• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN PROGRAM PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS BUDAYA SEKOLAH DI SEKOLAH DASAR NEGERI SE-KECAMATAN MOYUDAN KABUPATEN SLEMAN SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENERAPAN PROGRAM PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS BUDAYA SEKOLAH DI SEKOLAH DASAR NEGERI SE-KECAMATAN MOYUDAN KABUPATEN SLEMAN SKRIPSI"

Copied!
170
0
0

Teks penuh

(1)

BERBASIS BUDAYA SEKOLAH DI SEKOLAH DASAR NEGERI SE-KECAMATAN MOYUDAN KABUPATEN SLEMAN

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Oleh:

Subronto NIM: 151134066

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA 2020

(2)

i

PENERAPAN PROGRAM PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS BUDAYA SEKOLAH DI SEKOLAH DASAR NEGERI

SE-KECAMATAN MOYUDAN KABUPATEN SLEMAN SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Oleh:

Subronto NIM: 151134066

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA 2020

(3)

ii

(4)

iii

(5)

iv

PERSEMBAHAN

Karya ini kupersembahkan untuk:

1. Tuhan Yesus Kristus yang selalu memberi perlindungan dan penerangan dalam kelancaran mengerjakan penelitian ini.

2. Kedua orang tuaku, Bapak Suprapto dan Ibu Sudarmini yang selalu memberiku semangat dan tidak pernah lupa mendoakanku.

3. Kakakku Mardhani yang selalu memberikan semangat dan motivasi serta dukungan kepadaku untuk melangkah.

4. Kupersembahkan karya ini untuk almamaterku tercinta Universitas Sanata Dharma.

(6)

v MOTTO

“Pembelajaran tidak didapat dengan kebetulan. Ia harus dicari dengan semangat dan disimak dengan tekun”.

(Abigail Adams)

“Orang-orang yang berhenti belajar akan menjadi pemilik masa lalu. Orang-orang yang masih terus belajar, akan menjadi pemilik masa depan”.

(Mario Teguh)

“Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu”.

(1 Tesalonika 5: 16-18)

“Jika orang lain bisa, maka aku juga termasuk bisa”.

(Subronto)

(7)

vi

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 27 Februari 2020 Peneliti

Subronto

(8)

vii

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma:

Nama : Subronto

Nomor Mahasiswa : 151134066

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul:

Penerapan Program Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah di Sekolah Dasar Negeri se-Kecamatan Moyudan Kabupaten Sleman.

beserta perangkat yang diperlukan. Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikannya di Internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai peneliti.

Demikian pernyataan ini yang saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di Yogyakarta

Pada tanggal: 27 Februari 2020 Yang menyatakan

Subronto

(9)

viii ABSTRAK

PENERAPAN PROGRAM PENGUATAN PENDIDIKAN KARAKTER BERBASIS BUDAYA SEKOLAH DI SEKOLAH DASAR NEGERI

SE-KECAMATAN MOYUDAN KABUPATEN SLEMAN

Subronto

Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

2020

Penelitian ini dilatarbelakangi dengan dicanangkannya program Penguatan Pendidikan Karakter berbasis kelas, masyarakat, dan budaya sekolah oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia karena lemahnya karakter anak bangsa. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui penerapan Program Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah di sekolah dasar se-Kecamatan Moyudan Kabupaten Sleman, 2) mendeskripsikan penerapan Program Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah di sekolah dasar se-Kecamatan Moyudan Kabupaten Sleman.

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif deskriptif dengan metode survei. Populasi penelitian adalah seluruh guru kelas I sampai dengan VI di SD Negeri se-Kecamatan Moyudan yang berjumlah 72 guru kelas, sedangkan sampel dalam penelitian ini berjumlah 59 guru kelas yang ditetapkan melalui tabel penentuan jumlah sampel minimal menurut Krejcie dan Morgan dengan teknik simple random sampling.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekolah dasar negeri se-Kecamatan Moyudan sudah menerapkan program Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah dengan rerata jawaban responden penelitian sebesar 94%.

Persentase penerapan program penguatan pendidikan karakter berbasis budaya yang tertinggi pada pembiasaan, kegiatan ekstrakurikuler dan peraturan sekolah dengan hasil sebesar 97%. Selanjutnya persentase penerapan yang paling rendah terdapat pada branding sekolah yang memiliki persentase sebesar 83%.

Berdasarkan pada data, sekolah dalam menerapkan program PPK berbasis budaya sekolah antara lain melakukan gerakan literasi seperti sebelum proses pembelajaran dimulai kurang lebih 15 menit diwajibkan untuk membaca buku, serta melaksanakan kegiatan ekstrakurikuler pramuka, dan peraturan sekolah.

Kata kunci : Penerapan, PPK Berbasis Budaya Sekolah, Kecamatan Moyudan.

(10)

ix ABSTRACT

THE APPLICATION OF THE PROGRAM FOR THE STRENGTHENING OF CHARACTER EDUCATION BASED ON SCHOOL CULTURE IN ELEMENTARY SCHOOLS OF ALL SUB-DISTRICTS OF MOYUDAN

SLEMAN REGENCY

Subronto

Sanata Dharma University 2020

This research is motivated by the launching of class, community and school-based character education strengthening programs by the Ministry of Education and Culture of Republic of Indonesia due to the weak character of the nation’s children. The research aims to: 1) know the application of the school culture-based Character Education Strengthening Program in elementary schools throughout Moyudan District, Sleman Regency, 2) describe the application of the Culture-Based Character Education Strengthening Program in elementary schools of Moyudan District, Sleman Regency.

This research is a descriptive quantitative with survey method. The study population was all teachers in grades I through VI in Public Elementary Schools in Moyudan Subdistrict, totaling 72 class teachers, while the sample in this study amounted to 59 classroom teachers determined through the table determining the minimum sample size according to Krejcie and Morgan with a simple random sampling technique.

The results showed that public elementary schools in Moyudan sub-district had implemented a school culture-based character education strengthening program with an average respondent’s answer of the study of 94%. The highest percentage of the application of school culture-based character education strengthening programs in habituation, extracurricular activities, and school regulations with results of 97%. Furthermore, the lowest percentage of application is found in school branding which has a percentage of 83%. Based on data, school's in implementing school culture-based character education strengthening program include literacy movements such as before the learning process begins, approximately 15 minutes are required to read books, and carry out scout extracurricular activities, and school regulations.

Keyword : Application, School Culture-Based Character Education Support Program, Moyudan District

(11)

x

KATA PENGANTAR

Puji syukur peneliti panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan berkat-Nya, sehingga skripsi yang berjudul “ Penerapan Program Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah di Sekolah Dasar Negeri se-Kecamatan Moyudan Kabupaten Sleman” dapat peneliti selesaikan dengan baik. Skripsi ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

Dalam penulisan skripsi ini, peneliti mendapatkan banyak bimbingan, bantuan, dan dukungan dari berbagai pihak secara langsung maupun tidak langsung sehingga skripsi dapat terselesaikan dengan baik. Maka pada kesempatan ini peneliti ingin mengucapkan terimakasih kepada:

1. Dr. Yohanes Harsoyo, S.Pd., M.Si. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma.

2. Kintan Limiansih, S.Pd., M.Pd. selaku Ketua Program Studi PGSD Universitas Sanata Dharma.

3. Apri Damai Sagita Krissandi, S.S., M.Pd. selaku Wakil Ketua Program Studi PGSD Universitas Sanata Dharma.

4. Maria Melani Ika Susanti, S.Pd., M.Pd. selaku dosen pembimbing I yang telah membimbing dengan penuh kesetiaan, kesabaran, ketulusan, kasih

(12)

xi

sayang, dan kebijaksanaan sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi ini.

5. Theresia Yunia Setyawan, S.Pd., M.Hum. selaku dosen pembimbing II, yang telah memberikan saran dan mengarahkan peneliti dalam penyusunan skripsi ini.

6. Odo Hadinata, M.Pd. selaku Tim Pengembang Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk masukan yang diberikan selama penyusunan skripsi.

7. Seluruh keluarga besar dosen dan staf PGSD Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

8. Validator instrumen penelitian di Daerah Istimewa Yogyakarta.

9. Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Kabupaten Sleman dan Kepala UPT Kecamatan Moyudan yang telah memberikan izin kepada peneliti untuk melaksanakan penelitian ini.

10. Semua Kepala Sekolah dan Guru SD Negeri se-Kecamatan Moyudan Sleman Yogyakarta yang telah membantu pelaksanaan penelitian.

11. Kedua orang tua saya Bapak Suprapto dan Ibu Sudarmini serta kakak saya Mardhani dan saudara yang lain yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu yang telah memberikan dukungan doa, cinta kasih, semangat, dan perhatian untuk mendorong saya dalam penelitian ini.

12. Rekan-rekan payung kecil saya Agatha Septiani Permatasari dan Anastasia Cindy Permatasari yang selalu memberikan dukungan, semangat, dan bantuan selama penyusunan skripsi ini.

(13)

xii

13. Teman-teman satu bimbingan skripsi yang menjadi teman diskusi dan berbagi informasi dalam menyelesaikan penelitian ini.

14. Sahabat “Dabestie” Danang, Ardo, Dea, Tika, Herlin terimakasih semua.

15. Semua teman-teman Trah Sumarah kelas D PGSD angkatan 2015.

16. Teman-teman angkatan 2015 PGSD yang selalu mengiringi langkah peneliti selama menjalani perkuliahan.

17. Seluruh pihak yang telah membantu baik secara moral maupun material, yang tidak dapat peneliti sebutkan satu per satu.

Peneliti sangat bersyukur karena bantuan dari berbagai pihak akhirnya penulisan skripsi ini dapat terselesaikan. Semoga semua bantuan dan kebaikan yang telah diberkan kepada peneliti mendapat balasan yang terbaik dan berlimpah dari Tuhan Yesus Kristus. Demikian ucapan terima kasih yang peneliti sampaikan kepada semua pihak yang menjadi bagian dalam penyelesaian skripsi ini. Skripsi ini masih ada kekurangan, oleh karena itu peneliti mengharapkan masukan dari para pembaca. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak.

Yogyakarta, 27 Februari 2020 Peneliti

Subronto

(14)

xiii DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

HALAMAN MOTTO ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ... vii

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xiii

DAFTAR TABEL ... xvi

DAFTAR GAMBAR ... xvii

DAFTAR LAMPIRAN ... xviii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 7

C. Tujuan Penelitian ... 8

D. Manfaat Penelitian... 8

E. Definisi Operasional ... 9

BAB II LANDASAN TEORI ... 11

A. Kajian Pustaka... 11

1. Pendidikan Karakter ... 11

(15)

xiv

a. Pendidikan ... 11

b. Karakter ... 12

c. Pendidikan Karakter ... 13

2. Penguatan Pendidikan Karakter ... 15

a. Pengertian Penguatan Pendidikan Karakter ... 15

b. Basis Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter... 17

c. Fungsi Pendidikan Karakter ... 20

d. Tujuan Penguatan Pendidikan Karakter ... 21

e. Nilai-nilai Utama Penguatan Pendidikan Karakter ... 23

3. Program Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah ... 27

a. Pengertian Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah ... 27

b. Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah ... 28

B. Hasil Penelitian yang Relevan ... 36

C. Kerangka Berpikir ... 39

D. Pertanyaan Penelitian ... 41

BAB III METODE PENELITIAN ... 42

A. Jenis Penelitian ... 42

B. Tempat dan Waktu Penelitian ... 44

1. Subjek Penelitian ... 44

2. Objek Penelitian ... 44

3. Tempat Penelitian ... 44

4. Waktu Penelitian ... 44

C. Populasi dan Sampel ... 44

1. Populasi ... 44

2. Sampel... 46

D. Variabel Penelitian ... 49

E. Teknik Pengumpulan Data ... 51

1. Kuesioner ... 51

(16)

xv

2. Studi Dokumenter ... 52

3. Daftar Cek Dokumentasi ... 53

F. Instrumen Penelitian ... 54

1. Pertanyaan Tertutup ... 54

2. Pertanyaan Terbuka ... 55

G. Teknik Pengujian Instrumen ... 56

1. Validitas Muka ... 56

2. Validitas Isi ... 57

H. Teknik Analisis Data ... 63

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 66

A. Hasil Penelitian ... 66

1. Deskripsi Pelaksanaan Penelitian ... 66

2. Deskripsi Responden Penelitian ... 68

3. Deskripsi Data Penerapan Program Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah di Sekolah Dasar Negeri se-Kecamatan Moyudan ... 68

B. Pembahasan ... 81

BAB V PENUTUP ... 89

A. Kesimpulan ... 89

B. Keterbatasan Penelitian ... 90

C. Saran ... 90

DAFTAR PUSTAKA ... 91

LAMPIRAN ... 96

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... 151

(17)

xvi

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1 Manfaat dan Implikasi Program PPK ... 23

Tabel 3.1 Jumlah Populasi Penelitian ... 45

Tabel 3.2 Tabel Penentuan Jumlah Sampel Minimal Menurut Krejcie dan Morgan ... 47

Tabel 3.3 Perhitungan Penentuan Sampel ... 48

Tabel 3.4 Daftar Cek Dokumentasi ... 53

Tabel 3.5 Kisi-kisi Pertanyaan Tertutup ... 54

Tabel 3.6 Kisi-kisi Pertanyaan Terbuka ... 55

Tabel 3.7 Hasil Validitas Muka ... 57

Tabel 3.8 Konversi Nilai Skala Lima ... 58

Tabel 3.9 Modifikasi Nilai Skala Lima ... 59

Tabel 3.10 Kriteria Skor Skala Lima ... 62

Tabel 3.11 Rekapitulasi Validasi Instrumen ... 62

Tabel 4.1 Daftar Seluruh SDN di Kecamatan Moyudan yang diteliti ... 67

Tabel 4.2 Rekapitulasi Hasil Pertanyaan Tertutup ... 69

Tabel 4.3 Perolehan Persentase Butir 1-10 ... 82

(18)

xvii

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1 Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara ... 17

Gambar 2.2 Literatur Map Penelitian yang Relevan ... 38

Gambar 4.1 Grafik Persentase PPK Berbasis Budaya Sekolah ... 70

Gambar 4.2 Persentase PPK Berbasis Budaya Sekolah Butir 1 ... 72

Gambar 4.3 Persentase PPK Berbasis Budaya Sekolah Butir 2 ... 73

Gambar 4.4 Persentase PPK Berbasis Budaya Sekolah Butir 3 ... 74

Gambar 4.5 Persentase PPK Berbasis Budaya Sekolah Butir 4 ... 75

Gambar 4.6 Persentase PPK Berbasis Budaya Sekolah Butir 5 ... 76

Gambar 4.7 Persentase PPK Berbasis Budaya Sekolah Butir 6 ... 77

Gambar 4.8 Persentase PPK Berbasis Budaya Sekolah Butir 7 ... 78

Gambar 4.9 Persentase PPK Berbasis Budaya Sekolah Butir 8 ... 79

Gambar 4.10 Persentase PPK Berbasis Budaya Sekolah Butir 9 ... 80

Gambar 4.11 Persentase PPK Berbasis Budaya Sekolah Butir 10 ... 81

(19)

xviii

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman Lampiran 1 Rangkuman Data SD Negeri di Kecamatan

Moyudan, Kabupaten Sleman... 97

Lampiran 2 Coding Data 12 Sekolah Dasar Negeri ... 98

Lampiran 3 Rekap Data Penerapan Instrumen Pertanyaan Tertutup.. 100

Lampiran 4 Rekap Data Penerapan Instrumen Pertanyaan Terbuka .. 102

Lampiran 5 Kisi-kisi Pertanyaan Tertutup ... 106

Lampiran 6 Kisi-kisi Pertanyaan Terbuka ... 107

Lampiran 7 Identitas Responden Pengisian ... 108

Lampiran 8 Surat Pengantar Pengisian Instrumen ... 109

Lampiran 9 Soal Pertanyaan Tertutup dan Pertanyaan Terbuka ... 110

Lampiran 10 Data Mentah 10 Validasi Ahli ... 113

Lampiran 11 Hasil Validitas Muka ... 143

Lampiran 12 Hasil Rekapitulasi Validasi Instrumen ... 144

Lampiran 13 Daftar Cek Dokumentasi Data ... 145

Lampiran 14 Surat Izin Melakukan Penelitian dari Universitas Sanata Dharma ... 146

Lampiran 15 Surat Izin Melakukan Penelitian dari Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik ... 147

Lampiran 16 Surat Keterangan telah Melakukan Penelitian dari UPT Pelayanan Pendidikan Kecamatan Moyudan .. 148

Lampiran 17 Surat Bukti Penyerahan Hasil Penelitian dari Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik ... 149

Lampiran 18 Surat Izin Melakukan Validasi ... 140

Daftar Riwayat Hidup ... 151

(20)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan adalah upaya sadar dan terencana dalam proses pembimbingan dan pembelajaran bagi individu agar tumbuh berkembang menjadi manusia yang mandiri, bertanggung jawab, kreatif, berilmu, sehat, dan berakhlak mulia (UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional). Pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Bab 3 Pasal 3 UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional).

Satuan pendidikan merupakan lembaga yang sangat penting yang berperan aktif dalam menanamkan karakter bangsa yang menjadi tujuan bersama. Melalui pendidikan, setiap individu diharapkan dapat mengembangkan kemampuan intelektual dan membentuk karakter yang baik guna meningkatkan sumber daya manusia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara karena karakter bangsa merupakan aspek penting dari kualitas sumber daya manusia untuk menentukan kemajuan suatu bangsa (Mu’in,

(21)

2011: 340). Karakter merupakan ciri khas seseorang atau sekelompok orang yang mengacu pada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills) sebagai manifestasi dari nilai, kemampuan, kapasitas moral, dan ketegaran dalam menghadapi kesulitan dan tantangan. Karakter merupakan kemampuan individu untuk mengatasi keterbatasan fisik dan kemampuannya untuk membaktikan hidupnya pada nilai-nilai kebaikan yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Dengan demikian, karakter yang kuat akan membentuk individu menjadi pelaku perubahan bagi diri sendiri dan masyarakat sekitarnya (Koesoema dalam Tim PPK Kemendikbud, 2017: 17).

Lingkungan sekolah dapat menjadi tempat yang baik dalam menanamkan karakter peserta didik. Dengan demikian, segala kegiatan yang ada di sekolah, baik kegiatan pembelajaran maupun kegiatan pembiasaan- pembiasaan supaya dapat diintegrasikan dalam program pendidikan karakter.

Jadi, pendidikan karakter merupakan usaha bersama seluruh warga sekolah untuk mewujudkan dan menciptakan suatu budaya baru di sekolah, yaitu budaya pendidikan karakter. Penanaman dan pembiasaan pendidikan karakter di sekolah melalui lingkungan pendidikan dapat dilaksanakan secara langsung maupun secara tidak langsung dan akhirnya membentuk suatu budaya sekolah (Pusat Kurikulum dalam Abdullah, 2018: 46).

Pendidikan yang kurang menekankan pada aspek penanaman karakter menimbulkan berbagai macam permasalahan di kalangan peserta didik. Hal tersebut terlihat dari berbagai masalah yang terus bermunculan sebagai akibat

(22)

semakin menurunnya kualitas nilai-nilai karakter pada peserta didik.

Permasalahan yang berhubungan dengan makin menurunnya nilai-nilai karakter peserta didik tersebut adalah sering terjadi berbagai tindak kekerasan seperti tawuran antar pelajar, mencontek, perundungan, berbagai tindak asusila, perusakan fasilitas sekolah, meningkatnya penggunaan narkoba, dan lain sebagainya (Koesoema, 2011: 41). Pendapat tersebut didukung oleh contoh kasus (tribunjogja.com, 9 November 2016) yang memberitakan bahwa anak kelas 2 SD jadi korban kekerasan teman sekolah. Fenomena kekerasan dalam lembaga pendidikan seolah memberikan gambaran bahwa kita sebagai bangsa sungguh lemah dalam mengendalikan emosi. Bangsa ini tumbuh tidak hanya menjadi pribadi yang miskin pengetahuan, tetapi juga mengalami penurunan nilai-nilai moral. Berdasarkan kasus tersebut, lembaga pendidikan memiliki peran yang sentral, sebab lembaga pendidikan memang sejak dahulu memiliki peran yang penting bagi perjalanan peradaban umat manusia dalam kehidupan sosial, politik, ekonomi dan budaya (Koesoema, 2010: 115). Dalam hal ini, pengembangan peserta didik melalui pendidikan karakter menjadi sangat penting.

Pendidikan karakter merupakan upaya membantu peserta didik memahami, peduli dan berperilaku sesuai nilai-nilai etika yang berlaku di masyarakat. Dengan kata lain, pendidikan karakter adalah segala sesuatu yang dilakukan guru dalam membentuk karakter dan kemampuan soft skills peserta didik (Charlie, 2002: 3). Sementara itu, Wibowo (2012: 36) mengatakan bahwa pendidikan karakter adalah pendidikan yang menanamkan dan

(23)

mengembangkan karakter-karakter luhur kepada peserta didik sehingga mereka memiliki karakter luhur, mampu menerapkan dan mempraktikkan dalam kehidupan baik di keluarga, masyarakat, dan negara. Salah satu cara untuk menanamkan karakter di sekolah adalah melalui pengembangan dan pelaksanaan pendidikan karakter pada peserta didik berbasis budaya sekolah.

Cara tersebut yaitu melalui program pengembangan diri peserta didik ke dalam beberapa bentuk kegiatan, antara lain kegiatan rutin, kegiatan spontan, keteladanan, dan juga pengondisian.

Pengembangan karakter adalah proses berkelanjutan dan tak pernah selesai (never ending proses) selama manusia hidup dan selama sebuah bangsa ada. Usaha untuk memperluas pendidikan karakter di luar keluarga dan sekolah merupakan salah satu perkembangan yang paling menjanjikan dalam pergerakan pendidikan nasional (Lickona, 2012: 340). Dalam konteks pendidikan, budaya sekolah merupakan pola perilaku dan cara bertindak yang telah terbentuk secara otomatis menjadi bagian yang hidup di dalam sebuah komunitas pendidikan. Dasar pola perilaku dan cara bertindak itu adalah norma sosial, peraturan sekolah, dan kebijakan pendidikan di tingkat lokal.

Budaya sekolah dapat dikatakan seperti kurikulum tersembunyi (hidden curriculum), yang sesungguhnya lebih efektif mempengaruhi pola perilaku dan cara berpikir seluruh anggota komunitas (Koesoema, 2012: 125). Hidayat (dalam Fanani, 2013: 298) mengatakan tanpa budaya sekolah yang bagus akan sulit melakukan pendidikan karakter bagi anak-anak didik. Jadi, apabila budaya sekolah sudah mapan, siapa pun yang masuk dan bergabung ke

(24)

sekolah itu hampir secara otomatis akan mengikuti tradisi yang telah ada. Jika budaya yang baik tersebut bisa diterapkan di sekolah dengan memberikan pengarahan dan kebiasaan serta keteladanan dari guru maka karakter dalam diri peserta didik dapat terbentuk.

Demi kepentingan masa depan bangsa Indonesia, perlu dilakukan pemusatan (centering) pendidikan karakter dalam penyelenggaraan pendidikan nasional Indonesia sejak sekarang. Kesadaran sekaligus usaha pemusatan pendidikan di jantung pendidikan nasional semakin kuat ketika pada tahun 2010 pemerintah Indonesia mencanangkan sekaligus melaksanakan kebijakan Gerakan Nasional Pendidikan Karakter berlandaskan Rencana Aksi Nasional (RAN) Pendidikan Karakter Bangsa. Hal tersebut perlu dilanjutkan, dioptimalkan, diperdalam, dan bahkan diperluas sehingga diperlukan penguatan pendidikan karakter bangsa. Untuk itu, sejak sekarang perlu dilaksanakan Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dengan mengindahkan asas keberlanjutan dan keseimbangan (Tim PPK Kemendikbud, 2017: 5). PPK merupakan gerakan pendidikan di sekolah untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati (etik), olah rasa (estetik), olah pikir (literasi), dan olah raga (kinestetik) dengan dukungan pelibatan publik dan kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat yang merupakan bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM).

Penguatan karakter bangsa menjadi salah satu butir Nawacita yang dicanangkan Presiden Joko Widodo melalui Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM). Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) selain

(25)

merupakan kelanjutan dan kesinambungan dari Gerakan Nasional Pendidikan Karakter Bangsa Tahun 2010 juga merupakan bagian integral Nawacita.

Nawacita tersebut berbunyi penguatan revolusi karakter bangsa melalui budi pekerti dan pembangunan karakter peserta didik sebagai bagian dari revolusi mental. Revolusi Karakter Bangsa dan Gerakan Revolusi Mental dalam pendidikan yang hendak mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk mengadakan perubahan paradigma, yaitu perubahan pola pikir dan cara bertindak dalam mengelola sekolah. Untuk itu, Gerakan PPK menempatkan nilai karakter sebagai dimensi terdalam pendidikan yang membudayakan dan memberadabkan para pelaku pendidikan. Komitmen ini ditindaklanjuti dengan arahan Presiden kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk mengutamakan dan membudayakan pendidikan karakter di dalam dunia pendidikan. Atas dasar ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mencanangkan Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) secara bertahap mulai tahun ajaran 2016/2017 di setiap satuan pendidikan (Tim PPK Kemendikbud, 2017:1).

Berdasarkan penjelasan di atas, maka peneliti tertarik untuk membuat penelitian mengenai program Penguatan Pendidikan Karakter di sekolah dasar negeri dengan mengambil judul “Penerapan Program Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah di Sekolah Dasar Negeri se-Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman”. Penelitian ini membahas mengenai ada atau tidaknya dan bagaimana penerapan dari Program PPK berbasis budaya sekolah. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Moyudan dikarenakan

(26)

belum ada penelitian mengenai penerapan program PPK berbasis budaya sekolah di Kecamatan Moyudan. Selain itu, sekolah dasar negeri se- Kecamatan Moyudan juga memiliki keunggulan dalam bidang akademik maupun non akademik dengan memperoleh banyak prestasi. Penelitian ini penting untuk dilakukan karena peneliti melihat bahwa penerapan program PPK berbasis budaya sekolah masih kurang. Hal ini terlihat dari kurangnya minat baca, tingkat sopan santun yang rendah serta kurangnya rasa untuk saling menghargai yang tampak pada saat peneliti melakukan pengamatan di lokasi penelitian sebelum melakukan penelitian di lokasi tersebut. Penelitian ini, diharapkan dapat diperoleh data sejauh mana penerapan program PPK berbasis budaya sekolah di sekolah dasar negeri se-Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman. Setelah melakukan penelitian dan data sudah diperoleh, semoga sekolah dasar se-Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman dapat menerapkan PPK berbasis budaya sekolah dengan baik dan dengan kegiatan yang lebih banyak.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Sejauh mana penerapan program Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah di sekolah dasar negeri se-Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman?

(27)

2. Bagaimana penerapan program Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah di sekolah dasar negeri se-Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Mengetahui sejauh mana penerapan program Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah di sekolah dasar negeri se-Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman.

2. Mendeskripsikan penerapan program Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah di sekolah dasar negeri se-Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman.

D. Manfaat penelitian

Manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Bagi Guru

Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu guru dalam menyusun rencana kegiatan dalam program Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah, sehingga program-program yang dirancang dapat menunjang terlaksananya penguatan pendidikan karakter.

(28)

2. Bagi Sekolah

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan masukan dan memberikan gambaran kepada sekolah dalam meningkatkan penerapan program Penguatan Pendidikan Karakter khususnya PPK berbasis budaya sekolah serta dapat dijadikan bahan evaluasi bagi sekolah untuk menyempurnakan kembali sistem penanaman nilai karakter di sekolah, sehingga anak memiliki karakter sesuai yang dicita-citakan.

3. Bagi Peneliti

Peneliti dapat pengalaman mengenai penelitian yang dilakukan dan peneliti lebih mengetahui penerapan program Penguatan Pendidikan Karakter khususnya PPK berbasis budaya sekolah di SD Negeri se- Kecamatan Moyudan.

E. Definisi Operasional

1. Karakter merupakan sikap atau perilaku yang terdapat dalam diri seseorang secara alamiah.

2. Pendidikan karakter adalah upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik dalam memahami nilai- nilai perilaku manusia yang diajarkan sejak sedini mungkin.

3. Penguatan Pendidikan Karakter adalah gerakan pendidikan di sekolah untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga dengan dukungan pelibatan publik dan

(29)

kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat yang merupakan bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM).

4. Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah adalah sebuah kegiatan untuk menciptakan iklim dan lingkungan sekolah yang mendukung praksis PPK mengatasi ruang-ruang kelas dan melibatkan seluruh sistem, struktur, dan pelaku pendidikan di sekolah.

(30)

11 BAB II

LANDASAN TEORI

A. Kajian Pustaka

1. Pendidikan Karakter a. Pendidikan

Pendidikan sebagai bimbingan atau didikan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan anak didik, baik jasmani maupun rohani, menuju terbentuknya kepribadian yang utama (Marimba, 2013:

26). Pengertian ini sangat sederhana meskipun secara substansi telah mencerminkan pemahaman tentang proses pendidikan. Menurut pengertian ini pendidikan hanya terbatas pada pengembangan pribadi anak didik oleh pendidik.

Pendidikan adalah mempersiapkan dan menumbuhkan anak didik atau individu manusia yang prosesnya berlangsung secara terus menerus sejak ia lahir sampai ia meninggal dunia. Aspek ini dipersiapkan dan ditumbuhkan yaitu meliputi aspek badannya, akalnya, dan rohani sebagai suatu kesatuan tanpa mengesampingkan salah satu aspek dan melebihkan aspek yang lain. Persiapan dan pertumbuhan itu diarahkan agar ia menjadi manusia yang berdaya guna bagi dirinya sendiri dan bagi masyarakat serta dapat memperoleh suatu kehidupan yang sempurna (Budiyanto, 2010: 27). Koesoema (2007:

52) menjelaskan pendidikan merupakan sebuah proses yang menumbuhkan, mengembangkan, mendewasakan, membuat yang tidak

(31)

tertata atau liar menjadi tertata, semacam proses penciptaan kultur dan tata keteraturan dalam diri maupun dalam diri orang lain.

Berdasarkan pendapat yang sudah disampaikan para ahli, pendidikan adalah suatu tempat di mana orang sangat membutuhkan untuk mempersiapkan dan menambah ilmu pengetahuan serta wawasan yang luas untuk menjadi bekal menuju pribadi yang matang.

b. Karakter

Karakter sebagai nama dari seluruh ciri pribadi mencakup perilaku, kebiasaan, kesukaan, ketidaksukaan, kemampuan, kecenderungan, potensi, nilai-nilai, dan pola-pola pemikiran. Suatu kerangka kepribadian yang relatif mapan memungkinkan ciri-ciri karakter semacam ini untuk mencerminkan pribadi dirinya (Bagus, 2005: 392).

Karakter merupakan sifat alami seseorang dalam merespons situasi secara bermoral. Sifat alami itu dimanifestasikan dalam tindakan nyata melalui tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab, menghormati orang lain, dan karakter mulia lainnya (Wibowo, 2012: 32). Muslich (2011: 84) menjelaskan karakter merupakan nilai- nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan dan perbuatan,

(32)

berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat.

Karakter mengacu kepada serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills).

Dalam istilah bahasa Inggris karakter berarti “to mark” atau menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan itu dalam bentuk tindakan atau tingkah laku. Itulah sebabnya orang yang tidak jujur, kejam, rakus, dan berperilaku jelek lainnya dikatakan orang yang berkarakter jelek. Sebaliknya, orang yang perilakunya sesuai dengan kaidah moral disebut sebagai orang yang berakhlak mulia (Wibowo, 2012: 34).

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, kesimpulan pengertian karakter merupakan sikap atau perilaku yang terdapat dalam diri seseorang secara alamiah. Biasanya karakter seseorang dengan orang yang lain itu berbeda-beda. Karakter yang ditunjukkan biasanya tercermin dalam cara berpikir dan cara berperilaku serta tindakan yang dilakukan secara terus-menerus dalam kehidupannya.

c. Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter merupakan nilai-nilai dasar yang harus dihayati jika sebuah masyarakat mau hidup dan bekerja sama secara damai. Nilai-nilai seperti kebijaksanaan, penghormatan terhadap yang lain, tanggung jawab pribadi, perasaan senasib, sependeritaan,

(33)

pemecahan konflik secara damai, merupakan nilai-nilai yang semestinya diutamakan dalam pendidikan karakter (Koesoema, 2007:

250). Dengan pendidikan karakter, seorang anak akan menjadi cerdas emosinya. Kecerdasan emosi adalah bekal terpenting dalam mempersiapkan anak menyongsong masa depan, karena dengannya seseorang akan dapat berhasil dalam menghadapi segala macam tantangan termasuk tantangan untuk berhasil secara akademik (Agus &

Emusti, 2011: 32).

Pendidikan karakter sebaiknya diterapkan sejak usia kanak- kanak atau yang biasa disebut para ahli psikologi sebagai usia emas (golden age), karena usia ini terbukti sangat menentukan kemampuan anak dalam mengembangkan potensinya. Selanjutnya Suyanto (2011:

33) menyimpulkan bahwa pendidikan karakter hendaknya dimulai dari dalam keluarga yang merupakan lingkungan pertama bagi pertumbuhan karakter anak.

Pendidikan karakter mempunyai tujuan penanaman nilai dalam diri siswa dan pembaruan tata kehidupan bersama yang lebih menghargai kebebasan individu. Selain itu, pendidikan karakter bertujuan meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan akhlak mulia siswa secara utuh, terpadu, dan seimbang sesuai dengan standar kompetensi lulusan (Samani & Hariyanto, 2011: 42-43).

(34)

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter adalah upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik dalam memahami nilai-nilai perilaku manusia yang diajarkan sejak sedini mungkin.

2. Penguatan Pendidikan Karakter

a. Pengertian Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)

Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) merupakan gerakan pendidikan di sekolah untuk memperkuat karakter melalui proses pembentukan, transformasi, transmisi, dan pengembangan potensi peserta didik dengan cara harmonisasi olah hati (etik dan spiritual), olah rasa (estetik), olah pikir (literasi dan numerisasi), dan olah raga (kinestetik) sesuai falsafah hidup Pancasila dengan dukungan pelibatan publik dan kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. PPK merupakan bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM) (Tim PPK Kemendikbud, 2017:1). Gerakan PPK menempatkan pendidikan karakter sebagai dimensi terdalam atau inti pendidikan nasional sehingga pendidikan karakter menjadi poros pelaksanaan pendidikan dasar dan menengah. Lebih lanjut, gerakan PPK perlu mengintegrasikan, memperdalam, memperluas, dan sekaligus menyelaraskan berbagai program dan kegiatan pendidikan karakter

(35)

yang sudah dilaksanakan sampai sekarang (Tim PPK Kemendikbud, 2017: 5).

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa Penguatan Pendidikan Karakter adalah gerakan pendidikan di sekolah untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga dengan dukungan pelibatan publik dan kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat yang merupakan bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM).

Peraturan Presiden No. 87 Tahun 2017 menjelaskan bahwa Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) adalah gerakan pendidik di sekolah untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati (etik), olah rasa (estetis), olah piker (literasi), dan olah raga (kinestetik) dengan dukungan pelibatan publik dan kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah piker, dan olah raga peserta didik dapat memperkuat karakter yang melibatkan kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat. Pengembangan potensi peserta didik sesuai filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara dengan cara harmonisasi secara ringkas dapat ditunjukkan dalam Gambar 2.1 berikut.

(36)

Gambar 2.1 Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara

b. Basis Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter

Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dapat dilaksanakan dengan berbasis struktur kurikulum yang sudah ada dan mantap dimiliki oleh sekolah, yaitu pendidikan karakter berbasis kelas, budaya sekolah, dan masyarakat/komunitas (Koesoema dalam Tim PPK Kemendikbud, 2015: 15).

Olah Pikir

Olah Hati

Olah Raga

Olah Karsa

Beriman dan bertakwa, jujur, amanah, adil, bertanggung jawab, berempati, berani mengambil resiko, pantang menyerah, rela berkorban, dan berjiwa

patriotik

Ramah, saling menghargai, toleran, peduli, suka menolong, gotong royong, nasionalis, mengutamakan kepentingan umum, bangga

menggunakan bahasa dan produk Indonesia, dinamis,

kerja keras, dan beretos kerja

Cerdas, kritis, kreatif, inovatif, ingin tahu,

berpikir terbuka, produktif, berorientasi IPTEK,

dan reflektif

Bersih dan sehat, disiplin, sportif, tangguh, andal,

berdaya tahan, bersahabat, kooperatif, determinatif, kompetitif,

ceria, dan gigih

(37)

1) Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Kelas

PPK berbasis kelas dilaksanakan antara lain melalui hal-hal sebagai berikut.

a) Mengintegrasikan proses pembelajaran di dalam kelas melalui isi kurikulum dalam mata pelajaran, baik itu secara tematik maupun terintegrasi dalam mata pelajaran

b) Memperkuat manajemen kelas, pilihan metodologi, dan evaluasi pengajaran

c) Mengembangkan muatan lokal sesuai dengan kebutuhan daerah

2) Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Masyarakat

PPK berbasis masyarakat dilakukan dengan melibatkan mitra yang ada di masyarakat yaitu orangtua, tokoh masyarakat, tokoh agama, pelaku usaha, akademisi, pegiat pendidikan, seniman, budayawan, sastrawan, dan lain-lain.

Satuan pendidikan tidak dapat menutup diri dari kemungkinan berkolaborasi dengan lembaga, komunitas dan masyarakat lain di luar lingkungan sekolah. Pelibatan publik dibutuhkan karena sekolah tidak dapat melaksanakan visi dan misinya sendiri. Karena itu, berbagai macam bentuk kolaborasi dan kerja sama antar komunitas dan satuan pendidikan di luar sekolah sangat diperlukan dalam penguatan pendidikan karakter (Tim PPK Kemendikbud, 2017:41-42).

(38)

PPK berbasis masyarakat dilaksanakan antara lain melalui hal-hal sebagai berikut.

a) Memperkuat peranan Komite Sekolah dan orangtua sebagai pemangku kepentingan utama pendidikan

b) Melibatkan dan memberdayakan potensi lingkungan, seperti keberadaan dan dukungan pegiat seni dan budaya, tokoh masyarakat, dunia usaha, dan dunia industri, sebagai sumber pembelajaran

c) Mensinergikan implementasi PPK dengan berbagai program yang ada dalam lingkup akademisi, pegiat pendidikan, dan LSM

d) Menyelaraskan program dan kegiatan melalui kerja sama dengan pemerintah daerah, kementerian dan lembaga pemerintahan, dan masyarakat pada umumnya

3) Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah.

PPK berbasis budaya sekolah dilaksanakan melalui pembiasaan nilai-nilai dalam keseharian sekolah, keteladanan pendidik, ekosistem sekolah, norma, peraturan, dan tradisi sekolah.

PPK berbasis budaya sekolah dilaksanakan antara lain melalui hal-hal sebagai berikut.

a) Menekankan pada pembiasaan nilai-nilai utama dalam kesehatan sekolah

(39)

b) Menonjolkan keteladanan orang dewasa di lingkungan pendidikan

c) Melibatkan seluruh ekosistem pendidikan di sekolah

d) Mengembangkan dan memberi ruang yang luas pada segenap potensi siswa melalui kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler e) Memberdayakan manajemen dan tata kelola sekolah

f) Mempertimbangkan norma, peraturan, dan tradisi sekolah

c. Fungsi Pendidikan Karakter

Program Penguatan Pendidikan Karakter yang dikeluarkan Kementerian Pendidikan Nasional (2010: 7) menjelaskan pendidikan karakter memiliki fungsi sebagai berikut.

1) Fungsi pengembangan

PPK berfungsi untuk mengembangkan potensi peserta didik untuk menjadi pribadi berperilaku baik, ini bagi peserta didik yang telah memiliki sikap dan perilaku yang mencerminkan budaya dan karakter bangsa.

2) Fungsi perbaikan

PPK berfungsi untuk memperkuat kiprah pendidikan nasional untuk bertanggung jawab dalam pengembangan potensi peserta didik yang lebih bermartabat.

(40)

3) Fungsi penyaring

PPK berfungsi untuk menyaring budaya bangsa sendiri dan budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa yang bermartabat.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, fungsi pendidikan karakter adalah untuk mengembangkan dan memperbaiki potensi peserta didik untuk menjadi pribadi yang berperilaku baik.

d. Tujuan Penguatan Pendidikan Karakter

Tim PPK Kemendikbud (2017: 16) menyebutkan bahwa Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter memiliki tujuan sebagai berikut.

1) Mengembangkan platform pendidikan nasional yang meletakkan makna dan nilai karakter sebagai jiwa atau generator utama penyelenggaraan pendidikan

2) Membangun dan membekali Generasi Emas Indonesia 2045 menghadapi dinamika perubahan di masa depan dengan keterampilan abad 21

3) Mengembalikan pendidikan karakter sebagai pondasi pendidikan melalui harmonisasi olah hati (etik dan spiritual), olah rasa (estetik), olah pikir (literasi dan numerasi), dan olah raga (kinestetik)

(41)

4) Merevitalisasi dan memperkuat kapasitas ekosistem pendidikan (kepala sekolah, guru, siswa, pengawas, dan komite sekolah) untuk mendukung perluasan implementasi pendidikan karakter

5) Membangun jejaring pelibatan masyarakat (publik) sebagai sumber-sumber belajar di dalam dan di luar sekolah

6) Melestarikan kebudayaan dan jati diri bangsa Indonesia dalam mendukung Gerakan Revolusi Mental (GNRM)

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, tujuan pendidikan karakter adalah untuk menanamkan nilai-nilai budaya dalam tata kehidupan sehingga dapat membentuk karakter peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang serta dapat dicerminkan dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan pembahasan yang berkaitan dengan pendidikan karakter, nilai-nilai dalam pendidikan karakter dan tujuan dalam pendidikan karakter, terdapat pula manfaat yang diperoleh dari pendidikan karakter. Manfaat dan implikasi program PPK yaitu sebagai berikut.

(42)

Tabel 2.1 Manfaat dan Implikasi Program PPK

MANFAAT ASPEK PENGUATAN

Penguatan karakter siswa dalam mempersiapkan daya saing siswa dengan kompetensi abad 21, yaitu:

berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi

Revitalisasi manajemen berbasis sekolah melalui Broad Based Education (BBE)

Pembelajaran dilakukan terintegrasi di sekolah dan di luar sekolah dengan pengawas dan guru

Sinkronisasi, intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler, dan nonkurikuler, serta sekolah terintegrasi dengan kegiatan komunitas seni budaya, bahasa dan sastra, olahraga, sains, serta keagamaan.

Revitalitas peran Kepala Sekolah sebagai manager dan guru sebagai inspiratori PPK

Deregulasi penguatan kapasitas dan kewajiban kepala sekolah/guru Revitalisasi Komite Sekolah sebagai

badan gotong royong sekolah dan partisipasi masyarakat

Penyiapan prasarana/sarana belajar (misalnya pengadaan buku, konsumsi, peralatan kesenian, alat peraga, dll) melalui pembentukan jejaring kolaborasi pelibatan publik

Penguatan peran keluarga melalui kebijakan pembelajaran 5 (lima) hari

Implementasi bertahap dengan mempertimbangkan kondisi infrastruktur dan keragaman kultural daerah/wilayah

Kolaborasi antar K/L, Pemda, Lembaga Masyarakat, pegiat pendidikan dan sumber-sumber belajar lainnya

Pengorganisasian dan sistem rentang kendali pelibatan publik yang transparan dan akuntabel

Sumber: Tim PPK Kemendikbud (2017: 16)

e. Nilai-Nilai Utama Penguatan Pendidikan Karakter

Gerakan PPK menempatkan nilai karakter sebagai dimensi terdalam pendidikan yang membudayakan dan memberadabkan para pelaku pendidikan. Tim PPK Kemendikbud (2017: 7-10) menyebutkan ada lima nilai utama karakter yang saling berkaitan yang membentuk jejaring nilai yang perlu dikembangkan. Kelima nilai utama karakter yang dimaksud adalah sebagai berikut.

(43)

1) Religiusitas

Nilai karakter religiusitas mencerminkan keberimanan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang diwujudkan dalam perilaku melaksanakan ajaran agama dan kepercayaan yang dianut, menghargai perbedaan agama, menjunjung tinggi sikap toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama dan kepercayaan lain, serta hidup rukun dan damai dengan pemeluk agama lain.

Nilai karakter religiusitas ini meliputi tiga dimensi relasi sekaligus, yaitu hubungan individu dengan Tuhan, individu dengan sesama, dan individu dengan alam semesta (lingkungan). Nilai karakter religiusitas ini ditunjukkan dalam perilaku mencintai dan menjaga keutuhan ciptaan.

Sub nilai religiusitas antara lain adalah cinta damai, toleransi, menghargai perbedaan agama dan kepercayaan, teguh pendirian, percaya diri, kerja sama antar pemeluk agama dan kepercayaan, anti perundungan dan kekerasan, persahabatan, ketulusan, tidak memaksakan kehendak, mencintai lingkungan, serta melindungi yang kecil dan tersisih.

2) Nasionalisme

Nilai karakter nasionalisme merupakan cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa, serta menempatkan

(44)

kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.

Sub nilai nasionalisme antara lain adalah apresiasi budaya bangsa sendiri, menjaga kekayaan budaya bangsa, rela berkorban, unggul, dan berprestasi, cinta tanah air, menjaga lingkungan, taat hukum, disiplin, serta menghormati keragaman budaya, suku, dan agama.

3) Kemandirian

Nilai karakter kemandirian merupakan sikap dan perilaku tidak bergantung pada orang lain dan mempergunakan segala tenaga, pikiran, waktu untuk merealisasikan harapan, mimpi dan cita-cita.

Sub nilai kemandirian antara lain adalah etos kerja (kerja keras), tangguh tahan banting, daya juang, profesional, kreatif, keberanian, dan menjadi pembelajar sepanjang hayat.

4) Gotong Royong

Nilai karakter gotong royong mencerminkan tindakan menghargai, semangat kerja sama, dan bahu-membahu menyelesaikan persoalan bersama, menjalin komunikasi dan persahabatan, memberi bantuan/pertolongan pada orang-orang yang membutuhkan.

Sub nilai gotong royong antara lain adalah menghargai, kerja sama, inklusif, komitmen atas keputusan bersama,

(45)

musyawarah mufakat, tolong-menolong, solidaritas, empati, anti diskriminasi, anti kekerasan, dan sikap kerelawanan.

5) Integritas

Nilai karakter integritas merupakan nilai yang mendasari perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, serta memiliki komitmen dan kesetiaan pada nilai-nilai kemanusiaan dan moral (integritas moral).

Karakter integritas meliputi sikap tanggung jawab sebagai warga negara, aktif terlibat dalam kehidupan sosial melalui konsistensi tindakan dan perkataan yang berdasarkan kebenaran.

Sub nilai integritas antara lain adalah kejujuran, cinta pada kebenaran, setia, komitmen moral, anti korupsi, keadilan, tanggung jawab, keteladanan, dan menghargai martabat individu (terutama penyandang disabilitas).

Kelima nilai utama karakter bukanlah nilai yang berdiri dan berkembang sendiri-sendiri melainkan nilai yang berinteraksi satu sama lain, yang berkembang secara dinamis dan membentuk keutuhan pribadi. Dari kelima nilai utama pendidikan karakter tersebut, individu dan sekolah perlu mengembangkan nilai-nilai utama lainnya baik secara kontekstual maupun universal. Nilai religiusitas sebagai cerminan dari iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa diwujudkan secara utuh dalam bentuk ibadah

(46)

sesuai dengan agama dan keyakinan masing-masing dan dalam bentuk kehidupan antar manusia sebagai kelompok, masyarakat, maupun bangsa. Dalam kehidupan sebagai masyarakat dan bangsa nilai-nilai religiusitas dimaksudkan untuk melandasi dan melebur di dalam nilai-nilai utama nasionalisme, kemandirian, gotong royong, dan integritas. Demikian pula jika nilai utama nasionalisme dipakai sebagai titik awal penanaman nilai-nilai karakter, nilai ini harus dikembangkan berdasarkan nilai-nilai keimanan, dan ketakwaan yang tumbuh bersama nilai-nilai lainnya.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa Penguatan Pendidikan Karakter adalah gerakan pendidikan di sekolah untuk memperkuat karakter peserta didik melalui harmonisasi olah hati, olah rasa, olah pikir, dan olah raga dengan dukungan pelibatan publik dan kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat yang merupakan bagian dari Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM).

3. Program Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah a. Pengertian Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah

Pendidikan karakter berbasis budaya sekolah merupakan sebuah kegiatan untuk menciptakan iklim dan lingkungan sekolah yang mendukung praksis PPK yang mengatasi ruang-ruang kelas dan

(47)

melibatkan seluruh sistem, struktur, dan pelaku pendidikan di sekolah (Tim PPK Kemendikbud, 2017: 35).

Tim PPK Kemendikbud (2017: 35) juga mengungkapkan bahwa penguatan pendidikan karakter berbasis budaya sekolah berfokus pada pembiasaan dan pembentukan budaya yang merepresentasikan nilai-nilai utama PPK yang menjadi prioritas satuan pendidikan. Pembiasaan ini diintegrasikan dalam keseluruhan kegiatan di sekolah yang tercermin dari suasana dan lingkungan sekolah yang kondusif.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah adalah sebuah kegiatan untuk menciptakan iklim dan lingkungan sekolah yang mendukung praksis PPK mengatasi ruang-ruang kelas dan melibatkan seluruh sistem, struktur, dan pelaku pendidikan di sekolah.

b. Penguatan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Sekolah

Tim PPK Kemendikbud (2017: 35-41) menyebutkan bahwa pelaksanaan PPK berbasis budaya sekolah, antara lain dapat dilaksanakan sebagai berikut.

1) Menentukan Nilai Utama PPK

Sekolah memulai program PPK dengan melakukan penilaian awal. Salah satu kegiatan penilaian awal adalah satuan pendidikan memilih nilai utama yang akan menjadi fokus dalam pengembangan, pembentukan, dan penguatan karakter di

(48)

lingkungan mereka. Pemilihan nilai utama ini didiskusikan, dimusyawarahkan, dan didialogkan dengan seluruh pemangku kepentingan sekolah (kepala sekolah, pendidik, tenaga kependidikan, komite sekolah dan peserta didik). Sekolah mendeskripsikan bagaimana jalinan antar nilai utama tersebut, juga antar nilai utama yang dipilih dengan nilai pendukung. Seluruh pemangku kepentingan menyepakati nilai utama yang menjadi prioritas serta nilai pendukung dan jalinan antar nilai dalam membentuk karakter warga sekolah yang sekaligus tertuang dalam visi dan misi sekolah.

Nilai utama yang dipilih oleh satuan pendidikan menjadi fokus dalam rangka pengembangan budaya dan identitas sekolah.

Seluruh kegiatan, program, dan pengembangan karakter di lingkungan satuan pendidikan berpusat pada nilai utama tersebut dan berlaku bagi semua komunitas sekolah.

Satuan pendidikan menjabarkan nilai utama ini dalam indikator dan bentuk perilaku objektif yang bisa diamati dan diverifikasi. Dengan menentukan indikator, satuan pendidikan dapat menumbuhkan nilai-nilai pendukung yang lain melalui fokus pengalaman komunitas sekolah terhadap implementasi nilai tersebut.

Dari nilai utama dan nilai-nilai pendukung yang sudah disepakati dan ditetapkan oleh satuan pendidikan, sekolah bisa

(49)

membuat tagline yang menjadi moto satuan pendidikan tersebut sehingga menunjukkan keunikan, kekhasan, dan keunggulan sekolah. Contoh: “Membentuk Pemimpin Berintegritas”, “Sekolah Cinta”, “Sekolah Budaya”, dan lain-lain. Satuan pendidikan dapat pula membuat logo sekolah, himne, dan mars sekolah yang sesuai dengan branding-nya masing-masing.

Branding adalah kegiatan membangun sebuah brand.

Membuat identitas, termasuk logo, merupakan salah satu kegiatan branding. Branding adalah proses mendesain, merencanakan, dan mengkomunikasikan nama serta identitas dengan tujuan membangun atau mengelola reputasi (Anholt, 2003: 5). Mendesain branding sekolah sebagai ciri khas yang diunggulkan sekolah sesuai dengan nilai-nilai utama karakter. Branding adalah keunikan, kekhasan, dan keunggulan sekolah yang membedakan sekolah satu dengan sekolah yang lainnya. Branding yang baik mengacu pada pembentukan nilai-nilai utama tertentu yang menjadi prioritas sekolah.

2) Evaluasi Peraturan Sekolah

Peraturan sekolah adalah ketentuan-ketentuan yang mengatur kehidupan sekolah sehari-hari dan mengandung sanksi terhadap pelanggarnya (Suryosubroto, 2004: 81). Carolyn (dalam Soetjipto & Kosasi, 2009: 166) menjelaskan bahwa peraturan sekolah merupakan salah satu alat yang dapat digunakan oleh

(50)

kepala sekolah untuk melatih siswa agar dapat mempraktikkan disiplin di sekolah. Sebagai sebuah gerakan nasional, setiap lembaga pendidikan wajib melakukan koreksi dan evaluasi atas berbagai peraturan yang mereka miliki dan menyelaraskannya dengan nilai-nilai revolusi mental yang ingin diarahkan pada Penguatan Pendidikan Karakter. Salah satu contoh peraturan yang wajib dievaluasi adalah peraturan kedisiplinan tentang sakit, izin dan alpa, penerapan kebijakan kriteria ketuntasan minimal (KKM) dan peraturan terkait kegiatan mencontek.

Penguatan Pendidikan Karakter perlu mempergunakan sarana yang sudah ada dan memiliki indikator yang jelas, terukur, dan objektif. Evaluasi praksis pemanfaatan peraturan sekolah tentang kehadiran dibutuhkan agar peraturan ini dapat menjadi sarana efektif dalam pembentukan karakter disiplin peserta didik.

Selain peraturan tentang kedisiplinan, sekolah juga perlu mengadakan evaluasi atas peraturan-peraturan lain untuk melihat apakah peraturan sekolah yang ada telah mampu membentuk karakter peserta didik atau justru malah melemahkannya. Upaya telaah, analisis, dan revisi pada berbagai bentuk aturan ini sangat penting dalam rangka menghadirkan kultur pembentukan dan penguatan karakter yang mendorong peserta didik menjadi pembelajar otentik, di mana peserta didik dapat belajar dari pengalaman yang mereka lalui/rasakan sesuai dengan tahapan

(51)

perkembangan masing-masing. Dalam upaya pelaksanaan PPK berbasis budaya sekolah, sekolah dapat membuat atau merevisi peraturan dan tata tertib sekolah secara bersama-sama dengan melibatkan semua komponen sekolah yang terkait. Dengan demikian, semangat menegakkan peraturan tersebut semakin besar karena dibangun secara bersama.

Berdasarkan beberapa yang di sampaikan para ahli, dapat disimpulkan bahwa peraturan sekolah adalah peraturan yang diterapkan oleh sekolah tertentu dengan tujuan untuk memberi batasan dan mengatur sikap peserta didik yang sering bersikap kurang kondusif dalam menjalankan proses belajar-mengajar di sekolah.

3) Pengembangan Tradisi Sekolah

Tradisi adalah keseluruhan benda material dan gagasan yang berasal dari masa lalu namun benar-benar masih ada sampai sekarang dan belum dihancurkan, dirusak atau dilupakan (Sztompka, 2011: 69). Menurut Zamroni (2011: 111), budaya sekolah adalah pola nilai-nilai, prinsip-prinsip, tradisi-tradisi, dan kebiasaaan-kebiasaan yang terbentuk selama di sekolah. Satuan pendidikan dapat mengembangkan PPK berbasis budaya sekolah dengan memperkuat tradisi yang sudah dimiliki oleh sekolah.

Selain mengembangkan yang sudah baik, satuan pendidikan tetap perlu mengevaluasi dan merefleksi diri, apakah tradisi yang

(52)

diwariskan dalam satuan pendidikan tersebut masih relevan dengan kebutuhan dan kondisi sekarang atau perlu direvisi kembali, agar dapat menjawab tantangan yang berkembang, serta selaras dengan upaya penguatan karakter di satuan pendidikan tersebut. Dari beberapa pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa tradisi sekolah atau budaya sekolah adalah sekumpulan nilai yang melandasi perilaku, tradisi, dan kebiasaan keseharian yang ada di lingkungan sekolah.

4) Pengembangan Kegiatan Kokurikuler

Kegiatan kokurikuler adalah kegiatan yang sangat erat sekali dan menunjang serta membantu kegiatan intrakurikuler yang biasanya dilaksanakan di luar jadwal intrakurikuler dengan maksud agar siswa lebih memahami dan memperdalam materi yang ada.

Kegiatan ini dapat berupa penugasan atau pekerjaan rumah ataupun tindakan lainnya yang berhubungan dengan materi intrakurikuler yang harus diselesaikan oleh peserta didik. Kegiatan kokurikuler dilakukan melalui serangkaian penugasan yang sesuai dengan target pencapaian kompetensi setiap mata pelajaran yang relevan dengan kegiatan intrakurikuler. Kegiatan kokurikuler dapat dilaksanakan baik di dalam lingkungan sekolah maupun di luar sekolah, tetapi kegiatan yang dilakukan harus sesuai dengan perencanaan pembelajaran (silabus dan RPP) yang telah disusun guru. Hal itu dimaksudkan agar kegiatan peserta didik di luar

(53)

lingkungan sekolah menjadi tanggung jawab dan berada dalam pengawasan guru yang bersangkutan. Jenis-jenis kegiatannya antara lain berupa tugas-tugas, baik individu maupun kelompok.

Contohnya kegiatan proyek, penelitian, praktikum, pengamatan, wawancara, latihan-latihan seni, dan olah raga atau kegiatan produktif lainnya.

5) Ekstrakurikuler (Wajib dan Pilihan)

Menurut Wiyani (2013: 108), kegiatan ekstrakurikuler diartikan sebagai kegiatan pendidikan yang dilakukan di luar jam pelajaran tatap muka. Kegiatan tersebut dilakukan di dalam maupun luar lingkungan sekolah untuk memperluas pengetahuan, meningkatkan keterampilan, dan menginternalisasikan nilai-nilai, aturan agama dan norma-norma sosial. Selanjutnya Rachmad (dalam Jati, (2015: 20)) menjelaskan bahwa kegiatan ekstrakurikuler merupakan kegiatan pembelajaran yang diselenggarakan di luar jam pelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan pengetahuan, pengembangan, bimbingan, dan pembiasaan siswa agar siswa memiliki pengetahuan dasar penunjang. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 39 tahun 2008, kegiatan ekstrakurikuler merupakan salah satu jalur pembinaan kesiswaan. Dengan kegiatan ekstrakurikuler tersebut siswa dapat memperoleh manfaat dan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam kegiatan yang diikuti. Penguatan nilai-nilai

(54)

utama PPK sangat dimungkinkan dilaksanakan melalui kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan ekstrakurikuler tersebut bertujuan untuk mengembangkan kepribadian dan bakat peserta didik, sesuai dengan minat dan kemampuannya masing-masing.

Kegiatan ekstrakurikuler ada dua jenis, yaitu ekstrakurikuler wajib (pendidikan kepramukaan) dan ekstrakurikuler pilihan (sesuai dengan kegiatan ekstrakurikuler yang dikembangkan oleh masing-masing satuan pendidikan).

Semua kegiatan ekstrakurikuler yang dikembangkan tersebut harus memuat dan menegaskan nilai-nilai karakter yang dikembangkan dalam setiap bentuk kegiatan yang dilakukan. Meskipun secara implisit kegiatan ekstrakurikuler sudah mengandung nilai-nilai karakter, namun tetap harus diungkap secara eksplisit serta direfleksikan dan ditegaskan kembali di akhir kegiatan, agar peserta didik sadar dan paham mengenai nilai-nilai karakter.

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah adalah sebuah kegiatan untuk menciptakan iklim dan lingkungan sekolah yang mendukung praksis PPK mengatasi ruang-ruang kelas dan melibatkan seluruh sistem, struktur, dan pelaku pendidikan di sekolah.

(55)

B. Hasil Penelitian yang Relevan

Beberapa penelitian yang relevan dengan penelitian ini diuraikan sebagai berikut.

Penelitian relevan yang pertama adalah penelitian yang dilakukan oleh Uliana dan Setyowati (2013) yang berjudul “Implementasi Pendidikan Karakter Melalui Kultur Sekolah pada Siswa kelas XI di SMA Negeri 1 Gedangan Sidoarjo”. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif.

Instrumen yang digunakan adalah angket dan wawancara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi pendidikan karakter siswa melalui kultur sekolah dalam pembentukan karakter siswa di SMA Negeri 1 Gedangan. Penelitian ini mendapatkan hasil bahwa implementasi pendidikan karakter sesuai dengan visi misi yang ada di sekolah dan nilai karakter yang ditanamkan di SMAN 1 Gedangan yaitu nilai karakter jujur, religius, tanggung jawab, dan disiplin. Maka dapat disimpulkan bahwa siswa memberi respon baik terhadap kegiatan-kegiatan yang diadakan.

Penelitian relevan yang kedua dilakukan oleh Stovika dan Wibowo (2013) yang berjudul “Evaluasi Program Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar Kabupaten Kulon Progo”. Jenis penelitian ini adalah kualitatif.

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi ketercapaian program pendidikan karakter pada tingkat sekolah dasar di kabupaten kulon progo serta memberikan rekomendasi baik kepada guru, sekolah maupun pemerintah, dalam rangka perbaikan program pendidikan karakter. Pengembangan budaya

Referensi

Dokumen terkait

Dari penjelasan tersebut, peneliti dapat menyimpulkan bahwa Program Penguatan Pendidikan Karakter adalah kegiatan inti dari pendidikan nasional yang menggerakkan karakter peserta

PPK berbasis masyarakat adalah program pendidikan karakter di sekolah dengan melibatkan mitra yang ada di masyarakat yaitu: orang tua, tokoh masyarakat, tokoh agama, pelaku

Program Penguatan Pendidikan Karakter PPK adalah gerakan pendidikan yang merupakan tanggung jawab dari satuan pendidikan untuk memperkuat karakter peserta didik dalam

Penguatan pendidikan karakter berbasis budaya sekolah dilakukan dengan cara: membiasakan nilai-nilai dalam keseharian sekolah, keteladanan orang dewasa di lingkungan

Hasil yang diperoleh dari penelitian ini yaitu (1) Strategi implementasi penguatan pendidikan karakter berbasis budaya sekolah melalui program DUTALI yakni strategi

PPK berbasis budaya sekolah mengembangkan berbagai macam corak relasi, kegiatan dan interaksi antar individu lingkungan sekolah yang mengatasi sekat-sekat kelas yang

Penguatan Pendidikan Karakter berbasis budaya sekolah diupayakan melalui beberapa aspek yaitu aspek branding sekolah berkaitan dengan sekolah yang mempunyai keunikan

Faktor penghambat penguatan pendidikan karakter religius siswa berbasis budaya sekolah Faktor penghambat dalam pelaksanaan kegiatan pembiasaan apel pagi dan jum’at berkah adalah 1