• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERJANJIAN INTERNASIONAL DALAM ISLAM

N/A
N/A
Radinda Aradya N

Academic year: 2023

Membagikan "PERJANJIAN INTERNASIONAL DALAM ISLAM "

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

PERJANJIAN INTERNASIONAL DALAM ISLAM Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Siyasah Dauliyah

Dosen Pengampu: Prayudi Rahmatullah, MHI.

Disusun Oleh:

1. Azizzah Putri A (210203110022) 2. ‘Ainur Rosyida L (210203110023) 3. Radinda Aradya N (200203110033)

PROGRAM STUDI HUKUM TATA NEGARA FAKULTAS SYARIAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG 2023

(2)

ii

Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah- Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “Perjanjian Internasional Dalam Islam” ini tepat pada waktunya.

Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Prayudi Rahmatullah,MHI. selaku dosen mata kuliah Siyasah Dauliyah yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan sesuai dengan studi yang kami tekuni.

Kami juga mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah membagi sebagian pengetahuannya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.

Kami menyadari, makalah ini masih jauh dari kata sempurna dikarenakan terbatasnya pengalaman dan pengetahuan yang kami miliki. Oleh karena itu, kami mengharapkan segala bentuk saran serta masukan bahkan kritik yang membangun dari berbagai pihak. Kami berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi perkembangan dunia pendidikan.

Malang, 29 Oktober 2023

Penyusun

(3)

iii DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...i

DAFTAR ISI ... ii

BAB I (PENDAHULUAN) ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 1

C. Tujuan Masalah ... 1

BAB II (PEMBAHASAN) ... 1

A. Fakta Perjanjian ... 1

B. Perjanjian Ekstradisi ... 2

C. Perjanjian Hudaibiyah ... 3

D. Piagam Madinah ... 4

BAB III (PENUTUP) ... 6

A. Kesimpulan ... 6

Daftar Pustaka ... 7

(4)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Dalam perkembangan ilmu Hukum dewasa ini, Hukum Internasional sebagaimana bidang hukum yang lain .mengalami perkembangan yang luar biasa . Hal ini disebabkan adanya peningkatan dalam hubungan internasional diantara satu negara dengan negara yang lain, baik dalam tingkatan bilateral, regional maupun global. Peningkatan hubungan antar negara tersebut sebagai dampak adanya hubungan-hubungan yang bersifat kerjasama dalam bidang ekonomi, sosial, budaya, politik dan lain sebagainya. Tak kalah pentingnya bahwa hubungan antar negara tersebut dapat dilakukan dalam masa damai maupun dalam masa konflik bersenjata (perang). Oleh karena itu Hukum Internasional secara intensif dikaji di beberapa fakultas,khususnya fakultas hukum baik di universitas negeri maupun swasta. Sebagaimana diketahui bersama, bahwa Hukum Internasional yang dipelajari tersebut adalah Hukum Internasional yang dikembangkan oleh para sarjana barat. Tidak hanya Hukum Internasional saja, tetapi bidang bidang hukum yang lain masih didominasi oleh hokum-hukum yang berasal dari kultur barat, sekalipun beberapa bidang hukum sudah diganti dengan hukum “product” Indonesia. Hal ini wajar, mengingat Indonesia selama 3,5 abad berada di bawah dominasi asing (dijajah). Selain Hukum Internasional bisa disebutkan di sini bahwa Hukum Pidana, Hukum 4 Dagang, Hukum tata Negara adalah bidang bidang hukum yang berkarakter Eropa tersebut. Oleh karena itu Pemerintah Republik Indonesia telah bertekad bahwa dalam Era Reformasi ini sedikit demi sedikit hukum hukum asing tersebut akan digantikan dengan hukum nasional

Adapun mengenai sumber hukum yang sudah disepakati secara internasional dari Hukum Internasional ini adalah : Perjanjian Internasional, Kebiasaan Internasional, prinsip prinsip hukum umum yang diakui oleh bangsa bangsa beradab dan keputusan pengadilan, dan pendapat para sarjana terkemuka di dunia. Demikian dasar hukum yang diambil dari Pasal 38 ayat (1) Statuta Mahkamah Internasional

B. Rumusan Masalah

1. Apa itu Fakta perjanjian ? 2. Apa itu Perjanjian Ektradinsi?

3. Apa itu Perjanjian Hudaibiyah?

4. Apa itu Piagam Madinah itu?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui Apa itu Fakta perjanjian.

2. Untuk mengetahui Apa itu Perjanjian Ektradinsi.

3. Untuk mengetahui Apa itu Perjanjian Hudaibiyah.

4. Untuk mengetahui Apa itu Piagam Madinah.

(5)

2 BAB II PEMBAHASAN 1. Fakta Perjanjian

Kajian siyasah dauliyah, perjanjian disebut dengan istilah al-mu’ahadah. Kata ini berasal dari ‘ahada secara epistimologi, al-„ahd mengandung arti segala bentuk kesepakatan manusia.

Selain pengertian kesepakatan, kata al-‘ahd mengandung perintah Allah SWT. pemeliharaan, perlindungan penghormatan, dan keamanan. Pelaku atau pembuat kesepakatan dinamakan al- mu’ahid. Adapun peristiwa perjanjian dan kesepakatan disebut dengan al-mu’ahadah. Secara operasional, kata al-‘ahd dipergunakan dengan arti, kesepakatan antara dua orang atau dua pihak terhadap suatu objek yang mengikat kedua belah pihak atau salah satu pihak.1 Secara umum kata al-‘ahd (perjanjian) merupakan kesepakatan antara dua orang atau dua kelompok terhadap satu atau beberapa perkara. Bentuk perjanjian ini berbeda-beda bergantung pada pihak-pihak yang melakukan perjanjian. Perjanjian dapat dilakukan oleh dua orang atau dua negara, dapat juga dilakukan antara dua kelompok negara. Jadi makna perjanjian bukan sekedar perjanjian antarnegara. Seluruh bentuk kesepakatan dikategorikan dalam makna perjanjian (al-mu’ahadah) secara bahasa.2

Sebagaimana diungkapkan definisi di atas, adanya perjanjian merupakan bentuk terciptanya hubungan diplomatik satu negara dengan negara lainnya diawali oleh penandatanganan fakta perjanjian. Nabi dan sahabat telah mempraktikkan bagaimana daar al- Islam harus tunduk dan patuh pada fakta perjanjian yang telah disepakati dengan negara lain.

Fakta perjanjian damai yang pertama kali dilakukan nabi dalam sejarah Islam adalah perjanjian Hudaibiyah dengan pihak Quraisy Mekkah pada tahun 6 H.3

Bila dilihat sepintas isi perjanjian ini timpang dan merugikan umat Islam, terutama pasal dua yang mengharuskan ekstradisi secara sepihak. Namun Nabi Muhammad SAW, sebagai pihak yang telah menandatangani perjanjian Hudaibiyah ini tidak punya pilihan kecuali mematuhi dan melaksanakannya. Tidak lama setelah ratifikasi perjanjian ini, Abu Jandal putra Suhail (delegasi kaum Quraisy Mekkah yang menandatangani perjanjian) yang telah memeluk Islam, datang berlutut kepada Nabi dengan keadaan tangan terbelenggu, untuk minta perlindungan dari perlakuan kasar dan siksaan orang Quraisy terhadap dirinya. Suhail bersikeras menghendaki agar anaknya diserahkan kembali ke Mekkah, sesuai dengan perjanjian yang baru saja disepakati. Umar sendiri bermohon kepada Nabi agar melindungi Abu Jandal, namun Nabi tetap pada pendiriannya menghormati perjanjian dan tidak dapat melindungi Abu Jandal. Akhirnya Abu Jandal diekstradisi ke Mekkah.4 Dari dimensi hukum internasional, perbuatan Nabi ini menunjukkan betapa perjanjian yang telah disepakati harus dipatuhi dan tidak boleh dikhianati. Kewajiban memenuhi perjanjian ini dapat dirujuk pada firman Allah dalam Qur‟an surat Al-Maidah ayat satu.

Menurut Islam, Allah menempatkan diri-Nya sebagai pihak ketiga dalam setiap perjanjian yang telah dibuat oleh umat Islam. Oleh karena itu, Allah sangat murka terhadap orang-orang yang melakukan pengkhianatan.5 Fakta perjanjian tersebut berlaku efektif dan dapat dilaksanakan oleh masing-masing pihak, al-Syaibani, tokoh ulama hanafi yang dianggap sebagai peletak dasar hubungan internasional, menegaskan bahwa fakta perjanjian harus dibuat tertulis, lengkap dengan tanggal penulisan, tanggal mulai berlaku dan jangka waktu berlakunya perjanjian. Berdasarkan perjanjian Hudaibiyah yang ditandatangani Nabi SAW dengan kaum Quraisy Mekkah, ulama madzhab Syafi‟I dan Hanafi berpendapat bahwa jangka waktu berlakunya perjanjian tidak boleh

1 Ija Suntana, 2015, Politik Hubungan Internasional Islam (Siyasah Dauliyah), Bandung: CV Pustaka Setia, hal. 51

2 Ibid, Ija Suntana.hal 52

3 Muhammad Iqbal, 2014, Fiqh Siyasah: Kontekstualisasi Doktrin Politik Islam, Jakarta: Prenadamedia Group, hal.

283-286

4 Ibid.

5 Latief Awaludin.M.A, 2012, Ummul Mukminin Al-Qur’an dan Terjemahan untuk Wanita, Jakarta: Penerbit Wali Oasis Terreace Recident, hal. 107

(6)

3

melebihi jangka waktu sepuluh tahun, sedangkan ahli hukum Islam dari Madzhab Maliki menetapkan boleh lebih dari sepuluh tahun, asalkan penyebutannya jelas dalam naskah perjanjian.

Sementara perjanjian dengan kelompok dzimmi berlaku untuk semuanya, sejauh mereka tidak melakukan pelarangan.6 Penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa perjanjian dapat berlaku sementara (mu’aqqatah), sesuai dengan batas waktu yang ditetapkan kedua belah pihak dan bisa pula berlaku selamanya. Kedua bentuk perjanjian ini harus dipatuhi dan tidak boleh dibatalkan secara sepihak oleh umat Islam, kecuali pihak lain tidak menepatinya lagi.

2. Perjanjian Ekstradisi

Ekstradisi berasal dari Bahasa latin yaitu: extradere, atau extradition. Kata tersebut terdiri dari kata “ex” yang artinya keluar dan “tredere” yang artinya memberikan atau menyerahkan.

Istilah ekstradisi ini kemudian lebih dikenal dan dipakai dalam penyerahan pelaku kejahatan dari suatu negara kepada negara yang peminta tersebut.7 Dalam sejarah hubungan antar bangsa- bangsa, ekstradisi diakui sebagai suatu mekanisme dalam mencegah dan memberantas kejahatan lintas negara yang selanjutnya disebut sebagai kejahatan transnasional. Perjanjian ekstradisi juga merupakan bagian dari proses hukum internasional, yang mana juga bagian dari hukum perjanjian internasional.

Ada beberapa teori yang menyatakan tentang ekstradisi dari para ahli hukum internasional terkemuka, yakni diantarannya;

L. Oppenheim, menyatakan: “Extradition is the delivery of an accused or convicted individual to the state on whose territory he is alleged to have commited or to have been convicted of, a crime by the state on whose territory the alleged criminal happens for the time to be”.8 L.

Oppenheim, menyatakan: Ekstradisi adalah penyerahan seseorang yang dituduh atau terpidana ke negara yang wilayah yang dituduh telah melakukan kejahatan, atau seseorang yang sudah dihukum atas kejahatannya oleh negara tempat terpidana tersebut berlindung.

Dalam sejarah dan perkembangan pranata hukum ekstradisi ini, berdasarkan literatur hukum internasional dibuktikan dengan adanya sebuah perjanjian yang sudah tua yang isinya mengatur tentang perjanjian penyerahan atau ekstradisi seorang pelaku kejahatan di suatu negara, yang melarikan diri ke negara lain. Perjanjian ekstradisi ini telah diakui dan diterima oleh para sarjana hukum internasional sebagai hukum kebiasaan internasional. Hal ini memang bisa dipahami karena perjanjian ekstradisi ini memang sudah berumur cukup lama.67 Indonesia sebelumnya, telah mempunyai undang-undang sebagai payung hukum untuk ekstradisi. Pada tanggal 18 Januari 1979, Pemerintah Republik Indonesia mengesahkan Undang-Undang Nomor 1 tahun 1979 tentang ekstradisi. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Pasal 1 Undang- Undang Nomor 1 tahun 1979. Ekstradisi adalah penyerahan oleh suatu negara kepada negara yang meminta penyerahan seseorang yang disangka atau dipidana karena telah melakukan suatu

6 Ibid. hal 285

7 NCB-Interpol Indonesia, “Ekstradisi”, website online (2008), diakses pada 26 Oktober 2023 dari

http://www.interpol.go.id/id/uu-dan-hukum/ekstradisi/definisi-prosedur-dan-implementasiekstradisi/262-ekstradisi

8 L. Oppenheim, “International Law: a treatise” 8 th edition Volume One, (London: Longmans, Green and Co), h.

696.

(7)

4

kejahatan di luar wilayah negara yang menyerahkan dan di dalam yurisdiksi wilayah negara yang meminta penyerahan tersebut karena berwenang untuk mengadili dan memidananya.

konsep ekstradisi dalam hukum internasional yang berlaku selama ini dilakukan berdasarkan perjanjian yang telah dibuat dan disetujui oleh masing-masing negara yang berperan.

Maka, antara negara-diminta dengan negara-peminta harus memuat aturan-aturan mengenai pengertian ekstradisi, asas dan tujuan ekstradisi, syarat-syarat ekstradisi, proses ekstradisi, jenis- jenis kejahatan yang pelakunya dapat diekstradisi, pejabat-pejabat yang terlibat, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan ektradisi. Mengenai substansi ekstradisi internasional dalam hukum Islam menurut teori tindak kejahatannya, dapat disimpulkan dalam hal ini bahwa, teori Imam Abû Hanîfah mirip dengan teori teritorialitas, yaitu aturan pidana itu hanya berlaku secara penuh untuk wilayah-wilayah negeri muslim. Di luar negeri muslim, aturan tadi tidak berlaku lagi, kecuali untuk kejahatan-kejahatan yang berkaitan dengan hak perseorangan (haqq al-adamiy).

Sementara itu Imam Abû Yûsuf berpendapat bahwa sekalipun di luar wilayah negara Muslim, aturan itu tidak berlaku. Akan tetapi, setiap yang dilarang tetap haram dilakukan, sekalipun tidak dapat dijatuhi hukuman. Teori ini mirip dengan teori nasionalitas. Sedangkan Imam Mâlik, Imam Asy-Syâfi'î dan Imam Ahmad berpendapat bahwa aturan-aturan pidana itu tidak terikat oleh wilayah, melainkan terikat oleh subyek hukum. Jadi, setiap muslim tidak boleh melakukan hal- hal yang dilarang dan atau meninggalkan hal-hal yang diwajibkan. Teori ini mirip dengan internasionalitas. para Jumhur Ulama sependapat bahwa pada prinsipnya tiap-tiap kejahatan yang dilakukan oleh penduduk Dâr as-Salâm baik di dalam maupun di luar negeri, tetap dijatuhi hukuman atasnya dengan hukuman sebagaimana yang telah ditetapkan oleh hukum Islam.

Perginya orang bersalah ataupun larinya ke luar negri ke negara yang lain yang termasuk Dâr as- Salâm tidak bisa melepaskan dirinya dari tuntutan tuntutan hukuman itu. Praktek ekstradisi dalam Perjanjian Internasional saat ini telah sesuai dengan aturan hukum Islam yang menghendaki agar penguasa tidak menyerahkan rakyatnya ke negara lain dalam hal penyelesaian kejahatan (terkecuali ada sebab memenuhi isi perjanjian), Ekstradisi bertujuan melindungi harkat dan martabat manusia agar terjamin dan terlindungi hak-hak asasi sebagai individu yang memiliki kedudukan yang sama di hadapan hukum sehingga dapat terbebas dari penindasan dan kesewenang-wenangan hukum, dan jauh dari kezhaliman sebagaimana yang dimaksudkan dalam tujuan penerapan syariat Islam

3. Perjanjian Hudaibiyah

Perjanjian Hudaibiyah adalah perjanjian damai yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dengan kaum Qurays Makah pada Maret 628 M (Dzulqaidah, 6 H). Perjanjian ini adalah perjanjian yang dinilai sebagai peristiwa paling penting dalam sejarah perjuangan Nabi Muhammad SAW. Sebagian besar sejarawan sirah nabawiyah menyebutkan kemenangan kaum muslimin terhadap kaum Qurays Makah tidaklah terjadi pada peristiwa Fathu Makah, tetapi justru terjadi pada peristiwa Perjanjian Hudaibiyah ketika sebagian besar sahabat menilai klausul-

(8)

5

klausul dalam perjanjian sebagai kelemahan dan kekalahan bagi kaum muslimin (Al Ghadban,2008; Al Buthy,2010; Al Muafiri,2010; An Nadwi,2009). Para mufasir menyebutkan perjanjian ini sebagai kemenangan yang nyata dengan merujuk pada turunnya Al-quran Surat Al- fath ayat pertama: “ Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata”.

(Ar Rifai,2010:Quthb,2004)

Dalam hasanah hukum internasional Islam, di samping ayat-ayat Al Quran dan Qiyas atau analogi, perkataan dan apa yang dipraktikan dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW adalah sumber penetapan hukum (Khadduri,1956). Perjanjian Hudaibiyah dalam hal ini menjadi referensi utama para ulama dalam merumuskan prinsip dan hukum perjanjian internasional dalam Islam.

Perjanjian Hudaibiyah menjadi model perjanjian internasional dalam Islam yang paling sahih. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal: pertama perjanjian ini dilakukan langsung oleh Nabi Muhammad saw, kedua perjanjian ini menghasilkan preseden yang sangat kuat tentang perjanjian internasional sebagai salah satu instrumen memperjuangkan Islam, dan ketiga menunjukkan bahwa kemenangan bisa diperoleh justru dengan menaati perjanjian. Kemenangan ini bahkan dikabarkan langsung oleh Allah melalui diturunkannya ayat pertama dari surat Al-fath.

Berdasarkan Perjanjian Hudaibiyah ini para ulama menetapkan kebolehan mutlak melakukan perjanjian damai antara negeri muslim dengan negeri nonmuslim.(Khadduri,2006:Bsoul,2008)

Yang menarik dari Perjanjian Hudaibiyah adalah komitmen Nabi Muhammad saw dan kaum muslimin untuk mematuhi perjanjian yang telah ditandatangani walaupun klausul-klausul dalam perjanjian dianggap sangat merugikan. Penolakan terhadap perjanjian tersebut bahkan ditunjukkan secara verbal oleh tokoh muslim sekaliber Umar bin Khattab. Akan tetapi, pada akhirnya kaum muslimin dapat menerima keputusan Nabi untuk menerima perjanjian Hudaibiyah dan mematuhi semua klausul termasuk yang dianggap sangat merugikan. Oleh karenanya, studi ini akan berfokus pada menjawab pertanyaan mengapa Nabi Muhammad dan kaum muslimin tetap komit dan patuh terhadap Perjanjian Hudaibiyah walaupun klausul-klausulnya dianggap merugikan. Dengan mengkaji permasalahan tersebut diharapkan akan mendapatkan sebuah model kepatuhan terhadap perjanjian internasional dalam perspesktif Islam.

4. Piagam Madinah

Piagam ini merupakan salah satu konstitusi yang paling modern dan pertama dalam sejarah konstitusi dunia. Piagam Madinah ini telah menjadi khazanah yang sangat baik untuk membangun sebuah negara-bangsa yang di satu sisi menjamin kebhinekaan di antara warga negara, dan di sisi lain memberikan jaminan kebebasan beragama.

Piagam Madinah memuat nilai-nilai yang sangat penting, terutama dalam hal kesetaraan antarwarga, kebebasan beragama dan jaminan keamanan. Ketiga hal ini menjadi nilai yang sangat penting dan pada beberapa tahun muktahir diperbincangkan sebagai sebuah keniscayaan dalam demokrasi.

(9)

6

Piagam Madinah pada hakikatnya merupakan sebuah konstitusi yang dilahirkan dari proses demokrasi deliberative, yaitu demokrasi yang bersumber dari aspirasi seluruh penduduk Madinah yang diperkuat dengan sendi-sendi moralitas dan spiritualitas dalam agama islam.9

Piagam tertulis ini dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dengan rakyat Madinah yang terdiri atas kaum Quraisy, kaum Yastrib dan orang-orang yang mengikuti dan berjuang Bersama mereka. Nabi Muhammad SAW menulis dan menandatanganinya sebagai pemimpin yang mereka akui bersama. Peristiwa ini menunjukkan adannya persetujuan Bersama antara Nabi sebagai pemimpin dan rakyat yang dipimpinnya.10

9 Zuhairi Misrawi, Madinah : Kota suci, piagam Madinah, dan teladan Muhammad SAW, 2009

10 H. Zainal Abidin Ahmad, Piagam Madinah : Konstitusi Tertulis Pertama di Dunia, 2014

(10)

7 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan

Perjanjian merupakan kesepakatan yang memberikan akibat hukum, perjanjian juga dapat mengacu kepada traktat dalam hukum internasional kontrak dalam hukum perdata. Pihak- pihak harus mentaati perjanjian itu sama dengan mentaati undang-undang dan jika ada yang melanggar perjanjian yang dibuat dianggap sama dengan melanggar undang-undang dan mempunyai akibat hukum yaitu sanksi hukum.

Perjanjian ekstradisi adalah perjanjian antara anggota negara ASEAN yang terjadi penyerarahan pelaku dari negara negara yang termasuk dalam anggota ASEAN yang tertangkap lalu diserahkan Kembali ke negara asal untuk diproses secara hukum yang berlaku.

Perjanjian hudaibiyah adalah perjanjian yang dilatarbelakangi dengan kesepakatan untuk tidak melakukan peperangan dalam bulan-bulan yang dimuliakan. Perjanjian hudaibiyah mempunyai manfaat yaitu bebas dalam menunaikan agama islam, tidak ada terror dari quraisy, mengajak kerajaan-kerajaan luar seperti Ethiopia-Afrika untuk masuk islam.

Piagam Madinah merupakan konstitusi pertama didunia, dimana ini merupakan perjajian antara Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin umat islam (Muhajirin dan Anshar) dengan para suku dari beragam kaum yang berada di Madinah pada waktu itu. Piagam ini dibuat pada 622 M atau tahun pertama Hijriah.

(11)

8

DAFTAR PUSTAKA

Abu Zahrah, Muhammad.1973. Hubungan-Hubungan Internasional dalam Islam. Terj.Jakarta:

Penerbit Bulan Bintang

Al Buqha, Musthafa dan Misto,Muhyidin.2002. Pokok-Pokok Ajaran Islam: Syarah Arbain An Nawawiyah.Terj. Jakarta: Robbani Press.

An-Nadwi, Abul Hasan Ali Al Hasani. 2009. Sirah Nabawiyah: Sejarah

Bsoul, Labeeb Ahmed.2008.International Treaties (Mu’ahadaat) in Islam: Theory and Practice in the Light of Islamic International Law (siyar) according to Ortodox Schools.Plymouth: University Press of America

Chalil, Moenawar. 2001. Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad SAW. Jilid 4. Terj. Jakarta: Gema Insani Press

Zuhairi Misrawi, 2020, Madinah : Kota suci, piagam Madinah, dan teladan Muhammad SAW, Kompas Penerbit Buku

H. Zainal Abidin Ahmad, 2014, Piagam Madinah : Konstitusi Tertulis Pertama di Dunia, Jakarta : Pustaka Al-Kautsar

Referensi

Dokumen terkait

Kedua belah pihak bersepakat bahwa perjanjian sewa menyewa kendaraan antara pihak pertama dengan pihak kedua ini berlaku sejak tanggal penandatanganan

Menurut ketentuan Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah, hapusnya perjanjian dilaksanakan dengan kesepakatan para pihak, dan akad penghapusan dipandang sah jika dilakukan seperti

• Kebaikan dan Kemurahan Ilahi : Allah telah belas kasihan yang lebih besar kepada orang-orang tidak percaya yang ada dalam perjanjian eksklusif dengan Dia daripada kepada

Dampak pengesahan perjanjian Internasional terhadap hukum Nasional pertama harus dilihat dari kedudukan negara dalam perjanjian Internasional sebagai negara pihak

Ketidak mungkinanya untuk melaksanakan perjanjian tersbeut tidak bisa dimintakan oleh sesuatu pihak sebagai dasar untuk mengakhiri, menunda bekerjanya

Kedua belah pihak telah sepakat untuk mengadakan ikatan perjanjian kerja yang diatur dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut: PASAL I : MASA BERLAKU PERJANJIAN Kedua belah pihak

--- Selanjutnya kedua belah pihak bersepakat bahwa perjanjian sewa – menyewa KENDARAAN antara PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA ini berlaku sejak tanggal penandatanganan surat perjanjian

Selanjutnya kedua belah pihak bersepakat bahwa perjanjian sewa- menyewa KENDARAAN harian antara PIHAK PERTAMA dan PIHAK KEDUA ini berlaku sejak tanggal penandatanganan surat perjanjian