• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU PRODUKSI TERNAK PERAH

N/A
N/A
WIBUnesia ori

Academic year: 2023

Membagikan "LAPORAN PRAKTIKUM ILMU PRODUKSI TERNAK PERAH"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU PRODUKSI TERNAK PERAH LAPORAN PRAKTIKUM ILMU PRODUKSI TERNAK PERAH

Nama Anggota Kelompok :

1. Mochammad Imam Muchlisin (2054231004) 2. M. Alfin Nafi’udin (2054231005)

3. Wika Nestria Santika (2054231009) 4. M. Khoirul Anam (2054231011)

5. Indah Dewi Lestari (2054231019) 6. Ihsa Kurniawan Mitra (2054231025)

7. Muhammad Arwani Rizqi Akbar (2054231030)

 

KELOMPOK 1

(2)

1. Pembibitan Sapi Perah 

Bibit peternak sapi perah yang kami kunjungi barasal dari kabupaten malang lebih tepatnya di singosari malang.

Breeding atau bibit dalam suatu peternakan sangat penting untuk diperhatikan. hal ini karena berpengaruh terhadap produktivitas ternak selanjutnya. Ternak yang unggul dapat meningkatkan performa seperti peningkatan produksi dan kualitas susu bahkan sampai peningkatan kinerja reproduksi (Amam and Harsita 2019). Sapi Perah Friesien Holstein (FH) merupakan jenis ternak perah dengan produksi susu tinggi dengan kadar lemak rendah yaitu 6800-17000 kg per masa laktasi.

Potensi sapi perah keturunan FH dapat dimaksimumkan dengan perbaikan mutu bibit, diantaranya

mengidentifikasi berbagai sifat kualitatif dan kuantitatif sehingga diperoleh bibit yang berkualitas.Sifat kualitatif seperti karakteristik sapi perah FH merupakan salah satu hal yang diperhitungkan dalam pemilihan calon bibit.(Christi,

Indrijani, and Tasripin 2020) Perawatan pedet yang baru lahir itu harus mendapatkan susu pertama atau kalestrum yang mempunyai warna kuning dari induknya bisa disebut juga antibody.

(3)

Jika tidak mendapatkan susu pertama dari induknya atau kalestrum bisa jadi pedet itu akan mati. Di sini peternak memberikan susu kalestrum pada pedet selang 2 jam setelah pedet bisa berdiri. Peternak tidak langsung memisahkan pedet dengan induknya hanya saja jika menyusu peternak mengarahkan pedet pada putting susu induknya.

Peternak memisahkan pedet dengan induknya dan dipindahkan kedalam box yang berukuran besar. Dan memberikan susu pada waktu pagi dan sore. Pedet akan rentan pada penyakit diare atau mencret,demam, pilek yang disebabkan oleh susu dingin atau bakteri, jika ingin memberikan susu pada pedet sebaiknya suhunya disamakan dengan susu yang dikeluarkan induknya(zalizar 2017).

Diare yang menimbulkan kerugian besar karena tidak hanya menyebabkan peningkatan biaya pemeliharaan dan angka kematian, namun juga mengurangi produktivitas ternak pada masa akan datang. Diare terjadi akibat peningkatan jumlah bakteri pathogen, terutama coliform di usus halus, namun terjadi penurunan populasi bakteri Lactobacillus dan Bifidobacteria. Gangguan kesehatan pada pedet prasapih selain diare adalah infeksi tali pusar, bloat/kembung, cacingan, enteritis dan radang paru-paru (pneumonia). (Rahayu 2014)

(4)

2. Sapi Perah Laktasi

Sapi perah laktasi adalah sapi perah yang berada pada masa rentangan waktu menghasilkan susu, yaitu antara waktu beranak dan masa kering. Lama laktasi yang normal adalah 305 hari dengan 60 hari masa kering, biasanya masa laktasi menjadi lebih pendek apabila sapi terlalu cepat dikawinkan lagi setelah melahirkan atau dikeringkan karena suatu penyakit. Sebaliknya masalaktasi yang panjang biasanya dikarenakan adanya kesulitan dalam mengawinkan kembali. Sapi perah laktasi merupakan sapi perah yang berada pada kondisi menghasilkan susu setelah melahirkan.

Pada masa awal laktasi biasanya 100 hari pertama laktasi sapi akan mengalami puncak produksi susu.

Konsumsi pakan menurun, akibatnya sapiakan mengalami penurunan berat badan. dan pada akhir masa laktasi ini sapi akan mengalami puncak konsumsi dry matter yang akan menyebabkan penurunan berat badan. Masa laktasi adalah masa sapi sedang berproduksi. Sapi mulai berproduksi setelah melahirkan anak. Saat itulah disebut masa laktasi dimulai. Masa laktasi dimulai sejak sapi berproduksi sampai masa kering tiba. Oleh karena itu masa laktasi berlangsung selama 10 bulan atau sekitar 305 hari.

(5)

3. Gangguan Cacingan Pada Sapi Perah

Gangguan akibat cacing pada sapi perah dapat menyebabkan penurunan produksi susu pada ternak dewasa dan hambatan pertumbuhan pada ternak muda. Selain itu akibat infeksi cacing parasit menyebabkan kondisi tubuh ternak menurun sehingga dapat menggagalkan vaksinasi dan memungkinkan timbulnya berbagai penyakit lain seperti bakterial, viral maupun parasit lainnya. Peternak mengatakan ada 2 jenis penyakit cacing pada sapi perah yaitu cacing lambung dan cacing hati.(Rahayu 2014).

Gejala klinis pada sapi perah yang cacingan yaitu nafsu makan menurun dan sapi akan menjilat jilat benda yang ada disekitarnya. Pemberian obat cacing pada sapi yang sudah berumur 6 bulan yang sudah lepas sapih, jika induk yang menyusui cacingan akan menular pada pedetnya. Peternak memberikan obat cacing pada sapi perah setiap 6 sekali untuk pedet maupun indukan. Peternak mengatakan untuk obat cacing yang biasa digunakan yaitu abedasol cair 10% dan defenik, abedasol cair 10% digunakan untuk mengobati cacing lambung dan defenik adalah obat cacing hati dengan cara di suntikan pada bagian bawah kulit diatas daging.

Referensi

Dokumen terkait

STUDI PERFORMANS PRODUKSI SUSU SAPI PERAH LAKTASI SATU SAMPAI LAKTASI EMPAT DI BALAI BESAR PEMBIBITAN TERNAK UNGGUL SAPI.. PERAH

menunjukkan perbaikan meski IB dengan bibit unggul sudah diterapkan. 2) Ketersediaan lahan: Ketersediaan lahan subur untuk penyediaan rumput dan legum untuk sapi perah sangat

Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh bibit sapi perah betina dewasa adalah: (a) produksi susu tinggi, (b) umur 3,5-4,5 tahun dan sudah pernah beranak, (c) berasal dari induk

Data pada Tabel 5 menunjukkan bahwa produksi susu sapi perah FH yang diberi perlakuan pakan silase complete feed berbahan baku jerami (T2) dan yang berbahan baku jerami dan

Jika tinggi pundak sapi perah FH laktasi hasil pengukuran dibandingkan dengan data ukuran tinggi pundak yang diambil pada penelitian mengenai Standarisasi Mutu

Sapi tersebut sangat jinak, tetapi karena lemak badannya yang berwarna kekuningan serta ukuran badan yang kecil menyebabkan tidak disukai untuk produksi susu dengan warna kuning

mikrosatelit DNA pada sapi perah FH lokal di Indonesia dirasakan masih sangat kurang.. itu penelitian ini bertujuan: 1) mempelajari keragaman mikrosatelit DNA yang terletak

Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh bibit sapi perah betina dewasa adalah: (a) produksi susu tinggi, (b) umur 3,5-4,5 tahun dan sudah pernah beranak, (c) berasal dari induk dan