• Tidak ada hasil yang ditemukan

perlindungan hukum bagi konsumen nasabah kreditur

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "perlindungan hukum bagi konsumen nasabah kreditur"

Copied!
140
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (selanjutnya disebut UUPK) juga erat kaitannya dengan hal tersebut, terutama dalam hal perlindungan hukum terhadap nasabah bank sebagai konsumen. Pembiayaan pada bank syariah sebenarnya merupakan suatu perjanjian antara bank dengan nasabah yang membutuhkan uang untuk membiayai kegiatan tertentu. Perlindungan hukum diperlukan tidak hanya bagi nasabah perbankan konvensional saja, namun bagi setiap lembaga keuangan, termasuk nasabah perbankan syariah.

Melihat penjelasan di atas, maka praktik yang dilakukan oleh BTPN Syariah Unit Tanggul tidak sesuai dengan ketentuan yang secara jelas tercantum dalam UU Perbankan Syariah pada Pasal 23 dan tidak sesuai dengan UU Perlindungan Konsumen no.

Fokus Penelitian

Pelayanan yang dilakukan oleh bank BTPN Syariah adalah dengan cara terjun langsung ke masyarakat dan memberikan layanannya kepada masyarakat, maka Bank BTPN Syariah memanfaatkan salah satu tempat atau rumah warga untuk dapat menjalankan aktivitas bank BTPN Syariah. 8 Tahun 1999 tepatnya pada Pasal 15, melihat fakta yang terkandung dalam undang-undang ini, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut. Bagaimana perlindungan hukum bagi nasabah Bank BTPN Syariah Tanggul berdasarkan Undang-Undang Perlindungan Konsumen Nomor 8 Tahun 1999.

Tujuan Penelitian

Perlindungan hukum bagi nasabah Bank BTPN Syariah Tanggul telah direvisi berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Larangan tersebut menyangkut perdagangan barang dan/atau jasa yang tidak sesuai dengan yang telah dialihkan oleh bank BTPN Syariah Unit Tanggul. Bagaimana perlindungan hukum nasabah bank BTPN Syariah ditinjau dari hukum positif Undang-Undang Perlindungan Konsumen Nomor 8 Tahun 1999.

Bagaimana perlindungan hukum nasabah bank BTPN Syariah ditinjau dari Undang-Undang Perlindungan Konsumen Nomor 8 Tahun 1999.

Manfaat Penelitian

Definisi Istilah

Hubungan BTPN Syariah dengan nasabahnya, kreditur sendiri adalah orang-orang yang mempunyai piutang karena perjanjian atau undang-undang yang dapat ditagih di muka pengadilan.13. Namun dalam penelitian ini yang menjadi fokus perhatian adalah kreditur, yaitu kreditur yang mempunyai piutang karena perjanjian atau undang-undang yang dapat ditagih di muka pengadilan. Undang-Undang Perbankan Syariah mengatur tentang peraturan, prinsip atau prosedur operasional dalam menjalankan bisnis syariah yang dituangkan secara jelas dalam penyajiannya, namun di BTPN Syariah terdapat aturan yang melanggar apa yang telah diterapkan oleh BTPN Syariah Tanggul. Tanggul yaitu terkait kewajiban pembelian telepon genggam bagi kreditur BTPN Syariah.

Oleh karena itu, pemahaman konsumen terhadap Undang-Undang Perlindungan Konsumen sangat sedikit, yang dengan adanya Undang-Undang ini menjamin kesetaraan pelaku ekonomi seperti yang terjadi sebelumnya.

KAJIAN PUSTAKA

Penelitian Terdahulu

Namun dari berbagai jenis penelitian yang ada, menurut pengetahuan peneliti, masih belum ada yang membahas secara khusus tentang perlindungan konsumen terhadap paksaan dalam pembelian telepon genggam pada saat meminjamkan uang ke bank syariah. Maka melalui pembahasan ini peneliti ingin mengungkap perlindungan hukum nasabah perbankan syariah sebagai konsumen dengan menggunakan teori dan ketentuan yang terdapat dalam perbankan syariah. Perlindungan hukum bagi nasabah bank apabila terjadi tindak pidana di bidang perbankan di Kelurahan Durian, Kecamatan Gadungan, Kota Jakarta.

Kajian Teori

  • Pengertian Perlindungan Hukum
  • Produk BTPN Syariah
  • BTPN Syariah Unit Tanggul

Undang-undang perlindungan pengguna ialah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kewujudan undang-undang yang melindungi pengguna daripada kerugian yang dialami oleh pengguna barangan dan/atau perkhidmatan. Perlindungan pengguna mempunyai skop yang sangat luas dan termasuk perlindungan terhadap semua kerugian yang disebabkan oleh pengguna barangan dan/atau perkhidmatan. Perlindungan pengguna terhadap kemungkinan menggunakan barangan dan/atau perkhidmatan yang bertentangan dengan prinsip Syariah, sehingga ke tahap ini menyalahi undang-undang.

Melindungi konsumen dari kemungkinan penyerahan barang dan/atau jasa melalui proses yang tidak sesuai dengan perjanjian kontrak.

METODE PENELITIAN

  • Pendekatan dan Jenis Penelitian
  • Lokasi Penelitian
  • Subyek Penelitian
  • Teknik Pengumpulan Data
  • Analisi Data
  • Keabsahan Data
  • Tahan Penelitian

Namun setelah itu peneliti kembali melakukan wawancara kepada nasabah bank BTPN Syariah Unit Tanggul di Desa Petung, Kecamatan. Nasabah Bank BTPN Syariah di Desa Petung Kecamatan Bangsalsari belum mengetahui prosedur perlindungan dan pelayanan konsumen yang diberikan oleh Bank BTPN Syariah. Bagaimana perlindungan hukum terhadap nasabah bank BTPN Syariah berdasarkan hukum positif Undang-Undang Perbankan Syariah No.21 Tahun 2008.

PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS

Gambaran Objek Penelitian

  • Gambaran Umum Bank BTPN Syariah
  • Struktur Organisasi dan Diskripsi Tugas
  • Produk yang dikeluarkan Bank BTPN Syariah Unit Tanggul 67
  • Gambaran Umum Informan

Gambaran umum Bank BTPN Syariah merupakan gambaran lengkap mengenai status Bank BTPN Syariah. Data yang digunakan untuk gambaran situasi menggunakan data survei sekunder yang dikirimkan kepada Direksi Bank BTPN Syariah, pegawai Bank BTPN Syariah. BTPN Syariah terbentuk dari perpaduan dua kekuatan yaitu PT Bank Sahabat Purbadanarta dan unit usaha Syariah BTPN.

BTPN Syariah merupakan bank umum syariah ke-12 di Indonesia yang berkomitmen untuk membesarkan jutaan masyarakat Indonesia agar dapat memiliki kehidupan yang lebih baik. Bank BTPN Syariah didirikan di Desa Tanggul untuk memfasilitasi transaksi keuangan syariah yang awalnya berlokasi di Kota Lumajang.70. Lokasi objek penelitian ini berada di kantor KCP BTPN Syariah Unit Tanggul yang terletak di Kota Tanggul, Kecamatan Tanggul, Jl. PB.

Tabungan ini merupakan salah satu tabungan BTPN Syariah yang memiliki setoran awal ringan dan minimal saldo kecil. Berdasarkan tabel diatas terlihat pegawai Bank BTPN Syariah unit Tanggul berjumlah 19 orang yang berjenis kelamin perempuan, kemudian laki-laki sebanyak 25 orang. Berdasarkan tabel dan gambar di atas terlihat pegawai unit BTPN Syariah Tanggul berusia 21-25 tahun berjumlah 7 orang, kemudian berusia 26-30 tahun sebanyak 25 orang, sedangkan usia 31-40 dan 46 tahun sebanyak 11 orang, berjumlah 1 orang. . orang.

Dari tabel di atas terlihat pegawai BTPN Syariah Unit Tanggul berjumlah 2 orang yang telah bekerja < 1 tahun, kemudian 1-5 tahun sebanyak 37 orang, dan 6-1 orang yang bekerja 5 orang. total 10 tahun dari total responden sebanyak 44 orang. Dari informasi tersebut terlihat bahwa rata-rata masa kerja responden di bank BTPN Syariah adalah 1-5 tahun.

Tabel informan Berdasarkan Lama Menjadi Karyawan
Tabel informan Berdasarkan Lama Menjadi Karyawan

Penyajian Data dan Analisis

Berdasarkan data lapangan yang diperoleh peneliti mengenai perlindungan hukum nasabah bank syariah BTPN (Bank Tabungan Pensiun Nasional) terlihat di desa Petung kecamatan. Senada dengan penjelasan di atas, hasil wawancara dengan Ibu Anis juga menunjukkan bahwa penetapan suku bunga di Bank BTPN Syariah sangat berbeda. Menurut pihak bank, pembelian ponsel tersebut merupakan perjanjian kemitraan atau bisa dikatakan bagi hasil, sehingga Bank BTPN Syariah tidak ada yang namanya Riba.94.

Dari data berbagai informan di atas, peneliti menyimpulkan bahwa pembelian handphone bagi nasabah bank BTPN Syariah merupakan suatu kewajiban yang mutlak, oleh karena itu sebagai nasabah. Seperti yang dikatakan oleh Ny. Yani menjelaskan, apakah Ny. Yani seorang konsumen jasa di bank BTPN (Bank Tabungan Pensiunan Nasional). Hasil wawancara diatas tidak sesuai dengan pernyataan Ny. Sulima sebagai nasabah Bank BTPN Syariah tidak mengatakan demikian.

Hasil wawancara menunjukkan ibu Sulima merasa tidak nyaman menggunakan jasa Bank BTPN Syariah karena terdapat unsur merugikan. Pernyataan tersebut disampaikan Ibu Damri, 54 tahun. Beliau merupakan pegawai bank BTPN Syariah yang beralamat di Desa Petung, Kecamatan. Dari informasi tersebut jelas bahwa bank BTPN Syariah Unit Tanggul telah mempunyai yang namanya Grar/unsur ambiguitas sebagaimana dijelaskan pada Pasal 25(a).

Berikut penjelasan Direktur Bank BTPN Syariah yaitu Ibu Lina, terkait pasal tersebut, keterangannya berbunyi sebagai berikut: Biaya tambahan yang dikenakan oleh Bank BTPN Syariah bukanlah bunga melainkan bagi hasil dari nasabah untuk Bank BTPN Syariah. 110. Sedangkan kasus di bank BTPN Syariah lebih pada konsep jual beli, yaitu: a) Konsep Murabahah adalah memesan barang yang sudah ada di pasaran.

Pembahasan Temuan

Perlindungan hukum bagi nasabah BTPN Syariah Unit Tanggul mengenai perlindungan hukum karena konsumen pada sektor jasa masih rendah, konsumen nasabah bank BTPN Syariah masih belum memahami bahwa dirinya dilindungi undang-undang dan juga tingkat pendidikan yang masih rendah. Perlindungan hukum terhadap pelayanan konsumen bagi nasabah bank BTPN Syariah sedikit banyak diatur dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen untuk memperjuangkan perlindungan hukum. Ketika peneliti menanyakan tentang hak-hak konsumen nasabah bank BTPN Syariah mengenai haknya jika dilihat dari perspektif UU No. 8 Tahun 1999 tentang Undang-Undang Perlindungan Konsumen, hak-hak mereka masih belum sepenuhnya dihormati.

Berdasarkan penelitian yang ditemukan di masyarakat Petung Kecamatan Bangsalsari, saat ini terdapat stigma tidak mau ambil pusing dan hanya mau menerima saja bahwa permasalahan yang ditimbulkan oleh bank BTPN Syariah mayoritas nasabah tidak mengetahui pihak yang melindungi. Perlindungan hukum sebagai konsumen di bidang jasa. Konsumen hanya menerima saja dan tidak pernah berinisiatif untuk mencari tahu seperti apa perlindungan dan layanan nasabah yang diberikan oleh bank BTPN Syariah. Konsep pembagian keuntungan/kerja sama yang dilakukan bank BTPN Syariah dijelaskan pada saat nasabah pertama kali bersekolah atau mengajukan persyaratan, untuk menjadi nasabah pembiayaan pihak bank langsung menyampaikan besaran dan angsurannya harus dibayar tanpa ada kesepakatan. antara kreditur dan bank, tidak sesuai dengan akad Mudharabah.

Dari uraian di atas terlihat jelas bahwa praktik yang dilakukan Bank BTPN Syariah di Desa Petung Kecamatan Bangsalsari merupakan ketentuan yang tidak sesuai dengan teori. Penerapan yang diterapkan oleh bank BTPN Syariah tidak sesuai dengan akad yang ada pada perbankan syariah, karena produk keuangan yang dihasilkan bank BTPN Syariah khususnya akad jual beli tidak sama dengan akad yang telah ditetapkan. sesuai dengan akad syariah dalam perbankan. Pembagian bagi hasil dalam konsep kerjasama yang dilakukan oleh bank BTPN Syariah tidak sesuai dengan akad Mudharabah, karena tidak ada yang namanya bagi hasil dan tidak ada kesepakatan mengenai rasio yang disepakati.

Sistem tanggung jawab bersama yang diterapkan bank BTPN Syariah terhadap nasabah pembiayaan adalah apabila terjadi kekurangan atau kehilangan uang pada saat penitipan, maka ditanggung secara bersama-sama. Perlindungan konsumen ini masih belum dapat sepenuhnya melindungi hak-hak konsumen dalam melakukan transaksi pinjaman di Bank BTPN Syariah Unit Tanggul.

PENUTUP

Kesimpulan

Masih terlihat masih banyak hak-hak konsumen yang dilanggar oleh pelaku usaha pada pasal 4, 5 UUPK, padahal dalam UUPK (UU Perlindungan Konsumen) terdapat beberapa pasal yang melindungi hak-hak konsumen, namun penulis Masih banyak pelaku usaha yang melakukan penipuan/pelanggaran yang merugikan konsumen. Sebab, banyak konsumen yang belum mengetahui bahwa haknya dilindungi melalui UUPK (UU Perlindungan Konsumen). 21 Tahun 2008, perlindungan nasabah atau haknya sebagai nasabah diatur dalam UUPS (UU Perbankan Syariah) pada pasal 24 dan 25 UUPS. Konsumen/nasabah mempunyai hak untuk memperoleh kenyamanan atau kesediaan calon nasabah untuk melakukan transaksi pembayaran kepada kreditur, pada pasal 24 memuat larangan bagi bank syariah yang bertentangan dengan prinsip perbankan syariah.

Namun pada kenyataannya, perlindungan nasabah terhadap Undang-Undang Perlindungan Konsumen belum memadai dan sulit dilaksanakan karena kurangnya pengetahuan nasabah terhadap peraturan perbankan.

Saran

  • Data Nasabah Bank BPN Syariah
  • Jenis Klamin Karyawan Bank BTPN Syariah
  • Klasifikasi Informan Berdasarkan Usia
  • Klasifikasi Informan Berdasarkan Lama Menjadi Karyawan

Gambar

Tabel informan Berdasarkan Lama Menjadi Karyawan

Referensi

Dokumen terkait

“Hak Tanggungan ttap mengikuti objeknya dalam tangan siapapun objek tersebut berada”. Asas ini merupakan salah satu ciri-ciri Hak Tanggungan yang berarti bahwa Hak

Nasabah berdiskusi, bahwa tidak masalah nasabah yang membayar uang sebesar Rp 15 ribu untuk pembuatan kartu ATM baru, tapi mohon nasabah dibuatkan pernyataan tertulis bahwa

Iklan merupakan salah satu bentuk penyampaian informasi mengenai barang dan atau jasa dari pelaku usaha kepada konsumen, maka dari itu iklan tersebut sangat

Alasan lain yang mendukung tidak pernah dilakukannya pengecekan adalah karena kreditur selaku penerima fidusia tidak berkeberatan apabila benda objek jaminan

Tujuan mengkaji dan menganalisis permasalahn tersebut meliputi tujuan umum yakni, melengkapi tugas akhir dan persyaratan akademik guna mencapai gelar Sarjana

kemudian Anggota Bursa menginput order tersebut ke sistem perdagangan Bursa. Selanjutnya bukti pendaftaran tersebut di dalamnya juga telah dilampirkan suatu perjanjian

Semoga apa yang telah saya peroleh selama kuliah di Fakultas Syari’ah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang ini, bisa bermanfaat bagi semua

Kesimpulan yang didapat adalah dengan diterbitkannya Sertifikat Hak Milik Atas Satuan Rumah Susun hal tersebut menjamin adanya kepastian hukum dan kepastian hak atas pemilikan satuan