CARA CARA
PERHITUNGAN PERHITUNGAN
PAJAK DI PAJAK DI
APOTEK APOTEK
KELOMPOK II
ANGGOTA KELOMPOK ANGGOTA KELOMPOK
IKA SAWITRI YOGI ( O1A122033) IZMY APIATY ( O1A122034)
MINU CLAUDY TAMBA ( O1A122042) NAJWA KHOFIYYAN ( O1A122045)
NUR FAJRIANI ALL RIFKA ( O1A122048) NA'ILAH RIQQAH NUWAYYAR ( O1A122139) NATENRI RAMADHANI ISMAIL ( O1A122143)
LUTHFIYAH NURUL AZIZAH ( O1A122226) NASTI FIANDASARI ( O1A122237)
NIRCHANY NURYADDIN ( O1A122238)
NUR ASRIANI RAHAYU BADARU ( O1A122239)
OUTLINE OUTLINE
DEFINISI PAJAK DAN PENTINGNYA PAJAK DI SEKTOR KESEHATAN.
PAJAK PENGHASILAN (PPH) DAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (PPN)
UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN YANG BERLAKU DI APOTEK METODE PERHITUNGAN PPH DAN PPN.
JANGKA WAKTU DAN CARA PEMBAYARAN PAJAK.
JENIS SANKSI ATAS PELANGGARAN PEMBAYARAN PAJAK STUDI KASUS (CONTOH PERHITUNGAN PAJAK DI APOTEK)
Pajak merupakan kontribusi wajib dari orang atau badan
terhadap negara, yang sifatnya memaksa sesuai dengan undang- undang tanpa adanya imbalan
secara langsung.
DEFINISI DEFINISI
PAJAK
PAJAK
Pajak memiliki peran yang sangat penting dalam menggerakkan roda perekonomian
negara Indonesia. Salah satu sektor yang mendapatkan dampak positif dari peran
pajak adalah bidang kesehatan. Pada tahun 2024 anggaran di Kementerian Kesehatan pada APBN 2024 adalah sebesar Rp 186,4 triliun. Jumlah ini meningkat 8,1%,
dibandingkan anggaran pada tahun 2023.
Kenaikan ini menunjukkan bahwa pemerintah serius dalam meningkatkan kualitas
kesehatan di Indonesia.
PENTINGNYA PAJAK DI SEKTOR PENTINGNYA PAJAK DI SEKTOR
KESEHATAN
KESEHATAN
Pajak Penghasilan (PPh) adalah pajak yang dikenakan terhadap orang pribadi dan badan atas penghasilan yang diterima atau diperoleh dalam satu tahun pajak. PPh dikenakan atas penghasilan yang diterima oleh wajib pajak, baik orang pribadi maupun badan, selama satu tahun pajak. Salah satu jenis PPh adalah PPh Pasal 21, yang merupakan pajak atas penghasilan berupa gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain sehubungan dengan pekerjaan atau jabatan, jasa, dan kegiatan yang dilakukan oleh orang pribadi subjek pajak dalam negeri.
PPH PPH
Pajak Pertambahan Nilai (PPN) adalah pajak yang dikenakan atas setiap pertambahan nilai dari barang atau jasa dalam peredarannya dari produsen ke konsumen. PPN termasuk jenis pajak tidak langsung, artinya pajak tersebut disetor oleh pihak lain (pedagang) yang bukan penanggung pajak, atau dengan kata lain, penanggung pajak (konsumen akhir) tidak menyetorkan langsung pajak yang ia tanggung . PPN dikenakan pada setiap mata rantai jalur produksi maupun jalur distribusi, dan bersifat non-kumulatif, sehingga tidak menimbulkan pengenaan pajak berganda. Di Indonesia, PPN diatur dalam Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009 tentang Pajak Pertambahan Nilai.
PPN PPN
Pajak Penghasilan (PPh) dan Pajak
Pertambahan Nilai (PPN) pada apotek merupakan kewajiban penting dalam
operasional usaha. PPh dikenakan atas
penghasilan karyawan (PPh Pasal 21) serta
atas penghasilan apotek sebagai badan usaha, termasuk skema PPh Final 0,5% untuk UMKM.
Sementara itu, PPN dikenakan atas
penyerahan obat-obatan oleh apotek yang
telah dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP), dengan tarif sebesar 11%.
UUD PERPAJAKAN UUD PERPAJAKAN
YANG BERLAKU DI YANG BERLAKU DI
APOTEK APOTEK
1. Pasal 17 ayat (1) huruf a UU No.
7 Tahun 2021 (UU HPP) (Tarif Pajak Orang Pribadi & Badan)
UUD PERPAJAKAN UUD PERPAJAKAN
YANG BERLAKU DI YANG BERLAKU DI
APOTEK APOTEK
b. Tarif Pajak Penghasilan bagi Wajib Pajak badan dalam negeri dan bentuk usaha tetap adalah sebesar 22%
Pasal 17 UU HPP mengatur tarif Pajak Penghasilan (PPh) yang dikenakan kepada apotek, yaitu 22% jika berbentuk badan usaha, dan tarif bertingkat 5–35% jika dimiliki perorangan, sehingga jumlah pajak yang harus dibayar tergantung pada bentuk usaha dan besar penghasilan apotek tersebut.
2. Pasal 21 UU No. 7 Tahun 1983 (sebagaimana diubah hingga UU HPP) (Pemotongan Atas Penghasilan Karyawan):
"Atas penghasilan sehubungan dengan pekerjaan, jasa, dan kegiatan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri, dikenai pemotongan Pajak Penghasilan oleh pemberi kerja, penyelenggara kegiatan, atau pemotong pajak lainnya."
Apotek wajib memotong PPh 21 atas gaji, honor apoteker, dokter jaga, dan tenaga lainnya tiap bulan.
3. Pasal 23 UU PPh (Pemotongan atas Penghasilan Tertentu)
Pasal 23 ayat (1) huruf c UU No. 7 Tahun 1983:
"Atas penghasilan yang dibayarkan sehubungan dengan jasa manajemen, jasa konstruksi, jasa konsultan, dan jasa
lainnya kepada Wajib Pajak dalam negeri, dipotong Pajak Penghasilan sebesar 2% dari jumlah bruto tidak termasuk Pajak Pertambahan Nilai."
Apotek wajib potong PPh 23 atas jasa konsultan, sewa gedung, atau jasa teknis lain dari pihak ketiga.
4. Pasal 25 UU PPh (Angsuran Pajak Bulanan) Bunyi pasal 25 ayat (1) UU No. 7 Tahun 1983:
“Besarnya angsuran pajak dalam tahun berjalan yang harus dibayar sendiri oleh Wajib Pajak untuk setiap masa pajak,
adalah sebesar pajak yang terhutang pada tahun pajak yang lalu dikurangi dengan pemotongan dan pemungutan pajak serta pajak yang dibayar atau terhutang di luar
negeri sebagaimana dimaksud masing-masing dalam Pasal 21, Pasal 22, Pasal 23, dan Pasal 24, dibagi dengan banyaknya masa pajak.”
Apotek berbentuk badan atau omset besar wajib bayar angsuran bulanan PPh sesuai perhitungan tahun sebelumnya.
5. Pasal 29 UU PPh (Kekurangan Pembayaran Pajak) Bunyi pasal 29 UU No. 7 Tahun 1983:
“Apabila pajak yang terhutang untuk suatu tahun pajak ternyata lebih besar daripada jumlah kredit pajak
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28, maka kekurangan pajak yang terhutang harus dilunasi selambat-lambatnya pada akhir bulan ketiga sesudah tahun pajak yang
bersangkutan berakhir, sebelum Surat Pemberitahuan Tahunan disampaikan.”
Jika total PPh terutang apotek > total angsuran &
potongan pajak selama setahun, kekurangan (PPh 29) wajib dibayar sebelum lapor SPT.
6. Pasal 28 UU KUP (Kewajiban Pembukuan)
Bunyi Pasal 28 ayat (1) UU No. 6 Tahun 1983:
"Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas dan Wajib Pajak badan di Indonesia wajib menyelenggarakan pembukuan."
Apotek dengan omzet di atas Rp4,8 miliar atau berbentuk badan wajib menyusun pembukuan sesuai ketentuan pajak.
1. PPh (Pajak Penghasilan) untuk Apotek a. Badan Usaha (PT, CV, Firma)
METODE PERHITUNGAN PPH METODE PERHITUNGAN PPH
DAN PPN UNTUK APOTEK DAN PPN UNTUK APOTEK
Apotek yang berbentuk badan usaha dikenakan PPh Badan (Pasal 25 dan 29 UU PPh).
Tarif Umum (Pasal 17 UU PPh): 22% dari Penghasilan Kena Pajak (berlaku sejak 2022 dan seterusnya)
Perhitungan:
1. Hitung Penghasilan Bruto (omzet).
2. Kurangi dengan biaya operasional (biaya obat, gaji, listrik, dll).
3. Hasil = Laba Bersih (Penghasilan Kena Pajak).
4. Hitung PPh = 22% × Penghasilan Kena Pajak.
Jika apotek berbentuk PT dengan omzet < Rp 50 miliar, bisa mendapat fasilitas pengurangan tarif 50% untuk bagian penghasilan kena pajak sampai Rp 4,8 miliar.
b. Usaha Orang Pribadi (Apoteker Praktik Mandiri / UMKM)
Jika apotek dikelola oleh individu (bukan badan), dan memiliki omzet < Rp 4,8 miliar per tahun, maka bisa dikenakan:
1. Final PPh UMKM (PP 55 Tahun 2022):
2. Tarif: 0,5% dari omzet bruto bulanan
3. Berlaku maksimal 3 tahun (orang pribadi).
Perhitungan:
- PPh Final = 0,5% × Omzet Bulanan
2. PPN (Pajak Pertambahan Nilai) untuk Apotek a. PKP (Pengusaha Kena Pajak)
Apotek dengan omzet > Rp 500 juta per tahun wajib dikukuhkan sebagai PKP dan harus memungut PPN atas penjualan obat non-BHP.
- Tarif PPN (UU HPP & PP 44/2022): 11% (berlaku sejak 1 April 2022)
b. Pengecualian PPN untuk Apotek
- Sesuai UU PPN Pasal 4A ayat (3):
1. Obat yang dijual di apotek termasuk dalam Barang Kena Pajak (BKP), kecuali:
• Obat yang disubsidi pemerintah
• Obat generik tertentu dalam program JKN
2. Jasa pelayanan kesehatan tidak dikenakan PPN (Pasal 4A ayat 3 UU PPN).
3. Perhitungan PPN:
Jika harga jual sudah termasuk PPN:
PPN = Harga Jual × 11 / 111 Jika belum termasuk:
PPN = Harga Jual × 11%
1. Jangka Waktu Pembayaran Pajak Apotek
JANGKA WAKTU DAN CARA JANGKA WAKTU DAN CARA
PEMBAYARAN PAJAK DI APOTEK PEMBAYARAN PAJAK DI APOTEK
Jenis-jenis pajak yang umum dikenakan kepada apotek beserta jangka waktu pembayarannya antara lain:
Pajak Penghasilan (PPh) Final 0,5% UMKM
Apotek yang berbentuk usaha perorangan (non-PKP) dan memiliki omzet di bawah Rp4,8 miliar per tahun dikenakan PPh Final 0,5%. Pajak ini dibayarkan setiap bulan paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya dan dilaporkan paling lambat tanggal 20.
PPh Pasal 21 (Gaji Pegawai)
Apotek wajib memotong pajak dari gaji pegawai dan menyetorkannya paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya, dengan pelaporan SPT Masa paling lambat tanggal 20 bulan berikutnya.
PPh Pasal 23 (Jasa Profesional atau Sewa)
Jika apotek membayar jasa profesional (dokter, notaris, dll) atau sewa, maka wajib memotong PPh Pasal 23 dan menyetorkannya paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya.
PPN (Pajak Pertambahan Nilai)
Jika apotek sudah dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP), maka wajib memungut PPN atas penjualan obat tertentu. PPN disetorkan dan dilaporkan paling lambat akhir bulan berikutnya setelah masa pajak berakhir.
Pajak Daerah (misalnya pajak reklame atau IMB apotek)
Mengikuti ketentuan dari pemerintah daerah setempat, biasanya dibayarkan tahunan atau sesuai ketentuan teknis masing- masing.
2. Cara Pembayaran Pajak di Apotek
Pembayaran pajak apotek dilakukan secara daring melalui sistem e-Billing Direktorat Jenderal Pajak. Langkah-langkahnya sebagai berikut:
1. Membuat Kode Billing (ID Billing)
2. Kode billing dibuat melalui DJP Online (https://djponline.pajak.go.id), atau aplikasi pajak resmi seperti OnlinePajak dan Klikpajak.
3. Melakukan Pembayaran
4. Pajak dibayarkan melalui ATM, internet banking, mobile banking, kantor pos, atau marketplace (Tokopedia, Bukalapak, dll) yang telah bekerja sama dengan DJP.
5. Menyimpan Bukti Pembayaran (NTPN)
6. Setelah pembayaran, wajib pajak akan mendapatkan Nomor Transaksi Penerimaan Negara (NTPN) yang menjadi bukti sah pembayaran pajak.
1.SANKSI TERLAMBAT SETOR
JENIS JENIS JENIS JENIS
SANKSI SANKSI
Menurut Pasal 9 ayat (2a) UU No. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan UU No. 16 Tahun 2009, pembayaran atau penyetoran pajak yang dilakukan setelah tanggal jatuh tempo penyetoran dikenakan sanksi administrasi berupa bunga 2% per bulan dihitung dari tanggal jatuh tempo pembayaran s.d. tanggal pembayaran
2. SANKSI TIDAK ATAU TERLAMBAT MELAPOR
Menurut Pasal 7 UU No. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan UU No. 16 Tahun 2009, apabila Surat Pemberitahuan tidak disampaikan dalam jangka waktu sebagaimana telah ditentukan, dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar Rp 500.000,00 (lima ratus ribu rupiah) untuk Surat Pemberitahuan Masa Pajak Pertambahan Nilai, Rp 100.000,00 (seratus ratus ribu rupiah) untuk Surat Pemberitahuan Masa lainnya, dan sebesar Rp1.000.000,00 (satu juta arupiah untuk Surat Pemberitahuan Tahunan rupiah) jako Penghasilan Wajib Pajak badan serta sebesar Pajak Rp100.000,00 (seratus ribu rupiah) Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Wajib Pajak orang pribadi.
Hal-hal penting yang harus diketahui:
1. Obat yang termasuk dalam program pemerintah (seperti vaksinasi, KB) bisa dikenakan PPN 0%.
2. Apotek yang bukan PKP (Pengusaha Kena Pajak) tidak wajib memungut PPN, tapi tetap wajib bayar PPh.
3. Bila apotek dikelola oleh badan usaha (PT, CV), maka perhitungan pajaknya bisa berbeda (menggunakan tarif PPh Badan dan ketentuan umum lainnya).
ASUMSI UMUM UNTUK SEMUA JENIS USAHA:
Penjualan Bulanan (Omzet): Rp 100.000.000
Pembelian barang dagang (obat dan alat kesehatan): Rp 60.000.000 90% dari barang yang dijual dan dibeli kena PPN
Sudah menjadi PKP (kecuali untuk perorangan yang belum PKP) Perhitungan dilakukan untuk 1 bulan
Biaya operasional (gaji, listrik, dll): Rp 15.000.000
PERHITUNGAN PAJAK APOTEK PERHITUNGAN PAJAK APOTEK
BERDASARKAN STRUKTUR USAHA
BERDASARKAN STRUKTUR USAHA
1.APOTEK MILIK PERORANGAN (NON-PKP, UMKM)
a. Tidak wajib memungut PPN b. Kena PPh Final UMKM 0,5%
0,5% x Rp 100.000.000 = Rp 500.000
2. APOTEK MILIK PERORANGAN (UMKM, PKP)
Asumsi:
Omzet bulanan : Rp 100.000.000 Barang kena PPN (90% dari omzet) : Rp 90.000.000 PPN atas pembelian barang (PPN Masukan) : Rp 5.000.000 Status : PKP
Jenis pajak : PPN & PPh Final UMKM 0,5% (PP 55/2022)
Perhitungan Pajak:
1. PPN Keluaran : 11% x Rp 90.000.000 = Rp 9.900.000 2. PPN Masukan : Rp 5.000.000
3. PPN yang Disetor : PPN Keluaran – PPN Masukan = Rp 9.900.000 – Rp 5.000.000 = Rp 4.900.000
4. PPh Final UMKM : 0,5% x Rp 100.000.000 = Rp 500.000
Keterangan:
PPN masukan = Adalah PPN yang dibayar apotek saat membeli barang kena pajak (obat dari distributor, alat kesehatan, dll).
PPN keluaran = Adalah PPN yang dipungut oleh apotek saat menjual barang atau jasa kena pajak kepada pelanggan. Ini adalah PPN yang harus disetor ke negara. Tarifnya biasanya 11% dari harga jual.
3. APOTEK MILIK CV (PKP, WAJIB PPN)
a. Memungut PPN Keluaran 11%
b. Dapat mengkreditkan PPN Masukan
c. Jumlah pembelian barang (obat dari distributor, alat kesehatan, dll) = Rp 60.000.000 d. PPh dihitung berdasarkan laba bersih (tarif umum)
Perhitungan:
1. PPN Keluaran = 11% × Rp 90.000.000 = Rp 9.900.000 (90% dari penjualan Rp 100 jt kena PPN)
2. PPN Masukan = 11% × Rp 54.000.000 = Rp 5.940.000 (90% dari pembelian Rp 60 jt)
3. PPN yang disetor = Rp 9.900.000 – Rp 5.940.000 = Rp 3.960.000
4. Laba Kotor = Penjualan – Pembelian = Rp 100.000.000 – Rp 60.000.000 = Rp 40.000.000 5. Laba Bersih = Rp 40.000.000 – Rp 15.000.000 = Rp 25.000.000
6. PPh Badan (22%) = 22% × Rp 25.000.000 = Rp 5.500.000
4. APOTEK MILIK PT (PKP, WAJIB PPN)
1.Sama dengan CV, tetapi bisa memiliki fasilitas perpajakan tertentu
2.PT dengan omzet < Rp 50 Miliar bisa pakai tarif PPh Badan bertingkat (anggap omzet nya Rp 4,8 M)
Perhitungan PPh Bertingkat (PMK 40/2023):
a. 50% penghasilan kena pajak sampai Rp 4,8 M dikenakan tarif efektif 11%
b. Sisanya tarif normal (22%)
c. Anggap laba bersih bulanan = Rp 25.000.000 d. PPh Badan Bertingkat:
50% penghasilan × tarif normal 22% = 11%
PPh Badan (11%) = 11% × Rp 25.000.000 = Rp 2.750.000 PPN-nya sama:
PPN Disetor = Rp 3.960.000
Kesimpulan dari ke 4 contoh tadi yaitu:
Profil Usaha
STUDI KASUS LAPORAN PAJAK STUDI KASUS LAPORAN PAJAK
APOTEK SEHAT SENTOSA APOTEK SEHAT SENTOSA
Nama Usaha : Apotek Sehat Sentosa
Jenis Usaha : Penjualan obat-obatan dan alat kesehatan
Bentuk Usaha : Usaha Dagang (UD), PKP (Pengusaha Kena Pajak) NPWP : 12.345.678.9-012.000
Periode Pajak : April 2025
Data Transaksi Bulan April 2025
Perhitungan Pajak
1. PPN Keluaran (Penjualan)
Total Penjualan Rp66.000.000
PPN Keluaran = 11% x (Rp66.000.000 / 1,11) = Rp6.534.000 2. PPN Masukan (Pembelian)
Total Pembelian Rp33.000.000
PPN Masukan = 11% x (Rp33.000.000 / 1,11) = Rp3.267.000 3. PPN yang Harus Disetor
PPN Keluaran – PPN Masukan = Rp6.534.000 – Rp3.267.000 = Rp3.267.000 Pajak Penghasilan (PPh Final UMKM - PP 55/2022)
Omzet April = Rp66.000.000
PPh Final = 0,5% x Rp66.000.000 = Rp330.000 Periode Pajak : April 2025
Laporan Pajak yang Harus Dilaporkan dan Disetor
KESIMPULAN DARI KESIMPULAN DARI
KASUS KASUS
Apotek Sehat Sentosa wajib menyetor dan melaporkan PPN dan PPh Final sesuai ketentuan.
Pencatatan rapi transaksi penjualan dan pembelian menjadi kunci untuk perhitungan pajak yang akurat.
KESIMPULAN KESIMPULAN
Pajak memiliki peranan sentral dalam mendukung pembiayaan sektor kesehatan, termasuk operasional apotek. Apotek sebagai unit usaha wajib memahami dan melaksanakan kewajiban perpajakan, baik Pajak Penghasilan (PPh) maupun Pajak Pertambahan Nilai (PPN), sesuai
dengan ketentuan perundang-undangan. Perhitungan pajak di apotek harus mempertimbangkan bentuk usaha, omzet, serta jenis transaksi
yang dilakukan. Ketaatan dalam pembayaran dan pelaporan pajak tidak hanya menghindarkan apotek dari sanksi, tetapi juga berkontribusi
pada peningkatan layanan kesehatan masyarakat secara luas.
DAFTAR PUSTAKA DAFTAR PUSTAKA
Direktorat Jenderal Pajak.(2021).”MANFAAT PAJAK DI BIDANG KESEHATAN ”. Diakses pada 18 may 2025 dari https://www.pajak.go.id/id/pajak
Direktorat Jenderal Pajak.(2021).”PAJAK ”. Diakses pada 18 may 2025 dari https://www.pajak.go.id/id/pajak Direktorat Jenderal Pajak. (2023). Panduan Pajak untuk Apotek. https://www.pajak.go.id
Direktorat Jenderal Pajak. (2024). Pembayaran Pajak Menggunakan e-Billing. Diakses dari:
https://www.pajak.go.id/id/pembayaran-pajak-menggunakan-e-billing.
Farmacare.id. (2023). Kupas Tuntas Pajak Bisnis Apotek untuk PSA dan Badan Usaha. Diakses dari:
https://www.farmacare.id/kupas-tuntas-pajak-bisnis-apotek-untuk-psa-dan-badan-usaha.
Ingra Sovita, F. (2019). ANALISIS PERHITUNGAN DAN PEMOTONGAN PAJAK PENGHASILAN DI INDONESIA.
Jurnal Menara Ekonomi: Penelitian dan Kajian Ilmiah Bidang Ekonomi, 5(3).
Kementerian Kesehatan RI. Jenis Obat yang Termasuk Obat Generik Bersubsidi. (akses tahun 2024)
Peraturan Direktur Jenderal Pajak No. PER-11/PJ/2020 tentang Pedoman Penghitungan Penghasilan Neto.
Peraturan Pemerintah No. 23 Tahun 2018 tentang PPh Final UMKM
DAFTAR PUSTAKA DAFTAR PUSTAKA
Peraturan Pemerintah No. 55 Tahun 2022 tentang Penyesuaian Pengaturan Pajak Penghasilan atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak dengan Peredaran Bruto Tertentu.
Rorong, M. C. (2022). Analisis Penerapan Perhitungan, Pencatatan, Penyetoran, Dan Pelaporan Pajak
Pertambahan Nilai Pada Pt. Rakyat Farma Apotek Manado. Jurnal LPPM Bidang EkoSosBudKum (Ekonomi, Sosial, Budaya, dan Hukum), 6(1), 517-524.
Subjarwadi, S., Karamoy, H., & Budiarso, N. S. (2017). Analisis Perhitungan Dan Pelaporan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Pada PT. Manado Jaya Lestari. Jurnal EMBA: Jurnal Riset Ekonomi, Manajemen, Bisnis dan Akuntansi, 5(2).
Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (UU KUP) Undang-Undang No. 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan
Undang-Undang No. 42 Tahun 2009 tentang Perubahan Ketiga atas UU PPN
Undang-Undang No. 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP)