Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana
Pendidikan (S.Pd)
Oleh:
RIDHA DELVIANA NIM. 1113018200045
JURUSAN MANAJEMEN PENDIDIKAN FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2017
i ABSTRAK
Ridha Delviana, NIM: 1113018200045. Tingkat Kepuasan Peserta Didik Terhadap Kegiatan Ekstrakurikuler Pramuka di SMKN 41 Jakarta Selatan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan tingkat kepuasan peserta didik terhadap kegiatan ekstrakurikuler pramuka di SMKN 41 Jakarta Selatan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif menggunakan analisis deskriptif untuk mengetahui tingkat kepuasan peserta didik terhadap kegiatan ekstrakurikuler pramuka. Teknik pengambilan sampel yaitu purposive sampling dengan populasi sebanyak 30%
dari jumlah siswa yaitu berjumlah 60 responden. Instrumen penelitian yang digunakan adalah angket dengan bentuk pilihan yang menggunakan skala likert dengan 5 alternatif pilihan jawaban.Instrumen dalam uji reliabilitas menggunakan rumus Alpha Cronbach dan memperoleh koefisien reliabilitas sebesar 0,949 kemudian dapat dinyatakan instrumen yang reliable. Teknik analisa data menggunakan analisis deskriptif yang dituangkan dalam bentuk persentase tingkat kepuasan peserta didik terhadap kegiatan ekstrakurikuler pramuka di SMKN 41 Jakarta Selatan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa peserta didik cukup puas terhadap kegiatan ekstrakurikuler pramuka. Hal ini terlihat ketika hasil yang diperoleh melalui alternatif jawaban angket yaitu perbandingan antara jawaban setuju dan ragu-ragu memiliki selisih tidak berjauhan. Namun secara rinci melalui 5 dimensi yakni dimensi kehandalan (73,65%), dimensi ketanggapan (77%), dimensi keyakinan (76,88%), dimensi empati (76,47%), dan dimensi berwujud (67,91%).
Dari hasil tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa dimensi yang memiliki presentase tertinggi ada pada dimensi ketanggapan yaitu (77%) dan yang memiliki persentase terendah adalah dimensi berwujud yaitu (67,92%). Berikut rekomendasi yang dapat diberikan agar kegiatan ekstrakurikuler pramuka disekolah dapat berjalan dengan maksimal.Pertama, kepala sekolah harus selalu meningkatkan layanan kegiatan ekskul disekolah.Kedua, pelatih/Pembina ekstrakurikuler turut memberikan pelayanan yang terbaik.Ketiga, peningkatan sarana dan prasarana yang menunjang kegiatan ekstrakurikuler pramuka SMKN 41 Jakarta Selatan.
Kata kunci: Tingkat Kepuasan Peserta Didik, Kegiatan Ekstrakurikuler Pramuka
ii
ABSTRACT
RidhaDelviana, NIM: 1113018200045. The Level of Student's Satisfaction OnScout Extracurricular Activity at SMKN 41 South Jakarta.
This research aims to determine and describe the level of student's satisfaction onscout extracurricular in SMKN 41 South Jakarta. The method used in this research is quantitative research method using descriptive analysis to know the level of student's satisfaction on scout extracurricular. The sampling technique used in this research is purposive sampling with 30% population of 60 respondents. The research instrument used is a questionnaire with choice form by using Likert scale with 5 alternative answer options.The used instrumentin reliability test isCronbach Alpha formula which can obtain reliability coefficient of 0.949 then the instrument can be calledas reliable instrument at that time. The technique used in data analysis is descriptive analysis which formed in the percentage level of student's satisfaction onscout extracurricularat SMKN 41 South Jakarta.
The results showed that students were quite satisfied with the extracurricular activities of Scout. This is seen when the results obtained through alternative answers questionnaire that is the comparison between the agreed and hesitant answers have the difference not far apart. Sthrough 5 dimensions namely, reliability dimension (73.65%), responsiveness dimension (77%), belief dimension (76.88%), empathy dimension (76.47%), and tangible dimensions (67.92%). It can be concluded based on the result that the dimension that has the highest percentage is dimensionof responsiveness with satisfied categorization (77%). on the other hand, dimension that has the lowest percentage is intangible dimension with satisfied categorization (67.91%). These are some recommendations which can be given to scouts extracurricular at this school in order that scout extracurricularcan run well. First, the principal should always improve the services of school activities. Second, the coach extracurricular also provide the best service, Third, thefacilities and infrastructuresmust be improved to supportthe activities of scout extracurricular in SMKN 41 South Jakarta.
Keywords: Level of Student Satisfaction, Extracurricular Scout Activity
iii
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur senantiasa penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala limpahan Rahmat, Anugrah dan KaruniaNya kepada penulis, sehingga dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini sebagai syarat dalam mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan. Shalawat serta salam semoga senantiasa terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat dan umatnya hingga akhir zaman.
Melalui segenap usaha, doa, serta penantian yang tidak sebentar, akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini, tentu dengan bantuan, arahan, bimbingan, serta motivasi dari berbagai pihak. Dengan segala kerendahan hati penulis menyampaikan rasa terima kasih sedalam-dalamnya, kepada :
1. Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, MA. Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta;
2. Dr. Hasyim Asy’ari, M.Pd. Ketua Jurusan Manajemen Pendidikan dan Dosen Pembimbing I, yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikirannya dalam membantu, membimbing, dan mengarahkandalam penulisan skripsi;
3. Dr. H. Zainul Arifin Yusuf, M.Pd. Dosen Pembimbing II penulisan skripsi, yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikirannya dalammembimbing membantu, mengarahkan, dan memotivasi penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini;
4. Dr. Zahruddin, Lc., M.Pd selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikirannya dalammembimbing penulis selama menjalani perkuliahan dan penyelesaian skripsi ini;
5. Seluruh Dosen dan Staff Program Studi Manajemen Pendidikan yang telah mendidik, membimbing dan memotivasi serta memberikan pelayanan yang baik kepada penulis selama menjalani perkuliahan;
6. Kepala Sekolah SMKN 41 Jakarta Selatan Desly Wahyuni, M.Pd, Misdali, S.Pd., M.Siselaku Pembina Pramuka dan Aditya Rama, S.Pd selaku Wakil Bidang Kesiswaanserta Guru-guru dan Staff Tata Usaha yang telah memberikan izin kepada penulis untuk dapat melakukan penelitian, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi;
iv
7. Ayahanda tercinta H. Murtanih S.Pd dan Ibunda tercinta Hj. Sri Mulyani atas segala doa, kasih sayang,kesabaran, motivasi, nasehat, serta dukungan moral maupun materill sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini;
8. Kakak dan Adik tercinta Rahmat Fitriyadi, Fajar Septian Aditya, Nurul Hidayah, Shareefa Putri dan Regina Silvia Ramdiani, yang telah memberikan kasih sayang, doa, motivasi serta dukungan baik moral maupun materil kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini;
9. Keponakan tercinta, Adinda, Alby, Atha, Azzam, dan Adiba yang telah memberikan semangat ketika penulis mulai jenuh dalam penulisan skripsi ini;
10. Motivator tersabar Ahmad Wafi, yang selalu bersedia meluangkan waktunya untuk mendoakan, menemani, membantu, mendukung dan memberikan semangat kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi ini;
11. Teman-teman seperjuangan Manajemen Pendidikan 2013 khususnya kelas B dan terkhusus sahabat tercinta (Sholeha, Lael, Anggi, Ocha, Windy, Ovie, Eci, Atik, Idah, Nisa,Yulis, Yayah, Rafli, Reza, dan Upi) yang selalu membantu, memberi semangat dan membuat hari-hari perkuliahan menjadi penuh kenangan;
12. Sahabat tercinta Anie, Aulia, Via, Vicka, Jilan, Ulfah, Mae, Erna dan Erni dan Teman-teman KKN SIANIDA tercinta khususnya Ocha, Siska dan Nia yang selalu memberikan support kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi;
13. Semua pihak yang telah membantu untuk menyelesaikan skripsi ini.
Akhir kata, penulis mohon maaf apabila terdapat banyak kesalahan dalam penulisan skripsi ini. Semoga skripsi ini, bisa bermanfaat untuk menambah wawasan pengetahuan khususnya bagi penulis dan umumnya bagi pembaca sekalian.
Jakarta, 24 September 2017 Penulis,
Ridha Delviana
v
DAFTAR ISI
ABSTRAK ...i
ABSTRACT ...ii
KATA PENGANTAR ...iii
DAFTAR ISI ...v
DAFTAR GAMBAR ...viii
DAFTAR TABEL ...ix
DAFTAR LAMPIRAN ...x
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ...1
B. Identifikasi Masalah. ...6
C. Pembatasan Masalah ...6
D. Rumusan Masalah ...6
E. Tujuan Penelitian...6
F. Kegunaan Penelitian ...7
BAB II KAJIAN TEORI A. Ekstrakurikuler Pramuka ...8
1. Hakikat Ekstrakurikuler ...8
a. Pengertian Ekstrakurikuler ...8
b. Tujuan dan Manfaat Kegiatan Ekstrakurikuler ...9
c. Macam-macam Kegiatan Ekstrakurikuler ...11
d. Faktor Pendukung Kegiatan Ekstrakurikuler ...13
2. Hakikat Pramuka ...14
a. Pengertian Pramuka ...14
b. Sejarah Pramuka ...15
c. Prinsip Dasar Pramuka ...18
d. Fungsi dan Tujuan Pramuka ...20
e. Metode Kepramukaan ...21
f. Penggolongan Usia dalam Gerakan Pramuka ...22
g. Pramuka Penegak ...23
h. Bentuk Kegiatan Pramuka Penegak ...24
vi
B. Kepuasan Peserta Didik ...26
1. Pengertian Kepuasan ...26
2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepuasan Peserta Didik...28
3. Teknik Pengukuran Kepuasan ...29
4. Dimensi Kepuasan terhadap Kualitas Jasa Pendidikan ...30
C. Hasil Penelitian yang Relevan ...35
D. Kerangka Berfikir ...37
BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian ...40
B. Metode Penelitian ...40
C. Populasi ...41
D. Sampel ...41
E. Teknik Pengumpulan Data ...42
F. Teknik Pengolahan Data...43
G. Teknik Analisis Data ...44
H. Instrumen Penelitian ...48
BAB IV HASIL PENELITIAN A. Gambaran Umum SMK Negeri 41 Jakarta Selatan ...52
1. Sejarah Umum ...52
2. Visi dan Misi ...52
3. Sarana dan Prasarana ...53
4. Keadaan Guru, Pegawai, dan Peserta Didik ...54
5. Profil Ekstrakurikuler Pramuka SMKN Negeri Jakarta...55
6. Struktur Pramuka SMK Negeri 41 Jakarta Selatan...57
B. Deskripsi dan Analisis Data ...58
1. Kehandalan ...58
2. Ketanggapan ...61
3. Keyakinan ...66
4. Empati ...71
5. Berwujud ...80
vii BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ...91 B. Saran...92 DAFTAR PUSTAKA ...93 LAMPIRAN-LAMPIRAN
viii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Skema Kerangka Berfikir ...39 Gambar 4.1 Struktur Pramuka SMKN 41 Jakarta Selatan ...57
ix
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Dimensi Generik yang digunakan oleh pelanggan untuk
mengevaluasi kualitas pelayanan ...33
Tabel 2.3 Review Penelitian Terdahulu ...35
Tabel 3.1 Rincian Kegiatan Penelitian ...40
Tabel 3.2 Jumlah Peserta Didik SMKN 41 Jakarta Selatan 2016-2017...41
Tabel 3.3 Scoring Alternatif Jawaban Angket ...43
Tabel 3.4 Realibilitas Instrumen ...47
Tabel 3.5 Kriteria Nilai Interval ...48
Tabel 3.6 Kisi-kisi Instrumen Penelitian Angket ...49
Tabel 4.1 Keadaan Sarana dan Prasarana SMKN 41 Jakarta Selatan ...53
Tabel 4.2 Data Guru dan Pegawai ...54
Tabel 4.3 Data Peserta Didik SMKN 41 Jakarta Selatan 2016-2017...55
Tabel 4.4 Jumlah tim inti kegiatan ekstrakurikuler pramuka tiga tahun terakhir SMKN 41 Jakarta Selatan ...56
Tabel 4.5 Pembina pramuka melatih anggota pramuka sesuai dengan Syarat Kecakapan Umum (SKU) ...58
Tabel 4.6 Pembina pramuka memberikan materi kepramukaan secara urut sesuai dengan Syarat Kecakapan Umum (SKU ...59
Tabel 4.7 Pembina pramuka memulai kegiatan pramuka tepat waktu ...60
Tabel 4.8 Pembina pramuka mengakhiri kegiatan pramuka tepat waktu ...61
Tabel 4.9 Pembina pramuka mengarahkan kegiatan kepramukaan sesuai dengan tingkat keanggotaannya ...62
Tabel4.10 Pembina pramuka memberikan latihan sesuai dengan metode kepramukaan ...62
Tabel 4.11Pembina pramuka membantu anggotanya ketika mengalami kesulitan ...63
Tabel 4.12Pembina pramuka siap dalam melayani permintaan anggota ...64
Tabel 4.13Pembina pramuka menerima setiap saran dari anggota ...64
x
Tabel 4.14Pembina pramuka menerima setiap kritik dari anggota ...65
Tabel 4.15Pembina pramuka menjamin keselamatan setiap anggota dalam setiap kegiatan baik di sekolah maupun di alam terbuka ...66
Tabel 4.16Pembina pramuka memantau para anggota dalam kegiatan praktek kepramukaan ...66
Tabel 4.17Pembina pramuka mengawasi setiap kegiatan yang ada di alam terbuka ...67
Tabel 4.18Pembina pramuka menguasai materi kepramukaan ...68
Tabel 4.19Pembina pramuka sudah memberikan materi dengan jelas kepada anggota pramuka sesuai dengan SKU ...69
Tabel 4.20Pembina pramuka menunjukkan sikap ramah pada saat kegiatan kepramukaan ...69
Tabel 4.21Pembina pramuka selalu menerapkan 5S (senyum, sapa, salam, sopan, santun) ...70
Tabel 4.22Pembina pramuka memberikan arahan ulang apabila ada anggota yang kurang memahami materi ...71
Tabel 4.23Pembina pramuka memberi kesempatan kepada peserta didik yang ingin bertanya ...71
Tabel 4.24Pembina pramuka dapat berkomunikasi dengan jelas kepada setiap anggota pramuka ...72
Tabel 4.25Pembina pramuka selalu memberikan informasi kegiatan pramuka di luar sekolah ...73
Tabel 4.26Sekolah menyediakan pembina pramuka khusus anggota pramukaputri ...74
Tabel 4.27Kegiatan pramuka mampu mengembangkan pola pikir anggota...75
Tabel 4.28Kegiatan pramuka mampu membentuk perilaku anggota...75
Tabel 4.29Kegiatan pramuka dapat membangun kreativitas dari anggota ...76
Tabel 4.30Kegiatan pramuka mampu membentuk mentalitas anggota ...77
Tabel 4.31Pembina pramuka menjalin hubungan yang baik kepada setiap anggota ...77
xi
Tabel 4.32Pembina pramuka mau mendengar dengan sungguh-sungguh
keluhan dari anggota ...78 Tabel 4.33Pembina pramuka memberikan perhatian kepada masing-
masing anggota ...79 Tabel 4.34Pembina pramuka memberikan memberikan motivasi kepada
anggota...79 Tabel 4.35Sekolah menyediakan lapangan untuk latihan kepramukaan ...80 Tabel 4.36Lapangan di sekolah layak digunakan untuk latihan
kepramukaan ...81 Tabel 4.37Sekolah menyediakan peralatan lengkap (bendera semaphore,
tongkat, tali, pluit, dll) untuk latihan kepramukaan ...82 Tabel 4.38Peralatan yang tersedia disekolah layak digunakan dalam
kegiatan kepramukaan ...82 Tabel 4.39Pembina pramuka mengenakan seragam pramuka
dengan rapi ...83 Tabel 4.40Pembina pramuka menggunakan atribut kepramukaan secara
lengkap...84 Tabel 4.41Pembina pramuka menyampaikan materi kepramukaan secara
jelas dan mudah di mengerti ...85 Tabel 4.42Pembina pramuka mempraktekkan langsung setelah pemberian
materi kepramukaan selesai ...86 Tabel. 4.43Jumlah skor tiap dimensi penelitian ...87 Tabel. 4.44Penentuan Kategori Penilaian ...87
xii
DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 → Angket Penelitian
Lampiran 2 → Hasil Wawancara
Lampiran 3 → Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Lampiran 4 → Rekapan Angka Angket
Lampiran 5 →Prestasi akademik dan non-akademik
Lampiran 6 → Struktur Organisasi Pramuka SMKN 41 Jakarta Selatan Lampiran 7 → Susunan Pengurus Pramuka SMKN 41 Jakarta Selatan Lampiran 8 → Program Kerja Pramuka
Lampiran 9 → Surat Bimbingan Skripsi Lampiran 10→ Surat Izin Penelitian
Lampiran 11→ Surat Keterangan Hasil Penelitian Lampiran 12→ Lembar Uji Referensi
Lampiran 13→ Dokumentasi Penelitian Lampiran 14→ Biodata Penulis
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan salah satu aspek yang sangat berpengaruh terhadap kemajuan bangsa. Suatu bangsa dapat melakukan perubahan yang lebih baik apabila didalamnya terdapat sumber daya manusia yang berkualitas.
Dengan demikian, kualitas yang memadai dan output merupakan sesuatu yang harus dihasilkan oleh sekolah maupun madrasah sebagai satuan pendidikan yang tujuan dasarnya adalah menyiapkan manusia-manusia berkualitas baik secara intelektual, integritas, maupun perannya dalam kehidupan bermasyarakat.1 Dalam Undang-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3 menjelaskan bahwa:
Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik, agar menjadi manusia yang beriman, bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.2
Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal mempunyai peran dalam pembentukan karakter, pengembangan potensi serta pengetahuan peserta didik.Sekolah merupakan tempat kedua pendidikan peserta didik yang dilakukan melalui program intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler.
Dengan demikian tujuan Pendidikan Nasional yang ingin menciptakan manusia Indonesia yang cerdas dan berakar pada budaya bangsa, disamping dilaksanakan melalui program kurikuler perlu didukung dengan program- program ekstrakurikuler sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam program pengajaran.3 Sama halnya dengan kegiatan pembelajaran di kelas, kegiatan
1Mulyono, Manajemen Administrasi & Organisasi Pendidikan, (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2008), h. 185-186
2Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, h. 3
3Wahjosumidjo, Kepemimpinan Kepala Sekolah (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007) h. 241
ekstrakurikuler perlu dipersiapkan dengan baik agar peserta didik merasa puas dengan layanan yang diberikan oleh sekolah.
Kepuasan peserta didik ditentukan oleh pelayanan dan fasilitas yang dikehendaki oleh siswa itu sendiri, sehingga jaminan kualitas menjadi prioritas utama bagi setiap sekolah. Selain kualitas dan fasilitas, pelayanan sangat menentukan kepuasan, peserta didik mempunyai kepekaan tinggi terhadap kegiatan yang mereka ikuti, apabila peserta didik merasa kurang puas maka mereka akan berpindah ke ekstrakurikuler lain bahkan akan meninggalkan ekstrakurikuler tersebut. Seperti yang penulis ketahui bahwa setiap peserta didik akan mengharapkan fasilitas yang lengkap dan pelayanan yang baik.
Pemberian pelayanan yang memuaskan peserta didik tentu akan bermanfaat untuk mempertahankan peserta didik untuk tidak pindah ke ekstrakurikuler lain atau meninggalkan ekstrakurikuler yang telah dipilih sebelumnya.
Ukuran kepuasan siswa merupakan hal inti dari penilaian terhadap kegiatan yang telah diberikan. Penilaian kepuasan siswa menjadi tolok ukur untuk melakukan perbaikan terhadap kegiatan ekstrakurikuler di sekolah dan dapat mengetahui semua harapan yang diinginkan oleh siswa. Kepuasan siswa harus diutamakan karena siswa merupakan objek dari pendidikan. Dalam era modern seperti sekarang ini sudah pasti pelayanan juga perlu mengalami pembaharuan. Kebutuhan siswa masa dahulu tentu sangat berbeda dengan kebutuhan di masa kini.4 Oleh sebab itu, sebagai sekolah negeri SMKN 41 Jakarta Selatan ini dituntut untuk semakin meningkatkan pelayanan terhadap siswanya, Hal ini merupakan suatu kewajiban mengingat kepuasan siswa dan orang tua tergantung dari pelayanan yang mereka dapatkan. Jika pelayanan yang menjadi hak mereka tidak dapat diwujudkan oleh pihak sekolah, besar kemungkinan lembaga pendidikan ini sedikit demi sedikit akan ditinggalkan oleh siswanya.
4Leik Abdullah & Nuril Ahmad., Pengaruh Pelayanan Administrasi Kesiswaan Terhadap Kepuasan Siswa Mts. Al-Fattah Sugihan Solokuro Lamongan Tahun Pelajaran 2011-2012, Jurnal Studi Islam Madinah, Volume 11 Nomor 1 Juni, 2014, h. 13
Kualitas suatu sekolah tidak diukur dari luasnya area, megahnya bangunan sekolah atau tingginya nilai raport siswa. Kualitas sekolah lebih ditentukan oleh kualitas pelayanan yang diberikan yang salah satu proses identifikasinya dapat dilakukan melalui pengukuran kepuasan pelanggan, dalam hal ini para peserta didik (siswa). Untuk mencapai tingkat kepuasan yang tinggi, diperlukan adanya pemahaman tentang apa yang diinginkan oleh pelanggan, dengan mengembangkan komitmen setiap orang yang ada dalam lembaga untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.5
Para siswa merupakan klien utama yang harus dilayani, oleh sebab itu para siswa harus dilibatkan secara aktif dan tepat, tidak hanya di dalam proses belajar mengajar, melainkan juga di dalam kegiatan sekolah. Sejak bertahun- bertahun memang sekolah dipandang sebagai lembaga yang memiliki otoritas, di mana para siswa berpartisipasi pasif di dalam program yang direncanakan, tetapi pada saat ini keadaan sekolah dan peranan siswa telah berubah.
Perubahan yang makin meningkat mengakui bahwa hak-hak siswa secara individual harus dilindungi, dan kebutuhan pendidikan mereka harus dipenuhi.
Oleh sebab itu, apabila suatu sekolah ingin berhasil, maka partisipasi aktif para siswa di dalam berbagai keputusan harus ditingkatkan. Wahana yang paling tepat untuk melibatkan para siswa tersebut adalah kegiatan-kegiatan di luar kurikuler atau kegiatan ekstrakurikuler.6
Kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan kurikuler yang dilakukan oleh peserta didik di luar jam belajar kegiatan intrakurikuler dan kegiatan kokurikuler, di bawah bimbingan dan pengawasan satuan pendidikan, bertujuan untuk mengembangkan potensi, bakat, minat, kemampuan, kepribadian, kerjasama, dan kemandirian peserta didik secara optimal untuk mendukung pencapaian tujuan pendidikan.7
Kegiatan ekstrakurikuler adalah kegiatan pengayaan dan kegiatan perbaikan yang berkaitan dengan program kurikuler. Hal ini berdasarkan SK Mendikbud 0461/U/1984 dan SK Dikdasmen 226/C/Kep/O/1992 bahwa
5Purwa Udiutomo, Analisa Tingkat Kepuasan Siswa terhadap Layanan Program Smart Ekselensia Indonesia Tahun 2011, Jurnal Pendidikan Dompet Dhuafa, I, 2011, h. 2-3
6Mulyono, op.cit., h. 239
7Permendikbud No. 62 Tahun 2014 tentang Kegiatan Ekstrakurikuler pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, h.2
“kegiatan ekstrakurikuler merupakan salah satu jalur pembinaan kesiswaan di samping OSIS, latihan kepemimpinan dan wawasan wiyatamandala”.Artinya kegiatan ekstrakurikuler bertujuan untuk memperluas pengetahuan siswa dalam arti memperkaya, mempertajam, serta memperbaiki pengetahuan para siswa yang berkaitan dengan mata pelajaran sesuai dengan program kurikulum yang ada.
Kegiatan ekstrakurikuler sebagai salah satu wadah pembinaan siswa yang bertujuan agar siswa dapat mengembangkan kepribadian, bakat dan kemampuannya di berbagai bidang yang di minati di luar bidang akademik.
Kegiatan ini terorganisasi, terarah dan terpadu dengan kegiatan lain di sekolah guna menunjang pencapaian tujuan kurikulum, artinya kegiatan ini di laksanakan sesuai dengan program yang di tentukan dalam pelaksanaannya di bimbing oleh guru yang kompeten sesuai dengan bidangnya sehingga pelaksanaannya akan berjalan dengan baik. Kegiatan ini menjadi salahsatu unsur penting dalam membangun kepribadian, karakter dan moral siswa.
Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 41 Jakarta Selatan memiliki beberapa kegiatan ekstrakurikuler yang berjalan dan konsisten yaitu diantaranya Pramuka, Merpati Putih (pencak silat), Paskibra, Rohis, Palang Merah Remaja (PMR), Kesenian dan Olahraga.Berdasarkan hasil observasi, ekstrakurikuler pramuka menjadi ekstrakurikuler wajib di sekolah ini.Hal ini berkenaan dengan telah ditetapkannya Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 63 Tahun 2014 tentang Pendidikan Kepramukaan sebagai Kegiatan Ekstrakurikuler Wajib pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah dalam rangka implementasi Kurikulum 2013.Setelah itu siswa diperbolehkan memilih dan mengikuti lebih dari dua ekstrakurikuler pilihan lainnya. Adapun tujuan yang akan dicapai melalui kegiatan ekstrakurikuler ini antara lain mengembangkan siswa untuk menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, sehat jasmani dan rohani, berkepribadian yang mantap serta memiliki rasa tanggungjawab.
Dalam memberikan layanan ekstrakurikuler kepada siswa memang bukan hal yang mudah untuk setiap sekolah, tidak terkecuali sekolah ini juga mengalami kendala dalam memberikan layanan. Salah satu kendala yang dialami dalam memenuhi kebutuhan dari kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler pramuka yakni kurangnya sarana dan prasarana sebagai alat bantu dalam kegiatan ekstrakurikuler pramuka, kurangnya pembina/pelatih khusus dalam kegiatan ekstrakurikuler pramuka, belum terukur tingkat kepuasan peserta didik dalam hal kegiatan ekstrakurikuler pramuka di sekolah, kurangnya minat peserta didik dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler pramuka dan terbatasnya dana dalam menunjang kegiatan ekstrakurikuler pramuka di sekolah.
Adakalanya peserta didik telah merasa puas terhadap kegiatan ekstrakurikuler yang di sediakan sekolah tetapi ada saja peserta didik lainnya merasakan ketidakpuasan terhadap kegiatan tersebut. Jadi pihak sekolah harus lebih cermat dalam memberikan layanan kepada peserta didik agar layanan dapat menyeluruh sehingga tidak ada peserta didik yang merasa tidak puas dengan layanan yang diberikan oleh sekolah. Berdasarkan uraian diatas itulah penulis merasa tertarik untuk melakukan penelitian lebih jauh tentang kepuasan peserta didik terhadap kegiatan ekstrakurikuler pramuka yang terdapat di SMKN 41 Jakarta Selatan. Dalam hal ini penulis mengambil judul tentang
“Tingkat Kepuasan Peserta Didik terhadap Kegiatan Ekstrakurikuler Pramuka di SMKN 41 Jakarta Selatan”.
B. Identifikasi Masalah
Dari latar belakang masalah di atas, dapat di identifikasikan masalah- masalah sebagai berikut :
1. Kurangnya sarana dan prasarana sebagai alat bantu dalam kegiatan ekstrakurikuler pramuka
2. Kurangnya pelatih/pembina khusus dalam kegiatan ekstrakurikuler pramuka 3. Belum terukur tingkat kepuasan peserta didik dalam hal kegiatan
ekstrakurikuler pramuka di sekolah
4. Kurangnya minat peserta didik dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler pramuka
5. Terbatasnya dana dalam menunjang kegiatan ekstrakurikuler pramuka di sekolah
C. Pembatasan Masalah
Dari identifikasi masalah di atas, penulis memfokuskan dan membatasi masalah pada belum terukur tingkat kepuasan peserta didik dalam hal kegiatan ekstrakurikuler pramuka di SMKN 41 Jakarta Selatan.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut : “Seberapa besar tingkat kepuasan peserta didik terhadap kegiatan ekstrakurikuler pramuka yang dilakukan oleh SMKN 41 Jakarta Selatan?.”
E. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan perumusan masalah, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa besar tingkat kepuasan siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler pramuka yang dilakukan oleh SMKN 41 Jakarta Selatan.
F. Kegunaan Penelitian
Adapun kegunaan yang di harapkan dari penelitian ini, yaitu : 1. Kegunaan Teoritis
Di lihat dari kegunaannya penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan tambahan referensi penelitian lebih lanjut tentang tingkat kepuasan peserta didik dan kegiatan ekstrakurikuler pramuka di sekolah.
2. Kegunaan Praktis
a) Bagi Sekolah, terutama bagian manajemen kesiswaan. Penelitian ini diharapkan menjadi bahan dalam meningkatkan kepuasan peserta didik di sekolah.
b) Bagi Penulis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sarana belajar untuk menjadi seorang manajer (pimpinan) kegiatan di sekolah untuk meningkatkan mutu sekolah.
c) Bagi masyarakat, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi lebih lanjut mengenai sekolah yang bersangkutan
8 BAB II KAJIAN TEORI A. Ekstrakurikuler Pramuka
1. Hakikat Ekstrakurikuler a. Pengertian Ekstrakurikuler
Secara umum ekstrakurikuler merupakan kegiatan di sekolah yang dilakukan di luar jam pelajaran untuk membantu mengembangkan potensi peserta didik. Untuk lebih jelasnya dibawah ini penulis paparkan mengenai definisi ekstrakurikuler menurut para ahli yaitu :
Menurut Mulyono menjelaskan bahwa kata “ekstrakurikuler”
memiliki arti yaitu kegiatan tambahan di luar rencana pelajaran, atau pendidikan tambahan di luar kurikulum.8
Adapun pengertian ekstrakurikuler menurut Kamus Lengkap Bahasa Indonesia (2002: 198) yaitu “berada di luar program”.9. Kemudian Eka Prihatin mengungkapkan:
Ekstrakurikuler adalah kegiatan pendidikan di luar mata pelajaran dan pelayanan konseling untuk membantu pengembangan peserta didik sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, dan minat mereka melalui kegiatan yang secara khusus diselenggarakan oleh pendidik dan atau tenaga kependidikan yang berkemampuan dan berkewenangan di sekolah/madrasah.10
Definisi lain yang terdapat di jurnal internasional yaitu The term
„extracurricular activities‟ refers to any activities that take place outside of the regular (compulsory) school curriculum. These activities are offered outside of school hours, but within the school setting.
Extracurricular activities not associated with school are not included within this definition.11 (Istilah 'kegiatan ekstrakurikuler' mengacu pada kegiatan yang berlangsung di luar kurikulum sekolah reguler (wajib).
8Mulyono, op.cit., h. 187
9Tim PrimaPena, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Gitamedia Press), h. 243
10Eka Prihatin, Manajemen Peserta Didik, (Bandung: Alfabeta, 2011), h. 180
11Singh Annu & Mishra Sunita, Extracurricular Activities And Student’s Performance In Secondary School Of Government And Private Schools, International Journal of Sociology and Anthropology Research, Vol 1, No 1, 2015, pp. 53-61
Kegiatan ini ditawarkan di luar jam sekolah, tapi di lingkungan sekolah.
Kegiatan ekstrakurikuler yang tidak terkait dengan sekolah tidak termasuk dalam definisi ini).
Sedangkan pendapat lain yaitu Wahjosumidjo mengungkapkan bahwa:
Kegiatan ekstrakurikuler, yaitu kegiatan-kegiatan siswa di luar jam pelajaran, yang dilaksanakan di sekolah atau di luar sekolah, dengan tujuan untuk memperluas pengetahuan, memahami keterkaitan antara berbagai mata pelajaran, penyaluran bakat dan minat, serta dalam rangka usaha untuk meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan para siswa terhadap Tuhan Yang Mahaesa, kesadaran berbangsa dan bernegara, berbudi pekerti luhur dan sebagainya.12
Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa kegiatan ekstrakurikuler merupakan kegiatan tambahan di luar jam mata pelajaran biasa yang dapat membantu para siswa untuk mengembangkan dan menyalurkan bakat dan minat mereka, juga menjadikan para siswa aktif di luar jam belajar mengajar untuk mengisi waktu mereka dengan kegiatan yang positif dan bermanfaat. Ekstrakurikuler merupakan kegiatan yang baik dan penting karena memberikan nilai tambah bagi para siswa dan dapat menjadi pengukuran perkembangan/kemajuan sekolah yang seringkali diamati oleh orangtua siswa maupun masyarakat. Dengan adanya kegiatan ekstra tersebut diharapkan suasana sekolah semakin lebih hidup.
b. Tujuan dan Manfaat Kegiatan Ekstrakurikuler
Sebagai kegiatan pembelajaran dan pengajaran di luar kelas, ekstrakurikuler ini mempunyai tujuan serta manfaat agar dalam pelaksanaannya sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai dengan mempertimbangkan nilai manfaat atas terlaksananya kegiatan ekstrakurikuler untuk mengembangkan minat dan bakat dari masing-
12Wahjosumidjo, op.cit., h. 256
masing peserta didik. Namun secara khusus tujuan kegiatan ekstrakurikuler adalah sebagai berikut:
Kegiatan ekstrakurikuler bertujuan menumbuhkembangkan pribadi peserta didik yang sehat jasmani dan rohani, bertaqwa kepada Tuhan YME, memiliki kepedulian dan tanggung jawab terhadap lingkungan sosial, budaya, dan alam sekitarnya, serta menanamkan sikap sebagai warga negara yang baik dan bertanggungjawab melalui berbagai kegiatan positif di bawah tanggung jawab sekolah.13
Dengan pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler siswa tidak hanya dapat mengenali diri mereka sendiri tetapi juga memiliki rasa kepedulian terhadap lingkungan serta kegiatan ini dapat menjadikan mereka sosok pribadi yang memiliki rasa kepekaan dan tanggungjawab yang tinggi.
Adapun Tujuan dari pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah menurut Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan (1987:9) yang dikutip oleh Eka Prihatin, adalah :
a) Kegiatan ekstrakurikuler harus dapat meningkatkan kemampuan siswa beraspek kognitif, efektif, dan psikomotor.
b) Mengembangkan bakat dan minat siswa dalam upaya pembinaan pribadi menuju pembinaan manusia seutuhnya yang positif.
c) Dapat mengetahui, mengenal serta membedakan antara hubungan satu pelajaran dengan mata pelajaran lainnya.14
Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa kegiatan ekstrakurikuler ini sangat berpengaruh positif bagi siswa.Karena dapat menjadikan mereka manusia yang seutuhnya yang memiliki bakat dan minat serta pengetahuan yang dapat dikembangkan melalui kegiatan ini, para siswa tidak hanya dapat memiliki kepribadian mandiri dan bertanggung jawab, tetapi juga dapat mengembangkan kemampuan yang terdapat didalam diri mereka.
Adapun manfaat dari kegiatan ekstrakurikuler yang dikemukakan oleh Oemar Hamalik yaitu:
a) Memenuhi kebutuhan kelompok b) Menyalurkan minat dan bakat
13Prihatin, op.cit., h. 172-173
14Ibid., h. 160
c) Memberikan pengalaman eksplotorik
d) Mengembangkan dan mendorong motivasi terhadap mata pelajaran
e) Mengikat para siswa di sekolah
f) Mengembangkan loyalitas terhadap sekolah g) Mengintegrasikan kelompok-kelompok sosial h) Mengembangkan sifat-sifat tertentu
i) Menyediakan kesempatan pemberian bimbingan dan layanan secara informal
j) Mengembangkan citra masyarakat terhadap sekolah.15
Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa kegiatan ekstrakurikuler ini juga tidak hanya bermanfaat bagi peserta didik tetapi juga bagi guru dan sekolah. Karena selain untuk menyalurkan bakat dan minat para siswa juga dapat menambah pengetahuan, wawasan, serta dapat meningkatkan popularitas sekolah terkait keberhasilan dari masing-masing kegiatan ekstrakurikuler sehingga dapat menambah kualitas pendidikan dan proses belajar mengajar di sekolah tersebut.
c. Macam-macam Kegiatan Ekstrakurikuler
Kegiatan ekstrakurikuler yang disediakan oleh sekolah biasanya beraneka ragam. Menurut Eka Prihatin bahwa biasanya lembaga pendidikan (sekolah) memiliki lebih dari lima kegiatan ekstrakurikuler, agar peserta didik dapat memilih kegiatan yang diminatinya.16
Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 62 Tahun 2014 tentang Kegiatan Ekstrakurikuler pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, kegiatan ekstrakurikuler dapat berupa:
1) Krida, misalnya: Kepramukaan, Latihan Kepemimpinan Siswa (LKS), Palang Merah Remaja (PMR), Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra), dan lainnya;
15Oemar Hamalik, Manajemen Pengembangan Kurikulum, (Bandung: PT. Remaja Rosadakarya, 2010) Cet. IV, h. 182
16Prihatin, op.cit., h. 165
2) Karya ilmiah, misalnya: Kegiatan Ilmiah Remaja (KIR), kegiatan penguasaan keilmuan dan kemampuan akademik, penelitian, dan lainnya;
3) Latihan olah-bakat latihan olah-minat, misalnya: pengembangan bakat olahraga, seni dan budaya, pecinta alam, jurnalistik, teater, teknologi informasi dan komunikasi, rekayasa, dan lainnya;
4) Keagamaan, misalnya: pesantren kilat, ceramah keagamaan, baca tulis alquran;
5) Bentuk kegiatan lainnya.17
Lebih lanjut Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan (1987:12), menegaskan bahwa ruang lingkup kegiatan ekstrakurikuler harus berpangkal pada kegiatan yang dapat menunjang serta dapat mendukung program intrakurikuler dan program kurikuler. Menurut Hadari Nawawi (1985):177-178) jenis-jenis/macam-macam kegiatan ekstrakurikuler yaitu:
a) Pramuka sekolah b) Olahraga dan kesenian
c) Kebersihan dan keamanan sekolah
d) Tabungan Pelajar dan Pramuka (Tapelpram) e) Majalah sekolah
f) Warung/kantin sekolah g) Usaha kesehatan sekolah18
Hal ini selaras dengan sebuah penelitian yang terdapat di jurnal internasional yang berjudul Role of ECA’s (Extra Curricular Activities) in Personality Development bahwa:
Mostly teenagers of America, they participate in and outside the institute activities as well as dance, youth groups, athletic games, clubs, drams, scouts, theater, students council and sports etc. These extracurricular activities are the integral part of the educational program. So the extracurricular activities have a legitimate relationship with the student‟s responsibilities, human needs, character, social linkages, talents, skills and solution of critical circumstances (Klesse &
D‟Onofrio 2000).19(dengan terjemahan Sebagian besar remaja
17Permendikbud No. 62 Tahun 2014 tentang Kegiatan Ekstrakurikuler pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, h. 2
18 Prihatin, op.cit., h. 160
19Muhammad Ismail, et.al. Role of ECA’s (Extra Curricular Activities) in Personality Development.International Journal of Research Studies in Biosciences(IJRSB). Vol 4, Issue 11, 2016, pp 47-56
Amerika, mereka berpartisipasi dalam dan luar kegiatan institut serta menari,kelompok pemuda, permainan atletik, klub, dram, pramuka, teater, dewan mahasiswa dan olahraga dll(Wilson, N.2009). Kegiatan ekstrakurikuler ini merupakan bagian integral dariprogram pendidikan. Jadi kegiatan ekstrakurikuler punya legitimasihubungan dengan tanggung jawab siswa, kebutuhan manusia, karakter, hubungan sosial,bakat, keterampilandan solusi keadaan kritis (Klesse &
D'Onofrio 2000).
Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa kegiatan ekstrakurikuler yang ada di sekolah sangat beragam. Dari beberapa kegiatan ekstrakurikuler yang ada di sekolah seperti pramuka sekolah, olahraga dan kesenian, kebersihan dan keamanan sekolah, dan usaha kesehatan sekolah serta bentuk kegiatan lainnya sebagai bentuk untuk memfasilitasi peserta didik dalam meningkatkan bakat dan potensi yang mereka miliki sesuai dengan kebutuhan mereka.Hal ini juga menjadi salah satu bagian penting dalam program pendidikan.
d. Faktor Pendukung Kegiatan Ekstrakurikuler
Menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 62 Tahun 2014 tentang Kegiatan Ekstrakurikuler pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah faktor pendukung pengembangan dan pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler meliputi:
1) Kebijakan Satuan Pendidikan
Pengembangan dan pelaksanaan Kegiatan Ekstrakurikuler merupakan kewenangan dan tanggung jawab penuh dari satuan pendidikan.Oleh karena itu untuk dapat mengembangkan dan melaksanakan Kegiatan Ekstrakurikuler diperlukan kebijakan satuan pendidikan yang ditetapkan dalam rapat satuan pendidikan dengan melibatkan komite sekolah/madrasah baik langsung maupun tidak langsung.
2) Ketersediaan Pembina
Pelaksanaan Kegiatan Ekstrakurikuler harus didukung dengan ketersediaan pembina. Satuan pendidikan dapat bekerja sama dengan pihak lain untuk memenuhi kebutuhan pembina.
3) Ketersediaan Sarana dan Prasarana Satuan Pendidikan
Pelaksanaan Kegiatan Ekstrakurikuler memerlukan dukungan berupa ketersediaan sarana dan prasarana satuan pendidikan. Yang termasuk sarana satuan pendidikan adalah segala kebutuhan fisik, sosial, dan kultural yang diperlukan untuk mewujudkan proses pendidikan pada satuan pendidikan. Selain itu unsur prasarana seperti lahan, gedung/bangunan, prasarana olahraga dan prasarana kesenian, serta prasarana lainnya.20
Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa kebijakan satuan pendidikan, ketersediaan pembina, dan ketersediaan sarana dan prasarana satuan pendidikan menjadi faktor yang di butuhkan dalam pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.Karena hal tersebut menjadi komponen yang penting agar kegiatan ekstrakurikuler dapat berjalan dengan lancar dan dapat memenuhi kebutuhan peserta didik secara tepat.
2. Hakikat Pramuka a. Pengertian Pramuka
Pramuka merupakan salah satu kegiatan ekstrakurikuler yang ada di sekolah, untuk lebih jelasnya mengenai pengertian pramuka menurut para ahli yaitu :
Menurut Man Salim “Pramuka singkatan dari “Praja Muda Karana” yang artinya warga negara muda yang bekerja. Nama Pramuka itu berasal dari Sri Sultan Hamengkubuwana IX, mengambil dari istilah paramuka (dibunyikan “poromuko” dalam bahasa Jawa) artinya semacam pasukan yang berdiri terdepan dalam peperangan. Kata Praja Muda Karana, yang memiliki arti Orang Muda yang Suka Berkarya”.21
Kemudian Heri Gunawan mengungkapkan bahwa:
Kegiatan pendidikan kepramukaan dilaksanakan melalui Gugus depan Gerakan Pramuka yang berpangkalan di sekolah. Melalui pendidikan kepramukaan dapat dilakukan pembinaan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kehidupan berbangsa dan
20Permendikbud No. 62 Tahun 2014 tentang Kegiatan Ekstrakurikuler pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, h. 5
21Man Salim, Pedoman Lengkap PRAMUKA Panduan Super Komplit Siaga- Penggalang-Penegak-Pandega, (Semarang: Syalmahat Publishing, 2016), h. 15
bernegara berdasarkan Pancasila, pendidikan pendahuluan bela negara, kepribadian dan budi pekerti luhur, berorganisasi, pendidikan kewiraswastaan, kesegaran jasmani, daya kreasi, persepsi, apresiasi dan kreasi seni, tenggang rasa serta kerjasama.22 Selanjutnya dalam buku Panduan Lengkap Gerakan Pramuka PAH Tim mengungkapkan bahwa :
Kepramukaan adalah proses pendidikan di luar lingkungan sekolah dan di luar lingkungan keluarga dalam bentuk kegiatan menarik, menyenangkan, sehat, teratur, terarah, praktis yang dilakukan di alam terbuka dengan Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan, yang sasaran akhirnya pembentukan watak, akhlak, dan budi pekerti luhur.23
Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa Gerakan Pramuka Indonesia merupakan nama organisasi pendidikan nonformal yang menyelenggarakan pendidikan kepanduan yang dilaksanakan di Indonesia. Oleh sebab itu kepramukaan menjadi salah satu ekstrakurikuler di sekolahdan bertujuan untuk mempersiapkan generasi muda sebagai calon pemimpin bangsa yang memiliki watak, kepribadian, dan akhlak mulia serta keterampilan hidup prima serta peduli terhadap masyarakat dan bangsa Indonesia.
b. Sejarah Pramuka
Dalam buku Pedoman Lengkap PRAMUKA Man Salim mengungkapkan bahwa Sejarah kepramukaan atau kepanduan ternyata telah berlangsung lebih dari satu abad, dimulai pada peralihan abad 19- 20. Pelopornya tidak lain adalah Bapak Pandu Sedunia, Lord Baden Powell (Lord Robert Baden Powell of Gilwell). Baden Powell lahir pada tanggal 22 Februari 1857 di London. Nama sesungguhnya ialah Robert Stephenson Smyth. Pengalaman beliaulah yang mendasari pembinaan remaja di negara Inggris.Pembinaan remaja inilah yang
22Heri Gunawan, Pendidikan Karakter, Konsep, dan Implementasi (Bandung: Alfabeta, 2014) h. 265
23PAH Tim, Panduan Lengkap Gerakan Pramuka, (Surabaya: Pustaka Agung Harapan), h. 12-13
kemudian tumbuh berkembang menjadi gerakan kepramukaan di seluruh dunia.24
Kepanduan (atau Gerakan Kepanduan) membantu perkembangan fisik, mental, dan spiritual kaum muda, sehingga bisa berperan dalam masyarakatnya kelak. Pada awal berkembangnya Kepanduan terbagi ke dalam tiga kelompok pandu putra yaitu Siaga (Cub Scout), Penggalang (Boy Scout), dan Penegak (Rover Scout) dan, di tahun 1910, organisasi baru, Girl Guides, dibuat untuk puteri (Brownie Guide, Girl Guide and Girl Scout, Ranger Guide).25
Boy Scouts, gerakan internasional yang bertujuan untuk meningkatkan karakter anak-anak dan remaja dan melatih mereka untuk dapat bertanggung jawab di masa dewasa nanti. Gerakan ini bermula di Inggris di tahun 1907 oleh Sir Robert Baden-Powell, yang program-program dasar gerakannya diilhami oleh dua organisasi remaja yang telah lebih dahulu terbentuk : Sons of Daniel Boone, didirikan oleh Daniel Carter Beard seorang naturalis-illustrator, dan Woodcraft Indian, yang dipelopori oleh Ernest Thompson Seton seorang penulis Inggris kelahiran Kanada. Organisasi kepanduan adalah kegiatan yang paling banyak menghabiskan waktunya di alam terbuka.Berkemah adalah merupakan program tetap organisasi, yang terkandung di dalamnya program konservasi alam, kehutanan, pertanian, aksi sosial dan bhakti pada masyarakat.26
Kepanduan di Indonesia tumbuh dan berkembang semakin banyak jumlah dan beraneka ragam pada kurun waktu tahun 1950- 1960. Namun, organisasi kepanduan saat itu lebih banyak berafiliasi pada partai politik yang ada di Indonesia. Tentu saja berafiliasinya dengan partai politik, menyalahi prinsip dasar dan metode
24Man Salim, Pedoman Lengkap PRAMUKA Panduan Super Komplit Siaga- Penggalang-Penegak-Pandega, (Semarang: Syalmahat Publishing, 2016), h. 21
25Andri Bob Sunardi, BOYMAN Ragam Latih Pramuka, (Bandung: Darma Utama, 2016), h. 6
26 Ibid, h. 2-3
kepramukaan.Perkembangan kepanduan di Indonesia sangat dipengaruhi oleh buku yang ditulis oleh Lord Baden Powell yang berjudul “Scouting for Boys”.Di Indonesia, istilah Scouting dikenal dengan kepanduan/kepramukaan.27
Pada tahun 1961, berbagai gerakan kepanduan yang kebanyakan berafiliasi pada partai politik dibubarkan karena dinilai kurang efektif dan tidak dapat mengimbangi perkembangan zaman serta kurang bermanfaat dalam mendukung pembangunan Bangsa dan Generasi muda, terlebih persatuan dan kesatuan bangsa. Pembubaran tersebut dilakukan oleh Presiden Soekarno saat itu berdasarkan mandate dari Tap MPRS No. II/MPRS/1960 dan meleburkan berbagai organisasi kepanduan tersebut ke dalam suatu organisasi gerakan pendidikan kepanduan tunggal, yang diberi nama Gerakan Pramuka.
Gerakan Pramuka diberi tugas melaksanakan pendidikan kepanduan kepada anak-anak dan pemuda Indonesia. TUNAS KELAPA sebagai Lambang Gerakan Pramuka merupakan hasil Keputusan Presiden RI No. 38 tahun 1961, tanggal 20 Mei 1961, dan keberadaan Gerakan Pramuka ditetapkan dengan Keppres RI No. 238 tahun 1961. Namun, Hari Lahir Gerakan Pramuka jatuh pada 14 Agustus 1961, karena pada tanggal itulah Gerakan Pramuka secara resmi diperkenalkan kepada khalayak sesaat setelah presiden menganugerahkan Panji Gerakan Pramuka dengan Keppres No. 448 tahun 1961. Oleh sebab itulah tanggal 14 Agustus dijadikan sebagai Hari Pramuka.
Gerakan Pramuka mengalami pasang surut dan bahkan sampai pada titik kurang dirasakan penting oleh kaum muda.Maka pada HUT ke-45 Gerakan Pramuka pada tahun 2006, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mencanangkan Revitalisasi Gerakan Pramuka.Pemantapan
27Hendri Cahya, Buku Pintar Praktis Pramuka, (Bekasi, Jawa Barat: Checklist, 2016), h.
12-13
organisasi Gerakan Pramuka menghasilkan UU No. 12 tahun 2010, tentang Gerakan Pramuka.28
Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pelopor gerakan kepramukaan adalah Bapak Pandu Sedunia, yaitu Lord Baden Powell (Lord Robert Baden Powell of Gilwell).Gerakan ini bermula di Inggris tahun 1907.Dari penjelasan Baden-Powell terkait kepramukaan di atas, kita dapat mengambil maknanya yaitu kepramukaan adalah suatu permainan yang di dalamnya mengandung pendidikan.Pendidikan di dalamnya berupa pembinaan watak (mental), kepribadian, dan sikap positif lainnya yang harus ditanamkan kepada para anggota kepramukaan untuk kebutuhan individu maupun orang disekitarnya.
c. Prinsip Dasar Pramuka
Setiap anggota Pramuka wajib memegang teguh prinsip dasar kepramukaan. Prinsip dasar kepramukaan adalah norma hidup yang harus menjiwai di dalam setiap anggota Pramuka. Anton Kristiadi mengungkapkan bahwa:
Prinsip ini ditanamkan dan dikembangkan kepada para anggota Pramuka melalui proses penghayatan diri dengan bantuan tenaga pendidik, sehingga mereka bisa mengamalkannya secara ikhlas, penuh kesadaran, kemandirian, kepedulian, tanggung jawab, dan bermoral, baik sebagai pribadi ataupun sebagai anggota masyarakat.29
Bila dilihat dari pernyataan di atas prinsip dasar kepramukaan harus ditanamkan kepada anggota pramuka melalui tenaga pendidik agar mereka bisa menjadi anggota pramuka yang baik.
28Ibid,.h. 13
29Anton Kristiadi, Ensiklopedia Praja Muda Karana, Praja Muda Karana Indonesia:
Mengenal Gerakan Pramuka dan Kepanduan, (Surakarta: PT. Borobudur Inspira Nusantara, 2014), h. 39
Gerakan Pramuka berlandaskan prinsip-prinsip dasar sebagai berikut :
1) Iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
2) Peduli terhadap bangsa dan tanah air, sesama hidup dan alam seisinya.
3) Peduli terhadap dirinya pribadi.
4) Taat kepada Kode Kehormatan Pramuka.30
Pelaksanaan dari prinsip-prinsip dasar kepramukaan dilakukan dalam bentuk-bentuk:
a) Menaati perintah Tuhan Yang Maha Esa, menjauhi larangan-Nya, dan beribadah sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya;
b) Melakukan kewajiban untuk menjaga, memelihara, persaudaraan, dan perdamaian di masyarakat, memperkokoh persatuan, serta mempertahankan Pancasila, Undang-Undang Dasar Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan kebhinekaan;
c) Melestarikan lingkungan hidup yang bersih dan sehat supaya bisa menunjang dan memberikan kenyamanan serta kesejahteraan hidup masyarakat;
d) Pengakuan bahwa manusia tidak hidup sendiri, namun hidup dalam kebersamaan berdasarkan prinsip perikemanusiaan yang adil dan beradab;
e) Memahami potensi diri pribadi untuk dikembangkan dengan cerdas guna kepentingan masa depannya dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara; dan
f) Mengamalkan Satya dan Darma Pramuka dalam kehidupan sehari- hari.31
Ini artinya, bahwa prinsip dasar kepramukaan adalah sebuah norma hidup yang harus melekat di dalam diri anggota pramuka yaitu peserta didik yang melaksanakan kegiatan ini sehingga mereka dapat melaksanakan kehidupan dengan berlandaskan iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta dapat memenuhi kewajibannya sebagai warga negara yang baik serta dapat memberikan kenyamanan dan kesejahteraan bagi diri sendiri dan orang lain di sekitarnya.
30PAH Tim, Panduan Lengkap Gerakan Pramuka, (Surabaya: Pustaka Agung Harapan), h. 14
31Kristiadi, op.cit., h. 40
d. Fungsi dan Tujuan Pramuka
Gerakan pramuka merupakan pelengkap pendidikan sekolah dan pendidikan lingkup keluarga. Kegiatan kepramukaan akan mengisi kebutuhan peserta didik yang mungkin belum tercakup dalam pendidikan sekolah dan keluarga. Pramuka memiliki berbagai fungsi, yaitu :
1) Menjadi wadah dalam melakukan kegiatan yang menarik bagi anak atau pemuda. Pramuka akan menjadi kegiatan pendidikan yang menyenangkan melalui berbagai kegiatan yang dikemas dalam bermacam-macam aktivitas dan permainan.
2) Pramuka akan menjadi sarana pengabdian bagi orang dewasa.
Pramuka bukan sekadar pendidikan yang menyenangkan dan penuh permainan, namun menjadi suatu tugas yang dilandasi keikhlasan, kerelaan, dan pengabdian demi mencapai sukses organisasi.
3) Pramuka juga sebagai alat bagi masyarakat untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat.
Adapun gerakan pramuka bertujuan agar:
a) Para anggotanya menjadi manusia berkepribadian dan berwatak luhur, memiliki mental, moral, budi pekerti dan keyakinan beragama yang kuat.
b) Para anggotanya menjadi manusia yang memiliki kecerdasan dan keterampilan tinggi
c) Para anggotanya menjadi manusia yang sehat dan kuat jasmaninya.
d) Para anggotanya menjadi warga Negara Indonesia yang berjiwa Pancasila, setia, dan patuh kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia menjadi anggota masyarakat yang baik dan berguna, serta sanggup dan mampu ikut membangun bangsa dan negara.32
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa ekstrakurikuler pramuka merupakan sebagai kegiatan pelengkap pendidikan sekolah karena memiliki fungsi dan tujuan yang berdampak positif bagi peserta didik. Kegiatan ekstrakurikuler ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan diri para peserta didik karena pada saat usia sekolah pembentukan karakter menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan
32 Ibid., h. 39
oleh pihak sekolah, maka dari untuk menanamkan kepribadian yang baik pada diri peserta didik dapat dilaksanakan melalui ekstrakurikuler pramuka.
e. Metode Kepramukaan
Metode kepramukaan merupakan suatu cara untuk memberi pendidikan watak kepada peserta didik melalui berbagai kegiatan kepramukaan. Dengan metode kepramukaan, diharapkan bisa menumbuhkan rasa kemandirian pada diri peserta didik, mampu mengembangkan diri sehingga menjadi pribadi utuh, memiliki kematangan moral, mental, spiritual, emosional, intelektual, serta fisik, baik bagi individu maupun sebagai anggota masyarakat.
Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan harus dilaksanakan secara terpadu. Setiap unsur pada Metode Kepramukaan merupakan sub sistem tersendiri dan keseluruhan saling memperkuat dan menunjang tercapainya tujuan pendidikan kepramukaan.33 Metode kepramukaan merupakan cara belajar interaktif progresif melalui :
1) Pengamalan Kode Kehormatan Pramuka.
2) Belajar sambil melakukan.
3) Sistem Beregu
4) Kegiatan yang menantang dan menarik serta mengandung pendidikan yang sesuai dengan perkembangan rohani dan jasmani anggota muda.
5) Kegiatan di alam terbuka.
6) Kemitraan dengan anggota dewasa dalam setiap kegiatan.
7) Sistem tanda kecakapan
8) Sistem satuan terpisah untuk putra dan untuk putri.
9) Kiasan dasar 34
Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa dengan metode kepramukaan rasa kemandirian pada diri peserta didik akan tumbuh dan mereka mampu mengembangkan diri sehingga menjadi pribadi yang mandiri serta memiliki kematangan moral,
33Kristiadi, op.cit., h. 51-52
34Ibid., h. 53-55
mental, spiritual, emosional, intelektual, serta fisik, dan dapat bermanfaat bagi diri sendiri, orang lain serta masyarakat sekitarnya.
f. Penggolongan Usia dalam Gerakan Pramuka
Di dalam Surat Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Nomor 64 Tahun 1997 tentang Penggolongan Peserta Didik Berdasarkan Usia, tercantum penjelasan sebagai berikut:
1) Peserta Didik, Anggota Muda, dan Anggota Dewasa Muda Berdasarkan kelompok usia, diatur sebagai berikut:
a) Pramuka Siaga : usia 7-10 tahun b) Pramuka Penggalang : usia 11-15 tahun c) Pramuka Penegak : usia 16-20 tahun d) Pramuka Pandega : usia 21-25 tahun35 2) Anggota Dewasa, Pembina, dan Pembantu Pembina
Berdasarkan usia diatur sebagai berikut:
a) Pembina Siaga sekurang-kurangnya berusia 21 tahun dan pembantu pembina Siaga sekurang-kurangnya berusia 17 tahun
b) Pembina Penggalang sekurang-kurangnya berusia 21 tahun dan pembantu Pembina Penggalang sekurang-kurangnya berusia 20 tahun.
c) Pembina Penegak sekurang-kurangnya berusia 25 tahun dan pembantu Pembina Penegak sekurang-kurangnya berusia 23 tahun
d) Pembina Pandega sekurang-kurangnya berusia 28 tahun dan pembantu Pembina Pandega sekurang-kurangnya berusia 26 tahun.
e) Andalan dan anggota Majelis Pembimbing sekurang- kurangnya berusia 26 tahun, kecuali ketua dan wakil ketua Dewan Kerja Pramuka yang ex-officio menjadi anggota kwartir/Andalan.36
Berdasarkan uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa penggolongan anggota pramuka seperti pramuka siaga, pramuka
35 Hendri Cahya Wibawa, Buku Pintar Praktis Pramuka, (Bekasi Jawa Barat: Checklist, 2016), h. 50
36Ibid., h. 51
penggalang, pramuka penegak, dan pramuka pandega dapat dikelompokkan sesuai dengan usia masing-masing anggota pramuka.
Hal ini sudah ada di dalam Surat Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Nomor 64 Tahun 1997tentang Penggolongan Peserta Didik Berdasarkan Usia.
g. Pramuka Penegak
Penegak adalah anggota Gerakan Pramuka yang sudah memasuki jenjang umur 16-20 tahun (tingkat SMA sederajat). Ada beberapa tingkatan dalam Penegak, yaitu Penegak Bantara dan Penegak Laksana. Satuan terkecil Pramuka Penegak disebut Sangga yang idealnya terdiri dari 6 sampai 8 orang Penegak. Sangga dipimpin salah seorang Penegak yang disebut Pimpinan sangga (Pinsa). Setiap 4 Sangga dihimpun dalam sebuah Ambalan. Ambalan dipimpin oleh seorang ketua yang disebut Pradana, seorang sekretaris yang disebut Kerani, seorang bendahara yang disebut Hartaka, dan seorang Pemangku Adat. Setiap Ambalan mempunyai nama yang bermacam- macam, bisa nama pahlawan, tokoh pewayangan dan lain sebagainya yang disesuaikan dengan karakter Ambalan tersebut.37 Contohnya adalah nama Ambalan SMK Negeri 41 Jakarta Selatan adalah
“Primadi” (Ambalan Putra) dan “Srikandi” (Ambalan Putri), namun selain itu ada juga Ambalan yang putra dan putrinya jadi satu.
1) Syarat dan Tanda Kecakapan Pramuka Penegak
a) Syarat dan Tanda Kecakapan Umum Pramuka Penegak Menurut Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Nomor: 008 Tahun 1974 Tentang Petunjuk Penyelenggaraan Syarat Kecakapan Umum, untuk bisa mencapai tataran Penegak, seorang anggota Pramuka Penegak harus memenuhi
37Anton Kristiadi, Ensiklopedia Praja Muda Karana, Praja Muda Karana Indonesia:
Mengenal Gerakan Pramuka dan Kepanduan, (Surakarta: PT. Borobudur Inspira Nusantara, 2014), h. 130
syarat-syarat yang terbagi menjadi lima bidang pengembangan, antara lain:
1) Materi Pengembangan Spiritual Penegak
2) Materi Pengembangan Emosional Pramuka Penegak 3) Materi Pengembangan Intelektual Pramuka Penegak 4) Materi Pengembangan Sosial Pramuka Penegak 5) Materi Pengembangan Fisik Pramuka Penegak38 b) Syarat Kecakapan Khusus Pramuka Penegak
Untuk Syarat Kecakapan Khusus Pramuka Penegak, Pembagian area pengembangannya sama dengan SKK Pramuka Siaga, yaitu 5 area pengembangan. Masing-masing SKK memiliki 3 tingkatan yang menandakan kompetensi Pramuka Penegak. Tingkatan tersebut antara lain: purwa, madya, dan utama.
Tanda Kecakapan Pramuka Penegak ditandai dengan garis berwarna kuning. Purwa disimbolkan dengan garis kuning berbentuk lingkaran, sedangkan tingkatan madya garis kuning berbentuk kotak. Garis kuning berbentuk segilima adalah simbol Pramuka Penegak SKK utama.39
h. Bentuk Kegiatan Pramuka Penegak
Pramuka Penegak memiliki watak umum semangat juang yang tinggi, idealisme, kemauan yang kuat, percaya diri, mencari jati diri, dan kreatif. Pramuka Penegak juga peduli terhadap lingkungan masyarakat, serta memiliki loyalitas yang tinggi terhadap kelompoknya.
38 Ibid., h. 132
39 Ibid., h. 133
Bentuk kegiatan kepenegakan meliputi : 1. Bina Diri
Bina diri merupakan upaya peningkatan kemampuan jiwa dan keterampilan dengan cara menuntut ilmu pengetahuan.
2. Bina Satuan
Bina satuan merupakan upaya terus-menerus mengabdikan diri pada perindukan Siaga atau pasukan Penggalang dalam keterampilan khusus atau inovatif
3. Bina Masyarakat
Dalam rangka pengembangan kesadaran bermasyarakat, bentuk kegiatan pengabdian masyarakat perlu ditingkatkan dan dikembangkan, sehingga Pramuka Penegak dan Pandega dapat berperan dalam kehidupan bermasyarakat sekaligus dapat meletakkan landasan bagi masa depannya.40
Kegiatan Rutin Pramuka Penegak, di antaranya : 1. Rapat Pleno Dewan Kerja Ambalan
2. Rapat Bidang Dewan Ambalan 3. Kemah Selamat Datang
4. Materi Kepramukaan 5. Ujian SKU Penegak 6. Kemah Pelantikan Bantara
7. Perkemahan Akhir Tahun (PRATA) 8. Kegiatan Sosial
9. Kegiatan Daerah 10. Kegiatan Regional41
Dari uraian kegiatan pramuka di atas, sekolah ini mengikuti kegiatan kepramukaan golongan Penegak. Hal ini karena dalam golongan usia peserta didik yang terdapat di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 41 Jakarta Selatan termasuk kedalam golongan usia 16-20 tahun. Oleh karena itu, kegiatan-kegiatan pramuka yang dapat mereka ikuti terkait kepramukaan yaitu kegiatan dalam golongan pramuka penegak.
40Badrudin, Manajemen Peserta Didik, (Jakarta: PT Indeks, 2014), h. 208-209
41Kristiadi., op.cit. h.
B. Kepuasan Peserta Didik a. Pengertian Kepuasan
Kepuasan merupakan sebuah ungkapan perasaan yang tidak bisa dilihat namun dapat dirasakan oleh seseorang. Suatu lembaga baik itu lembaga pendidikan maupun lembaga non pendidikan tidak dapat dipisahkan dari hal tersebut. Hal ini dikarenakan kepuasan berpengaruh terhadap loyalitas seseorang terhadap suatu lembaga.
Untuk dapat mengetahui lebih jelasnya mengenai pengertian kepuasan maka penulis paparkan menurut para ahli sebagai berikut :
Philip Kotler dan KL Keller mengemukakan bahwa “Kepuasan”
dapat diartikan sebagai “upaya pemenuhan sesuatu” atau “membuat sesuatu memadai”. Kepuasan (satisfaction) adalah perasaan senang atau kecewa seorang yang muncul setelah membandingkan kinerja (hasil) produk yang dipikirkan terhadap kinerja (atau hasil) yang diharapkan.42
Kemudian menurut Sudaryono dalam Wells dan Prensky (1996) kepuasan atau ketidakpuasan konsumen merupakan sikap konsumen terhadap suatu produk atau jasa sebagai hasil dari evaluasi konsumen setelah menggunakan sebuah produk atau jasa.43
Berdasarkan pendapat Irawan yang dikutip oleh Daryanto &
Ismanto juga mendefinisikan bahwa:
Kepuasan pelanggan adalah perasaan puas yang didapatkan oleh pelanggan karena mendapatkan value dari pemasok, produsen, atau penyedia jasa. Value ini bisa berasal dari produk, pelayanan, sistem atau sesuatu yang bersifat emosi. Pelanggan yang puas adalah pelanggan yang akan berbagi kepuasan dengan produsen atau penyedia jasa. Pelanggan yang puas akan berbagi pengalaman dengan pelanggan lain.44
42Philip Kotler dan KL Keller, Manajemen Pemasaran: Edisi Bahasa Indonesia, (Jakarta:
PT Indeks, 2007), Edisi 12, Jilid 1, h. 220
43Sudaryono, Manajemen Pemasaran Teori dan Implikasi (Yogyakarta: CV Andi Offset, 2016), h. 79
44Daryanto & Ismanto Setyabudi, Konsumen dan Pelayanan Prima, (Yogyakarta: Gava Media, 2014), h. 52-53