Application of Cooperative Learning Model Student Team Achievement Division (STAD) Toward IPS Integrated Learning Outcomes
Class VIII In SMP N 1 Hiliran Gumanti Kabupaten Solok Silfina*Edi Suarto** Momon Dt Tanamir***
Geography Education Students STKIP PGRI West Sumatra*
Lecturer in Geography Education STKIP PGRI West Sumatra**
ABSTRACT
This research was motivated by low of integrated IPS student learning outcomes, the average value of the results of an integrated social studies class VIII student still relies a lot below the minimum completeness criteria (KKM). This study aims to determine whether there are differences in learning outcomes of students with the implementation of cooperative learning model Student Teams AchievementDivision (STAD) Toward IPS Integrated Learning Outcomes Class VIII In SMP N 1 Hiliran Gumanti Kabupaten Solok.
The research is experiment, using a study design randomized control group posttest-only design. The population was class VIII SMPN 1 Hiliran Gumanti Kabupaten Solok. The academic year 2015/2016. Sampling was conducted by random sampling technique, so that the selected class VIII.1 (experimental group) and VIII.3 class (control group). The instrument used was the ultimate test of learning outcomes. The test form used is an objective test and data analysis performed by Mann Whitney test (U).
Based on the final test results obtained average value of the experimental class as 80.6, the control class as 72.19. The results of hypothesis testing using the Mann Whitney (U), the known value of 128.00 with Asymp Mann Whitney, sig 0.030 < α0.050. So, it can be concluded that there is a difference in student learning outcomes with the implementation of cooperative learning model Student Teams Achievement Division (STAD) Toward IPS Integrated Learning Outcomes Class VIII In SMP N 1 Hiliran Gumanti Kabupaten Solok.
Keywords : Cooperative Learning Model Student Teams Achievementdivision (STAD), IPS Integrated Learning Outcomes.
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan suatu sarana yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia. Hal ini sejalan dengan yang tercantum dalam UU No.20 Tahun 2003 bahwa “Sistem pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertaqwa pada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berilmu, mandiri dan bertanggung jawab terhadap keluarga, masyarakat, bangsa dan negara“.
Pendidikan dapat berlangsung di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Pendidikan yang dilaksanakan di lingkungan sekolah bertujuan untuk mengantarkan peserta didik menuju perubahan tingkah laku baik secara intelektual, moral maupun sosial agar peserta didik dapat hidup mandiri sebagai individu dan makhluk sosial. Proses pembelajaran di sekolah merupakan proses komunikasi yaitu proses penyampaian pesan dan informasi dari guru kepada peserta didik (Lufri 2007:9).
Pembelajaran merupakan hal yang membelajarkan yang artinya mengacu kesegala daya upaya bagaimana membuat seseorang belajar, bagaimana menghasilkan terjadinya peristiwa belajar didalam diri orang tersebut (Lufri 2007:10). Pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi pencapaian tujuan pembelajaran (Hamalik 2008:57).
Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan salah satu guru IPS
SMPN 1 Hiliran Gumanti Bapak Doni Akhir, S.Pd bahwa nilai rata-rata ulangan harian IPS semester satu masih banyak di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM). Nilai rata-rata ulangan harian pertama IPS kelas VIII Tahun Pelajaran 2015/2016 adalah VIII1 71.19, VIII2 71.67, VIII3 70.48, VIII4 71.43. Nilai ini belum mencapai kriteria ketuntasan minimal yaitu 78.
Adanya masalah-masalah tersebut menyebabkan hasil belajar siswa menjadi rendah, penyabab rendahnya hasil belajar siswa diketahui bahwa proses pembelajaran IPS masih didominasi oleh guru, satu jam pelajaran guru mererangkan dan satu jam pelajaran lagi guru menyuruh siswa untuk mencatat pembelajaran sehinnga model pembelajaran ini mengakibatkan siswa jenuh dan bosan dalam belajar. Siswa tidak aktif selama pembelajaran, hal ini dapat dilihat masih rendahnya motivasi siswa untuk bertanya, guru jarang melaksanakan pembelajaran berkolompok sehingga siswa yang pintar tidak mau membantu siswa yang kurang pintar dalam pembelajaran, dan siswa tidak berani menyampaikan ide-ide mereka saat memberikan pertanyaan. kurangnya sarana penunjang berupa bahan ajar atau buku yang disediakan di sekolah untuk siswa. Jika hal ini dibiarkan berlanjut maka siswa akan sulit memahami materi untuk tingkat yang lebih, karena dalam IPS Terpadu antara materi yang satu dengan yang lain saling berkaitan. Untuk mengatasi masalah tersebut, perlu dilakukan variasi metode dan strategi dalam pembelajaran IPS Terpadu.
Hasil belajar adalah tingkah laku yang timbul, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, timbulnya pertanyaan baru, perubahan dalam setiap kebiasaan keterampilan, kesanggupan menghargai, perkembangan sifat sosial, emosial, dan pertumbuhan jasmani (Oemar 2008:20)
Salah satu model pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa dalam proses pembelajaran dan meningkatkan hasil belajar IPS Terpadu adalah model pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif adalah strategi pembelajaran yang melibatkan partisipasi siswa dalam satu kelompok kecil untuk saling berinteraksi, cooperatif learning merupakan kegiatan belajar siswa yang dilakukan dengan cara berkelompok, model pembelajaran kelompok adalah rangkaian kegiatan belajar yang dilakukan oleh siswa dalam kelompok- kelompok tertentu untuk mencapai tujuan pembelajaran. Nurulhayati dalam Rusman( 2012:203)
Model pembelajaran yang digunakan Student Teams Achievement Division (STAD). Pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Team Achievement Division) adalah pembelajaran kooperatif di mana peserta didik belajar dengan menggunakan kelompok kecil yang anggotanya heterogen dan menggunakan lembar kegiatan atau perangkat pembelajaran untuk menuntaskan materi pembelajaran, kemudian saling membantu satu sama lain untuk memahami bahan pembelajaran melalui tutorial, kuis satu sama lain dan atau melakukan diskusi Rioseptiadi dalam Nisa (2013).
STAD merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif yang paling sederhana, dan merupakan salah satu model yang baik untuk belajar
yang baru mengenal tentang pembelajaran kooperatif. Slavin dalam Nisa (2013) menjelaskan bahwa pembelajaran kooperatif dengan model STAD, siswa ditempatkan dalam kelompok belajar beranggotakan 4-5 orang siswa yang merupakan campuran dari kemampuan akademik yang berbeda, sehingga dalam setiap kelompok terdapat siswa yang berprestasi tinggi, sedang, dan rendah atau variasi jenis kelamin. Kelebihan dari STAD adalah siswa lebih termotivasi untuk menyelesaikan tugas yang diberikan, karena interaksi tidak hanya terjadi antara siswa dengan guru tetapi juga antara siswa dengan siswa dan melatih kerjasama.
Berdasarkan kutipan di atas pembelajaran kooperatif tipe STAD sangat bisa meningkatkan aktivitas peserta didik dalam proses pembelajaran, karena mereka ditempatkan dalam kelompok belajar yang terdiri dari tingkat akademik dan tingkat sosial yang berbeda. Namun perbedaan tersebut bukan merupakan penghalang bagi peserta didik untuk melakukan kerja sama dalam kelompoknya. Dengan perbedaan yang ada peserta didik berusaha meningkatkan kemampuannya untuk mencapai tujuan bersama dengan cara bekerja sama, misalnya peserta didik yang berkemampuan tinggi bisa
membantu temannya yang
berkemampuan rendah (tutorial) karena dalam kelompok tersebut semua anggota kelompok harus menguasai materi yang diberikan. Dengan demikian mereka dilatih untuk menjunjung tinggi norma-norma kelompok, dan membangun hubungan sosial di dalam kelompok.
Serta sistem penilaian model kooperatif tipe STAD berbeda dengan
pembelajaran kelompok biasa, yaitu nilai kelompok diambil dari kemajuan nilai individu yang dikumpulkan.
Keberhasilan seorang individu sangat menentukan sekali terhadap kemajuan kelompoknya, dan bagi kelompok yang terbaik diberi penghargaan (pujian atau hadiah). Dengan demikian seluruh peserta didik akan aktif dan termotivasi dalam pembelajaran sehingga dapat meningkatkan hasil belajarnya.
Mengatasi permasalahan diatas maka diperlukan salah satu model pembelajaran yang cocok untuk meningkatkan hasil belajar siswa yaitu model pembelajaran kooperatif, salah satu diantaranya adalah pembelajaran Student team achievement division (STAD).
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Team Achievement Division (STAD) Terhadap Hasil Belajar IPS Terpadu Kelas VIII Di SMP N 1 Hiliran Gumanti”.
METODOLOGI PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen. Menurut Sugiyono (2009:107) penelitian ekperimen adalah metode penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendali. Penelitian ini dilakukan terhadap dua kelas sampel, yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kelas eksperimen merupakan kelas yang diberi perlakuan. Kelas eksperimen dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII
SMP N 1 Hiliran Gumanti yang terdaftar pada tahun pelajaran 2015/2016. Sampel adalah bagian dari anggota populasi yang diteliti, artinya segala karakteristik populasi tergambar dalam sampel. Sesuai dengan bentuk penelitian yang dilakukan, maka diperlukan dua kelas sampel dari keseluruhan populasi yaitu kelompok sampel sebagai kelas eksperimen dan kelas kontrol. Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan random sampling yaitu pengambilan sampel secara acak.
Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah seperangkat tes yang digunakan untuk hasil belajar siswa pada ranah kognitif. Agar didapat tes yang benar-benar valid, reliabilitas serta memperhatikan indeks kesukaran, daya pembeda. Maka terlebih dahulu harus dilakukan uji coba tes.
Analisis data bertujuan untuk menguji hipotesis yang diajukan, apakah diterima atau ditolak. Untuk menganalisis data hasil penelitian tersebut digunakan uji Mann Whitney (U). Uji persyaratan analisis seperti uji normalitas dan uji homogenitas. Uji Normalitas, digunkan untuk mengetahui apakah data yang diperoleh berdistribusi normal atau tidak. Uji homogenitas ini bertujuan untuk melihat apakah kedua kelompok sampel mempunyai varians yang homogeny atau tidak. Uji hipotesis adalah metode pengambilan keputusan yang didasarkan dari analisis data, baik dari percobaan yang terkontrol maupun dari observasi (tidak terkontrol).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil penelitian yang penulis lakukan pada kelas eksperimen dan kelas kontrol terlihat bahwa ada perbedaan hasil antara kelas
eksperimen dan kelas kontrol. Rata-rata kelas eksperimen 80.6 sedangkan rata- rata kelas kontrol 72.19. Dari output SPSS diatas diketahui nilai uji hipotesis dengan menggunakan Mann Whitney (U) diketahui nilai mann whitney 128.00, signifikan 0.030<0.050, maka ditolak diterima. Jadi, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap hasil belajar IPS Terpadu kelas VIII di SMP N 1 Hiliran Gumanti Kabupaten Solok.
Sebelum proses pembelajaran dimulai terlebih dahulu guru menjelaskan kilasan materi, lalu siswa dibagi beberapa kelompok satu kelompok terdiri dari 4-5 orang, masing-masing kelompok dibagikan LKS (lembar kerja siswa). Setelah masing-masing kelompok siap mengerjakan LKS perwakilan kelompok menampilkan hasil diskusi kedepan kelas. Setelah beberapa kelompok menampilkan hasil diskusinya di depan kelas, siswa dan guru menyimpulkan pembelajaran, selanjutnya guru memberikan evaluasi/
quis kepada siswa untuk mengetahui daya serap siswa dari materi yang diajarkan. Guru menyuruh siswa mengumpulkan hasil quis, nilai pretest nilai kelompok dan nilai postest/quis dihitung dan dirata-ratakan. Kelompok yang memiliki nilai tertinggi dan kelompok teraktif diberikan hadiah atau penghargaan.
Saat siswa disuruh tampil mempersentasikan kedepan kelas, siswa lebih semangat, mereka berlomba-lomba untuk tampil dan mereka juga tidak takut untuk mengeluarkan pendapatnya, siswa yang tidak aktif selama ini menjadi mau untuk tampil kedepan kelas, sehingga
proses pembelajaran tidak hanya terpusat pada guru, terlihat adanya keaktifan siswa di sini. Siswa juga tidak takut untuk menambahkan jawaban dari presentasi temannya.
Peran guru disini menambahkan dan memberikan penguatan terhadap hasil presentasi dari siswa, sehingga siswa termotivasi dan meningkatkan hasil belajar siswa.
Pada kelas eksperimen guru memberikan evaluasi/quis yang menarik yaitu setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk memberikan sumbangan skor maksimal bagi kelompoknya berdasarkan skor awal yang diperolehnya. Hal ini terlihat sekali pada saat mau diadakan quis siswa terlihat senang dan semangat untuk mengerjakan soal quis.
Pernyataan ini didukung oleh Slavin dalam Nur 2006:26 menjelaskan bahwa pembelajran kooperatif dengan model STAD, siswa ditempatkan dalam kelompok belajar beranggotakan empat atau lima orang siswa yang merupakan campuran dari kemampuan akademik yang berbeda, sehingga dalam setiap kelompok terdapat siswa yang berprestasi tnggi, sedang, dan rendah atau variasi jenis kelamin, kelompok ras dan etnis, atau kelompok sosial lainnya. Dengan model pembelajaran ini, siswa yang selama ini tidak aktif mau terlibat ikut serta akan aktif dalam proses pembelajaran.
Tujuan penerapan model pembelajaran ini dapat membiasakan peserta didik untuk belajar aktif secara individu dan membudayakan sifat berani bertanya, tidak minder dan tidak takut salah dalam mengemukakan pendapat, memberikan kemudahan kepada peserta didik dalam perubahan tingkah laku, sikap, minat anak didik.
Jadi menggunaka model pembelajaran
kooperatif tipe STAD terbukti proses pembelajarannya lebih menarik dan bermakna sehingga siswa menjadi senang belajar dan pada akhirnya dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik.
Pelaksanaan pembelajaran pada kelas kontrol yang hanya menggunakan metode ceramah dan tanya jawab, dalam proses pembelajaran dikelas siswa kurang aktif dan hanya mendengarkan apa yang disampaikan oleh guru saja. Sehingga pada saat guru bertanya siswa banyak diam saja dan siswa juga kurang termotivasi dalam belajar karena mereka hanya menerima dari guru saja. Menurut Sanjaya (2011:148) penggunaan metode ceramah memiliki beberapa kelemahan seperi materi yang dapat dikuasai siswa sebagai hasil ceramah akan terbatas pada apa yang dikuasai guru, kegiatan pembelajaran menjadi verbalisme, ceramah sering dianggap sebagai metode membosankan, dapat membuat siswa mengantuk, metode ceramah sangat sulit untuk menetahui apakah seluruh siswa sudah mengerti atau belum.
Berdasarkan pembahasan diatas dan setelah dilakukan uji hipotesis dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar dengan menggunakan model pembelajaran kooperatife tipe STAD terhadap hasil belajar IPS terpadu kelas VIII di SMP N 1 Hiliran Gumanti Kabupaten Solok.
KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Berdasarkan analisis data dan pembahasan, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
Terdapatnya perbedaan hasil belajar siswa dengan penerapan model
pembelajaran kooperatif tipe STAD terhadap hasil belajar IPS terpadu kelas VIII di SMP N 1 Hiliran Gumanti Kabupaten Solok dengan rata-rata kelas eksperimen 80.6, kelas kontrol 72.19 dan nilai Mann Whitney (U) sebesar 128.00 dengan signifikan 0,030<α0.050.
Saran
Berdasrkan kesimpulan diatas, bahwa dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan hasil belajar siswa maka penulis dapat memberikan saran- saran sebagai berikut.
1. Diharapkan kepada guru IPS terpadu dan guru mata pelajaran lainnya untuk memakai model pembelajaran kooperetif tipe STAD dengan menyesuaikan tingkat kesulitan sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
2. Diharapkan kepada Peniliti selanjutnya untuk melakukan penelitian dengan model pembelajaran kooperatif tipe lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. 2006. Dasar- Dasar Evaluasi Pendidikan.
Jakarta: Bumi Aksara.
Asma, Nur. 2006. Model Pembelajaran Kooperatif. Padang: UNP press Hamalik, Oemar. 2007. Proses Belajar
Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Lufri. 2007. Strategi Pembelajaran Biologi .Padang : UNP Pres Nisa, Afaitun. 2013. Efektifitas
penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD (student
team achievement division) terhadap hasil belajar IPS terpadu siswa kelas VII di SMP N 10, Universitas Negeri Semerang.
Rusman. 2012.model-model pembelajaran. Jakarta:PT RajaGrafindo Persada.
Sanjaya. 2011. Model Pembelajaran Kooperatif. Jakarta : Kencana.
Sudijono, Anas(2011). Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta:
Raja Gravindo Persada.
Sugiyono, (2009). Metode Deskriptif, Edisi Kedua. Bandung : Alfabeta.