Sistem Ventilasi dan Pengkondisian Udara pada Bangunan Gedung
Perencanaan ventilasi dan alat pengkondisian udara bertujuan untuk memperoleh kenyamanan dan keamanan bagi pegawai serta pengunjung/tamu dalam ruangan kantor/gedung.
Ventilasi
Ventilasi merupakan proses untuk mensuplai udara segar ke dalam bangunan gedung sesuai kebutuhan.
Ventilasi bertujuan :
a). Menghilangkan gas-gas yang tidak menyenangkan yang ditimbulkan oleh keringat dan sebagainya dan gas-gas pembakaran (CO2) yang ditimbulkan oleh pernafasan dan proses-proses pembakaran.
b). Menghilangkan uap air yang timbul sewaktu memasak, mandi dan sebagainya.
c). Menghilangkan kalor yang berlebihan.
d). Membantu mendapatkan kenyamanan termal.
Ventilasi Mekanik
Ventilasi dalam gedung-gedung kawasan dirancang menggunakan sistem ventilasi mekanik yang menggunakan fan yang digerakkan oleh energi listrik.
Kriteria yang diterapkan dalam perencanaan ventilasi mekanik :
a). Penempatan Fan yang memungkinkan pelepasan udara secara maksimal dan juga memungkinkan masuknya udara segar atau sebaliknya.
b). Sistem ventilasi mekanis bekerja terus menerus selama ruangan dihuni.
c). Bangunan atau ruang parkir tertutup akan dilengkapi sistem ventilasi mekanis untuk membuang udara kotor dari dalam dan minimal 2/3 volume udara ruang, pemasangannya pada ketinggian maksimal 0,6 meter dari lantai.
d). Besarnya pertukaran udara yang disarankan menurut SNI 03-6572-2001 untuk berbagai fungsi ruangan sebagai berikut dalam tabel,
Perancangan Sistem Ventilasi Mekanis
a). Perancangan sistem ventilasi mekanis dilakukan sebagai berikut :
1). Menentukan kebutuhan udara ventilasi yang diperlukan sesuai fungsi ruangan : toilet, dapur, area parkir tertutup, area merokok tertutup.
2). Menentukan kapasitas fan.
3). Rancang sistem distribusi udara dengan fan yang dipasang pada dinding/atap.
b). Jumlah laju aliran udara yang perlu disediakan oleh sistem ventilasi mengikuti persyaratan pada tabel berikut,
Tabel kebutuhan laju udara ventilasi menurut SNI 03-6572-2001
Kriteria Kenyamanan A. Faktor yang Mempengaruhi Kenyamanan Termal Orang
1. Temperatur Udara Kering
Daerah kenyamanan termal untuk daerah tropis dapat dibagi menjadi : 1) sejuk nyaman, antara temperatur efektif 20,50C ~ 22,80C.
2) nyaman optimal, antara temperatur efektif 22,80C ~ 25,80C.
3). hangat nyaman, antara temperatur efektif 25,80C ~ 27,10C.
2. Kelembaban Udara Relatif
Kelembaban udara relatif dalam ruangan adalah perbandingan antara jumlah uap air yang dikandung oleh udara tersebut dibandingkan dengan jumlah kandungan uap air pada keadaan jenuh pada temperatur udara ruangan tersebut.
Untuk daerah tropis, kelembaban udara relatif yang dianjurkan antara 40% ~ 50%, tetapi untuk ruangan yang jumlah orangnya padat seperti ruang pertemuan, kelembaban udara relatif masih diperbolehkan berkisar antara 55% ~ 60%.
3. Pergerakan Udara (Kecepatan Udara)
Untuk mempertahankan kondisi nyaman, kecepatan udara yang jatuh diatas kepala tidak boleh lebih besar dari 0,25 m/detik dan sebaiknya lebih kecil dari 0,15 m/detik.
Kecepatan udara ini dapat lebih besar dari 0,25 m/detik tergantung dari temperatur udara kering rancangan.
Tabel Kecepatan udara dan kesejukan
4. Radiasi Permukaan yang Panas
Apabila di dalam suatu ruangan dinding - dinding sekitarnya panas, akan mempengaruhi kenyamanan seseorang di dalam ruangan tersebut, meskipun temperatur udara disekitarnya sesuai dengan tingkat kenyamannya (misalnya di dekat oven atau dapur).
Apabila temperatur radiasi rata-rata lebih tinggi dari temperatur udara kering ruangan, maka temperatur udara ruangan rancangan dibuat lebih rendah dari temperatur rancangan biasanya.
5. Aktivitas Orang
Laju Pertambahan Kalor dari Penghuni dalam Ruang yang Dikondisikan
Nilai dalam tabel didasarkan pada temperatur udara kering 750F. Untuk 800F temperatur udara kering, total panas tetap sama, tetapi nilai kalor sensibel harus diturunkan mendekati 20%, dan nilai kalor laten menyesuaikan naik.
6. Pengaruh Aktivitas dan Pakaian yang Dipakai Orang terhadap Temperatur Operatif
Apabila aktifitas dari orang yang berada di ruangan lebih berat (nilai met lebih besar) dan pakaian yang dipakai lebih hangat (nilai clo lebih besar) , maka temperatur ruangan harus diubah menjadi lebih tinggi agar kondisi kenyamanan tetap sama.
Besarnya kalor yang dihasilkan dari aktifitas orang dinyatakan dalam met, ditunjukkan dalam tabel
Besarnya isolasi termal dari bahan pakaian yang dipakai ditunjukkan pada tabel
B. Zona kenyamanan ruangan menurut ASHRAE dan Zona Kenyamanan Termal di Indonesia
Temperatur efektif didefinisikan sebagai indeks lingkungan yang menggabung kan temperatur dan kelembaban udara menjadi satu indeks yang mempunyai arti bahwa pada temperatur tersebut respon termal dari orang pada kondisi tersebut adalah sama, meskipun mempunyai temperatur dan kelembaban yang berbeda, tetapi keduanya harus mempunyai kecepatan udara yang sama.
Standar ASHRAE untuk temperatur efektif ini didefinisikan sebagai temperatur udara ekuivalen pada lingkungan isotermal dengan kelembaban udara relatif 50%, dimana orang memakai pakaian standar dan melakukan aktifitas tertentu serta menghasilkan temperatur kulit dan kebasahan kulit yang sama.
Untuk memperoleh daerah zona yang dapat diterima sebagai daerah temperatur operatif dan kelembaban udara relatif yang memenuhi kenyamanan untuk orang melakukan aktifitas ringan dengan met kurang dari 1,2 , serta memakai pakaian dengan clo = 0,5 untuk musim panas dan clo = 0,9 untuk musim dingin, ASHRAE mengeluarkan standar untuk zona kenyamanan (comfort zone) seperti ditunjukkan pada gambar.
Mengacu pada daerah kenyamanan termal untuk daerah tropis, maka perancangan zona kenyamanan termal untuk orang Indonesia umumnya diambil : 25 C ± 1 C dan kelembaban udara relatif 55% ± 10%.
Pengkondisian Udara pada Bangunan Gedung
Prosedur perancangan sistem pengkondisian udara pada bangunan gedung dilakukan mengikuti bagan.
Fungsi ruang dalam gedung Terdiri dari :
a) kegiatan utama yang berlangsung dalam ruang (aktifitas) b) waktu kegiatan puncak
c) pola pakaian penghuni Kondisi termal dalam gedung Terdiri dari :
a) temperatur udara b) kelembaban udara relatif c) kuantitas udara yang diperlukan
d) tuntutan ketelitian untuk pengendalian besaran termal dalam ruangan Data cuaca dan iklim
Terdiri dari :
a). data cuaca tahunan
b). data temperatur udara luar di lokasi c). data kelembaban udara relatif di lokasi Beban Pendinginan
Jenis Kalor
a). Kalor Sensibel
adalah suatu kalor yang berhubungan dengan perubahan temperatur dari udara. Penambahan kalor sensibel (sensible heat gain) adalah kalor sensibel yang secara langsung masuk dan ditambahkan ke dalam ruangan yang dikondisikan melalui konduksi, konveksi atau radiasi.
b). Kalor Laten
adalah suatu kalor yang berhubungan dengan perubahan fasa dari air. Penambahan kalor laten (latent heat gain) terjadi apabila ada penambahan uap air pada ruangan yang dikondisikan, misalnya karena penghuni ruangan atau peralatan yang menghasilkan uap.
Bagan : Perencanaan Teknis Sistem Pengkondisian Udara
Beban Pendinginan Ruangan
Beban Pendinginan Ruangan adalah laju aliran kalor yang harus diambil dari dalam ruangan untuk mempertahankan temperatur dan kelembaban udara relatif ruangan pada kondisi yang diinginkan.
Beban-beban pendinginan ruangan
a). Beban Pendinginan Luar (external cooling load)
Beban pendinginan ini terjadi akibat penambahan panas di dalam ruangan yang dikondisikan karena sumber kalor dari luar yang masuk melalui selubung bangunan (building envelope), atau kerangka bangunan (building shell) dan dinding partisi.
Sumber kalor luar yang termasuk beban pendinginan ini adalah :
1). penambahan kalor radiasi matahari melalui benda transparan seperti kaca 2). penambahan kalor konduksi matahari melalui dinding luar dan atap
3). penambahan kalor konduksi matahari melalui benda transparan seperti kaca 4). penambahan kalor melalui partisi, langit, langit dan lantai
5). infiltrasi udara luar yang masuk ke dalam ruangan yang dikondisikan 6). ventilasi udara luar yang masuk ke dalam ruangan yang dikondisikan
b). Beban Pendinginan Dalam (internal cooling load)
Beban pendinginan ini terjadi karena dilepaskannya kalor sensibel maupun kalor laten dari sumber yang ada di dalam ruangan yang dikondisikan.
Sumber kalor yang termasuk beban pendinginan ini adalah :
1). penambahan kalor karena orang yang ada di dalam ruang yang dikondisikan
2). penambahan kalor karena adanya pencahayaan buatan di dalam ruang yang dikondisikan
3). penambahan kalor karena adanya motor-motor listrik yang ada di dalam ruang yang dikondisikan
4). penambahan kalor karena adanya peralatan-peralatan listrik atau pemanas yang ada di dalam ruangan yang dikondisikan
Perhitungan Beban Pendinginan dengan Metoda CLTD/SCL/CLF
ASHRAE mengembangkan perhitungan metoda ini pada tahun 1977. Prosedur perhitungannya menggunakan Metoda Perbedaan Temperatur Beban Pendinginan (CLTD = Cooling Load Temperature Difference), faktor beban pendinginan karena matahari (SCL = Solar Cooling Load Factor), dan faktor beban pendinginan internal (CLF = Internal Cooling Load Factor).
a). Penambahan kalor dari luar ruangan yang dikondisikan 1). Beban radiasi matahari melalui kaca
q = A.(SC).(SCL) dimana :
A = luas permukaan kaca luar SC = koeffisien peneduh
SCL = faktor beban pendinginan matahari dengan tanpa peneduh dalam, atau dengan peneduh dalam
2). Konduksi matahari melalui kaca, atap dan dinding q = U.A.(CLTD)
dimana :
U = koeffisien perpindahan kalor rancangan untuk atap atau dinding, atau untuk kaca A = luas permukaan atap, dinding luar, atau kaca luar, dihitung dari gambar bangunan.
CLTD = perbedaan temperatur beban pendinginan. atap, dinding atau kaca.
3). Beban pendinginan dari partisi, langit-langit dan lantai q = U.A.(tb – trc )
dimana :
U = koeffisien perpindahan kalor rancangan untuk partisi, langit-langit, atau lantai A = luas permukaan partisi, langit-langit atau lantai, dihitung dari gambar bangunan tb = temperatur ruangan yang bersebelahan
trc = temperatur ruangan yang direncanakan b). beban pendinginan dalam
1). Orang.
qSensibel = N.(penambahan kalor sensibel).(CLF)
dimana :
N = jumlah orang di dalam ruangan. Penambahan kalor sensibel dan laten dari penghuni CLF = faktor beban pendinginan sesuai jam penghunian.
Catatan :
CLF = 1,0 dengan kepadatan tinggi atau 24 jam penghunian dan / atau jika pendinginan mati pada malam hari atau selama libur.
2). Pencahayaan.
q = W.Ful.Fsa.(CLF) dimana :
W = watt dari listrik atau data armatur pencahayaan.
Ful = faktor penggunaan pencahayaan Fsa = faktor toleransi khusus
CLF = faktor beban pendinginan, sesuai jam penghunian Catatan :
CLF = 1,0 dengan 24 jam pemakaian pencahayaan dan / atau jika pendinginan mati pada malam hari atau selama libur.
3). Daya listrik.
q = P.EF. (CLF) dimana :
p = daya listrik yang digunakan EF = faktor efisiensi
CLF = faktor beban pendinginan sesuai jam penghunian.
Catatan :
CLF = 1,0 dengan 24 jam beroperasinya daya listrik dan / atau jika pendinginan mati pada malam hari atau selama libur.
4). Peralatan lainnya.
qSensibel = qis . Fua . Fra
atau :
qSensibel = [qis . Fua . Fra . (CLF)]/Ff
qLaten = qil . F dimana :
qis , qil = penambahan kalor sensibel dan laten dari peralatan
Fis , Fua , Fra = faktor penggunaan, faktor radiasi, faktor kerugian pembakaran CLF = faktor beban pendinginan, sesuai skedule jam
Catatan 1 :
CLF = 1,0 dengan 24 jam peralatan beroperasi dan/atau jika pendinginan mati pada malam hari atau selama libur
Catatan 2 :
Set beban laten = 0 jika peralatan menggunakan tudung pembuangan c). Udara ventilasi dan udara infiltrasi.
qSensibel = (1,23).Q.(to – ti ) qLaten = (3010).Q.(Wo – Wi) qTotal = (1,20).Q. (Ho – Hi ) dimana :
Q = ventilasi dalam liter per detik, dan infiltrasi.
to , ti = temperatur udara luar dan temperatur udara di dalam ruangan.
Wo, Wi = kandungan uap air di luar dan di dalam ruangan, (kg.uap air/kg.udara kering).
Ho, Hi = entalpi udara di luar dan di dalam ruangan, kJ/kg (udara kering).
Summary of Load Sources and Equations for Estimating Space Design Cooling Load (ASHRAE, 1997)
Analisa Psychrometrik
Kurva Psychrometric untuk pengkondisian udara ruangan
Proses Pengkondisian Udara
a). Gambar 6.7.1, menunjukkan proses pengkondisian udara yang digambarkan pada kurva psychrometric.
b). Udara luar (2) dicampur dengan udara balik dari ruang (1) dan masuk ke dalam koil pendingin (3). Udara mengalir melalui koil pendingin (3-4) dan dipasok ke ruangan (4). Udara yang dipasok ke ruangan bergerak sepanjang garis (4-1) mengambil beban ruangan, dan siklus berulang.
c) Secara normal udara yang dipasok ke ruangan oleh sistem pengkondisian udara, dikembalikan ke koil pendingin. Jadi dicampurnya dengan udara luar adalah untuk kebutuhan ventilasi.
Campuran kemudian mengalir melalui koil pendingin dimana kalor dan pengembunan ditambahkan atau dipindahkan, sesuai yang dipersyaratkan untuk memelihara kondisi yang diinginkan.
Peralatan Sistem Pengkondisian Udara
Sistem Pengkondisian Udara secara Ekspansi Langsung (DX)
Pada sistem ini udara didinginkan secara langsung oleh koil pendingin dimana media di dalam koil pendingin adalah refrigeran. Sistem ini terdiri dari kipas udara, koil pendingin dan mesin refrigerasi yang berada di dalam satu kotak.
Mesin refrigerasi yang ada didalamnya terdiri dari kondenser (jenis pendingin udara) dan kompressor yang dihubungkan dengan pipa refrigran serta unit fan koil yang terpisah untuk menlewatkan udara yang didinginkan melalui celah-celah koil pendingin.
Sistem ekspansi langsung pada pengkondisian udara ruangan gedung
Kinerja Peralatan Pengkondisian Udara
Peralatan sistem pengkondisian udara berupa sistem terpisah (split system) rakitan pabrik yang terdiri dari : sarana sirkulasi udara, pembersih udara, pendingin udara dengan kontrol temperatur dan penurunan kelembaban (dehumidification).
Fungsi pendinginan dioperasikan dengan listrik dan kondensor refrigeran didinginkan oleh udara.
Koefisien Performansi (COP ) dari Peralatan Pendinginan
COP adalah perbandingan antara kalor bersih yang dilepaskan (net heat removal) dengan total masukan energi. Besarnya kalor bersih yang dilepaskan didefinisikan sebagai perubahan total kalor yang terkandung dari udara yang masuk dan yang meninggalkan peralatan. Total masukan energi merupakan masukan energi dari semua elemen paket peralatan yang dipasok : kompresor, fan koil, fan udara untuk kondenser, dan sirkit kontrol.
COP pendinginan minimum dari peralatan sistem pengkondisian udara yang digerakkan dengan listrik
SNI 03-6572-2001
ASHRAE Handbook : Fundamentals, 1997, ASHRAE,Inc
Plumbing
PERTAMA DI DUNIA : Cara Kerja Dan Cara Menghitung Drawdown Pressure Tank Atau Tabung Udara Pompa Air - YouTube
Cara Menaikkan Tekanan Pompa Air (youtube.com)
Fungsi Dan Cara Setting Pressure Tank / Tabung Atau Tangki Udara Agar Otomatis Tidak Cetak Cetek (youtube.com)
Pressure Tank Pompa Booster - Pemilihan , cara kerja , masalah dan solusi (youtube.com)
Contoh Design Sistem Air Bersih
4. SISTEM DAN PERALATAN
4.1 Sistim Penyediaan Air Bersih
Sistem penyediaan air bersih meliputi beberapa peralatan seperti tanki air bawah tanah , pressure tank , pompa – pompa , assesories valve , pemipaan dan seterusnya.
Sumber air utama yang digunakan untuk proyek ini berasal dari sumber air kawasan cikarang yang sudah melalui proses pengolahan air terlebih dahulu yang kemudian disuplai untuk kebutuhan pabrik disekitar lokasi industri termasuk pabrik mobil Proton Tracoma Motors ini
Sedangkan sebagai sumber air cadangan menggunakan pompa sumur dalam ( Deep Well Submersible Pump ) . Untuk menampung kebutuhan air disediakan bak penampung air yang mempunyai kapasitas penampungan sebesar 240 M3/hari , kemudian kebutuhan air akan disuplai oleh pompa booster secara hydropressure untuk memenuhi kebutuhan peralatan mechanical dan kebutuhan air untuk toilet.
Jumlah kebutuhan air maksimum setiap hari untuk bangunan ini dihitung berdasarkan jumlah perkiraan orang dan kebutuhan dari beberapa peralatan mechanical.
Kebutuhan air per hari (Qd) = 240.000 l/hari = 240 m3/hari (Lihat Lampiran I).
Sumur Artesis (deepwell)
Untuk sumber air cadangan digunakan 2 sumber air sumur artesis yang masing – masing mempunyai pompa submersible dengan kapasitas yang sama .
Kapasitas pompa sumur artesis ( deep well ) dapat dihitung sebagai berikut Kapasitas bak penampung : 240 m3
Waktu Pengisian : 24 jam
Sehingga kapasitas pompa sumur dalam adalah Q : 240 m3 / 24 jam
Q : 10 m3 / jam
Kapasitas pompa untuk sumur dalam ( Deep Well ) adalah Q = 10 m3/jam
- Tekanan pompa ( Head pompa ) dapat di hituing berdasarkan rumus sebagai berikut : P : Hd + Hf + Hreq
Dimana
P : Total tekanan / head pompa
Hd : Perbedaan Elevasi dari pompa ke titik paling tinggi ( 45 M )
Hf : Kehilangan tekanan air akibat gesekan sepanjang pipa horizontal , valve dan lain - lain ( 15 M )
Hreq : Tekanan outlet di ujung pipa ( 10 M ) Maka total head pompa :
P = 45 m + 15 m + 10 m = 70 m
Type jenis pompa yang digunakan untuk sumur dalam menggunakan type pompa
“Submersible Pump “ dengan jumlah 2 unit pompa ( 1 jalan , 1 Stand by ).
Debit air yang dihasilkan dari pompa sumur artesis ini sebesar 166,67 Ltr / Menit ( 10 m3 / jam ) , sedangkan pompa yang dipakai jenis pompa submersible, lengkap dengan level kontrolnya, dan tekanan pompa ( Head pompa ) sebesar 70 m.
Berdasarkan diagram lengkung maka didapatkan diameter pipa sebesar 50 mm , dengan kecepatan aliran sebesar 1,0 m/detik
Konstruksi sumur:
Jambang pipa minimum 50 meter dengan diameter 6" dari pipa galvanis GIP), medium class, pipa pada tiap lapisan air terbuat dari bahan stainless steel (screen).
Di sekeliling saringan diberi kerikil halus bersih diameter 3-5 mm. Pada pipa naik diatas setelah saringan pipa dibagian luarnya diberi pasir halus dan kemudian beton (campuran 1:2:3) ujung pipa terbawah ditutup dengan dop.
Perhitungan Laju Aliran Air Bersih
a. Perhitungan kapasitas pompa air bersih
* Perhitungan Air Bersih
Pemakaian air rata-rata : Qh = Qd /h
Dimana :
Qd : Kebutuhan air bersih per hari ( 240 m3/hari ) h : Pemakaian rata - rata untuk per hari ( 16 jam )
Qh = 240 m3/hari : 16 Jam
= 15 m3/ jam
- Pada waktu – waktu tertentu pemakaian air akan melebihi air rata – rata yang tertinggi di namakan pemakaian air jam puncak , dimana laju aliran air pada jam puncak inilah yang di gunakan untuk menentukan ukuran pipa dinas ataupun pipa utama . Pemakaian air jam puncak di nyatakan sebagai berikut :
Qh max : Qh x C Dimana :
Qh : Kebutuhan air rata – rata ( 15 m3/ jam) C : Faktor maximum ( 2 – 3 )
Maka :
Qh max : 15 m3 / jam x 3 : 45 m3/ jam
Sehingga kapasitas pompa pemindah / pompa transfer adalah : Qp : 45 M3 / jam
- Pada grafik lengkung dari buku “ Perancangan Dan Pemeliharaan Sistem Plambing “ maka di dapat ukuran diameter pipa utama 80 mm dengan laju aliran dalam pipa utama sebesar 2 m/s berdasarkan kapasitas pompa utama sebesar 45 m3 / jam - Tekanan pompa ( Head pompa ) dapat di hituing berdasarkan rumus sebagai berikut :
P : Hd + Hf + Hreq Dimana :
P : Total tekanan / head pompa
Hd : Perbedaan Elevasi dari pompa ke titik paling tinggi ( 15 M )
Hf : Kehilangan tekanan air akibat gesekan sepanjang pipa horizontal , valve dan lain - lain ( 25 M )
Hreq : Tekanan outlet di ujung pipa ( 15 M ) Maka total head pompa :
P = 15 m + 25 m + 15 m = 55 m ~ 60 m Perhitungan Pressure Tank
Kapasitas pressure tank pada system plambing ini dihitung berdasarkan aliran dari pada pompa plambing waktu start stop ( On/Off) pompa, maka kapasitas pressure tank adalah:
V = Qm /Z x Pa/(Pa-Pe) x 0.3 Dimana
Qm = Laju aliran / kapasitas pompa ( m3/jam ) Pa = Tekanan pada saat pompa mati / Off Pe = Tekanan pada saat pompa hidup / On Z = Frekwensi pompa On/Off
Laju aliran rata – rata dari pompa adalah Qm = Qp/2 (m3/jam)
Qm = 45 m3/jam / 2
= 22,5 m3/jam
Maka kapasitas atau volume dari pressure tank adalah : V = 22.5 m3/jam / 8 x 60 m / (60m - 10m) x 0.3
= 5,04 m3 ~ 5 m3
= 5000 Liter
Berdasarkan perhitungan tersebut kapasitas pressure tank untuk plambing adalah V = 5000 Liter.
- Pipa cabang dari pipa utama untuk air bersih yang mensuplai ke masing – masing toilet dapat di hitung berdasarkan dari beban NUAP ( Nilai Unit Alat Plambing ) , yang terdapat pada toilet , dimana perhitungannya sebagai berikut :
PIpa cabang horizontal yang diambil dari pipa utama untuk masing – masing toilet . 1. Toilet Lantai 1
- Urinal : 7 x 4 NUAP = 28 NUAP - Lavatory : 7 x 1 NUAP = 7 NUAP
- Faucet ( Kran ) : 12 x 2 NUAP = 24 NUAP +
Total 59 NUAP
NUAP = Nilai Unit Alat Plambing
- Berdasarkan grafik lengkung “Perancangan Dan Pemeliharaan Sistem Plambing
“, maka didapat kapasitas aliran air ± 140 Liter / menit , kecepatan aliran pada waktu kebutuhan maximum sebesar 1,0 m/ detik . Jadi ukuran diameter pipa cabang mendatar dari pipa utama untuk air bersih adalah 50 mm
2. Toilet Mezzanine ( 1 )
- Urinal : 6 x 4 NUAP = 24 NUAP - Lavatory : 3 x 1NUAP = 3 NUAP
- Faucet ( Kran ) : 5 x 2 NUAP = 10 NUAP - Shower : 10 x 3 NUAP = 30 NUAP
+ Total 67 NUAP
NUAP = Nilai Unit Alat Plambing
- Berdasarkan grafik lengkung “Perancangan Dan Pemeliharaan Sistem Plambing “, maka didapat kapasitas aliran air ± 130 Liter / menit , kecepatan aliran pada waktu kebutuhan maximum sebesar 1,5 m/ detik . Jadi ukuran diameter pipa cabang mendatar dari pipa utama untuk air bersih adalah 32 mm.
3. Toilet Mezzanine ( 2 )
- Lavatory : 3 x 1 NUAP = 3 NUAP - Faucet ( Kran ) : 3 x 2 NUAP = 6 NUAP - Shower : 10 x 3 NUAP = 30 NUAP
+ Total 39 NUAP
NUAP = Nilai Unit Alat Plambing
- Berdasarkan grafik lengkung “Perancangan Dan Pemeliharaan Sistem Plambing
“, maka didapat kapasitas aliran air ± 130 Liter / menit , kecepatan aliran pada waktu kebutuhan maximum sebesar 1,5 m/ detik . Jadi ukuran diameter pipa cabang mendatar dari pipa utama untuk air bersih adalah 32 mm
4. Toilet Assembling
- WC Tanki Gelontor : 2 x 8 NUAP = 16 NUAP - Lavatory : 10 x 1 NUAP = 10 NUAP
- Urinal : 5 x 4 NUAP = 20 NUAP
- Faucet ( Kran ) : 8 x 2 NUAP = 16 NUAP - Shower : 2 x 3 NUAP = 6 NUAP
- Kitchen Sink : 1 x 4 NUAP = 4 NUAP +
Total 72 NUAP
NUAP = Nilai Unit Alat Plambing
- Berdasarkan grafik lengkung “Perancangan Dan Pemeliharaan Sistem Plambing “, maka didapat kapasitas aliran air ± 130 Liter / menit , kecepatan aliran pada waktu kebutuhan maximum sebesar 1,0 m/ detik . Jadi ukuran diameter pipa cabang mendatar dari pipa utama untuk air bersih adalah 40 mm.
5. Toilet Welding Shop
- Urinal : 3 x 4 NUAP = 12 NUAP - Lavatory : 4 x 1 NUAP = 4 NUAP - Faucet : 6 x 2 NUAP = 12 NUAP
+ Total 28 NUAP
NUAP = Nilai Unit Alat Plambing
- Berdasarkan grafik lengkung “Perancangan Dan Pemeliharaan Sistem Plambing “, maka didapat kapasitas aliran air ± 70 Liter / menit , kecepatan aliran pada waktu kebutuhan maximum sebesar 1,5 m/ detik . Jadi ukuran diameter pipa cabang mendatar dari pipa utama untuk air bersih adalah 25 mm.
6. Toilet Assembling Shop
- Urinal : 3 x 4 NUAP = 12 NUAP - Lavatory : 1 x 1 NUAP = 1 NUAP - Faucet ( Kran ) : 4 x 2 NUAP = 4 NUAP
+ Total 17 NUAP
NUAP = Nilai Unit Alat Plambing
- Berdasarkan grafik lengkung “Perancangan Dan Pemeliharaan Sistem Plambing
“, maka didapat kapasitas aliran air ± 50 Liter / menit , kecepatan aliran pada waktu kebutuhan maximum sebesar 1,0 m/ detik . Jadi ukuran diameter pipa cabang mendatar dari pipa utama untuk air bersih adalah 32 mm
7. Toilet Welding Shop
- WC Tanki Gelontor : 2 x 8 NUAP = 16 NUAP - Lavatory : 6 x 1 NUAP = 6 NUAP
- Urinal : 6 x 4 NUAP = 24 NUAP
- Faucet ( Kran ) : 11 x 2 NUAP = 22 NUAP - Shower : 2 x 3 NUAP = 6 NUAP
+ Total 74 NUAP
NUAP = Nilai Unit Alat Plambing
- Berdasarkan grafik lengkung “Perancangan Dan Pemeliharaan Sistem Plambing
“, maka didapat kapasitas aliran air ± 140 Liter / menit , kecepatan aliran pada waktu kebutuhan maximum sebesar 1,0 m/ detik . Jadi ukuran diameter pipa cabang mendatar dari pipa utama untuk air bersih adalah 40 mm
Selain untuk kebutuhan toilet , air bersih ini juga di butuhkan untuk kebutuhan pabrik yang mana sebagian peralatan pabrik Proton mobil ini membutuhkan air bersih , seperti :
* Cooling Tower
Kebutuhan air bersih untuk cooling tower ini di butuhkan sebagai sirkulasi air pendingin yang terdapat pada cooling tower , di mana sirkulasi ini terjadi pada oil injected compressor yang di gunakan untuk proses yang terjadi pada Welding Shop , Painting Shop , Assembling Shop.
Dimana ada lima (5) cooling tower yang membutuhkan air bersih dimana sumber air untuk kebutuhan tersebut diambil dari bak penampung utama air bersih . Kebutuhan air yang dibutuhkan untuk cooling tower tersebut dihitung berdasarkan kapasitas dari cooling tower .
Kapasitas untuk satu cooling tower adalah :
Q = 1325 Liter / menit ( 79,5 m3/ jam ~ 80 m3/jam )
= 200 RT
Kebutuhan air untuk sirkulasi diambil 2 % dari kapasitas cooling tower , sehingga : Q air = 80 m3 / jam x 2 %
= 1,6 m3/ jam
Volume air cooling tower dihitung berdasarkan operasi dari cooling tower tersebut : V = Q x h
= 1,6 m3 / jam x 16 jam
= 25,6 M3 / Hari ~ 26 M3 / Hari Jumlah cooling tower n = 5
Total volume kebutuhan air 5 cooling tower adalah V total = 26 M3 x 5
= 130 M3
Pipa instalasi yang di gunakan untuk sirkulasi cooling tower dihitung berdasarkan dengan kapasitas sirkulasi air yang terjadi pada cooling tower.
Qair = 1,6 m3/jam ( 26,667 Liter / menit ~ 27 liter/menit)
Dari diagram lengkung didapat diameter pipa 20 mm untuk masing – masing cooling tower dengan kecepatan aliran sebesar 1,5 m/detik.
Fire Hydrant
FIRE HYDRANT & SPRINKLER (youtube.com)
Setelah Media Pecah, Jokey pump mulai start, kemudian pressure gauge sudah mulai turun, kemudian PS menjalankan PC-EFP dan Main pump electric (EFP) mulai bekerja.
Jika Listrik padam dan terjadi kebakaran, tekanan di header turun, PS memberi sinyal ke PC-DFP dan diesel fire pump mulai bekerja.
Menghitung Kebutuhan Hydrant
Menghitung Kebutuhan Hydrant Gedung (youtube.com)
Persyaratan Hydrant Gedung
Persyaratan Hydrant Halaman
Kesimpulan
Menghitung Kebutuhan Sprinkler Gedung
Sumber : SNI . 7.15.5
2,25 mm/min = 2,25 L/min
Menghitung Kebutuhan Sprinkler Gedung
Warna kuning adalah are yg tdk perlu perlindungan sprinkler