Perjanjian Kerja Sama Pemilik Kapal dan Nelayan Bidang Ekonomi Islam di Pasar Palik, Bengkulu Utara. Subyek dalam penelitian ini adalah nelayan dan pemilik perahu di desa Pasar Palik Bengkulu Utara. Tinjauan Hukum Islam Tentang Sistem Kerjasama Nelayan dan Pemilik Kapal (Studi Pada Masyarakat Nelayan Kabupaten Takalar) (Makassar: Universitas Muhammadiyah Makassar, 2020), hal.
4 Eka Lupita Sari, Tesis: “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Sistem Kerjasama Nelayan dan Pemilik Kapal di Pelabuhan Tamperan Kabupaten Pacitan” (Ponorogi: IAIN Ponorogo, 2018), hal. Bagaimana perjanjian kerjasama antara pemilik kapal dan nelayan di pasar palik Bengkulu Utara. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui bagaimana perjanjian kerjasama antara pemilik kapal dan nelayan dalam perekonomian syariah di pasar Palik Bengkulu Utara.
Secara teoritis, manfaat penelitian ini adalah diharapkan dapat memberikan informasi mengenai praktik kerjasama antara pemilik kapal dan nelayan di pasar Palik Benggala Utara. Ketiga, disertasi Rita Amalia (2021), dengan judul penelitian “Sekilas Fiqih Muamalah Kerjasama Pemilik Kapal dan Nelayan (Studi Kasus di Pelabuhan Muara Angke Jakarta Utara)”. 16 Slamet Prihatin, Tesis: “Evaluasi hukum terhadap sistem kerjasama antara nelayan dan pemilik kapal (studi pada masyarakat nelayan.
18 Slamet Prihatin, Tesis: “Tinjauan hukum sistem kerjasama antara nelayan dan pemilik kapal (kajian pada Komunitas Nelayan Kabupaten Takalar)” (Makassar: Universitas Muhammadiyah Makassar, 2020), hal. 34.
PENDAHULUAN
- Rumusan Masalah
- Tujuan Penelitian
- Kegunaan Penelitian
- Penelitian Terdahulu
- Metode Penelitian
- Jenis Penelitian
- Lokasi Penelitian
- Subjek Penelitian
- Sumber Data
- Teknik Analisis Data
- Sistematika Penulisan
- Akad (Perjanjian)
- Rukun Mudharabah
- Syarat Sah Mudharabah
- Jenis Mudharabah
- Nisbah Mudharabah
- Risiko Kerugian dalam Mudharabah
- Perkara yang MembatalkanMudharabah
- Berakhirnya Mudharabah
Nampaknya dapat dipahami bahwa mudharabah atau kirai adalah suatu perjanjian antara pemilik modal (harta) dan pengelola modal tersebut dengan syarat kedua belah pihak memperoleh penghasilan sesuai dengan jumlah yang disepakati. Sejumlah ulama berpendapat bahwa rukun mudharabah ada tiga, yaitu dua orang yang melaksanakan akad (al-aqidani), modal (ma'qud alayh) dan shighat (izin dan kabul). lebih menerima lima pilar yaitu modal, kerja, keuntungan, shigat dan dua orang yang mempunyai akad (Syafe’i, 2000). Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa mudharabah adalah perjanjian kerjasama antara pemilik modal (shahibul mal) dan pengusaha (mudharib), dimana pemilik modal menyerahkan modalnya kepada mudharib untuk dijadikan produktif.
Ulama Hanafi menyatakan bahawa rukun mudharabah ialah ijab dan kabul yang diucapkan oleh dua orang yang berakad, tidak perlu lafaz yang khusus, tetapi akad itu lengkap dengan lafaz yang menunjukkan maksud mudharabah. Disyaratkan bahawa orang yang akan melaksanakan perintah itu, iaitu pemilik modal dan pengusaha, adalah pakar dalam perwakilan atau perwakilan, kerana mudharib bekerja pada harta pemilik modal, iaitu ejen. Ulama Hanafi berpendapat sekiranya pemilik modal menetapkan kerugian ditanggung oleh kedua-dua pihak, maka akad tersebut ditamatkan, tetapi mudharabah tetap sah.
Sedangkan jika pemilik modal menuntut agar seluruh keuntungannya diberikan kepadanya, maka hal tersebut tidak disebut mudharabah, melainkan pedagang. Namun tidak diperbolehkan menetapkan jumlah tertentu kepada pihak lain, misalnya menetapkan jumlah tertentu untuk satu pihak dan sisanya untuk pihak lain, seperti menetapkan keuntungan sebesar 1.000 kepada pemilik modal dan sisanya diserahkan kepada pengusaha. Pemilik modal tidak boleh mewajibkan mudharib menanggung kerugian yang timbul karena dialah yang menerima amanah.
Menurut istilah fiqh, jika suatu transaksi gagal sehingga mengakibatkan terpakainya sebagian atau bahkan seluruh modal yang ditanamkan oleh pemilik modal, maka yang menanggung kerugian hanyalah shahib al-mal sendiri. Semua itu apabila syarat-syarat dan larangan-larangannya dipenuhi, yaitu orang yang mengadakan akad mengetahui pemberhentian itu, dan modal diserahkan pada saat atau larangan itu. Sejumlah ulama berpendapat bahwa mudharabah tidak sah jika salah satu aqidah meninggal dunia, baik pemilik modal maupun pengusaha.
Jika pemilik modal keluar (meninggalkan Islam) atau meninggal dunia dalam keadaan murtad, atau bergabung dengan musuh dan diputuskan oleh hakim untuk keluar, menurut Imam Abu Hanifah, hal ini membatalkan mudharabah karena bergabung dengan musuh adalah sama dengan kematian. Salah satu pihak menyatakan kontraknya batal, atau pekerja dilarang melakukan upaya hukum terhadap modal yang diberikan, atau pemilik modal menarik modalnya. Begitu pula dengan mudharabah yang batal jika modalnya dikeluarkan oleh pemilik modal sehingga tidak ada lagi yang tersisa untuk dikelola oleh pekerja.
GAMBARAN OBJEK PENELITIAN
Potensi Sumber Daya Alam
Luas wilayah Desa Pasar Palik adalah 760 ha, dimana 65% diantaranya merupakan topografi dataran dan perbukitan, dan 35% lahannya digunakan sebagai lahan pertanian hutan tropis dan perkebunan. Iklim desa Pasar Palik sama seperti desa-desa lain di Indonesia yang beriklim kering dan hujan, hal ini berdampak langsung terhadap pola tanam pada lahan pertanian di desa Pasar Palik kecamatan Air Napal. Tata guna lahan Desa Telaga Dalam dapat dilihat pada tabel berikut: 34.
Potensi Sumber Daya Manusia
Persentase bagi hasil kerjasama antara pemilik perahu dan nelayan di Desa Pasar Palik berbeda-beda tergantung kesepakatan awal saat perjanjian kerjasama tersebut dibuat. Dari hasil wawancara yang dilakukan peneliti kepada pemilik kapal dan nelayan, sistem kerjasama yang digunakan relatif sama. Tinjauan Hukum Islam tentang Sistem Kerjasama Nelayan dan Pemilik Kapal (Studi pada Masyarakat Nelayan Kabupaten Takalar).
Tinjauan Hukum Islam tentang sistem pembebanan risiko kerugian usaha pada kerjasama bagi hasil antara nelayan dan pemilik kapal (studi kasus di Desa Penimbangjaya Kecamatan Panimbang Kabupaten Pandeglang). Subyek penelitian ini adalah pemilik perahu dan nelayan gotong royong di Desa Pasar Palik Kecamatan Air Napal Kabupaten Bengkulu Utara. Berdasarkan penelitian di lapangan, praktik koperasi yang dilakukan oleh pemilik kapal dan nelayan di Desa Pasar Palik termasuk dalam kerjasama mudharabah.
Berdasarkan hasil observasi awal di Desa Pasar Palik, Kecamatan Air Napal, Kabupaten Bengkulu Utara, terdapat aksi partisipasi antara pemilik perahu dan nelayan. Majalah ini membahas tentang sistem bagi hasil antara pemilik kapal dan nelayan dari hukum Islam. Sistem kerjasama antara pemilik kapal dan nelayan hanya sebatas bekerja dan mendapatkan hasil.
Besarnya pembagian keuntungan antara pemilik perahu dan nelayan di Desa Pasar Palik berbeda-beda tergantung kesepakatan yang mendasari saat membuat perjanjian kerjasama. Dari tiga skema bagi hasil yang diperkenalkan, masing-masing memberikan manfaat yang sama kepada pemilik perahu dan nelayan. Dalam kerjasama antara pemilik kapal dan nelayan di Desa Pasar Palik, alokasi risiko tiap kapal berbeda-beda.
Kerjasama yang dilakukan oleh pemilik perahu dan nelayan di desa Pasar Palik termasuk dalam kerjasama mudharabah. Dari ketiga pembagian keuntungan yang diterapkan, masing-masing sama-sama bermanfaat bagi pemilik kapal dan nelayan. Penentuan risiko yang dilakukan di desa Pasar Palik mempunyai 2 sistem kerjasama dimana penentuan risiko sepenuhnya ditanggung oleh pemilik kapal.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pembahasan
PENUTUP
Saran
Tinjauan Hukum Islam pada Sistem Kerjasama Nelayan dan Pemilik Kapal di Pelabuhan Tamperan Kabupaten Pacitan. Tinjauan Hukum Islam pada Sistem Kerjasama Nelayan dan Pemilik Kapal di Pelabuhan Tamperan Kabupaten Pacitan. Atas dasar itulah penulis berencana mengangkat permasalahan ini sebagai objek kajian dengan judul “Praktik Akad Mudharabah antara Pemilik Perahu dan Nelayan di Pasar Palik Bengkulu Utara”.
Jurnal oleh Zainul Musthofa, Siti Aminah berjudul: Sistem bagi hasil dalam perspektif hukum Islam antara pemilik kapal nelayan dan anak buah kapal di desa Paloh Paciran. Jurnal Busrah berjudul: Implementasi Akad Musyarakah antara Punggawa Pappalele, Pemilik Kapal dan Nelayan Ditinjau dari Hukum Islam. Persamaan penelitian terdahulu dengan penelitian ini adalah sama-sama membahas tentang sistem bagi hasil antara pemilik kapal dan nelayan.
Kedua, menggunakan metode wawancara yang bertujuan untuk memperoleh informasi dari pemilik kapal dan nelayan mengenai akad mudharabah antara pemilik kapal dan nelayan. Jika ikan sudah terjual seluruhnya, biaya modal dipotong dan kemudian dibagikan antara pemilik perahu dan nelayan sesuai kesepakatan (Ruslan, 2021). Berdasarkan hasil kajian lapangan yang dilakukan peneliti mengenai perjanjian bagi hasil antara pemilik perahu dengan nelayan di Desa Pasar Palik, kerjasama ini dilakukan secara lisan, jika nelayan ingin melaut bersama pemilik perahu nelayan cukup datang ke pelabuhan. .
Perjanjian kerjasama yang terjalin antara pemilik perahu dengan nelayan di desa Pasar Palik dilakukan secara lisan, tidak ada perjanjian tertulis, hanya atas kepercayaan kedua belah pihak. Perjanjian antara pemilik kapal dengan nelayan di desa Pasar Palik sesuai dengan syariat Islam karena memenuhi rukun dan syarat-syarat akad. Adanya perjanjian lisan dan qabul antara pemilik perahu dan nelayan, dan yang melaksanakan akad adalah orang yang telah mencapai usia tua (tamyiz), berakal sehat (aqil) dan bebas dari tekanan (mukhtar). .
Praktek pembebanan risiko kerugian usaha kerjasama antara nelayan dan pemilik kapal di Desa Pasar Palik Kecamatan Air Napal Kabupaten Bengkulu Utara. Dari hasil wawancara yang dilakukan peneliti di Desa Pasar Palik dengan 3 orang pemilik kapal dan 3 orang nelayan, terdapat 2 sistem kerjasama dimana beban resiko akan sepenuhnya ditanggung oleh pemilik kapal. Dari proporsi bagi hasil yang diterapkan oleh pemilik kapal di Desa Pasar Palik, proporsi bagi hasil yang paling menguntungkan bagi nelayan adalah proporsi 30% : 70%.
Sebab dalam akad mudharab kerugian dipandang sebagai bagian dari modal yang rusak dan hanya ditanggung oleh pemilik modal atau pemilik kapal. Tinjauan Hukum Islam pada Sistem Kerjasama Nelayan dan Pemilik Kapal di Pelabuhan Tamperan Kabupaten Pacitan.