• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejarah Perkembangan Kurikulum PAI

N/A
N/A
Sarah Septiyani

Academic year: 2024

Membagikan "Sejarah Perkembangan Kurikulum PAI"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

SEJARAH PERKEMBANGAN KURIKULUM PAI

MAKALAH

Makalah ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah “Pengembangan kurikulum PAI”

Dosen Pengampu : Dr. Anton Musa. M.Pd.

Disusun Oleh : Kelompok 4 Puput Anisah

Siti Masitoh Sarah Septiani Syifa Hilda Hilatussyifa

M Rifki Adliya

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) AL-MASTHURIYAH KABUPATEN SUKABUMI 2024

(2)

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha pengasih lagi Maha penyayang, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul “ SEJARAH PERKEMBANGAN KURKULUM PAI “

Shalawat serta salam kami sanjungkan kepada Rasulullah beserta keluarga, sahabat, dan para pengikutnya hingga hari akhir. Dengan terselesainya makalah ini, kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Anton Musa.

M.Pd. selaku dosen mata kuliah “Pengembangan kurikulum PAI”. Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi sumbangan pemikiran kepada para pembaca khususnya mahasiswa PAI lV.l. Kami menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan dan penyempurnaan makalah kami.

Sukabumi…februari 2024

Penyusun

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...ii

DAFTAR ISI...iii

BAB I...1

PENDAHULUAN...1

A. Latar Belakang...1

B. Rumusan Masalah...1

C. Tujuan Pembahasan...1

BAB II...2

PEMBAHASAN...2

A. Sejarah Kurikulum Pendidikan Agama Islam Pra Kemerdekaan...2

B. Sejarah Kurikulum Pendidikan Agama Islam Masa Orde Lama………... 3

C. Sejarah Kurikulum Pendidikan Agama Islam Masa Orde Baru...5

D. Sejarah Kurikulum Pendidikan Agama Islam Masa Reformasi………….... 7

BAB III... PENUTUP...7

A. Simpulan...12

B. Saran...12

DAFTAR PUSTAKA...13

(4)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pergantian sistem pendidikan nasional, berarti di dalamnya terjadi perubahan kurikulum. Pergantian kurikulum merupakan suatu hal yang biasa dan suatu keniscayaan dalam merespons perkembangan masyarakat yang begitu cepat. Pendidikan harus mampu menyesuaikan dinamika yang berkembang dalam masyarakat. Dan itu bisa dijawab dengan perubahan kurikulum. Dalam proses pendidikan, kurikulum menempati posisi yang sangat menentukan, ibarat tubuh, kurikulum merupakan jantungnya pendidikan.

Kurikulum merupakan seperangkat rancangan nilai, pengetahuan, dan keterampilan yang harus ditransfer kepada peserta didik dan bagaimana proses transfer tersebut harus dilaksanakan. Dalam hal ini Pengelolaan kurikulum harus diarahkan agar proses pembelajaran berjalan dengan baik, dengan tolok ukur pencapaian tujuan oleh siswa. Yang menjadi perhatian adalah bagaimana strategi agar tujuan pembelajaran tercapai. Dalam konteks ini, guru harus didorong untuk terus menyempurnakan strategi tersebut, misalnya dengan menerapkan kaji tindak dalam pembelajaran (class room action research).

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah:

1. Apa itu Sejarah Kurikulum Pendidikan Agama Islam Pra Kemerdekaan?

2. Apa itu Sejarah Kurikulum Pendidikan Agama Islam Masa Orde Lama?

3. Apa itu Sejarah Kurikulum Pendidikan Agama Islam Masa Orde Baru?

4. Apa itu Sejarah Kurikulum Pendidikan Agama Islam Masa Reformasi?

C. Tujuan Pembahasan

1. Untuk mengetahui Sejarah Kurikulum Pendidikan Agama Islam Pra Kemerdekaan

2. Untuk mengetahui Sejarah Kurikulum Pendidikan Agama Islam Masa Orde Lama

3. Untuk megetahui Sejarah Kurikulum Pendidikan Agama Islam Masa Orde Baru

(5)

4. Untuk mengetahui Sejarah Kurikulum Pendidikan Agama Islam Masa Reformasi

BAB II PEMBAHASAN

A. Sejarah Kurikulum Pendidikan Agama Islam Pra Kemerdekaan Pada dasarnya pendidikan agama Islam sangat tidak diperhatikan pada masa ini. Pendidikan pada prakemerdekaan dipengaruhi oleh kolonialisme. Hasilnya bangsa ini dididik untuk mengabdi kepada penjajah. Karena, pada saat penjajahan semua bentuk pendidikan dipusatkan untuk membantu dan mendukung kepentingan penjajah. Pada mulanya, mereka tidak pernah terpikirkan untuk memperhatikan pendidikan namun murni hanya mencari rempah-rempah. Meski demikian, bangsa Eropa ini juga memiliki misi penyebaran agama. Karena itu pada abad ke-16 dan 17, mereka mendirikan lembaga pendidikan dalam upaya penyebaran agama Kristen di Nusantara. Pendidikan tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi mereka tapi juga penduduk pribumi yang beragama Kristen.

Selanjutnya, pihak penjajah yang merasakan perlu adanya pegawai rendahan yang dapat membaca dan menulis guna membantu pengembangan usaha, khususnya tanam paksa, maka dibentuklah lembaga-lembaga pendidikan. Namun kelas ini masih hanya diperuntukkan untuk kalangan terbatas, yaitu anak-anak priyai. Konsep ideal pendidikan kolonialis adalah pendidikan yang mampu mencetak para pekerja yang dapat dipekerjakan oleh penjajah pula. Tujuan pendidikan kolonial tidak terarah pada pembentukan dan pendidikan orang muda untuk mengabdi pada bangsa dan tanah airnya sendiri, akan tetapi dipakai untuk menanamkan nilai-nilai dan norma-norma masyarakat penjajah agar dapat ditransfer oleh penduduk pribumi dan menggiring penduduk pribumi menjadi budak dari pemerintahan colonial.

(6)

Dari deskripsi diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan agama Islam pada masa Prakemerdekaan sangat tidak diperhatikan, pendidikan pada prakemerdekaan ini dipengaruhi oleh kolonialisme yang berpusat pada agama mereka (Penjajah), selain itu dari segi kelas hanya diperuntukkan untuk kalangan terbatas, yaitu anak-anak priyai. Konsep ideal pendidikan kolonialis adalah pendidikan yang mampu mencetak para pekerja yang dapat dipekerjakan oleh penjajah pula. Tujuan pendidikan kolonial tidak terarah pada pembentukan dan pendidikan orang muda untuk mengabdi pada bangsa dan tanah airnya sendiri, akan tetapi dipakai untuk menanamkan nilai-nilai dan normanorma masyarakat penjajah agar dapat ditransfer oleh penduduk pribumi dan menggiring penduduk pribumi menjadi budak dari pemerintahan colonial.

B. Sejarah Kurikulum Pendidikan Agama Islam Masa Orde Lama Kurikulum pada masa orde lama dibagi menjadi dua kurikulum, yaitu kurikulum 1947 dan kurikulum 1952.

a. Kurikulum 1947 Rencana Pembelajaran

Kurikulum tahun 1947 dalam pelaksanaanya baru dimulai pada tahun 1950. Pendidikan Islam tahun ini diatur dengan SK dua menteri (Menteri PP&K dan Menteri Agama) tahun 1946. Kurikulum pada tahun 1947 masih banyak memiliki ciri-ciri sistem pendidikan Jepang dan Belanda, karena posisi negara Indonesia yang merdeka. Proses pendidikan pada kurikulum ini dirancang untuk lebih menjadikan peserta didik dalam memahami dalam mencintai tanah air Indonesia. (Kiptiyah, 2021) Konsep dari kurikulum 1947 ini menekankan kepada pembentukkan karakter manusia yg berjaya yang menjunjung tinggi nilai luhur,membentuk karakter, mental dan moral yang baik dan bereputasi.

(Asfiati, 2017, 21)

Pendidikan agama pada tahun ini diatur dalam UU Nomor 4 Tahun 1950 pada Bab XII Pasal 20 yang berisi, dalam sekolah-sekolah negeri diadakan

(7)

pelajaran agama, orangtua dari peserta didik yang menetapkan anaknya mau memilih pelajaran agama atau tidak.

Tata cara penyelenggaraan pelajaran agama disekolah negeri diatur dalam peraturan yang ditetapkan dua menteri. Isi keputusan bersama kedua menteri tersebut tertuang dalam peraturan pada Nomor: 143/kab.

Tanggal 20 Januari 1951 dalam P dan K tertera pada Nomor: K1/162 Tanggal 20 Januari 1951 yang berisi, Pada pasal 1 menyatakan bahwa seluruh sekolah menengah pertama, meupun sekolah menengah atas dan juga sekolah menengah kejuruan menerima pendidikan agama.

Menurut pasal 2, kelas yang lebih rendah memulai pendidikan agama selama dua jam per minggu dari kelas 4, dan dalam hal kondisi khusus, pendidikan agama dimulai dari kelas 1, dan waktunya dapat ditingkatkan jika perlu, tetapi tidak boleh melebihi empat jam dalam seminggu. mengatur bahwa pendidikan agama di Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas adalah dua jam per minggu. Pasal 4 mengatur bahwa pendidikan agama diberikan menurut agama masing- masing siswa, dan pendidikan agama hanya diberikan ketika ada 10 atau lebih siswa yang menganut satu agama dan siswa dari agama lain belajar pada saat yang sama. (Suparta, 2016, 122)

b. Kurikulum Tahun 1952 Kurikulum yang diterapkan pada tahun 1952 bernama kurikulum rencana pelajaran terurai.Kurikulum ini memiliki konsep rencana pelajaran terurai, yaitu di setiap kelas harus diperhatikan isi pelajaran, dan sesuai dengan nilai dan moral negara Indonesia, siswa dapat menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. Maksud dari konsep mengaitkan pengajaran dengan kehidupan siswa adalah untuk menggugah perilaku dan sikap moral sehingga nilai-nilai pendidikan Islam dapat diterapkan pada semua tindakan dan perkataan siswa.

(Asfiati, 2017)Pelaksanaan pembelajaran dalam kurikulum ini masih sama dengan kurikulum 1947 yang diatur dalam SKB dua menteri tahun 1951. Selain itu Departemen Agama mengupayakan terbentuknya kurikulum agama disekolah maupun pesantren. Kemudian Depag membentuk tim guna menyusun kurikulum agama. K.H. Imam Zarkasi

(8)

berasal dari pondok pesantren di Gontor menjadi ketua dari tim penyusun kurikulum. Tim tersebut kemudian berhasil menulis kursus pendidikan agama yang disetujui oleh Menteri Agama pada tahun 1952.

Ketika Kementerian Agama berhasil menyusun kurikulum, hasilnya adalah pendidikan agama setara dengan 25% dari semua mata pelajaran yang diajarkan di sekolah biasa.(Pradika, 2020, 10)Pendidikan agama Islam masa orde lama berorientasi harus setara dengan sekolah umum, dengan fokus pada dua hal yaitu, peningkatan kualitas dan penegmbangan madrasah, dan langkah selanjutnya adalah memperluas cakupan pengajaran agama agar tidak hanya diterapkan di masdrasah saja melainkan diterapkan pada sekolah umum bahkan sekolah tinggi atau universitas. (Sudadi, 2016, 119).

C. Sejarah Kurikulum Pendidikan Agama Islam Masa Orde Baru

Peralihan dari era orde lama ke era orde baru pada akhirnya turut berdampak pada wajah pendidikan nasional, buktinya kurikulum yang berlaku di era orde lama juga turut berganti, dan tidak cukup disitu, di era orde baru sendiri kurikulum telah mengalami beberapa perubahan. Dibawah ini adalah model kurikulum yang berlangsung selama era orde baru, antara lain:

a. Kurikulum 1968

Kurikulum 1968 merupakan pembaharuan dari kurikulum 1964, yaitu dilakukannya perubahan struktur kurikulum pendidikan dan pancawardhana menjadi pembinaan jiwa pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Kurikulum ini merupakan perwujudan dari perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Kurikulum ini bertujuan, pendidikan ditekankan pada upaya untuk membentuk manusia pancasila sejati, kuat, dan sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama.

Isi pendidikan diarahkan pada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan keterampilan, serta mengembangkan fisik yang kuat dan sehat.

(9)

Kurikulum ini bersifat politis. Kurikulum 1968 menekankan pendekatan organisasi materi pelajaran : kelompok pembinaan pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Jumlah pelaajarannya ada 9 mata pelajaran, Djauzak menyebut kurikulum ini sebagai kurikulum bulat. “Hanya memuat materi yang pokok-pokok saja”. Muatan materi bersifat teoritis, tak mengaitkan dengan permasalahan factual di lapangan.

b. Kurikulum 1975

Orientasi pendidikan di dalam kurikulum ini adalah untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi kegiatan belajar mengajar di sekolah. Di era inilah dikenal istilah satuan pelajaran yang merupakan rencana pengajaran pada setiap bahasan. Sementara tujuan pendidikan dan pengajaran terbagi pada tujuan pendidikan umum, tujuan institusional, tujuan kurikuler, tujuan instruksional umum dan tujuan instruksional khusus.

Pendidikan agama islam dalam kurikulum 1975 mengalami perubahan cukup signifikan. Adanya SKB 3 menteri (Menteri Agama, Menteri dalam Negeri dan Menteri P&K) serta disusunnya kurikulum madrasah 1975, pendidikan agama mendapatkan porsi 30%, sementara pendidikan umum 70%. Sehingga ijazah madrasah setingkat dengan ijazah dari sekolah umum, dan murid madrasah yang ingin pindah ke sekolah umumpun diakui/diperbolehkan. Kondisi demikian berbeda dengan masa-masa sebelum kurikulum 1975 ini diterapkan.

c. Kurikulum 1984

Kurikulum 1984 mengusung process skill approach. Meski mengutamakan pendekatan proses, tetapi faktor tujuan tetaplah penting.

Kurikulum ini sering juga disebut “kurikulum 1975 yang disempurnakan”, karena kurikulum 1984 ini merupakan menyempurnakan dari kurikulum 1975. Peran siswa dalam kurikulum ini menjadi mengamati sesuatu, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan. Model ini disebut Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Active Leaming (SAL). CBSA memposisikan guru sebagai fasilitator, sehingga bentuk kegiatan ceramah tidak lagi ditemukan dalam

(10)

kurikulum ini. Pendidikan agama dikuatkan melalui SKB 2 Menteri (Menteri P&K dan Menteri dalam Negeri) yang mempertegas lulusan madrasah juga bisa juga melanjutkan pendidikannya ke sekolah umum.

d. Kurikulum 1994 dan Suplemen Kurikulum 1999

Kurikulum 1994 merupakan hasil upaya untuk memadukan kurikulum-kurikulum sebelumnya, terutama kurikulum 1975 dan 1984.

Patut dicatat dalam periode ini adalah, terbitnya UU SISDIKNAS No 2 tahun 1989 yang menegaskan bahwa madrasah adalah lembaga pendidikan yang berciri khas islam, artinya muatan kurikulum struktur dan konsepnya senafas dengan nilai-nilai islam. Undang-undang tersebut berpengaruh pada system pembagian waktu pelajaran, yaitu dengan mengubah dari system semester ke system caturwulan. Dengan system caturwulan diharapkan dapat memberi kesempatan bagi siswa untuk dapat menerima materi pelajaran cukup banyak. Tujuannya adalah untuk menekankan pada pemahaman konsep dan keterampilan menyelesaikan soal dan pemecahan masalah.Lebih jauh, dengan UU SISDIKNAS ini, pendidikan agama islam akhirnya berjalan satu paket dengan system pendidikan nasional.

D. Sejarah Kurikulum Pendidikan Agama Islam Masa Reformasi

Sejarah telah mencatat bahwa bergantinya rezim maka akan berdampak pada perubahan kebijakan yang berlaku. Era reformasi yang mengedepankan keterbukaan, transparansi dan akuntabilitas, nyatanya telah pula berpengaruh pada dunia pendidikan nasional. Kurikum di era reformasi juga telah mengalami beberapa perubaha, diantaranya:

a. Kurikulum KBK

Era reformasi telah memberikan ruang yang cukup besar bagi perumusan kebijakan-kebijakan pendidikan baru yang bersifat reformatif dan revolusioner. Era ini memiliki visi untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang berdaya saing, maju, sejahtera dalam wadah NKRI.

Sebagai salah satu dampak dari laju reformasi adalah dibuatnya sistem

“Kurikulum Berbasis Kompetensi” atau yang kerap disebut kurikulum

(11)

KBK. Menguatkan hal diatas, pemerintah kemudian menetapkan UU No 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional menggantikan UU No 2 tahun 1989, dan sejak saat itu pendidikan dipahami sebagai: “usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.”.

Kegiatan belajar mengajar atau KBM pada kurikulum ini pendekatan belajar mengajarnya lebih pada jenis pendekatan CTL (Contekstual Teaching and Learning), menyangkut konstruktuvisme, inkuiri, bertanya, masyarakat belajar, pemodelan, refleksi dan penilaian otentik. Dengan ditetapkannya kurikulum 2004 ini, maka berimplikasi langsung dengan pelaksanaan pendidikan agama islam, akhirnya madrasahpun menjadikan “kompetensi”, sebagai basisnya. Apapun model dan bentuknya, harus diakui keberadaan kurikulum menjadi unsur penting dalam dunia pendidikan. Tanpa kurikulum, maka sulit rasanya menerjemahkan dan mewujudkan tujuan pendidikan.

b. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) atau Kurikulum 2006 Secara umum KTSP tidak jauh berbeda dengan KBK namun perbedaan yang menonjol terletak pada kewenangan dalam penyusunannya, yaitu mengacu pada desentralisasi sistem pendidikan.

Pemerintah pusat menetapkan standar kompetensi dan kompetensi dasar, sedangkan sekolah dituntut untuk mampu mengembangkan dalam bentuk silabus dan penilaiannya sesuai dengan kondisi sekolah dan daerahnya.

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing- masing satuan pendidikan (sekolah/madrasah). Sedangkan pemerintah pusat hanya memberi rambu-rambu yang perlu dirujuk dalam pengembangan kurikulum. Jadi pada kurikulum ini sekolah sebagai satuan pendidikan berhak untuk menyusun dan membuat silabus

(12)

pendidikan sesuai dengan kepentingan siswa dan kepentingan lingkungan. KTSP lebih mendorong pada lokalitas pendidikan. Dalam KTSP, Kepsek dan Guru merupakan “the key person” keberhasilan pelaksanaan pembelajaran. Guru sangat menentukan keberhasilan peserta didik terutama dalam kaitannya dengan proses belajar mengajar.

KTSP terdiri atas tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan dan silabus. Adapun karakteristik KTSP menurut Puskur (dalam buku Masnur Muslich) adalah sebagai berikut :

1). Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal.

2). Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes)dan keberagaman.

2) Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi.

4) Guru bukan satu-satunya sumber belajar.

5) Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi, dan ciri-ciri tersebut harus tercermin dalam praktik pembelajaran.

Penyelenggaraan pendidikan agama Islam di madrasah dan sekolah-sekolah, dijabarkan dalam kurikulum agama yang dikeluarkan oleh Kemenag, dan tepat pada bulan Mei 2008 menteri Agama mendatangani Permenag no 2 tahun 2008, menyangkut standard kompetensi lulusan dan standard isi PAI. Dalam KTSP juga dikenal istilah pengembangan program yang meliputi program tahunan, program semester, program modul (pokok bahasan), program harian dan program pengayaan, program remedial serta program bimbingan konseling.

Program tahunan merupakan program umum setiap mata pelajaran untuk setiap kelas, yang dikembangkan oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan. Program ini perlu dipersiapkan dan dikembangkan oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan. Program ini dipersiapkan dan

(13)

dikembangkan oleh guru sebelum tahun ajaran, karena merupakan pedoman bagi program-program berikutnya, yaitu program semester, mingguan, harian atau program pembelajaran setiap kompetensi dasar.

C. Kurikulum 2013

Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang dirancang baik dalam bentuk dokumen, proses, maupun penilaian didasarkan pada pencapaian tujuan, konten dan bahan pelajaran serta penyelenggaraan pembelajaran yang didasarkan pada Standar Kompetensi Lulusan. Konten pendidikan dalam SKL dikembangkan dalam bentuk kurikulum satuan pendidikan dan jenjang pendidikan sebagai suatu rencana tertulis (dokumen) dan kurikulum sebagai proses (implementasi). Dalam dimensi sebagai rencana tertulis, kurikulum harus mengembangkan SKL menjadi konten kurikulum yang berasal dari prestasi bangsa di masa lalu, kehidupan bangsa masa kini, dan kehidupan bangsa di masa mendatang.

Kurikulum 2013 bertujuan untuk mengarahkan peserta didik menjadi:

1) Manusia berkualitas yang mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah;

2) Manusia terdidik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri;

3) Warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

Pengembangan dan pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi merupakan salah satu strategi pembangunan pendidikan nasional sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang- Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Kurikulum ini menekankan tentang pemahaman tentang apa yang dialami peserta didik akan menjadi hasil belajar pada dirinya dan menjadi hasil kurikulum.

Oleh karena itu proses pembelajaran harus memberikan kesempatan yang luas kepada peserta didik untuk mengembangkan potensi dirinya menjadi hasil belajar yang sama atau lebih tinggi dari yang dinyatakan dalam Standar Kompetensi Lulusan.

Karakteristik kurikulum berbasis kompetensi adalah:

(14)

1) Isi atau konten kurikulum adalah kompetensi yang dinyatakan dalam bentuk Kompetensi Inti (KI) mata pelajaran dan dirinci lebih lanjut ke dalam Kompetensi Dasar (KD).

2) Kompetensi Inti (KI) merupakan gambaran secara kategorial mengenai kompetensi yang harus dipelajari peserta didik untuk suatu jenjang sekolah, kelas, dan mata pelajaran.

3) Kompetensi Dasar (KD) merupakan kompetensi yang dipelajari peserta didik untuk suatu mata pelajaran di kelas tertentu.

4) Penekanan kompetensi ranah sikap, keterampilan kognitif, keterampilan psikomotorik, dan pengetahuan untuk suatu satuan pendidikan dan mata pelajaran ditandai oleh banyaknya KD suatu mata pelajaran. Untuk SD pengembangan sikap menjadi kepedulian utama kurikulum.

5) Kompetensi Inti menjadi unsur organisatoris kompetensi bukan konsep, generalisasi, topik atau sesuatu yang berasal dari pendekatan “disciplinary–based curriculum” atau “content-based curriculum”.

6) Kompetensi Dasar yang dikembangkan didasarkan pada prinsip akumulatif, saling memperkuat dan memperkaya antar mata pelajaran.

7) Proses pembelajaran didasarkan pada upaya menguasai kompetensi pada tingkat yang memuaskan dengan memperhatikan karakteristik konten kompetensi dimana pengetahuan adalah konten yang bersifat tuntas (mastery). Keterampilan kognitif dan psikomotorik adalah kemampuan penguasaan konten yang dapat dilatihkan. Sedangkan sikap adalah kemampuan penguasaan konten yang lebih sulit dikembangkan dan memerlukan proses pendidikan yang tidak langsung.

8) Penilaian hasil belajar mencakup seluruh aspek kompetensi, bersifat formatif dan hasilnya segera diikuti dengan pembelajaran remedial untuk memastikan penguasaan kompetensi pada tingkat memuaskan

(15)

(Kriteria Ketuntasan Minimal/KKM dapat dijadikan tingkat memuaskan).

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

Pengertian sejarah perkembangan kurikulum PAI adalah suatu kejadian atau peristiwa yang terjadi pada masa lampau tentang bagaimana proses penyempurnaan dan perbaikan suatu kurikulum sebagai upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan anak didik untuk mengenal, memahami, menghayati dalam mengamalkan ajaran Agama Islam dari sumber utamanya kitab suci Al Qur’an dan Al Hadits melalui bimbingan, pengajaran, latihan serta penggunaan pengalaman.

Sejarah kurikulum pendidikan agama Islam Pra Kemerdekaan, Masa orde lama (kurikulum 1947 dan kurikulum 1952-1964), Masa orde baru (Kurikulum 1968, 1975, 1984, dan Kurikulum 1994 dan Suplemen Kurikulum 1999), Masa reformasi ( Kuriulum KBK, KTSP, dan Kurtilas).

Perubahan paradigma penyelenggaran pendidikan dari sentralisasi ke desentralisasi dan otonomi pendidikan mendorong terjadinya perubahan dan pembaharuan pun beberapa aspek pendidikan, termasuk aspek kurikulum. Dalam kaitan ini, kurikulum sekolah pun menjadi perhatian dan pemikiran-pemikiran baru, sehingga mengalami perubahan perubahan 2021 kebijakan.

Dalam hal ini, daerah memiliki kewenangan dalam mengembangankan atau menyusun kurikulum yang efektif sesuai dengan keadaan dan kebutuhan daerahnya dengan berlandaskan pada

(16)

standar nasional pendidikan. pengembangan kurikulum di daerah selalu dituntut mempunyai keterampilan konseptual, yaitu kecakapan untuk memformulasikan pikiran, memahami teori-teori, melakukan aplikasi, menganalisis kecenderungan berdasarkan kemampuan teoritis dan yang dibutuhkan masyarakat masa depan, dan keterampilan bekerja sama dengan lembaga lain.

B. Saran

Sesungguhnya di dalam makalah ini masih banyak kekurangan, kami mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun dari pembaca supaya menjadi acuan untuk penulis agar membuat makalah menjadi lebih baik lagi. Kami menghimbau bagi pembaca, sebaiknya mencari referansi lain. Karena keterbatasan penulis dalam membuat makalah ini, sehingga pembaca dapat menambah pengetahuan dan wawasan.

DAFTAR PUSTAKA

Idi, Abdullah. 2007. Pengembangan Kurikulum; Teori dan Praktek. Yogyakarta:

Ar Ruzz Media.

Alisjahbana, Armida S., Otonomi Daerah dan Desentralisasi Pendidikan, Bandung: Universitas Padjajaran, 2004.

Depdiknas, Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah (buku 1), Jakarta: Dirjen Pendidikan Dasar Menengah, 2001.

Hadiyanto, Mencari Sosok Desentralisasi Manajemen Pendidikan di Indonesia, Jakarta: PT. Asdi Mahasatya, 2004, Cet I.

Hamalik, Oemar, Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta, Bumi Aksara, 2003.

Hasbullah, Otonomi Pendidikan, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2006.

Hasibuan, Lias, Melejitkan Mutu Pendidikan: Refleksi, Relevensi dan Rekonstruksi Kurikulum, Jambi: SAPA Project, 2004.

Kunandar, Guru Profesional: Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Persiapan Menghadapi Sertifikasi Guru, Jakarta:

RajaGrafindo Persada, 2007.

Referensi

Dokumen terkait

Kurikulum 1975 Konten materinya tidak lagi menggunakan ilmu lain di dalam setiap bidang ilmu sehingga pelajaran sejarah murni membahas sejarah, yang membedakan

Selain itu juga, tujuan dalam pembuatan makalah ini adalah untuk menambah wawasan kita tentang mengenai Perkembangan Islam di Dunia, agar kita bisa lebih memahami dan

Seperti terungkap ketika membahas sejarah perkembangan studi islam di dunia muslim, bahwa kontak pertama antara dunia barat dengan dunia muslim adalah lewat

• Makalah ini membahas sejarah dan perkembangan perhatian terhadap kualitas dan menjelaskan bagaimana organisasi memperlakukan kualitas, sebagaimana dimaklumi konsep

BINCANGKAN PERKEMBANGAN FALSAFAH SEJARAH DALAM ZAMAN PERTENGAHAN DI EROPAH.. SEJARAH

Makalah ini membahas tentang pengertian dan sejarah ejaan bahasa

Makalah ini membahas sejarah hidup

Makalah ini membahas tentang model konsep kurikulum humanis dan model konsep kurikulum teknologis dalam