KASUS SUAP
PROYEK DINAS PUPR OKU
(PADA MARET 2024)
Kelompok 3
Objek (Pekerjaan)
Rehabilitasi rumah dinas bupati dan wakil bupati, kantor Dinas PUPR Kab. OKU, perbaikan jalan, hingga pembangunan jembatan
Sumatera Selatan.
Owner
Dinas PUPR Sumatera Selatan
Pelaksana Pekerjaan / kontraktor
CV RF, CV BH, CV RE, CV GR, CV DSA, CV ACN, CV MDR Coorporation
Anggaran
Total 48 Miliar Rupiah
(APBD)
Modus Korupsi
1.
Perwakilan DPRD (penyelenggara negara) meminta jatah Pokok Pikiran (Pokir) untuk meloloskan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) Kabupaten OKU
Tahun Anggaran 2025.
2.
Kepala Dinas PUPR Kabupaten OKU berinisial NOP menawarkan 9 proyek kepada pihak swasta dengan Komitmen fee sebesar 22 persen, yaitu 2
persen untuk Dinas PUPR dan 20 persen untuk anggota DPRD.
Bentuk Korupsi
Suap Menyuap =>
Perbuatan Korupsi Point 1:
Memberi atau menjanjikan sesuatu kepada pegawai negeri atau
penyelenggara negara... Dengan maksud supaya berbuat sesuatu atau tidak berbuat sesuatu dalam jabatannya)
Kepala dinas PUPR Menyalahgunakan kewenangan untuk kepentingan diri sendiri dan sudah jelas
merugikan keuangan negara dengan cara
menawarkan proyek kepada pihak swasta yang sebenarnya harus mengikuti proses lelang dan
dengan komitmen fee sebesar 22% , yaitu 2% untuk
Dinas PUPR dan 20% untuk anggota DPRD
ANALISIS KASUS DUGAAN KORUPSI PROYEK DINAS PUPR KABUPATEN OGAN KOMERING ULU (OKU) BERDASARKAN BERITA YANG TERSEDIA DAN
HUBUNGANNYA DENGAN
ANALISIS KASUS 3 BENTUK KORUPSI BERIKUT:
1. Perbuatan curang
● Perbuatan korupsi point 4 (dari materi) > setiap orang bertugas mengawasi pembangunan atau menyerahkan bahan bangunan, sengaja membiarkan perbuatan curang.
● Modus korupsi > DPRD meminta jatah pokir (pokok pikiran) yang kemudian dialihkan menjadi proyek fisik senilai Rp40 miliar. Nilai ini kemudian turun menjadi 35 miliar rupiah karena keterbatasan anggaran. Modus ini melibatkan pengkondisian perusahaan tertentu untuk memenangkan proyek melalui praktik pinjam nama dan bendera perusahaan.
2. Gratifikasi
● Perbuatan korupsi point 1 ( dari materi ) > setiap gratifikasi kepada pegawai negeri atau penyelenggara dianggap pemberian suap, apabila berhubungan dengan jabatannya dan yang berlawanan dengan kewajiban tugasnya.
● Modus Korupsi > Kepala Dinas PUPR menerima uang komitmen dari pihak swasta sebesar Rp2,6 miliar yang sebagian digunakan untuk kepentingan pribadi, termasuk pembelian mobil Toyota Fortuner.
3. Kerugian Keuangan Negara
● Perbuatan korupsi Point 1 dan 2 > ( dari materi )
Secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya diri sendiri atau orang lain atau korporasi
dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada.
● Modus korupsi > Anggaran APBD dinaikkan dari Rp 48 miliar menjadi Rp 96 miliar untuk mengakomodasi proyek-proyek ini. Penggelembungan anggaran dan penyelewengan dana proyek menyebabkan potensi kerugian negara. Perwakilan DPRD (penyelenggara negara) meminta jatah Pokok Pikiran (Pokir) loloskan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD)
Negara mengalami kerugian senilai 48 miliar Rupiah.
Peraturan yang berlaku
1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001:
• Pasal 5 ayat (1): Larangan memberi atau menjanjikan sesuatu kepada penyelenggara negara.
• Pasal 12 huruf a dan b: Larangan bagi penyelenggara negara menerima hadiah atau janji terkait jabatan.
• Pasal 3: Larangan penyalahgunaan kewenangan yang dapat merugikan keuangan negara.
2) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara:
• Penyalahgunaan APBD yang berpotensi merugikan keuangan negara.
3) Peraturan terkait pengadaan barang dan jasa pemerintah sebagaimana diatur dalam Perpres Nomor 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, khususnya terkait transparansi dan akuntabilitas.