PERKEMBANGAN,
PERMASALAHAN DAN TRADISI PEMBELAJARAN MATEMATIKA
LATIFAH NURAINI IPMAFA
Perkembangan Kurikulum
Matematika Sekolah di Indonesia
a.
Matematika tradisional (Ilmu Pasti)
b.
Pembelajaran Matematika Modern
c.
Kurikulum Matematika 1984
d.
Kurikulum Tahun 1994
e.
Kurikulum tahun 2004
f.
Kurikulum 2006
g.
Kurikulum 2013
A. Matematika Tradisional (Ilmu Pasti)
• Saat itu pembelajaran matematika lebih ditekankan pada ilmu hitung dan cara berhitung.
• Untuk pertama kali yang diperkenalkan kepada siswa adalah bilangan asli dan membilang, kemudian
penjumlahan dengan jumlah kurang dari sepuluh, pengurangan yang selisihnya positif
• menekankan hafalan dari pada pengertian,
• menekankan bagaimana sesuatu itu dihitung bukan mengapa sesuatu itu dihitungnya demikian,
• lebih mengutamakan kepada melatih otak bukan kegunaan,
• bahasa/istilah dan simbol yang digunakan tidak jelas,
A. Matematika....
•
urutan operasi harus diterima tanpa alasan
•
urutan operasi hitung pada era pembelajaran
matematika tradisional adalah kali, bagi, tambah dan kurang.
•
cabang matematika yang diberikan di sekolah
menengah pertama adalah aljabar dan Ilmu ukur (geometri) bidang.
•
Sedangkan yang diberikan di sekolah menengah
atas adalah aljabar, geometri ruang, goniometri
(studi tentang sudut), geometri lukis, dan sedikit
geometri analitik bidang.
B. Pembelajaran Matematika Modern
•
pengajaran matematika modern resminya dimulai setelah adanya kurikulum 1975
•
muncul karena adanya kemajuan teknologi
•
penemuan-penemuan teori belajar mengajar oleh J. Piaget, W Brownell, J.P Guilford, J.S Bruner, Z.P Dienes, D.Ausubel, R.M Gagne dan lain-lain semakin memperkuat arus perubahan model
pembelajaran matematika
Kelemahan Matematika Tradisional
Berbagai kelemahan pembelajaran matematika sebelumnya (matematika tradisional) seolah
nampak jelas setelah adanya banyak teori belajar, di antaranya
•
pembelajaran kurang menekankan pada pengertian,
•
kurang adanya kontinuitas,
•
kurang merangsang anak untuk ingin tahu,
•
masyarakat dihadapkan pada kemajuan teknologi.
Karakteristik Matematika Kurikulum 1975
1.
Memuat topik-topik dan pendekatan baru. Topik- topik baru yang muncul adalah himpunan, statistik dan probabilitas, relasi, sistem numerasi kuno,
penulisan lambang bilangan non desimal.
2.
Pembelajaran lebih menekankan pembelajaran
bermakna dan berpengertian dari pada hafalan dan ketrampilan berhitung.
3.
Program matematika sekolah dasar dan sekolah menengah lebih kontinyu.
4.
Pengenalan penekanan pembelajaran pada
struktur.
5.
Programnya dapat melayani kelompok anak- anak yang kemampuannya hetrogen.
6.
Menggunakan bahasa yang lebih tepat.
7.
Pusat pengajaran pada murid tidak pada guru
8.
Metode pembelajaran menggunakan meode
menemukan, memecahkan masalah dan teknik diskusi.
9.
Pengajaran matematika lebih hidup dan
menarik.
C. Kurikulum Matematika 1984
• Revolusi ini diawali oleh kekhawatiran negara maju yang akan disusul oleh negara-negara terbelakang saat itu, seperti Jerman barat, Jepang, Korea, dan Taiwan.
• Pengajaran matematika ditandai oleh beberapa hal yaitu adanya kemajuan teknologi muthakir seperti kalkulator dan komputer.
• Siswa di sekolah dasar diberi materi aritmatika sosial, sementara untuk siswa sekolah menengah atas diberi materi baru seperti komputer.
Alasan dalam menerapkan kurikulum baru
• adanya sarat materi,
• perbedaan kemajuan pendidikan antar daerah dari segi teknologi,
• adanya perbedaan kesenjangan antara program
kurikulum di satu pihak dan pelaksana sekolah serta kebutuhan lapangan dipihak lain,
• belum sesuainya materi kurikulum dengan tarap kemampuan anak didik.
• CBSA (cara belajar siswa aktif) menjadi karakter yang begitu melekat erat dalam kurikulum tersebut.
Langkah untuk Keberhasilan Kurikulum 1984
1.
Guru supaya meningkatkan profesinalisme
2.
Dalam buku paket harus dimasukkan kegiatan yang menggunakan kalkulator dan komputer
3.
Sinkronisasi dan kesinambungan pembelajaran dari sekolah dasar dan sekolah lanjutan
4.
Pengevaluasian hasil pembelajaran
5.
Prinsip CBSA di pelihara terus
D. Kurikulum Tahun 1994
•
Kegiatan matematika internasional begitu marak di tahun 90-an.
•
Indonesia tidak ketinggalan dalam pentas
olimpiade tersebut namun jarang mendulang medali.
•
Keprihatinan tersebut diperparah dengan kondisi lulusan yang kurang siap dalam kancah
kehidupan. Para lulusan kurang mampu dalam
menyelsaikan problem-problem kehidupan.
Karakter Kurikulum 1994
•
struktur materi sudah disesuaikan dengan psikologi perkembangan anak,
•
materi keahlian seperti komputer semakin mendalam,
•
model-model pembelajaran matematika kehidupan disajikan dalam berbagai pokok bahasan. Intinya pembelajaran matematika saat itu mengedepankan tekstual materi namun tidak melupakan hal-hal
kontekstual yang berkaitan dengan materi.
•
Soal cerita menjadi sajian menarik disetiap akhir pokok bahasan, hal ini diberikan dengan
pertimbangan agar siswa mampu menyelesaikan
permasalahan kehidupan yang dihadapi sehari-hari.
E. Kurikulum Tahun 2004 (KBK)
Setelah beberapa dekade dan secara khusus sepuluh tahun berjalan dengan kurikulum 1994,
•
pola-pola lama bahwa guru menerangkan konsep,
•
guru memberikan contoh,
•
murid secara individual mengerjakan latihan,
•
murid mengerjakan soal-soal pekerjaan rumah hanya kegiatan rutin saja disekolah,
•
sementara bagaimana keragaman pikiran siswa
dan kemampuan siswa dalam mengungkapkan
gagasannya kurang menjadi perhatian.
Tujuan Kurikulum 2004
1. Melatih cara berfikir dan bernalar dalam menarik
kesimpulan, misalnya melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi, eksperimen, menunjukkan kesamaan, perbedaan, konsistensi dan inkonsistensi
2. Mengembangkan aktifitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi, dan penemuan dengan
mengembangkan divergen, orisinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi dan dugaan, serta mencoba-coba.
3. Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah
4. Mengembangkan kemampuan menyampaikan
informasi atau mengkomunikasikan gagasan antara lain melalui pembicaraan lisan, catatan, grafik,
diagram, dalam menjelaskan gagasan.
F. Kurikulum 2006 (KTSP)
1.
Belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
2.
Belajar untuk memahami dan menghayati,
3.
Belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif,
4.
Belajar untuk hidup bersama dan berguna untuk orang lain, dan
5.
Belajar untuk membangun dan menemukan jati diri melalui proses belajar yang aktif, kreatif,
efektif dan menyenangkan (BSNP, 2006: 2)
• Pendekatan pemecahan masalah merupakan fokus dalam pembelajaran matematika yang mencakup
masalah tertutup dengan solusi tunggal, masalah terbuka dengan solusi tidak tunggal, dan masalah dengan
berbagai cara penyelesaian.
• Untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah perlu dikembangkan keterampilan memahami masalah, membuat model matematika, menyelesaikan masalah, dan menafsirkan solusinya.
• Dalam setiap kesempatan, pembelajaran matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem).
• Untuk meningkatkan keefektifan pembelajaran, sekolah diharapkan menggunakan teknologi informasi dan
komunikasi seperti komputer, alat peraga, atau media lainnya.
• Selain itu, perlu ada pembahasan mengenai bagaimana matematika banyak diterapkan dalam teknologi informasi sebagai perluasan pengetahuan peserta didik.
Tujuan Pembelajaran Matematika
1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antarkonsep dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah.
2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan
pernyataanmatematika
3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model dan menafsirkan solusi yang diperoleh
4. Mengomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah
5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam
kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah
G. Kurikulum 2013
Pengembangan kurikulum 2013 bersifat sistemik, fleksibel, dan kontekstual. Dalam arti bahwa:
•
pertama, kurikulum sebagai salah satu komponen pendidikan akan saling tergantung dan saling
mempengaruhi terhadap komponen yang lainnya;
•
kedua, kurikulum sebagai salah satu komponen
pendidikan dapat berubah dan/atau dirubah secara mudah sesuai dengan kondisi dan kebutuhan;
•
dan ketiga, kurikulum sebagai salah satu
komponen pendidikan harus dapat menjadi
instrumen penghubung antara konsep dan
kenyataan.
Ada beberapa karakteristik matematika, antara lain :
1.
Objek yang dipelajari abstrak.
2.
Kebenaranya berdasarkan logika.
3.
Pembelajarannya secara bertingkat dan kontinu.
4.
Ada keterkaitan antara materi yang satu dengan yang lainnya.
5.
Menggunakan bahasa simbol.
6.
Diaplikasikan dibidang ilmu lain.
• Konsep matematika disajikan dengan bahasa yang jelas dan spesifik.
• Bahasa matematika (yang digunakan dalam matematika) sangat efisien dan merupakan alat yang ampuh
menyatakan konsep-konsep matematika, merekonstruksi konsep atau menata suatu penyelesaian secara
sistematis setelah terlaksananya eksplorasi, dan terutama untuk komunikasi.
• Bahasa matematika ini tidak ambigu namun singkat serta jelas. Hal ini sangat diperlukan terutama terlihat dalam menyusun suatu definisi ataupun teorema.
TUJUAN PENGENALAN MATEMATIKA PADA ANAK USIA DINI
A. Tujuan Umum
•
Agar anak mengetahui dasar-dasar pembelajaran berhitung/ matematika, sehingga pada saatnya
nanti anak akan lebih siap mengikuti
pembelajaran matematika pada jenjang
pendidikan selanjutnya yang lebih komplek.
B. Tujuan Khusus
1. Dapat berpikir logis dan sistematis sejak dini melalui pengamatan terhadap benda-benda kongkrit, gambar- gambar atau angka-angaka yang terdapat di sekitar anak.
2. Dapat menyesuaikan dan melibatkan diri dalam kehidupan masyarakat yang dalam kesehariannya memerlukan keterampilan berhitung.
3. Memiliki ketelitian, konsentrasi, abstraksi dan daya apresiasi yang tinggi.
4. Memiliki pemahaman konsep ruang dan waktu serta dapat memperkirakan kemungkinan urutan sesuatu peristiwa terjadi di sekitarnya.
5. Memiliki kreativitas dan imajinasi dalam menciptakan sesuatu secara spontan.
PRINSIP-PRINSIP PERMAINAN MATEMATIKA ANAK USIA DINI
•
Permainan matematika diberikan secara bertahap diawali dengan menghitung benda-benda atau
pengalaman peristiwa kongkrit yang dialami melalui pengamatan terhadap alam sekitar.
•
Pengetahuan dan keterampilan pada permainan matematika diberikan secara bertahap menurut
tingkat kesukaranya, misalya dari kongkrit ke abstrak, mudah ke sukar, dana dari sederhana ke yang lebih kompleks
•
Permainan matematika akan berhasil jika anak-anak diberi kesempatan berpartispasi dan dirangsang
untuk menyelesaikan masalah-masalahnya sendiri.
• Permainan matematika membutuhkan suasana menyenangkan dan memberikan rasa aman serta
kebebasan bagi anak. Untuk itu diperlukan alat peraga/
media yang sesuai dengan tujuan, menarik, dan bervariasi, mudah digunakan dan tidak
membahayakan.
• Bahasa yang digunakan didalam pengenalan konsep berhitung seyogyanya bahasa yang sederhana dan jika memungkinkan mengambil contoh yang terdapat di
lingkungan sekitar anak.
• Dalam permainan matematika anak dapat di
kelompokkan sesuai tahap penguasaan berhitung yaitu tahap konsep, masa transisi dan lambang.
• Dalam mengevaluasi hasil perkembangan anak harus dimulai dari awal sampai akhir kegiatan.
MANFAAT PERMAINAN MATEMATIKA UNTUK AUD
1.
Membelajarkan anak berdasarkan konsep matematika yang benar.
2.
Menghindari ketakutan matematika sejak awal.
3.
Membantu anak belajar matematika secara
alami melalui kegiatan bermain.
Peran guru dalam mengembangakan kegiatan belajar matematika
1.
membangun rasa ingin tahu anak secara alami tentang bentuk, ukuran, jumlah, konsep-konsep dasar lain dalam matematika.
2.
Peduli dan tertarik terhadap apa yang dikatakan anak. Hal ini akan mendorong anak untuk
menceritakan pengalaman dan penemuan mereka.
3.
Penerimaan terhadap sejumlah kegiatan
matematika yang dilakukan anak. Hal ini akan
mendorong kepercayaan diri untuk tetap berpikir,
bertanya, dan berbagi pengalaman tentang hal
berbagai hal yang dialami anak.
STANDAR MATEMATIKA UNTUK ANAK USIA DINI
1. Bilangan 2. Aljabar
3. Penggolongan 4. Pola-pola
5. Geometri 6. Pengukuran
7. Analisis data dan probabilitas
Bolehkah anak 2-6 di ajari calistung? terutama
berhitung!
PRO
• Bukan boleh atau tidak, tp bagaimana cara
mengajarnya
• Tuntutan masuk SD favorit
KONTRA
• Surat Edaran No.
1839/C.C2/TU/2009
DIKDASMEN, untuk tidak mengajarkan calistung secara langsung
• Usia tersebut merupakan perkembangan otak
kanan, dan perkembangan aspek motorik
• Mental hetic
REGULASI
Pernyataan Mendikbud dalam Permendiknas RI No. 58 TAHUN 2009 tentang Standar Pendidikan Anak Usia Dini.
Ada 4 tingkat pencapaian terkait dengan kemampuan calistung bagi anak usia 4-6 tahun, yaitu:
1. Pura-pura membaca cerita bergambar dalam buku dengan kata-kata sendiri.
2. Berkomunikasi secara lisan, memiliki perbendaharaan kata, serta mengenal simbol-simbol untuk persiapan membaca, menulis dan berhitung.
3. Membaca nama sendiri.
4. Menuliskan nama sendiri.