• Tidak ada hasil yang ditemukan

Polesan Akhir pdf

N/A
N/A
Noor Asiah

Academic year: 2024

Membagikan "Polesan Akhir pdf "

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

Polesan

Akhir

Pada hab

iniAnda

akan

belajar:

bahwa EKG dapat

diubah

oleh berbagai

jenis penyakit jantung dan

non-jantung yang lain; yang paling sering adalah:

A.

ganggaan

elektrolit B. hipotermia

C. obat-obatan

D. penyakit

jantung

yang

lain

(misalnya

perikarditis, kardiomiopati, dan

mio-

karditis)

E. penyakit

paru

F.

penyakit sistem saraf sentral G. aktivitas

atletik

mengenai kasus

Amos

T.

yang

mempu-

nyai hasil

EKGnya

terbukti menjadi

pe-

tunjuk untuk mengenali

keadaan non-

jantung yang darurat dan

mengancam kehidupan.

L.

2.

251

(2)

Polesan Akhir

Ada sejumlah obat-obatary gangguan

elektrolit

dan penyakit lain yang dapat sangat mengubah

pola normal'EKG. Tidak

jelas mengapa EKG

begitu sensitif

terhadap berbagai

jenis

keadaan

ini, tetapi

begitulah kenyataannya, sehingga Anda harus mengetahui semua

ini.

Pada beberapa keadaan, EKG dapat menjadi

indikator

yang

paling sensitif terhadap

malapetaka

yang

akan

terjadi.

Pada keadaan lairy

perubahan elektrokardiografik yang hampir tidak terlihat

dapat menjadi

petunjuk

awal suatu masalah yang

tidak dicurigai

sebelum-

nya. Pada

keadaan

yang lain lagi, perubahan elektrokardiografik

dapat merupakan kebetulan

saj4 sedikit menarik,

dan

hampir tidak

menjelaskan apa pun.

Kita

tidak

akan membahas berbagai mekanisme dalam bab ini. Pada sebagian besar kasus, alasan

dibalik

berubahnya

suatu

EKG benar- benar belum diketahui.

Topik yang akan kita bahas

meliputi

hal berikut:

.

Gangguan

elektrolit

.

HiPotermia

.

Obat-obatan

.

Penyakit jantung yang

lain

.

Penyakit paru

o

Penyakit sistem saraf pusat

o

Jantungnya atlet
(3)

Gangguan Elektrolit

l^

2s3

& Gangguan Elektrolit

Perubahan kadar

kalium

dan kalsium serum dapat sangat mengubah EKG.

Hiperkatemia

Hiperkalemia

menghasilkan evolusi perubahan yang

progresif

pada

EKG yang akhirnya

menyebabkan

fibrilasi ventrikel dan

kematian.

Perubahan

EKG ini mungkin menjadi parameter adanya

toksisitas

kalium yang signifikan

secara

klinis dan lebih baik daripada

kadar

kalium

serum.

Seiring meningkatnya kalium, gelombang T pada seluruh 1'2-sadap- an EKG mulai meningkat. Efek ini mudah sekali disalahartikan dengan gelombang T

hiperakut

pada

infark miokardium

akut. Perbedaannya adalah bahwa perubahan pada

infark

terbatas pada sadapan-sadapan

yang terletak di

atas daerah

infark,

sedangkan

pada

hiperkalemia perubahannya merata.

Gelombang T yang meninggi pada hiperkalemia.

(4)

254) 7

PolesanAkhir

Bila'kalium serum meningkat lebih lanjuf memanjang, dan gelombang P sedikit

demi menghilang.

interval PR

menjadi

sedikit merata lalu

Seiring meningkatnya kadar kalium, gelombang P tidak terlihat lagi. Gelombang T menjadi semakin tinggi.

Pada

akhirnya,

kompleks QRS melebar hingga bergabung dengan

gelombang T dan membentuk gambaran gelombang sinus.

Pada akhirnya,

teijadi fibrilasi

ventrikel.

Hiperkalemia yang progresif menghasilkan gambaran gelombang sinus klasik. Kompleks QRS yang melebar

dan gelombang

T

yang meninggi hampir tidak dapat dibedakan.

Penting

diingat

bahwa

walaupun

perubahan-perubahan

ini

sering

terjadi

sesuai dengan

urutan yang telah

dijelaskan

sewaktu kalium

serum

meningkat

mereka

tidak

selalu seperti

itu. Perburukan

men-

jadi fibrilasi ventrikel dapat terjadi

dengan sangat

tiba-tiba.

Setiap perubahan pada EKG

hiperkalemia

harus segera mendapat

perhatian

klinis!

(5)

GangguanElektrolit

L25!

Hipokalemia

Pada hipokalemia, EKG sekali lagi dapat menjadi parameter toksisitas berat yang

lebihbaik

daripada kadar

kalium

serum. Dapat

terlihat

tiga perubahan yang terjadi secara acak:

r

Depresi segmen ST

o

Pendataran gelombang T

. Munculnya

gelombang

U

gelombang

T

gelombang U

Hipokalemia. Gelombang U bahkan lebih jelas daripada gelombang T'

Istilah

gelombang

U digunakan

pada gelombang

yang muncul

se-

sudah gelombang T pada siklus jantung Makna fisiologinya

yang

sebenarnya

belum

sepenuhnya

dimengerti.

.Walaupun gelombang

U

merupakan tanda hipokalemia yang paling khas, gelombang

ini tidak

bersifat diagnostik. Keadaan lain juga dapat menghasilkan gelombang

U yang

jelas,

dan

gelombang

U kadang dapat dilihat pada

pasien dengan jantung normal dan kadar

kalium

serum normal.
(6)

Gangguan Kalsium

Perubahan kadar

kalsium

serum terutama memengaruhi

interval

QT.

Hipokalsemia

memperpanjangnya,

dan

hiperkalsemia mempersing- katnya.

Ingatkah Anda

tentang

munculnya aritmia yang

berpotensi mematikan akibat pemanjangan interval QT?

Hipokalsemia. lnterval QT sedillit memanjang. Sebuah PVC jatuh pada gelombang T yang memanjang dan mencetuskan torsades de pointes.

Torsades

de pointes, suatu bentuk lain takikardia ventrikular,

ditemukan pada pasien dengan interval QT yang memanjang.
(7)

Hipotermia

l^

2s7

ffi Hipotermia

Ketika suhu tubuh menurun di bawah 30'C, terjadi beberapa perubahan pada EKG:

1

.

Segala sesuatunya melambat. Sering terjadi bradikardia sinus, dan semua segmen dan interval

-

PR, QRS, Qf,, dsb

-

memanjang'

2. Dapatjenis

elevasi segmen ST yang khas dan diagnostik. Elevasi

ini terdiri dari

peningkatan mendadak

tepat pada titik

J yang

kemudian

mendadak

jatuh

kembali

ke

garis dasar.

Konfigurasi

yang dihasilkan

disebtt

gelombang

/

atau gelombang Osborne.

Hipotermia. Gelombang Osborne amat jelas.

Bermacam-macam

aritmia akhirnya dapat turut membuat

ke- onaran. Fibrilasi atrium lambat adalahyang paling sering ditemui,

walaupun

dapat terjadi

hampir

semua gangguan irama.

Munculnya artefak

akibat

tremor otot

karena

menggigil

dapat

memperburuk hasil

rekaman.

Artefak

serupa dapat

ditemukan pada penderita

Parkinson. Jangan sampai

dikacaukan

dengan

flutter

atrium.

J.

4.

Artefak akibat tremor otot yang menyerupai flutter atrium

(8)

2sB

^l 7

Polesan Akhir

Obat-obatan

Digitalis

Ada dua kelompok perubahan elektrokardiografik yang berbeda yang disebabkan

oleh digitalis:

perubahan akibat

kadar

terapeutik

digitalis dalam darah" dan perubahan akibat kadar digitalis toksik

dalam darah.

Perubahan EKG Akibat Kadar Terapeutik Digitalis dalam Darah

Kadar terapeutik digitalis

mengciptakan perubahan segmen ST dan gelombang T yang khas pada sebagian besar

individu

yang

meminum

obat tersebut. Perubahan

ini dikenal

sebagai efek digitalis

dan terdiri dari depresi

segmen ST serta pendataran

dan infersi

gelombang T.

Segmen

SI

yang terdepresi mempunyai gambaran landaian

menurun

yang amat

perlahan dan muncul

samar-samar setelah gelombang R sebelumnya.

Gambaran khas ini

biasanya

membuat efek digitalis

dapat dibedakan dengan depresi segmen ST yang lebih

simetrik

pada

iskemia.

Pembedaannya

dengan hipertrofi ventrikel yang

disertai

kelainan repolarisasi kadang lebih menyulitkan, terutama

karena

digitalis sering digunakan pada pasien penderita gagal jantung

kongestif yang juga sering menderita

hipertrofi ventrikel kiri.

Efek

digitalis

biasanya paling jelas pada sadapan yang mempunyai gelombang R

tinggi.

Ingat: Efek

digitalis

merupakan hal yang

normal

dan dapat

diprediksi,

sehingga obat

tidak perlu

dihentikan.

Efek digitalis berupa depresi segmen ST asimetrik.

(9)

Obat-obatan

l^

2ss

Perubahan EKG

Akibat

Kadar Toksik Digitalis dalam Darah

Di lain pihak, manifestasi toksik digitalis mungkin memerlukan intervensi

klinis. Intoksikasi digitalis

dapat mencetuskan blokade

konduksi

dan

takiaritmia

secara sendiri-sendiri atau bersama-sama.

Supresi Nodus Sinus

Bahkan pada kadar terapeutik, nodus sinus dapat

diperlambat, terutama pada penderita sick synus syndrome. Pada kadar

toksik

dalam

darah, dapat terjadi blokade jalur keluar sinus atau supresi

nodus sinus total.

Blokade Konduksi

Digitalis

mempeilambat konduksi yang melewati nodus

AV

sehingga dapat menyebabkan blokade AV derajat satu, dua dan bahkan tiga.

Blokade Wenckebach yang disebabkan oleh intoksikasi digitalis. Efek digitalis tidak terlihat pada EKG.

Kemampuan digitalis untuk memperlambat konduksi AV

mem-

buatnya berguna pada pengobatan takikardia

supraventrikular.

sebagai

contoh, digitalis dapat mernperlambat frekuensi ventrikel

pada

penderita fibrilasi atrium;

namun, kemampuan

digitalis untuk

memperlambat frekuensi jantung, yang paling jelas terlihat

ketika pasien sedang

duduk

atau sedang

tidur

tenang selama pemeriksaan EKG, biasanya

hilang

selama

aktivitas berat.

Penyekat

beta

seperti

atenolol atau metoprolol, memPunyai efek serupa pada konduksi

AV

dan dapat mengendalikan frekuensi dengan lebih

baik

ketika ada

peningkatan tonus adrenergik

(misalnya selama

aktivitas fisik

atau stres).
(10)

260

^l 7

Polesan Akhir

Takiaritmia

Karena digitalis meningkatkan sifat otomatik

semua

sel konduksi

jantung, membuat semua sel tersebut bekerja lebih menyerupai pacu

jantung, tidak ada takiaritmia yang tidak dapat disebabkan

oleh

digitalis. Takikardia atrial paroksismal

(PAT)

dan PVC

merupakan aritmia yang paling sering ditemui lalu, irama tautan (junctional) cukup sering

ditemui,

dan

flutter

serta

fibrilasi atrium

menjadi

aritmia

yang paling jarang

ditemui.

Kombinasi

Kombinasi PAT dengan blokade AV derajat dua merupakan gangguan irama yang

paling

khas pada intoksikasi

digitalis.

Blokade

konduksi

biasanya bertrpa2:Ltetapi dapat sangatbervariasi. Digitalis merupakan penyebab

tersering PAT yang disertai blokade, tetapi bukan

satu- satunya yang dapat menyebabkan gangguan tersebut,

Takikardia atrial paroksismal (PAT) yang disertai blokade 2:1.

Panah menunjukkan setiap gelombang P.

Sotalol

dan Obat-obatan

Lain

yang Memperpanjang

tnterval QT Sotalol, yaitu obat antiaritmia yang sering digunakan, memperpanjang

interval QT

sehingga

justru dapat meningkatkan risiko takiaritmia ventrikular.

Intervatr

QT harus

benar-benar

dipantau pada

semua pasien yang mengonsumsi sotalol, dan sotalol harus

dihentikan jika

terjadi pemanjangan yang bermakna (biasanya lebih

dari

25%).

Obat-obatan

lain yang dapat meningkatkan interval QT

adalah

agen

antiaritmia lain

(misalnya,

kuinidin, prokainamid, disopiramid,

amiodaron, dan

dofetilid),

antidepresan

trisiklik,

fenotiazin,

eritromi-

sin,

antibiotik

golongan

kuinolon,

dan berbagai obat antijamur.
(11)

Obat-obatan

l_

261

Pada beberapa pasien

yang

mengonsumsi

kuinidin, dapat

mem-

bentuk

gelombang

U

yang jelas. Pada keadaan

ini, tidak diperlukan

adanya penyesuaian dosis obat.

Memanjangnya interval QT pada EKG ini mengharuskan diturunkannya dosis sotalol.

Beberapa

gangguan repolarisasi jantung herediter yang

meng- hasilkan interval QT panjang telah berhasil dikenali dan diduga terkait dengan kelainan kromosom tertentu. Semua

individu

dalam keluarga

ini perlu diperiksa

menggunakan EKG pada keadaan

istrirahat

dan stres

untuk

mencari defek genetik. Jika ditemukan kelainan, pemberian obat penyekat beta dan kadang pemasangan

defibrilator

implantabel

sangat dianjurkan karena sangat meningkatnya risiko

kematian mendadak akibat aritmia yang mematikary terutama bila pasien dalam masa kanak-kanak atau dewasa awal. Pasien-pasien ini juga tidak boleh

berpartisipasi daiam olahraga yang bersifit kompeiitif

(walaupun latihan taraf

sedangyangtidak

disertai

"aliran

deras

adrenalin"

dapat

dianjurkan

berdasarkan

hasil uji

stres

latihan fisik) dan tidak

boleh mengonsumsi obat apa pun yang dapat memperpanjang

interval

QT.

Karena

interval

QTnormalnya berariasi menurut frekuensi jantung, interaal QT terkoreksl atau QTc digunakan

untuk

menilai pemanjangan

QT

absolut. QTc digunakan

untuk

menyesuaikan adanya perbedaan pada frekuensi jantung dengan cara membagi interval QT dengan akar

kuadrat interval

R-R,

yaitu

satu siklus

jantung.

QTc

tidak.boleh

me-

lebihi

500

milisekon

selama

terapi

dengan obat apa

pun

yang dapat

memperpanjang interval QT

(550

milisekon jika terdapat

blokade cabang berkas yang sudah ada sebelumnya); dengan

mengikuti

aturan

ini, risiko aritmia ventrikel

akan berkurang.
(12)

E Penyakit lantung Lainnya

Perikarditis

Perikarditi,s akut dapatmenyebabkanelevasi segmen ST dan pendataran atau

inversi

gelombang T. Perubahan

ini

dapat

mudah

disalahartikan dengan

infark

yang sedang terjadi, demikian

pula

dengan gambaran klinisnya. Beberapa sifat EKG tertentu dapat membantu membedakan antara

perikarditis

dan

infark.

1. Perubahan segmen ST dan geiombang T pada perikarditis

cenderung

bersifat difus (walaupun tidak selalu), dan

dapat

dijumpai

pada lebih banyak sadapan daripada efek

infark

yang hanya tampak

di

daerah-daerah tertentu.

2.

Pada

perikarditis, inversi

gelombang

T

biasanya

hanya terjadi

setelah segmen ST

kembali ke

garis dasar. Pada

infark,

inversi gelombang T biasanya mendahului normalisasi segmen ST.

3.

Pada

perikarditis, tidak

terjadi pembentukan gelombang Q.

4.

Kadang

interval

PR mengalami depresi.

(A) Sadapan V. menunjukkan elevasi segmen ST pada perikarditis akut. (8) Sadapan yang sama beberapa hari kemudian menunjukkan bahwa segmen ST telah kembali ke garis dasar dan gelombang T telah mengalami inversi. Tidak ada gelombang Q.

(13)

Penyakit Jantung

Lainnya |

263 Terbentuknya efusi perikardium dalam

jumlah yang cukup

banyak

meredam keluaran listrik jantung dan menghasilkan voltase

yang rendah pada semua sadapan. Perubahan segmen ST dan gelombang T pada

perikarditis

masih dapat terlihat.

Sadapan I sebelum (A) dan sesudah (B)terjadinyaefusi perikardium. Penurunan voltase merupakan satu-satunya perubahan yang bermakna.

Jika efusi cukup banyak, jantung dapatbebas berotasi seperti berada

dalam kantong yang berisi

cairan.

Hal ini

menghasilkan fenomena electrical alternans, berubahnya aksis

listrik jantung

pada

tiap

denyut.

Fenomena

ini

dapat memengaruhi

tidak

hanya aksis

kompleks

QRS

tetapi juga

aksis gelombang

P dan

T.

Aksis yang

berubah-ubah

ini

paling mudah dikenali pada EKG oleh adanya variasi

ampiitudo

setiap bentuk gelombang pada tiap denyutnya

Electical altemans. Panah menunjukkan setiap kompleks QRS.

(14)

264

^l 7

Polesan Akhir

Kardiomiopati Obstruktif Hipertrofi atau

HOCM

Kita telah membahas kardiomiopati obstruktif hipertrofik

yang

dahulu dikenal

sebagai stenosis subaorta

hipertrofik idiopatik,

pada kasus Tom L. Sebagian besar penderita

HOCM

mempunyai gambaran EKG

normal, tetapi tidak

jarang

ditemui hipertrofi ventrikel kiri

dan

deviasi

akbis

ke kiri.

Gelombang

Q kadang dapat ditemukan

pada sadapan

lateral

dan adakalanya pada sadapan

inferior. Hal ini tidak

menggambarkan

infark.

HOCM. Gelombang Q yang signifikan dapat dilihat pada ketiga sadapan di atas.

(15)

Penyakit Jantung

Lainnya l^

265

Miokarditis

Setiap proses peradangan

difus

yang melibatkan

miokardium

dapat

menampilkan sejumlah perubahan pada EKG. Perubahan

yang tersering adalah blokade

konduksi,

terutama blokade cabang berkas dan hemiblokade.

Blokade cabang berkas kanan pascainfeksi virus.

pada penderita miokarditis aktif

(16)

266

^l 7

Polesan Akhir

E Penyakit Paru

Penyakit Paru

Obstruktif Kronik

(PPOK)

EKG penderita

emfisema,

menahun dapat menunjukkan

voltase yang rendatu deviasi aksis ke kanary dan peningkatan gelombang R yang

buruk di

sadapan

prekordial.

Voltase yang

rendah

disebabkan oleh

efek

peredaran

yang ditimbulkan oleh

ekspansi

volume

udara residual yang terperangkap dalam paru-paru. Deviasi aksis ke kanan disebabkan

oleh

ekspansi

paru yang

memaksa

jantung

mengubah posisinya menjadi posisi vertikal hingga bahkan berorientasi ke kanan.

Deviasi aksis ini juga disebabkan oleh

hipertrofi

akibat kelebihan beban tekanan yang disebabkan oleh hipertensi pulmonal.

PPOK dapat menyebabkan kor pulmonale

kronik

dan gagal

jantung kongestif kanan. EKG kemudian dapat menunjukkan

pembesaran atrium kanan (P pulmonal) dan

hipertrofi

ventrikel kanan yang disertai kelainan repolarisasi.

Penyakit paru obstruktif kronik. Perhatikan voltase yang rendah, deviasi aksis ekstrem ke kanan, pembesaran atrium kanan (pada sadapan ll), dan kriteria prekordial untuk hipertrofi ventrikel kanan,

(17)

Emboli Paru

Akut

Embolus paru yang masif dan mendadak dapat

sangat mengubah EKG, dan dapat ditemukan hal-hal berikut:

1. Gambaran hipertrofi ventrikel kanan disertai

perubahan repolarisasi,

mungkin

karena dilatasi akut

ventrikel

kanan.

2.

Blokade cabangberkas kanan.

3.

Gelombang S besar pada sadapan I dan gelombang Q dalam pada sadapan

III. Ini

disebut pola S1Q3. Gelombang T pada sadapan

III juga dapat

mengalami

inversi. Tidak

seperti

infark inferior

yang biasanya

memperlihatkan

gelombang

Q pada

setidaknya

dua

sadapan

inferior,

gelombang

Q pada embolus paru

akut biasanya terbatas pada sadapan

III.

4.

Dapat terjadi sejumlah aritmia; yang paling sering

ditemui

adalah

takikardia

sinus dan

fibrilasi atrium.

.i

Gambaran SlQ3 pada embolus paru masif.

Pada sebagian besar pasiery gambaran

EKG pada emboli

paru

akut

yang

tidak

masif menunjukkan

hasil normaf

atau dapat hanya menunjukkan

takikardia

sinus.
(18)

268

^l 7

Polesan Akhir

& PenyakitSrstem Saraf Pusat

Penyakit sistem saraf

pusat

(SSP), seperti perdarahan subarakhnoid atau

infark

serebral,

dapat

menghasilkan

inversi

gelombang

T

yang

difus dan'gelombang U yang jelas. Gelombang T selalu

sangat

dalam dan

sangat lebar.

Bradikardia

sinus

juga sering

ditemukan.

Semua perubahan

ini diduga

karena adanya keterlibatan sistem saraf otonom.

Gelombang T yang lebar dan mengalami inversi yang dalam di sadapan V4 pada pasien yang mengalami perdarahan sistem saraf .pusat.

(19)

re Jantungnya Atlet

Pelari maraton dan atlet

lain

yang

rutin

melakukan latihan ketahanan

yang memerlukan kapasitas aerobik maksimal dapat

mengalami perubahan

pada

EKGnya

yang dapat

sangat

membingungkan jika

Anda

tidak

akrab dengan hal tersebut.

Perubahan-perubahan

ini meliputi:

1. Bradikardia

sinus dalam keadaan istirahat, bahkan kadang-ka- dang

di

bawah 30 denyut per menit! Ketimbang mencemaskary

bradikardia

nyata ini

justru

menjadi tanda efisiennya sistenr kar- diovaskular para atlet.

2.

Perubahan segmen ST dan gelombang

T

yang nonspesifik. Per- ubahan

ini

selalu

terdiri dari

elevasi segmen ST

di

sadapan pra-

kordial

yang disertai pendataran atau inversi gelombang T.

3. Kriteria hipertrofi ventrikel kiri

dan, kadang

hipertrofi ventrikel

- 5iltl;"

cabang berkas kanan yang

tidak

lengkap.

5.

Berbagai

aritmia, termasuk irama tautan

dan wandering atrial pacemaker.

6.

Blokade AV derajat satu atau blokade Wenckebach

Bradikardia sinus dan blokade AV derajat satu pada seorang atlet triatlon.

Tidak

ada satu

pun di

antara keadaan

ini

yang mencemaskan, atau memerlukan pengobatan. Sudah lebih

dari

satu atlet ketahanan yang menjalani pemeriksaan EKG rutin, yang dirawat di CCU, hanya karena dokter

tidak

memahami perubahan-perubahan

ini.

(20)

Berbagai Macam Kondisi Gangguan Elektrolit

.

Hiperkalemia:

Teqadinya (1)

gelombang

T yang meninggi,

(2) pemanjangan

PR dan pendataran gelombang P, dan (3)

pe- lebaran QRS. Pada

akhimya,

kompleks QRS

dan

gelombang T bersatu membentuk gelombang sinus, dan dapat terjadi

fibrilasi

ventrikel.

.

Hipokalemia: depresi

S!

pendataran gelombang

T

gelombang

U

.

Htpokalsemin: pemanjangan interval QT

o

Hiperkalsemia: pemendekan interval QT Hipotermia

.

Gelombang Osbome, pemanjangan

interval, bradikardia

sinus,

fibrilasi atrium

lambat.

Hati-hati

terhadap artefak tremor otot.

Obat-obatan

c

Digitalis: Kadar terapeutik menyebabkan perubahan segmen ST

dan

gelombang

T pada

sadapan dengan gelombang

R tinggi.

Kadar toksik

menyebabkan

takiaritmia dan

blokade konduksi;

yang paling khas adalah PAT disertai blokade.

o

Sotalol (dan sejumlah obat lainnya, lihat halam an 260):

Interval Ql

gelombang U.

(21)

Jantungnya Atlet | _ 271

Penya kit J a ntu ng La i nnya

o

Perikardifis: Perubahan segmen ST dan gelombang T yang difus.

Efusi yang banyak dapat

menyebabkan

voltase reridah

dan electrical alternans.

.

HOCM:

Hipertrofi ventrikel,

deviasi aksis ke

kiri,

gelombang Q septal

o

Miakardlfis: Blokade

konduksi

Penyakit Paru

. PPOK: Voltase rendah, deviasi aksis ke kanan,

peningkatan gelombang,R yang

buruk. Kor pulmonale kronik

dapat meng-

hasilkan P pulmonale dan hipertrofi ventrikel kanan

disertai kelainan repolarisasi.

c

Emboli

paru

akut:

Hipertrofi ventrikel kanan disertai

kelainan

repolarisasi, blokade

cabang

berkas kanan,

S1Q3. Takikardia sinus dan

fibrilasi atrium

merupakan aritmia yang

paling

sering

ditemui.

Penyakit SSP

o Inversi

gelombang T yang difus, gelombang T yang selalu lebar dan dalam; gelombang

U

Jantungnya Atlet

o

Bradikardia sinus, perubahan segmen ST dan gelombang T yang nonspesifik,

hipertrofi ventrikel kiri

dan kanary blokade cabang berkas kanan yang

tidak

komplet, blokade

AV

derajat satu atau Wenckebach, aritmia supraventrikular yang sesekali

timbul.

(22)

272

_l 7

Polesan Akhir

(t

t

Amos T., seorang mahasiswa

Si

bei'usia

25

tahun, dibawa dengan menggunakan ambulans ke IGD dalam keadaan sedang menggenggam dadanya dan sama sekali terlihat sakit. Tanda vitalnya menunjukkan tekanan darah sebesar 90/40 mmHg dan nadi yang tidak teratur. Strip iramanya tampak seperti ini.

Apakah Anda mengenali aritmia ini?

Lalu dilakukan tindakan, dan irama Amos kembali berubah menjadi irama sinus, walaupun frekuensinya tetap cepat, yaitu sebesar i 30 denyut per menit. Tekanan darahnya meningkat menjadi 130/60 mmHg.

Walaupun iramanya berhasil diubah, Amos masih mengeluh nyeri dada yang berat dan sesak nafas. Dokter IGD ingin segera mengobatinya dengan diagnosis infark miokardium akut, tetapi Anda mendesak untuk membuat rekaman EKG 1 2-sadapan yang bagus dahulu

-

bukan sebuah

permintaan yang tanpa alasan karena tanda-tanda vitalnya cukup stabil.

Kemudian dilakukan pemeriksaan EKG.

Apakah sekarang Anda setuju dengan penilaian dokter ruang gawat darurat tersebut?

(23)

Jantungnya Atlet

(24)

274 ^l Polesan Akhir

Tentu saja

tidak.

Semoga Anda memperhatikan beberapa tanda berikut:

1

.

Pasien sekarang mempunyai frekuensi sebesar 100 denyut per menit.

2.

Adanya gambaran hipertrofi ventrikel kanan disertai kelainan repolarisasi.

3.

Gelombang Q dalam terlihat pada sadapan lll dan gelombang S dalam pada sadapan

l,

sebuah S1Q3 klasik pada embolus paru akut.

,.,',irApakah ,,Anda, sekbrahg,,mulai.'irnelompbt:Jbmpbl",dan ,bertetiak karena pasien menderita embolus paru akut? Tidak. Anda mulai melompat-lompat dan menjerit karena pasien mungkin menderita embolus paru. Temuan pada EKG ini hanya memberi kesan se-

perti itu, sama sekali tidak menyimpulkan apa pun. Anda telah melakukan pekerjaan Anda dengan baik dengan memunculkan ma-

sa lah. tgrsebut, :5!hing ga seka ra ng dapat d 1a mbi I]an g kah-la ng ka h,

diagnostik yang tepat.

Amos mendapat heparin sambil menunggu hasil pemindaian ventilasi-perfusinya. Terapi

ini

dilakukan selama satu

jam,

dan

:

{itegakkan 'diagnosis,,embolus paru.' Amosl :tetap dirawat. di 'rumah sa'kit selama beberapa,hari untuk rnenerima..terapi heparin

kemudian dipulangkan sambil menerima terapi antikoagulan oral.

.Embo:liparunya,tidak,mengalamirekurensi.

', .., ,' ,

.

Omong-omong,

jika

misalnya Anda memikirkan penyebab ter- jadinya emboli paru pada Amos,.Anda harus tahu bahwa Amos .:irnempunyai rlwayat tromboflebitis,'v, profundae yang amat kuat

:

dalam, keluarQanya; rdan pemeriksqaf,r hematologik yang teliti ffien€ffi ukan bahwa,Amos. menderitadefisienii protein 5 herediter, yaitu suatu penghambat normal kaskade koaguiasi. Sekarang coba temukan yang seperti ini dalam buku-buku EKG lain!

Referensi

Dokumen terkait

Kesimpulan : Kadar mikroalbuminuria dan serum kalsium pada penelitian ini bukan menentukan prognosa pada stroke iskemik, Pada penelitian ini tidak jelas apakah mikroalbuminuria

Penurunan yang signifikan dalam kadar kalsium serum total dan terionisasi terlihat pada kehamilan normal kasus primigravida dibandingkan dengan yang tidak hamil, dengan

87 • Menilai korelasi kadar serum troponin I dengan APACHE II pada pasien gangguan respirasi tanpa adanya kelainan jantung.. Analisis multivariat skor APACHE II

Gangguan fungsi sistol dan dimensi ventrikel kiri yang berkorelasi dengan kadar ion kalsium serum selain karena hipokalsemia diduga juga karena peningkatan besi bebas (Fe 2+ )

Penelitian lain di India pada tahun 2013 mengemukakan bahwa pada pasien dengan gangguan sensorineural, didapati kadar kalsium serum rendah pada kedua kelompok

Gangguan fungsi sistol dan dimensi ventrikel kiri yang berkorelasi dengan kadar ion kalsium serum selain karena hipokalsemia diduga juga karena peningkatan besi bebas (Fe 2+ )

Hasil laboratorium dari penelitian menunjukkan bahwa lebih dari setengah (80,8%) responden memiliki kadar kalsium serum yang masih normal.. Sehingga dalam penelitian

PENGARUH KENDALI GLUKOSA TERHADAP KADAR SERUM KALSIUM PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI MALANG RAYA TUGAS AKHIR Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana