• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN HUKUM TERHADAP TRANSAKSI ELEKTRONIK (E-COMMERCE) DI ERA 4.0

N/A
N/A
ritika adiba

Academic year: 2023

Membagikan "PERKEMBANGAN HUKUM TERHADAP TRANSAKSI ELEKTRONIK (E-COMMERCE) DI ERA 4.0"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

PERKEMBANGAN HUKUM TERHADAP TRANSAKSI ELEKTRONIK (E-COMMERCE) DI ERA 4.0

Dosen Pengampu:

Nuzulia Kumala Sari, S. H., M. H.

Disusun Oleh:

1. NUR AZIZAH HUSNYYATIE (210710101059) 2. RITIKA SAHZANA ADIBA (210710101065) 3. BULAN ATHA WIDOWATI (210710101095)

PROGRAM STUDI S1 ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM

UNIVRSITAS JEMBER 2021

(2)
(3)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita ucapkan atas kehadirat Allah SWT karena dengan limpahan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga makalah ini dapat tersusun dengan baik. Tak lupa sholawat serta salam kita curahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Penulis mengangkat sebuah judul Perkembangan Hukum E-commerce di Era 4.0, yang merupakan tugas Mata Kuliah Pengantar Hukum Indonesia.

Tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada Dosen Pengampu Mata Kuliah Pengantar Hukum Indonesia yang telah memberikan tugas ini, serta kepada pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik pikiran maupun materinya dalam menyelesaikan makalah ini. Kami merasa masih bahwa masih banyak kekurangan dalam menyusun makalah ini karena keterbatasan dan pengalaman penulis.

Kami berharap para pembaca dapat memberikan kritik serta saran yang membangun dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Jember, 26 November 2021

Penulis

(4)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...i

DAFTAR ISI...ii

BAB I PENDAHULUAN...1

1.1 Latar Belakang...1

1.2 Rumusan masalah...2

1.3 Tujuan...2

BAB II LANDASAN TEORI...3

2.1E-commerce...3

2.2 Pengaturan Hukum dalam E-commerce di Indonesia...4

2.3 Perizinan dan Aspek Legalitas...9

2.4 Peran Pemerintah dalam Mendukung pembangunan Bisnis E-commerce...9

BAB III PENUTUP...11

3.1 Simpulan...11

3.2 Saran...12

DAFTAR PUSTAKA...13

(5)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Dunia bisnis semakin berkembang setelah kehadiran e-commerce di Indonesia. Lahirnya e-commerce di Indonesia bermula dari hadirnya IndoNet.

Kemudian, pada tahun 1996 muncul Dyviacom Intrabumi atau D-Net yang dianggap sebagai perintis jual beli online. Pada mulanya, penggunaan internet hanya sebatas menampilkan produk. Akan tetapi, untuk transaksi pembayaran penjual dan konsumen harus saling bertemu. Setelah berkembangnya teknologi yang semakin maju hadir pula toko online. Pada tahun 2008, DPR telah membuat Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Pada tahun 2010-2011, e-commerce di Indonesia mulai bermunculan.

Salah satunya Go-Jek. Aplikasi ini mulanya hanya mengantar dan menjemput pelanggan. Seiring berjalannya waktu, fiturnya bertambah dengan pemesanan makanan, telepon, tagihan listrik, pembayaran parkir, dan sebagainya. Adanya kemunculan Go-jek membuat e-commerce yang lain bermunculan seperti Tokopedia, Shopee, Bukalapak, dan sebagainya. Dengan dibuatnya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 81 Tahun 2012 tentang Penyelenggara Sistem dan Transaksi Elektronik.

Pada masa ini e-commerce sangat diminati semua kalangan di Indonesia.

Hampir semua konsumen transaksi dengan menggunakan e-commerce. E- commerce di Indonesia sangat berpengaruh di semua kalangan. Pada waktu tertentu e-commerce memberikan penawaran harga yang menarik bagi para konsumen. Apalagi dengan adanya sistem gratis ongkir membuat para konsumen langsung melakukan transaksi belanja. Semua itu hanya butuh klik dan tranksaksi terjadi. Pada tahun 2016, terjadi perubahan UU Nomor 11 menjadi Undang-Undang Nomor 19 tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

E-commerce sangat berdampak bagi Indonesia. Dengan adanya e- commerce pemerintah Indonesia sangat mendukung. Hal tersebut dikarenakan pajak yang dikenakan dari setiap tranksaksi berguna bagi perkembangan ekonomi di Indonesia. Pemerintah membuat peraturan yang mendukung e- commerce di Indonesia. Pemerintah mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 74 Tahun 2017 tentang Peta Jalan Sistem Perdagangan Nasional Berbasis Elektronik.

E-commerce di Indonesia semakin menjanjikan. Sejalan dengan semakin banyaknya perusahaan yang mulai mengembangkan usahanya ke ranah digital.

(6)

Indonesia diprediksi menjadi negara dengan e-commerce terbesar terbesar di Asia tenggara. Julia kwan, event penyelenggara acara independen tertua asal Inggris berkata, “Indonesia telah menjadi salah satu pasar terbesar dalam inovasi digital dan kami senang mempersebahkan Future Commerce Indonesia 2019 sebagai bagian dari dukungan bagi ekonomi digital Indonesia.”1 Acara tersebut tempat bagi pemain ekonomi digital bertuker ide, pemikiran, dan inovasi guna membentuk masa depan bisnis komersial di era digital ekonomi. Ratusan terobosan teknologi dari brand local dan global serta startup di bidang e- commerce akan hadir. Pada tahun 2019 telah dibuat Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 80 Tahun 2019 tentang Perdagangan Melalui Sistem Elektronik.

1.2 Rumusan Masalah 2. Apa itu e-commerce?

3. Bagaimana perkembangan hukum e-commerce di Indonesia?

4. Bagaimana perizinan dan legalitas e-commerce di Indonesia?

5. Bagaimana peran pemerintah dalam pembangunan bisnis e-commerce?

1.3 Tujuan

2. Menjelaskan sejarah e-commerce

3. Memaparkan perkembangan e-commerce di Indonesia

4. Memaparkan perizinan dan legalitas e-commerce di Indonesia?

5. Menjelaskan peran pemerintah dalam pembangunan bisnis e-commerce?

1 Ermadi, A. A. (2018). Mau Tahu Masa Depan E-Commerce di Indonesia? Diakses 25 November 2021. (https://www.digination.id/read/011828/mau-tahu-masa-depan-ecommerce-di-indonesia).

(7)

BAB II

LANDASAN TEORI 2.1E-commerce

Pada saat ini, teknologi informasi sangat mudah didapatkan dan ditemukan di semua lini kegidupan masyarakat karena telah mengalami kemajuan yang sangat cepat. Kemajuan teknologi telah membawa perubahan dan pergeseran dalam kehidupan tanpa batas di era globalisasi ini. Teknologi informasi di Indonesia telah berkembang pesat serta terus berinovasi hingga semakin canggih. Perkembangan tersebut menghadirkan berbagai macam fasilitas telekomunikasi yang mampu mempermudah kehidupan masyarakat.

Kemudahan tersebut juga dirasakan oleh salah satu bidang, yaitu ekonomi terutama dalam transaksi perdagangan. Melalui teknologi informasi dan juga internet, perdagangan dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja tanpa terhalang oleh apa pun.

Berbagai informasi dapat disajikan tanpa memandang jarak satu sama lain dan bila masyarakat ingin mengadakan suatu transaksi juga dapat dilakukan tanpa harus bertemu secara langsung. Manusia juga dapat melakukan transaksi perdagangan di kota bahkan negara lain tanpa terhalang oleh batas-batas teritorial. Cukup melalui produk teknologi informasi mereka bisa melakukan kegiatan tersebut secara mudah. Hal tersebut mampu dilakukan karena terdorong oleh perkembangan teknologi informasi dalam bidang perdagangan atau bisnis.

Manusia dapat meraih keuntungan dalam hal efisiensi, efektifitas, dan mobiltas dari kegiatan tersebut. Adanya kolaborasi antara kegiatan perdagangan dan teknologi informasi memunculkan suatu contoh kemajuan dari teknologi informasi yang disebut E-commerce (Electronic commerce).

E-commerce merupakan proses jual beli atau pertukaran barang atau jasa dan informasi dengan menggunakan teknologi informasi dan juga internet.

Menurut David Baum (1999) adalah satu set teknologi, aplikasi-aplikasi, dan proses bisnis yang dinamis untuk menghubungkan perusahaan, konsumen, dan masyarakat melalui transaksi elektronik dan pertukaran barang, pelayanan, dan informasi yang dilakukan secara elektronik.2 Sedangkan menurut Laudon (1998) adalah suatu proses untuk menjual dan membeli produk-produk secara elektronik oleh konsumen dan dari perusahaan ke perusahaan dengan perantara komputer yaitu memanfaatkan jaringan komputer.3 Transfer dana elektronik, pertukaran data elektronik sistem manajemen inventori otomatis, dan sistem pengumpulan data terlibat ke dalam E-commerce.

2 BPPTIK. (2014). E-Commerce. Diakses 25 November 2021.

(https://bpptik.kominfo.go.id/2014/12/19/645/e-commerce/).

3 Ibid.

(8)

Istilah E-commerce berkesan sempit bagi sejumlah orang. Banyak yang lebih menyukai istilah e-business yang mengacu pada definisi e-commerce secara luas, yang tidak hanya menjual dan membeli, tetapi juga berarti melayani pelanggan dan berkolaborasi dengan partner bisnis, serta pelaksanaan transaksi elektronik dalam suatu organisasi

Laudon et al. (2014, 28-32) berpendapat bahwa sejarah e-commerce terbagi dalam tiga periode, yaitu Invention, Consolidation, dan Reinvention.4 Invention merupakan penemuan yang dimulai pada tahun 1995 hingga berakhir pada tahun 2000. Tahun 1995 penggunaan web pertama kali digunakan sebagai alat untuk mengiklankan produk. Pada periode ini e-commerce hanya mempromosikan suatu produk melalui iklan statis yang ditampilkan di web perusahaan. Pada tahun 2000 periode ini berakhir ketika pasar saham anjlok dan ribuan perusahaan menghilang.

Kedua terdapat Consolidation. Periode konsolidasi dimulai pada tahun 2001 sampai 2006. Selama periode ini e-commerce mulai berubah. Tidak hanya menjual produk ritel, tetapi juga memberikan layanan yang kompleks, seperti layanan pengiriman dan keuangan. Di periode ini internet telah menyebar luas dengan jaringan broadband. Pemasaran produk telah merambah melalui web, mesin pencari, email, iklan video, iklan media, dan iklan mesin pencari. Lalu juga menyediakan fasilitas umpan balik di web perusahaan.

Ketiga adalah Reinvention. Reinvention merupakan periode penemuan kembali. Periode ini dimulai pada tahun 2007 saat iPhone mulai diperkenalkan hingga saat ini e-commerce ditransformasikan ke jejaring sosial yang bisa diakses secara luas oleh perangkat seluler konsumen seperti smartphone dan komputer tablet. Pemasaran ditransformasikan melalui jejaring sosial kemudian menjadi pembicaraan mulut ke mulut dan viral. Perusahaan sudah menggunakan repositori data yang jauh lebih kuat dan menggunakan alat analisis pemasaran sehingga pemasaran terkoordinasi berdasarkan jejaring sosial, mesing pencari, web, platform ponsel serta email.

2.2 Pengaturan Hukum dalam E-commerce di Indonesia

Indonesia merupakan suatu negara hukum yang mana segala tingkah laku atau perbuatan yang dilakukan oleh manusia diatur oleh hukum. Dalam dunia transaksi elektronik, Indonesia memiliki Undang-Undang tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Terdapat UU, PP, serta Perpres yang mengatur tentang Informasi dan Trasaksi Elektronik (ITE).

1. RUU ITE 2007

4 Webagus. (2021). E-Commerce (Definisi, Kerangka Utama, Sejarah, Tipe Transaksi, dan Teknologi). Diakses 26 November 2021. (https://www.webagus.id/2021/01/e-commerce-definisi- kerangka-utama.html).

(9)

Penyusunan UU ITE merupakan gabungan dari dua RUU, RUU Tindak Pidana Teknologi Informasi dari Universitas Padjajaran dan RUU E-Commerce dari Universitas Indonesia.

Pada tahun 2003 kedua RUU tersebut digabung menjadi satu naskah RUU untuk dibahas di DPR. Pada tahun 2005 Departemen Kominfo berdiri dan dibentuk Panitia Kerja (Panja) yang beranggotakan 50 orang.

Pembahasan RUU dilakukan dalam rentang tahun 2005 – 2007 hingga tanggal 21 April 2008 resmi dijadikan undang- undang.

Pada tanggal 5 Mei 2003 pemerintah tengah merancang RUU tentang Pemanfaatan Teknologi Informasi (PTI) yang disusun Departemen Perhubungan dan RUU tentang Informasi Elektronik dan Transaksi Elektronik (IETE) yang disusun Departemen Perindustrian dan Perdagangan. Kemudian tanggal 26 Agustus 2003 RUU sudah selesai disatukan tetapi belum kunjung dilanjutkan ke DPR untuk dapat disahkan. Pada tanggal 2 November 2004, pada rapat DPR dilakukan pembahasan oleh DPR dan pemerintahan. Tanggal 23 Desember 2005 pemerintah dan DPR memasuki tahap mengumpulkan usulan-usulan dari berbagai kalangan dan pada 25 Maret 2008 Rancangan Undang- Undang Informasi dan Transaksi Elektronik disetujui oleh DPR.

Akhirnya RUU ITE diresmikan dan disahkan pada tanggal 21 April 2008.

2. UU ITE Nomor 11 Tahun 2008

Undang-Undang Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 (UU ITE) disahkan pada tanggal 21 April 2008 dan menjadi cyber law pertama di Indonesia.

Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik atau Undang Undang nomor 11 tahun 2008 atau UU ITE adalah UU yang mengatur tentang informasi serta transaksi elektronik, atau teknologi informasi secara umum.

UU ini memiliki yurisdiksi yang berlaku untuk setiap orang yang melakukan perbuatan hukum sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini, baik yang berada di wilayah hukum Indonesia maupun di luar wilayah hukum Indonesia, yang memiliki akibat hukum di wilayah hukum Indonesia dan/atau di luar wilayah hukum Indonesia dan merugikan kepentingan Indonesia.

(10)

3. PP No. 82 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik

Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 12 Oktober 2012 telah menandatangani terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik. Selain itu Diundangkan dan Berlaku Tanggal 15 Oktober 2012.

PP setebal 41 halaman yang berisikan 90 pasal ini mengatur antara lain: a. Penyelenggaraan Sistem Elektronik;

b. Penyelenggaraan Transkasi Elektronik; c. Tanda Tangan Elektronik; d. Penyelenggaraan Sertfikasi Elektronik; e.

Lembaga Sertifikasi Kendalan; dan f. Pengelolaan Nama Domain.

4. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Jo UU No 11 Tahun 2008 Presiden Jokowi juga menegaskan revisi Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Jo UU No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) ini terutama untuk menghapus pasal -pasal karet yang penafsiranya berbeda-beda dan mudah dintepretasikan secara sepihak oleh aparat penegak hukum.

1) Pertama, Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Jo UU No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) masih sangat diperlukan, untuk mengantisipasi dan menghukumi dunia digital, sehingga tidak akan ada pencabutan UU ITE tersebut.

2) Kedua, untuk mengatasi kecenderungan salah tafsir dan tidak sama penerapan, Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Jo UU No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), maka pemerintah akan membuat pedoman teknis kriteria implementasi yang nanti diwujudkan berupa Surat Keputusan Bersama (SKB) antara tiga pimpinan instansi yakni Menteri Komunikasi dan Informatika, Jaksa Agung dan Kapolri.

3) Ketiga, akan ada revisi semantik atau revisi terbatas sangat kecil di Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Jo UU No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Revisi ini berupa penambahan frasa dan tambahan di penjelasan UU, seperti penjelasan atau definisi mengenai penistaan, fitnah, keonaran.

(11)

4) Poin keempat adalah penambahan pasal 45C di Undang- Undang Nomor 19 Tahun 2016 Jo UU No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Selain itu, dalam konteks Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 Jo UU No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) untuk membuktikan unsur menyebarluaskan sangat mudah dibandingkan dengan dunia nyata. Penafsiran menyebarluaskan atau diketahui banyak orang dengan cara manual dengan medsos sehingga sangat mudah untuk membuktikan.

5. Perpres No. 74 Tahun 2017

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2017 tentang Peta Jalan Sistem Perdagangan Nasional Berbasis Elektronik bahwa ekonomi berbasis elektronik mempunyai potensi ekonomi yang tinggi bagi Indonesia dan merupakan salah satu tulang punggung perekonomian nasional;

dalam rangka mengoptimalkan pemanfaatan potensi ekonomi berbasis elektronik, Pemerintah perlu mendorong percepatan dan pengembangan sistem perdagangan nasional berbasis elektronik (e-Commerce), usaha pemula (start-up), pengembangan usaha, dan percepatan logistik dengan menetapkan Peta Jalan Sistem Perdagangan Nasional Berbasis Elektronik (Road Map e- Commerce) yang terintegrasi sehingga perlu menetapkan Peraturan Presiden tentang Peta Jalan Sistem Perdagangan Nasional Berbasis Elektronik (Road Map e- Commerce) Tahun 2017-2019;

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2017 Ditetapkan pada tanggal 21 Juli 2017 dan Diundangkan pada tanggal 3 Agustus 2017 dalam Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 176.

6. PP Nomor 71 Tahun 2019 Jo PP No. 82 Tahun 2012

Beberapa ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik mengamanatkan pengaturan lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah, yakni pengaturan mengenai Lembaga Sertifikasi Keandalan, Tanda Tangan Elektronik, Penyelenggara Sertifikasi Elektronik, Penyelenggara Sistem Elektronik, Penyelenggaraan

(12)

Transaksi Elektronik, penyelenggara Agen Elektronik, dan pengelolaan Nama Domain telah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik. Namun, Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik perlu disesuaikan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat.

Penetapan Peraturan Pemerintah ini dimaksudkan pula untuk mengatur lebih lanjut beberapa ketentuan dalam Undang- Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang- Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik yang dibentuk untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan keamanan dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat yang demokratis. Beberapa ketentuan yang diperlukan pengaturan lebih lanjut yaitu:

Kewajiban bagi setiap Penyelenggara Sistem Elektronik untuk menghapus Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang tidak relevan yang berada di bawah kendalinya atas permintaan Orang yang bersangkutan berdasarkan penetapan pengadilan; dan Peran Pemerintah dalam memfasilitasi pemanfaatan Teknologi Informasi dan Transaksi Elektronik, melindungi kepentingan umum dari segala jenis gangguan sebagai akibat penyalahgunaan Informasi Elektronik dan Transaksi Elektronik yang mengganggu ketertiban umum, dan mencegah penyebarluasan dan penggunaan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang dilarang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

7. PP No. 80 Tahun 2019

Kelahiran regulasi di Indonesia yang mengatur transaksi perdagangan elektronik atau yang biasa dikenal dengan e- commerce sudah ditunggu-tunggu sejak beberapa tahun terakhir.

Puncaknya, pada bulan November 2019 pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 2019 (PP 80/2019) tentang Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PMSE).

Pembentukan Peraturan Pemerintah ini memang sudah dimandatkan sejak terbitnya Undang-Undang Nomor 7 Tahun

(13)

2014 tentang Perdagangan (UU 7/2014), tepatnya diatur dalam Pasal 66.

Ruang lingkup pengaturan dalam PP 80/2019 dapat dikatakan cukup luas, karena tidak hanya terfokus pada kegiatan transaksi e-commerce, tetapi sampai pada ranah perlindungan data pribadi. Sebagai catatan, pada saat terbitnya PP 80/2019 belum ada Undang-Undang (UU) tentang Perlindungan Data Pribadi namun masih dalam tahap pembahasan draft UU oleh pemerintah.

Pengaturan dalam PP 80/2019 tidak hanya terkait jual- belinya, melainkan juga mencakup mekanisme pengiriman, payment, iklan, kontrak elektronik, dll. Dengan demikian, pendekatan dalam implementasi PP 80/2019 perlu dilakukan secara komprehensif karena menyangkut banyak aspek.

2.3 Perizinan dan Aspek Legalitas

Perizinan seringkali membuat pelaku usaha malas dan enggan untuk mengurusnya karena faktor kerumitan. Buruknya sistem layanan perijinan menjadi hal yang mengahambat para pelaku usaha. Perizinan dan dokumen legalitas untuk mendirikan usaha antara lain seperti Surat Keterangan Domisili Perusahaan (SKDP), Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) atas nama perusahaan, Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) dan Tanda Daftar Perusahaan (TDP).

Untuk mendirikan perusahaan e- commerce, yang perlu diperhatikan adalah harus memiliki SIUP. Tanpa SIUP maka tidak bisa melakukan kegiatan perdagangan di Indonesia. Pasal 24 ayat (1) Undang-Undang Perdagangan menyatakan:

“Pelaku usaha yang melakukan kegiatan usaha perdagangan wajib memiliki perizinan di bidang perdagangan yang diberikan oleh Menteri.”5

Pasal ini yang menjadi dasar hukum penerbitan SIUP. Tanpa memiliki SIUP, ancaman pidana bagi pelaku usaha adalah pidana penjara paling lama 4 tahun atau pidana denda paling banyak Rp 10 miliar.

Aspek legal dalam e-commerce adalah menyangkut regulasi atau aturan yang mengatur jalannya e-bisnis supaya sesuai dengan hukum dan aturan-aturan yang berlaku pada suatu negara. 6 Proses legalitas akan menjadi pintu masuk bagi para pelaku usaha untuk mengembangkan bisnis e-commerce-nya. Dalam hal

5 Lukito, I. (2017). Tantangan Hukum dan Peran Pemerintah dalam Pembangunan E-commerce. Jurnal Ilmiah Kebijakan Hukum, 11(3), 349-367.

6 Ibid.

(14)

ini, sudut legalitas haruslah menyentuh secara keseluruhan dari proes bisnis e- commerce baik aspek sumber daya komunikasi dan infrastruktur teknologi informasi yang digunakan serta aspek tata niaga perdagangannya, supaya tidak ada aturan antar departemen yang tumpeng tindih.

2.4 Peran Pemerintah dalam Mendukung Pembangunan Bisnis E-commerce Peran pemerintah memiliki keterbatasan ketika peranan ini dihadapkan pada perkembangan yang terjadi teknologi dan informasi saat ini. Yang mana pemerintah mengalami kegagapan dalam menghadapinya, dan juga dalam memberikan berbagai bentuk kebijakan ataupun peraturan sebagai bentuk payung hukum bagi perubahan zaman ini belum cukup memadai. Sehingga terjadinya ketidakseimbangan dalam pelaksanaannya, hal ini bisa dilihat salah satunya dalam aspek perpajakan.

Dalam aspek ini pemerintah beberapa melakukan revisi dalam peraturan terkait, seperti halnya pada 1 April 2019 direncanakan akan diberlakukan pengenaan pajak dalam setiap transaksi e-commerce.7 Namun hal ini urung dilaksanakan yang dikarenakan adanya kendala seperti kurang jelasnya pemberlakuan perpajakan tersebut, dan juga kurangnya peraturan-peraturan lain yang mendukung pelaksanaan keputusan tersebut. Sehingga akhirnya keputusan ini ditarik pemberlakuannya, dengan alasan akan melakukan peninjauan ulang.

Dari sini bisa dilihat bahwa peranan pemerintah pun memiliki keterbatasan ketika peranan tersebut dihadapkan pada keadaan lingkungan yang selalu mengalami perubahan di dalamnya. Sehingga pemerintah perlu untuk bisa menata dirinya agar selalu siap menghadapi berbagai macam bentuk perubahan yang terjadi di dalam masyarakatnya.

Dapat dipahami bahwa peranan yang telah diberikan oleh pemerintah dalam perkembangan e-commerce saat ini bisa dikatakan belum cukup optimal.

Hal ini dikarenakan langkah dari pemerintah masih sering berada di belakang garis, yang mana jika diukur dalam hal menyeimbangkan diri dengan segala bentuk perubahan ataupun kemajuan teknologi yang terjadi.

7 Destiana, R. Y. N. (2019). Kemajuan Teknologi E-commerce dan Peran Pemerintah Dalam Ekosistem E-commerce Kota Surabaya. Jurna Politik Muda, 7(3), 119-134.

(15)

BAB III PENUTUP 3.1 Simpulan

Dapat disimpulkan bahwa e-commerce merupakan sebuah sistem yang dibangun dengan tujuan untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas dalam berbisnis dengan memanfaatkan teknologi informasi untuk meningkatkan kualitas dari produk/service dan informasi. E-commerce merupakan proses jual beli atau pertukaran barang atau jasa dan informasi dengan menggunakan teknologi informasi dan juga internet.

Sementara itu, sampai adanya Undang Undang tentang e-commerce maka saat ini mengacu pada sebuah Rancangan Undang-Undang yaitu telah diatur seperti UU ITE. Dalam mendirikan sebuah e-commerce juga membutuhkan suatu aspek seperti aspek legalitas dan juga beberapa perizinan yang harus di urus oleh setiap pelaku usaha.

Pemerintah juga memiliki peranan dalam perkembangan e-commerce ini.

Pemerintah memberikan fasilitas-fasilitas penunjang perkembangan dan terdapat pula berbagai macam regulasi yang berkaitan dengan hadirnya e-commerce, seperti peraturan yang mengatur tentang perdagangan elektronik, peraturan yang mengatur transaksi elektronik, peraturan yang mengatur tentang sistem elektronik, dan lain sebagainya. Dari segala bentuk hadirnya pemerintah dalam berbagai aspek tersebut tentu saja bisa dilihat bahwa pemerintah telah secara maksimal memberikan upayanya untuk mendukung tumbuhnya ekosistem e- commerce yang sehat.

Namun, hal ini terkendala karena perkembangan zaman yang terjadi sangat cepat, diiringi pula kemajuan masyarakat yang cepat membuat pemerintah kewalahan untuk mengimbangi perubahan yang masif ini. Sehingga untuk mengatasi ketidakoptimalan ini pemerintah haruslah bisa mengimbanginya dengan melakukan banyak peninjauan ketika ada sebuah perubahan baru yang muncul di dalam masyarakat. Kemudian menyiapkan diri lebih dini dan dapat memproyeksikan tindakan untuk kedepannya. Berikutnya perlunya menghadirkan berbagai macam peraturan yang lebih jelas agar secara

(16)

optimal dapat memberikan payung hukum bagi e-commerce. Yang mana peraturan tersebut diharapkan dapat berlaku untuk jangka waktu kedepannya.

Maksudnya yaitu bisa dipergunakan ketika ada suatu permasalahan maupun hal – hal lain yang hadir di kemudian hari sebagai akibat adanya perkembangan yang berlangsung. Sehingga pada akhirnya pemerintah dapat memiliki persiapan yang matang dan siap tanggap dalam menghadapi segala bentuk kemungkinan yang hadir, sebagai akibat dari kemajuan teknologi yang terjadi di dalam masyarakat.

3.2 Saran

1. Bagi para pelaku usaha perdagangan konvensional dan pelaku-pelaku bisnis pemula harus mampu melihat potensi dan peluang-peluang bisnis sebagai akibat dari perkembangan teknologi informasi dengan memanfaatkan perdagangan elektronik (e-commerce) ini. Penting untuk dimengerti dan dipahami oleh mereka berbagai persoalan terkait dengan tantangan hukum dalam membangun usaha.

2. Untuk memberikan perlindungan hukum kepada para pihak dalam transaksi e-commerce serta secara khusus memberikan perlidungan terhadap konsumen dalam transaksi e-commerce, perlu dibuat peraturan hukum mengenai transaksi e-commerce termasuk di dalamnya ketentuan mengenai validitas kontrak yang dilakukan secara elektronik sehingga ketentuan tentang transaksi e-commerce dapat tertampung. Dengan pengaturan tersebut, hak- hak konsumen sebagai pengguna teknologi elektronik dalam proses perdagangan khususnya dalam melakukan transaksi e-commerce dapat lebih terjamin.

3. Pemerintah perlu meningkatkan koordinasi antara instansi/Lembaga yang secara langsung memiliki peran dalam mengeluarkan regulasi e-commerce yaitu kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Perdagangan, Kementerian Keuangan dan Otoritas Jasa Keuangan sebagai bahan pengambilan kebijakan dan pembentukan regulasi e-commerce. Pemerintah dalam membentuk regulasi- regulasi tersebut sebaiknya melibatkan berbagai pihak seperti konsultan (pakar) teknologi informasi maupun asosiasi pemerhati e-commerce dalam pembahasannya.

4. Perlu meningkatkan aturan mengenai kebijakan Safe Harbor Policy dalam Surat Edaran Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 5 Tahun 2016 Tentang Batasan Tanggung Jawab Penyedia Platform dan Pedagang (Merchant) Perdagangan Melalui Sistem Elektronik yang berbentuk User Generated Content menjadi setingkat Paturan Menteri atau yang lebih tinggi.

(17)

DAFTAR PUSTAKA

Destiana, R. Y. N. (2019). Kemajuan Teknologi E-commerce dan Peran Pemerintah Dalam Ekosistem E-commerce Kota Surabaya. Jurna Politik Muda, 7(3), 119-134.

Lukito, I. (2017). Tantangan Hukum dan Peran Pemerintah dalam Pembangunan E- commerce. Jurnal Ilmiah Kebijakan Hukum, 11(3), 349-367.

Rusli, T. (2007). Pengaturan Hukum dalam E-Commerce untuk Melakukan Kegiatan Perdagangan di Indonesia. Pranata Hukum, 2(2), 113-124.

Agustini, P. (2019). Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik. Diakses 25 November 2021. (https://aptika.kominfo.go.id/2019/08/undang- undang-ite/).

Ashar, S. (2021). Pemerintah batal revisi UU ITE, berikut pasal karet yang menjerat pengguna medsos. Diakses 25 November 2021.

(https://nasional.kontan.co.id/news/pemrintah-batal-revisi-uu-ite- berikut-pasal-karet-yang-menjerat-pengguna-medsos).

BPPTIK. (2014). E-Commerce. Diakses 25 November 2021.

(https://bpptik.kominfo.go.id/2014/12/19/645/e-commerce/).

CNN Indonesia. (2018). Kominfo: Perlindungan Konsumen E-Commerce Telah Diatur UU ITE. Diakses 26 November 2021.

(https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20181213200948-185- 353530/kominfo-perlindungan-konsumen-e-commerce-telah-diatur-uu- ite).

Ermadi, A. A. (2018). Mau Tahu Masa Depan E-Commerce di Indonesia? Diakses 25 November 2021. (https://www.digination.id/read/011828/mau-tahu- masa-depan-ecommerce-di-indonesia).

(18)

Fitri. (2012). PP No. 82 tahun 2012 Tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik. Diakses 25 November 2021.

(https://lldikti12.ristekdikti.go.id/2012/11/07/pp-no-82-tahun-2012- tentang-penyelenggaraan-sistem-dan-transaksi-elektronik.html).

Jogloabang. (2019). UU 11 Tahun 2008 tentang ITE. Diakses 27 Oktober 2021.

(https://www.jogloabang.com/pustaka/uu-11-2008-ite).

Jogloabang. (2019). PP 71 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik. Diakses 25 November 2021.

(https://www.jogloabang.com/teknologi/pp-71-2019-penyelenggaraan- sistem-transaksi-elektronik).

Oktaviani, Y. (2021). Kronologi Perjalanan Panjang UU ITE. Diakses 25

November 2021.

(https://kompaspedia.kompas.id/baca/infografik/kronologi/kronologi- perjalanan-panjang-uu-ite?status=sukses_login&status_login=login).

Praseyto, F.A. (2021). Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU

ITE). Diakses 27 November 2021.

(https://www.tribunnewswiki.com/2021/02/16/undang-undang- informasi-dan-transaksi-elektronik-uu-ite).

Peraturan Pemerintah. (2012). Peraturan Pemerintah RI Nomor 82 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik. Diakses 27 November 2021. (https://peraturan.bpk.go.id/Home/Details/5296/pp- no-82-tahun-2012).

Peraturan Presiden. (2017). Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2017 tentang Peta Jalan Sistem Perdagangan Nasional Berbasis Elektronik. Diakses 25 November 2021. (https://jdih.bssn.go.id/arsip- hukum/peraturan-presiden-republik-indonesia-nomor-74-tahun-2017- tentang-peta-jalan-sistem-perdagangan-nasional-berbasis-elektronik).

Webagus. (2021). E-Commerce (Definisi, Kerangka Utama, Sejarah, Tipe Transaksi, dan Teknologi). Diakses 26 November 2021.

(https://www.webagus.id/2021/01/e-commerce-definisi-kerangka- utama.html).

(19)

di peraturan perundang-undangan diwajibkan bagi setiap pihak yang memperoleh data pribadi seseorang untuk menyimpan sebaik-baiknya dan

menjaganya. Kewajiban tersebut berlaku juga bagi platform digital dan merchant dalam transaksi e-commerce.

Kewajiban Platform Digital terdapat pada Pasal 31 PP No. 71 Tahun 2019 yang menyatakan: “Penyelenggara Sistem Elektronik wajib melindungi

penggunanya dan masyarakat luas dari kerugian yang ditimbulkan oleh Sistem Elektronik yang diselenggarakannya.”

Dan juga pada Pasal 58 ayat (2) PP No. 80 Tahun 2019 tentang

Perdagangan Melalui Sistem Elektronik yang menyatakan: “Setiap Pelaku Usaha yang memperoleh data pribadi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) wajib

bertindak sebagai pengemban amanat dalam menyimpan dan menguasai data pribadi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.”

Pihak penyimpan harus mempunyai sistem pengamanan yang patut untuk mencegah kebocoran atau pemrosesan atau pemanfaatan data pribadi secara melawan hukum.

maka diketahui bahwa di Indonesia, data pribadi seseorang, termasuk konsumen e-commerce, dikualifikasikan sebagai bentuk informasi yang bersifat rahasia.

Selain itu, setiap pihak yang memperoleh data tersebut, tidak terbatas pada platform digital dan merchant, wajib menjaga dan melindungi data pribadi dari setiap upaya penyalahgunaan data yang dapat merugikan konsumen.

Pasal 14 ayat (5) PP No. 71 Tahun 2019 mengatur langkah penting yang harus dilakukan oleh platform digital, yakni memberitahukan secara tertulis kepada pemilik data pribadi. Kemudian, apabila terdapat kerugian yang dialami oleh pemilik data pribadi akibat terjadinya kebocoran data, maka pihak yang dirugikan dapat mengajukan tuntutan pertanggungjawaban terhadap pihak yang melakukan kesalahan atas kejadian tersebut.

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui keabsahan kontrak elektronik pada transaksi perdagangan melalui internet ( e-commerce ) dalam perspektif KUH Perdata khususnya di CV

Beberapa ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik mengamanatkan pengaturan lebih lanjut dalam peraturan

Menurut Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 95 Tahun 2018 Tentang Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik menyebutkan bahwa “Arsitektur SPBE adalah kerangka dasar

transaksi elektronik biasanya menggunakan akad secara tertulis, ( E- mail , short message servis / SMS , Black Barry Messager/BBM atau sejenisnya). Pada

Pertumbuhan ekonomi di indonesia berpengaruh terhadap banyaknya penggunaan dompet elektonik (E-Wallet) dan perdagangan elektronik (E-Commerce) periode tahun 2017 sampai

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 11 tahun 2008 pasal 5 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik yang selanjutnya disebut Undang-Undang ITE dikemukakan

Walaupun beberapa permasalahan yang ada sudah dapat diselesaikan dengan munculnya Undang Undang Nomor 1 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik ini, namun

Jenis pelanggaran lalu lintas yang bisa ditindak oleh tilang elektronik nasional sesuai dengan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009, tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan LLAJ yaitu :