• Tidak ada hasil yang ditemukan

Amandemen Dan Modifikasi Terhadap Perjanjian Internasional

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Amandemen Dan Modifikasi Terhadap Perjanjian Internasional"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

AMANDEMEN DAN MODIFIKASI TERHADAP PERJANJIAN AMANDEMEN DAN MODIFIKASI TERHADAP PERJANJIAN

Cara-cara untuk mengajukan amandemen secara resmi terhadap suatu perjanjian adalah sama Cara-cara untuk mengajukan amandemen secara resmi terhadap suatu perjanjian adalah sama seperti untuk pembuatan suatu perjanjian, kecuali jika ketentuan di dalam perjanjian itu seperti untuk pembuatan suatu perjanjian, kecuali jika ketentuan di dalam perjanjian itu menyatakan dengan beberapa bentuk yang sederhana. Karena itu semua pihak dari perjanjian itu menyatakan dengan beberapa bentuk yang sederhana. Karena itu semua pihak dari perjanjian itu haruslah menyetujui mengenai naskah amandemen, mengesahkan, mengotentikasi dan setiap haruslah menyetujui mengenai naskah amandemen, mengesahkan, mengotentikasi dan setiap negara harus menyatakan kesepakannya. Tatkala naskah amandemen itu diberlakukan kepada negara harus menyatakan kesepakannya. Tatkala naskah amandemen itu diberlakukan kepada semua pihak dari perjanjian aslinya, maka kemudian terdapatlah dua instrumen internasional. semua pihak dari perjanjian aslinya, maka kemudian terdapatlah dua instrumen internasional. Perjanjian aslinya dan perjanjian yang sudah diamandemen.

Perjanjian aslinya dan perjanjian yang sudah diamandemen.

Perjanjian yang sudah diamandemen itu berlaku hanya di antara para pihaknya saja. Sedangkan Perjanjian yang sudah diamandemen itu berlaku hanya di antara para pihaknya saja. Sedangkan  perjanjian aslinya tetap berlaku baik ba

 perjanjian aslinya tetap berlaku baik bagi para pihak yang belum gi para pihak yang belum menjadi pihak dari naskah menjadi pihak dari naskah yangyang sudah diamandemen maupun

sudah diamandemen maupun bagi hubungan negara ybagi hubungan negara yang sudah menjadi ang sudah menjadi pihak dengan pihak dengan merekamereka yang belum menjadi pihak dan naskah yang sudah diamandemen. Tahap transisi ini bisa saja yang belum menjadi pihak dan naskah yang sudah diamandemen. Tahap transisi ini bisa saja  berlangsung

 berlangsung lama, lama, sepeseperti terjadi pada ”Konvensi 1899 mengenai Penyelesaian Sengketarti terjadi pada ”Konvensi 1899 mengenai Penyelesaian Sengketa Internasional Secara Damai”, dimana Inggris menjadi pihak dalam tahun 1900. Sedangkan Internasional Secara Damai”, dimana Inggris menjadi pihak dalam tahun 1900. Sedangkan naskah yang sudah diamandemen telah dibuat pada tahun 1907, Kemudian Inggris menjadi pihak naskah yang sudah diamandemen telah dibuat pada tahun 1907, Kemudian Inggris menjadi pihak  pada Konvensi yang d

 pada Konvensi yang diamandemen baru 63 tahun iamandemen baru 63 tahun kemudian, yaitu pada tanggal kemudian, yaitu pada tanggal 13 Oktober 1970.13 Oktober 1970. Perubahan atau pembuatan amandemen terhadap perjanjian itu tergantung dari kesepakatan para Perubahan atau pembuatan amandemen terhadap perjanjian itu tergantung dari kesepakatan para  pihak.

 pihak. Banyak Banyak perjanjian perjanjian internasional internasional termasuk termasuk Piagam Piagam PBB PBB memuat memuat ketentuan-ketentuanketentuan-ketentuan mengenai cara-cara untuk mengadakan perubahan atau amandemen. Di dalam Aturan Tata Cara mengenai cara-cara untuk mengadakan perubahan atau amandemen. Di dalam Aturan Tata Cara maupun instrumen pokoknya, organisasi internasional menciptakan cara-cara untuk mengadakan maupun instrumen pokoknya, organisasi internasional menciptakan cara-cara untuk mengadakan amandmen. Demikian juga

amandmen. Demikian jugaCovenantCovenantLiga Bangsa-Bangsa yang tidak begitu Liga Bangsa-Bangsa yang tidak begitu eksplisit tercemin dieksplisit tercemin di dalam Pasal 19 dan di dalam Pasal 14 Piagam PBB memuat ketentuan bahwa perubahan secara dalam Pasal 19 dan di dalam Pasal 14 Piagam PBB memuat ketentuan bahwa perubahan secara damai itu dibuat sebagai bagian dari pola untuk menghindarkan dari ancaman terhadap damai itu dibuat sebagai bagian dari pola untuk menghindarkan dari ancaman terhadap  perdamaian.

 perdamaian.

Di samping pembuatan amandemen terhadap perjanjian juga bisa diadakan modifikasi apabila Di samping pembuatan amandemen terhadap perjanjian juga bisa diadakan modifikasi apabila  beberapa

 beberapa pihak pihak membuat membuat beberapa beberapa persetuan persetuan secara secara bersama-sama bersama-sama ((inter se agreement inter se agreement ) untuk) untuk mengadakan perubahan mengenai penerapan perjanjian di antara mereka sendiri. Di lain pihak mengadakan perubahan mengenai penerapan perjanjian di antara mereka sendiri. Di lain pihak modifikasi juga bisa dihasilkan dari pembuatan suatu perjanjian berikutnya atau munculnya modifikasi juga bisa dihasilkan dari pembuatan suatu perjanjian berikutnya atau munculnya norma yang pasti dalam hukum internasional secara umum.

(2)

Dalam rancangan terakhir dari Komisi Hukum Internasional misalnya, dinyatakan bahwa “suatu  perjanjian dapat dimodifikasi oleh tindakan berikutnya yaitu dalam penerapan perjanjian yang

membuat persetujuan para pihak, untuk memodifikasi ketentuan-ketentuannya”. Pasal mengenai masalah ini telah ditolak dalam Konverensi Wina atas dasar bahwa aturan semacam itu dapat menciptakan ketidakstabilan. Hasil ini tidaklah memuaskan.

Pertama karena Pasal 39 Konvensi menyatakan bahwa suatu perjanjian dapat diberikan amandemen dengan persetujuan tanpa memerlukan formalitas untuk menyatakan persetujuan. Kedua, suatu pembuatan yang konsisten bisa memberikan bukti secara meyakinkan mengenai kesepakatan bersama untuk suatu perubahan. Ketiga, modifikasi semacam ini terjadi dalam  praktek (misalnya dalam persetujuan mengenai zona perikanan sebagai bentuk dari zona

tambahan untuk tujuan Konvensi mengenai Laut Wilayah).

Istilah modifikasi digunakan juga sebagai persamaan dari amandemen. Baik amandemen maupun modifikasi keduanya menyangkut perubahan kecil terhadap suatu perjanjian. Jika terjadi  perubahan secara umum maka hal itu merupakan revisi dan ada kalanya revisi tersebut diatur

oleh ketentuan dalam perjanjian.

Sesuai dengan aturan umum dalam hukum perjanjian, maka pada perjanjian internasional itu dapat diadakan perubahan (amandemen). Prosedur pembuatan amandemen secara resmi terhadap sesuatu perjanjian internasional sampai diberlakukannya amandemen tersebut diatur sama dengan prosedur pembuatan perjanjian itu sendiri sampai diberlakukannya, kecuali jika  perjanjian itu sendiri menyatakan yang lain. Oleh karena itu para pihak harus menyetujui naskah

amandemen tersebut, menyetujui, mengotentikasinya, serta tiap-tiap pihak menyatakan kesepakatan masing-masing untuk mengikatkan diri pada isi dari amandemen tersebut.

 Namun setelah naskah amandemen itu telah berlaku untuk semua pihak dari perjanjian aslinya, maka kemudian terdapat dua instrumen. Perjanjian yang sudah diamandemen hanya diantara  pihak-pihak dari perjanjian tersebut. Sedangkan perjanjian aslinya tetap diberlakukan baik untuk  pihak-pihak yang belum menjadi pihak pada naskah amandemen maupun hubungan antara negara yang sudah menjadi pihak dan negara-negara yang belum menjadi pihak terhadap naskah amandemen.

(3)

Perubahan secara umum terhadap suatu perjanjian merupakan revisi dan ada kalanya revisi itu diatur oleh ketentuan dalam perjanjiann itu sendiri. Dalam ketentuan umum mengenai kodifikasi, suatu perjanjian dapat diubah sewaktu-waktu dengan persetujuan dari para pihak. Hal itu seperti tercemin dalam Pasal 39 Konvensi Wina 1969 yang mengatur tentang “Aturan Umum Mengenai Pembuatan Amandemen Terhadap Perjanjian” yang berbunyi sebagai berikut:

 Article 39

General rule regarding the amendment of treaties

 A treaty may be amended by agreement between the parties. The rules laid down in Part II apply to such an agreement except insofar as the treaty may otherwise provide.

Mengenai perubahan atau amandemen terhadap perjanjian multilateral ini tidak mengharuskan adanya prakarsa dari semua negara pihak dari perjanjian tersebut. Namun setiap usul perubahan  baik dalam bentuk amandemen atau revisi haruslah diberitahukan kepada semua negara pihak

dan semuanya berhak untuk ikut serta dalam mengambil keputusan tentang kelanjutan usul  perubahan tersebut. Jika dianggap perlu para pihak mempunyai hak untuk berunding membuat  persetujuan modifikasi. Keputusan yang diambil harus sesuai dengan suara mayoritas. Ratifikasi terhadap berlakunya perjanjian baru tersebut yang sudah diamandemen tidak diperlukan secara aklamasi (umanimous).

Hak kedaulatan negara-negara yang tidak meratifikasi perjanjian yang sudah diamandemen tersebut dilindungi dan hak-hak mereka dijamin karena bagi mereka tidak diberlakukan  perjanjian baru itu. Namun negara-negara yang menerima perjanjian baru itu pada umumnya

dengan syarat-syarat tertentu masih dapat mengajukan keberatan-keberatan (reservation). Hubungan antara negara-negara yang belum/tidak menerima dan negara-negara yang menerima  perjanjian baru masih tetap diatur oleh perjanjian aslinya. Mengenai amandemen terhadap  perjanjian khususnya perjanjian multilateral telah dimasukkan dalam Pasal 40 Konvensi Wina

1969 yang menyatakan berikut ini:

 Article 40

 Amendment of multilateral treaties

1. Unless the treaty otherwise provides, the amendment of multilateral treaties shall be governed by the following paragraphs.

(4)

2. Any proposal to amend a multilateral treaty as between all the parties must be notified to all the contracting States, each one of which shall have the right to take part in:

(a) the decision as to the action to be taken in regard to such proposal;

(b) the negotiation and conclusion of any agreement for the amendment of the treaty.

3. Every State entitled to become a party to the treaty shall also be entitled to become a party to the treaty as amended.

4. The amending agreement does not bind any State already a party to the treaty which does not  become a party to the amending agreement; article 30, paragraph 4 (b), applies in relation to

such State.

5. Any State which becomes a party to the treaty after the entry into force of the amending agreement shall, failing an expression of a different intention by that State:

(a) be considered as a party to the treaty as amended; and

(b) be considered as a party to the unamended treaty in relation to any party to the treaty not  bound by the amending agreement.

Setiap usul untuk mengadakan perubahan terhadap perjanjian multilateral, semua pihak harus memberitahukan kepada semua negara pihak, dimana setiap negara akan mempunyai hak untuk ikut serta dalam:

i. Keputusan tentang tindakan yang akan diambil mengenai usul tersebut. ii. Perundingan dan persetujuan mengenai perubahan perjanjian tersebut.

Setiap negara yang berhak untuk menjadi pihak dari perjanjian tersebut mempunyai hak pula untuk menjadi pihak dari perjanjian yang sudah mengalami perubahan. Persetujuan yang diubah tidak mengikat setiap negara yang sudah menjadi pihak dari suatu perjanjian yang tidak menjadi  pihak dari persetujuan yang diubah tersebut.

Suatu negara yang menjadi pihak dari perjanjian setelah persetujuan yang diubah itu berlaku harus dianggap sebagai pihak dari perjanjian yang sudah diubah dan juga dianggap sebagai pihak dari perjanjian yang belum diubah dalam hubungannya dengan setiap pihak dari perjanjian tidak terikat oleh persetujuan yang diubah.

Perubahan secara bersama-sama (inter se) hanya dilakukan pada perjanjian multilateral yang hanya berlaku pada negara-negara tertentu saja. Perubahan terhadap suatu perjanjian harus

(5)

dilakukan dalam bentuk tertulis, yaitu dengan membuat konvensi baru dengan mengikuti  prosedur yang sama dengan pembuatan suatu perjanjian, dari perundingan, penerimaan naskah

akhir, pengesahan naskah, persetujuan untuk mengikat sampai dengan mulai berlakunya.

Beberapa negara pihak dari konvensi multilateral bisa bertindak lebih jauh terhadap naskah yang sudah ada di dalam konvensi. Untuk itu mereka kemudian bisa membuat persetujuan pelengkap dalam kerangka perjanjian induknya. Modifikasi semacam itu bisa diperbolehkan melalui  perjanjian. Jika tidak, pihak yang ingin mengadakan modifikasi harus memberitahukan kepada  pihak lainnya mengenai maksudnya itu, agar dapat memberikan kesempatan kepada mereka baik

untuk ikut dalam perundingan atau menolaknya.

Suatu penolakan hanya berlaku jika notifikasi itu tidak sesuai dengan pelaksanaan tujuan dan maksud dari perjanjian secara efektif. Atau akan bisa berpengaruh terhadap pemberian hak-hak mereka dari pihak-pihak lainnya sesuai dengan Pasal 41 Konvensi Wina 1969, dinyatakan sebagai berikut:

 Article 41

 Agreements to modify multilateral treaties between certain of the parties only

1. Two or more of the parties to a multilateral treaty may conclude an agreement to modify the treaty as between themselves alone if:

(a) the possibility of such a modification is provided for b y the treaty; or (b) the modification in question is not prohibited by the treaty and:

(i) does not affect the enjoyment by the other parties of their rights under the treaty or the  performance of their obligations;

(ii) does not relate to a provision, derogation from which is incompatible with the effective execution of the object and purpose of the treaty as a whole.

2. Unless in a case falling under paragraph 1 (a) the treaty otherwise provides, the parties in question shall notify the other parties of their intention to conclude the agreement and of the modification to the treaty for which it provides.

Referensi

Dokumen terkait

stantive dapat dianggap sebagai mempunyai ni- lai keadilan yang diterima oleh banyak negara, oleh karenanya hakim nasional dapat mengam- bil substansi yang terdapat dalam

Jika perjanjian atau konvensi hanya mengatur norma yang ada yang sudah mengikat pada negara sebagai hukum kebiasaan internasional, negara bukan peserta pada perjanjian

28 Di Negara Amerika Serikat (AS), apabila suatu Perjanjian Internasional tidak bertentangan dengan Konstitusi maka isi Perjanjian dianggap menjadi bagian Hukum yang

1) Traktat (Treaty) Artinya, perjanjian yang dilakukan oleh dua negara atau lebih yang sifatnya lebih formal karena mempunyai kekuatan hukum yang lebih mengikat bagi pihak- pihak

dapat diubah (peremptory),yang tidak boleh diabaikan, dan yang karenanya dapat berlaku untuk membatalkan suatu traktat atau perjanjian antara negara-negara dalam hal traktat itu

Gereja Katolik secara khusus memberi perhatian mengenai perjanjian internasional ini dalam Kitab Hukum Kanonik kanon 3. Di sana diuraikan secara gamblang mengenai prosedur pelaksanaan perjanjian antara Vatikan dengan negara lain. Perlu diingat juga bahwa perjanjian yang dibuat oleh Vatikan dengan negara-negara lain bukanlah perjanjian politis melainkan perjanjian pastoral. Hal tersebut tentu menjadi indikasi tidak adanya kepentingan politis, tetapi lebih sebagai upaya untuk menjamin keberadaan dan hak umat Katolik yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Lalu bagaimana kanon 3 ini menunjukkan perannya dalam kehidupan Gereja Katolik di tengah dunia? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, penulis akan membahasnya dalam paper

Oleh karena itu, Allah sangat murka terhadap orang-orang yang melakukan pengkhianatan.5 Fakta perjanjian tersebut berlaku efektif dan dapat dilaksanakan oleh masing-masing pihak,

Perbedaan hukum nasional dan ketentuan hukum kontrak masing- masing negara membuka peluang terjadinya konflik dan sengketa, sehingga pilihan hukum menjadi kebebasan para pihak dalam suatu kontrak untuk memilih hukum mana yang akan digunakan dan berlaku bagi para pihak dalam suatu perjanjian