PENDAHULUAN
Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah disebutkan sebelumnya, rendahnya kesadaran keluarga pasien terhadap risiko infeksi yang didapat di rumah sakit menjadikan risiko terjadinya infeksi yang didapat di rumah sakit semakin meningkat tidak hanya pada pasien, namun juga pada keluarga pasien di lingkungan rumah sakit. Oleh karena itu dipandang perlu untuk melakukan penelitian tentang perilaku keluarga pasien mengenai pencegahan infeksi nosokomial di bangsal rumah sakit RSUD Kota Padangsidimpuan pada tahun 2016.
Tujuan Penelitian
- Tujuan Umum
- Tujuan Khusus
- Bagi Perkembangan Ilmu Kesehatan Masyarakat
- Bagi Masyarakat
TINJAUAN PUSTAKA
Definisi Rumah Sakit
Tugas Rumah Sakit
Fungsi Rumah Sakit
Tujuan utama beroperasinya rumah sakit keempat yang relatif baru ini adalah untuk membantu masyarakat dalam mengurangi angka kejadian penyakit (disease) dan meningkatkan kesehatan masyarakat secara umum. Contoh kegiatan kesehatan masyarakat mencakup kolaborasi erat antara rumah sakit yang memiliki departemen kesehatan masyarakat untuk penyakit menular; partisipasi dalam program deteksi penyakit seperti tuberkulosis, diabetes, hipertensi dan kanker; partisipasi dalam program vaksinasi masyarakat, misalnya terhadap influenza dan polio, dll.
Klasifikasi Rumah Sakit
Jenis Perawatan di Rumah Sakit
Perawatan antara adalah perawatan terhadap penderita setelah kondisi fisiknya membaik, yang dipindahkan dari ruang tunggu ke ruang perawatan biasa. Perawatan mandiri adalah perawatan yang diberikan oleh pasien yang dapat merawat dirinya sendiri, yang datang ke rumah sakit hanya untuk tujuan diagnostik atau penderita yang kesehatannya sudah cukup pulih dari nyeri intensif atau sedang, dapat tinggal di unit perawatan mandiri. Mereka mungkin tinggal di bagian rumah sakit atau di fasilitas perawatan tambahan atau hospice yang juga dapat dioperasikan oleh rumah sakit tersebut.
Perawatan di rumah adalah perawatan orang sakit di rumah yang dapat menerima layanan yang biasanya tersedia di rumah sakit berdasarkan program yang disponsori oleh rumah sakit. Perawatan ini diberikan kepada pasien melalui klinik yang menggunakan fasilitas rumah sakit tanpa terikat secara fisik dengan rumah sakit. Mereka datang ke rumah sakit untuk perawatan atau diagnosis, atau datang sebagai kasus darurat.
Infeksi Nosokomial
- Definisi Infeksi Nosokomial
- Mikroorganisme Penyebab Infeksi Nosokomial
- Faktor-faktor Mempengaruhi Infeksi Nosokomial
- Kelompok Beresiko
Dalam Soedarmo, dkk, (2008) disebutkan beberapa jenis infeksi nosokomial yang paling sering terjadi dan mikroorganisme penyebabnya, antara lain: Dari laporan penelitian tercatat bahwa infeksi saluran kemih (ISK) merupakan infeksi nosokomial yang paling banyak terjadi, terhitung sekitar 40% dari seluruh infeksi nosokomial. Infeksi pada luka operasi menempati urutan kedua dari seluruh kasus infeksi nosokomial di rumah sakit umum.
Dalam Soedarmo, dkk, (2008) dapat disimpulkan bahwa gejala spesifik infeksi nosokomial hanya dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan penunjang khusus seperti pemeriksaan laboratorium. Tenaga kesehatan yang memberikan pelayanan selama berada di rumah sakit merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan seseorang tertular infeksi nosokomial. Alat yang digunakan dan lingkungan dapat menjadi media penularan masuknya bakteri patogen penyebab infeksi nosokomial pada tubuh pasien.
Keluarga Pasien
- Pencegahan Infeksi Nosokomial pada Keluarga Pasien
Dokter, perawat dan tenaga kesehatan lainnya di rumah sakit yang bersentuhan dengan pasien dan lingkungan rumah sakit. Seseorang atau sekelompok orang yang datang ke rumah sakit dalam rangka menjenguk atau merawat saudaranya yang sedang dirawat di rumah sakit. Ada beberapa hal yang sering dilakukan pengunjung yang beresiko sebagai sumber atau penyebab infeksi yang didapat di rumah sakit, antara lain: sepatu pengunjung yang masuk dari luar rumah sakit, tangan yang terkontaminasi kuman dan bakteri, batuk atau bersin saat berbicara dengan pasien, menggunakan wadah makanan yang sama (piring, sendok, gelas) selama dirawat di rumah sakit.
Jangan mengunjungi rumah sakit jika kondisi tubuh sedang tidak sehat, misalnya: batuk, flu dan lain sebagainya. Bekerja sama dengan pihak rumah sakit untuk menjaga kebersihan lingkungan rumah sakit dengan membuang limbah pada tempat yang telah ditentukan serta menjaga kebersihan dan kerapihan lemari tempat menyimpan barang-barang pasien. Mencuci tangan penting dilakukan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien, peralatan, dan lingkungan rumah sakit.
Konsep Perilaku
- Batasan Perilaku
- Perilaku Kesehatan
- Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Perilaku
- Domain Perilaku
Menurut Notoatmodjo (2007), pendidikan dalam arti formal adalah proses pemberian materi/materi pendidikan oleh pendidik dalam rangka mencapai perubahan perilaku (tujuan). Menurut Notoatmodjo (2007), walaupun tingkah laku merupakan suatu bentuk respon atau reaksi terhadap rangsangan atau rangsangan yang berasal dari luar organisme (orang), namun respon tersebut sangat bergantung pada karakteristik atau faktor lain dari orang yang bersangkutan. Pemahaman didefinisikan sebagai kemampuan mendeskripsikan objek yang dikenal dengan benar dan kemampuan menafsirkan materi dengan benar.
Analisis, yaitu kemampuan menguraikan suatu bahan atau benda menjadi komponen-komponennya, namun tetap dalam suatu struktur organisasi dan masih berkaitan satu sama lain. Sintesis menunjukkan kemampuan menempatkan atau menghubungkan bagian-bagian menjadi suatu kesatuan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah kemampuan memformalkan formulasi yang sudah ada.
Kerangka Konsep
Jenis Penelitian
Tempat dan Waktu Penelitian
- Tempat Penelitian
- Waktu Penelitian
Populasi dan Sampel
- Populasi
- Sampel
- Tehnik Pengambilan Sampel
Pengetahuan responden merupakan kemampuan responden dalam memahami pencegahan infeksi nosokomial di rumah sakit. Sikap responden merupakan tanggapan atau tanggapan responden terhadap pencegahan infeksi nosokomial di rumah sakit. Sebaran responden menurut sikap terhadap pencegahan infeksi nosokomial di rumah sakit dapat dilihat pada tabel 4.3.
Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pengetahuan responden mengenai risiko infeksi di rumah sakit masih rendah. Tingkat pengetahuan responden tentang pencegahan infeksi di rumah sakit berkategori baik yaitu sebanyak 1 orang (1,41%), kategori sedang sebanyak 16 orang (22,53%) dan kategori kurang sebanyak 54 orang (76,1%). Sikap responden terhadap pencegahan infeksi di rumah sakit berada pada kategori baik yaitu sebanyak 43 orang (60,56%), kategori sedang sebanyak 8 orang (11,27%) dan kategori kurang baik sebanyak 20 orang (28,17%).
Alat Pengumpul Data
Definisi Operasional
Aspek Pengukuran
Tindakan responden merupakan bentuk tindakan atau kegiatan nyata responden dalam mencegah terjadinya infeksi nosokomial di rumah sakit. Tindakan responden mengenai pencegahan penularan di rumah sakit berada pada kategori baik yaitu sebanyak 2 orang (2,82%), kategori sedang sebanyak 41 orang (57,75%), dan kategori buruk sebanyak 28 orang. 8 Menurut Anda apa yang dapat dilakukan untuk mencegah infeksi di rumah sakit?
3 Tinggal lama saat berkunjung ke rumah sakit merupakan salah satu faktor risiko terjadinya infeksi di rumah sakit. 5 Mengunjungi dan menunggu lebih dari dua pasien tidak menimbulkan risiko terjadinya infeksi di rumah sakit. 6 Anak-anak di bawah usia 12 tahun dapat mengunjungi rumah sakit dan tidak berisiko tertular infeksi di rumah sakit.
Tehnik Pengolahan Data
HASIL PENELITIAN
Data Umum Responden
- Distribusi Responden berdasarkan Karakteristik
Data Perilaku Responden
- Pengetahuan Responden
- Sikap Responden
- Tindakan Responden
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan Mengenai Pencegahan Infeksi Nosokomial di Ruang Rawat Inap RSUD Kota Padangsidimpuan. Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Sikap Mengenai Pencegahan Infeksi Nosokomial di Ruang Rawat Inap RSUD Kota Padangsidimpuan. Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Tindakan Mengenai Pencegahan Infeksi Nosokomial di Ruang Rawat Inap RSUD Kota Padangsidimpuan.
Hasil Penilaian Pengetahuan, Sikap dan Tindakan
Tidak adanya sumber informasi mengenai pencegahan infeksi di rumah sakit menyebabkan responden tidak mengetahui cara mencegah infeksi di rumah sakit. Sebagian besar responden tidak mengetahui apa yang dapat menyebabkan infeksi di rumah sakit dan bagaimana cara mencegahnya. Dan sikap atau respon positif ini diharapkan dapat menjadi acuan tindakan yang tepat dalam hal pencegahan infeksi di rumah sakit.
Sebagian besar responden pada penelitian ini tidak mencuci tangan sebelum kontak dengan pasien dan lingkungan rumah sakit. Tindakan responden mengenai pencegahan infeksi di rumah sakit yang sebagian besar berada pada rentang sedang dan buruk, tidak hanya disebabkan oleh masih rendahnya pengetahuan responden mengenai pencegahan infeksi. 7 Apabila kondisi tubuh tidak sehat (batuk, flu, dll) sebaiknya keluarga pasien tidak menjenguk pasien di rumah sakit atau menunggu pasien.
PEMBAHASAN
Pengetahuan Responden tentang Pencegahan Infeksi di
Rendahnya tingkat pengetahuan responden disebabkan karena kurangnya informasi yang diberikan kepada responden (terdapat 62 orang/87,32% responden yang tidak mempunyai sumber informasi), tingkat pendidikan responden yang sebagian besar mempunyai pendidikan rendah ( berjumlah 53 orang/74,65%), serta status pekerjaan responden yang ditunjukkan dengan tidak mempunyai pekerjaan atau berperan sebagai ibu rumah tangga sebanyak 41 orang (57,74%). Minimnya sumber informasi yang dimiliki responden juga disebabkan oleh aktifnya peran responden dalam mencari berbagai informasi kesehatan yang tersedia terutama saat berada di rumah sakit. Jika tidak ada informasi tambahan yang sampai kepada responden, pengetahuan mereka akan berkurang.
Green dalam Notoadmodjo (2005) menyatakan bahwa pengetahuan merupakan faktor penting yang mempengaruhi perilaku seseorang. Notoadmojdo (2005) juga menyatakan bahwa perilaku seseorang akan lebih baik dan dapat bertahan lama apabila didasari oleh tingkat pengetahuan dan kesadaran yang baik. Seseorang yang mempunyai pengetahuan yang baik terhadap suatu hal diharapkan mempunyai sikap yang baik pula.
Sikap Responden tentang Pencegahan Infeksi di
Responden perempuan yang sebagian besar merupakan pengangguran atau berprofesi sebagai ibu rumah tangga mempunyai ruang interaksi yang terbatas. Berdasarkan hasil penelitian terlihat bahwa sebagian besar responden mempunyai sikap dengan kategori baik. Berdasarkan hasil penelitian terlihat sebagian besar responden setuju bahwa rumah sakit merupakan tempat terjadinya penularan penyakit, keluarga pasien mempunyai risiko akibat tertular dan penularan infeksi di rumah sakit, jangka panjang menginap di kunjungan tersebut. rumah sakit meningkatkan risiko terjadinya infeksi di rumah sakit, menjaga kebersihan lingkungan rumah sakit, tidak berkunjung ke rumah sakit pada saat badan terasa tidak enak badan, mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dan lingkungan rumah sakit, serta tidak menggunakan alat makan yang sama dengan pasien. .
Faktor internal yaitu faktor yang muncul dari dalam diri seseorang berupa selektivitas atau kemampuan seseorang dalam menerima dan mengolah pengaruh yang datang dari luar. Faktor eksternal yaitu faktor yang berasal dari luar diri seseorang berupa interaksi sosial di luar kelompok. Sikap responden yang sebagian besar berada pada tingkat sedang hingga baik menunjukkan respon positif terhadap pencegahan infeksi di rumah sakit meskipun tingkat pengetahuannya masih rendah.
Tindakan Responden tentang Pencegahan Infeksi di
Mereka menilai waktu paling penting untuk mencuci tangan adalah setelah kontak dengan pasien dan lingkungan rumah sakit, meski tidak semua responden melakukan hal tersebut. Banyaknya pasien yang dirawat menjadi salah satu penyebab sulitnya memantau kondisi pasien setiap saat. Kehadiran keluarga pasien di ruang perawatan secara tidak langsung membantu petugas kesehatan dalam memantau setiap perubahan yang terjadi pada kondisi pasien.
Dan hal ini selalu menjadi dilema di ruang kelas III dan kelas II di rumah sakit umum yang umumnya terdapat di Indonesia. Berdasarkan hasil penelitian juga terlihat bahwa sebagian besar responden tetap tinggal di rumah sakit meskipun kondisi badannya tidak sehat dan lebih lama tinggal di rumah sakit saat berkunjung ke rumah sakit. Mereka mengatakan rasa kekeluargaanlah yang mendorong mereka untuk selalu dekat dengan pasien dan memberikan dukungan moril.
KESIMPULAN DAN SARAN
Saran
Masyarakat atau keluarga pasien yang datang berkunjung ke rumah sakit diharapkan dapat bekerjasama dengan pihak rumah sakit dalam menjaga kebersihan lingkungan rumah sakit. Angka Kejadian dan Faktor Penentu Infeksi Nosokomial Pada Luka Operasi di Rumah Sakit Martha Friska Medan Tahun 2006. Tidak menjenguk pasien pada saat sakit, tidak berlama-lama menjenguk pasien di rumah sakit, mencuci tangan, tidak menindih pasien sambil duduk, menjamin kebersihan lingkungan rumah sakit.
1 Rumah sakit merupakan tempat terjadinya penularan penyakit kepada orang-orang yang berada di lingkungannya. 2 Keluarga pasien bukan merupakan salah satu pihak yang beresiko terjadinya infeksi di rumah sakit dan merupakan penyebab terjadinya infeksi di rumah sakit. 4 Pengunjung atau pasien pendamping wajib bekerjasama dengan pihak rumah sakit dalam menjaga kebersihan lingkungan rumah sakit.