“Perlindungan Hukum Terhadap Hak Cipta Penulis buku: Dari Tindakan Pembajakan di Platform E-Commerce Shopee Terkait Undang-
Undang No. tahun 2014 Tentang Hak Cipta”
A.
Latar belakang masalahManusia di era globalisasi sekarang sangat mudah untuk melakukan kegiatan yang sangat membantu dan memudahkan kegiatan mereka disegala bidang karena adanya perkembangan yang sangat cepat dibidang teknologi dan informasi, yang sejak dahulu internet di kenal sebagai sarana komunikasi sekarang bahkan manusia mendapatkan informasi secara cepat dan tepat waktu di berbagai wilayah belahan dunia, tidak dapat dipungkiri revolusi teknologi ini merambat ke seluruh aspek-aspek kehidupan yang membantu kinerja manusia Meskipun sering menuai pro dan kontra dikalangan manusia, tapi tidak dipungkiri bahwa globalisasi di era ini sangat membantu untuk kegiatan manusia.
Salah satu yang terkena dampak globalisasi adalah sarana informasi jika orang dahulu mencari sesuatu informasi harus pergi mencari ke tempat perpustakaan-perpustakaan dan ke tempat toko jual beli buku untuk mendapatkan sebuah jawaban, jika zaman dahulu buku berbentuk secara fisik dengan perkembangan globalisasi tentu juga buku mengalami dampak perubahan di mana sekarang buku bisa berupa secara digital yang memudahkan para pembaca buku untuk membaca di handphone ataupun di perangkat lunak lainnya, meskipun begitu dengan berkembang teknologi kebanyakan para pembaca buku memilih buku secara langsung karena mempunyai pengalaman berbebeda seperti membuat fokus ataupun merasakan bacaan dari buku itu, sekarang dapat dengan mudah ditemukan di platfrom e-commerce ataupun internet sehingga tidak perlu repot-repot untuk keluar rumah,
Sektor yang mengalami perubahan secara signifikan karena globalisasi adalah sektor industri, Dimana manusia zaman dahulu jual beli barang bisa berinteraksi secara langsung antara
penjual dan pembeli disebuah pasar yang disediakan oleh pemerintah daerah yang diatur Menurut pasal 1457KUHPerdata, perjanjian jual beli adalah perjanjian antara penjual dan pembeli di mana penjual mengikatkan dirinya untuk menyerahkan hak miliknya atas suatu barang kepada pihak pembeli, dan pihak pembeli mengikatkan dirinya untuk membayar harga barang itu.
Dengan adanya revolusi industri penjual dan pembeli sekarang ada yang dinamakan dengan transaksi elektronik.
Transaksi elektronik merupakan kesepakatan antar satu pihak dengan pihak lainya yang di fasilitasi media internet terkait pertukaran barang ataupun jasa yang bisa terjadi di mana saja mulai dari skala kecil maupun skala besar, transaksi juga bukan hanya terjadi antara individu dengan individu, melainkan juga bisa antara individu dengan perusahaan, perusahaan dengan perusahaan.
Pemanfaatan media sosial di Indonesia saat ini berkembang sangat luar biasa. Perkembangan Internet membawa perekonomian dunia memasuki babak baru yang lebih populer dengan istilah digital economic atau ekonomi digital.
Keberadaannya ditandai dengan semakin maraknya kegiatan perekonomian yang memanfaatkan internet sebagai media komunikasi. Perdagangan misalnya, semakin banyak mengandalkan perdagangan elektronik atau electronik commerce (e- commerce) sebagai media transaksi.1
Seperti dalam beberapa fakta yang terjadi pada aplikasi jual beli online shopee banyak penjualan produk merek terkenal tiruan atau sering dikenal dengan istilah produk KW. Shopee bukan merupakan pihak yang berjualan, namun Shopee merupakan platform perdagangan elektronik yang menyediakan aplikasi untuk siapa pun orang yang memiliki keinginan untuk berjualan, dan membuka aplikasi secara umum untuk siapa pun yang ingin berbelanja secara online. Tidak hanya menyediakan aplikasi, namun shopee sebagai platform perdagangan online juga memberikan jaminan dan fasilitas terhadap para
1 Khotimah, C. A., & Chairunnisa, J. C. (2016). Perlindungan hukum bagi konsumen dalam transaksi jual beli-online (e-commerce). Business Law Review, 1, 14-20.
konsumennya yaitu pembeli dan penjual. Jaminan yang diberikan itu berupa jaminan keamanan berbelanja, dan fasilitas yang diberikan tentunya beragam misalnya diskon, gratis ongkir, shopee games, dan lain-lain. Akan tetapi pada kenyataannya jaminan perlindungan hak merek terkenal pada Shopee tidaklah menjamin, karena sampai saat ini di aplikasi Shopee masih banyak produk merek terkenal tiruan atau sering dikenal dengan istilah produk KW yang diperjual belikan.2
Sudah bukan rahasia publik banyak buku palsu yang beredar di e-commerce shopee, perbandingan harga buku asli dengan buku palsu cukup berbeda jauh jika buku asli di jual dengan harga Rp. 50.000.-(lima puluh ribu) sampai Rp. 200.000.- (dua ratus ribu rupiah) sedangkan buku palsu yang beredar e- commerce shopee di jual dengan harga yang cukup murah yaitu Rp. 30.000.-(tiga puluh ribu rupiah) para pembeli justrunya membeli buku palsu yang cukup murah serta kualitas dan isinya sama dengan buku aslinya, tidak adanya betuk menghargai sang penulis buku membuat para pakar ekonomi khawatir kepada masyarakat akan daya Tarik membeli barang aslinya berkurang kekhawatiran tersebut merupakan mereka sudah nyaman membeli barang tiruan yang menyebabkan kurangnya inovasi bagi negara karena tidak adanya perlindungan untuk para pembuat inovasi di berbagai daerah sehingga membuat para penulis buku mengalami kerugian secara material dan inmaterial,
“Upaya mengurangi bahaya dan kerugian yang diakibatkan oleh peredaran barang palsu dapat terwujudkan jika para pemangku kepentingan perlindungan konsumen, mulai dari produsen, penjual, penegak hukum, hingga masyarakat sendiri sepakat untuk bersinergi,” kata Justisiari P. Kusumah, Sekretaris Jenderal MIAP, seperti dilaporkan marketeers.com.
Maraknya peredaran buku bajakan di Indonesia baru-baru ini menjadi perbincangan hangat di media sosial. Salah satu penulis Indonesia, Tere Liye, secara tegas mengungkapkan
2 Karina, M. (2019). Pengaruh E-servicescape Online Marketplace Shopee pada Perceived Value dan Kepuasan Pelanggan, serta Dampaknya terhadap Loyalitas Pelanggan. Jurnal Maksipreneur: Manajemen, Koperasi, Dan Entrepreneurship, 9(1), 103-122.
kritiknya terhadap pembajakan buku, termasuk terhadap pembeli buku bajakan.
Menurut berita harian IDN TIMES yang ditulis oleh Ridwan aji pitoko (2022) dengan judul artikel “ barang kw bikin negara rugi hingga Rp291 Triliun” melihat pada sumber yang telah dijelaskan Kerugian yang mesti ditanggung negara akibat peredaran produk atau barang palsu alias KW tidaklah main- main. Berdasarkan sebuah riset tentang dampak pemalsuan produk terhadap perekonomian Indonesia, kerugian negara akibat peredaran barang KW tembus Rp291 triliun.
Dosen Sastra Indonesia dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Dwi Susanto mengatakan, pihaknya bisa memahami jika ada penulis yang bersuara keras terhadap pembajakan buku. Dia mengatakan, penulis adalah salah satu pihak yang sangat dirugikan dari adanya praktik pembajakan buku. Dwi menyebutkan, dari satu buku yang terjual, penulis hanya mendapatkan royalti sekitar 5 persen dari harga jual buku tersebut. "Kan kasihan sekali penulis itu. Maka kalau penulis itu muni-muni gitu, itu ya wajar menurut saya. Saking jengkelnya.
Karena hanya 5 persen lho itu (royaltinya). Kalau laku Rp 50.000 ya dapatnya Rp 2.500," ujar Dwi kepada Kompas.com, Selasa (25/5/2021). Dengan royalti yang sangat kecil itu, penulis masih harus dihadapkan dengan kenyataan langgengnya pembajakan buku di Indonesia, yang jelas tidak berkontribusi apapun terhadap pendapatan penulis buku.
Hak cipta sangat penting karena berbagai kelebihan yaitu produk menjadi mudah dipasarkan, dapat menguntungkan finansial sebuah perusahaan sehingga perusahaan dapat terus menerus bertahan dari persaingan bisnis yang semakin hari semakin tidak sehat3, penindakan platfrom dalam mengatasi para penjual di e-commerce shopee yang menjual barang tiruan mempunyai prosedur dengan melalui take down atau menghapus toko yang menjual barang tiruan tidak berdampak sama sekali sehingga para pelaku jika mengalami take down atau penghapusan toko para pelaku bisa membuat akun yang baru
3 Puryanti, Ibid, Hal.22.
untuk menjual barang tiruan nya Kembali, sehingga kurang efektif dalam mengatasi permasalahan tersebut. Jika suatu platfrom tidak segera menindak lanjuti dengan melakukan take down atau menghapus toko tersebut, pihak platfrom itu bisa dianggap turut serta melakukan pelanggaran Hak Kekayaan Intelektual (“HKI”).
Penyelenggaraan perdagangan elektronik bagi pengelola tempat perdagangan mempunyai tanggung jawab atas tempat penjualan dan/atau pelanggaran Hak Cipta dan/atau Hak Terkait pada tempat perbelanjaan atau marketplace yang dikelolanya.
Secara tegas dijelaskan pada Undang – Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta pada Pasal 10 ayat 1 menyebutkan bahwa Pengelola tempat perdagangan dilarang membiarkan penjualan dan/atau penggandaan barang hasil pelanggaran Hak Cipta dan/atau Hak Terkait di tempat perdagangan yang dikelolanya. Apabila ditemukan masyarakat atau konsumen mengalami kerugian yang dilakukan oleh pelaku usaha, konsumen berhak mendapatkan perlindungan hukum guna melindungi hak-hak yang dimilikinya sebagai konsumen.
Begitupun jika terdapat pelanggaran Hak Cipta dalam Transaksi yang merugikan pemegang Hak Cipta secara moral dan ekonomi maka Pencipta mempunyai hak sebagai pemegang Hak Cipta yang termuat dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.4
Berdasarkan pemikiran dan latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang
“Perlindungan Hukum Terhadap Hak Cipta Penulis buku:
Dari Tindakan Pembajakan di Platform E-Commerce Shopee Terkait Undang-Undang No. tahun 2014 Tentang Hak Cipta”
B. Rumusan masalah
4 Lian, L. U. S. (2012). Tinjauan yuridis pembelian barang melalui toko online di indonesia dengan e- commerce yang tidak sesuai dengan pesanan (Doctoral dissertation, Faculty of Law).
Berdasarkan uraian latar belakang, maka dapat diidentifikasikan dua pokok permasalahan yang akan dibahas oleh peneliti yaitu :
1. Bagaimana implementasi perlindungan hukum terhadap hak cipta penulis di platform e-commerce seperti Shopee?
2. Bagaimana pengaruh kebijakan perlindungan konsumen dan hak cipta dalam mencegah peredaran produk tiruan di e-commerce?
3. Apa langkah-langkah yang perlu diambil oleh pemangku kepentingan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menghargai karya cipta dan produk asli?
C. Tujuan penelitian
Adapun yang ingin dicapai melalui penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Tujuan Umum
Penelitian ini diajukan untuk memenuhi persyaratan akademis dalam rangka memperoleh gelar sarjana hukum Fakultas Hukum Universitas suryakancana.
2. Tinjauan khusus
a. Penelitian dapat mengidentifikasi kekurangan dalam implementasi perlindungan hak cipta yang ada saat ini, sehingga membantu dalam mengembangkan strategi dan praktik terbaik untuk meningkatkan perlindungan hak cipta.
b. memberikan evaluasi kritis mengenai sejauh mana kebijakan perlindungan konsumen dan hak cipta yang sudah ada efektif dalam mencegah produk tiruan, sehingga dapat mengidentifikasi area yang membutuhkan perbaikan.
c. diharapkan dapat terjadi pengurangan kasus pelanggaran hak cipta dan peredaran produk tiruan, yang akan menguntungkan pencipta dan pelaku bisnis yang sah.
D. Kegunaan penelitian
Adapun kegunaan penelitian baik dari segi praktis maupun teoritis yaitu :
1. Secara teoritis
Penelitian ini diharapkan memiliki kontribusi serta sumbangsih secara akademis terhadap pengembangan ilmu.
2. Secara praktis
Secara praktis penelitian ini diharapkan :
a. meningkatkan pemahaman penulis dan kreator tentang hak-hak mereka dalam konteks e-commerce, serta memberikan informasi tentang perlindungan hukum yang tersedia untuk karya cipta mereka.
b. dapat mendorong kerjasama antara pemerintah, platform e-commerce, pelaku industri, dan organisasi konsumen untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi konsumen dan mencegah peredaran produk tiruan.
c. Mengidentifikasi dan merancang program edukasi yang konkret untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang hak cipta dan pentingnya produk asli, sehingga masyarakat lebih sadar akan konsekuensi dari pelanggaran.
E. Kerangka pemikiran
PERLINDUNGAN HUKUM
HAK CIPTA
IMPLEMENTASI/PENERAPAN TERHADAP UU HAK CIPTA SECARA KONKRET TERHADAP PEMBAJAKAN
BUKU
Gambar 1. Kerangka pemikiran
Berdasarkan kerangka pemikiran diatas, maka dapat dilihat bahwasanya Hak Cipta terhadap pembajakan buku pada dasarnya dilindungi oleh undang-undang nomor 28 tahun 2014 tentang hak cipta, Akan tetapi pada kerangka p emikiran ini lebih di fokuskan kepada Hak Cipta pada penulis buku, yang dimana pencipta sebenarnya dapat dilindungi oleh adanya kepastian hukum tentang hak cipta jika setiap individu baik pengusaha maupun masyarakat mendaftarkan dan mencatatkan setiap karya ciptaanya ke
badan Hukum dan Ham bagian Dirjen Hak Kekayaan Intele ktual. Masyarakat mendapatkan perlindungan hukum dan mendapat hak-hak nya jika terjadi plagiasi yang merugikan pihak pencipta, karena dalam menghasilkan arya seni ya ng bercita rasa tinggi memerlukan waktu dan pengorbanan yang tidak sedikit atau setidaknya para pihak lain dapat menghargai seni lebih mendalam. Hal ini diperkuat berdasarkan Pendapat John locke menyatakan bahwasanya hak cipta memberikan hak- hak milik eksklusif kepada karya cipta seorang pencipta, hukum alam meminta individu untuk mengawasi karya-karyanya dan secara
adil dikompensasikan untuk kontribusi
masyarakat5.Peraturan lain terkait dengan hak cipta ialah seperti yang kita ketahui bahwasanya semenjak adanya undang-undang nomor 7 tahun 1997 indonesia telah mengadopsi membentuk perjanjian internasional atau ratifikasi world trade organization (WTO) yang mana semenjak ada kesepakatan perjanjian memiliki melaksanakan kewajiban untuk menyesuaikan peraturan perundang-undangan nasional dengan ketentuan WTO, yang ada kaitanya dengan (Trips-WTO)6. Di dalam suatu Trips WTO terdapat berbagai norma dan ketentuan mengenai hak kekayaan intelektual serta perlindungan7.Hal ini tentu memicu lahirnya undang- undang hak cipta nomor 28 tahun 2014 yang berlaku sampai saat ini. Maka dari itu
5 Craig Joyce, william patry, Marshall leaffer & Peter Taszi, 1998,copyright Law casebook series,fourth edition,matthew bender & company incorporated, new york, Hal.56
6 Hendra tanu atmadja,2003, hak cipta musik atau lagu, program pacasarjana, fakultas hukum, universitas indonesia,jakarta, Hal.14.
7Ahmad zen umar purba, 2001,pokok-pokok kebijakan pembangunan sistem HKI Nasional, jurnal hukum bisnis, vol . 13, april, Hal
sesuai dengan objek yang diteliti yaitu batik dalam perlindungannya secara ekspresi budaya dan tradisional yang dilindungi termasuk kedalam pasal 38 undang-undang nomor 28 tahun 2014 yang berisikan
“(1)Hak cipta atas ekspresi budaya dipegang olehnegara. (2)Negara wajib menginventarisasikan, menjaga dan memelihara ekspresi budaya tradisional
sebagaimana yang dimaksud ayat (1)”.
Yang artinya negara wajib menjaga dan mengawasi k ebendaan- kebendaan yang bersifat tradisional dan menj adi ciri khas suatu negara yang memungkinkan pihak lain dapat mengambil keuntungan tanpa seizin dari pemilik. Se bagai penguat dasar hukum, ada pendapat lain bernama Adrian sutedi yang menyatakan hak kekayaan intelektual merupakan hak atau wewenang kekuasaan untuk berbuat sesuatu atas kekayaan intelektual tersebut dan diatur dal am norma-norma yang berlaku seperti teknologi, pengetahuan, sastra, seni, karya tulis, pengarang lagu8.
Pentingnya perlindungan hukum terhadap hak cipta t idak hanya didasarkan pada teori alam saja melainkan dijustifikasi oleh penganut aliran dari utilitarian yang ce nderung menggunakan prinsip ekonomi, maka diperlukan dalam rangka memberikan insentif bagi pencipta untuk
8Nita novita, 2016, haki (hak kekayaan intelektual),( 12 juni 2016 ), dalam
h tt p: // n it ano vit a sr . b l og sp o t. c o m/ 2016 / 06 / ha k i - h ak-a t a s - k e k a y aa n - i n tele k t u a l. h tml d i unduh rabu oktober 2024
menghasilkan karya-karya ciptaanya, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan terhadap masyarakat9.
Maka berdasarkan teori diatas Perlindungan Hak cip ta patut untuk dilaksanakan karena pertimbangan aspek- aspek yang meliputi aspek ekonomi dan aspek moral. Aspek ekonomi, pencipta nilai karya ditentukan berdasarkan keindahan penampilan, keunikan wujud atau kelangkaan da n estetika yang dinikmati masyarakat. pencipta seringkali membatasi ciptaanya, sehingga ciptaanya sebelumnya menjadi penyetara kualitas dan rasionalitas ekonomi yang memberikan alasan perlindungan hak cipta yang mana memungkinkan segala biaya dan jerih payah pencipt a terbayarkan10. Sedangkan dilihat dari aspek moral, hak moral mencakup dua hal yaitu hak paternity dan right of paternity hakikatnya diharuskan mencantumkan nama dari pencipra atau dicantumkan Namanya dalam hasil ciptaanya. Hak ini bisa sebaliknya, apa menggunakan samaran atau tidak. Hak ini pun diekpresikan kedalam larangan mengubah atau merusak maupun mengurangngi11.
9Marshall Leaffer, 1998, Understanding copyright law, Matthew Bender & Company Incorporated, New York, Hal. 14.
10 Henry Soelistyo, 2011, Hak Cipta tanpa Hak Moral, Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, Hal.14.
11 Ibid , Hal. 15.
DAFTAR PUSTAKA
Jurnal dan karya tulis
Khotimah, C. A., & Chairunnisa, J. C. (2016). Perlindungan hukum bagi konsumen dalam transaksi jual beli-online (e-commerce). Business Law Review, 1, 14-20.
Karina, M. (2019). Pengaruh E-servicescape Online Marketplace Shopee pada Perceived Value dan Kepuasan Pelanggan, serta Dampaknya terhadap Loyalitas Pelanggan. Jurnal Maksipreneur: Manajemen, Koperasi, Dan Entrepreneurship, 9(1), 103-122.
Lian, L. U. S. (2012). Tinjauan yuridis pembelian barang melalui toko online di indonesia dengan e-commerce yang tidak sesuai dengan pesanan (Doctoral dissertation, Faculty of Law).
Craig Joyce, william patry, Marshall leaffer & Peter Taszi, 1998,copyright Law casebook series,fourth edition,matthew bender & company incorporated, new york, Hal.56.
Hendra tanu atmadja,2003, hak cipta musik atau lagu, program pacasarjana, fakultas hukum, universitas indonesia,jakarta, Hal.14.
Nita novita, 2016, haki (hak kekayaan intelektual),( 12 juni 2016 ), dalam http://nitanovitasr.blogspot.com/2016/06/haki-hak-atas-kekayaan-
intelektual.html d i unduh rabu oktober 2024
Marshall Leaffer, 1998, Understanding copyright law, Matthew Bender
& Company Incorporated, New York, Hal. 14.
Henry Soelistyo, 2011, Hak Cipta tanpa Hak Moral, Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, Hal.14.
Ibid , Hal. 15.
Perundang-undangan
a. Kitab undang-undang hukum perdata;
b. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata);
c. UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik
d. Undang – Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta;
Website
https://money.kompas.com/read/2021/05/25/090800226/penulis-tere-liye- keluhkan-buku-bajakan-dijual-di-e-commerce-ini-komentar
https://www.kompasiana.com/
muhammadfarhan0920/66d28f3f34777c1b80496832/masih-pentingkah- membaca-buku-di-era-digital
https://ruangbuku.id/artikel/mengenal-lebih-dalam-sejarah-lahirnya-buku/
https://www.idntimes.com/business/economy/ridwan-aji-pitoko-1/barang- kw-bikin-negara-rugi-hingga-rp291-triliun?page=all
http://nitanovitasr.blogspot.com/2016/06/haki-hak-atas-kekayaan- intelektual.html d