• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN PEMIKIRAN EKONOMI ISLAM

N/A
N/A
Herianti HeSun

Academic year: 2024

Membagikan "PERKEMBANGAN PEMIKIRAN EKONOMI ISLAM"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

Makalah

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas pada Mata Kuliah Perkembangan Pemikiran Ekonomi Islam Program Studi Ekonomi Syariah

Oleh ;

Herianti (601022023006) Nur Syabriani Riski ( Ikbal Wijaya (601022023016)

Dosen Pengajar:

Dr. M. Rafid Marwal, SE,. MM

PROGRAM PASCASARJANA

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) BONE 2023

(2)

penyusunan makalah “Perkembangan Pemikiran Ekonomi Islam “Menurut Muhammad Abdul Mannan). Kami berterima kasih kepada bapak Dr. M. Rafid Marwal, SE,. MM selaku dosen mata Perkembangan Pemikiran Ekonomi Islam dan kepada pihak lain yang telah mendukung dan membantu selesainya makalah ini. Dengan selesainya makalah yang kami buat diharapkan dapat memberikan masukan yang menambah pengetahuan pembaca.

Makalah ini disusun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasa serta tidak menutup kemungkinan informasi di dalamnya. Oleh karena itu, kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami demi kesempurnaan makalah ini di masa mendatang, semoga makalah ini bermanfaat untuk kita semua dan menambah wawasan kita.

Bone, 5 Desember 2023

Penyusun

ii

(3)

BAB I PENDAHULUAN 1

A. Latar Belakang 1

B. Rumusan Masalah 2

C. Tujuan Penulisan 3

BAB II PEMBAHASAN 3

A. Biography Muhammad Abdul Mannan 3

B. Teori Pemikiran Ekonomi Abdul Mannan 3

C. Relevansi Pemikiran Ekonomi Muhammad Abdul Mannan 20

BAB III PENUTUP 25

A. Kesimpulan 25

B. Saran 26

DAFTAR RUJUKAN 27

iii

(4)

Mannan mendefinisikan ekonomi Islam sebagai ilmu sosial yang mempelajari permasalahan ekonomi suatu masyarakat yang dijiwai oleh nilai- nilai Islam. Ekonomi Islam berkaitan dengan produksi, distribusi dan konsumsi barang dan jasa dalam kerangka masyarakat Islam di mana cara hidup Islam dihormati sepenuhnya.1 Pemikiran ekonominya dituangkan dalam karya Islamic Economics: Theory and Practice (1970) dan The Creation of Islamic Economic Society (1984). Ia mendefinisikan ekonomi Islam sebagai “suatu ilmu sosial yang mempelajari permasalahan ekonomi manusia yang diilhami oleh nilai-nilai Islam” Ketika ekonomi Islam dihadapkan pada masalah ”kelangkaan”, maka bagi Mannan, memiliki arti serupa dengan kelangkaan yang terjadi di perekonomian Barat. Beda nya adalah terletak pada pilihan individu terhadap penggunaan sumber daya, yang dipengaruhi oleh keyakinan terhadap nilai-nilai Islam.

Menurut Abdul Mannan, yang membedakan sistem ekonomi Islam dari sistem sosio-ekonomi lain adalah sifat motivasional yang mempengaruhi pola, struktur, arah, dan komposisi produksi, distribusi, dan konsumsi. Dengan demikian, tugas utama ekonomi Islam adalah menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi asal-usul permintaan dan penawaran. Hal ini bertujuan untuk memungkinkan perubahan menuju distribusi yang lebih adil.2

Para ahli ekonomi Islam memberikan definisi yang berbeda-beda mengenai ekonomi Islam, namun semuanya mempunyai pengertian yang sama.

1 Mohamed Aslam Haneef, “Pemikiran Ekonomi Islam Kontemporer”, (Jakarta: Rajawali pers.2010), h. 17

2 Hulwati, Ekonomi Islam, ( Jakarta: Ciputat Press Group, 2009), h.1-3

1

(5)

Menurut Pak Abdul Mannan. Ekonomi Islam adalah “sosial science which studies the economics problems of people imbued with the values of Islam”. Dari Definisi tersebut merujuk pada disiplin ilmu sosial yang memusatkan perhatian pada analisis ekonomi dengan mempertimbangkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip Islam.

Tujuannya adalah mengembangkan pemahaman yang lebih holistik tentang bagaimana aspek-aspek ekonomi dapat diintegrasikan dengan prinsip-prinsip etika dan moral yang berasal dari ajaran Islam.

Penulis mencoba menyoroti dan menjelaskan pemikiran tokoh ekonomi muslim kontemporer, Prof. Muhammad Abdul Mannan, M.A.,Ph.D. Dipilihnya tokoh ini dijelaskan oleh peran positif tokoh tersebut dan pemikiran ekonominya yang mampu melahirkan ide-ide cemerlang bagi landasan teori-teori ekonomi Islam. Salah satu karyanya adalah “Ekonomi Islam; Teori dan praktik menjadi gagasan utama berdirinya Islamic Development Bank (IDB) untuk dapat lebih memanfaatkan sumber daya alam negara-negara Muslim yang melimpah.3

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana biografi atau riwayat kehidupan Muhammad Abdul Mannan?

2. Bagaimana pemikiran-pemikiran ekonomi menurut Muhammad Abdul 3. Apa saja relevansi pemikiran Ekonomi Muhammad Abdul Mannan?

C. Tujuan Penulisan

Adapun Tujuan Penulisan dari Makalah ini, antara lain :

1. Untuk mengetahui bagaimana biografi atau riwayat kehidupan Muhammad Abdul Mannan?

3 Pristiyono, “Jurnal Ecobisma Vol 2 No. 1 Jan 2015,” Ecobisma 2, no. 1 (2015): 73–90, http://jurnal.ulb.ac.id/index.php/ecobisma/article/view/720/707.

(6)

2. Bagaimana pemikiran-pemikiran Ekonomi menurut Muhammad Abdul Mannan?

3. Apa saja relevansi pemikiran Ekonomi Muhammad Abdul Mannan sampai sekarang?

(7)

BAB II PEMBAHASAN A. Biography Muhammad Abdul Mannan

Muhammad Abdul Mannan adalah seorang tokoh ekonomi Islam yang menganjurkan berdirinya Bank Dunia Islam, lima tahun sebelum berdirinya Bank Pembangunan Islam (IDB) secara de facto pada tahun 1975 di Jeddah, Arab Saudi. Ia dilahirkan pada tahun 1918 di Bangladesh, yaitu Saat itu Bangladesh masih menjadi bagian dari Pakistan. Mannan menikah dengan seorang wanita asal India bernama Nargis Mannan. Dia adalah seorang mahasiswa pascasarjana dengan gelar master dalam ilmu politik. Nargis Mannan adalah istri yang sangat membantu Mannan menyelesaikan tulisannya. Mannan dikaruniai dua orang anak setelah menikah dengan Nargis Mannan. Reshmi dan Ghalib adalah nama putri dan putra Mannan. Kedua anaknya juga rutin membantu ayahnya (Mannan) menulis tentang ekonomi Islam.4

Mannan memperoleh gelar master di bidang ekonomi dari Universitas Rajshahi pada tahun 1960. Setelah menyelesaikan gelar masternya, ia bekerja di berbagai kantor ekonomi pemerintah di Pakistan. Ia menjabat sebagai wakil ketua Komisi Perencanaan Federal Pakistan (Joint Planning Commission of Pakistani Institutions) pada tahun 1960. Pada tahun 1970, Mannan melanjutkan studinya di Michigan State University, AS, untuk memperoleh gelar master. Program Master (Ekonomi) dan dia tinggal di sana. Pada tahun 1973, Mannan memperoleh gelar master, kemudian menyelesaikan gelar doktor di bidang industri dan keuangan di

4 123 Dok “Biografi M. Abdul Mannan”, https://123dok.com/article/biografi-mannan- konsep-distribusi-pendapatan-sistem-ekonomi-menurut.yr85levz (Rabu, 6 Desember 2023 19:58)

(8)

universitas yang sama, di bidang ilmu ekonomi, khususnya Ekonomi Pendidikan, Ekonomi Pembangunan, Hubungan Industrial Dan Keuangan.5

Daftar Pengalaman Kerja Muhammad Abdul Mannan

a) Staf Ahli Di Badan Perencanaan Pembangunan Di Bangladesh (1960) b) Research Professor Di Universitas King Abdul Aziz, Jeddah, Arab Saudi

(1978).

c) Konsultan di Islamic Development Bank/ADB (1978).

d) Konsultan di Asian Development Bank/ADB di bidang Pembangunan, Ekonomi Moneter, Keuangan Publik dan Keuangan Islam.

e) Visiting Professor pada Moeslim Institute di London dan Georgetown University Di Amerika Serikat (1980).

f) Founder Chairman Di Social Investment Bank, Ltd.

g) Founder Chairman Di Bangladesh Social And Peace Foundation (BSPF) h) Holistic Family Health Clinic (HFHC) Di Dhaka, Bangladesh.

i) The Highest Pada Islamic Development Bank/IDB (1996).6

Selama tiga tahun karirnya, Mannan memainkan peran penting di banyak organisasi pendidikan dan ekonomi. Pada tahun 1970, ia menerbitkan buku besar pertamanya, The Theory and Practice of Islamic Economics. Buku ini dianggap oleh sebagian besar mahasiswa dan pakar ekonomi Islam sebagai “buku teks”

pertama tentang ekonomi Islam. Buku ini telah mendapat pengakuan internasional 5 Qori Imtinan et al., “Pemikiran Ekonomi Islam Oleh Muhammad Abdul Mannan: Teori Produksi (Mazhab Mainstream),” Jurnal Ilmiah Ekonomi Islam 7, no. 3 (2021) : h. 2-3, https://jurnal.stie-aas.ac.id/index.php/jei/article/view/3585.

6 Annisa Eka Rahayu, “Telaah Kritis Pemikiran Abdul Mannan Tentang Riba Dan Bunga

Bank” Islamic Banking: Jurnal Pemikiran dan Pengembangan Perbankan Syariah, Vol. 6 No. 1 2020, hal.51-52 https://ejournal.stebisigm.ac.id/index.php/isbank/article/download/131/141/

(9)

dan telah diterbitkan sebanyak 12 kali, direvisi pada tahun 1986 dan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, Turki, Bengali dan Melayu (dan bahasa Indonesia, Pent). Atas kontribusinya terhadap pengembangan ekonomi Islam, Mannan dianugerahi “Penghargaan Akademik Tertinggi Pakistan” pada tahun 1974. Serta Hadiah Pulitzer. Pada tahun 1970, ekonomi Islam berada pada tahap awal, beralih dari pernyataan tentang prinsip-prinsip umum ekonomi Islam ke deskripsi lain. Perlu diketahui bahwa pada saat itu belum ada perguruan tinggi yang mengajarkan ekonomi Islam seperti saat ini, yaitu masa fiqh ketika muamalah (hukum bisnis) masih dianggap sebagai ekonomi Islam.7

Seiring berjalannya waktu, ekonomi Islam telah berkembang dengan baik cakupannya, ditandai dengan banyaknya buku-buku yang ditulis oleh orang awam dan pengajaran ekonomi Islam di tingkat universitas. Hal ini mendorong Mannan untuk menerbitkan dua buku lagi pada tahun 1984, yaitu The Making of Islamic Economic Society dan The Frontiers of Islamic Economic, yang menurut Mannan bisa dianggap sebagai upaya serius dan menjelaskan lebih detail buku pertamanya. Tidak dapat dipungkiri bahwa Mannan turut andil dalam perkembangan sastra. Ekonomi Islam, dan tulisan-tulisannya, dianalisis sebagai bagian dari studi kami tentang pemikiran ekonomi Islam kontemporer.

Selain karya-karya Mannan yang disebutkan di atas, sebagai seorang ilmuwan dan ulama, Abdul Mannan juga menulis beberapa buku lainnya, yaitu:

1. An Introduction to Applied Economic (1963), 2. Economic Problem and Planning in Pakistan (1968)

3. The Making of Islamic Economic Society: Islamic Dimensions in Economic Development and Social Peace in Islam (1989)

7 Zaliana, Analisis Konsep Muhammad Abdul Mannan dan Aktualisasinya dengan Prinsip Komsumsi. Http://www.google.com/M.Abdul Mannan/paradigma-sistem-ekonomi-islam (07 Desember 2023, 15:31)

(10)

4. Management of Zakah in Modern Society (1989)

5. Developing a System of Islamic Financial Instrument (1990),

6. Understanding Islamic Finance: A Study of Security Market in an Islamic Framework (1993)

7. International Economic Relation from Islamic Perspective (1992),

8. Structural Adjustments and Islamic Voluntary sector with special reference to Bangladesh (1995)

9. The Impact of Single European Market on OIC Member Countries (1996) 10. Financing Development in Islam (1996) (Janwari, 2016).8

B. Konsep Pemikiran Ekonomi Muhammad Abdul Mannan

Menurut M. Abdul Mannan. Ekonomi Islam adalah“ sosial science which studies the economics problems of people imbued with the values of Islam”. Dari definisi tersebut, dapatlah disimpulkan bahwa Economic Islam sebagai ilmu sosial yang mempelajari masalah-masalah ekonomi yang dihadapi oleh masyarakat yang memiliki nilai-nilai Islam sebagai dasar atau pijakan.9 Dengan kata lain, pendekatan ekonomi Islam mencakup pandangan dan metode analisis yang sesuai dengan ajaran- ajaran agama Islam. Hal ini dapat mencakup aspek-aspek seperti keadilan sosial, distribusi kekayaan yang adil, dan pematuhan terhadap prinsip-prinsip etika Islam dalam keputusan ekonomi. Dengan demikian, ekonomi Islam menjadi suatu pendekatan yang holistik, mencakup dimensi ekonomi dan nilai-nilai spiritual yang diakui dalam Islam.

Ada beberapa teori atau konsep ekonomi menurut Abdul Mannan diantaranya adalah Produksi, Distribusi, Komsumsi, Konsep Mikro dan Makro Ekonomi Islam, Teori Zakat, Menuju Teori Perbankan Islam Bebas Bunga,

8 Sudut Hukum, “Biografi Muhammad Abdul Mannan” diakses on 15:20,Kamis 07 Desember 2023, https://suduthukum.com/2016/08/biografi-muhammad-abdul-mannan.html

9 Pristiyono, “Jurnal Ecobisma Vol 2 No. 1 Jan 2015,” Ecobisma 2, no. 1 (2015):h.96, http://jurnal.ulb.ac.id/index.php/ecobisma/article/view/720/707.

(11)

1. Konsep Produksi

Pemikiran Mannan mengenai produksi, Ia mengatakan bahwa salah satu faktor produksi yang diakui oleh Islam adalah tanah, namun dalam arti yang berbeda. Dalam tulisan klasik, kesuburan tanah, sumber daya air, udara, mineral, dan lain sebagainya termasuk ke dalam sumber daya yang dipakai untuk produksi.

Al-Qur’an dan sunnah menghimbau agar dalam pemanfaatan tanah dilakukan dengan baik. Oleh sebab itu, al-Qur’an menganjurkan pentingnya menjadikan tanah kosong sebagai kebun dan pengairan yang ditanami tumbuh-tumbuhan. Al- Qur’an menyebutkan:

       

        

 

Terjemahannya : dan Apakah mereka tidak memperhatikan, bahwasanya Kami menghalau (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanaman yang daripadanya Makan hewan ternak mereka dan mereka sendiri. Maka Apakah mereka tidak memperhatikan?(Q.S As- Sajadah, 32;27)

Kemudian, Mannan juga menyebutkan bukti selanjutnya bahwa terdapat dorongan agar membudidayakan tanah kosong yaitu bersumber pada Aisyah yang meriwayatkan bahwa Nabi SAW pernah berkata: “Siapa saja yang menanami tanah yang tiada pemiliknya akan lebih berhak atasnya” (HR.Bukhari). 10

Dari ayat dan hadist di atas Islam mengakui pemilikan tanah bukan penggarap, oleh karena itu diperkenankan baginya untuk diberikan kepada orang lain agar digarap dengan memberi sebagian hasilnya atau berupa uang, namun

10

(12)

bersamaan dengan ini dianjurkan pula agar pihak yang mampu sebaiknya meminjamkan tanahnya tanpa sewa kepada saudara-saudaranya yang miskin.

Sunnah selanjutnya yaitu “Amr berkata: ‘Saya mengatakan pada Tawus, Engkau harus meninggalkan Makhahrah, karena mereka mengatakan bahwa Nabi SAW. Melarang hal ini’. Katanya, Ibn ‘Abbas memberitahu saya bahwa Nabi SAW. Tidak melarang hal ini, tetapi ia hanya berkata: “Jika seorang di antara kalian memberikannya sebagai hadiah kepada saudaranya, adalah lebih baik baginya dari pada menerima pembayaran untuk itu” (H.R.Bukhari, Muslim).11

Hal ini terbukti bagi mereka yang memiliki lahan luas namun tidak dapat menggarap sendiri untuk bercocok tanam. Hal ini tidak berarti bahwa tanah tersebut dapat disewakan kepada penyewa. Mannan berpendapat bahwa produksi berkaitan dengan utilitas atau pencapaian nilai guna. Barang atau jasa yang dihasilkan harus memenuhi kaidah hukum syariah, khususnya halal dan hemat biaya untuk menciptakan kemanfaatan.

Mannan berpendapat bahwa peningkatan pendapatan dapat dicapai dengan meningkatkan tingkat produksi, yaitu memanfaatkan sumber daya alam, modal, dan tenaga kerja secara maksimal. Menurut Mannan, hal ini mengejutkan karena selama empat belas abad Islam telah mengakui pentingnya pertumbuhan yang seimbang antara pertanian dan industri.12

Dalam Islam, untuk mencapai tujuan pertumbuhan yang seimbang, penggunaan tanah harus dilakukan secara efisien dan efektif, berdasarkan perannya sebagai faktor produksi. Namun perlu diingat bahwa Islam menyatakan bahwa jika suatu masyarakat bergantung pada suatu pekerjaan tertentu dan mengabaikan pekerjaan lain sehingga merugikan masyarakat, maka diperlukan

11 12

(13)

intervensi pemerintah untuk mengubah kebiasaan tersebut. Misalnya, jika perusahaan hanya fokus pada kegiatan pertanian dan mengabaikan pekerjaan lain seperti investasi atau kegiatan industri, maka pemerintah atau negara dapat mengeluarkan peraturan agar perusahaan dapat mendistribusikan pendapatan secara merata dan adil sehingga semua pihak mendapat manfaat dari masyarakat.

Prinsip dasar yang selalu diperhatikan dalam proses produksi adalah prinsip kesejahteraan ekonomi. Bahkan dalam sistem kapitalis, produksi barang dan jasa didasarkan pada prinsip kesejahteraan ekonomi. Dalam perekonomian modern, kesejahteraan ekonomi diukur dalam bentuk uang. Keunikan konsep Islam tentang kesejahteraan ekonomi terletak pada kenyataan bahwa konsep tersebut tidak dapat mengabaikan pertimbangan yang lebih luas mengenai kesejahteraan umum yang berkaitan dengan masalah moral, pendidikan, agama, dan lainnya. Oleh karena itu, Abdul Mannan menyimpulkan bahwa sistem produksi perekonomian di negara Islam harus dikendalikan dengan kriteria obyektif dan subyektif. 13

Kriteria obyektif akan tercermin dalam bentuk kesejahteraan yang diukur dari segi moneter dan kriteria subyektif berupa kesejahteraan yang diukur dari segi etika ekonomi berdasarkan pedoman Al-Quran dan Sunnah.

2. Konsep Hak Milik Pribadi Abdul Mannan

Melihat bahwa keistimewaan konsep islam tentang hak milik pribadi terletak pada legistimisi yang dikaitkan dengan nilai-nilai moral. Dalam hal ini, islam berbeda dengan kapitalisme dan komunisme, karena keduanya tidak ada satupun berhasil menempatkan individu selaras dalam suatu mozaik sosial. Hak milik pribadi merupakan dasar kapitalisme. Dan sebaliknya, menghapuskannya

13

(14)

adalah sasaran pokok ajaran sosialis. Islam menjaga keseimbangan antara hal-hal berlawanan yang terlalu dilebih-lebihkan.

Selain mengakui kepemilikan pribadi, islam juga menjamin pemerataan kekayaan seluas- luasnya melalui lembaga-lembaga yang didirikannya dan peringatan-peringatan moral.

Dalam islam, pemilik mutlak segala sesuatu yang ada di bumi dan di langit adalah allah (qs. Ali imran: 189). Manusia hanyalah khalifah di muka bumi.

Menurut abdul mannan, secara umum terdapat ketentuan syariat yang mengatur hak milik pribadi, yaitu:

Pemanfaatan harta benda secara terus menerus; b) Pembayaran zakat sebanding dengan harta benda yang dimiliki; c) Penggunaan harta benda secara berfaedah; d) Penggunaan harta benda tanpa merugikan orang lain; e) Memiliki harta benda yang sah; f) Penggunaan harta benda tidak dengan cara boros atau serakah; g) Penggunaan harta benda dengan tujuan memperoleh keuntungan atas haknya;h) Penerapan hukum waris yang tetap sesuai aturan Islam.

3. Problematika dalam Faktor Produksi Abdul Mannan melihat beberapa persoalan yang sangat mendasar dalam sector produksi sehingga perlu dicari solusinya secara Islam. Persoalan-persoalan tersebut adalah sebagai berikut:

Problematika dalam Faktor Produksi Abdul Mannan melihat beberapa persoalan yang sangat mendasar dalam sektor

produksi sehingga perlu dicari solusinya secara Islam. Persoalan-persoalan tersebut adalah sebagai berikut:

(15)

1) Sistem Penguasaan Tanah Dalam perekonomian pertanian, soal penguasaan tanah atau hubungan hukum adat

tentang tanah, dipandang sangat penting dari segi produksi dan distrubusi karena keduanya mempengaruhi rangsangan produksi dan teknik pertanian melalui pola pemilikan dan penguasaan hak milik. Islam sebagai Ad-Din melalui hukum Al-Quran dan hukum Sunnah telah mencantumkan asas positif dan pokok. Dengan asas-asas tersebut dapat dikembangkan suatu sistem penguasaan tanah yang sesuai untuk setiap negara muslim di dunia Menurut ketentuan Al-Quran, tanah harus menjadi milik bersama agar dapat

dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya untuk masyarakat. Karena itu, pemilikan dan penguasaan atas tanah yang membatasi keuntungan untuk sekelompok orang serta menyampingkan sebagian besar rakyat sangat bertentangan dengan jiwa Al-Quran. Dalam Islam, tiada seorang pun dapat menuntut kepemilikan tanah secara mutlak, karena tanah adalah milik Allah.

Demikian Demikian juga menurut sunnah Nabi saw. dan tulisan para sarjana teologi muslim yang

masyhur tanpa ragu-ragu lagi dapat dibuktikan bahwa Islam tidak menyetujui sistem Zamindari, atau yang dinamakan system tuan tanah atau feodalisme.

Pertama, sistem penguasaan tanah seperti ini bertentangan dengan prinsip distribusi kekayaan yang adil. Kedua, sistem ini akan merintangi pemanfaatan tanah yang tepat, karena tanah yang tidak terpakai merupakan hal yang mubazir dan merugikan pemilik dan masyarakatnya secara keseluruhan.

Selain itu, Abdul Mannan tidak menyukai gagasan sewa tanah, karena hal itu dapat

(16)

membantu pembentukan suatu kelas kapitalis baru dalam masyarakat yang eksistensinya sebenarnya merupakan ancaman etika perekonomian Islam yang mendasar.

2) Kebijakan kependudukan dalam negara Islam Kebijakan pengendalian jumlah penduduk mengandung arti bahwa situasi demografi tidak memuaskan dalam negara tersebut. Keluarga Berencana melalui pembatasan kelahiran merupakan bagian tidak terpisahkan dari kebijakan pembatasan penduduk yang meluas.

Hasilnya bukan untuk mencegah pertumbuhan yang terus menerus, melainkan untuk menciptakan perkawinan bahagia diantara pertumbuhan perekonomian bagi suatu bangsa secara keseluruhan Dalam Islam, persoalan keluarga berencana merupakan persoalan kontroversial, karena

hal ini tidak dikemukakan dalam Al-Quran. Demikian juga dalam hadits tidak ada ketentuan jelas yang dapat member jalan untuk berbagai penafsiran yang dikaitkan dengan adanya perubahan waktu dan keadaan Menurut Abdul Mannan, kebijakan pembatasan kelahiran dapat dibenarkan karena

kelemahan tiga tindakan alternatif lainya dalam menghadapi dampak buruk kelebihan penduduk.

Pertama, penyebaran penduduk di daerah yang padat ke daerah yang jarang penduduknya dapat dilakukan sebagai salah stu alternatif untuk mengatasi ledakan penduduk, karena terdapat perbedaan luas antar daerah di suatu negara. Hal ini bukan persoalan yang mudah, tetapi memerlukan perencanaan ilmiah yang mendalam.

Kedua, upaya untuk meringankan beban kelebihan penduduk yang relatif dapat diusahakan dengan melakukan pemerataan kekayaan melalui pajak progresif bagi orang kaya. Ketiga, imigrasi sebagai kebijakan kependudukan dapat

(17)

meringankan persoalan kelebihan penduduk. Akan tetapi terdapat beberapa kesulitan praktis yang merintangi pelaksanaannya dengan baik, karena negara- negara yang kurang padat penduduknya sekarang ini mengendalikan imigrasi orang asing dengan undang-undang perbatasan Hakikat hubungan Industrial dalam Islam Perselisihan antara pekerja dan majikan merupakan kutukan bagi dunia kapitalis. Pertumbuhan organisasi pekerja dan majikan terjadi selama beberapa dekade terakhir disebabkan oleh banyaknya pemogokan dan larangan bekerja. Dalam hal ini, Abdul Mannan memberikan penjelasan tentang pandangan Islam terhubungan industrial dan membantah pandangan Karl Marx sebagai berikut:

“Islam tidak mengakui pengisapan buruh oleh majikan, tetapi juga tidak menyetujui dihapuskannya kelas kapitalis dan diadakan masyarakat tanpa kelas.

Islam mengakui adanya perbedaan kemampuan dan bakat tiap-tiap yang mengakibatkan perbedaan pendapat dan imbalan material (Al-Quran, An-Nisa’ : 33). Islam tidak menyetujui persamaan tingkat yang sama sekali tidak berubah dalam pembagian kekayaan, karena hal ini dapat membatalkan maksud perbedaan yang sebenarnya. Dua prinsip dasar yang terdapat dalam Al-Quran dan Hadits, yaitu: Pertama, pelayan harus setia dan melakukan pekerjaannyadengan baik. Kedua, majikan harus membayar penuh untuk jasa yang diberikan pelayannya itu. Pada kenyataanya, Islam menjadikan gabungan yang baik antara buruh dan majikan dengan memberikan nilai moral pada masalh itu. Hal ini menjadi jelas jika kita menganalisa sebab utama timbul perselisihan industrial, tidak lain adalah faktor ekonomi dan psikologi.”

d. Distribusi Pendapatan dan Kekayaan

Teori ekonomi modern tentang distribusi merupakan teori yang menentapkan harga jasa produksi. Dalam hal ini, teori itu hanya perpanjangan teori umum

(18)

penetapan harga. Barangkali masalah distribusi perseorangan dapat dipecahkan dengan cara baik setelah meneliti masalah kepemilikan faktor-faktor industri.

Abdul Mannan dalam bukunya ini membahas alasan yang menjadi dasar pemikiran distribusi pendapatan diantara berbagai faktor industri:

Pertama, pembayaran sewa yang umumnya mengacu pada pengertian surplus yang diperoleh suatu unit tertentu dari faktor industry melebihi jumlah minimum yang diperlukan untuk mempertahankan faktor itu dalam posisi yang sekarang, tampaknya tidak bertentangan dengan jiwa Islam. Dalam hal ini, sewa dan bunga sangat berbeda.

Kedua, perbedaan upah akibat perbedaan bakat dan kesanggupan diakui oleh Islam. Syarat-syarat pokoknya ialah para majikan tidak akan mengisap para pekerja dan dia harus membayar hak mereka. Sedangkan para pekerja tidak akan mengeksploitir majikan melalui serikat buruh, dan mereka juga harus melaksanakan tugas dengan tulus dan jujur.

Ketiga, terdapat kontroversi antara riba dan bunga. Tetapi apabila arti riba dipandang dalam perspektif sejarahnya tepat, nampaknya tidak ada perbedaan antara riba dan bunga. Suatu survey singkat tentang semua teori modern mengenai bunga mengungkapkan bahwa para ahli ekonomi tidak berhasil menemukan jawaban yang jelas mengapa bunga harus dibayar.

Konsep Mikro dan Makro Ekonomi Islam

Akibat pengaruh paham kapitalis dan sosialis, beberapa cendikiawan muslim ikut meragukan bahwa Islam tidak mempunyai sistem ekonomi tersendiri. Keraguan ini timbul akibat kurang pengetahuan mereka tentang nilai-nilai Islam sebagai falsafah hidupnya.

(19)

Untuk itu, Abdul Mannan mencoba menjawab kekeliruan tersebut dan menjadikannya sebagai pegangan dalam mewujudkan realitas bagi perekonomian Islam.

a. Teori Harga dalam Negara Islam

Abdul Mannan mengatakan bahwa teori harga tidak memperkenankan setiap jenis pengisapan baik dalam pihak produsen maupun dari pihak konsumen.

Dalam suatu parekonomian campuran seperti perekonomian Pakistan, pada produsen sedikit banyaknya terorganisasi, tapi para konsumen tidak. Karena itu, perlu mendidik mereka dengan perlindungan negara dan pengawasan, maksudnya untuk menyelaraskan ketentuan-ketentuan keadilan sosial islami dengan permintaan insentif produsen. Akan tetapi untuk menjaga tingkat harga kebutuhan pokok dalam jangkauan orang biasa dan para pekerja, negara islam harus mengambil sejumlah ketentuan kebijakan yang mungkin meliputi tindakan jangka pendek seperti: a. Usaha untuk memperoleh hasil bumi untuk perdagangan dan yang tidak untuk perdagangan negara sehingga para pertani memperoleh harga layak dari hasilnya. b. Pembagian bahan pangan dan pengadaan barang konsumsi yang perlu di subsidi. c. Menyelenggarakan seminar/diskusi antara konsumen dan produsen dibawah perlindungan negara dengan tujuan memberi penjelasan mereka mengenai kode kode transaksi islami, dan tindakan jangka panjang seperti: 1) membentuk suatu badan yang dapat menetapkan harga secara wajar. 2) membentuk jaringan koperatif konsumen. 3) membuat perencanaan konsumsi yang komprehensif dalam rangka perencanaan negara.

Abdul Mannan juga berpendapat bahwa persoalan besar yang menanti penyelesaian Abdul Mannan juga berpendapat bahwa persoalan besar yang menanti penyelesaian ngara Islam adalah adanya sebuah pengaturan

(20)

institusional yang jelas berdasarkan prinsip Islam yang secara otomatik akan mengurus semua penyakit ekonomi masyarakat. Setiap perintah apapun yang terpisah, pasti akan menghasilkan keadaan berat sebelah, seperti halnya sekarang ini di hamper semua negara muslim.

Menuju teori perbankan Islam bebas bunga

Ini merupakan judul pada bab 9 dari buku beliau. Pada bab ini dijelaskan bahwa Al- Quran melarang riba yang arti harfiahnya adalah “penambahan”. Tapi tidak semua penambahan dilarang dalam Islam.pada umumnya para ulama telah menerima yang dimaksud dengan riba adalah bunga- riba yang berlaku di tanah arab pra-islam. Sementara orang masih berpendapat bahwa yang dilarang oleh Islam itu riba bukan bunga. Telah terbukti bahwa bunga dan riba adalah sisi depan dan belakang kata uang yang sama. Dengan riset modern diketahui bahwa bunga sama sekali tidak mempengaruhi nilai tabungan, tingkat investasilah yang menetapkan tingkat tabungan. Islam melarang bunga tapi mendorong investasi.

Kemudian, telah kita lihat bahwa zakat memberikan dorongan yang kuat untuk menanamkian dana yang tidak digunakan. Kemudian perbankan Islam didasarkan atas prinsip mitra usaha, karena itu sistem perbankan yang bebas bunga ini dapat membantu terbentuknya lembaga-lembaga tertentu berdasarkan mudharabah, dimana pemilik modal dan tenaga kerja dapat digabung bersama sebagai mitra kerja.

Teori Zakat

Dalam pandangan Abdul Mannan, zakat adalah poros dan pusat keuangan negara Islam. Zakat meliputi bidang moral, sosial, dan ekonomi. Dalam bidang moral zakat mengiukis habis ketamakan dan keserakahyan si kaya. Dalam bidang sosial, zakat bertindak sebagai alat khusus yang diberikan Islam untuk menghapuskan

(21)

kemiskinan dari masyarakat dengan menyadarkan si kaya akan tanggung jawab sosial yang mereka miliki. Dalam bidang ekonomi zakat mencegah penumpukan kekayaan yang mengerikan dalam tangan segelintir orang dan memungkinkan kekayaan untuk disebarkan sebelum sempat menjadi besar dan sangat berbahaya di tangan para pemiliknya. Ia merupakan sumbangan wajib kaum muslimin untuk perbendaharaan negara. Dan apabila seseorang memperhatikan ketentuan dan peraturan mengenai zakat dengan teliti, maka akan mudah baginya untuk mendapatkan enam prinsip syariat yang mengatur zakat, yaitu:

1) Prinsip keyakinan 2) Prinsip keadilan 3) Prinsip produktivitas 4) Prinsip nalar, Prinsip kemudahan 6) Prinsip kebebasan Semua

Semua prinsip di atas harus dicerminkan tidak saja dalam dasar tradisional penilaian tapi juga dalam dasar modern penilaian zakat, sehingga penentuan yang dikenakan zakat pada masa klasik Islam tidak menjadi kaku. Abdul Mannan juga mengatakan bahwa dalam menetapkan tariff zakat, negara Islam dapat menggunakan suatu unsur elastisitas untuk menghadapi kecendrungan inflasi ekonomi di hamper semua negeri muslim di seluruh dunia. Selama harga naik, daya beli penerimaan zakat berkurang, dengan demikian si miskin yang berhak manerima zakat, benar-benar terpukul. Khalifah Umar telah melakukan banyak perubahan dalam sistem zakat karena zakat alat untuk mencapai tujuan, bukan merupakan tujuan itu sendiri. .

C. Relevansi Pemikiran Ekonomi Muhammad Abdul Mannan

(22)

BAB III PENUTUP A.Kesimpulan

B. Saran

Penulis sangat menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan, dan tidak menutup kemungkinan terdapat kekeliruan terhadap isi makalah yang kami sajikan, olehnya itu penulis mengharapkan kritik dan saran serta masukan dari pembaca yang dapat membangun proses penyempurnaan makalah ini.

(23)

DAFTAR PUSTAKA

Haneef Aslem Mohamed, “Pemikiran Ekonomi Islam Kontemporer”, (Jakarta:

Rajawali pers.2010)

Hulwati, Ekonomi Islam, ( Jakarta: Ciputat Press Group, 2009)

Pristiyono, “Jurnal Ecobisma Vol 2 No. 1 Jan 2015,” Ecobisma 2, no. 1 (2015):, http://jurnal.ulb.ac.id/index.php/ecobisma/article/view/720/707.

123 Dok “Biografi M. Abdul Mannan”, https://123dok.com/article/biografi- mannan-konsep-distribusi-pendapatan-sistem-ekonomi-menurut.yr85levz (Rabu, 6 Desember 2023 19:58)

Qori Imtinan et al., “Pemikiran Ekonomi Islam Oleh Muhammad Abdul Mannan:

Teori Produksi (Mazhab Mainstream),” Jurnal Ilmiah Ekonomi Islam 7, no. 3 (2021), https://jurnal.stie-aas.ac.id/index.php/jei/article/view/3585.

Annisa Eka Rahayu, “Telaah Kritis Pemikiran Abdul Mannan Tentang Riba Dan Bunga Bank” Islamic Banking: Jurnal Pemikiran dan Pengembangan Perbankan Syariah, Vol. 6 No. 1 2020

Zaliana, Analisis Konsep Muhammad Abdul Mannan dan Aktualisasinya dengan Prinsip Komsumsi. Http://www.google.com/M.Abdul Mannan/paradigma- sistem-ekonomi-islam (07 Desember 2023, 15:31)

(24)

Sudut Hukum, “Biografi Muhammad Abdul Mannan” diakses on 15:20,Kamis 07 Desember 2023, https://suduthukum.com/2016/08/biografi-muhammad- abdul-mannan.html

Referensi

Dokumen terkait

Walaupun gerakan pembaruan Islam secara garis besarnya terbagi dalam dua batasan dekade yaitu pra-modern (abad XVII dan XVIII M) dan modern (mulai abad XIX M),

Berdasarkan kajian terhadap kebijakan fiskal pada masa awal Islam, terlihat bahwa zakat me- mainkan peranan yang sangat pen- ting untuk mencapai tujuan kebijak- an

Berdasarkan kajian terhadap kebijakan fiskal pada masa awal Islam, terlihat bahwa zakat me- mainkan peranan yang sangat pen- ting untuk mencapai tujuan kebijak- an

Para ahli yang mendukung teori ini menyatakan bahwa abad ke-13 sudah berdiri kekuasaan politik Islam, jadi masuknya Agama Islam ke Nusantara terjadi sebelumnya yaitu abad ke-7 M

Pada abad modern ini ditandai dengan berbagai pemikiran masalah ekonomi dan munculnya tempat pembelajaran, pengembangan pemikiran ekonomi yang pada akhirnya

Perkembangan ekonomi Islam di dunia harus dibedakan dengan perkembangan lembaga keuangan Islam seperti perbankan, pasar modal, asuransi, gadai atau lembaga keuangan lainnya.

Sedangkan perkembangan sastra Melayu Islam sejak awal kemunculannya hingga akhir zaman klasiknya dapat dibagi menjadi empat periodisasi: (1) Zaman Awal, pada abad ke-14 – 15 M;

Hikmah Mempelajari Sejarah Perkembangan Islam Pada Abad Modern Hikmah mempelajari sejarah perkembangan Islam pada abad modern dapat disikapi dengan sejarah tersebut dapat