakan ruang yang memiliki suasana alam yang nyaman sehingga dapat mendorong pengunjung untuk tetap tenang dan fokus selama melakukan kegiatan pilates.

6. Keamanan

Menciptakan keamanan yang dapat melindungi fasilitas serta memberikan rasa aman pada civitas selama dan selepas melakukan kegiatan pilates.

V. Pemahaman Terhadap Proyek

(17)

Mengacu kepada judul proposal seminar “Pilates Center di Ubud, Gianyar” terdapat beberapa rincian teori yang dapat digunakan untuk memahami proyek tersebut:

a. Pengertian Pilates Center

Pilates center merupakan suatu tempat yang dipusatkan untuk program pelatihan kesehatan dan kebugaran melalui aktivitas pilates dimana terdapat instruktur terlatih yang akan memandu peserta melalui serangkaian latihan menggunakan alat-alat khusus seperti reformer, cadillac, dan matras.

b. Klasifikasi pilates 1. Classical pilates

Menurut Christine Piton, ahli terapi fisik sekaligus pemilik Pieton Physical Therapy and Pilates, pilates klasik lebih berfokus pada kemiringan panggul posterior atau pinggul miring ke belakang.

2. Mat Pilates

Jenis Pilates ini dilakukan di atas matras (mat) tanpa menggunakan peralatan khusus selain tubuh sebagai resistansi utama. Fokusnya pada penguatan inti, fleksibilitas, dan keseimbangan.

3. Reformer Pilates

Reformator adalah peralatan yang digunakan pada jenis pilates ini. Jenis pilates ini dapat membakar lebih banyak kalori serta meningkatkan penyelarasan postur dan koordinasi tubuh melalui pergerakan melawan pegas secara konstan.

4. Contemporary pilates

Pilates kontemporer merupakan modernisasi dari pilates klasik dan di sesuaikan pelatihannya dengan terapi fisik biomekanika.

5. Stott pilates

Stott pilates adalah jenis pilates yang diciptakan oleh Moira Merrithew, seorang balerina yang awalnya mempelajari pilates pasca cedera leher.

Menurut Christine Piton, stott pilates merupakan hasil integrasi antara prinsip modern ilmu olahraga dan rehabilitasi tulang belakang.

6. Winsor pilates

(18)

Metode winsor pilates dipopulerkan oleh instruktur pilates ternama, yakni Mari Winsor, melalui sebuah video latihan. Jenis pilates ini fokus pada penurunan berat badan dan pembentukan tubuh melalui kombinasi pilates klasik yang dilakukan dalam urutan khusus dan cenderung modern.

c. Fungsi yang diwadahi

Beberapa fungsi yang akan diwadahi dari perencanaan Pilates Center di Ubud, Gianyar. Terdapat tiga fungsi yang diwadahi yaitu :

1. Fungsi utama

Meliputi penyelenggaraan kelas untuk berbagai tingkat keahlian, serta pelatihan instruktur pilates. Pusat ini juga berfungsi sebagai ruang relaksasi dan pemulihan, menggabungkan suasana alam Ubud untuk menciptakan lingkungan yang mendukung keseimbangan mental dan fisik.

2. Fungsi pendukung

Fasilitas tambahan seperti ruang konsultasi kesehatan, lounge dengan kafe sehat, dan area ritel memungkinkan anggota mendapatkan dukungan penuh untuk gaya hidup sehat.

3. Fungsi pelengkap

Pilates center ini juga terdapat fasilitas pelengkap dimana agar setiap kegiatan yang ada di dalam pusat ini dapat berlangsung dengan baik. Kebijakan-kebijakan dalam perizinan maupun perawatan setiap fasilitas pada pilates center ini akan dikelola dengan baik.

d. Fasilitas dan Kriteria Pilates Center

Fasilitas yang tersedia di pilates center akan dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan pengguna, termasuk pengunjung, staf, dan civitas :

1. Ruang studio berdasarkan jenis kegiatan pilates.

2. Kantin dan Cafe yang menawarkan tempat-tempat makan yang beragam,mulai dari makanan lokal hingga internasional.

(19)

3. Ruang untuk pemeriksaan kesehatan.

4. Area berbelanja yang berisikan perlengkapan pilates.

VI. Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam pengumpulan data maupun pengumpulan informasi dalam perancangan dan penyelesaian rumusan masalah “Pilates Center di Ubud, Gianyar”, yaitu:

a. Data Primer

Data yang diperoleh secara langsung melalui sumber yang valid dan sesuai dengan fokus pembahasan sebagai berikut:

1. Observasi

Observasi yaitu teknik pengumpulan data dengan cara mengamati secara partisipan maupun non-partisipan. Dimana penulis mencatat secara langsung kondisi maupun data yang ada di lapangan.

2. Wawancara

Wawancara merupakan teknik pengumpulan data dengan cara menanyakan maupun memberikan pertanyaan kepada narasumber.

b. Data Sekunder

Data sekunder diperoleh melalui literatur dan jurnal penelitian maupun hasil objek perancangan sejenis sehingga tidak langsung berhubungan dengan narasumber maupun sumber data dan informasi.

1. Studi literatur/pustaka

Merupakan salah satu teknik pengumpulan data yaitu dengan mengumpulkan kajian teori dalam pemenuhan pembahasan yaitu melalui media cetak maupun e-informasi.

2. Studi Kasus dan Studi Komparasi

Studi ini dilakukan dengan mengambil objek-objek yang sejenis yang akan dikomparasi sehingga didapatkan pemahaman dalam perancangan yang dapat membantu proses desain.

(20)

3. Studi artikel dan lainnya

Merupakan salah satu teknik pengumpulan data dengan menggunakan artikel informasi/berita di internet dengan sumber yang terpercaya secara digital.

VII. Daftar Pustaka

Antari, Iawd, Parwata, Iw, & Mustika, Nwm (2023). Penerapan Arsitektur Tropis Pada Perancangan Yoga Retreat Center Di Ubud: Bahasa Indonesia. Undagi : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa , 11

Sutrisno, Adhitya (2019) Landasan Konseptual Perencanaan Dan Perancangan Arsitektur Rumah Retret Yang Meditatif Dan Reflektif Di Canggu Dengan Pendekatan Psikologis Cahaya. Tesis S1, Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Anggia Mustika Rani, 1810301163 And Kharisah Diniyah, S.St., Mmr And Rizky Wulandari, Sst, M.Fis (2022) Pengetahuan Latihan Pilates Terhadap Penurunan Nyeri Primary Dismenore Pada Remaja Putri : Narrative Review. Skripsi Thesis, Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta.

Referensi

Dokumen terkait

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas limpahan rahmat dan karunia- Nyalah laporan Dasar-dasar Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur (DP3A) Tugas Akhir

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas limpahan rahmat dan karunia- Nya laporan Dasar-dasar Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur (DP3A) Tugas Akhir

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas limpahan rahmat dan karunia- Nyalah laporan Perencanaan dan Perancangan Arsitektur (PPA) Tugas Akhir yang berjudul

Dalam kesempatan ini, penulis menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu tersusunnya Dasar Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur (DP3A) Tugas Akhir

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas limpahan rahmat dan karunia- Nyalah laporan Dasar-dasar Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur (DP3A) Tugas

Oleh sebab itu, penulis mengambil judul Perencanaan dan Perancangan Balai Penelitian Pertanian Pangan Jambi sebagai judul tugas akhir dengan menggunakan

karena atas limpahan rahmat dan karunia-Nyalah laporan Dasar-dasar Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur (DP3A) Tugas Akhir yang berjudul ” BERAU YOUTH CENTER

LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR (LP3A).. AKADEMI DESAIN GRAFIS