PROFIL BENTUK-BENTUK DISIPLIN PESERTA DIDIK DI KELAS VII SMP NEGERI 1 RANAH BATAHAN
KABUPATEN PASAMAN BARAT
ARTIKEL
Oleh:
FATIMAH NUR NPM: 11060236
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
(STKIP) PGRI SUMATERA BARAT PADANG
2017
PROFIL BENTUK-BENTUK DISIPLIN PESERTA DIDIK DI KELAS VII SMP NEGERI 1 RANAH BATAHAN
KABUPATEN PASAMAN BARAT By:
Fatimah Nur
Student Guidance and Counseling, STKIP PGRI Sumatera Barat
ABSTRACT
The background of this research were the presence of a late learners attend school, the learners unplug at school lessons, the learners are not neatly dressed to school, the learners are often out of entry hours of instruction of the school, the students wore colorful shoes to school.
The purpose of this research were to describe the: 1) Profile forms of discipline the students viewed from the discipline based on the concept of otorian, 2) Profile forms of discipline the students viewed from the discipline based on the concept of permissive, 3) Profile forms of discipline the students viewed from the discipline based on the concept of controlled freedom.
This research is quantitative descriptive research that seeks to describe about a situation for what it is. The population of this research are all of students class VII of SMP Negeri 1 Ranah Batahan Kabupaten Pasaman Barat amounted 149 students. Sampling techniques using simple random sampling. The number of samples in the research of 60 people. The instruments that are used document cheklist. Data analysis technique used percentage.
The results of this research to reveal publicly the profile forms of discipline the learners in class VII of SMP Negeri 1 Ranah Batahan Kabupaten Pasaman Barat are at a very good category. Judging from the respective variables: 1) the profile forms of discipline the students viewed from the discipline based on the concept of otoritarian is at the excellent category, 2) the profile forms of discipline the students viewed from the discipline based on the concept of permissive is on the category either, 3) profile forms of discipline the students viewed from the discipline based on the concept of freedom is restrained on the category very well. Based on the findings of this research researchers recommended to the learners to be able to keep and maintain order and uphold the good name of the school.
Kata Kunci: Forms, Dicipline Pendahuluan
Pendidikan diperlukan bagi manusia, mulai dari ia lahir hingga akhir hayat. Melalui pendidikan seseorang dapat meningkatkan kualitas hidupnya dimasa depan dengan lebih baik. Selain itu pendidikan dapat membina potensi yang dimiliki oleh manusia.
Menurut Tulus (2004:31) “Disiplin sebagai kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dan serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan atau ketertiban”.
Disiplin merupakan upaya pengendalian diri dan sikap mental individu atau masyarakat dalam mengembangkan kepatuhan terhadap peraturan dan tata tertib yang berlaku, sehingga secara sadar mereka mau melaksanakan aturan-aturan tersebut.
1. Pengertian Disiplin
Disiplin merupakan sesuatu yang berkenaan dengan pengendalian diri terhadap
bentuk-bentuk aturan. Aturan-aturan tersebut mencakup segala macam pengaruh yang ditujukan untuk membantu peserta didik agar dia dapat memahami dan menyesuaikan diri dengan tuntutan lingkungannya.
2. Bentuk-bentuk Disiplin Peserta Didik a. Disiplin berdasarkan konsep
otoritarian. Di mana peserta didik di sekolah dikatakan mempunyai disiplin tinggi manakala mau duduk tenang sambil memperhatikan uraian guru ketika sedang mengajar. Peserta didik diharuskan mengiyakan saja terhadap apa yang dikehendaki guru, dan tidak boleh membantah. Dengan demikian, guru bebas memberikan tekanan kepada peserta didik, dan memang harus menekan peserta didik. Dengan demikian, peserta didik takut dan terpaksa mengikuti apa yang diinginkan oleh guru.
b. Disiplin berdasarkan konsep permissive. Peserta didik haruslah diberi kebebasan seluas-luasnya di dalam kelas dan sekolah. Aturan- aturan sekolah dilonggarkan dan tidak perlu mengikat kepada peserta didik.
Peserta didik dibiarkan berbuat apa saja sepanjang itu menurut baik.
c. Disiplin berdasarkan konsep kebebasan yang terkendali atau kebebasan yang bertanggung jawab.
Memberikan kebebasan yang seluas- luasnya kepada peserta didik untuk berbuat apa saja, tapi konsekuensi dari perbuatan itu haruslah ia tanggung.
3. Penanganan Pelanggaran Disiplin Teknik Eksternal control, merupakan suatu teknik dimana disiplin peserta didik haruslah dikendalikan dari luar peserta didik.
Peserta didik harus terus menerus didisiplinkan, dan kalau perlu ditakuti dengan ancaman dan ganjaran. Ancaman diberikan kepada peserta didik yang tidak disiplin, sementara ganjaran diberikan kepada peserta didik yang mempunyai disiplin tinggi.
4. Hakekat Disiplin
Pada hakekatnya disiplin mempunyai tiga aspek yaitu; 1) Sikap mental (mental attitude) yang merupakan sikap taat dan tertib sebagai hasil atau pengembangan dari latihan, pengendalian pikiran dan pengendalian watak.
2) Pemahaman yang baik mengenai sistem aturan perilaku, norma, etika dan standar yang sedemikian rupa, sehingga pemahaman tersebut menumbuhkan pengertian yang mendalam bahwa ketaatan akan aturan tadi merupakan syarat untuk mencapai sukses. 3) Sikap kelakuan yang wajar menunjukkan kesungguhan hati untuk mentaati segala hal secara cermat dan tertib. ( Irmim, 2004:5).
5. Prinsip-Prinsip Disiplin
Menurut Tulus (2004:28) prinsip- prinsip disiplin sebagai berikut:
a. Disiplin bukan hanya mencakup tentang ketaatan belaka, tapi juga percaya diri, kontrol diri, inisiatif dan kebebasan bertindak.
b. Disiplin yang baik dikembangkan berdasarkan sikap kesopanan dan respek antara pimpinan dan bawahan.
c. Disiplin yang baik adalah dengan kegiatan-kegiatan yang bermakna sesuai hasil perancanaan bersama.
d. Disiplin yang baik merupakan hasil pengawasan bersama.
e. Rangsanglah setiap bawahan untuk berpartisipasi dalam perencanaan.
f. Jelaskan segala aturan agar dipahami dengan baik.
6. Fungsi Disiplin
Disiplin sangat penting dan dibutuhkan bagi setiap peserta didik. Disiplin menjadi prasyarat bagi pembentukan sikap, perilaku dan tata kehidupan berdisiplin, yang akan mengantar seorang peserta didik sukses dalam belajar dan kelak ketika bekerja.
7. Strategi Disiplin Sekolah a. Prioritas
Disiplin sekolah seharusnya menjadi prioritas dalam program sekolah yang disusun oleh kepala sekolah bersama guru- guru. Ada tujuan yang ingin dicapai dengan pengembangan disiplin sekolah. Misalnya, tujuan program disiplin sekolah: disiplin peserta didik meningkat, atau sekolah menjadi sekolah berdisiplin tinggi, atau disiplin menjadi bagian karakter peserta didik, atau peserta didik menjadi biasa dalam disiplin.
b. Minta dukungan
Dalam pengembangan dan pelaksanaan disiplin sekolah, perlu mendapat dukungan kuat dari berbagai pihak. Pihak-pihak yang perlu diminta dukungannya adalah guru-guru, orangtua dan para peserta didik sendiri. Permintaan dukungan orangtua disampaikan dalam acara pertemuan dengan orangtua, yang diundang khusus awal tahun ajaran untuk menjelaskan program sekolah. Permintaan dukungan peserta didik disampaikan dalam upacara bendera.
c. Persetujuan
Peraturan sekolah yang telah disusun oleh pihak sekolah disampaikan kepada peserta didik dan orangtua. Mereka diminta untuk mempelajarinya dengan baik. Sesudah itu, peserta didik menandatangani pernyataan telah membaca, memahami, menyetujui dan bersedia melaksanakan. Apabila kelak melanggar ketentuan yang berlaku, bersedia untuk menerima sanksi disiplin yang diberikan oleh sekolah.
d. Konsisten dan konsekuen
Tata tertib yang sudah disampaikan kepada peserta dan orangtua beserta guru- guru di sekolah harus dilaksanakan dengan baik. Artinya, semua pihak didorong untuk melaksanakan sesuai dengan yang tertulis dalam lembaran tata tertib sekolah. Apabila ada yang sampai melanggar tata tertib
tersebut, yang bersangkutan harus bertangggung jawab. Tanggung jawab itu berupa kerelaan menerima sanksi disiplin yang diberikan oleh sekolah. Sanksi itu perlu sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
e. Perjanjian
Tata tertib sekolah dibuat dan disusun dengan tujuan menolong peserta didik menjadi lebih mandiri dan bertanggung jawab. Disiplin sekolah menjadi alat pendidikan bagi pengembangan kepribadian yang lebih dewasa. Bila ada peserta didik yang melanggar, mereka diberi sanksi yang mendidik. Bila ada yang melanggar berulangkali, diberi sanki lebih berat.
f. Tim disiplin
Untuk merancang, melaksanakan, mengawasi dan mengevaluasi kegiatan disiplin sekolah, kepala sekolah perlu membentuk tim disiplin sekolah. Tim disiplin ini diberi tugas dan wewenang oleh kepala sekolah untuk melaksanakan seluruh pengembangan kegiatan disiplin sekolah dan bertanggung jawab kepada kepala sekolah.
g. Guru BK dan wali kelas.
Peserta didik yang melanggar disiplin sekolah terdiri dari peserta didik yang memiliki problem dalam dirinya dan dengan keluarga. Oleh karena itu, pertolongan perlu melibatkan para guru BK dan wali kelas.
h. Moto sekolah
Sekolah dapat membuat moto sekolah berkenaan dengan kebijakan sekolah. Sekolah juga dapat membuat moto sekolah berkenaan dengan pengembangan disiplin sekolah.
Metode Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober 2016. Adapun tempat atau lokasi penelitian yang dilakukan oleh peneliti adalah di SMP Negeri 1 Ranah Batahan Kabupaten Pasaman Barat. Alasan peneliti memilih sekolah ini karena peneliti mendapatkan fenomena atau gambaran permasalahan yang terjadi untuk dapat diteliti kebenarannya.
Jenis penelitian ini adalah penelitian berbentuk deskriptif kuantitatif yang mendeskripsikan suatu gejala, peristiwa dan kejadian, dengan kata lain penelitian deskriptif mengambil masalah atau memusatkan penelitian pada masa aktual sebagaimana adanya pada saat penelitian dilakukan.
Mengenai metode ini dapat dilihat pada
penjelasan Arikunto (2002:142) penelitian deskriptif tidak dimaksudkan untuk menguji hipotesis tertentu hanya menggambarkan apa adanya tentang suatu variabel gejala atau keadaan.
Penelitian deskriptif dapat diartikan sebagai pemecahan yang disadari dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan objek penelitian pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak sebagaimana adanya tanpa bermaksud mengkompersikan. Penelitian ini akan menggambarkan bagaimana profil bentuk- bentuk disiplin peserta didik di kelas VII SMP Negeri 1 Ranah Batahan Kabupaten Pasaman Barat.
Menurut Arikunto (2006:130) populasi adalah keseluruhan subjek penelitian.
Selanjutnya Sugiyono (2013:117) populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari objek atau subjek yang menjadi kuantitas dan karakteristik tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelas VII SMP Negeri 1 Ranah Batahan Kabupaten Pasaman Barat yang berjumlah 149 orang.
Menurut Yusuf (2005:160). “Sampel adalah sebagian dari populasi yang diteliti untuk memperoleh data yang diperlukan dan mewakili populasi tesebut”. Dalampenelitian ini teknik sampel yang digunakan adalah simple random sampling yaitu teknik pengambilan sampel secara acak (Yusuf, 2005: 191).
Menurut Yusuf (2005:187) besarnya ukuran sampel hendaknya mempertimbangkan tingkat kesalahan sampel yang dapat ditolerir dan tingkat kepercayaan yang diterima secara statistik. Teknik pengambilan sampel penelitian dilakukan dengan mengguanakan rumus Slovin (Umar, 2008: 78) sebagai berikut:
= Keterangan:
n = Besarnya sampel yang diinginkan
N = Jumlah populasi
e = Persen kelonggaran
ketidak telitian karena kesalah pengambilan sampel yang masih dapat ditolelir atau diinginkan (10%)
Berdasarkan hal di atas, maka sampel pada penelitian ini adalah 60 peserta didik.
Untuk menentukan kelas yang akan dijadikan
sampel, maka peneliti menentukan dengan cara acak. Sampel penelitian yang terpilih adalah kelas VII.1 dan VII.3
Dalam penelitian ini data yang penulis gunakan adalah data interval. Data interval menurut Yusuf (2005:225) adalah data hasil pengukuran yang dapat diurutkan atas dasar kriteria tertentu serta menunjukkan semua sifat yang dimiliki oleh data ordinal.
Jadi data yang di intervalkan dalam penelitian ini adalah profil bentuk-bentuk disiplin peserta didik di Kelas VII SMP Negeri I Ranah Batahan Kabupaten Pasaman Barat.
Menurut Arikunto (2006:128) bahwa sumber data penelitian adalah “Subjek dari mana data dapat diperoleh”. Berdasarkan hal tersebut, sumber data dalam penelitian ini data langsung diperoleh dari objek yang dijadikan sampel penelitian, peserta didik kelas VII yang berjumlah 60 peserta didik, sedangkan data sekunder diperoleh dari tata usaha SMP Negeri 1 Ranah Batahan Kabupaten Pasaman Barat.
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket Menurut Riduwan (2010:71) “Angket adalah daftar pertanyaan yang diberikan kepada orang lain yang bersedia memberikan respon sesuai dengan permintaan pengguna”.
Angket disusun dalam bentuk skala bertingkat berdasarkan prinsip-prinsip skala likert. Angket memuat peryataan tentang profil bentuk-bentuk disiplin peserta didik di kelas VII SMP Negeri 1 Ranah Batahan Kabupaten Pasaman Barat. Angket yang digunakan pada penelitian ini adalah berbentuk isian tertutup, Menurut Riduwan (2010:72) angket tertutup merupakan angket yang disajikan dalam bentuk sedemikian rupa sehingga responden diminta memilih satu jawaban yang sesuai dengan karakteristik masing-masing responden.
Menurut Yusuf (2007:302) skala likert adalah suatu responden hanya memberikan persetujuan atau ketidak adanya terhadap butir soal tersebut. Jawaban setiap item yang menggunakan skala likert mempunyai gradasi dari sangat positif sampai negatife.
Hasil dan Pembahasan
1. Profil Bentuk-bentuk Disiplin Peserta Didik di kelas VII SMP Negeri I Ranah Batahan Kabupaten Pasaman Barat dilihat dari Disiplin Berdasarkan Konsep Otoritarian
Berdasarkan hasil analisis di atas, dapat diketahui disiplin berdasarkan konsep
otoritarian berada pada kategori sangat baik dengan frekuensi 40 orang dengan persentase 66,67%. Pada kategori baik dengan frekuensi 16 orang dengan persentase 26,67%. Pada kategori cukup baik dengan frekuensi 4 orang dengan persentase 6,67%. Sedangkan pada kategori kurang baik dan sangat kurang baik tidak ada.
Berdasarkan pendapat di atas maka sesuai dengan pendapat Imron (2011:173) menyatakan disiplin berdasarkan konsep otoritarian yaitu. Di mana peserta didik di sekolah dikatakan mempunyai disiplin tinggi manakala mau duduk tenang sambil memperhatikan uraian guru ketika sedang mengajar. Peserta didik diharuskan mengiyakan saja terhadap apa yang dikehendaki guru, dan tidak boleh membantah. Dengan demikian, guru bebas memberikan tekanan kepada peserta didik, dan memang harus menekan peserta didik. Dengan demikian, peserta didik takut dan terpaksa mengikuti apa yang diinginkan oleh guru.
2. Profil Bentuk-bentuk Disiplin Peserta Didik di Kelas VII SMP Negeri I Ranah Batahan Kabupaten Pasaman Barat dilihat dari Disiplin Berdasarkan Konsep Permissive
Berdasarkan hasil analisis data pada profil bentuk-bentuk disiplin peserta didik di kelas VII SMP Negeri I Ranah Batahan Kabupaten Pasaman Barat dilihat dari disiplin berdasarkan konsep permissive berada pada kategori baik dengan frekuensi 40 orang dengan persentase 66,67%. Pada kategori sangat baik dan cukup baik dengan frekuensi 10 orang dengan persentase 16,67%.
Sedangkan pada kondisi kurang baik dan sangat kurang baik tidak ada.
Berdasarkan keterangan di atas maka sesuai dengan pendapat Imron (2011:173) disiplin yang dibangun berdasarkan konsep permissive. Menurut konsep ini, Peserta didik haruslah diberi kebebasan seluas-luasnya di dalam kelas dan sekolah. Aturan-aturan sekolah dilonggarkan dan tidak perlu mengikat kepada peserta didik. Peserta didik dibiarkan berbuat apa saja sepanjang itu menurutnya baik. Agar peserta didik dapat mendisiplinkan diri sendiri. Peserta didik disadarkan akan pentingnya disiplin. Setelah sadar peserta didik akan mawas diri dan berusaha mendisiplinkan diri sendiri.
3. Profil Bentuk-bentuk Disiplin Peserta Didik di Kelas VII SMP Negeri I Ranah Batahan Kabupaten Pasaman Barat di
Lihat dari Disiplin Berdasarkan Konsep Kebebasan Terkendali
Berdasarkan hasil analisis data profil bentuk-bentuk disiplin peserta didik di kelas VII SMP Negeri I Ranah Batahan Kabupaten Pasaman Barat dilihat dari disiplin berdasarkan konsep kebebasan terkendali berada pada kategori sangat baik dengan frekuensi 32 orang dengan persentase 53,33%.
Pada kategori baik dengan frekuensi 24 orang dengan persentase 40,00%. Pada kategori cukup baik dengan frekuensi 4 orang persentase 6,67%. Sedangkan pada kondisi sangat baik dan sangat kurang baik tidak ada.
Berdasarkan keterangan di atas maka sesuai dengan pendapat Imron (2011:173) disiplin berdasarkan konsep kebebasan yang terkendali atau kebebasan yang bertanggung jawab. Memberikan kebebasan yang seluas- luasnya kepada peserta didik untuk berbuat apa saja yang ia mau, tapi konsekuensi dari perbuatan itu haruslah ia tanggung.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan yang peneliti peroleh dari penelitian yang telah dilaksanakan, maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Profil bentuk-bentuk disiplin peserta didik di kelas VII SMP Negeri I Ranah Batahan Kabupaten Pasaman Barat dilihat dari disiplin berdasarkan konsep otoritarian berada pada kategori sangat baik.
2. Profil bentuk-bentuk disiplin peserta didik dikelas VII SMP Negeri I Ranah Batahan Kabupaten Pasaman Barat dilihat dari disiplin berdasarkan konsep permissive berada pada kategori baik.
3. Profil bentuk-bentuk disiplin peserta didik di kelas VII SMP Negeri I Ranah Batahan Kabupaten Pasaman Barat dilihat dari disiplin berdasarkan konsep kebebasan terkendali berada pada kategori sangat baik.
Saran
Dari hasil penelitian yang telah dipaparkan, peneliti mengemukakan saran, sebagai berikut:
1. Peserta Didik
Peserta didik, bahan informasi bagi peserta didik mengenai profil bentuk-bentuk disiplin.
2. Guru Mata Pelajaran
Sebagai bahan masukan bagi guru mata pelajaran tentang profil bentuk- bentuk disiplin peserta didik.
3. Guru BK
Guru BK diharapkan dapat menciptakan kondisi yang kondusif untuk mengembangkan bentuk-bentuk disiplin dalam rangka pelaksanaan ke disiplinan bagi guru kepada peserta didik agar dapat mentaati tata tertib di lingkungan sekolah.
4. Pimpinan Sekolah
Memberi sumbangan yang positif, yakni menambah wawasan dan pengetahuan yang berguna kepada para calon konselor.
5. Peneliti Selanjutnya
Agar dapat menjadikan hasil penelitian ini sebagai pedoman dalam upaya mengembangkan berbagai kajian yang dapat dibahas mengenai profil bentuk-bentuk disiplin peserta didik.
Kepustakaan
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Bina Aksara.
Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.
Jakarta: Asdi Mahasatya.
Elizabet, B Hurlok. 2002. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga.
Imron, Ali. 2011. Manajemen Peserta Didik Berbaris Sekolah. Jakarta: Bumi Aksara.
Irmim, Soejitno. 2004. Membangun Disiplin Diri Melalui Kecerdasan Spritual dan Emosional. Jakarta: Batavia Press.
Riduwan. 2010. Belajar Mudah Penelitian untuk Guru, Karyawan dan Peneliti Pemula. Bandung: Alfabeta.
Sugiyono. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D.
Bandung: Alfabeta.
Tu’u, Tulus. 2004. Peran Disiplin pada Perilaku dan Prestasi Siswa. Jakarta:
Grasindo.
Umar, Husein. 2008. Metode Penelitian untuk Skripsi dan Tesis Bisnis. Jakarta:
Raja Grapindo Persada.
Yusuf, A Muri. 2005. Metode Penelitian:
Dasar-dasar Penyelidikan Ilmiah Padang: UNP Press.
Yusuf, A Muri. 2007. Metodologi Penelitian.
Padang: UNP Press.