Sumber permasalahan perkawinan beda agama menurut Ibnu Katsir, kasus-kasus di zaman modern banyak dijumpai di kalangan masyarakat. Pernikahan beda agama merupakan suatu kegiatan yang dikatakan sangat kontroversial di zaman klasik dan modern. Oleh karena itu penulis mengangkat penelitian yang berjudul “Perkawinan Antaragama Menurut Ibnu Katsir dalam Tafsir Ibnu Katsir”.
Rumusan Masalah
Menurut salah satu tokoh Tafsir, Sayyid Quthub, jika dilihat dari konteks saat ini, pernikahan beda agama rentan menimbulkan konflik dan bencana dalam rumah tangga. Berdasarkan penjelasan latar belakang di atas, maka penelitian ini akan membahas tentang perkawinan beda agama menurut tafsir Ibnu Katsir dengan menggunakan metode Tahlili dan Maudhu’i.
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Telaah Pustaka
Perkahwinan Berbeza Akidah dalam Al-Quran (Analisis Tafsiran Al-Maraghi Ayat 221 Q.S al-Baqarah dan ayat 5 Q.S al-Maideh)‖. Kelima, penyelidikan yang dilakukan oleh Ahmad Zaini dari Institut Pengajian Al-Qur'an Universiti (IPTIQ) Jakarta pada tahun 2020 bertajuk Perkahwinan Berlainan Agama (Kajian Perbandingan Tafsir al-Thabari dan Sayyid Quthb). 12 Ahmad Zaini, Perkahwinan Berlainan Agama (Kajian Perbandingan Tafsir al-Thabari dan Sayyid Quthb), (Tesis Program Pengajian Al-Quran dan Tafsir (IQT) Institut Pengajian Al-Quran (IPTIQ) Jakarta, 2020 ).
Metode Penelitian
- Jenis dan Pendekatan Penelitian
- Data Dan Sumber Data 1. Data
- Teknik Pengumpulan Data
- Teknik Analisis Data
Data dapat berupa teks, dokumen, gambar, foto, artefak, atau benda lain yang ditemukan di lapangan pada saat penelitian menggunakan penelitian kualitatif.16 Data yang dibutuhkan dalam penelitian adalah ayat-ayat tentang pernikahan beda agama. Untuk memperoleh data yang lebih akurat dan faktual, teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan studi literatur dengan data kualitatif. 20 Pandangan analisis data adalah data yang dikumpulkan berupa kata-kata dan gambar, bukan berupa angka-angka.
Sistematika Pembahasan
Bab Kedua Bab ini berisi penjelasan tentang perkawinan beda agama, tujuan perkawinan dan rukun syarat perkawinan. Bab Tiga Bab ini terdiri dari ayat-ayat Al-Qur'an yang menjelaskan pernikahan beda agama. Bab Keempat Bab ini berisi tentang tafsir perkawinan beda agama menurut Ibnu Katsir sebagaimana ditafsirkan oleh Ibnu Katsir.
PERNIKAHAN
- Pengertian Pernikahan
- Pendapat Para Ulama
- Tujuan Pernikahan
- Rukun dan Syarat Pernikahan
Hubungan kemanusiaan antara laki-laki dan perempuan bertekad dilandasi oleh rasa pengabdian diri kepada Allah SWT sebagai Sang Pencipta Yang Maha Esa dan hubungan horizontal dengan manusia untuk menjalankan kehidupan sehari-hari. Hubungan kemanusiaan antara laki-laki dan perempuan bertekad dilandasi oleh rasa ketaqwaan kepada Allah SWT sebagai Al Khaliq (Tuhan Sang Pencipta) dan ketaqwaan kepada umat manusia guna meneruskan kehidupannya.26. Jelas bahwa syarat pertama perkawinan yang sah dalam Islam adalah adanya calon pengantin laki-laki dan perempuan dan proses akadnya tidak dapat diwakilkan.
AGAMA 1. Pengertian
Ahmad Daudy menghubungkan pengertian al-Din dengan kata al-huda (petunjuk).32 Hal ini menunjukkan bahwa agama merupakan seperangkat pedoman atau petunjuk bagi setiap umatnya. Dari sini dapat dipahami bahwa agama merupakan jalan hidup (the way to walk) yang harus ditempuh atau suatu pedoman yang harus diikuti oleh seseorang. Émile Durkheim mengatakan bahwa agama adalah suatu sistem terpadu yang terdiri dari kepercayaan dan praktik yang berkaitan dengan hal-hal suci.
PENAFSIRAN IBNU KATSIR
Metode yang digunakan Ibnu Kaṣīr dalam menafsirkan Al-Qur'an dapat dikategorikan sebagai manhaj tahlīlī (metode analitis) karena ia secara analitis menafsirkan ayat demi ayat sesuai urutan mushaf Al-Qur'an. Namun cara penafsiran kitab ini juga dapat dikatakan semi semantik (mauḍu‟ī), karena ketika menafsirkan ayat ia mengelompokkan ayat-ayat yang masih dalam konteks pembahasan yang sama dalam satu tempat, baik satu atau beberapa ayat, kemudian ia menampilkan ayat-ayat lain yang berkaitan dengan penjelasan ayat yang sedang ditafsirkan. Menurutnya, ayat-ayat tersebut dapat mendukung penjelasan dan makna ayat yang ditafsirkan atau ayat yang mengandung makna yang sesuai.
Di dalamnya banyak dikutip hadis-hadis yang dianggap berkaitan atau menjelaskan ayat yang ditafsirkan, padahal banyak riwayat/hadits yang serupa atau tidak. Ibnu Kasir berpendapat bahwa pernyataan para sahabat dan tabi'in merupakan salah satu rujukan dalam penafsiran Al-Qur'an karena para sahabat dan tabi'in secara langsung mengalami dan menyaksikan langsung proses turunnya ayat-ayat Al-Qur'an. . . Ibnu Kaṣīr juga menggunakan narasi israiliyat ketika menafsirkan ayat-ayat dalam tafsirnya, namun ia juga mengkritik dan menyeleksi secara ketat narasi-narasi tersebut.
Sebagai ahli hukum Islam, Ibnu Kaṣīr memberikan penjelasan yang relatif luas ketika menafsirkan ayat-ayat yang bernuansa hukum, terutama ketika menafsirkan ayat-ayat yang dipahami berbeda oleh para ulama. Ibnu Kaṣīr berpendapat bahwa naskh ada dalam Al-Qur'an yang menyatakan bahwa naskh adalah pencabutan hukum atau ketentuan sebelumnya dengan hukum yang terdapat pada ayat-ayat yang muncul baru-baru ini. Dalam hal ini ia mengikuti pendapat Muhammad Ibnu Isḥāq Ibn Yasar yang berpendapat bahwa ayat-ayat Al-Qur'an bersifat muḥkam.
Ibnu Kaṣīr menyusun kitab tafsirnya berdasarkan susunan ayat dan surat yang teratur dalam mushaf al-Quran yang dinamakan tartīb musḥafī.
BIOGRAFI IBNU KAṢĪR
Dan janganlah kamu menikahi orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita yang beriman) sebelum mereka beriman. Melalui ayat ini, Allah melarang orang beriman berkahwin dengan wanita musyrik. Dan dibolehkan mengawini) wanita-wanita yang terpelihara kehormatan di antara orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu, jika kamu telah membayar mahar mereka dengan niat mengahwini mereka, bukan dengan niat berzina.
Mazhab Maliki melarang umat Islam memakannya berdasarkan firman-Nya: Dan makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al-Kitab adalah halal bagi kamu. Maka ayat ini membatalkan ayat ini dan makanan (penyembelihan) Ahli Kitab adalah halal. Dan wanita-wanita yang memelihara kehormatannya di antara orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu.
Kemudian para ulama dan ahli tafsir berselisih tentang maksud firman-Nya: dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan mereka di antara orang-orang yang diberi Al-Kltab sebelum kamu. -Baqarah: 221) Maka orang-orang itu menjauhkan diri daripadanya sehingga turun ayat berikut dalam surat Al-Maidah, iaitu firman-Nya: dan wanita-wanita yang menjaga kehormatannya di antara orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu. Sesungguhnya di antara para sahabat ada segolongan yang mengahwini wanita-wanita Nasrani dan mereka menganggapnya halal kerana berdasarkan firman-Nya: dan wanita-wanita yang memelihara kehormatan di antara orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu (Al-Maidah: 5).
Orang-orang kafir, iaitu ahli kitab dan orang-orang musyrik (mereka mengatakan bahawa mereka tidak akan meninggalkan (agama mereka) sehingga datang kepada mereka bukti yang nyata). Wahai orang-orang yang beriman, apabila wanita-wanita yang beriman itu datang kepada kamu, maka hendaklah kamu menguji mereka. Wahai orang-orang yang beriman, apabila wanita-wanita yang beriman itu datang kepada kamu, maka hendaklah kamu menguji mereka.
Pandangan Pernikahan Beda Agama dalam Tafsir Ibnu Katsir
Ibnu Kaṣīr menyatakan bahwa hal tersebut tidak mungkin dan bertentangan dengan dalil kuat dari Sahih al-Bukhari dan Muslim bahwa Allah menciptakan Adam dengan tinggi 60 hasta hingga Allah menciptakan manusia dengan tinggi kurang dari itu. Tidak ada keterangan dari Ibnu Kasir yang dapat memastikan nama tafsir yang ditulisnya, karena ia tidak menyebutkan judul atau nama kitab tafsirnya, meskipun ia memberi nama pada karya lain. Muhammad Ḥusin al-Ẓahabī dan Muhammad ‗Alī al-Ṣābūnī menyebut tafsīr Ibnu Kaṣīr ini dengan nama Tafsīr al-Qur'ān al-‘Aẓīm.
Berbagai naskah cetakan yang diterbitkan umumnya diberi judul Tafsīr al-Qur'an al-'Aẓīm, namun ada juga yang menggunakan judul Tafsīr Ibn Kaṣīr. Metode tafsir yang digunakan Ibnu Kasīr dalam menafsirkan Al-Qur'an dapat dikategorikan manhej tahlīlī (metode analitis) karena ia menafsirkan ayat demi ayat secara analitis sesuai urutan mushaf Al-Qur'an. Penyajian hadis atau riwayat marfu' yang berbeda-beda (yang diriwayatkan oleh Nabi SAW, baik sanadnya berkesinambungan atau tidak), yang berkaitan dengan ayat yang ditafsirkan.
Contohnya adalah ketika Ibnu Kasīr menafsirkan ayat Q.S al-Baqarah (2): 2 نیِّقَّتُمْلِّ ل ىًدُه (Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa). Tahapan ini digunakan oleh Ibnu Kasir ketika ia tidak menemukan penjelasan dari ayat lain untuk menafsirkan ayat yang ia tafsirkan atau bisa juga digunakan untuk melengkapi penjelasan tersebut dan ini merupakan ciri tafsir Ibnu Kasir. Ibnu Kaṣīr juga sering mengemukakan pendapat yang berbeda-beda dari para ulama atau ahli tafsir terdahulu ketika menafsirkan ayat-ayat, seperti dari aspek linguistik, teologis, hukum, naratif/historis.
Gaya tafsir dalam kitab tafsir Ibnu Kasir dapat dikategorikan sebagai salah satu kitab tafsir yang mempunyai gaya dan orientasi (al-laun wa al-ittijāh) tafsīr bi al-ma'ṣur/tafsīr bi al-riwāyah karena tafsīr ini menjadikan sebuah banyak menggunakan dominan sejarah/hadits, pendapat sahabat dan tabi'īn.
Kontekstualisasi Pernikahan Beda Agama di Indonesia
1933 no. 74), Peraturan Perkawinan Campuran (Regeling op de Mengde Huwelijk S. 158 Tahun 1898), dan peraturan-peraturan lain yang mengatur perkawinan sepanjang diatur dalam undang-undang ini, dinyatakan tidak berlaku.” ahli yang menyatakan adanya kekosongan hukum mengenai perkawinan campuran. Hal ini tertuang dalam Pasal 2 UU bahwa “Setiap Penduduk berhak memperoleh: a.
92 Sri Wahyuni, Pernikahan Lintas Agama di Indonesia dan Hak Asasi Manusia dalam Hukum: Jurnal Agama dan Hak Asasi Manusia, Vol. Karena perkawinan beda agama merupakan perkawinan yang tidak mempunyai akta perkawinan, maka berlaku Pasal 36 undang-undang tersebut. Berdasarkan ketentuan tersebut, pasangan beda agama yang ingin mencatatkan perkawinannya harus terlebih dahulu mengajukan permohonan penetapan perkawinan kepada Pengadilan Negeri kemudian mendaftarkannya pada Kantor Catatan Sipil.
Ketentuan ini sesuai dengan pasal 20 dan 21 Undang-undang Perkawinan yang memperbolehkan Dinas Pencatatan Sipil untuk melaksanakan atau membantu melangsungkan perkawinan jika diperintahkan oleh Pengadilan. Lahirnya kemampuan KCS untuk mencatatkan perkawinan beda agama juga tidak lepas dari kasus hukum Mahkamah Agung dalam Putusan Nomor 1400K/PDT/1986 yang memerintahkan Pegawai Pencatat pada Kantor Pencatatan Sipil untuk melangsungkan perkawinan antar agama. Oleh karena itu, agama menentukan keabsahan perkawinan, sedangkan hukum menentukan keabsahan penyelenggaraan negara.
Secara umum perkawinan beda agama tidak diperbolehkan, karena pertama, dari segi penafsiran ayat Ibnu Katsir, ciri yang dikatakan ditolaknya adalah ia memberikan kegelisahan terhadap penafsirannya, meskipun ia tidak langsung menuliskan apa yang tidak ditulisnya. berarti secara tegas dan juga kembali pada faktor-faktor yang memperkecil kemungkinan terjadinya perkawinan. Agama yaitu faktor sosial, budaya, agama dan situasional.
Saran
Perkahwinan yang berbeza akidah dalam al-Quran (analisis tafsir al-Maraghi terhadap Q.S al-Baqarah ayat 221 dan Q.S al-Maidah ayat 5), ISTI'DAL. Perspektif Perkahwinan Syirik al-Jashahs dan al-Qurtubi Analisis surah al-Baqarah: 221 dalam Tafsir Ahkam al-Qur'an dan al-Jami' Li Ahkam al-Qur'an. Perkahwinan berlainan agama menurut Mufasir al-Qur'an (analisis Tafsir fii Zhilalil Qur'an, Raudhah al-Irfan fi Ma'rifah al-Qur'an dan al Misbah).