PRAKTEK SARAK PADA MASYARAKAT NELAYAN PERSPEKTIF PLURALISME HUKUM
(Studi Wilayah Tanjung Luar Kabupaten Lombok Timur)
TESIS
Oleh:
LALU SUKRIZAL WATONI NIM: 190402012
Tesis ini ditulis untuk memenuhi sebagian persyaratan Untuk mendapat gelar Magister Hukum Keluarga Islam
PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM
PASCASARJANA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM 2021
PRAKTEK SARAK PADA MASYARAKAT NELAYAN PERSPEKTIF PLURALISME HUKUM
(Studi Wilayah Tanjung Luar Kabupaten Lombok Timur)
Pembimbing:
Prof.Dr.H. Miftahul Huda, M.Ag Dr. Gazali, M.H.
Oleh:
LALU SUKRIZAL WATONI NIM.190402012
Tesis ini ditulis untuk memenuhi sebagian persyaratan Untuk mendapat gelar Magister Hukum Keluarga Islam
PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA ISLAM
PASCASARJANA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM 2021
i ABSTRAK
Sukrizal Watoni
PRAKTEK SARAK PADA MASYARAKAT NELAYAN PERSPEKTIF PLURALISME HUKUM
(Studi Wilayah Tanjung Luar Kabupaten Lombok Timur)
Penelitian ini membahas tentang praktek sarak (perceraian) yang cukup tinggi terjadi pada masyarakat nelayan di Desa Tanjung Luar Kabupaten Lombok Timur bagian selatan. Dalam penelitian ini, penulis melakukan analisa terhadap pokok permasalahan secara normatif mengenai apa faktor penyebab terjadinya perceraian, kemudian dampaknya terhadap keluarga dan masyarakat, serta bagaimana pandangan hukum Islam dan hukum positif berkaitan dengan masalah perceraian yang marak terjadi pada masyarakat nelayan.
Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan analisis deskriptif. Adapun sumber data penulis, diperoleh dari bahan primer, skunder dan tersier. Selain itu teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara melakukan wawancara, dokumentasi dan observasi.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa perceraian pada masyarakat nelayan dilatarbelakangi oleh beberapa faktor, dan penyebab yang paling dominan itu terjadi karena persoalan ekonomi, selain itu juga karena tidak ada tanggung jawab dari pihak suami selaku kepala rumah tangga, setelah itu disusul oleh faktor lainnya. Selanjutnya pelakasnaan perceraian pada masyarakat nelayan dilakukan dengan secara lisan (bawah tangan) dan jarang yang sampai ke pengadilan.
Kata kunci: Sarak (Perceraian), Masyarakat Nelayan, Tanjung Luar.
ii ABSTRACT
Sukrizal Watoni
SARAK PRACTICES IN FISHING COMMUNITIES LEGAL PLURALISM PERSPECTIVE
(Study of Tanjung Luar, East Lombok Regency)
This study discusses the practice of Sarak (divorce) which is quite high in fishing communities in Tanjung Luar Village, South East Lombok Regency. In this study, the author analyzes the subject matter normatively regarding the factors that cause divorce, then its impact on families and society, and how the views of Islamic law and positive law relate to divorce problems that are prevalent in fishing communities.
The research method used is qualitative with a descriptive analysis approach. The author's data sources, obtained from primary, secondary and tertiary materials. In addition, data collection techniques were carried out by conducting interviews, documentation and observation.
The results of this study indicate that divorce in fishing communities is motivated by several factors, and the most dominant cause occurs because of economic problems, besides that there is no responsibility from the husband as the head of the household, after which other factors follow. Furthermore, the implementation of divorce in fishing communities is carried out verbally (under the hands) and rarely reaches the court.
Keywords: Sarak (Divorce), Fisherman Society, Tanjung Luar.
iii
MOTTO
Bersatu kita tetap utuh, bercerai belum tentu bisa kawin lagi.
“ Dzikir, fikir, amal shaleh ”
iv KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT., yang telah memberikan karunia berupa rahmat, taufik dan hidayahnya. Sholawat beserta salam senantiasa tercurahkan kepada junjungan alam Nabi besar Muhammad SAW., beserta para sahabat dan pengikutnya.
Selanjutnya penulis menyadari bahwa, setiap manusia selalu memiliki kelemahan, dan kehilafan semasa hidupnya. Sehingga penulis meyakini bahwa dalam pengerjaan tesis ini masih terdapat banyak kekurangan dan kekeliruan baik dari segi kata, isi, maupun gaya penulisan. Oleh karenanya dengan hati terbuka penulis menunggu keritikan dan saran yang konstruktif dari siapapun yang sekiranya mampu meluruskan atau memperbaiki kekurangan dan kesalahan dari isi tesis ini. Di samping itu, penulis sangat menyadari bahwa proses penyelesaian tesis ini tidak akan sukses tanpa ada bimbingan, bantuan, dukungan, dan keterlibatan dari berbagai pihak. Oleh karenanya dalam kesempatan ini, penulis sampaikan rasa terimakasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat:
1. Ibunda yang mulia SITI SAPUR, dengan segenap jiwa raganya memberi dukungan, serta kasih sayang, selalu mendo’akan, dan mengingatkan akan betapa pahitnya perjuangan selama menempuh pendidikan ini. Namun alhamdulillah berkat sulutan semangat dan dorongan, serta omelan dari beliau, sehingga tesis ini bisa terselesaikan.
2. Prof. Dr. H. Miftahul Huda, M.Ag selaku promotor I dan Dr. Gazali, M.H.
selaku promotor II yang telah banyak meluangkan waktu, tenaga dan fikiran untuk membaca, mengoreksi, dan meluruskan kata perkata dari isi tesis ini.
3. Prof. Dr. Moh. Abdun Nasir, M.Ag., Ph.D dan Dr. H. Lalu Supriadi Bin Mujib, M.A. sebagai penguji yang telah memberikan saran konstruktif bagi penyempurnaan tesis ini.
4. Dr. H. Lalu Supriadi, M.A sebagai ketua prodi HKI Program Magister Pascasarjana UIN Mataram.
5. Prof. Dr. H. Masnun Tahir, M.Ag. selaku rektor UIN Mataram yang telah membimbing dan selalu mengingatkan untuk tidak berlama-lama kuliah.
v 6. Bapak Ibu Dosen yang telah memberikan bimbingan serta menyumbangkan ilmu pengetahuannya terhadap mahasiswa, sehingga penulis khususnya merasakan hasil dari apa yang telah disampaikan selama menjalankan proses perkuliahan.
7. Kepala Desa Tanjung Luar, beserta stafnya yang bersedia menerima dan mengijikan peneliti untuk melakukan penelitian di lokasi tersebut.
8. Dr. Irfan suriadiata, S.HI.,M.H., sahabat senior selaku guru saya, beserta sahabat-sahabati yang ada di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang sekiranya telah memberikan dorongan dan motivasi serta masukan sehingga penelitian ini bisa terselesaikan.
9. Terkahir, Segenap keluarga besar papuq dateq, khususnya kepada bapak Marundah, yang telah banyak membantu.
Dan semua pihak yang terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung dalam penulisan proposal tesis yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Semoga jasa dan peran tercatat sebagai amal ibadah disisi Allah SWT. Amin.
Mataram, 19 Maret 2021 Penlulis,
SUKRIZAL WATONI
vi Daftar Isi
Halaman Sampul ...
Halaman Judul...
Persetujuan Pembimbing ...
Daftar Riwayat Hidup ...
Pernnyataan Keaslian ...
Persembahan ...
Abstrak... i
Halaman motto ... ii
Kata Pengantar ... iii
Daftar Isi ... iv
Pedoman Transliterasi... vi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 6
C. Tujuan Dan Mamfaat ... 6
D. Ruang Lingkup Dan Setting Penelitian ... 8
E. Tinjauan Pustaka ... 10
F. Kerangka Teoritik ... 18
1. Tinjauan umum tentang perceraian ... 18
2. Kajian sosiologis hukum keluarga Islam tentang perceraian ... 20
3. Stratifikasi sosial masyarakat nelayan desa tanjung luar ... 24
4. Pluralisme hukum tentang perceraian di Indonesia ... 36
5. Analisis perceraian menurut hukum Islam... 40
6. Analisis perceraian menurut hukum positif ... G. Metode Penelitian... 68
H. Sitematika Penulisan ... 79
BAB II KONDISI SOSIAL, BUDAYA DAN AGAMA PADA MASYARAKAT NELAYAN DI DESA TANJUNG LUAR. A. Gambaran umum lokasi penelitian ... 82
vii B. Akulturasi budaya dan tradisi masyarakat nelayan tanjung luar ... 97 C. Perkawinan dikalangan masyarakat nelayan tanjung luar ... 104 D. Praktek perceraian pada masyarakat nelayan tanjung luar ... 110 BAB III FAKTOR TERJADINYA SARAK (PERCERAIAN) PADA
MASYARAKAT NELAYAN DI DESA TANJUNG LUAR A. Latar Belakang Terjadinya Sarak (Perceraian) ... 120 B. Faktor Umum Teradinya Perceraian ... 122 C. Faktor Terjadinya Perceraian Pada Masyarakat Nelayan ... 129 BAB IV DAMPAK SARAK (PERCERAIAN) PADA MASYARAKAT
NELAYAN DESA TANJUNG LUAR
A. Akibat Hukum Perceraian Dalalm Hukum Islam ... .. 141 B. Dampak Praktek Sarak (Perceraian) Pada Masyarakat Nelayan Desa Tanjung Luar ... .. 148 BAB V ANALISIS PANDANGAN HUKUM ISLAM DAN HUKUM POSITIF TERHADAP PRAKTEK SARAK (PERCERAIAN) PADA MASYARAKAT NELAYAN.
A. Perceaian Bawah tangan pada masyarakat nelayan perspektif Hukum Islam ... .. 160 B. Pandangan hukum positif mengenai praktik perceraian pada masyarakat nelayan di Pengadilan Agama ... .. 170 BAB VI PENUTUP
A. KESIMPULAN ... .. 178 B. SARAN ... .. 180 Daftar pustaka ...
Lampiran-lampiran ...
viii PEDOMAN TRANSLITERASI
Pedoman Transliterasi: Arabic Romanization Table dengan Font Times New Arabic
B = ب z = ز f = ف
T = ت s = س q = ق
Th = ث sh = ش k = ك
J = ج s = ص l = ل
H = ح d = ض m = م
Kh = خ t = ط n = ن
D = د z = ظ h = ه
Dh = ذ ‘ = ع w = و
R = ر gh = غ y = ي
Short :a =’ ; i = . ; u=”
Long :â = ا ; Î =
ي ; û= و
Dipthong : ay = ي
ا ; aw =و ا
1 BAB I
PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Sebuah ikatan perkawinan sebagaimana yang disebutkan dalam Kompilasi Hukum Islam merupakan akad yang sangat kuat, atau disebut miitsaaqon gholidzhon dengan tujuan untuk mentaati perintah Allah dan bagi yang menjalankanya dinilai ibadah1. Selain menjadi kebutuhan, perkawinan juga bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Di samping perkawinan atau pernikahan merupakan anjuran Rasulullah Saw., juga merupakan suatu keharusan yang dianjurkan oleh agama. Selain itu, perkawinan juga menjadi kebutuhan bagi setiap manusia normal yang memiliki emosional. Demi bisa menjaga kehormatan dan martabatnya, manusia membentuk hubungan melalui perkawinan, sehingga melalui jalan inilah laki-laki dan perempuan dapat melakukan hubungan secara sah atas dasar suka sama suka, serta sesuai dengan tuntunan agama.
Tetapi dalam membina suatu hubungan, tentu saja tidak selamanya bisa berada pada situasi yang diinginkan, terkadang akan ditemukan berbagai bentuk masalah datang mengacaukan hubungan tersebut. Secara subtansial pernikahan bukanlah hal yang mudah untuk dijalani. Oleh karena dimulainya kisah kehidupan dalam sebuah lembaran kertas yang baru, maka timbul pula masalah-masalah baru yang dimana suami dan isteri haruslah secara cermat
1 Suparman Usman. Hukum Islam, Cet ke-2 (Jakarta: Gaya Media Pratama), h. 227
2 dalam menanggapi permasalahan tersebut, sehingga persoalan yang ada dapat terselesaikan dengan baik. Walaupun pada dasarnya melakukan perkawinan itu adalah bertujuan untuk bisa bersama selamanya, akan tetapi ada kalanya muncul sebab-sebab tertentu yang mengakibatkan jalannya perkawinan tersebut kandas, dan tidak dapat diteruskan atau bahkan terpaksa diputuskan Akibatnya perkawinan yang pada awalnya diharapkan bisa bertahan selamanya, namun dikarenakan masalah yang tidak bisa diatasi oleh keduanya mengakibatkan rumah tangga tersebut tidak dapat dipertahankan.
Dalam konteks ini, melepaskan ikatan perkawinan bisa berarti membubarkan hubungan antara suami dengan istri sehingga berakhirlah perkawinan tersebut. Dan sarak2 (perceraian) adalah alternatif terakhir, yaitu setelah tidak memungkinkan bagi suami-istri untuk hidup bersama dalam membina hubungan rumah tangga.3
Islam sendiri menganjurkan agar sebelum terjadinya perceraian, maka terlebih dahulu ditempuh usaha-usaha perdamaian antara kedua belah pihak yang bermasalah, dikarenakan suatu hubungan yang dilandasi dengan perkawinan, adalah sebuah ikatan yang sangat amat suci dan kokoh.4 Selain itu perceraian juga secara khusus telah diatur oleh negara, yaitu UU No. 1 Th 1974 Bab VIII tentang putusnya perkawinan serta akibatnya. Selain itu perceraian harus pula dikukuhkan oleh pengadilan, sebagaimana yang
2 Sarak dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI) diartikan: cerai, pisah. Selain itu kata Sarak juga digunakan sebagai bahasa sehari-hari oleh masyarakat Desa Tanjung Luar ketika putusnya ikatan Perkawinan.
3 M. Ali Hasan, Pedoman Hidup Berumah Tangga Dalam Islam, (Siraja: Prenada Media Grup, 2006), hlm. 169.
4 Ahmad Rofiq, Hukum Islam di Indonesia, Jakarta: PT. Raja Grafindo, 1995. hlm. 268.
3 disebutkan dalam PP No. 9 Th 1975 tentang pelaksanaan UU No.1 Th 1974.5 Lebih khusus bagi umat muslim di Indonesia selain berlandaskan pada peraturan di atas, juga berpedoman pada UU No. 7 Th 1989 tentang Peradilan Agama yang secara khusus mengatur persoalan menyangkut masalah kekeluargaan, termasuk di dalamanya masalah perceraian.
Meskipun ada ketentuan yang mengatur tentang mekanisme pelaksanaan perceraian di Indonesia, bahwasanya perceraian harus dilakukan di depan sidang pengadilan, akan tetapi pada kenyataanya masih ada terdapat dibeberapa daerah yang masyarakatnya belum memahami dan mengindahkan aturan yang telah diberlakukan tersebut. Di Nusa Tenggara Barat sendiri khsusunya di Kabupaten Lombok Timur tercatat sebagai wilayah dengan jumlah kasus perceraian tertinggi yakni mencapai 1.246 kasus pada Tahun 2019 yang tercatat di Pengadilan Agama Selong, dengan rincian jumlah berdasarkan faktor penyebab terjadinya perceraian diantaranya: 777 kasus perselisihan dan pertengkaran terus menerus/disputes, 366 kasus meninggalkan salah satu pihak/leave the spouse, 44 kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT)/domestic violence, 38 kasus dengan alasan ekonomi/economic, dan 21 kasus dengan alasan lainnya, seperti mabuk, judi, dihukum penjara, poligami, dan lain sebagainya.6
Selain itu, yang kerap menjadi persoalan adalah masih banyak ditemukan kasus perceraian di bawah tangan atau di luar pengadilan yang dilakukan oleh masyarakat terutama di bagian pesisir yang mayoritas warganya berpropesi
5 Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975
6 Kabupaten Lombok Timur Dalam Angka 2020, BPS-STATISTICS OF LOMBOK TIMUR REGENCY, https://Lomboktimurkab.bps.go.id
4 sebagai nelayan. Dalam prakteknya kebanyakan masyarakat nelayan mengarahkan penyelesaian kasus perceraiannya hanya dihadapan para tokoh masyarakat atau pemuka agama setempat, atau melalui seorang aparat yang biasa mengurus perceraian warganya, hal itu dilakukan tanpa pernah mempertimbangkan adanya pengadilan yang berwenang dalam mengurus persoalan tersebut.7 Sehingga tidak heran apabila di pulau Lombok terkenal dengan sebutan masyarakatnya yang doyan melakukan kawin cerai. Hal demikian bisa timbul oleh sebab perspektif kebanyakan masyarakat yang mengesampingkan peraturan Perundang-Undangan dan lebih patuh terhadap aturan yang sifatnya tidak memberatkan bagi mereka.8
Persoalan yang sama tentang praktek sarak (perceraian) juga ditemukan disalah satu Desa yang ada di Kecamatan Keruak Kabupaten Lombok Timur, yakni Desa Tanjung Luar yang hampir keseluruhan warganya bekerja sebagai nelayan. Sebagaimana diketahui mengenai kehidupan masyarakatnya yang cukup keras, di Desa tersebut pula sering kali muncul persoalan yang kemudian menimbulkan perpecahan, terutama yang berkaitan dengan hukum keluarga dalam hal ini mengenai sarak (perceraian). Selain itu kebanyakan masyarakat di Desa tersebut masih patuh hanya pada aturan hukum agama dan aturan adat yang berlaku. Dari hasil observasi yang penulis lakukan, ditemukan ada sekitar 10 (sepuluh) orang warga yang memutuskan ikatan perkawinan, hanya dilakukan dihadapan para tokoh atau pemuka agama, bahkan ada pula terjadi perceraian yang selesai hanya dengan ucapan lisan
7 Hasil Observasi, pada tgl 7 Februari di Desa Tanjung Luar.
8 Muzakki, Kawin Cerai Etnik Suku Sasak, Jurnal (Sosio Edukasi: Vol. 1, No 2, Desember 2018) hlm.11
5 dari salah satu pihak baik laki-laki maupun perempuan tanpa memandang adanya aturan yang berlaku.9
Berdasarkan latar belakang di atas dapat memberikan gambaran bahwa praktek perceraian yang secara umum terjadi, dan khususnya di tengah kalangan masyarakat nelayan yang ada di Desa Tanjung Luar Kecamatan Keruak, dapat dikatakan masih minim pemahaman. Oleh karena itu penting kiranya bagi penulis untuk mengkaji lebih dalam lagi terkait perilaku masyarakat nelayan dan relevansinya dengan pasal 39 ayat 1 dan 2, serta faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya perceraian di tengah kalangan masyarakat nelayan di wilayah Tanjung Luar. Berangkat dari permasalahan tersebut, penulis mencoba merangkumnya kedalam sebuah karya penelitian dengan judul PRAKTEK SARAK PADA MASYARAKAT NELAYAN PERSPEKTIF PLURALISME HUKUM (Studi Wilayah Tanjung Luar Kabupaten Lombok Timur).
9 Wawancara dengan Naing, warga Dusun Kampung Koko Desa Tanjung Luar. Pada tanggal 30-01-2021
6 B. Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang tersebut di atas, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian mengenai praktek sarak (perceraian) yang masih banyak terjadi pada masyarakat nelayan di wilayah Tanjung Luar. Sehingga dapat dirumuskan beberapa pokok permasalahan yang relevan untuk dikaji dalam bentuk penelitian, diantaranya sebagai berikut:
1. Apa faktor penyebab terjadinya Sarak (perceraian) pada masyarakat nelayan di Wilayah Tanjung Luar Kabupaten Lombok Timur ?
2. Apa dampak sosial Sarak (percerain) terhadap masyarakat nelayan di Wilayah Tanjung Luar Kabupaten Lombok Timur ?
3. Bagaimana pandangan hukum Islam dan hukum positif tentang praktek Sarak (perceraian) pada masyarakat nelayan di Wilayah Tanjung Luar Kabupaten Lombok Timur ?
C. Tujuan dan manfaat 1. Tujuan penelitain
Tujuan penelitian ini dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu tujuan umum dan khusus. Secara umum penelitian ini bertujuan untuk menemukan inti permasalahan yang mendominasi alasan masyarakat nelayan di Desa Tanjung Luar mengenai praktek sarak yang banyak tejadi dan dilakukan di luar pengadilan. Adapun tujuan khusus yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah, untuk menjawab rumusan masalah yang terdapat pada penelitian ini, yaitu:
7 a. Untuk mengetahui faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya sarak (perceraian) pada masyarakat nelayan di wilayah Tanjung Luar kabupaten Lombok Timur.
b. Untuk mengetahui dampak praktek sarak yang terjadi pada masyarakat nelayan di wilayah Tanjung Luar kabupaten Lombok Timur
c. Untuk mengetahui pandangan hukum Islam, hukum positif dan sosiologi hukum tentang Sarak (perceraian) pada masyarakat nelayan di Wilayah Tanjung Luar Kabupaten Lombok Timur
2. Manfaat penelitian
Adapun manfaat dan kegunaan penelitian ini adalah terbagi atas dua bagian, yakni manfaat secara teoritis dan praktis.
a. Secara dari segi teoritis penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk:
1) Memberikan gambaran teori mengenai latar belakang terjadinya praktek sarak (perceraian) yang terjadi pada masyarakat nelayan di wilayah Tanjung Luar.
2) Menjadi bahan kajian atau pemikiran lebih lanjut dalam permasalahan ilmu Hukum Keluarga tentang akibat hukum yang ditimbulkan dari praktek sarak yang dilakukan oleh masyarakat nelayan di wilayah Tanjung Luar. Serta menambah khazanah keilmuan dalam bidang studi Hukum Keluarga Islam, terutama yang berkaitan dengan persoalan sarak (perceraian) ditengah kalangan masyarakat nelayan. Sedang
8 b. Dari segi praktis hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk:
1) Memberi pemahaman mengenai faktor penyebab atau masalah yang melatar belakangi terjadinya praktek sarak (perceraian) pada masyarakat nelayan. Sehingga kasus-kasus seperti ini perlu untuk disosialisasikan untuk menekan supaya meminimalisir angka perceraian yang terjadi di tengah kalangan masyarakat, khususnya di Desa Tanjung Luar yang mayoritas warganya berprofesi sebagai nelayan.
2) Dengan adanya penelitian ini dapat memberikan wawasan terhadap masyarakat, terutama warga nelayan di Desa Tanjung Luar mengenai realitas yang terjadi dalam praktek Sarak (perceraian), sehingga penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan oleh masyarakat nelayan, dalam menyelesaikan persoalan, atau menghindari hal-hal yang sekiranya dapat membuat rumah tangga menjadi berantakan.
3) Dapat dijadikan rujukan atau pedoman dan sebagai landasan berpikir oleh seluruh lapisan masyarakat khususnya warga nelayan di Desa Tanjung Luar dalam menyikapi persoalan tentang putusnya suatu ikatan perkawinan, agar sebisa mungkin diselesaikan secara administratif. Supaya tidak ada lagi masyarakat yang dalam menyeslesaikan kasus perceraiannya tetap saja mengikuti model tertib hukum tidak tertulis. Dengan kata lain, melalui hasil penelitian ini diharapkan masyarakat bisa terbuka pemikirannya serta memiliki
9 kesadaran juga pemahaman dalam menyelesaikan perkara perceraian hendaknya dilakukan di pengadilan agama.
D. Ruang lingkup dan setting penelitian
Ruang lingkup pembahasan dalam penelitaian ini hanya berkisar pada persoalan hukum keluarga kaitannya dengan praktek sarak (perceraian) di tengah kalangan masyarakat nelayan yang masih banyak terjadi dan dilakukan di luar pengadilan, serta menemukan gejala apa saja yang menyebabkan perceraian bawah tangan pada masyarakat nelayan sehingga sampai saat ini masih dilakukan. Maksud dari hal tersebut adalah agar pembahasan dalam penelitian ini tidak keluar atau menyimpang dari apa yang akan dibahas oleh penulis sampai akhir pembahasan.
Sedangkan setting penelitian atau lokasi yang dijadikan sebagai objek dalam penelitian ini adalah masyarakat nelayan yang ada di wilayah Desa Tanjung Luar Kecamatan Keruak Kabupaten Lombok Timur. Alasan penulis menjadikan lokasi tersebut sebagai objek penelitian dikarenakan Desa Tanjung Luar dapat dikatakan sebagai salah satu Desa dengan penyumbang angka perceraian yang cukup banyak di kabupaten Lombok Timur, terhitung dari jumlah perceraian yang diselesaikan baik lewat pengadilan, maupun perceraian yang dilakukan menggunakan jalur hukum tidak tertulis atau perceraian bawah tangan yang banyak terjadi. Tidak hanya sampai disitu, menurut laporan yang diperoleh penulis dari hasil wawancara dengan beberapa orang warga yang tinggal di Desa tersebut menerangkan bahwa akhir-akhir ini perilaku masyarakat Tanjung Luar terutama kalangan remaja
10 hari ini telah terkontaminasi dengan banyaknya barang haram yaitu narkoba jenis sabu yang masuk dan terjual di Desa tersebut.10 Hal ini menjadi salah satu penyebab terjadinya sarak (perceraian) pada masyarakat nelayan muslim sasak di wilayah Tanjung Luar.
Berangkat dari permasalahan di atas, penulis merasa tertarik dan berkeinginan untuk meneliti serta membahas lebih jauh lagi mengenai praktek sarak (perceraian) yang banyak terjadi ditengah kalangan masyarakat nelayan di wilayah Tanjung Luar Kabupaten Lombok Timur, dan mengangkat persoalan tersebut menjadi sebuah penelitian.
E. Telaah pustaka
Pada dasarnya studi tentang perceraian telah banyak dilakukan oleh beberapa peneliti terdahulu, namun dari berbagai sudut pandang lainnya terdapat pula perbedaan yang membedakan pembahasan pada penelitian ini dengan hasil kajian yang dilakukan oleh peneliti sebelumnya. Studi-studi yang dimaksud tersebut umumnya fokus membahas perceraian secara umum, baik itu yang berkaitan dengan permohonan cerai yang diajukan oleh suami, maupun gugatan perceraian yang dilakukan oleh istri, serta banyak pula yang fokus pembahasannya mengarah ke Pengadilan Agama, dimana masalah perceraian merupakan jenis kasus atau perkara terbanyak yang diurus.
Disamping itu setting penelitian dan metode yang digunakan pada penelitian sebelumnya pun berbeda-beda, sehingga kesimpulan akhir pada hasil penelitian tersebut juga bisa berbeda.
10 Wawancara dengan Naing, warga Dusun Kampung Koko Desa Tanjung Luar. Pada tanggal 30-01-2021
11 Untuk menunjukkan bahwa penelitian ini benar-benar merupakan hasil karya penulis, serta sebagai bahan perbandingan yang ada relevansinya dengan pembahasan dalam penelitian sebelumnya, maka berikut ini adalah beberapa hasil karya terdahulu yang relevan, diantaranya:
1. M. Indra Gunawan, “Penomena Perceraian Pada Masyarakat Sasak Di Pulau Lombok (Kajian Sosiologi Hukum Islam)”, dalam penelitian ini penulis membahas secara umum tentang fenomena sosial berkaitan dengan perceraian yang banyak terjadi di masyarakat sasak. Dalam penelitian ini mengungkapkan beberapa permasalahan yang muncul, antara lain tingginya tingkat perceraian di pulau Lombok yang disebabkan oleh permasalahan ekonomi, poligami, pendidikan, dan lain- lain. Kemudian akibat hukum yang timbul dari fenomena perceraian diantaranya mengenai harta bersama, pengurusan anak, serta berdampak pula pada kesenjangan sosial antara pihak keluarga laki-laki dan pihak perempuan. Dari hasil penelitiannya, indra menyimpulkan bahwa perceraian yang terjadi di kalangan masyarakat Lombok, dilatarbelakangi oleh beberapa faktor sebagaimana yang telah disebutkan diatas, kemudian terkait pelaksanaan perceraian dapat dilakukan dengan secara lisan atau dalam bentuk tulisan serta diketahui oleh beberapa orang saksi.
Selain itu dampak sosial yang dialami oleh kedua belah pihak yakni terjadinya kesenjangan antar keluarga dari kedua belah pihak.11
11 M. Indra Gunawan, Penomena Perceraian Pada Masyarakat Sasak Di Pulau Lombok (Kajian Sosiologi Hukum Islam), Tesis (Mataram, Pascasarjana IAIN Mataram, 2013)
12 2. Abdul Aziz, “Praktek Kawin Cerai Dibawah Tangan Dan Implikasi Sosialnya Bagi Masyarakat Lombok Barat”12. Dari hasil penelitiannya aziz mengungkapkan beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya praktek kawin cerai di Lombok Barat diantaranya disebabkan oleh faktor ekonomi, pendidikan, lingkungan sosial, pemahaman dan kesadaran beragama yang kurang, selain itu juga disebabkan oleh faktor usia.
Bahkan ada pula perceraian yang disebabkan oleh karena faktor definisi fikih klasik yang hingga saat ini masih dipegang erat oleh masyarakat muslim di Lombok Barat. Menurutnya hal tersebut sudah menjadi kebiasaan dan masih mengkar hingga saat ini, walaupun perceraian disampaikan secara manual dengan kata-kata lisan, namun oleh masyarakat tetap dipandang sah. Seorang suami yang hanya menyebutkan kata “aku cerai kamu” kepada istrinya, maka perceraian tersebut dianggap jatuh, namun apabila suami ingin menggauli manta istrinya kembali, maka cukup dengan kata kunci “aku rujuk kamu” maka secara otomatis istrinya tersebut kembali lagi. Oleh karena pemahaman yang demikian, masyarakat beranggapan bahwa mereka tidak perlu mencatatkan semua yang terjadi dalam proses perkawinan, perceraian, dan rujuk. Akibatnya perkawinan dan perceraian di Lombok barat, menjadi tumbuh subur.
3. Muzakki, “Kawin Cerai Etnik Suku Sasak (Studi Di Kecamatan Suralaga Lombok Timur)”. Dari hasil penelitian yang dilakukan, peneliti
12 Abdul aziz, Praktek Kawin Cerai Dibawah Tangan Dan Implikasi Sosialnya Bagi Masyarakat Lombok Barat, Tesis Studi Magister Hukum Keluarga Islam, (Mataram, Pascasarjana IAIN Mataram, 2013)
13 menemukan penyebab utama terjadinya kawin cerai etnik sasak adalah tidak ada kedekatan secara emosional yang dilakukan oleh pasangan suami istri. Kemudian tidak setia kepada masing-masing pasangan juga menjadi salah satu alasan mereka melakukan perceraian. Selain itu mudahnya proses dalam melakukan pernikahan oleh karena biaya pernikahan etnik suku Sasak terbilang cukup murah dibandingkan etnik lainnya, seperti Sumatra, Jawa, dan Sulawesi. Dalam kesimpulannya peneliti menawarkan upaya untuk meminimalisir perilaku kawin cerai etnik sasak secara kultural di Kecamatan Suralaga adalah dengan mengupas kembali aplikasi kawin lari etnik sasak, dikarenakan banyak yang pararel dalam prosesinya. Kemudian apabila terjadi perceraian harus dilakukan di Pengadilan Agama supaya laki-laki tidak semaunya menjatuhkan talak terhadap istri. Selain itu menghindari kawin paksa.13 4. Diana Asri, Makna Seang Pada Masyarakat Suku Sasak Lombok (Studi
Fenomenologi Pada Masyarakat Suku Sasak Di Desa Tanjung Kecamatan Tanjung Kabupaten Lombok Utara). Dalam penelitian ini, penulis mengkaji tentang makna seang (perceraian) yang marak terjadi pada masyarakat Suku Sasak di Desa Tanjung Kabupaten Lombok Utara dan banyak dilakukan di luar Pengadilan Agama. Menurutnya, Seang adalah ciri khas perceraian yang digunakan oleh masyarakat Suku Sasak, oleh sebab itu seang masih tetap dipelihara dan dipertahankan hingga saat ini. Pemahaman akan seang pada masyarakat Suku Sasak berbeda,
13 Muzakki, Kawin Cerai Etnik Suku Sasak, Jurnal (Sosio Edukasi: Vol. 1, No 2, Desember 2018)
14 didasari pada bagaimana sosialisasi primer dan sekunder yang diterima oleh masyarakat Suku Sasak. Hasil penelitian ini menunjukan adanya perbedaan makna seang di dalam masyarakat Suku Sasak terdapat makna yaitu: Pertama, seang sebagai adat yang harus dipatuhi. Dan Kedua, seang sebagai cara pereceraian bagi pasangan yang menikah secara sirih.
Seang merupakan ciri khas dari masyarakat Suku Sasak, selain itu masyarakat Suku Sasak mengatakan seang diadopsi dari syari’at Islam, maka dari itu seang kemudian menurut masyarakat dibenarkan sebagai perceraian yang dipelihara dan tetap digunakan oleh masyarakat Suku Sasak, khususnya di Desa Tanjung Kecamatan Tanjung Kabupaten Lombok Utara.14
5. Tristanti Apriyani, Merariq-Beseang: Studi Tentang Kawin Cerai dan Implikasinya Pada Masyarakat Sasak di Desa Gelanggang Kecamatan Sakra Timur Kabupaten Lombok Timur, Dalam penelitiannya penulis memfokuskan pada mengapa masyarakat Suku Sasak di Desa Gelanggang melakukan kawin-cerai, lalu bagaimana masyarakat Suku Sasak dalam memandang perkawinan dan perceraian, serta implikasi perilaku kawin-cerai terhadap pelaku kawin-cerai, anak, orang tua pelaku dan keluarga luar. Hasil penelitiannya menjelaskan bahwa sebagian dari Desa Gelanggang yang sudah menikah tidak memiliki akta pernikahan sebagai bentuk legalisasi perkawinannya. Mereka hanya mencatatkan pernikahannya kepada Petugas Pencatat Peristiwa Nikah (P3N). Begitu
14 Diana Asri, Makna Seang Pada Masyarakat Suku Sasak Lombok; Studi Fenomenologi Pada Masyarakat Suku Sasak Di Desa Tanjung Kecamatan Tanjung Kabupaten Lombok Utara.
(Malang, Universitas Brawijaya, 2018).
15 pula dengan perceraian, proses pereceraian kebanyakan tidak dilakukan di Pengadilan Agama, karena dianggap sangat rumit dan mahal. Dalam penelitian ini juga menjelaskan bahwa perkawinan dan perceraian dapat dijadikan legitimasi atas hegemoni laki-laki terhadap perempuan dalam bingkai kultural dan agama, serta struktur sosial. Dalam perkawinan dan perceraian masyarakat Sasak terlihat superioritas laki-laki atas perempuan. Perempuan dalam perkawinan dan perceraian selalu dikondisikan dalam posisi yang lemah. Oleh karena itu ketergantungan akan jaminan hidup dalam perkawinan membuat istri menerima apapun resiko yang terjadi dalam perkawinannya baik dimadu ataupun diceraikan. Akan tetapi bagi perempuan yang memiliki latarbelakang pendidikan yang memadai lebih memilih menggugat cerai suaminya di Pengadilan Agama. Selain itu peristiwa kawin-cerai menyebabkan dampak negatif dalam hal kesejahteraan anak-anak dari orang tua yang bercerai. Salah satunya jika ibu atau ayah anak tersebut menikah lagi mereka akan cendrung tidak ikut tinggal dengan ayah atau ibu tiri mereka, melainkan dengan keluarga dari ayah atau ibu sehingga anak tidak dapat menikmati peroses perkembangan mental seperti anak-anak yang lainnya.15
Sedang dalam penelitian ini sebagaimana yang diketahui, melihat aktivitas kehidupan manusia yang terlahir sebagai mahluk sosial, tentu sering kali dihadapkan dengan berbagai macam persoalan yang terjadi dan melekat
15 Tristanti Apriyani, Merariq-Beseang: Studi Tentang Kawin Cerai dan Implikasinya Pada Masyarakat Sasak di Desa Gelanggang Kecamatan Sakra Timur Kabupaten Lombok Timur, Tesis (Pascasarjana Universitas Gajah Mada, 2005)
16 dalam diri masing-masing orang. Terutama yang berkaitan dengan masalah keluarga, adakalanya persoalan tersebut bersumber dari perilaku seseorang, kadang pula timbul akibat pemahaman yang bertolak belakang, serta banyak lagi penyebab lain yang dapat mengakibatkan retaknya suatu hubungan.
Kebanyakan dari kalangan pengamat sosial menyebutkan mengenai sumber atas semua persoalan yang terjadi dalam kehidupan manusia terutama yang berkaitan dengan masalah perceraian, disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya faktor ekonomi, sosial, dan budaya (hukum, agama, dan pendidikan).16 Dalam kaitannya dengan persoalan hukum dan agama, perceraian ini senantiasa menjadi objek kajian yang tidak pernah sepi diperbincangkan oleh para cendikia, baik yang fokus dibidang agama maupun dalam bidang hukum. Isu-isu yang muncul terkait dengan perceraian hingga saat ini masih menjadi perdebatan dan menimbulkan pro-kontra pemikiran.
Di satu sisi terdapat paham yang berpihak pada aturan normatif-doktrin teks suci keagamaan, namun di sisi lain terdapat pula pemahaman yang berpihak pada tuntutan sosio-kultural yang berkembang sesuai dengan zamannya.17
Pada dasarnya dalam syari’at Islam menerangkan bahwa prosedur sebelum terjadinya perceraian, harus ditempuh terlebih dahulu cara-cara untuk dapat mendamaikan kedua belah pihak. Islam juga mengijinkan untuk seseorang melakukan perceraian dalam keadaan dan kondisi tertentu sebanyak dua kali, dengan harapan agar kedua belah pihak dapat berdamai
16 Norma Permata, Metodologi Studi Agama, Cet.1 (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2000), Hlm.29
17 Deden Ridwan, Tradisi Baru Penelitian Agama Islam, Tinjauan Antar Disiplin Ilmu, Cet.1 (Bandung: Nuansa, 2001) Hlm.203
17 dan rujuk kembali serta memperbaiki keretakan yang terjadi dalam rumah tangga mereka. Akan tetapi apabila tidak memiliki hasil atas upaya untuk mendamaikan tersebut, maka dalam perceraian yang ketiga kalinya, Islam mengharamkan untuk rujuk kembali.
Demikian pula permasalahan mengenai perceraian yang terjadi di kalangan masyarakat nelayan khususnya di wilayah Tanjung Luar, salah satu Desa di Kecamatan Keruak Kabupaten Lombok Timur. Terjadinya perceraian yang secara tiba-tiba seolah telah mentradisi dalam kehidupan mereka.
Ketidakharmonisan dalam hubungan keluarga yang dipicu oleh beragam persoalan, menjadi alasan utama timbulnya keinginan untuk berpisah. Selain itu kurangnya tingkat pengetahuan dan pendidikan yang didapat juga berdampak pada rendahnya kemampuan masyarakat dalam menemukan problem solving saat terjadinya percekcokan dalam berumah tangga.
Sehingga timbul rasa putus asa dalam mempertahankan hubungan dan berkeinginan untuk melakukan sarak (perceraian). Dalam pelaksanaan perceraian pada masyarakat nelayan di Tanjung Luar dapat dilakukan baik secara lisan ataupun dalam bentuk tulisan, tetapi harus pula diketahui oleh beberapa orang saksi bahwa peerceraian tersebut benar-benar telah terjadi.
Dari semua hasil karya penelitian yang penulis sebutkan di atas, tidak ada satupun ditemukan hasil penelitian yang sama fokus bahasannya dengan pembahasan pada penelitian yang sedang penulis lakukan. Terlebih penelitian yang membahas mengenai praktek sarak (perceraian) yang terjadi pada masyarakat nelayan di wilayah Tanjung Luar Kabupaten Lombok Timur.
18 Hasil penelitian mengenai praktek sarak ini, diharapkan dapat memperkaya ragam studi tentang Hukum Keluarga Islam terkait perceraian yang terjadi di tengah kalangan masyarakat nelayan. Oleh karena itu penulis menganggap bahwa penelitian ini merupakan tindak lanjut dari hasil penelitian-penelitian yang dilakukan oleh peneliti lain sebelumnya.
F. Kerangka teoritik
1. Tinjauan umum tentang perceraian
Salah satu ajaran penting yang terkandung dalam Islam adalah tentang perkawinan. Bahkan saking pentingya pembahasan masalah perkawinan, Allah telah menyebutkannya dibeberapa ayat yang terdapat dalam al-qur’an dan diperkuat oleh rasulullah melalui hadits yang disampaikannya. Dalam hukum Islam sendiri telah menegaskan bahwa terjadinya perceraian hanya satu macam saja yaitu pertengkaran yang sangat memuncak dan membahayakan keselamatan jiwa yang disebut dengan أقيس. Sedangkan menurut hukum perdata perceraian hanya dapat terjadi berdasarkan alasan- alasan yang ditentukan Undang-Undang dan harus dilakukan di depan sidang pengadilan.18
Berangkat dari hal tersebut, tujuan dibentuknya Undang-Undang tentang perkawinan oleh negara, adalah untuk mengatur agar tetap berdiri tegak dan harmonisnya suatu hubungan yang dibangun melalui sebuah ikatan perkawinan. Selain itu hadirnya aturan mengenai perkawinan tersebut, negara bermaksud untuk mencegah agar tidak terjadi perpecahan dalam suatu
18 Yahya Harahap, Beberapa Permasalahan Hukum Acara Pada Peradilan Agama, (Jakarta, al-Hikam, 1975), Hlm 36
19 hubungan yang mengakibatkan putusnya ikatan perkawinan, yaitu dengan cara mempersulit masyarakat untuk melakukan perceraian. Sebab menurut Undang-Undang, bahwa perkawinan merupakan sebuah ikatan lahir batin antara laki-laki dan perempuan dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa.
Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa agama dan negara memiliki misi dan tujuan yang sama dalam hal perkawinan, yaitu menjuhinya dari kata perceraian. Dalam kaitan ini ada dua pengertian yang perlu dipahami, yaitu istilah bubarnya perkawinan dan perceraian. Pada pasal 199 kitab Undang- Undang hukum perdata menyebutkan bahawa perkawinan dapat bubar disebabkan karena; pertama, kematian salah satu pihak, kedua, keadaan tidak hadirnya salah satu pihak selam kurang lebih 10 Tahun dan disertai dengan perkawinan baru antara kedua belah pihak setelah mendapat izin dari hakim, ketiga, karena putusan hakim setelah adanya perpisahan meja dan ranjang serta pembuktian mengenai bubarnya perkawinan dalam register catatan sipil, dan keempat, karena perceraian.
Sedangkan megenai perceraian yang menjadi dasar bubarnya perkawinan adalah perceraian yang tidak didahului oleh perpisahan meja ranjang, melainkan telah ditentukan dalam pasal 209 kitab Undang-Undang hukum perdata yaitu; pertama, zina baik yang dilakukan oleh suami atau istri, kedua, meninggalkan tempat tinggal bersama dengan sengaja, ketiga, suami atau istri dihukum selama 5 Tahun penjara atau lebih yang dijatuhkan stelah perkawinan dilaksanakan, dan keempat, salah satu pihak melakukan
20 penganiayaan berat yang dapat membahayakan jiwa pihak lain (suami/istri).
Lebih lanjut lagi dalam pasal 208 KUHPerdata bahwa perceraian tidak dapat dilaksanakan berdasarkan atas persetujuan salah satu pihak yakni antara suami maupun istri.
Sebagaimana yang dipahami bahwa perceraian merupakan suatu perbuatan hukum yang dapat menimbulkan dampak luas bagi seseorang dan keluarganya. Oleh karena itu Islam pun telah mensyari’atkan mengenai ketentuan seseorang yang dapat melakukan perceraian tersebut harus memenuhi syarat-syarat diantaranya: berumur dewasa, berfikir sehat, mempunyai hak bebas, dan masih mempunyai hak talak.19
2. Kajian sosiologi hukum keluarga Islam tentang perceraian
Perubahan sosial terjadi dalam sistem sosial yang komplek, tidak berdimensi tunggal, dan meliputi perubahan nilai, norma, sikap dan pola prilaku masyarakat, termasuk perubahan pada lembaga sosial.20 Salah satu lembaga sosial penting dan mendasar yang mendapat dampak dari gelombang atas perubahan sosial tersebut adalah keluarga21. Secara sosiologis perubahan pada dimensi tersebut menjadi salah satu fenomena serius dalam peradaban dan kajian secara akademis. Dalam perspektif Islam, keluarga sebagai sistem perikatan yang suci dalam kehidupan berkelompok manusia yang
19 M. Abi Zahra, Ushul al-Fiqh, (t.t.p, Dar al-Fikh al-Arabi, t.t.), hlm 343
20 Nanang Martono, Sosiologi Perubahan Sosial Perspektif Klasik, Modern, Posmodern, Dan Poskolonial, (Jakarta, Rajawali Pers, 2011), Hlm. 4
21 Pengertian keluarga dalam beberapa Kamus Bahasa Indonesia diartikan dengan sanak saudara dan kaum kerabat, anak, istri, ibu, bapak, atau orang-orang seisi rumah yang menjadi tanggungan, atau satuan kekerabatan yang sangat mendasar dalam masyarakat., lihat juga Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta, Balai Pustaka, 1988) Hlm 413.
21 menimbulkan implikasi, seperti hak dan kewajiban, legalitas, kehormatan, dan tujuan bersama untuk mencapai keluarga sejahtera, baik dalam dimensi emosional, ekonomis, religius, maupun sosial. Dalam konteks tersebut, perubahan institusional keluarga merupakan perubahan serius yang akan berdampak kepada terjadinya perubahan pola perilaku masyarakat pada umumnya.22 Kedudukan keluarga sebagai institusi elementer dalam masyarakat, setidaknya terlihat dari beberapa indikator sebagai berikut;
Pertama, keluarga merupakan institusi sosial dasar yang universal, menjadi lembaga sosial pertama yang dibutuhkan bagi pembentukan keperibadian individu; Kedua, keluarga menjadi pusat penting bagi keberfungsian institusi sosial lain dalam masyarakat; Ketiga, keluarga sebagai elemen sosial paling penting dan prima bagi anggotanya, selain karena ikatan emosional dan intraksi yang intens, juga pengaruhnya terhadap proses sosialisasi yang intensif; Keempat, keluarga merupakan sistem yang terkait secara fungsional dengan elemen lain dan pondasi sosial bagi terbentuknya masyarakat beradab.23
Atas dasar beberapa teori di atas, dinamika perubahan sosial dan budaya pada masyarakat yang terjadi secara global saat ini, menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan yang signifikan dalam masyarakat. Terutama gejala semakin tidak epektif dan hilangnya fungsi-fungsi ideal keluarga selama ini, tidak saja terjadi pada masyarakat di kota-kota besar, namun juga telah
22 Fazlur Rahman, dalam Khoiruddin Nasution., Status Wanita di Asia Tenggara; Studi Terhadap Perundang-Undangan Perkawinan Muslim Kontemporer di Indonesia dan Malaysia, (Jakarta, INIS Leaden, 2002) Hlm 1.
23Kamanto Sunarto, Pengantar Sosiologi, (Jakarta, Penerbitan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2004). Hlm. 65.
22 melanda masyarakat desa-desa yang ada di Indonesia, termasuk masyarakat nelayan yang berada di kawasan pesisir.
Selain itu teori sosiologi juga tidak hanya berurusan dengan permasalahan yang berkaitan dengan perubahan sosial, melainkan ada banyak masalah-masalah sosiologis lain yang sama pentingnya untuk diperhatikan.
Teori sosiologi juga tidak hanya memberikan formula untuk menginterpretasi kenyataan sosial atau meramal soal masa depan, ataupun meberikan jalan keluar terhadap isu-isu intelektual terhadap masalah baru yang dihadapinya.
Dalam teori ilmu sosiologi, perkawinan digambarkan sebagai pertukaran hak dan kewajiban, sama-sama saling merelakan antara laki-laki dan perempuan.24 Terbentuknya suatu ikatan dalam sebuah perkawinan tentu memerlukan kesepakatan bersama dalam mendukung proses terjadinya pertukaran tersebut. Dan apabila selama proses pertukaran ada ditemukan suatu ketidakseimbangan dalam arti salah satu pihak ada yang merasa dirugikan, maka hal tersebut dapat memicu permasalahan yang mengakibatkan putusnya ikatan perkawinan.
Dalam perkembangan sekarang ini dapat dikatakan bahwa masyarakat tidak memandang perceraian sebagai sesuatu yang tabu, artinya perbuatan tersebut bukan sesuatu yang memalukan dan seharusnya dihindari. Dalam hal ini para serjana hukum Islam berpendapat bahwa penilaian atau pandangan yang menganggap perceraian itu sebagai suatu pernyataan kegagalan adalah bias. Dikarenakan perkawinan terbentuk dari perbedaan kepentingan,
24 Sudirman Tebba, Sosiologi Hukum Islam (Yogyakarta: UII Press Indonesia 2003) Hlm. 2
23 keinginan, kebutuhan, dan nafsu serta dari latar belakang sosial budaya dan ekonomi yang juga berbeda. Ketegangan dan ketidak bahagiaan adalah lazim terjadi pada setiap perkawinan. Akhirnya pada tingkat tertentu mayarakat dapat memberikan toleransi umum dan memahami bahwa perceraian adalah merupakan salah satu langkah yang harus ditempuh bagi penyelesaian akhir dari perselisihan antara suami dan istri.25
Secara umum yang menjadi penyebab munculnya persoalan dalam rumah tangga adalah pengabaian terhadap kewajiban masing-masing. Hal ini bisa terjadi dikarenakan salah satu dari pasangan terlalu sibuk dengan kegiatan yang dilakukan di luar rumah. Persoalan keuangan juga tampaknya menjadi masalah tersendiri bagi pasangan sebelum terjadinya perceraian, kurangnya penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari juga dapat dijadikan alasan bagi pasangan untuk melakukan perceraian. Kemudian hal lain yang dapat menimbulkan masalah yakni ketidak cocokan dalam berhubungan seksual juga termasuk dalam problematika yang melanda masing-masing pasangan, misalnya terjadi penolakan oleh pihak yang satu ketika pihak lainnya ingin melakukan hubungan badan. Sehingga atas dasar ketidakpuasan inilah timbul hasrat untuk melakukan perselingkuhan, sebab salah satu dari pasangan merasa tidak mendapatkan nafkah secara biologis.26 Selain masalah tersebut di atas, hal lain yang dapat menimbulkan perceraian juga bisa terjadi akibat ketidakcocokan pasangan dalam beradaptasi dengan keluarga baik
25 Brian Morris, Terjemahan Imam Khoiri, Antropologi Agama Kritik Tori-Teori Agama Kontemporer (Yogyakarta: AK Group, 2003) Hal.79
26 T.O Ikhromi, Bunga Rampai Sosiologi Keluarga, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2004) hlm. 153-155
24 pihak suami maupun istri. Dalam hal ini tidak jarang ditemukan kasus perceraian yang terjadi, dan didasari oleh keterlibatan pihak keluarga.
3. Stratifikasi Sosial Masyarakat Nelayan Desa Tanjung Luar 1. Konsep Stratifikasi Sosial
Masyarakat nelayan merupakan sekumpulan individu yang membentuk sistem sosial tertentu dan secara bersama-sama memiliki tujuan bersama, hidup dalam satu wilayah tertentu dengan batas daerah tertentu, serta memiliki pemerintahan untuk mengatur tujuan-tujuan yang hendak dicapai.
Sebagai suatu perkumpulan yang tinggal di kawasan pesisir, kehiduppan masyarakat nelayan mempunyai karakteristik sosial tersendiri yang berbeda dengan kehidupan masyarakat lain pada umumnya. Karakter masyarakat nelayan dapat dilihat dari kondisi sumberdaya yang beresiko, sehingga hal tersebut yang menyebabkan nelayan memiliki karakter keras, tegas, dan terbuka.
Kemudian dalam perkembangan yang terjadi di tengah kalangan masyarakat nelayan pun telah membentuk sebuah struktur yang jelas, yaitu terbentuknya suatu kebiasaan-kebiasaan, cara, nilai/norma dan adat istiadat.
Juga ragam kebudayaan yang dimiliki beserta nilai-nilainya yang hingga kini masih kuat, tentu akan tetap dipertahankan guna sebagai khasanah kekayaan budaya yang merupakan warisan dari para leluhur mereka. Struktur sosial yang terbentuk inilah yang kemudian lama kelamaan menyebabkan adanya spesialisasi dalam masyarakat yang mengarah pada terciptanya status sosial yang berbeda antara individu yang satu dengan lainnya. Sehingga apabila
25 dilihat dari beberapa kawasan nelayan yang relatif berkembang pesat, dapat dikatakan struktur masyarakatnya cendrung bersifat heterogen, memiliki etos kerja yang tinggi, solidaritas yang kuat, serta terbuka dalam menghadapi perubahan dan interaksi sosial lainnya.
Kusnadi dalam tulisannya, menjelaskan mengenai karakteristik yang menjadi ciri sosial masyarakat nelayan adalah memiliki struktur relasi patron- klien sangat kuat, etos kerja yang tinggi, memanfaatkan kemampuan diri dan adaptasi optimal, kompetitif, apresiatif terhadap keahlian, kekayaan dan kesuksesan hidup, terbuka dan ekspresif, memiliki solidaritas sosial yang tinggi, mempunyai sistem kerja berbasis gender (laut menjadi ranah laki-laki dan darat adalah ranah kaum perempuan), dan berperilaku konsumtif.27
Secara teoritis, memang manusia dianggap sederajat, akan tetapi melihat realitas adanya lapisan sosial dalam masyarakat, maka pada kenyataannya strata sosial tidak dapat dihindarkan. Oleh karenanya pembedaan atas lapisan merupakan gejala universal yang merupakan bagian dari sistem sosial setiap masyarakat. Begitu pula dengan kehidupan sosial masyarakat nelayan di Desa Tanjung Luar, dapat dikatakan sama dengan kehidupan masyarakat lain pada umumnya yang masih erat kaitannya dengan kondisi sosial budaya yang bersifat feodal. Sebagaimana yang diungkapkan Koentjaraningrat, bahwa dalam realitas kehidupan masyarakat pada umumnya, hingga saat ini masih menilai dan membeda-bedakan antara orang yang terdiri dari pegawai negeri, kaum terpelajar, juragan nelayan, juga mereka yang memiliki status dan
27 Kusnadi, Pembangunan Wilayah Pesisir Terpadu, (Yogyakarta, Graha Ilmu, 2015. Hlm.
39
26 kedudukan sosial tinggi dengan orang lain yang disebut dengan wong cilik, seperti buruh nelayan, tukang, dan pekerja kasar lainnya.28
Berangkat dari hal tersebut di atas, perbedaan status sosial ditengah kalangan masyarakat nelayan tentunya diikuti pula oleh perbedaan peran yang dimiliki sesuai dengan status sosial yang melekat pada diri mereka.
Perbedaan inilah yang menimbulkan adanya pelapisan sosial yang lebih dikenal dengan istilah stratifikasi sosial (social stratification). Stratifikasi sosial merupakan suatu konsep dalam ilmu sosiologi yang melihat bagaimana anggota masyarakat dibedakan berdasarkan status yang dimilikinya. Status yang dimiliki tersebut bisa didapat dengan suatu usaha (achievement status), dan ada pula yang didapat tanpa suatu usaha, tetapi berdasarkan keturunan (ascribed status).29 Konsep mengenai stratifikasi sosial ini pada umumnya merupakan gejala yang dapat ditemukan pada setiap lapisan masyarakat, perbedaan lapisan tersebut merupakan suatu gambaran sosial dalam proses pembentukan masyarakat secara struktur. Dari perbedaan lapisan sosial tersebut dapat membentuk stratifikasi sosial berdasarkan status dan kedudukan yang dimilikinya.
Stratifikasi sosial pada kenyataannya adalah seperangkat kerangka konseptual bagaimana memhami dan mendefinisikanya sebagai salah satu aspek dari organisasi sosial. Cara yang paling mudah untuk memahami pengertian dari konsep stratifikasi sosial adalah, dengan berpikir membanding-bandingkan kemampuan dan apa yang dimiliki oleh anggota
28 Koentjaraningrat, 2007 hlm 66.
29 Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar (Jakarta, Rajawali Press, 2003) Hlm.132
27 masyarakat yang satu dengan anggota masyarakat lainnya. Sehigga disadari atau tidak, pada saat mulai membedakan kemampuan individu yang satu dengan yang lainnya kedalam suatu golongan tertentu, maka disaat itu pula sudah dapat dilihat tingkat golongan masyarakat dengan lapisan-lapisan sosial tertentu, juga dengan status yang dimilikinya.30 Stratifikasi dapat terjadi dengan sendirinya sebagai bagian dari proses pertumbuhan masyarakat, juga dapat dibentuk agar tercapainya tujuan bersama. Faktor yang menyebabkan stratifikasi sosial dapat tumbuh dengan sendirinya adalah kepandaian, usia, sistem kekerabatan, dan harta dalam batas-batas tertentu.
Selanjutnya, dalam beberapa literatur kemudian dijelaskan bahwa secara umum stratifikasi sosial dibagi menjadi tiga jenis, ada stratifikasi sosial tertutup, terbuka, dan campuran. Pertama, Stratifikasi tertutup merupakan stratifikasi yang dimana tiap-tiap anggota masyarakat tersebut tidak dapat pindah dari strata atau tingkatan sosial yang lebih tinggi atau lebih rendah, misalkan sistem kasta di india, bali, Lombok, dan jawa; yaitu adanya klasifikasi antara golongan bangsawan dengan masyarakat golongan biasa.
Kemudian yang kedua, stratifikasi sosial terbuka, merupakan sistem stratifikasi yang dimana setiap anggota masyarakatnya dapat berpindah- pindah dari suatu strata ke strata yang lain, misalnya seperti tingkat pendidikan, jabatan, kekuasaan, kekayaan, dan lain-lain. Seseorang yang awalnya miskin dan bodoh bisa merubah kondisi sosialnya menjadi lebih baik dengan cara berusaha, bekerja, sekolah, kuliah, kursus dan sebagainya yang
30 J. Dwinarwoko & Bagong Suyanto, Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan, (Jakarta, Kencana Perdana Media Group, 2010) Hlm.175
28 bisa mengasah keterampilan, sehingga dengan modal tersebut bisa mendapatkan tempat bekerja yang layak dengan penghasilan tinggi. Dan ketiga, strtifikasi sosial campuran yang merupakan kombinasi antara stratifikasi sosial tertutup dan terbuka.31
Lebih lanjut Soerjono soekanto mengungkapkan, selama dalam suatu masyarakat ada sesuatu yang dihargai, maka hal tersebut akan menjadi cikal bakal timbulnya sistem pelapisan yang ada dalam masyarakat.32 Sesuatu yang dihargai tersebut, bisa jadi berupa uang atau benda yang bernilai ekonomis, atau bisa juga berupa benda lain berupa tanah, kekuasaan, ilmu pengetahuan, kesholehan dalam beragama, dan garis keturunan dari keluarga yang terhormat. Dengan demikian, tinggi rendahnya seseorang dalam sebuah sistem stratifikasi sosial tergantung pada status sosial yang melekat pada diri orang tersebut. Selain itu status sosial yang dimiliki seseorang juga dapat diperoleh berdasarkan penilaian dan pengakuan dari masyarakat yang ada di lingkungan sekitarnya.
2. Stratifikasi Sosial Dalam Masyarakat Nelayan
Sebagai suatu kesatuan sosial, masyarakat nelayan hidup dan berkembang diwilayah pesisir atau wilayah pantai. Dalam konstruksi sosial masyarakat dikawasan pesisir, masyarakat nelayan merupakan bagian dari konstruksi sosial tersebut. Meskipun disadari bahwa tidak semua Desa yang ada di kawasan pesisir memiliki penduduk yang bermatapencaharian sebagai nelayan. Walaupun demikian, sebagian besar penduduk Desa yang ada di
31 Soerjono Soekanto, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakrta, Rajawali, 1982) hlm 208.
32 Soerjono., Sosiologi, hlm 133
29 kawasan pesisir tersebut bermatapencaharian sebagai nelayan, petambak, atau pembudidaya perairan, kebudayaan nelayan berpengaruh besar terhadap pembentukan identitas kebudayaan masyarakat pesisir secara keseluruhan.
Baik itu nelayan, petambak, maupun pembudidaya perairan merupakan kelompok-kelompok sosial yang langsung berhubungan dengan pengelolaan sumber daya pesisir dan kelautan.
Berdasarkan atas pemaparan sebelumnya, dapat dipahami bahwa dalam stratifikasi sosial memiliki ukuran yang bisa dilihat secara jelas dengan cara membanding-bandingkan proses pembentukan lapisan sosial pada setiap masyarakat yang beranekaragam. Sehingga hal ini nantinya menciptakan beberapa tipologi masyarakat yang mempunyai karakteristik masing-masing, mulai dari masyarakat sederhana hingga masyarakat yang bentuknya kompleks dan memiliki dampak yang dapat mempengaruhi sistem sosial kehidupan masyarakat sekitar. Pemberian status kelas sosial ini tentunya berbeda-beda, yang dimana kelas sosial dimaksud dapat diartikan sebagai suatu lapisan orang-orang yang berkedudukan dalam kontinum status sosial yang sama, serta menilai diri mereka lebih tinggi dari beberapa orang lainnya.33
Penggolongan sosial dalam masyarakat nelayan menurut kusnadi pada dasarnya dapat ditinjau dari tiga sudut pandang; Pertama, dari segi penguasaan alat produksi atau peralatan tangkap (perahu, jaring, dan perlengkapan lainnya). Dalam hal ini struktur masyarakat nelayan terbagi atas
33 Paul B Horton Chester L Hunt, Sosiologi, Ed-6, (Surabaya, Pt Gelora Aksara Pratama, 1984) Hlm 5
30 dua kategori, yakni nelayan pemilik dan nelayan buruh. Nelayan buruh tidak memiliki peralatan, mereka hanya menyumbangkan jasa tenaganya dengan memperoleh hak-hak yang sangat terbatas. Kedua, ditinjau dari tingkat skala investasi modal usahanya, dalam hal ini struktur masyarakat nelayan terbagi atas kategori nelayan besar dan nelayan kecil. Disebut nelayan besar, karena jumlah modal yang diinvestasikan dalam usaha perikanan relatif banyak, sedangkan pada nelayan kecil justru sebaliknya. Dan Ketiga, dipandang dari tingkat teknologi peralatan tangkap yang digunakan, masyarakat nelayan terbagi kedalam kategori nelayan moderen, dan nelayan tradisional. Nelayan- nelayan moderen menggunakan teknologi penangkapan yang lebih canggih dibandingkan dengan nelayan tradisional.34
Pola stratifikasi pada mayarakat nelayan terdiri atas; pertama, golongan pemilik kapal (pemodal) atau diistilahkan “toke”, dan kedua, golongan yang tidak memilik modal lain diantaranya tenaga dan keahlian. Golongan yang memiliki keahlian dimaksud seperti nahkoda dan tehnisi, sedang yang memiliki modal tenaga adalah yang berperan sebagai pekerja diluar fungsi tersebut. Golongan yang memiliki modal keahlian dan tenaga ini biasanya dikenal dengan istilah pandega (buruh). Golongan ini yang apabila semakin besar pendapatan mereka, maka akan semakin bear pula kemungkinan menempati posisi yang tinggi dalam stratifikasi sosial. Sebaliknya, semakin kecil dan semakin tidak strategis peranan dalam organisasi penangkapan ikan tersebut, maka semakin rendah pula posisi dalam masyarakat. Berbeda
34 Kusnadi, Pembangunan Wilayah Pesisir Terpadu, 2015 hlm 85
31 dengan juragan, dalam konteks ini akan senantiasa mempunyai posisi yang lebih tinggi dari pada nelayan pandega (buruh).35 Artinya, penentuan status seseorang yang terjadi pada masyarakat pesisir dipengaruhi oleh jenis pekerjaan dan perbedaan tingkat pendapatan ekonomi masing-masing orang.
Selain itu adalah faktor pendidikan dan garis keturunan keluarga terhormat juga menjadi ukuran untuk mendapatkan status sosial di tengah kalangan masyarakat.
Dari hal tersebut di atas dapat dipahami bahwa dalam stratifikasi sosial masyarakat nelayan mempunyai ukuran berbeda, yang terdidri atas ukuran kekayaan, kekuasaan, kehormatan, dan ilmu pengetahuan. Sehingga timbulnya stratifikasi sosial atau lapisan sosial pada masyarakat nelayan dapat terbentuk dari perilaku dan kondisi masyarakat itu sendiri, baik itu sopan santun, adat istiadat, dan juga faktor lain yang dapat mempengaruhi pola kehidupan masyarakat dilingkungan sekitarnya. Begitu juga dengan kondisi sosial masyarakat nelayan Desa Tanjung Luar Kecamatan Keruak.
Dalam hal ini stratifikasi sosial pada masyarakat nelayan di Desa tersebut terbentuk oleh karena adanya ukuran kekayaan, kekuasaan, kehormatan, dan ukuran ilmu pengetahuan. Sehingga berdasarkan dari hasil pengamatan terhadap perilaku masyarakat nelayan inilah yang kemudian mengugkapkan bagaimana karakteristik sesungguhnya sehingga bisa membentuk stratifikasi sosial masyarakat nelayan di Desa Tanjung Luar. Karakter ini sendiri terbentuk secara turun temurun sehingga adanya stratifikasi sosial tersebut
35 Arif Satria, Pengantar Sosiologi Masyarakat Pesisir, (Jakarta, Pustaka Obor Indonesia, 2015) Hlm. 38
32 disebabkan oleh terjadinya intraksi sosial masyarakat nelayan yang menjadi aktivitas sehari-hari dalam kehidupan mereka. Lebih lanjut setelah terjalinnya suatu intraksi sosial, fenomena perilaku masyarakat nelayan dapat dipengaruhi oleh adanya kerjasama dan persaingan dalam kehidupan mereka sehari-hari yang tinggal di Desa Tanjung Luar.
Adapun sebagian ciri-ciri perilaku sosial masyarakat nelayan adalah sebagai berikut:36
1. Etos kerja yang tinggi untuk memenuhi kebutuhan hidup dan mencapai kemakmuran
2. Kompetitif dan mengandalkan kemampuan diri untuk mencapai keberhasilan
3. Apresiasi terhadap prestasi seseorang dan menghargai keahlian.
4. Terbuka dan ekspreif sehingga cendrung sedikit kasar
5. Solidaritas sosial yang kuat dalam menghadapi ancaman bersama atau membantu sesama ketika menghadapi musibah
6. Kemampuan adaptasi dan bertahan hidup yang tinggi 7. Bergaya hidup konsumtif
8. Demonstratif dalam harta benda (emas, perabotan rumah tangga, kendaraan, bangunan rumah, dan sebagainya) sebagai manifestai keberhasilan hidup.
9. Agamis, dengan sentimen keagamaan yang tinggi 10. Tempramental, khususnya jika terkait dengan harga diri.
Orang pesisir memiliki orientasi yang kuat untuk meningkatkan kewibawaan atau status sosial. Mereka sendiri mengakui bahwa mereka cepat marah, mudah tersinggung, lekas menggunakan kekerasan, dan gampang
36 Kusnadi, Jaminan Sosial Nelayan (yogyakarta, LkiS, 2007)., hlm. 96
33 balas membalas sampai dengan pembunuhan. Selain itu orang pesisir memiliki rasa harga diri yang amat tinggi dan sangat peka.
3. Stratifikasi dan Peran Gender Pada Masyarakat Nelayan Desa Tanjung Luar.
Wilayah pesisir adalah kawasan yang kehidupan masyarakatnya memiliki ciri khas tersendiri, tidak terkecuali kehidupan masyarakat nelayan yang ada di Desa Tanjung Luar Kecamatan Keruak Kabupaten Lombok Timur. Setiap harinya masyarakat di wilayah tersebut lebih banyak didominasi oleh kaum perempuan dan anak-anak, dikarenakan suami dan remaja laki-laki mereka bekerja meninggalkan rumah untuk pergi melaut. Dalam kehidupan sehari- hari masyarakat nelayan, seorang laki-laki selalu dikaitkan dengan fungsi dan tugas di luar rumah, sedangkan perempuan yang kodratnya melahirkan, fungsi dan tugasnya berada di dalam rumah mengerjakan urusan domestik saja. Dalam hal ini bagi masyarakat nelayan, patriarki dipandang sebagai hal yang tidak perlu dipermasalahkan, karena hal tersebut selalu dikaitkan dengan kodrat dan kekuasaan yang tidak terbantahkan. Bahwa dalam hal ini kepercayaan masyarakat terhadap tuhan yang telah menetapkan adanya perbedaan laki-laki dengan perempuan, sehingga dalam menjalankan roda kehidupan pun diatur berdasarkan perbedaaan teersebut. Ditambah lagi faktor agama yang digunakan untuk memperkuat kedudukan kaum laki-laki. Selain itu determinisme biologis juga telah memperkuat pandangan tersebut, artinya bahwa secara biologis perempuan dan laki-laki terlahir berbeda, maka fungsi- fungsi sosial ataupun kerja dengan masyarakat juga diciptakan berbeda-beda.