• Tidak ada hasil yang ditemukan

PPK Berbasis Budaya Sekolah Melalui Sejarah

N/A
N/A
4130020021 ALDI SETIAWAN

Academic year: 2023

Membagikan "PPK Berbasis Budaya Sekolah Melalui Sejarah"

Copied!
77
0
0

Teks penuh

Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) merupakan bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) yang dicanangkan Presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla. Rangkaian buku yang diterbitkan mengenai penguatan pendidikan karakter melalui sejarah juga menjadi bukti komitmen dalam mengemban amanah tersebut.

LATAR BELAKANG

Revolusi mental sebagai bagian dari amanat Nawa Cita diwujudkan dalam dunia pendidikan melalui gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Penguatan Pendidikan Karakter merupakan upaya sistematis untuk menanamkan dan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam proses pendidikan.

LIMA KELOMPOK NILAI

Selain itu, kelima kelompok nilai tersebut dianggap sebagai nilai yang patut diterapkan dalam setiap proses pendidikan. Pendidikan karakter berbasis komunitas merupakan kerjasama antara sekolah dan masyarakat khususnya orang tua dan komite sekolah untuk membangun karakter siswa.

PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS BUDAYA SEKOLAH

Ciri khas pendidikan karakter melalui pembelajaran sejarah berbasis budaya sekolah adalah ruang lingkup dan pelakunya. Kegiatan pendidikan karakter berbasis budaya sekolah melalui pembelajaran sejarah melibatkan banyak individu dalam komunitas sekolah.

TUJUAN

SASARAN

CARA MEMPERGUNAKAN BUKU

Ketiga, buku ini juga dapat menjadi inspirasi bagi kepala sekolah dan guru untuk menyusun program kegiatan pengajaran sejarah di sekolah yang menarik, sehingga kepala sekolah dan guru dapat menyiapkan saran kegiatan dalam rangka penguatan pendidikan karakter melalui sejarah kelas.

SKEMA

RELEVANSI SEJARAH DALAM PENGUATAN

Di satu sisi, mempelajari sejarah merupakan kewajiban moral untuk melestarikan dan mewariskan nilai-nilai peradaban manusia. Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) sebagaimana dijelaskan secara umum pada Bab 1 dilaksanakan di satuan pendidikan melalui tiga pendekatan dasar, yaitu pendidikan karakter berbasis kelas, pendidikan karakter berbasis budaya sekolah, dan pendidikan karakter berbasis masyarakat.

RELEVANSI SEJARAH DALAM PPK

Hal ini menunjukkan bahwa PPK sepanjang sejarah menunjukkan bahwa sejarah Indonesia mempunyai kedudukan, kontribusi dan peranan penting bagi pergerakan PPK. Pertama, sejarah Indonesia bermanfaat sebagai ruang refleksi dan melihat kembali karakter masyarakat Indonesia, khususnya bagi warga satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat. Kedua, sejarah Indonesia juga bermanfaat sebagai wadah untuk menggali inspirasi karakter anggota satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat.

Keempat, sejarah Indonesia dapat menjadi media penilaian peristiwa dan peristiwa masa lalu yang mengandung hikmah, pesan, sikap dan nilai-nilai yang bermanfaat bagi terbentuknya lima nilai tokoh utama yang dikembangkan dalam PPK. Keempat kegunaan sejarah Indonesia untuk PPK melalui Sejarah ini menegaskan betapa pentingnya sejarah dalam PPK. Sehubungan dengan itu, program dan kegiatan PPK melalui sejarah hendaknya menjadikan sejarah Indonesia sebagai alat, jalur, sumber, media, dan muatan PPK.

TIGA TAHAPAN PEMBELAJARAN SEJARAH

Individu harus merasakan, mengecap dan memahami nilai-nilai keindahan yang diwariskan oleh individu dan masyarakat pada masa lalu. Tingkat estetika pembelajaran sejarah merupakan landasan mendasar bagi pengembangan kesadaran sejarah siswa. Sejarah tidak akan berarti bagi manusia jika manusia tidak mempunyai tanggung jawab moral untuk mengingat sejarah masa lalu.

Pada tahap etika ini, siswa di sekolah menengah pertama dapat fokus pada perspektif ini. Pada tahap kritis ini, siswa perlu memahami bagaimana cara pandang para penulis sejarah di masa lalu dalam memahami peristiwa sejarah yang dialaminya, namun juga bagaimana perkembangannya. Fase kritis ini dapat dikenalkan pada siswa di tingkat sekolah menengah atas atau sekolah kejuruan.

PENTINGNYA MELEK SEJARAH

Singkatnya, literasi sejarah adalah terjaga dan sadar akan sejarah, tidak melupakan dan tidak mengosongkan sejarah, yang digunakan untuk bertindak pada masa kini dan masa depan. Sementara itu, secara teknis dan ilmiah, istilah literasi sejarah semakin diakui peranannya dalam bidang sejarah, kebudayaan, dan peradaban, bahkan di PPK. Secara teknis-ilmiah, istilah literasi sejarah dapat diibaratkan dengan istilah ‘historis education’ dalam bahasa Inggris, sehingga literasi sejarah berkaitan dengan literasi sejarah.

Selain itu, seseorang yang melek sejarah mempunyai dan menggunakan wawasan sejarah dalam tindakannya, baik lisan, tulisan, maupun kinestetik. Seseorang yang melek sejarah juga akan berpikir dan bertindak berdasarkan pemikiran dan keyakinannya sendiri berdasarkan data dan logika sejarah, serta tidak sembarangan mengambil dan menyebarkan tulisan atau perkataan orang. Oleh karena itu, literasi sejarah merupakan kemampuan seseorang dalam memperoleh, mengolah, dan memanfaatkan sejarah secara estetis, etis, dan kritis dalam setiap langkah kehidupan agar kebajikan dan kearifan tumbuh dan berkembang.

KETERAMPILAN KUNCI

Keputusan mengenai kesinambungan dan perubahan dapat diambil berdasarkan perbandingan peristiwa masa lalu dan masa kini, atau antara dua peristiwa masa lalu, misalnya Indonesia pada masa Revolusi dan Pasca Revolusi. Memiliki perspektif sejarah berarti memahami kondisi sosial, budaya, intelektual, dan emosional yang membentuk kehidupan dan tindakan masyarakat di masa lalu. Aktor-aktor sejarah yang berbeda mungkin bertindak berdasarkan keyakinan dan ideologi yang berbeda, sehingga memahami perspektif yang beragam juga penting dalam mengembangkan kemampuan untuk memiliki perspektif sejarah.

Meski terkadang disebut “empati sejarah”, perspektif sejarah sangat berbeda dengan gagasan umum tentang identifikasi dengan orang lain. Memang benar, memiliki perspektif sejarah memerlukan pemahaman akan perbedaan besar antara kita di masa sekarang dan di masa lalu. Kita harus berharap untuk belajar sesuatu dari masa lalu yang membantu kita menghadapi masalah etika saat ini.

PRINSIP PELAKSANAAN PPK MELALUI SEJARAH

Kebijakan, program dan kegiatan PPK sepanjang Sejarah dilaksanakan dengan mempertimbangkan konteks geografis, demografi, sosial dan budaya yang ada di Indonesia. Menerapkan PPK melalui Sejarah dengan cara yang peka konteks seperti ini tentu akan lebih dapat diterima dan berhasil. Untuk itu pelaksanaan PPK melalui Sejarah harus peka terhadap nilai-nilai universal (universal), dalam hal ini responsif dan peka dengan cara selektif dan kreatif menyerap serta mengolah nilai-nilai sejarah yang berbeda dimanapun diperlukan, misalnya nilai sejarah. tentang kebangkitan bangsa terjajah (karakter nasionalis) dan kejujuran dalam mengemban amanah (karakter integritas) yang ditunjukkan bangsa lain.

Contohnya program dan aktiviti PPK melalui sejarah di kawasan sekolah boleh diperkayakan dengan program dan aktiviti PPK melalui sejarah. Untuk itu, segala program dan aktiviti serta hasil PPK melalui Sejarah perlu dipertanggungjawabkan kepada masyarakat. Prinsip akauntabiliti ini menjadikan PPK sepanjang sejarah dilaksanakan dengan serius, bukan sambil lewa dan remeh.

PENGEMBANGAN BUDAYA SEKOLAH

MELALUI SEJARAH

Untuk mencapai budaya sekolah yang diharapkan, kepala sekolah harus yakin bahwa guru dan siswa mempunyai sikap kreatif dan inovatif. Tujuan pembentukan karakter adalah untuk mengembangkan watak dan perilaku peserta didik berdasarkan nilai-nilai dan keyakinan yang ada di masyarakat. Kepala sekolah dapat mendorong guru untuk berinovasi dan menugaskan siswa untuk mengenal pahlawan di lingkungannya.

Dalam hal ini kita dapat mengajak siswa untuk mengenali nilai-nilai kepahlawanan yang ada disekitarnya dan menerapkannya dalam perilakunya di lingkungan sekolah. Berikut ini adalah berbagai tempat di lingkungan sekolah yang dapat digunakan untuk menyiapkan berbagai media sejarah seperti yang disebutkan di atas. Penguatan karakter di lingkungan sekolah juga dapat dicapai dengan mengembangkan program dan berbagai jenis kegiatan untuk memperkuat karakter dan memperkuat kesadaran sejarah seluruh warga sekolah.

INOVASI-INOVASI PENGUATAN

PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS

BUDAYA SEKOLAH MELALUI SEJARAH

Penguatan pendidikan karakter berbasis budaya sekolah melalui sejarah menitikberatkan pada keteladanan, pembiasaan, aktivitas dan pengembangan budaya di lingkungan sekolah yang menunjukkan nilai utama pendidikan karakter yang menjadi prioritas satuan pendidikan. Inovasi penguatan pendidikan karakter berbasis budaya sekolah melalui sejarah dapat dilakukan dalam berbagai bentuk kegiatan dan program.

KETELADANAN

AKTIFITAS

Selain itu, mahasiswa dapat melakukan kunjungan lapangan mengunjungi arsip dan perpustakaan untuk mengenal sumber-sumber sejarah. Nilai-nilai yang terkandung dalam kegiatan ini adalah menghargai sejarah dan budaya bangsa sendiri, cinta tanah air, dan menghargai keberagaman budaya. Tujuan menonton film sejarah bersama-sama dan didampingi oleh guru adalah agar siswa memperoleh kekayaan wawasan, imajinasi dan informasi melalui pengetahuan sejarah.

Bagi siswa sekolah dasar, menonton film sejarah dapat dilakukan dengan menayangkan film yang dilihat dari segi estetika dan nilai merupakan wujud wujud nilai cinta tanah air. Artinya film-film sejarah yang ditayangkan terutama dimaksudkan untuk menanamkan rasa cinta perjuangan, para pahlawan, tanah air dan bangsa. Diharapkan bagi mereka yang sudah tamat SMA, selain mencintai perjuangan, pahlawan, tanah air dan bangsa, juga tidak risih dalam berbagai pergaulan.

PENGEMBANGAN LINGKUNGAN SEKOLAH

Museum sekolah merupakan tempat pelestarian, perawatan, pelestarian dan pemanfaatan benda-benda bukti kebudayaan manusia, serta alam dan lingkungan hidup untuk mendukung upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa di sekolah. Bentuk pelaksanaan museum sekolah adalah pengumpulan benda-benda yang mempunyai nilai sejarah di lingkungan sekolah dalam suatu ruang pameran. Nilai-nilai yang dikandungnya adalah kecintaan terhadap sejarah, belajar mengenal asal usul dan tradisi sekolah serta belajar mengapresiasi benda-benda yang mempunyai sejarah.

Laboratorium dilengkapi dengan fasilitas pendukung seperti peralatan untuk melihat film dokumenter, tempat mendengarkan wawancara, kumpulan benda-benda bersejarah di sekitar sekolah, tempat berdiskusi dan melakukan penelitian sejarah. Bentuknya dapat berupa ruangan yang berisi sumber-sumber sejarah berupa buku, arsip, surat kabar, majalah, dan benda-benda bersejarah. Wawasan sejarah tersebut ditunjukkan dengan adanya berbagai kegiatan merawat dan memelihara benda-benda bersejarah tersebut.

PENUTUP

Pembelajaran sejarah di sekolah dapat dilakukan dengan mengembangkan budaya dan lingkungan sekolah yang mendorong dan mengembangkan kesadaran sejarah seluruh warganya. Program, kegiatan dan lingkungan sekolah dapat dijadikan sebagai momen pembelajaran sejarah, sehingga sejarah tidak hanya menjadi pembelajaran mengingat data masa lalu, namun juga menjadi bahan untuk meneruskan tradisi dan nilai-nilai baik yang ada di masyarakat. Fokus PPK melalui pembelajaran sejarah berbasis budaya sekolah adalah pengembangan keseluruhan lingkungan fisik dan non fisik sekolah guna meningkatkannya.

Pertanyaan reflektif bagi pembaca adalah sejauh mana sekolah saya saat ini dapat mengembangkan berbagai jenis model pembelajaran sejarah yang memanfaatkan momen dan peristiwa tertentu di lingkungan sekolah sebagai salah satu cara untuk mengembangkan siswa dan menyadarkan mereka akan pentingnya nilai-nilai sejarah. Apakah program, kegiatan ekstrakurikuler dan praktik di lingkungan sekolah anda membantu siswa untuk memahami makna pembelajaran sejarah dengan baik? Semoga panduan ini dapat memberikan inspirasi bagi para guru, staf pengajar, dan kepala sekolah untuk mengembangkan program dan kegiatan pembentukan karakter di sekolah melalui pembelajaran sejarah yang dapat mengembangkan budaya sekolah berbasis sejarah yang mampu membentuk karakter siswa.

DAFTAR PUSTAKA

BUKU

DOKUMEN

INTERNET

Referensi

Dokumen terkait

Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) berbasis budaya sekolah memotret berbagai macam bentuk pembiasaan, model tata kelola sekolah, termasuk di dalamnya pengembangan peraturan

Hasil yang diperoleh dari penelitian ini yaitu (1) Strategi implementasi penguatan pendidikan karakter berbasis budaya sekolah melalui program DUTALI yakni strategi

Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) berbasis budaya sekolah mencakup berbagai macam bentuk pembiasaan, model tata kelola sekolah, pengembangan peraturan, dan

RPP kelas eksperimen model sugestopedia berbasis PPK (Penguatan Pendidikan Karakter) untuk meningkatkan kemampuan menulis puisi siswa sekolah dasar ... Tabel Focus

Penguatan pendidikan karakter berbasis budaya sekolah dapat dilakukan melalui strategi berikut ini: (i) menekankan pada pembiasaan nilai-nilai utama dalam keseharian

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh lemahnya karakter generasi bangsa sehingga pemerintah mencanangkan program Penguatan Pendidikan Karakter yang memiliki tiga basis yaitu

Dari proses observasi yang peneliti dapatkan, sebagai bukti otentik dalam proses pelaksanaan program penguatan Pendidikan karakter yang merupakan sekolah piloting, pihak

Faktor penghambat penguatan pendidikan karakter religius siswa berbasis budaya sekolah Faktor penghambat dalam pelaksanaan kegiatan pembiasaan apel pagi dan jum’at berkah adalah 1