Please know that any use or reproduction
of content must systematically and clearly
state the following copyright:
Analisis Politik Nasional dan Millenium Development Goal
(MDG)
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia 2008
Drh. Wiku Adisasmito, M.Sc, Ph.D
Kata Pengantar...i
Problem Overview ... 1
Policy Question... 1
BAB I PENDAHULUAN ... 2
1.1. Latar Belakang ... 2
1.2 Manfaat ... 3
BAB II ANALISA SITUASI ... 4
2.1 Tujuan (goal) MDG, Target MDG dan Indikator MDG ... 4
2.2 Indikator Pencapaian Indonesia Sehat 2010... 6
2.3 Demografi Masyarakat Indonesia... 9
2.4 Profil Pendidikan, Pekerjaan dan Pendapatan Masyarakat Indonesia ... 10
2.5 Profil Kesehatan Masyarakat Indonesia dan Ketercakupan Pelayanan Kesehatan ... 11
2.6 Profil Gizi Masyarakat Indonesia... 14
2.7 Kondisi Geografis dan Fasilitas Pengadaan Air Bersih Masyarakat Indonesia ... 17
2.8 Peta Perpolitikan di Indonesia... 18
2.9 Pelaksanaan Otonomi Daerah ... 18
2.10 Alokasi Dana APBN untuk Sektor Kesehatan ... 24
2.11 Indeks Pembangunan Nasional dan Indeks Pembangunan Manusia Indonesia ... 25
BAB III KAJIAN AKADEMIK ... 26
3.1 Arah dan Kebijakan Pembangunan Nasional... 26
3.2 Arah dan Kebijakan Kesehatan Nasional ... 27
3.3 Arah dan Kebijakan Politik Nasional yang Terkait Dengan MDG ... 28
3.4 Pencapaian (Goal) MDG versi Indonesia ... 30
3.5 Program partai-partai yang ada terkait dalam pelaksanaan MDG... 31
BAB IV PEMBAHASAN ... 33
KESIMPULAN ... 38
DAFTAR PUSTAKA... 39
Kata Pengantar
Assalamualaikum Wr. Wb.
Dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan dan memudahkan proses belajar mengajar di Universitas Indonesia, khususnya untuk Topik Kebijakan Kesehatan, penulis membuat Seri Studi Kasus tentang Pembuatan Kebijakan Kesehatan. Studi kasus ini dikembangkan dari kegiatan belajar mengajar berbagai Mata Ajaran di tingkat Pascasarjana dan Sarjana tentang Kebijakan Kesehatan yang diselenggarakan oleh Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Sebagai penanggung jawab Mata ajaran tentang Pembuatan Kebijakan Kesehatan di lingkungan FKM UI, penulis merasa perlu untuk menyusun Studi Kasus ini agar dapat merangsang kreativitas dan memberikan perspektif yang komprehensif dan luas sambil mengasah daya nalar yang kritis dari setiap mahasiswa dalam mempelajari berbagai aspek dalam pembuatan kebijakan publik di sektor kesehatan.
Seluruh topik dan format, serta sebagian isi yang ada pada Seri Studi Kasus ini penulis susun sebagai penugasan pada mahasiswa untuk selanjutnya dielaborasi menjadi sebuah makalah ilmiah.
Hasil dari penyusunan makalah ilmiah ini penulis sempurnakan menjadi Studi Kasus untuk dimanfaatkan dalam pembelajaran topik Pembuatan Kebijakan Kesehatan terutama di lingkungan Universitas Indonesia. Adanya kelengkapan struktur Studi Kasus yang meliputi: Naskah Akademik &
Draft Pasal Peraturan Perundangan yang diusulkan. Naskah Akademik memuat substansi:
Pendahuluan, Tinjauan Masalah, Landasan Hukum, Materi Muatan, Penutup, Daftar Pustaka. Struktur ini diharapkan dapat membantu mahasiswa menyusun sebuah kebijakan berdasarkan masalah kesehatan masyarakat (Public Health problem-based) yang dilengkapi dengan sintesis & analisis, dikemas berdasarkan teori dan perspektif ilmiah dalam sebuah Naskah Akademik, dan kemudian diuraikan dalam konstruksi sebuah Draft Peraturan Perundangan.
Kepustakaan utama yang digunakan dalam penyusunan Studi Kasus ini adalah Sistem Kesehatan, Wiku Adisasmito (2007), Making Health Policy, Kent Buse, et al (2006), The Health Care Policy Process, Carol Barker (1996), Health Policy, An Introduction to Process and Power, Gill Walt (1994), dan UU No 10/2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundangan. Dengan demikian diharapkan studi kasus ini dapat memberikan materi komplit yang diperlukan dalam penyelenggaraan proses belajar mengajar.
Penulis ucapkan terima kasih kepada Sdr Khania Puspitasari, mahasiswa Program Pascasarjana Ilmu Kesehatan Masyarakat, FKM UI Angkatan 2006/2007 yang telah membantu menyusun makalah yang kemudian makalah tersebut dimodivikasi oleh penulis sebagai studi kasus.
Mohon maaf apabila ada kekurangan / kesalahan dalam penyusunan materi Studi Kasus ini. Kritik dan saran akan membantu penulis dalam upaya meningkatkan kualitas Studi Kasus ini. Semoga kita semua selalu mendapatkan ridlo Illahi dalam menuntut ilmu agar bermanfaat. Amin.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Depok, 27 Februari 2008
Drh. Wiku Adisasmito, MSc, PhD
Departemen Administrasi & Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia
POLITIK NASIONAL DAN MILLENIUM DEVELOPMENT GOAL (MDG)
Oleh: Wiku Adisasmito dan Khania Puspitasari
Problem Overview:
MDG adalah tujuan dan tanggung jawab dari semua negara yang berpartisipasi dalam KTT Milenium, baik pada rakyatnya maupun secara bersama antar pemerintahan.
MDG memiliki 8 tujuan, 18 target, dan 48 indikator yang telah disusun oleh konsensus para ahli dari sekretariat PBB, Dana Moneter Internasional (IMF), Organisasi untuk Pembangunan dan Kerjasama Ekonomi (OECD) dan Bank Dunia. Masing-masing indikator digunakan untuk memonitor perkembangan pencapaian setiap tujuan dan target.
Keikutsertaan Indonesia menandatangani Millenium Development Goal (MDG), menjadikan Indonesia harus berusaha untuk turut mensukseskan MDG sebagai komitmen global.
Policy Question :
1. Apa Kebijakan yang dibuat oleh Pemerintah terkait politik nasional dan MDGs ? 2. Bagaimana content kebijakan tersebut dianalisis?
3. Apakah kebijakan tersebut sudah memenuhi aspek-aspek lingkungan strategis (IPOLEKSOSBUDHANKAM)?
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
a. Sejarah pembentukan MDG
Kehidupan yang layak dan kesejahteraan penduduk merupakan tujuan dari pembangunan di setiap negara, agar keadaan bumi yang aman, makmur, dan sejahtera dapat tercapai. Untuk mewujudkan semua itu, pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Milenium Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) bulan September 2000, sebanyak 189 negara anggota PBB yang diwakili oleh kepala negara dan kepala pemerintahan sepakat untuk melahirkan sebuah deklarasi Millenium Development Goal (MDG) atau dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai Tujuan Pembagunan Millenium.1,2 Deklarasi itu berdasarkan pendekatan yang inklusif, dan berpijak pada perhatian bagi pemenuhan hak-hak dasar manusia.1 Di dalam KTT Milenium tersebut juga dihasilkan konsensus yang merangkai upaya-upaya untuk mencapai tujuan MDG dengan perhatian utama pada hak asasi manusia, tata pemerintahan yang baik, demokratisasi, pencegahan konflik, dan pembangunan perdamaian.2,4 Pada mulanya, MDG merupakan sebuah review atas kebijakan pembangunan yang dikeluarkan oleh OECD-DAC pada pertengahan tahun 1990 dan kemudian dimasukkan kedalam Tujuan Pembangunan Internasional (Internasional Development Goals) tahun 2000 dan direvisi menjadi Tujuan Pembangunan Milenium (Millenium Development Goals) pada KTT Milenium.4
Setiap tujuan (goal) dari MDG memiliki satu atau beberapa target dengan beberapa indikatornya. MDG memiliki 8 tujuan, 18 target, dan 48 indikator yang telah disusun oleh konsensus para ahli dari sekertariat PBB, Dana Moneter Internasional (IMF), Organisasi untuk Pembangunan dan Kerjasama Ekonomi (OECD) dan Bank Dunia.2,5 Masing-masing indikator digunakan untuk memonitor perkembangan pencapaian setiap tujuan dan target.1
Selain Tujuan Pembangunan Milenium (MDG), ada beberapa tujuan pembangunan yang lain ditetapkan pada dekade 1960-an hingga 1980-an. Sebagian terlahir dari konferensi global yang diselenggarakan PBB pada 1990-an, termasuk KTT Dunia untuk Anak, Konferensi Dunia tentang Pendidikan untuk Semua 1990 di Jomtien, Konferensi PBB tentang Lingkungan dan Pembangunan 1992 di Rio de Janeiro, serta KTT Dunia untuk Pembangunan Sosial 1995 di Copenhagen. MDG tidak bertentangan dengan komitmen global yang sebelumnya karena sebagian dari MDG itu telah dicanangkan dalam Tujuan Pembangunan Internasional (IDG), oleh negara-negara maju yang tergabung dalam OECD pada 1996 hingga selanjutnya diadopsi oleh PBB, Bank Dunia dan IMF.1
Beberapa hal penting yang perlu mendapat perhatian berkaitan dengan MDG adalah sebagai berikut: Pertama, MDG bukan tujuan PBB, sekalipun PBB merupakan lembaga yang aktif terlibat dalam promosi global untuk merealisasikannya. MDG adalah tujuan dan tanggung jawab dari semua negara yang berpartisipasi dalam KTT Milenium, baik pada rakyatnya maupun secara bersama antar pemerintahan. Kedua, tujuh dari delapan tujuan telah dikuantitatifkan sebagai target dengan waktu pencapaian yang jelas, hingga memungkinkan pengukuran dan pelaporan kemajuan secara objektif dengan indikator yang sebagian besar secara internasional dapat diperbandingkan. Ketiga, tujuan-tujuan dalam MDG saling terkait satu dengan yang lain. Keempat, dengan dukungan PBB, terjadi upaya global untuk memantau kemajuan, meningkatkan perhatian, mendorong tindakan dan penelitian yang akan menjadi landasan intelektual bagi reformasi kebijakan, pembangunan kapasitas dan memobilisasi sumber daya yang dibutuhkan untuk mencapai semua target. Kelima, 18 belas target dan lebih dari 40 indikator terkait ditetapkan untuk dapat dicapai dalam jangka waktu 25
tahun antara 1990 dan 2015. Sekalipun MDG merupakan sebuah komitmen global tetapi diupayakan untuk lebih mengakomodasikan nilai-nilai lokal sesuai dengan karakteristik masing-masing negara sehingga lebih mudah untuk diaplikasikan.1
Dalam sidang umum PBB yang ke-60 pada tanggal 14-16 September 2005, dilakukan juga evaluasi pelaksanaan lima tahun MDG. Dalam evaluasi tersebut dikatakan bahwa 50 negara gagal mencapai paling sedikit satu target MDG. Sedangkan 65 negara lainnya beresiko untuk sama sekali gagal mencapai paling tidak satu MDG hingga 2040. Sehingga hingga kini, MDG masih menjadi suatu perdebatan tentang tujuan-tujuan yang ingin dicapai dalam MDG, sumber daya yang dibutuhkan dan bagaimana cara pencapaian MDG.4
b. Keikutsertaan Indonesia dalam MDG
Sejak Indonesia tergabung dalam keanggotaan PBB, secara otomatis Indonesia banyak telibat dalam menyukseskan kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh PBB.
Keikutsertaan Indonesia dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Milenium Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) bulan September 2000 dan menandatangani Millenium Development Goal (MDG), menjadikan Indonesia harus berusaha untuk turut menyukseskan MDG sebagai komitmen global.
Indonesia menyadari bahwa MDG bukan tujuan PBB, sekalipun PBB merupakan lembaga yang aktif terlibat dalam promosi global untuk merealisasikannya. MDG adalah tujuan dan tanggung jawab dari semua negara yang berpartisipasi dalam KTT Milenium, baik pada rakyatnya maupun secara bersama antar pemerintahan.
Penggunaan indikator MDG akan merangsang lembaga-lembaga pemerintah dan swasta di tingkat daerah untuk menyatukan upaya pembangunan. Sehingga bisa dihasilkan sinergi positif yang menguntungkan rakyat banyak. Karena persatuan dan kesatuan yang terjadi pada tingkat penduduk, terutama pada tingkat rakyat banyak (grass root level) memerlukan pelayanan manusiawi dan dikemudian hari bisa menikmatinya, merupakan sumbangan pembangunan yang sangat dibutuhkan.
1.2 Manfaat
a. memberikan informasi yang lengkap mengenai proses penyelesaian suatu masalah kesehatan
b. sebagai bahan pertimbangan dalam membuat suatu kebijakan kesehatan di masa yang akan datang
BAB II ANALISA SITUASI
2.1 Tujuan (goal) MDG, Target MDG dan Indikator MDG
Telah disebutkan sebelumnya bahwa di dalam Tujuan Pembangunan Milenium (MDG) terdapat 8 tujuan yang harus dicapai dengan 18 target dan 48 indikator yang diharapkan dapat membantu tercapainya tujuan dari MDG. Adapun 18 target dan 48 indikator tersebut disusun oleh konsensus para ahli dari sekertariat PBB, Dana Moneter Internasional (IMF), Organisasi untuk Pembangunan dan Kerjasama Ekonomi (OECD) dan Bank Dunia.1,2,5
Tujuan (goal) MDG, target MDG dan indikator MDG adalah sebagai berikut:1,2,5,6 a. Tujuan 1: Menanggulangi Kemiskinan dan Kelaparan
Target 1: Menurunkan proporsi penduduk yang tingkat pendapatannya di bawah
$1 per hari menjadi setengahnya antara 1990–2015.
Indikator 1: Proporsi populasi yang tingkat pendapatannya dibawah $1 per hari.
Indikator 2: Ratio gap kemiskinan.
Indikator 3: Sumbangan kuantil termiskin dalam konsumsi nasional.
Target 2: Menurunkan proporsi penduduk yang menderita kelaparan menjadi setengahnya antara tahun 1990–2015.
Indikator 4: Prevalensi balita dengan berat badan rendah.
Indikator 5: Proporsi penduduk yang konsumsi makanan berenergi di bawah batas minimal.
b. Tujuan 2: Mencapai Pendidikan Dasar untuk Semua
Target 3: Memastikan pada 2015 semua anak dimanapun, laki-laki maupun perempuan, dapat menyelesaikan seluruh pendidikan dasar.
Indikator 6: Ratio pendaftaran sekolah pada jenjang pendidikan dasar.
Indikator 7: Proporsi murid-murid yang menyelesaikan pendidikan dari kelas 1 hingga kelas 5.
Indikator 8: rata-rata melek huruf usia15-24 tahun.
c. Tujuan 3: Mendorong Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan
Target 4: Menghilangkan ketimpangan gender di tingkat pendidikan dasar dan lanjutan pada tahun 2005 dan di semua jenjang pendidikan tidak lebih dari tahun 2015.
Indikator 9: Ratio anak laki-laki dan perempuan pada pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.
Indikator 10: Rasio wanita terpelajar terhadap laki-laki terpelajar, usia 15-24 tahun.
Indikator 11: Pendapatan pekerja wanita pada sektor non-agrikultural.
Indikator 12: Proporsi jumlah kursi yang diduduki oleh wanita pada parlemen nasional.
Indikator 13: Angka kematian balita.
Indikator 14: Angka kematian bayi.
Indikator 15: Proporsi anak usia 1 tahun yang diimunisasi polio.
e. Tujuan 5: Meningkatkan Kesehatan Ibu
Target 6: Menurunkan angka kematian ibu sebesar tiga perempatnya antara tahun 1990 dan 2015.
Indikator 16: Rasio kematian ibu.
Indikator 17: Proporsi kelahiran yang ditangani tenaga kesehatan terlatih.
f. Tujuan 6: Memerangi HIV/AIDS, Malaria, dan Penyakit Menular Lainnya
Target 7: Mengendalikan penyebaran HIV/AIDS dan mulai menurunnya jumlah kasus baru pada tahun 2015.
Indikator 18: Prevalensi HIV pada wanita hamil usia 15-24 tahun.
Indikator 19: Angka pemakaian kondom sebagai alat kontrasepsi.
19a. Penggunaan kondom pada hubungan seks beresiko tinggi.
19b. Persentasi populasi usia 15-24 dengan pengetahuan yang benar tentang HIV/AIDS.
Indikator 20: rasio antara anak yatim piatu yang bersekolah dengan anak non-yatim piatu yang berusia antara 10-14 tahun.
Target 8: Mengendalikan penyakit malaria dan mulai menurunnya jumlah kasus malaria dan penyakit lainnya pada tahun 2015.
Indikator 21: Prevalensi malaria dan angka kematian karena malaria.
Indikator 22: Proporsi populasi pada daerah resiko tinggi malaria dengan menggunakan pengukuran pencegahan dan pengobatan malaria yang efektif.
Indikator 23: Prevalensi tuberkulosis dan angka kematian karena tuberkulosis.
Indikator 24: Prevalensi kasus tuberkulosis yang terdeteksi dan ditangani dengan DOTS.
g. Tujuan 7: Memastikan Keberlanjutan Lingkungan Hidup
Target 9: Memadukan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dengan kebijakan dan program nasional dan mengurangi pengrusakan lingkungan.
Indikator 25: Proporsi daerah yang masih ditutupi hutan.
Indikator 26: Rasio daerah yang dilindungi untuk menjaga keanekaragaman biologi terhadap daerah permukaan.
Indikator 27: Energi yang digunakan (rata-rata kg minyak) per $1 GDP (PPP).
Indikator 28: Emisi CO2 per kapita dan konsumsi CFC penyebab kerusakan ozon.
Indikator 29: Proporsi populasi yang menggunakan bahan bakar padat.
Target 10: Penurunan sebesar separuh, proporsi penduduk tanpa akses terhadap sumber air minum yang aman dan berkelanjutan serta fasilitas sanitasi dasar pada tahun 2015.
Indikator 30: Proporsi populasi yang mempunyai kemudahan akses untuk memperoleh air minum, kota dan desa.
Indikator 31: Proporsi populasi yang mempunyai akses untuk memperoleh sanitasi, kota dan desa.
Target 11: Mencapai perbaikan yang berarti dalam kehidupan penduduk miskin di pemukiman kumuh pada tahun 2020.
Indikator 32: Proporsi rumah tangga dengan akses lingkungan yang aman.
h. Tujuan 8: Membangun Kemitraan Global untuk Pembangunan
Target 12: Membangun sistem keuangan dan perdagangan yang terbuka, berdasarkan hukum, dapat diprediksi, dan tidak diskriminatif.
Target 13: Memberikan perhatian khusus pada negara-negara miskin, termasuk.
Target 14: Memberikan perhatian khusus pada negara-negara terisolir dan negara pulau yang kecil.
Target 15: Berhubungan dengan permasalahan-permasalahan hutang negara- negara berkembang melalui perhitungan-perhitungan nasional dan internasional dalam rangka membuat hutang tersebut bisa menopang dalam waktu lama.
LDCs, sebagai persentasi pendapatan national total dari donor OECD atau Development Assistance Committee (DAC)
Indikator 34: Proporsi hubungan bilateral total, alokasi sektor donor ODA dari OECD/DAC terhadap pelayanan sosial dasar (pendidikan dasar, pelayanan kesehatan primer, nutrisi, air bersih dan sanitasi).
Indikator 35: Proporsi donor bilateral ODA dari OECD/DAC yang tidak terikat.
Indikator 36: ODA diterima di negara berkembang yang dikelilingi daratan sebagai sebuah bagian dari GNI mereka.
Indikator 37: ODA diterima di negara kepulauan kecil yang sedang berkembang sebagai bagian GNI mereka.
Indikator 38: Proporsi total import dari negara maju.
Indikator 39: Rata-rata tarif yang ditentukan oleh negara-negara maju terhadap hasil pertanian, textil, dan pakaian dari negara-negara berkembang.
Indikator 40: Perkiraan dukungan pertanian untuk negara-negara OECD sebagai persentase dari GDP.
Indikator 41: Proporsi dari ODA yang disediakan untuk membantu pembangunan kapasitas perdagangan.
Indikator 42: Jumlah total negara-negara yang telah mencapai Heavily Indebted Poor Countries Initiatives (HIPC) decision points dan jumlah negara-negara yang telah mencapai HIPC completion points (cumulative).
Indikator 43: Komitmen pembebasan hutang dibawah inisiatif HIPC.
Indikator 44: Perbaikan hutang sebagai persentase dari eksport barang dan jasa.
Target 16: Dalam kerja samanya dengan negara-negara berkembang, pengembangan dan penerapan strategi untuk para remaja pada pekerjaan yang produktif dan layak.
Indikator 45:Rata-rata jumlah untuk tiap jenis kelamin dan keseluruhan untuk remaja usia 15-24 tahun yang tidak bekerja.
Target 17: Bekerjasama dengan perusahaan farmasi dalam menyediakan akses untuk pengadaan obat esensial di negara berkembang.
Indikator 46: Proporsi populasi dengan akses terhadap ketersediaan obat-obat esensial sesuai dasar yang telah ditentukan.
Target 18: Bekerjasama dengan sektor swasta untuk menyediakan teknologi baru yang menguntungkan terutama dalam hal informasi dan komunikasi.
Indikator 47: Jumlah pelanggan saluran telepon dan telepon selular per 100 populasi.
Indikator 48: Personal computer yang digunakan 100 populasi dan pengguna internet per 100 populasi.
2.2 Indikator Pencapaian Indonesia Sehat 2010
Sejak awal tahun 1999, telah ditetapkan Visi baru Pembangunan Kesehatan yang secara singkat dinyatakan sebagai INDONESIA SEHAT 2010. Dengan rumusan ini dimaksudkan bahwa pada tahun 2010 kelak bangsa Indonesia sudah akan hidup sehat dalam lingkungan yang sehat, berperilaku hidup bersih dan sehat, serta dapat memilih, menjangkau dan memanfaatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan berkeadilan, sehingga memiliki derajat kesehatan yang optimal.7 Pencapaian visi Provinsi Sehat dan pencapaian visi Kabupaten/Kota Sehat merupakan modal dasar bagi tercapainya visi Indonesia Sehat 2010.
Adapun indikator pencapaian pencapaian visi Indonesia Sehat 2010 adalah:
a. Derajat Kesehatan yang Optimal
Derajat kesehatan yang optimal akan dilihat dari unsur kualitas hidup serta unsur- unsur mortalitas dan yang mempengaruhinya, yaitu morbiditas dan status gizi. Untuk kualitas hidup, yang digunakan sebagai indikator adalah Angka Harapan Hidup Waktu Lahir (Lo). Sedangkan untuk mortalitas telah disepakati lima indikator, yaitu Angka Kematian Bayi (AKB) per-1000 Kelahiran Hidup, Angka Kematian Balita (AKABA) per- 1000 Kelahiran Hidup, Angka Kematian Pneumonia Pada Balita per-1000 Balita, Angka Kematian Diare Pada Balita per-1000 Balita, dan Angka Kematian Ibu Melahirkan (AKI) per-100000 Kelahiran Hidup. Untuk morbiditas telah disepakati beberapa indikator, yaitu Angka Kesakitan Demam Berdarah Dengue (DBD) per-100000 Penduduk, Angka Kesakitan Malaria per-1000 Penduduk, Persentase Kesembuhan TB Paru, Persentase Penderita HIV/AIDS Terhadap Penduduk Berisiko, dan Angka “Acute Flaccid Paralysis”
(AFP) Pada Anak Usia <15 Tahun per-100000 Anak.
b. Lingkungan yang Sehat
Untuk menilai keadaan lingkungan sehat telah dipilih empat indikator yang diprogramkan dalam sektor kesehatan7, yaitu persentase keluarga yang memiliki persediaan air minum sehat, persentase keluarga yang memiliki akses terhadap jamban sehat, persentase keluarga yang mengelola sampah dengan baik, dan persentase keluarga yang mengelola air limbahnya dengan aman. Sedangkan lingkungan yang dikembangkan sektor-sektor terkait mencakup kependudukan, kondisi lingkungan sosial, dan kondisi ekonomi.
c. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
Perilaku hidup bersih dan sehat mencakup perilaku individu dan keluarga dalam rangka meningkatkan kesehatannya serta perilaku kelompok dan masyarakat untuk berperan serta dalam pembangunan kesehatan. Untuk ini telah disepakati empat indikator, yaitu Persentase Penduduk Usia 10 Tahun ke Atas yang Melakukan Olah Raga Secara Teratur, Persentase Penduduk Usia 10 Tahun ke Atas yang Tidak Merokok, Persentase Penduduk yang Memanfaatkan Pelayanan Kesehatan (Rawat Jalan), dan Persentase Desa yang Memiliki Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM).
d. Pelayanan Kesehatan Bermutu dan Terjangkau
Untuk melihat pemerataan, mutu, keterjangkauan, dan keadilan pelayanan kesehatan telah disepakati delapan indikator, yaitu rasio puskesmas terhadap penduduk, rasio puskesmas pembantu terhadap penduduk, rasio rumah sakit terhadap penduduk, rasio tempat tidur rumah sakit terhadap penduduk, persentase penduduk yang puas memanfaatkan pelayanan rawat jalan, persentase penduduk yang puas memanfaatkan pelayanan rawat inap, dan persentase penduduk yang tercakup jaminan pembiayaan kesehatan.
Hasil atau keluaran tersebut di atas dicapai melalui penyelenggaraan Pembangunan Kesehatan yang membawa empat Misi, yaitu:
(1) Pembangunan Kesehatan harus dapat menggerakkan Pembangunan Nasional yang berwawasan kesehatan;
(2) Pembangunan Kesehatan harus dapat mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat;
(3) Pembangunan Kesehatan harus dapat memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan terjangkau; dan
(4) Pembangunan Kesehatan harus dapat meningkatkan kesehatan individu, keluarga, masyarakat serta lingkungannya.
Kesemuanya itu dilaksanakan melalui strategi utama berupa:
(1) Desentralisasi Kesehatan, yang berisi strategi-strategi;
(2) Pembangunan Berwawasan Kesehatan;
(3) Profesionalisme; dan
(4) Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat.
Untuk menggambarkan kegiatan Pembangunan Kesehatan telah disepakati adanya sebelas (11) indikator pelayanan kesehatan dan enam (6) indikator manajemen kesehatan.
Indikator-indikator pelayanan kesehatan terdiri atas7: (1) Persentase ibu hamil yang mendapat pelayanan K4;
(2) Persentase ibu hamil yang mendapat tablet Fe;
(3) Persentase ibu hamil yang mendapat kapsul yodium;
(4) Persentase pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan;
(5) Persentase bayi baru lahir yang mendapat kunjungan tenaga kesehatan;
(6) Persentase peserta KB aktif;
(7) Persentase balita yang mendapat kapsul vitamin A;
(8) Persentase bayi yang mendapat imunisasi campak;
(9) Cakupan pengobatan TB paru;
(10)Persentase rumah/bangunan yang bebas jentik nyamuk;
(11) Persentase murid SD/MI yang tercakup perawatan kesehatan gigi.
Sedangkan indikator-indikator manajemen kesehatan terdiri atas7: (1) Rasio dokter terhadap penduduk,
(2) Rasio dokter gigi terhadap penduduk, (3) Rasio perawat terhadap penduduk, (4) Rasio bidan terhadap penduduk,
(5) Persentase persediaan obat Puskesmas terhadap kebutuhan, (6) Persentase anggaran kesehatan daerah terhadap APBD.
Secara skematis mengenai visi Indonesia Sehat 2010 dapat digambarkan sebagai berikut:8
Mei 06
Mei 06 88
Visi Indonesia Sehat 2010 Visi Indonesia Sehat 2010
(KepMenKes No. 574/Men.Kes/SK/IV/2000 tentang (KepMenKes No. 574/Men.Kes/SK/IV/2000 tentang Pembangunan Kesehatan Menuju Indonesia Sehat 2010) Pembangunan Kesehatan Menuju Indonesia Sehat 2010)
Visi 2010
Masyarakat sehat dg:
Lingkungan sehat, Perilaku sehat, Yankes bermutu,
adil dan merata
MISI:
1. Pembangunan berwawasan kesehatan 2. Kemandirian Masyarakat
3. Peningkatan Yankes yang bermudtu, merata, dan terjangkau
Kebijakan
1. Peningkatan KS Lintor 2. Peningkatan perilaku dan
pemberdayaan dan kemitraan
3. Peningkatan Kesling 4. Peningkatan Upaya
Kesehatan 5. Derajat Kesehatan
Strategi
1. Pembangunan Was Kes 2. Desentralisasi 3. Profesionalisme
4. JPKM SASARAN
1. Perilkau hidup sehat 2. Lingkungan Sehat 3. Upaya Kesehatan 4. Manajemen Bangkes 5. Derajat Kesehatan POKOK PROGRAM
DAN PROG
RAM KESEHATAN UNGGULAN
sumber : Bahan perkuliahan Sistim Pelayanan Kesehatan KARS UI 2005
2.3 Demografi Masyarakat Indonesia
Indikator kependudukan yang terpenting adalah Pertumbuhan Penduduk Rata-rata per Tahun (Persen) dan Prevalensi Akseptor Keluarga Berencana (Persentase Terhadap Pasangan Usia Subur).7 Pada tahun 2000, jumlah penduduk Indonesia adalah 206 juta, keempat terbanyak di dunia. Di kawasan ASEAN pertumbuhannya pada 1990-2001 sekitar 1,49 persen per tahun dan pada tahun 2005 sekitar 1,45 persen7,12 setelah Kamboja, Laos, dan Brunei Darussalam sedangkan Singapura merupakan negara di kawasan Asia Tenggara dengan laju pertumbuhan penduduk terendah, yaitu sebesar 0,8% per tahun.7
Salah satu indikator pertumbuhan suatu bangsa tercermin dari peningkatan persentase penduduk yang tinggal di perkotaan. Di negara maju sebagian besar penduduknya tinggal di daerah perkotaan karena sebagian desa telah diubah menjadi kota.
Keadaan di Indonesia merupakan kebalikannya, yaitu sebagian besar penduduknya tinggal di pedesaan (56,87% berbanding 43,13%). Distribusi penduduk tetap timpang, meskipun telah diupayakan transmigrasi untuk mengurangi kepadatan di Pulau Jawa, Bali, dan Madura. Lebih dari 60 persen penduduk masih bertempat tinggal di ketiga pulau yang luasnya hanya tujuh persen dari luas daratan Indonesia itu.7
Komposisi penduduk Indonesia dirinci menurut kelompok umur dan jenis kelamin, menunjukkan penduduk laki-laki maupun perempuan terbanyak berada pada kelompok umur 5-9 dan 10-14 tahun. Gambaran komposisi penduduk secara lebih rinci dapat dilihat dalam gambar berikut7:
sumber : Profil Kesehatan Indonesa tahun 2001
Penduduk menurut kelompok umur menunjukkan bahwa 30,50% penduduk Indonesia berusia muda (0-14 tahun), 64,83% berusia produktif (umur 15-64 tahun), dan hanya 4,68%
yang berumur 65 tahun lebih, sehingga diperoleh angka rasio ketergantungan penduduk Indonesia sebesar 54,25 artinya setiap 100 penduduk usia produktif menganggung sekitar 54 orang penduduk usia tidak produktif.
2.4 Profil Pendidikan, Pekerjaan, dan Pendapatan Masyarakat Indonesia
Garis besar kebijakan pendidikan adalah perluasan dan pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu dan kesejahteraan pendidik, dan memberdayakan lembaga pendidikan. Selain itu, tujuan pembangunan pendidikan juga melakukan pembaruan dan pemantapan sistem pendidikan, termasuk pembaruan kurikulum dan pelaksanaan desentralisasi pendidikan. Data SUSENAS 20041 menunjukkan bahwa angka partisipasi murni (APM) jenjang SD/MI telah mengalami peningkatan dari 88,7% pada tahun 1992 menjadi sekitar 93% pada tahun 2004. Sedangkan angka partisipasi kasar (APK) untuk jenjang SD/MI 117,13% pada tahun 2004. Untuk jenjang SD/MI tidak tampak perbedaan partisipasi pendidikan secara signifikan antara wilayah pedesaan dan perkotaan, antara laki- laki dan perempuan, serta antar kelompok masyarakat. Menurut data SUSENAS 2004 pula terlihat bahwa angka partisipasi sekolah (APS) penduduk usia 7-12 tahun: 96,77%; 13-15 tahun: 83,49%; 16-18 tahun: 53,48%; 19-24 tahun: 12,07%.
Persentase penduduk berusia 10 tahun ke atas yang tidak/belum pernah bersekolah adalah 10,25%. Namun demikian angka partisipasi pendidikan masih bervariasi antar propinsi.7 Angka persentase terendah adalah di provinsi Sulawesi Utara, yaitu hanya 1,35%
penduduknya yang tidak/belum pernah bersekolah, sedangkan yang tertinggi di Papua, yaitu sebesar 28,17%. Sementara itu secara nasional penduduk usia 10 tahun ke atas yang masih bersekolah sebesar 19,57% terdiri dari 8,63% bersekolah di SD/MI, 5,91% di SLTP/MTs, 3,67% di SMU/SMK/MA, dan 1,36 % di akademi/universitas. Secara nasional penduduk berumur 10 tahun keatas yang tidak/belum pernah sekolah sebagian besar tinggal di pedesaan (13,69%) dibanding di perkotaan (5,84%). Dibandingkan menurut jenis kelamin, terlihat penduduk perempuan yang tidak/belum pernah sekolah besarnya dua kali lipat penduduk laki-laki (13,93% berbanding 6,51%). Hal ini terutama disebabkan tingginya angka persentase penduduk perempuan yang tidak/belum pernah sekolah pada kelompok umur dewasa/tua.
Ijazah/STTB tertinggi yang dimiliki penduduk merupakan indikator pokok kualitas pendidikan formal. Semakin tinggi ijazah/STTB yang dimiliki oleh rata-rata penduduk suatu
negara mencerminkan semakin tingginya taraf intelektualitas bangsa dari negara tersebut. Di Indonesia pada tahun 2001, penduduk berumur 10 tahun ke atas yang tidak/belum memiliki ijazah/STTB sebanyak 34,36%. Sedangkan yang sudah memiliki ijazah terdiri atas tamat SD/MI sebanyak 32,80%, tamat SLTP/MTs sebanyak 14,84%, tamat SMU/SMK sebanyak 14,70%, dan tamat Perguruan Tinggi sebanyak 3,31%. Dilihat dari segi jenis kelamin, ijazah/STTB yang dimiliki oleh penduduk laki-laki ternyata masih lebih baik bila dibanding yang dimiliki perempuan. Sementara bila dilihat dari segi tempat tinggal, ijazah/STTB yang dimiliki penduduk yang tinggal di perkotaan lebih baik dibanding yang dimiliki oleh mereka yang tinggal di pedesaan.
Kemampuan membaca dan menulis atau baca-tulis merupakan keterampilan minimum yang dibutuhkan oleh penduduk untuk mencapai kesejahteraannya. Kemampuan baca-tulis ini tercermin dari Angka Melek Huruf, yaitu persentase penduduk umur 10 tahun ke atas yang dapat membaca dan menulis huruf latin dan huruf lainnya.7 Menurut data statistik pendidikan pada tahun 2003 angka buta aksara penduduk 15 tahun keatas: 10,21%.1 Namun secara nasional, untuk usia 15-24 tahun angka ini mengalami perbaikan pada tahun 2004 berdasarkan data SUSENAS 2004, yaitu dari 96,2% pada tahun 1990 menjadi 98,7% pada tahun 2004.7
Menurut CIA The World Factbook, angkatan kerja total pada tahun 2005 sebanyak 110,4 juta orang, yang bekerja pada bidang pertanian sebanyak 45%, bidang industri sebanyak 16%
dan dalam bidang jasa sebanyak 39%. Pendapatan Domestik Bruto perkapita pada tahun 2005 sebesar 3.700 dollar AS.12 Pendapatan perkapita di Indonesia hanya 400-500 dollar AS, sementara Cina dengan penduduk 1,3 milyar jiwa perkapitanya mencapai 1000 dollar AS.25
2.5 Profil Kesehatan Masyarakat Indonesia dan Ketercakupan Pelayanan Kesehatan Sejak ditetapkannya visi Indonesia Sehat 2010 dan pemberlakuan otonomi daerah, profil kesehatan menjadi lebih strategis. Profil kesehatan provinsi, melalui indikator-indikator yang disepakati, dapat digunakan sebagai salah satu sarana untuk memantau dan mengevaluasi pencapaian visi Provinsi Sehat. Demikian pula, profil kesehatan kabupaten/kota dapat digunakan sebagai salah satu sarana untuk memantau dan mengevaluasi pencapaian visi Kabupaten/Kota Sehat, yang pencapaian visi Provinsi Sehat dan pencapaian visi Kabupaten/Kota Sehat merupakan modal dasar bagi tercapainya visi Indonesia Sehat 2010.
Lingkungan politik, ekonomi, dan sosial yang serba tidak menentu sebagai dampak berkepanjangan dari krisis multi dimensional di negara ini, mengakibatkan organisasi milik pemerintah maupun swasta sulit menentu arah perkembangan di masa mendatang. Bahkan untuk beberapa di antara organisasi tersebut yang menjadi masalah bukannya perkembangan, tetapi bagaimana organisasinya bisa tetap hidup di tengah berbagai tantangan mulai dari desentralisasi sampai globalisasi dan liberalisasi perdagangan. Hal ini terjadi pada fasilitas pelayanan medik milik pemerintah atau swasta. Kenyataan yang kini dihadapi di negara ini dengan aneka ragam permasalahannya, menuntut organisasi untuk beradaptasi terhadap berbagai perubahan lingkungan yang perlu diakomodasikan demi kelangsungan hidup organisasi, maupun perkembangan selanjutnya.
Permasalahan pokok yang dihadapi oleh Sistem Pelayanan Medik, antara lain adalah:
a. Ada kesenjangan antara kebutuhan dan permintaan terhadap pelayanan rumah sakit.
Dibandingkan negara-negara tetangga, jumlah tempat tidur rumah sakit di Indonesia relatif masih rendah, yaitu 1:1.628 atau kurang lebih 60 tempat tidur RS per 100.000 penduduk, atau ke-8 paling rendah di dunia dalam rasio tempat tidur dibandingkan jumlah penduduk.7,10
tercermin dari derajat kesehatan yang relatif lebih rendah dibandingkan negara tetangga.
Angka kematian ibu dalam Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002-2003 menunjukkan bahwa AKI di Indonesia 307 per 100.000 kelahiran hidup antara 1998–
2002.1
c. Walaupun pasokan tempat tidur rumah sakit masih sangat rendah, ternyata pemakaian tempat tidur juga masih rendah. Bed Occupancy Rate (BOR) hingga tahun 2004 hanya sekitar 55-57 persen.Rata-rata tiap hari dari 100.000 penduduk hanya 30 orang yang sedang dirawat di rumah sakit. Data di atas menunjukkan bahwa kebutuhan yang tinggi ini tak diiringi dengan permintaan yang tinggi.7,11
d. Rasio antar dokter dan penduduk
Jumlah sumber daya manusia (SDM) kesehatan belum memadai. Rasio tenaga kesehatan dengan jumlah penduduk masih rendah. Produksi dokter setiap tahun sekitar 2.500 dokter baru, sedangkan rasio dokter terhadap jumlah penduduk adalah 1:5000.
Produksi perawat setiap tahun sekitar 40.000 perawat baru, dengan rasio terhadap jumlah penduduk adalah 1:2.850. Sedangkan produksi bidan setiap tahun sekitar 600 bidan baru, dengan rasio terhadap jumlah penduduk adalah 1:2.600. Namun daya serap tenaga kesehatan oleh jaringan pelayanan kesehatan masih terbatas.14
Penyebaran SDM Kesehatan juga belum menggembirakan, sekalipun sejak tahun 1992 telah diterapkan kebijakan penempatan tenaga dokter dan bidan dengan sistem PTT. Tercatat rasio dokter terhadap Puskesmas untuk kawasan Indonesia bagian barat, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah bagian timur. Rasio tenaga dokter terhadap Puskesmas di Provinsi Sumatera Utara = 0,84 dibanding dengan Provinsi NTT = 0,26 dan Provinsi Papua = 0,12.14
Mutu SDM Kesehatan masih membutuhkan pembenahan. Hal ini tercermin dari kepuasan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang belum optimal. Menurut SUSENAS 2001, ditemukan 23,2% masyarakat yang bertempat tinggal di Pulau Jawa dan Bali menyatakan tidak/kurang puas terhadap pelayanan rawat jalan yang diselenggarakan oleh rumah sakit pemerintah di kedua pulau tersebut.
Sistem penghargaan dan sanksi, peningkatan karier, pendidikan dan pelatihan berjenjang dan berkelanjutan, akreditasi pendidikan dan pelatihan serta sertifikasi, registrasi dan lisensi SDM kesehatan belum mantap. Sampai saat ini sistem sertifikasi, registrasi dan lisensi SDM di Indonesia belum mencakup aspek profesionalisme. Sistem yang dipergunakan pada saat ini, karena hanya dilakukan oleh Departemen Kesehatan masih bersifat administratif. Kerja sama lintas program, lintas sektor dan dengan organisasi profesi serta lembaga swadaya masyarakat dalam pengembangan tenaga kesehatan masih terbatas.
e. Menurunnya hari-hari rawat sebesar 12,3 persen pada ruang rawat kelas III RSU pemerintah untuk pasien miskin selama dekade terakhir, ini menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat yang menurun di samping ketidakjangkauan pembiayaan, padahal setiap tahunnya total hari rawat meningkat 1 persen.
f. Jenjang rujukan antara Puskesmas dengan semua kelas RSU tidak berjalan secara hierarkis sesuai kebutuhan. Begitu pula rujukan antara RSU kelas A, B, C, dan D tidak berjalan secara efektif dan efisien. Pemerataan mendapatkan pelayanan medik yang bermutu, efisien dan berkesinambungan belum dirasakan oleh masyarakat luas.
g. Hampir 50 persen dari masyarakat yang mempunyai keluhan sakit, sama sekali tidak memanfaatkan fasilitas pelayanan formal. Sebagian besar dari mereka melakukan pengobatan sendiri, sedangkan sisanya berobat ke dukun atau bahkan sama sekali tidak berobat.
h. Adanya perbedaan pemahaman antara pejabat/instansi di pusat dan daerah tentang hakekat otonomi daerah di bidang kesehatan. Masalah ini sangat berkaitan erat dengan masalah sosialisasi dan kebutuhan tindak lanjut dari peraturan perundang-undangan yang baru.
i. Konflik kepentingan antara pusat dan daerah adalah keberaneka ragaman dan kelokalan.
Sementara pengalaman masa lalu lebih didominasi oleh wajah tunggal dalam segala bidang dengan pola penyeragaman dan terpusat. Keanekaragaman dan kelokalan itu dapat terlihat dari:
1) Peraturan daerah 2) Sumber daya daerah
Kemungkinan akan semakin melebarnya jurang kesenjangan di bidang kesehatan (pelayanan medis) karena adanya perbedaan antara daerah yang kaya dan daerah yang miskin dilihat dari pendapatan daerah, juga antara daerah yang memiliki perhatian secara politis tinggi dengan yang perhatiannya rendah.
j. RS pendidikan beban ganda pendidikan dan pelayanan, kepemimpinan ganda Depdikbud-Depkes, karena masalah RS pendidikan menjadi beban RS karena mahasiswa menjadi beban pembiayaan RS (subsidi pendidikan masih tinggi).
k. Pemerintah belum mampu menjamin pengadaan darah yang aman dan memadai.
l. RS masih terlalu besar mensubsidi PT Askes dengan tarif ditetapkan oleh Askes dengan adanya SKB 2 menteri. Jadi perlu ditinjau kembali kerja sama Askes dengan RS/Puskesmas.
Dari permasalahan di atas dapat ditentukan 11 pokok isu strategis, yaitu:
(1) Rendahnya pemanfaatan fasilitas medik oleh masyarakat karena masih rendahnya keterjangkauan secara biaya, geografis dan pengetahuan;
(2) Adanya kesenjangan anatara kebutuhan dan permintaan terhadap pelayanan medik yang tersedia;
(3) Kesenjangan pelayanan medik antara daerah;
(4) Kerjasama lintas sektor, lintas program dan lintas unit dalam pembangunan kesehatan masih belum optimal;
(5) Mekanisme pasar yang tidak terkendali di kota/kabupaten sebagai dampak negatif globalisasi dan perubahan yang cepat dari masyarakat;
(6) Desentralisasi manajemen pelayanan kesehatan masih lebih banyak ditentukan oleh suprasistem di luar Depkes;
(7) Ditjen Pelayanan Medik belum memiliki konsep desentralisasi;
(8) Mutu SDM yang kurang profesional;
(9) Reformasi sistem pelayanan medik yang berazas demokrasi, akuntabilitas dan transparansi belum tercapai;
(10) Kurangnya pemberdayaan masyarakat dalam sistem pelayanan medik;
(11) Sistem rujukan pelayanan medik yang belum berjalan secara efektif dan efisien.
pemerataan pelayanan medik. Selama lima (5) tahun (1994-1998), pertumbuhan jumlah rumah sakit swasta hanya 18,3 persen, bahkan rumah sakit pemerintah tidak berkembang sama sekali. Pertumbuhan tempat tidur di RS pemerintah nol persen, dan di RS swasta 14,2 persen. Pada tahun 1997, secara nasional, 10.000 penduduk hanya dilayani sembilan dokter umum, lima dokter spesialis, dan 82 tenaga paramedik. Selain itu, alokasi dana pemerintah di sektor kesehatan hanya 2,5 persen. Kualitas pelayanan di unit-unit kesehatan memang masih lemah, terutama di RS pemerintah. Salah satu alasannya, masyarakat sering minta dilayani di RS rujukan untuk kasus-kasus primer sehingga pasien tidak segera tertangani, dan RS rujukan menjadi semacam puskesmas raksasa. Keadaan ini membuat RS pemerintah sulit merencanakan pengembangan. 25
2.6 Profil Gizi Masyarakat Indonesia
Tujuan pertama dari MDG adalah menanggulangi kemiskinan dan kelaparan dengan salah satu targetnya adalah menurunkan proporsi penduduk yang menderita kelaparan menjadi setengahnya antara tahun 1990–2015. Kondisi ini bisa terlihat dari keadaan gizi masyarakat Indonesia. Keadaan gizi masyarakat Indonesia bisa dilihat dari indikator-indikator berikut 7: Persentase Bayi Dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), Persentase Balita Dengan Gizi Baik, Persentase Wanita Usia Subur (WUS) Yang Kurang Energi Kronis (KEK), Prevalensi Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY), dan Prevalensi Anemia Gizi.
a. Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR <2500 gram)
Secara khusus kita belum pernah melakukan penelitian untuk mengetahui secara pasti angka BBLR yang terjadi di masyarakat, namun dari berbagai penelitian kesehatan lain (SDKI, SKRT, Susenas) dan beberapa pengamatan intensif telah didapatkan perkiraan angka BBLR yang ada di masyarakat. Pada periode 1990 - 2000, proporsi BBLR diestimasikan sebesar 7%-14%, sedangkan dari hasil pengumpulan data indikator kesehatan provinsi yang berasal dari fasilitas pelayanan kesehatan proporsi BBLR pada tahun 2000 berkisar antara 0,91% (Gorontalo) dan 18,89% (Jawa Tengah), sedangkan pada tahun 2001 berkisar antara 0.54% (Nanggroe Aceh Darussalam) dan 6,90% (Sumatera Utara). Angka tersebut belum mencerminkan kondisi sebenarnya yang ada di masyarakat, karena belum semua berat badan bayi yang dilahirkan dapat dipantau oleh petugas kesehatan, khususnya yang ditolong oleh dukun atau tenaga non kesehatan lainnya.
b. Gizi Balita
Pengukuran gizi pada Balita difokuskan pada tingkat kecukupan gizinya yang diukur melalui berat badan terhadap umur (BB/U) atau berat badan terhadap tinggi badan (BB/TB).
Dari hasil Susenas 2001, persentase Balita yang bergizi baik adalah sebesar 64,14%, yang bergizi sedang 21,51%, dan sisanya 9,35% adalah Balita bergizi kurang/buruk atau yang dikenal dengan istilah Kurang Kalori Protein (KKP). Balita bergizi baik di perkotaan (72,6%) relatif lebih tinggi dibandingkan di pedesaan (66,8%). Sedangkan Balita yang bergizi kurang/buruk di pedesaan (10,3%) lebih tinggi dibandingkan di perkotaan (8,0%). Bila dibandingkan menurut jenis kelamin, persentase Balita perempuan yang bergizi baik relatif lebih tinggi daripada Balita laki-laki. Demikian pula gizi kurang/buruk lebih tinggi pada Balita laki-laki dibandingkan Balita perempuan. Hal ini dapat dilihat pada tabel berikut ini.
PERSENTASE BALITA (0-59 BULAN)
MENURUT STATUS GIZI DAN JENIS KELAMIN TAHUN 2001
Dari berbagai penelitian/survei yang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir, diperoleh gambaran perkembangan status gizi balita seperti terlihat pada gambar berikut:
PERSENTASE BALITA
GIZI BURUK, GIZI KURANG, DAN GIZI LEBIH TAHUN 1989 - 2001
Sementara itu, dari beberapa studi/survei yang lainnya dilakukan pengukuran gizi dengan menggunakan indikator BB/TB. Pada umumnya, pengukuran BB/TB menunjukkan keadaan gizi kurang yang lebih jelas dan sensitif/peka dibandingkan prevalensi berdasarkan pengukuran berat badan menurut umur, sebagaimana disajikan pada tabel berikut:
PREVALENSI WASTING (BB/TB < - 2SD) TAHUN 1990-1999
Akibat dari tingginya BBLR dan gizi kurang pada balita, berkelanjutan pada anak usia baru masuk sekolah. Indonesia telah melaksanakan pengukuran tinggi badan pada kelompok anak ini secara nasional pada tahun 1994 dan 1999. Tidak terlihat perubahan perbaikan gizi yang bermakna dari hasil pengukuran tersebut. Pada tahun 1994, prevalensi gizi kurang menurut tinggi badan anak usia 5-9 tahun (anak pendek) adalah 39,8%. Pengukuran yang sama dilakukan pada tahun 1999, prevalensi ini hanya berkurang 3,7%, yaitu menjadi 36,1%.
Jika proporsi anak usia 5-9 tahun adalah 10% dari total penduduk, maka terdapat 7.616.518 anak usia 5-9 tahun dengan status pendek.
c. Kurang Energi Kronis (KEK)
15-49 tahun dengan menggunakan standard lingkar lengan atas (LILA) <23,5cm. Hasil Susenas 2001 menunjukkan sebesar 21,53% WUS menderita KEK. Di perkotaan persentase WUS yang menderita KEK lebih rendah dibandingkan di pedesaan, yaitu masing-masing 19,39% dan 23,36%. Persentase terbesar WUS menderita KEK di Provinsi Nusa Tenggara Timur (44,03%), Nusa Tenggara Barat (29,69%), dan Papua (27,86%). Sedangkan yang terendah di Provinsi Sulawesi Utara (12,64%), Riau (14,45%), dan Sumatera Utara (14,94%).
Sebaran WUS yang menderita KEK menurut provinsi dapat diuraikan dalam gambar berikut:
PERSENTASE WANITA USIA SUBUR (WUS) YANG MEMPUNYAI RISIKO KEK MENURUT PROVINSI TAHUN 2001
Pada gambar di atas bisa dilihat bahwa ada sembilan (9) provinsi dengan angka melebihi rata-rata angka nasional (19,1%), dan di antaranya satu provinsi mempunyai risiko KEK berat (> 30%), yaitu Nusa Tenggara Timur (40,8%). Sedangkan lima provinsi mempunyai risiko KEK sedang (20-30%), yaitu Nusa Tenggara Barat (26,7%), Papua (25,7%), Bangka Belitung (22,4%), Jawa Tengah (22,2%), dan Jawa Timur (21,9%). Dari hasil survei tahun 1999-2000 diperoleh gambaran KEK menurut kelompok umur, seperti terlihat dalam gambar berikut:
PERSENTASE WANITA USIA SUBUR DENGAN LILA <23,5 CM SUSENAS 1999-2000
Dari penelitian Susenas selama 3 tahun terakhir diperoleh gambaran KEK secara nasional seperti terlihat pada gambar berikut:
PERSENTASE KEK PADA WANITA USIA SUBUR (15-49 TAHUN) TAHUN 1999-2001
c. Gangguan Akibat Kekurangan Yodium
Untuk mengetahui masalah kurang yodium, telah dilakukan survei nasional tahun 1980 dan 1998. Pada tahun 1980, prevalensi Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY) pada anak usia sekolah adalah 30%, prevalensi ini menurun menjadi 9,8% pada tahun 1998.
Walaupun terjadi penurunan yang cukup berarti, GAKY masih dianggap masalah kesehatan masyarakat, karena secara umum prevalensi masih di atas 5%. Hasil Susenas menunjukkan persentase rumah tangga yang mengkonsumsi garam dengan kandungan yodium cukup antara tahun 1999 sampai 2001 mengalami peningkatan, yaitu dari 63,56% (1999) menjadi 64,48% (2000), dan 65,43% (2001). Sedangkan persentase keluarga yang mengkonsumsi garam tanpa yodium pada kurun waktu yang sama adalah 18,49% (1999), menurun menjadi 17,03% (2000), dan meningkat menjadi 17,91% (2001).
d. Prevalensi Anemia Gizi
Kajian SKRT 1995 menunjukkan bahwa prevalensi anemia pada ibu hamil adalah 50,9%, pada wanita usia subur 39,5%, pada remaja putri 57,1%, dan pada Balita 40,5%.
2.7 Kondisi Geografis dan Fasilitas Pengadaan Air Bersih Masyarakat Indonesia
Sumber air minum dibedakan menjadi dua (2) jenis sumber, yakni sumber air minum terlindung dan tidak terlindung. Sumber air minum terlindung (jenis sarana yang dianggap memenuhi persyaratan kesehatan) adalah air kemasan, ledeng, pompa, sumur terlindung, dan mata air terlindung. Susenas 2001 memberi gambaran bahwa 75% rumah tangga telah menggunakan sumber air terlindung, 83% ditemukan di Jawa-Bali diikuti Kawasan Timur Indonesia (KTI) (60%), dan Sumatera (59%). Di antara wilayah KTI, persentase penduduk yang menggunakan sumber air terlindung yang terendah adalah di Kalimantan (41,2%). Jenis sumber air terbanyak didominasi oleh sumur terlindung dan ditemukan paling banyak digunakan penduduk di Jawa-Bali. Penggunaan ledeng sebagai sumber air baru 19,5% dan paling tinggi persentasenya ditemukan di Kawasan Timur Indonesia yaitu Sulawesi dan Kalimantan. Sumber air minum yang tidak terlindung adalah jenis sarana yang dianggap tidak memenuhi persyaratan kesehatan seperti sumur yang tidak terlindung, air sungai, penampungan air hujan, dan mata air tidak terlindung Apabila persediaan air minum sehat adalah air kemasan, ledeng, pompa, sumur terlindung, dan mata air terlindung, maka dapat dikatakan bahwa keluarga di Indonesia yang memiliki persediaan air minum sehat baru 75%.7
2.8 Peta Perpolitikan di Indonesia
Semenjak proklamasi kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Indonesia mengalami tiga masa pemerintahan, yaitu Orde Lama, Orde Baru, dan Orde Reformasi.1,2
a. Orde Lama
Secara formal pemerintah Indonesia baru menerima kedaulatan dari Belanda pada akhir 1949. Lima belas tahun pertama kemerdekaan Indonesia diwarnai ketidakstabilan politik dan kemerosotan ekonomi. Republik Indonesia yang liberal didirikan pada 1950, bercirikan seringnya terjadi perubahan kabinet, ketegangan di beberapa daerah, dan kesulitan dalam masalah ekonomi. Setelah tahun 1965, keadaan terus memburuk hingga terjadi peristiwa G30S/PKI pada tahun 1965.
b. Orde Baru
Pada tahun 1966 pemerintahan diambil alih oleh Genderal Soeharto yang kemudian menjadi presiden tahun 1967 dan berkuasa sepanjang masa Orde Baru, yaitu selama enam periode berikutnya. Pemerintah Orde Baru sangat menekankan stabilitas dan penerapan Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) pada setiap periodenya. Namun, pembangunan ekonomi yang berhasil tidak dibarengi dengan partisipasi politik, perwujudan HAM, keadilan, dan transparansi pembuatan keputusan publik. Pada masa ini transaksi keuangan sering diwarnai korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Pada akhirnya penolakan atas rezim Orde Baru meningkat dan menemukan momentumnya ketika Krisis Ekonomi tahun 1997. Presiden Soeharto mengundurkan diri pada tanggal 21 Mei 1998.
c. Era Reformasi
Semenjak tahun 1998 Indonesia memasuki masa penuh perubahan politik, ekonomi, dan sosial, dan memasuki cara pemerintahan yang lebih demokratis. Sampai sekarang telah terjadi tiga kali pergantian pemerintahan dan banyak sekali partai politik. Reformasi ini meliputi juga penguatan dan pembentukan lembaga baru yang mendukung governance yang lebih demokratis dan efektif, dengan akuntabilitas dan transparansi yang lebih besar dalam pelaksanaan fungsi pemerintah. Reformasi konstitusi telah memperkenalkan sistim perwakilan yang lebih adil dalam bidang legislatif dan mulai pada tahun 2004 rakyatlah, bukan anggota MPR, yang akan memilih kepala pemerintahan secara langsung.
2.9 Pelaksanaan Otonomi Daerah :
a. Latar belakang pembentukan otonomi daerah
Berkembangnya demokratisasi kehidupan berbangsa dan bernegara serta komitmen nasional untuk mewujudkan pola kepemerintahan yang baik (good governance) mendorong pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah sebagai salah satu pola pokok penyelenggaraan berbagai aktivitas pembangunan. Desentralisasi dan otonomi daerah dibutuhkan untuk menumbuhkan prakarsa daerah sekaligus memfasilitasi aspirasi daerah sesuai dengan keanekaragaman kondisinya masing-masing. Dengan keragaman kondisi dan kemajuan daerah serta bentang geografis Indonesia yang demikian besar, dan pengalaman pelaksanaan pembangunan selama ini menunjukkan bahwa kebijakan yang bersifat one-size fits all (uniform) tidak lagi aplikatif. Namun demikian, agar sesuai dengan amanat konstitusi (Pasal 1 UUD 1945), pola tersebut tetap perlu terwujudkan dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Dengan demikian, di dalam pengejawantahannya, pengertian desentralisasi tidak bisa dipisahkan dari otonomi daerah karena sesuai dengan prinsip NKRI.9
Otonomi daerah diwujudkan sebagai hasil dari pendelegasian sebagian urusan pusat berdasarkan perspektif yang bertujuan mencapai kesejahteraan bagi seluruh lapisan masyarakat. Di dalam Undang-Undang No.32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, perspektif pendelegasian urusan tersebut ditetapkan dengan menggunakan 3 (tiga) prinsip
dasar, yaitu efisiensi, eksternalitas, dan akuntabilitas. Ketiga prinsip dasar di atas menjadi landasan dan kriteria bagi pelaksanaan pembagian fungsi utama pemerintah sebagaimana diuraikan di atas. Dengan pemahaman ini, masing-masing jenjang pemerintahan (Pusat, Provinsi, dan Kabupaten/Kota) memiliki kewenangan sekaligus peran dalam mewujudkan tujuan pembangunan yang telah disepakati bersama secara nasional.
Pelaksanaan desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia dapat dilacak dalam kerangka konstitusi NKRI. Dalam UUD 1945 terdapat dua nilai dasar yang dikembangkan, yakni nilai unitaris dan nilai desentralisasi teritorial. Nilai dasar unitaris diwujudkan dalam pandangan bahwa Indonesia tidak mempunyai kesatuan pemerintah lain di dalamnya yang bersifat negara. Artinya kedaulatan yang melekat pada rakyat, bangsa dan negara Republik Indonesia tidak akan terbagi diantara kesatuan-kesatuan pemerintahan. Sementara itu nilai dasar desentralisasi teritorial diwujudkan dalam penyelenggaraan pemerintah di daerah dalam bentuk otonomi daerah.13
Pembangunan daerah merupakan bagian integral dan merupakan penjabaran dari pembangunan nasional dalam rangka pencapaian sasaran pembangunan yang disesuaikan dengan potensi, aspirasi, dan permasalahan pembangunan di daerah. Kunci keberhasilan pembangunan daerah dalam mencapai sasaran pembangunan nasional secara efisien dan efektif, termasuk penyebaran hasilnya secara merata di seluruh Indonesia adalah koordinasi dan keterpaduan antara pemerintah pusat dan daerah, antar sektor, antara sektor dan daerah, antarprovinsi, antar kabupaten/kota, serta antara provinsi dan kabupaten/kota.
Pembangunan daerah dilaksanakan dengan tujuan untuk mencapai sasaran pembangunan nasional serta untuk meningkatkan hasil-hasil pembangunan daerah bagi masyarakat secara adil dan merata. Pembangunan daerah merupakan usaha mengembangkan dan memperkuat pemerintahan daerah dalam rangka makin mantapnya otonomi daerah yang nyata, dinamis, serasi, dan bertanggung jawab.
UU No.25/2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) juga menetapkan bahwa Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Daerah ditetapkan paling lambat 3 (tiga) bulan setelah Gubernur atau Bupati/Walikota terpilih dilantik dalam bentuk Peraturan Kepala Daerah. Untuk itu, beberapa hal yang perlu menjadi perhatian dalam kaitan ini adalah: (1) RPJM Nasional hendaknya menjadi pedoman bagi Gubernur/Bupati/Walikota terpilih dalam penyusunan RPJM Daerah masing-masing. (2) Penyusunan RPJM Daerah hendaknya memperhatikan pula sasaran-sasaran yang merupakan komitmen internasional Indonesia terutama pencapaian sasaran dalam Millenium Development Goals (MDGs). (3) Perhatian khusus perlu diberikan untuk kabupaten- kabupaten yang relatif masih tertinggal dalam wilayah provinsi, dan kecamatan-kecamatan tertinggal dalam wilayah kabupaten.
Sasaran dan Indikator Kinerja Pencapaian Pembangunan 2004 – 2009 SASARAN RPJMN 2004 - 2009 INDIKATOR KINERJA YANG
BERHUBUNGAN DENGAN DAERAH AGENDA AMAN DAN DAMAI
1. Menurunnya konflik 2. Menurunnya kriminalitas
3. Menurunnya kejahatan di lautan dan lintas batas
4. Tertanganinya separatisme 5. Tertanganinya terorisme 6. Berperannya Indonesia dalam
menciptakan perdamaian dunia 7. Terjaganya kedaulatan NKRI
1. Jumlah konflik etnis dan sosial.
2. IPM dan HPI wilayah konflik
3. Indeks kriminalitas dan rasio penyelesaian kasus kriminalitas
4. jumlah pecandu narkoba.
5. Angka illegal logging dan illegal trading 6. Sosialisasi dan upaya perlindungan masyarakat
terhadap aksi terorisme.
AGENDA ADIL DAN DEMOKRATIS 1. Meningkatnya keadilan hukum dan
penegakan hukum
2. Terciptanya sistem hukum yang konsekuen dan tidak diskriminatif serta yang memberikan perlindungan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia.
3. Meningkatnya pelayanan masyarakat 4. Meningkatnya penyelenggaraan otonomi daerah
5. Terpeliharanya konsolidasi demokrasi
1. Peraturan daerah yang spesifik mengenai mekanisme dan koordinasi dana
dekonsentrasi
2. Perbaikan proses penyelenggaraan Musrenbang
3. Tingkat partisipasi politik masyarakat dalam Pilkada
4. Angka Gender-related Development Index(GDI)
5. Angka Gender Empowerment Measurement (GEM)
Kesejahteraan anak
6. Angka Partisipasi Sekolah (APS) 7. Status gizi balita buruk
8. Persalinan bayi oleh tenaga kesehatan Perlindungan anak
9. Pekerja anak (%)
10. Jumlah anak yang memiliki akte Kelahiran Sumber: Buku pegangan 2006 penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah Republik
Indonesia
b. Indikator dan pengukuran kinerja penyelenggaraan otonomi daerah
Indikator dan pengukuran kinerja penyelenggaraan otonomi daerah dapat dilihat dalam tabel berikut ini9:
Indikator Kemajuan Otonomi Daerah N
o Parameter Indikator Sub Indikator
Pertumbuhan Pertumbuhan Pendapatan Pemerataan Distribusi Pendapatan
Pemerataan Akses Modal Kesinambungan Daya Dukung Lingkungan
Daya Dukung Manusia Berkeahlian
1 Skala Kehidupan Ekonomi
Pemberdayaan Pemberdayaan Ekonomi Lemah
Pemberdayaan Ekonomi Lokal
Efisiensi Keterpaduan Birokrasi
Sanitari Birokrasi
Sufisiensi Ketersediaan Kebutuhan Dana Sosial
Ketersediaan Infrastruktur 2 Layanan Publik
Fasilitasi Fasilitasi Partisipasi Sosial
Kesetaraan Gender
Fasilitasi Resolusi Konflik
3 Resiko-resiko Lokal Keamanan Keamanan Hak Sipil
Keamanan Hak Politik
Keamanan Hak Ekonomi
Stabilitas Kesinambungan Politik
Kesehatan Makro Ekonomi
Integrasi Sosial
Demokrasi Supremasi Hukum
Kontrol dan Pertimbangan
Pertanggungjawaban Politik
Kebebasan Pers
Otonomi Kemandirian Daerah
Lokalisme Lokal Pengukuran Kinerja Penyelenggaraan Otonomi Daerah
No Parameter Umum Indikator
1 Derajat Kesejahteraan Umum
Ekonomi
Sosial
- Pertumbuhan ekonomi daerah Tingkat Pendapatan rata-rata Perkapita Per Tahun (PDRB atau NetIncome)
- Penurunan angka pengangguran terbuka - Kenaikan angka partisipasi kerja
- Penurunan Indeks Kemiskinan Manusia (IKM) - Kenaikan Indeks Pembangunan Manusia(IPM) 2 Derajat Pelayanan
Publik Infrastruktur Jaringan jalan :
- Rasio panjang jalan dengan luas wilayah - Rasio panjang jalan dengan kondisi tidak rusak
per panjang jalan keseluruhan
- Rasio panjang jalan dengan jumlah kendaraan umum roda
Sanitasi :
- Penurunan peresentase penduduk tanpa akses terhadap sanitasi
Kebutuhan
Dasar Kesehatan :
- Penurunan angka kematian bayi - Penurunan angka kematian ibu
- Rasio jumlah penduduk dengan jumlah rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya
Pendidikan :
- Rasio jumlah murid per jumlah sekolah - Rasio jumlah murid per jumlah guru - Rasio jumlah guru per jumlah sekolah - Angka partisipasi sekolah
- Penurunan angka putus sekolah - Nilai rata-rata Ebta Murni/UAN Air Bersih :
- Akses terhadap air bersih Transportasi Umum :
- Rasio jumlah kendaraan umum roda 4 per 10.000 penduduk
Pemerintahan Kepegawaian :
- Rasio jumlah penduduk dengan jumlah PNS Pemda
Keuangan :
- Rasio PAD dengan jumlah penduduk
No Parameter Umum Indikator
3 Derajat Kehidupan Politik
Demokrasi Lokal
Pemilu
- Rasio jumlah pemilih yang melakukan pemilihan dengan jumlah penduduk yang mempunyai hak pilih
- Komposisi Parpol Dalam Pemilu
- Rasio jumlah Partai Politik pemenang Pemilu Lokal yang memperoleh kursi di Legislatif dengan jumlah seluruh Partai Politik peserta Pemilu Lokal
-Angka Kejadian Politik Praktis Massa :
- Kejadian Politik Praktis Massa/Demo dalam satu tahun
c. Hubungan politik pusat dan daerah
Penyelenggaraan desentralisasi terkait dengan pola pembagian kekuasaan antara pemerintah pusat dan daerah. Hal ini karena dalam penyelenggaraan desentralisasi selalu terdapat dua elemen penting, yakni pembentukan daerah otonom dan penyerahan kekuasaan secara hukum dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah untuk mengatur dan mengurus bagian-bagian tertentu urusan pemerintahan. Tujuan politik kebijakan desentralisasi akan memposisikan pemerintah daerah sebagai medium pendidikan politik bagi masyarakat di tingkat lokal dan secara agregat akan berkontribusi pada pendidikan politik secara nasional untuk mempercepat terwujudnya civil society.13
Pola hubungan politik pusat dan daerah telah mengalami perubahan sejak tahun 1999 melalui amandemen UUD 1945 pasal 18 ayat 2, 5 dan 6 serta pasal 18A ayat 1 dan 2, serta penetapan UU No.22 tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan UU No.25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah, yang kemudian dilakukan perbaikan melalui penetapan UU No.32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No.33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. Adapun beberapa prinsip hubungan pusat dan daerah berdasarkan Konstitusi dan kedua peraturan perundangan yang ada adalah sebagai berikut9:
Pertama, hadirnya Konstitusi dan kedua peraturan perundangan tersebut telah menggeser pola ketidakseimbangan kekuasaan antara pusat dan daerah menjadi pola hubungan yang desentralistis yang memberikan ruang dan jaminan terhadap peran pemerintahan daerah untuk dapat mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan. Pada masa sebelumnya pola hubungan antara pusat dan daerah lebih didominasi oleh sentralisasi kekuasaan pemerintah pusat terhadap pemerintah daerah. Lebih jauh, sebagai konsekuensi adanya amandemen Konstitusi dan kedua peraturan perundangan tersebut, pelaksanaan Pilkada yang dilakukan secara langsung oleh rakyat telah pula mengubah pola hubungan pusat dan daerah dalam penentuan dan penetapan kepala daerah. Pada masa sebelumnya pemerintah pusat memiliki ruang yang sangat besar untuk menetapkan Gubernur, Bupati, dan Walikota. Dalam undang-undang pemerintahan daerah yang baru, hal tersebut tidak terjadi lagi. Rakyatlah yang memiliki kewenanganan penuh untuk
menentukan kepala daerah yang dikehendakinya. Sedangkan pemerintah pusat, dalam hal ini diwakili oleh Presiden dan Menteri Dalam Negeri, masing-masing mengesahkan pengangkatan pasangan calon Gubernur/Wakil Gubernur terpilih dan calon Bupati/Wakil Bupati atau calon Walikota/Wakil Walikota terpilih.
Kedua, peraturan perundangan yang ada tersebut juga telah menetapkan domain (wilayah pekerjaan) masing-masing untuk pemerintah pusat dan pemerintah daerah atau di dalam UU No.32 tahun 2004 istilahnya dikenal dengan tugas dan kewenangan urusan pemerintahan daerah dan urusan pemerintah pusat. Pembagian urusan pemerintahan tersebut didasarkan pada pemikiran bahwa selalu terdapat berbagai urusan pemerintahan yang sepenuhnya/tetap menjadi kewenangan pemerintah pusat. Urusan pemerintah pusat meliputi politik luar negeri, pertahanan, keamanan, moneter dan fiskal nasional, yustisi, dan agama. Urusan yang menjadi kewenangan daerah meliputi urusan wajib dan urusan pilihan.
Urusan pemerintahan wajib adalah urusan pemerintahan yang berkaitan dengan pelayanan dasar seperti pendidikan dasar, kesehatan, pemenuhan kebutuhan hidup minimal dan prasarana lingkungan dasar. Sedangkan urusan pemerintahan yang bersifat pilihan terkait erat dengan potensi unggulan dan kekhasan daerah. Dengan adanya pembagian urusan tersebut secara jelas dan tegas (walaupun dalam pelaksanaannya masih banyak memiliki kelemahan) dapat memberikan arahan yang jelas pula bagi pemerintah pusat dan daerah untuk dapat lebih berkonsentrasi pada tugas dan wewenangnya secara efektif dan efisien dalam melaksanakan tugas-tugas pembangunan.
Ketiga, peraturan perundangan tersebut memberikan ruang dan jaminan kerjasama yang serasi, saling mendukung dan melengkapi antar susunan pemerintahan, terutama antara pemerintah pusat dan daerah. Ruang adanya kerjasama tersebut berdasarkan latar belakang pemikiran bahwa dalam melaksanakan urusan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat, terdapat urusan pemerintahan yang penanganannya dalam bagian atau bidang tertentu dapat dilaksanakan bersama antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Dengan kata lain, dalam pelaksanaan kewenangan pemerintah pusat, ada bagian urusan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat, dan ada bagian urusan yang diserahkan kepada Provinsi dan/atau Kabupaten/Kota. Dalam pembagian kewenangan antara pemerintah pusat, Provinsi, dan Kabupaten/Kota perlu mempertimbangkan kriteria eksternalitas, akuntabilitas dan efisiensi dengan mempertimbangkan keserasian hubungan pengelolaan urusan pemerintahan antar tingkat pemerintahan. Kriteria eksternalitas mempertimbangkan dampak yang ditimbulkan dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan tersebut. Apabila dampak yang ditimbulkan bersifat lokal, maka urusan pemerintahan tersebut menjadi kewenangan kabupaten/kota, jika regional menjadi kewenangan provinsi dan nasional menjadi kewenangan pemerintah pusat. Kriteria akuntabilitas adalah pendekatan dalam pembagian urusan pemerintahan dengan pertimbangan bahwa tingkat pemerintahan yang menangani sesuatu bagian urusan adalah tingkat pemerintahan yang lebih langsung/dekat dengan dampak/akibat dari urusan yang ditangani tersebut. Hal ini akan lebih menjamin akuntabilitas penyelenggaraan bagian urusan pemerintahan kepada masyarakat. Kriteria efisiensi, yang merupakan pendekatan dalam pembagian urusan pemerintahan, harus mempertimbangkan ketersediaan sumber daya personil, dana dan peralatan untuk mendapatkan ketepatan, kepastian, dan kecepatan hasil yang harus dicapai. Hal ini mengandung pengertian bahwa apabila penanganan urusan yang dilakukan oleh kabupaten/kota dapat berdaya guna dan memiliki manfaat yang besar bagi masyarakat dibandingkan apabila dilakukan oleh provinsi, maka urusan tersebut dilaksanakan oleh kabupaten/kota, bukan oleh pemerintah daerah provinsi.
Keempat, undang-undang pemerintah daerah telah menggabungkan semangat kebangsaan dengan mempertimbangkan semangat kedaerahan yang ada dan mencegah adanya sentralisasi yang berlebihan dengan memberikan ruang kepada putra daerah yang