• Tidak ada hasil yang ditemukan

PRASYARAT INTERPRETASI SEISMIK

N/A
N/A
Ade Rizky

Academic year: 2024

Membagikan "PRASYARAT INTERPRETASI SEISMIK"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI...1

DAFTAR GAMBAR... 2

BAB I...3

PENDAHULUAN...3

I.1. Pengertian interpretasi seismik dan kegunaannya...3

I.2 Pengertian diagram fence seismic...4

I.3 Penjelasan sea level relative & global (transgresi & regresi)...4

I.3.1 Sea Level Relative...4

I.3.2 Sea Level Global... 5

I.4 Sebutkan dan jelaskan progradasi, retrogradasi, agradasi...6

I.4.2 Retrogradasi... 6

I.4.3 Agradasi...7

I.5. System tract geologi (vail et al, 1987)...7

I.5.1 Lowstand Systems Tract (LST)...7

I.5.2 Highstand Systems Tract (HST):...8

I.5.3 Transgressive Systems Tract (TST):...9

I.6. Sebutkan dan jelaskan analisis fasies seismik...9

BAB II...14

TUJUAN PRAKTIKUM...14

BAB III...15

HASPRAK DAN PEMBAHASAN...15

III.1 Interpretasi Penampang Seismik A-H...20

III.2 Interpretasi Digram Fence...20

III.3 Diagram 3D...21

III.4 Gambar A3... 21

DAFTAR PUSTAKA...24

(2)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Interpretasi Seismik (Researchgate)...3

Gambar 2 Fence Diagram (Researchgate)...4

Gambar 3 Sea Level Relative (Geologos)...4

Gambar 4 Sea Level Global (Scribd.id)...5

Gambar 5 Progradasi (Scribd.id)...6

Gambar 6 Retrogradasi (Scribd.id)...6

Gambar 7 LST (SEPM Strata)...7

Gambar 8 HST ( SEPM strata)... 8

Gambar 9 Sheet Drape (Sciencedirect)...9

Gambar 10 On lap Fill (Ensiklopedia Seismik)...10

Gambar 11 Fan Complex (Ensiklopedia Seismik)...10

Gambar 12 Parallel (Ensiklopedia Seismik)...10

Gambar 13 Subparallel(Ensiklopedia Seismik)...11

Gambar 14 Wavy Parallel( Ensiklopedia Seismik)...11

Gambar 15 Chaotic(Ensiklopedia Seismik)...11

Gambar 16 Local Chaotic( Ensiklopedia Seismik)...12

Gambar 17 Mound Shape ( Ensiklopedia Seismik)...12

(3)

BAB I PENDAHULUAN

I.1. Pengertian interpretasi seismik dan kegunaannya

Gambar 1 Interpretasi Seismik (Researchgate)

Interpretasi seismik merupakan salah satu tahapan penting dalam bidang eksplorasi yang dimana dilakukan penafsiran atau interpretasi, evaluasi, pembahasaan terhadap data seismik hasil akuisisi lapangan dan pemrosesan, diinterpretasikan ke dalam kondisi geologi yang diharapkan bisa mendekati kondisi geologi bawah permukaan yang sebenarnya. Kegunaan interpretasi seismic adalah sebagai berikut :

a) Eksplorasi Sumber Daya Alam: Interpretasi seismik digunakan untuk mencari dan memetakan reservoir minyak, gas alam, dan cadangan mineral di bawah permukaan bumi. Data seismik dapat membantu dalam menentukan lokasi dan ukuran cadangan ini.

b) Pemetaan Struktur Bawah Permukaan: Seismik dapat mengungkapkan struktur geologi seperti lipatan, patahan, atau kubah garam, yang merupakan perangkap potensial untuk akumulasi hidrokarbon.

c) Karakterisasi Reservoir: Data seismik digunakan untuk memetakan porositas, ketebalan lapisan, dan sifat fisik dari batuan reservoir. Ini sangat penting untuk menentukan apakah suatu reservoir layak untuk dieksploitasi.

(4)

I.2 Pengertian diagram fence seismic

Gambar 2 Fence Diagram (Researchgate)

Diagram fence seismik adalah representasi grafis tiga dimensi (3D) dari data seismik yang menunjukkan beberapa penampang seismik yang dipilih secara strategis dan ditempatkan dalam satu tampilan. Penampang-penampang ini diatur seperti rangka pagar (fence), sehingga membantu ahli geologi dan geofisika dalam memahami struktur geologi bawah permukaan secara spasial.

I.3 Penjelasan sea level relative & global (transgresi & regresi)

Gambar 3 Sea Level Relative (Geologos)

I.3.1 Sea Level Relative

Sea level relative merujuk pada tinggi permukaan air laut yang diukur dari lokal datum, seperti basement atau permukaan dalam tanah. Artinya, ia hanya relevan bagi wilayah tertentu dan tidak harus sama dengan muka air laut global.Perubahan muka air laut relative dipengaruhi oleh faktor-faktor lokal seperti aktivitas tektonik, sedimentasi, dan pergeseran dataran. Oleh karena itu, muka air laut relative dapat berbeda-beda di berbagai Lokasi

(5)

I.3.2 Sea Level Global

Gambar 4 Sea Level Global (Scribd.id)

Sea level global atau eustatic sea level adalah tinggi permukaan air laut yang diukur dari datum tetap. Ini merepresentasikan kondisi muka air laut secara global dan tidak bergantung pada lokalisasi spesifik. Perubahan muka air laut global biasanya terkait dengan fenomena iklim global, termasuk perubahan cuaca dan glasier. Kontrol utama pada perubahan muka air laut global adalah kombinasi dari gerakan eustasi dan tektonik. Kenaikan atau penurunan permukaan laut global berhubungan erat dengan siklus transgresi dan regresi dalam stratigrafi. Fenomena ini menciptakan siklus sedimentasi yang dapat terlihat dalam rekaman geologi, di mana terdapat tumpukan lapisan-lapisan batuan yang merekam fase-fase laut naik (transgresi) dan laut surut (regresi).

1. Transgresi sering menghasilkan lapisan naik ke atas dari material yang lebih kasar ke material yang lebih halus (coarsening upward sequence), menunjukkan bahwa lingkungan pengendapan bergeser dari daratan ke laut.

2. Regresi sering menghasilkan lapisan yang menunjukkan pergeseran dari laut ke darat (fining upward sequence), di mana material yang lebih halus di dasar digantikan oleh material kasar di atasnya.

Secara keseluruhan, perubahan sea level global akibat iklim atau proses tektonik sangat mempengaruhi dinamika transgresi dan regresi, yang pada akhirnya membentuk struktur stratigrafi dan evolusi cekungan sedimen.

(6)

I.4 Sebutkan dan jelaskan progradasi, retrogradasi, agradasi

I.4.1 Progradasi

Gambar 5 Progradasi (Scribd.id)

Progradasi adalah proses perkembangan gisik, gosong atau bura ke arah laut melalui pengendapan sedimen yang dibawa oleh hanyutan litoral (Setiyono, 1996). Bentuk- bentuk endapan yang utama dari gelombang dan arus sepanjang pantai adalah: beach, bars, spits, tombolo, tidal delta, dan beach ridges. Ketika gelombang menghempas (swash) merupakan kekuatan pukulan untuk memecahkan batuan yang ada di pantai.

Butiran-butiran halus dari pecahan batuan (material klastis), seperti kerikil atau pasir, kemudian diangkut sepanjang pesisir (shore, zona pasang-surut), yaitu bagian yang terkadang kering dan terkadang berair oleh gerak pasang-surut atau oleh arus terbimbing sepanjang pesisir (long shore currents). Proses erosi dan pemindahan bahan-bahan penyusun pantai (beach) yang terangkut disebut beachdrift, yaitu penggeseran-penggeseran pasir atau kerikil oleh gelombang (swash dan backwash) sampai diendapkan dan membentuk daratan baru, misalnya, endapan punggungan pasir memanjang yang disebut off shore bars atau spit.

I.4.2 Retrogradasi

Gambar 6 Retrogradasi (Scribd.id)

(7)

Pergerakan pantai tanah-bangsal dalam menanggapi pelanggaran. Hal ini dapat terjadi selama kenaikan permukaan laut dengan fluks sedimen rendah. pola susun retrogradasi dari parasequences mengacu pada pola yang fasies menjadi semakin lebih distal ketika ditelusuri ke atas secara vertikal (Posamantier, 1988; Wilgus, 1988;

Emery, dan Meyers, 1996).

I.4.3 Agradasi

Agradasi merupakan suatu pembentukan permukaan bumi melalui pengendapan, gejala ini adalah gejala jangka panjang yang prosesnya berakibat tingginya permukaan bumi yang sebelumnya rendah sebagai akibat penimbunan/sedimentasi oleh tenaga air, gelombang arus tsunami, gravitasi, gletser dan angin.

I.5. System tract geologi (vail et al, 1987)

System Tract dalam ilmu geologi adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan unit-unit pengendapan yang berkembang selama fasa-fasa tertentu dalam siklus muka laut relatif. Konsep ini dikembangkan oleh para ahli seperti Peter R. Vail, James J. Hardenbol, dan Stuart B. Todd dalam tahun 1987

I.5.1 Lowstand Systems Tract (LST)

Gambar 7 LST (SEPM Strata)

(8)

Merupakan fase pengendapan yang terjadi setelah puncak kemunduran muka laut relatif. Proses ini melibatkan pengendapan sedimen di dasar lembah-lembah yang terpotong dan di tepi lereng. Biasanya dilakukan oleh sedimen yang berjumlah banyak dan cepat, seperti fan dasar lembah dan fan lereng

I.5.2 Highstand Systems Tract (HST):

Gambar 8 HST ( SEPM strata)

Fase pengendapan yang terjadi sewaktu muka laut relatif sedang naik.

Karakteristiknya adalah proses pengendapan sedimen di daerah dangkal laut dengan pola yang aggrade (menambah volume) Umumnya terdiri dari sedimen halus seperti lumpur dan gamping. HST adalah fase dalam siklus pengendapan yang terjadi ketika muka laut relatif sedang berada pada tingkat tinggi dan mulai mengalami kenaikan yang lambat akibat subsidence dan eustasi. Pada fase ini, pasokan sedimen cukup untuk melebihi laju kenaikan muka laut, sehingga menghasilkan pola pengendapan progradational Selama HST, sedimen cenderung terakumulasi di daerah shelf, dengan pola pengendapan yang menunjukkan pergeseran garis pantai ke arah laut. Hal ini terjadi karena laju sedimentasi lebih tinggi dibandingkan dengan laju peningkatan ruang akomodasi. Pada awal fase HST, pola pengendapan dapat bersifat aggradational (penumpukan vertikal) tetapi kemudian menjadi lebih progradational seiring waktu

(9)

I.5.3 Transgressive Systems Tract (TST):

Fase pengendapan yang terjadi sewaktu muka laut relatif sedang naik.

Karakteristiknya adalah proses pengendapan sedimen di daerah yang semakin landas .Ditandai oleh pola "back-stepping" (langkah mundur) dan "retrogradation"

(pergeseran ke belakang) dari klinoform (garis-garis curam yang membentuk bentuk elips) Penggunaan Sistem Tract dalam Analisis Stratigrafi Sistem Tract sangat penting dalam analisis stratigrafi karena memungkinkan interpretasi tentang kondisi lingkungan dan peristiwa geologis yang terjadi pada masa lampau. Dengan menggunakan data well-log dan hasil eksplorasi geofisika, ahli geologi dapat mengindentifikasi batas-batas siklus pengendapan (sequence boundary), permukaan banjir maritim maksimal (maximum flooding surface), dan permukaan transgresi I.6. Sebutkan dan jelaskan analisis fasies seismik

1. Fasies Sheet-Drape

Gambar 9 Sheet Drape (Sciencedirect)

Seragam, pengendapan laut dalam yang tidak tergantung pada relief dasar laut, litologi seragam, tidak ada pasir Fasies ini terbentuk dari pengendapan

(10)

sedimen yang homogen dan tidak dipengaruhi oleh topografi dasar laut.

Contohnya adalah pengendapan lumpur dan lempung di dasar laut yang datar.

2. Fasies Onlap-Fill

Gambar 10 On lap Fill (Ensiklopedia Seismik)

Pengendapan dengan kontrol gravitasi, arus turbidi kecepatan rendah Fasies ini terbentuk saat muka air laut relatif naik, menyebabkan sedimen menutupi dasar laut. Pola onlap ini menunjukkan bahwa sedimen diendapkan di atas dasar laut yang sudah ada sebelumnya.

3. Fasies Fan-Complex

Gambar 11 Fan Complex (Ensiklopedia Seismik)

Diendapkan sebagai kipas, mound, dan slump, meskipun energi tinggi, mungkin masih mengandung batupasir sebagai reservoir. Fasies ini terbentuk dari pengendapan sedimen yang berbentuk seperti kipas, dengan sedimen yang diendapkan di berbagai elevasi. Energi yang tinggi dapat membuat sedimen berbentuk seperti kipas dan slumped.

4. Fasies Parallel

Gambar 12 Parallel (Ensiklopedia Seismik)

(11)

Disebabkan oleh pengendapan sedimen dengan rate yang seragam (uniform rate), atau pada paparan (shelf) dengan subsiden yang uniform atau sedimentasi pada stable basin plain. Fasies ini terbentuk dari pengendapan sedimen yang beraturan dan seragam, biasanya di daerah shelf yang stabil dengan subsiden yang konstan.

5. Fasies Subparallel

Gambar 13 Subparallel(Ensiklopedia Seismik)

Terbentuk pada zona pengisian, atau pada situasi yang terganggu oleh arus laut. Fasies ini terbentuk dari pengendapan sedimen yang tidak sepenuhnya beraturan, mungkin dipengaruhi oleh gangguan arus laut.

6. Fasies Wavy Parallel

Gambar 14 Wavy Parallel( Ensiklopedia Seismik)

Terbentuk akibat lipatan kompresi dari lapisan parallel di atas permukaan detachment atau diapir atau sheet drape dengan endapan berbutir halus. Fasies ini terbentuk dari proses lipatan kompresi yang menyebabkan lapisan-lapisan sedimen berbentuk gelombang.

7. Fasies Chaotic

Gambar 15 Chaotic(Ensiklopedia Seismik)

(12)

Pengendapan dengan energi tinggi (mounding, cut-and-fill channel) atau deformasi setelah proses sedimentasi (sekar, gerakan overpressure shale, dll.).

Fasies ini terbentuk dari pengendapan sedimen dengan energi yang sangat tinggi, seperti pada kanal yang tererosi dengan cara cut-and-fill.

8. Fasies Local Chaotic

Gambar 16 Local Chaotic( Ensiklopedia Seismik)

Slump (biasanya laut dalam) yang diakibatkan oleh gempabumi atau ketidakstabilan gravitasi, pengendapan terjadi dengan cepat Deskripsi:

Fasies ini terbentuk dari proses slump yang cepat, biasanya di laut dalam, akibat gempabumi atau ketidakstabilan gravitasi.

9. Fasies Mounded

Gambar 17 Mound Shape ( Ensiklopedia Seismik)

Bentuk seperti bukit, terbentuk dari proses sedimentasi yang intensif . Fasies ini terbentuk dari pengendapan sedimen yang intensif, membentuk bukit- bukit yang tinggi.

I.7 Resume “ Interpretasi Seismik”

Interpretasi seismik adalah proses penting dalam eksplorasi geologi yang melibatkan penafsiran, evaluasi, dan analisis data seismik dari akuisisi lapangan dan pemrosesan.

Tujuannya adalah untuk menginterpretasikan kondisi geologi bawah permukaan yang mendekati realitas. Pada awalnya, interpretasi seismik dilakukan secara konvensional menggunakan kertas yang mencetak reflektor dan amplitudo seismik. Semakin

(13)

banyak lintasan seismik, semakin banyak kertas yang dibutuhkan. Setelah interpretasi seismik, dilakukan pemodelan bawah permukaan untuk menghubungkan titik-titik interpretasi horizon menjadi model 2D atau 3D. Contohnya, dalam penelitian oleh Sri Wahyuningsih et al. (2006), mereka menentukan kecepatan dan kedalaman lapisan serta membuat model geologi bawah permukaan dengan metode Reciprocal Hawkins dan software SRIM (Seismic Refraction Inverse Modelling).

(14)

BAB II

TUJUAN PRAKTIKUM

Adapun Tujuan Praktikum acara IV “ Interpretasi Seismik “ adalah sebagai berikut :

II.1. Praktikan dapat mengidentifikasi pola struktur yang terdapat pada penampang seismik

II.2. Praktikan dapat mengetahui batas fasies seismik pada penampang seismic II. 3. Praktikan dapat membuat penampang seismik secara 3D

(15)

BAB III

HASPRAK DAN PEMBAHASAN HASPRAK 1

(16)

HASPRAK 2

(17)

HASPRAK 3

(18)

HASPRAK 4

(19)

HASPRAK 5

(20)

III.1 Interpretasi Penampang Seismik A-H Interpretasi A- B

Berdasarkan interpreasi penampang A-B horizon diwakili oleh warna biru,pre rift diwakili oleh warna kuning dam hijau adalah ssyn rift. Struktur pada penampang A- B merupakan Sesar Naik yang diinterpretasikan terbentuk karena kompresional sehingga terbentuk sesar naik

Interpretasi C-D

Berdasarkan interpreasi penampang C-D horizon diwakili oleh warna biru,pre rift diwakili oleh warna kuning dam hijau adalah ssyn rift. Struktur pada penampang A- B merupakan Sesar Naik dan sesar turun hal ini disebabkan oleh gaya kompresional lalu gaya ekstensional sehingga terbentuk sesar naik dan turun ini

Interpretasi E-F

Berdasarkan interpreasi penampang E-F horizon diwakili oleh warna biru,pre rift diwakili oleh warna kuning dam hijau adalah ssyn rift. Struktur pada penampang E- F ini merupakan sesar Naik dikarenakan gaya kompresional kemudian terbentuk sesar naik

Interpretasi G-H

Berdasarkan interpreasi penampang G-H horizon diwakili oleh warna biru,pre rift diwakili oleh warna kuning dam hijau adalah ssyn rift. Struktur pada penampang G- H ini merupakan sesar Naik dikarenakan gaya kompresional kemudian terbentuk sesar naik

III.2 Interpretasi Digram Fence

Berdasarkan interpreasi penampang Diagram Fence diwakili oleh warna biru merupakan horizon sedangkan pre rift warna kuning dan hijau adalah syn rift . Struktur pada diagram fence ini dapat dilihat bahwa paper struktur antara A-B dan CD masih berhubungan yaitu terlihat dari struktur sesar naik yang sama dan sesar turun juga masih berhubungan sementara untuk struktur E-F dan G-H masih

(21)

beruhubungan satu sama lain dapat dilihat dari struktur sesar naik yang masih berhubungan

III.3 Diagram 3D

Berdasarkan Interpretasi dapat dilihat bahwa penampang 3D warna biru merupakan horizon sedangkan pre rift warna kuning dan hijau adalah syn rift . Struktur pada diagram fence ini dapat dilihat bahwa paper struktur antara A-B dan CD masih berhubungan yaitu terlihat dari struktur sesar naik yang sama dan sesar turun juga masih berhubungan sementara untuk struktur E-F dan G-H masih beruhubungan satu sama lain dapat dilihat dari struktur sesar naik yang masih berhubungan

III.4 Gambar A3

Berdasarkan data penampang seismik stratigrafi A3 yang ada, dilakukan picking berupa picking struktur dan juga picking horizon. Setelah itu dilakukan penentuan system tracts dan penentuan analisis fasies seismik. Dimulai dengan picking horizon, dimana pada picking horizon dapat dijumpai adanya horizon atau lapisan yang memiliki gap di antaranya, hal ini menandakan bahwa terdapat struktur yang mengontrol horizon tersebut. Selanjutnya adalah picking struktur, dimana berdasarkan data gap – gap antar horizon tersebut ditarik garis struktur yang menandakan bahwa struktur tersebutlah yang membuat munculnya gap – gap pada horizon tersebut. Pada penampang, picking horizon ditandai dengan warna orange dan untuk picking struktur ditandai dengan warna merah. Setelah dilakukan picking, selanjutnya adalah dengan penentuan system tracts, system tracts sendiri adalah unit stratigrafi genetis yang menggabungkan strata yang terdeposisi dalam suatu sistem sedimen dispersal secara serempak. Sistem sedimen dispersal merupakan sistem yang menggambarkan bagaimana sedimen terdistribusi dalam basin berada dalam kondisi stabil selama proses sedimentasi berlangsung. Sistem tracts dibatasi oleh stacking pattern yang spesifik, berkaitan erat dengan perubahan garis pantai, dan respon sedimen akibat interaksi antara suplai sedimen, fisiografi, energi pengendapan, dan perubahan accomodation space. Pada penampang seismik, dapat kita jumpai adanya dua jenis system tracts yaitu berupa HST atau Highstand System Tracts dan juga LST atau Low System Tracts. Highstand System Tracts ditandai oleh karakteristik onlap

(22)

ke arah sequence boundary dan downlap ke arah basinward terhadap top transgressive system tract, HST terbentuk saat muka air laut mencapai titik puncaknya secara bertahap. Sedangkan Lowstand System Tracts ditandai oleh karakteristik stacking pattern parasequences yang menunjukkan backstepping dan retrogradational aggrading clinofoms, dengan pola sedimentasi yang berubah seiring dengan kenaikan muka air laut relatif. LST terbentuk saat muka air laut mencapai titik terendahnya relative. Selain penentuan system tracts, dilakukan juga penentuan facies seismic, dimana berdasarkan penampang sayatan 3D tersebut, terdapat beberapa facies seismic yaitu antara lain Downlap, Onlap, Toplap dan Truncation. Downlap ditandai oleh adanya terminasi strata lebih muda yang kedudukan mula miring ke bawah kemiringan di atas strata yang lebih tua. downlap diakibatkan oleh sedimentasi yang cukup intensif dan menunjukan adanya suatu sequence boundary. Onlap ditandai oleh adanya sedimen muda lewat secara progresif satu sama lain. Onlap biasanya terlihat pada base dari depositional sequence dan menunjukan adanya suatu sequence boundary. Toplap ditandai oleh tidak adanya peristiwa sedimentasi dan tidak ada peristiwa erosi. toplap biasanya terjadi pada top (atas) suatu nondepositional hiatus dan menunjukan adanya suatu batas sequence boundary. Untuk Truncation ditandai oleh adanya terminasi lateral lapisan, akibat terpotong dari batas pengendapan aslinya. Pada penampang ini dijumpai adanya beberapa tahapan seperti pre rift, syn rift, post rift, syn diapir sequence dan post diapir sequence, untuk pre, syn, dan post rift ditandai oleh horizon yang memiliki karakteristik berbeda, pre rift artinya pada saat pembentukan lapisan batuan pada bagian ini tidak terpengaruh atau belum terpengaruh adanya struktur (belum ada tektonik), sedangkan syn rift artinya pada saat pembentukan lapisan batuan pada bagian ini terjadi adanya pembentukan struktur geologi khususnya patahan yang akhirnya mengacak – acak lapisan batuan pada bagian ini. Untuk post rift, pembentukannya adalah ketika struktur yang bekerja telah selesai dan tidak lagi menimbulkan adanya struktur yang mengganggu pengendapan, sehingga pada bagian post rift lapisan batuan atau horizonnya relatif tenang seperti pada pre rift.

(23)

BAB IV KESIMPULAN

(24)

DAFTAR PUSTAKA

Dobson, G. (2006). "Exploration Geophysics". Elsevier Science.

Logging, A. R. (n.d.).

M. Telford, L. P. (1995). "Applied Geophysics". Cambridge University Press.

Philip Kearey, M. B. ((2002)). "An Introduction to Geophysical Exploration".

Wiley-Blackwel.

Savit, M. B. ( (2005)). "Introduction to Geophysical Prospecting. McGraw-Hill.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian ini dapat membantu penulis serta pembaca untuk memahami analisis penampang bawah permukaan laut, baik dengan menggunakan metode seismik dan

Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan hasil penampang refleksi seismik dengan penerapan dekonvolusi prediktif dan dekonvolusi spiking serta menentukan

6 Pre test dan post test Test Tertulis Memahami algoritma sequence, selection, repeatition, pemecahan, penggunaan variabel, operator logika dengan tepat dan

Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan metode kualitatif untuk mendapatkan gambaran yang lebih mendalam mengenai masalah post power

Profil yang telah dibuat ditumpang tindihkan (overlay) dengan penampang impedansi akustik hasil inversi seismik untuk melihat penyebaran litologi reservoir pada

Digunakan metode Kirchhoff untuk proses migrasi karena perhitungannya dapat menyelesaikan domain waktu, sudut, dan jarak yang terdapat dalam penampang seismik serta

Penelitian ini bertujuan melakukan penerapan metoda inversi seismik impedansi akustik post-stack dengan mengintegrasikan data sumur dan survey seismik 3D sehingga

Departemen Drilling & Pre-Loading Peralatan yang digunakan oleh seismic drilling • Mesin Power Rig mesin pemutar bor yang digunakan pada pemboran • Mesin Dephi Pump untuk menyedot