Dalam rangkaian studi ini, kami menyajikan gambaran ketidakpastian global dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia. Secara harafiah ketidakpastian global dapat diartikan sebagai keadaan yang serba tidak menentu (uncertain) yang mempunyai akibat global. Pada tiga artikel pertama, kita akan membahas dampak ketidakpastian global terhadap perekonomian Indonesia, ketahanan fiskal, dan neraca perdagangan.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan diapresiasi atas kebijakan yang diambil pemerintah untuk mengurangi risiko ketidakpastian global terhadap perekonomian Indonesia. Sekilas, hal ini memberikan intuisi yang bertentangan dengan pandangan umum bahwa ketidakpastian global akan berdampak negatif terhadap Indonesia.
Sebuah Kejutan di Awal Tahun 2020: Wabah Coronavirus (COVID-19)
11 menunjukkan bahwa GPR_IND dapat dijelaskan oleh GPR_GLOB dan GEPU selain dirinya sendiri. Hal ini memperkuat pandangan umum bahwa nilai tukar rupiah berkorelasi positif dengan pergerakan harga saham domestik, serta dipengaruhi oleh faktor harga komoditas dan ketidakpastian perekonomian global. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi pasar modal domestik lebih banyak dipengaruhi oleh faktor domestik dan hanya dipengaruhi secara tidak langsung oleh faktor global.
DAFTAR PUSTAKA
Meski demikian, banyaknya permasalahan ketahanan kesehatan di tanah air tentu memerlukan perhatian dan upaya yang lebih serius. Pemerintah berupaya responsif dengan merancang berbagai insentif agar dampak negatif terhadap perekonomian tidak terus meluas. Disiplin fiskal juga harus tetap dijaga mengingat hasil jangka panjang yang dicapai Kementerian Keuangan tidak akan baik jika runtuh dalam sekejap.
Global Uncertainty dan Dampaknya terhadap Ketahanan Fiskal
Dampak Ketidakpastian Global terhadap perekonomian dan ketahanan fiskal
Dampaknya, permintaan global mengalami kontraksi yang tercermin pada indeks PMI Global (Purchasing Managers Index) yang terus menunjukkan tren penurunan sepanjang tahun 2019. Misalnya, harga minyak mentah yang anjlok lebih dari 10% selama tahun 2019, yang tentunya berdampak pada penurunan harga minyak mentah. berdampak pada kinerja ekspor migas Indonesia. Jika dirinci lebih lanjut berdasarkan sektor seperti pada Tabel 1, terlihat bahwa sektor pertambangan mengalami kontraksi paling besar yaitu sebesar 19% pada tahun 2019.
Kegagalan memenuhi target penerimaan pajak berdampak pada meningkatnya defisit fiskal pada tahun 2019 menjadi 2,2% atau sekitar Rp353 triliun. Dengan demikian, hingga akhir tahun 2019, total utang negara mencapai Rp4.779,28 triliun yang terdiri dari SBN Rp4.014,81 triliun dan pinjaman Rp763,79 triliun. Data di atas menunjukkan pemerintah diperkirakan tidak akan kesulitan menerbitkan SBN pada tahun 2020.
Namun data menunjukkan realisasi belanja pemerintah mampu tumbuh sebesar 3% dibandingkan tahun lalu, padahal penerimaan pajak hanya tumbuh 1,7%. Hal ini menunjukkan sikap pemerintah yang tidak toleran, padahal penerimaan pajak kurang menggembirakan. Hal ini dapat dipahami sebagai upaya pemerintah untuk menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan perlambatan ekonomi global.
Hal tersebut menunjukkan fokus pemerintah dalam menjaga daya beli khususnya masyarakat menengah ke bawah.
Antisipasi pemerintah melalui APBN 2020
Dari sisi pengeluaran, seperti terlihat pada tabel di bawah, peningkatan terbesar terjadi pada anggaran pendidikan dan kesehatan. Dari rincian pengeluaran tersebut, terlihat bahwa pada tahun ini pemerintah fokus pada peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan. Untuk membiayai APBN tahun 2020, kebutuhan pembiayaan diperkirakan mencapai Rp741,83 triliun yang akan dipenuhi sebesar Rp690,51 triliun (93,1%) dari penerbitan SBN dan Rp51,32 triliun (6,9%) dari pinjaman.
Namun mengingat target penerimaan perpajakan tahun 2020 sangat tinggi, maka jumlah kebutuhan pembiayaan pemerintah diperkirakan akan meningkat. Karena prospek peringkat kredit Indonesia cukup positif, kemungkinan besar pemerintah tidak akan mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan keuangan tersebut.
Catatan akhir
Dari sisi belanja, pemerintah harus menjaga alokasi belanja meski diperkirakan target penerimaan pajak tidak terpenuhi. Alokasi belanja yang relevan tidak hanya berkontribusi dalam menciptakan pertumbuhan jangka panjang, namun juga harus diperhatikan keseimbangannya untuk mendorong pertumbuhan jangka pendek dan menjaga daya beli masyarakat. Namun jika melihat risiko utang pemerintah saat ini, penambahan utang diperkirakan tidak akan mengganggu kesehatan keuangan pemerintah.
Namun yang perlu diperhatikan adalah bagaimana menggali potensi sumber pembiayaan dari investor dalam negeri. Memperhatikan kemungkinan terjadinya pembalikan mendadak yang dapat membahayakan stabilitas pasar keuangan. Namun pemerintah nampaknya sangat optimis dengan menargetkan pertumbuhan penerimaan pajak sebesar 20,73% dari realisasi tahun 2019. Namun yang perlu diperhatikan adalah bagaimana menggali potensi sumber pembiayaan dari investor dalam negeri.
Tantangan dan Peluang Meningkatkan Neraca Perdagangan di Era Ketidakpastian Global
Ketidakpastian global akibat perang dagang
Tindakan yang dilakukan kedua negara adidaya ini menyebabkan menurunnya perdagangan global dan berdampak lebih buruk bagi negara berkembang seperti Indonesia. Dapat kita lihat pada grafik di bawah ini, meskipun penurunan nilai perdagangan global sudah dimulai sejak tahun 2015, namun kami yakin penurunan tersebut merupakan kontribusi terhadap penurunan nilai perdagangan produk “perang tarif” AS-Tiongkok. Dampak yang dialami Indonesia adalah pertumbuhan impor lebih besar dibandingkan ekspor sehingga menyebabkan defisit neraca perdagangan sebesar USD 8 miliar.
Defisit ini merupakan yang pertama kalinya sejak tahun 2014, bahkan lebih besar dibandingkan defisit yang didapat Indonesia pada tahun 2012. Defisit ini diduga kuat merupakan dampak dari perang dagang antara AS dan Tiongkok, karena menurut data BPS, impor Indonesia mengalami penurunan. meningkat karena impor non-gas. Perang dagang memberikan dampak buruk bagi negara-negara di luar Amerika dan Tiongkok karena kelebihan pasokan produk perang tarif di pasar internasional sehingga menyebabkan penurunan harga produk tersebut secara signifikan.
Penurunan harga ini membuat barang impor asal Tiongkok dan Amerika lebih mampu bersaing di negara berkembang, termasuk Indonesia. Data yang diperoleh dari Trademap menunjukkan bahwa produk impor seperti mesin (HS84), mesin listrik (HS85), serta baja dan besi (HS72) rata-rata mengalami kenaikan sebesar . Selain itu, pertumbuhan ekspor Indonesia melambat karena rendahnya harga barang substitusi ekspor Indonesia.
Meningkatkan Neraca Perdaganagan Melalui IEU-CEPA (Indonesia- European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement)
Pada tahun 2019, Indonesia dan Uni Eropa telah mengadakan 9 kali pertemuan untuk menyelesaikan perjanjian perdagangan. Sekitar 80% dari perjanjian yang dinegosiasikan akan selesai, jika tidak meleset dari perkiraan IEU-CEPA yang akan disetujui pada tahun 2020. Indonesia akan menjadi negara ke-6 di Asia Tenggara yang mempunyai perjanjian dagang dengan Uni Eropa, sebelumnya Uni Eropa telah mempunyai perjanjian dagang dengan Singapura (2010), Malaysia (2010), Vietnam (2012), Thailand (2013) dan Filipina ( 2015) (Uni Eropa, 2020).
Selama ini Indonesia telah melakukan ekspor produk ke beberapa negara besar Eropa seperti Spanyol, Jerman dan Belanda dengan 5 produk unggulan yaitu minyak hewani dan nabati (HS15), sepatu (HS64), produk kimia (HS38), mesin listrik (HS85) dan produk karet (HS40). Ada beberapa produk unggulan Indonesia hingga dunia, namun belum ada produk unggulan Indonesia di Uni Eropa seperti BBM, hasil tambang, dan sayuran. Pertama, tarif yang ditetapkan oleh Uni Eropa kemungkinan besar akan tinggi sehingga membuat produk Indonesia menjadi mahal dan tidak kompetitif.
Kedua, adanya perbedaan standar yang ditetapkan Uni Eropa agar produk tersebut bisa masuk ke pasar UE. Kami menyarankan agar Indonesia melakukan negosiasi dengan UE melalui perjanjian IEU-CEPA untuk menurunkan tarif dan memfasilitasi akses terhadap produk-produk unggulan tersebut (non-tariff hambatan). Menurut penelitian yang dilakukan oleh Center for Strategic and International Studies (Damuri, Atje, & Soedjito, 2017), potensi yang dapat dihasilkan Indonesia dengan IEUCEPA adalah peningkatan ekspor produk Indonesia sebesar 5,4% per tahun jika skema penghapusan tarif diimplementasikan untuk setiap produk.
Skema kedua, jika Indonesia gagal mematuhi perjanjian ini dan Uni Eropa menghapus kebijakan Generalized System of Preferences (GSP), maka Indonesia akan mengalami penurunan ekspor ke Uni Eropa sebesar 8% per tahun.
Volatilitas Komoditas Minyak Bumi bagi Perekonomian Indonesia
Peran komoditas minyak bumi pada perekonomian
Oleh karena itu, untuk memenuhi kebutuhan tersebut diperlukan impor, baik berupa minyak mentah maupun minyak olahan. Volume dan nilai impor minyak mentah dan minyak olahan Indonesia yang terus meningkat dapat dilihat pada Gambar 2 dan Gambar 3. Produk minyak mentah dan minyak olahan inilah yang juga berkontribusi terhadap defisit neraca perdagangan Indonesia saat ini.
Besarnya volume impor minyak mentah dan minyak olahan membuat Indonesia sangat bergantung pada harga minyak mentah dunia dalam menentukan nilainya. Pentingnya harga minyak mentah dunia menjadikannya salah satu indikator asumsi makro dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Indonesia, serta indikator energi lainnya yaitu kenaikan (tingkat produksi) minyak dan gas. Selain itu, harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) sendiri dirumuskan dalam peraturan Keputusan Menteri ESDM berdasarkan harga keekonomian lapangan di Indonesia dan juga disesuaikan dengan harga global (ESDM , 2020).
Sebagai ilustrasi, Gambar 4 menunjukkan salah satu harga minyak mentah ringan di Laut Utara yang biasa digunakan sebagai patokan global, Dated Brent. Contohnya adalah peningkatan pasokan sejak awal produksi minyak AS. minyak serpih dan pasir minyak Kanada pada kuartal ketiga tahun 2014 - kuartal pertama tahun 2015, menyebabkan harga minyak (tanggal Brent) turun dari US$97,34/barel pada bulan September 2014 menjadi US$55,79/barel pada bulan Maret 2015. Peristiwa krisis, misalnya krisis keuangan global pada triwulan III tahun 2008 yang menyebabkan harga minyak turun dari US$99,06/barel pada bulan September 2008 menjadi US$41,58/barel pada bulan Desember 2008.
Contohnya adalah upaya negara-negara anggota OPEC (Organisasi Negara Pengekspor Minyak) yang memangkas produksi sebesar 4,2 juta barel/hari pada kuartal pertama tahun 2009, yang menyebabkan harga minyak kembali naik dari $41,58/barel pada bulan Desember 2008 menjadi $68,62/barel. . pada bulan Juni 2009.
Upaya mengurangi resiko volatilitas harga minyak mentah global
Seperti halnya produk lainnya, harga dibentuk oleh mekanisme pasar (penawaran dan permintaan), termasuk produk energi lainnya. Akibat menurunnya pengaruh OPEC, negara-negara OPEC saat ini berkoordinasi dengan negara-negara non-OPEC untuk membentuk forum OPEC+ dengan harapan yang sama dapat menstabilkan harga minyak. Hedging dengan mengadakan kontrak pembelian/impor dengan harga yang telah ditentukan untuk jangka waktu tertentu.
Mekanisme stabilisasi harga melibatkan pembagian risiko antara pemerintah melalui subsidi tanpa secara langsung membebani kapasitas fiskal (atau BUMN di bidang terkait) dan masyarakat sebagai konsumen. Disertai juga dengan kompensasi berupa bantuan tunai dan jaminan sosial yang ditujukan kepada mereka yang membutuhkan untuk mengimbangi dampak kenaikan harga terhadap masyarakat sebagai konsumen akhir. Diversifikasi energi dengan mengoptimalkan pemanfaatan potensi energi lokal, khususnya energi baru dan terbarukan, antara lain energi panas bumi, energi surya, energi angin, tenaga air, dan lain-lain.
Tidak mungkin membicarakan produk energi hanya dengan satu jenis produk energi, mengingat adanya kemungkinan penggantian atau pencampuran produk energi, yang tentunya masih tidak mudah dan memerlukan adaptasi teknologi. Tentu saja, penting juga untuk mengelola risiko volatilitas komoditas energi lainnya termasuk batu bara, gas alam, bahan bakar nabati (BBN)/bahan bakar nabati (biofuel) minyak sawit (CPO), dll, yang harganya juga berfluktuasi. Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral no. 269 K/10/MEM/2019 tentang Perubahan Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 138 K/12/MEM/2019 tentang Formula Harga Minyak Mentah Indonesia.
Efek Ketidakpastian Ekonomi Global Terhadap Serapan Tenaga Kerja dan Daya Beli Masyarakat Indonesia
Global Economic Policy Uncertainty dan Respon Paket Kebijakan Ekonomi
Aspek Uncertainty pada Investasi dan Serapan Tenaga Kerja
Ancaman pada Optimisme Tingkat Daya Beli Masyarakat
Profil Penulis