• Tidak ada hasil yang ditemukan

Program Studi Keperawatan Program Diploma Tiga

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Program Studi Keperawatan Program Diploma Tiga"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)Program Studi Keperawatan Program Diploma Tiga Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Kusuma Husada Surakarta 2021 ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN STROKE NON HEMORAGIK DENGAN PEMENUHAN KEBUTUHAN AKTIVITAS DAN LATIHAN 1. Inayatus Sya’diyah1, Martini Listrikawati, S.Kep., Ns., M.Kep2 Mahasiswa Program Studi Keperawatan Program Diploma Tiga Universitas Kusuma Husada Surakarta Email : [email protected] 2 Dosen Program Studi Keperawatan Program Diploma Tiga Keperawatan Universitas Kusuma Husada Surakarta Email : [email protected] ABSTRAK. Stroke non hemoragik adalah gangguan secara mendadak yang diakibatkan suplai oksigen ke otak terganggu karena adanya sumbatan atau pecahnya pembuluh darah di otak, sehingga dapat mempengaruhi kinerja syaraf. Masalah yang terjadi pada pasien stroke non hemoragik yaitu cacat mengalami kelumpuhan anggota gerak, gangguan bicara. Tindakan keperawatan yang dapat dilakukan pada pasien stroke non hemoragik adalah pemberian Terapi latihan rentang gerak Range Of Motion (ROM) pasif dengan menggunakan skala Manual Muscle Testing (MMT) untuk meningkatkan kekuatan otot pada pasien. Tujuan studi kasus ini yaitu memberikan Asuhan Keperawatan Pasien Stroke Non Hemoragik dalam Pemenuhan Kebutuhan Aktivitas dan Latihan. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan menggunakan metode pendekatan studi kasus. Dengan menggunakan lembar observasi, wawancara dan studi dokumentasi. Studi kasus dipilih 1 pasien sebagai subjek studi yaitu pasien dengan stroke non hemoragik mengalami hemiparase atau kelemahan otot di ruang Flamboyan 3. Hasil studi menunjukan bahwa pengelolaan asuhan keperawatan pada pasien dalam pemenuhan kebutuhan aktivitas dan latihan dengan masalah keperawatan gangguan mobilitas fisik yang dilakukan tindakan terapi latihan rentang gerak Range Of Motion (ROM) pasif dengan menggunakan skala Manual Muscle Testing (MMT) selama 15 menit 2 kali sehari pagi dan siang yang dilakukan selama 5 hari berturut-turut. Dari tindakan tersebut terdapat peningkatan kekuatan otot dari 3 menjadi 4. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pemberian latihan rentang gerak Range Of Motion (ROM) pasif efektif diberikan pada pasien stroke non hemoragik dalam pemenuhan aktivitas dan latihan. Kata Kunci : Kekuatan Otot, Latihan Range Of Motion (ROM), Stroke Non Hemoragik.. (2) Study Program of Nursing Diploma Three Faculty of Health Sciences University of Kusuma Husada Surakarta 2021 NURSING OF NON-HEMORRIC STROKE PATIENTS WITH ACTIVITY AND EXERCISE NEEDS FULFILLMENT Inayatus Sya’diyah1, Martini Listrikawati, S.Kep., Ns., M.Kep2 Student of Nursing Study Program Diploma Three University of Kusuma Husada Surakarta Email : [email protected] 2 Lecturer of Nursing Study Program Diploma Three in University of Kusuma Husada Surakarta Email : [email protected] 1. ABSTRACT Non-hemorrhagic stroke is a sudden disturbance caused by disrupted oxygen supply to the brain due to blockage or rupture of blood vessels in the brain, therefore it can affect nerve performance. Problems that occur in non-hemorrhagic stroke patients are disability, limb paralysis, speech disorders. Nursing actions that can be performed on non-hemorrhagic stroke patients is the provision of passive Range Of Motion (ROM) exercise therapy using the Manual Muscle Testing (MMT) scale to increase muscle strength in patients. The purpose of this case study is to provide Nursing for Non-Hemorrhagic Stroke Patients in Fulfilling Activity and Exercise Needs. This type of research is descriptive using a case study approach. By using observation sheets, interviews and documentation studies. The case study selected 1 patient as the subject of the study, namely patients with non-hemorrhagic strokes experiencing hemiparase or muscle weakness in the Flamboyan 3 room. passive range of motion (ROM) using the Manual Muscle Testing (MMT) scale for 15 minutes 2 times a day in the morning and afternoon for 5 consecutive days. From these actions, there was an increase in muscle strength from 3 to 4. So it can be concluded that the provision of passive Range of Motion (ROM) exercises is effectively given to non-hemorrhagic stroke patients in fulfilling activities and exercises. Key words: Muscle Strength, Range Of Motion (ROM) Exercise, Non Hemorrhagic Stroke.. (3) stroke. Orang Amerika meninggal setiap. PENDAHULUAN Stroke menjadi salah satu masalah kesehatan. utama. bagi. masyarakat.. 4 menit akibat serangan stroke. Sebanyak 8,7% kasus stroke adalah stroke non-. Hampir diseluruh dunia stroke menjadi. hemoragik,. masalah yang serius dengan angka. penyumbatan aliran darah ke otak.. morbiditas dan mortalitas yang lebih. Penderita stroke non hemoragik memiliki. tinggi. risiko kematian sebesar 20%. Hasil riset. dibandingkan. kejadian. penyakit. dengan. angka. kardiovaskuler.. yang. kesehatan dasar. terjadi. akibat. (Riskesdes, 2016). Serangan stroke yang mendadak dapat. menunjukan. menyebabkan kecacatan fisik dan mental. stroke di Indonesia sebesar 6% aatau 8,3. serta kematian, baik pada usia produktif. per 1000 penduduk yang telah di. maupun lanjut usia (Dewi & Pinzon,. diagnosis oleh tenaga kesehatan adalah 6. 2016). Stroke merupakan penyebab. per 1000 penduduk. Kejadian kasus. kematian nomer tiga setelah infark. stroke 100 sampai 300 orang per 100.000. miokard dan kanker serta penyebab. penduduk per tahun. Stroke merupakan. kecacatan nomer satu diseluruh dunia.. penyebab kematian nomor satu di. Dampak stroke tidak hanya dirasakan. Indonesia. oleh penderita, namun juga oleh keluarga. diperkirakan. dan. (Nur. mencapai 23,3 juta kematian. Stroke non. Wakhidah, 2015). Stroke atau cedera. hemoragik penyebab kematian terbanyak. serebrovaskuler adalah kehilangan fungsi. (Triasti & Pudjonarko, 2016).. masyarakat. disekitarnya. otak yang diakibatkan oleh terhentinya. bahwa. dan. angka. pada. akan. kejadian. tahun. terus. 2030. meningkat. Menurut hasil survey yang telah. suplai darah ke bagian otak (Smeltzer &. dilakukan. Kementrian. Kesehatan,. Bare 2013).. penyakit tidak menular yang menjadi. Word Health Organization (WHO). pembunuh utama yaitu antara lain,. memperkirakan bahwa pada tahun 2015,. stroke, penyakit jantung, diabetes dengan. stroke menyumbang 5,7 juta kematian. komplikasi, TBC, hipertensi dengan. diseluruh dunia, setara dengan 9,9% dari. komplikasinya, dan penyakit paru-paru. seluruh kematian. Lebih dari 85%. kronis.. kematian ini terjadi pada orang yang. menyebutkan bahwa perubahan gaya. hidup. dan. hidup masyarakat Indonesia menubah. sepertiga orang berumur 70 tahun. Data. proporsi kematian. Salah satu contoh saja. di Amerika Serikat menunjukan, kurang. pada tahun 1990-an penyakit stroke. lebih lima juta orang pernah mengalami. hanya. di. Negara. berkembang. Dalam. menempati. survey. urutan. tersebut. keempat,. (4) sedangkan saat ini menjadi pembunuh. Range Of Motion (ROM). Latihan Range. nomer satu di Indonesia. Hal yang sama. Of Motion (ROM) merupakan salah satu. terjadi pada tahun 2015, stroke menjadi. bentuk latihan dalam proses rehabilitasi. pembunuh. nomer. yang dinilai masih cukup efektif untuk. Indonesia. kemudian. diikuti. dengan. mencegah terjadinya kecacatan pada. serangan. jantung. dan. kanker. pasien dengan stroke (Potter & Perry,. satu. masyarakat. (Kementrian Kesehatan RI, 2018).. 2010). Berdasarkan hasil penelitian,. Stroke non hemoragik disebabkan oleh. faktor. resiko. hipertensi,. yaitu. meliputi. sesudah diberikan latihan ROM, hal ini. militus,. menunjukan bahwa latihan ROM pasif. diabetes. hiperkolesterol,. obesitas,. terdapat kenaikan nilai kekuatan otot. merokok,. berpengaruh. terhadap. peningkatan. kurang berolahraga menjadi sederet. kekuatan otot dan luas gerak sendi pada. faktor-faktor pendukung angka kejadian. pasien stroke. Manfaat ROM untuk. stroke di masyarakat saat ini (Darmawan,. menentukan nilai kemampuan sendi. 2016). Masalah yang terjadi pada pasien. tulang. stroke. pergerakan, memperbaiki tonus otot,. non. hemoragik. yaitu. cacat. dan. otot. dalam. otot. melakukan. mengalami kelumpuhan anggota gerak,. memperbaiki. untuk. latihan,. gangguan bicara, proses berfikir daya. mencegah terjadinya kekakuan sendi dan. ingat dan bentuk-bentuk kecacatan lain. memperlancar sirkulasi darah (Cahyani,. sebagai akibat gangguan fungsi otak.. Hastono, & Nurachman, 2013).. Gangguan pada pasien stroke adalah. Hasil penelitian tersebut didukung. gangguan aktivitas & latihan karena. oleh studi kasus yang dilakukan Pradana. adanya kelemahan fisik akibat gangguan. (2016), dengan melakukan tindakan. neuromuskuler mengakibatkan masalah. Range. keperawatan gangguan mobilitas fisik.. mobilisasi. Dampak yang dapat ditimbulkan dari. timbunya komplikasi. Pemberian terapi. stroke diantaranya adalah kelumpuhan. ROM berupa latihan gerakan pada bagian. wajah atau anggota badan, perubahan. pergelangan tangan, siku, bahu, jari-jari. kognitif. gangguan. kaki atau pada bagian ekstermitas yang. penurunan. mengalami kelumpuhan. Terapi latihan. kesadaran, vertigo, gangguan eliminasi. ROM dilakukan sebanyak 2x sehari. dan gangguan mobilitas (Hidayat, 2014).. selama 5 hari, kemudian diukur kembali. Penanganan stroke non hemoragik. kekuatan otot post latihan pada pasien. dan. komunikasi. perilaku, (afasia),. dapat dilakukan dengan terapi latihan. stroke. Of. Motion maka. dilakukan. atau. dapat. tindakan mencegah. pengukuran. hari. (5) pertama kemudian diukur kembali dihari. Pemenuhan Kebutuhan Aktivitas dan. ke-5 dan tidak dilakukan intervensi. Latihan (ROM)”.. (Pradana, 2016). Penulis melakukan pengambilan. METODE. kasus di RSUD Kota Salatiga pada. Responden dalam studi kasus ini adalah. tanggal 19 Februari sampai dengan. penderita stroke non hemoragik di RSUD. tanggal 27 Februari 2021. Penulis. Salatiga.. mendapatkan informasi data Prevelensi. pengambilan kasus di RSUD Kota. dari ruang medis (RM) tahun 2020 bahwa. Salatiga pada tanggal 19 Februari sampai. penyakit stroke non hemoragik di RSUD. dengan tanggal 27 Februari 2021 Metode. Salatiga selama 3 bulan terakhir dari. pengumpulan data yang digunakan dalam. bulan Desember 2020, Januari dan. studi kasus ini yaitu dengan observasi. Februari 2021 sebanyak 119 orang. Pada. hasil pengukuran nilai kekuatan otot. bulan Desember 2020 pasien stroke non. dengan skala MMT sebelum dan sesudah. hemoragik berjenis kelamin laki-laki. intervensi latihan rentang gerak (ROM). berjumlah 31, perempuan berjumlah 15,. yang dilakukan selama 15 menit dalam 5. total yang dirawat pada bulan Desember. hari berturut-turut pagi dan siang. Alat. sebanyak 46 orang. Bulan Januari 2021. untuk mengukur nilai kekuatan otot yaitu. pasien stroke non hemoragik berjenis. menggunakan skala Manual Muscle. kelamin. Testing (MMT).. laki-laki. berjumlah. 25,. Penulis. melakukan. perempuan berjumlah 17, total yang dirawat pada bulan Januari sebanyak 42. HASIL dan PEMBAHASAN. orang. Dan bulan Februari 2021 pasien. Pengkajian awal pada subjek,. stroke non hemoragik berjenis kelamin. dilakukan pada tanggal 20 Februari 2021. laki-laki 17 orang, perempuan berjumlah. pukul 13.00 WIB didapatkan Data. 14 orang, total pasien yang dirawat pada. Subyektif keluarga pasien mengatakan. bulan Februari sebanyak 31 orang.. Tn B. mengeluhkan anggota gerak. Berdasarkan latar belakang tersebut penulis. tertarik. untuk. ekstermitas sebelah kanan mengalami. melakukan. kelemahan sejak kurang lebih 6 hari. penyusunan kasus keperawatan dalam. sebelum masuk rumah sakit, keluarga. bentuk Proposal Karya Tulis Ilmiah. pasien mengatakan tangan dan kaki. dengan judul “Asuhan Keperawatan pada. sebelah kanan terasa kebas, keluarga. Pasien Stroke Non Hemoragik Dengan. pasien mengatakan Tn.B tidak dapat melakukan aktivitas secara mandiri. Data. (6) obyektif pasien anggota tubuh bagian. gerak sendi secara penuh dan melawan. kanan atas dan bawah susah digerakkan,. gravitasi tetapi belum bisa melawan. aktivitas pasien dibantu keluarga atau. tahanan minimal), 3+ (mampu bergerak. perawat, rentan gerak (ROM) menurun,. dengan kurang dari satu setengah ROM. kekuatan. ekstremitas. melawan gravitasi dan melawan tahanan. sebelah kanan atas dan ektremitas bawah. minimal), 4- (mampu bergerak dengan. 3 dan ektremitas sebelah kiri atas dan. lebih besar dari satu setengah ROM. bawah 5, pasien tampak lemah, hasil. melakukan. TTV. Nadi. melawan tahanan minimal), 4 (mampu. Frekuensi. bergerak penuh dengan ROM penuh. pernapasan 28x/menit, GCS 13 (E;4, V;4,. melawan gravitasi dan mampu melawan. M;5). Hal ini sesuai dengan teori Wijaya. tahanan minimal), 5 (mampu bergerak. & Putri (2013) bahwa penderita stroke. penuh dengan ROM penuh melawan. non hemoragik mengalami penurunan. gravitasi. kekuatan. maksimal), (Hislop, 2013).. ;. otot. TD. 76x/menit,. menurun. 176/94. Suhu. otot. mmHg,. 36,3oc,. pada. pasien. yang. gravitasi. dan. dan. mampu. melawan. tahanan. menyebabkan gerakan pasien lambat,. Terapi medis yang diberikan. tidak terkoordinasi, penderita stroke. pada tanggal 21 Februari 2021 sampai. mengalami. dengan. kesulitan. berjalan,. 25. Februari. 2021. yaitu. menggerakkan anggota badan karena. pemberian cairan IV infus RL 20/tpm dan. gangguan kekuatan otot, keseimbangan. infus manitol 6x100cc, injeksi piracetam. dan koodinasi gerak sehingga kesulitan. 3 gram, gabapeatin 2x150mg, neuroid 1-. dalam melakukan aktivitas sehari-hari.. 0-1 renovate 1-0-1, chlorpromazine 0-0-. Derajat kekuatan otot yaitu 0. 1.. (tidak ada kontraksi otot sama sekali), 1. Berdasarkan data pengkajian,. (ada kontraksi namun tidak ada gerakan),. maka penulis menegakkan SDKI (2017). 2- (mampu bergerak lebih besar dari satu. diagnosis. setengah ROM tanpa melawan gravitasi),. Gangguan. 2 (mampu bergerak dengan ROM penuh. berhubungan. tanpa melawan gravitasi), 2+ (mampu. kekuatan. bergerak. mengeluh. sulit. setengah ROM melawan gravitasi), 3-. ektermitas,. kekuatan. (mampu bergerak dengan lebih besar dari. rentang gerak (ROM) menurun, nyeri. satu setengah ROM melawan gravitasi),. saat. 3 (mampu bergerak dengan lingkup. pergerakan, merasa cemas saat bergerak,. dengan. kurang. dari. satu. keperawatan mobilitas. utama fisik. (D.0054). dengan. otot. bergerak,. yaitu. penurunan. dibuktikan. dengan. menggerakkan otot. enggan. menurun,. melakukan. (7) sendi kaku, gerakan tidak terkoodinasi,. ditentukan. gerakan terbatas, fisik lemah. Diagnosis. kriteria hasil diharapkan mobilitas fisik. ini diangkat karena pada pasien stroke. meningkat (L.050042) SLKI (2018):. non. pergerakan. hemoragik. yang. umumnya. tujuan. keperawatan. ekstermitas otot. dan. meningkat,. mengalami gangguan mobilitas fisik,. kekuatan. meningkat,. gerakan. selain dikarenakan sirkulasi darah tidak. terbatas menurun, rentang gerak (ROM). lancar yang diakibatkan akan terjadi. meningkat, kelemahan fisik menurun.. penurunan kekuatan otot dan dapat. Berdasarkan tujuan dan kriteria. menyebabkan kelemahan ekstremitas. hasil tersebut intervensi keperawatan. atas dan bawah. Gangguan pada pasien. yang dilakukan berdasarkan Standar. stroke adalah gangguan aktivitas &. Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI,. latihan karena adanya kelemahan fisik. 2018). akibat. neuromuskuler. (I.05173) SIKI (2018) : Observasi :. masalah keperawatan. Identifikasi toleransi fisik melakukan. gangguan. mengakibatkan. yaitu. Dukungan. gangguan mobilitas fisik. Jika gangguan. pergerakan,. yang terjadi tidak segera diatasi maka. selama. akan menimbulkan berbagai komplikasi. mobilisasi, monitor tanda-tanda vital,. atau dampak dan sebagai penyebab. Terapeutik. kematian.. dapat. pergerakan, berikan terapi ROM pasif. ditimbulkan dari stroke diantaranya. dan ROM aktif, libatkan keluarga untuk. adalah kelumpuhan wajah atau anggota. membantu pasien dalam meningkatkan. badan, perubahan kognitif dan perilaku,. pergerakan, Edukasi : Jelaskan tujuan. gangguan. dan. Dampak. yang. komunikasi. (afasia),. monitor. Mobilisasi. kondisi. melakukan. :. prosedur. pergerakan. Fasilitasi. melakukan. mobilisasi,. anjurkan. penurunan kesadaran, vertigo, gangguan. melakukan. mobilisasi. dini,. eliminasi. mobilisasi. sederhana. yang. dan. gangguan. mobilitas. (Hidayat, 2014).. umum. ajarkan harus. dilakukan (misalnya duduk ditempat. Intervesi keperawatan pada studi. tidur, pindah dari tempat tidur ke kursi).. kasus ini difokuskan pada diagnosa. Kolaborasi : Kolaborasi pemberian. pertama. fisik. terapi medis.. penurunan. Hasil. gangguan. berhubungan kekuatan. otot.. mobilitas. dengan Setelah. penelitian. ini. sesuai. dilakukan. dengan penelitian yang dilakukan oleh. tindakan keperawatan selama 5x24 jam. Astrid et al (2011), didapatkan hasil. berturut-turut pagi dan siang dengan. bahwa kekuatan otot meningkat dan. waktu 15 menit setiap tindakan, maka. kemampuan fungsional meningkat secara. (8) signifikan setelah diberikan latihan. Hal. dilakukan tindakan ROM kekuatan otot. ini berati latihan ROM berpengaruh. pada ekstremitas atas kanan 4 kiri 5,. terhadap peningkatan kekuatan otot. sedangkan pada ekstremitas bawah kanan. ekstermitas dan kemampuan fungsional. 4 kiri 5. Pada tanggal 23 Februari 2021. pasien stroke non hemoragik.. pukul 16.00 sebelum dan sesudah. Hasil. penelitian. didukung. oleh. dilakukan. Pradana. kasus. dilakukan tindakan ROM kekuatan otot. yang. pada ekstremitas atas kanan 4 kiri 5,. dengan. sedangkan pada ekstremitas bawah kanan. melakukan tindakan Range Of Motion. 4 kiri 5. Pada tanggal 24 Februari 2021. atau tindakan mobilisasi maka dapat. pukul 16.00 sebelum dan sesudah. mencegah. komplikasi.. dilakukan tindakan ROM kekuatan otot. Pemberian terapi ROM berupa latihan. pada ekstremitas atas kanan 4 kiri 5,. gerakan pada bagian pergelangan tangan,. sedangkan pada ekstremitas bawah kanan. siku, bahu, jari-jari kaki atau pada bagian. 4 kiri 5. Pada tanggal 25 Februari 2021. ekstermitas. pukul 16.00 sebelum dan sesudah. kelumpuhan.. studi. tersebut. (2016),. timbunya. yang Terapi. mengalami latihan. ROM. dilakukan tindakan ROM kekuatan otot. dilakukan sebanyak 2x sehari selama 5. pada ekstremitas atas kanan 4 kiri 5,. hari, kemudian diukur kembali kekuatan. sedangkan pada ekstremitas bawah kanan. otot post latihan pada pasien stroke. 4 kiri 5.. dilakukan pengukuran hari pertama kemudian diukur kembali. Berdasarkan. hasil. evaluasi. dihari ke-5. penulis dari tindakan pemberian terapi. dan tidak dilakukan intervensi (Pradana,. latihan ROM Pasif dan ROM Aktif. 2016).. selama 2 kali sehari pagi dan siang yang Hasil evaluasi didapatkan hasil. pada hari pertama yaitu. tanggal 21. dilakukan selama 5 hari berturut-turut. Dari. tindakan. tersebut. Februari 2021 sampai 25 Februari 2021,. peningkatan. dalam pemberian tindakan latihan ROM,. dilakukan tindakan latihan ROM Pasif. Pada tanggal 21 Februari 2021 pukul. dan ROM Aktif nilai kekuatan otot kanan. 16.00 sebelum dan sesudah dilakukan. atas dan bawah 3 dan kiri 5 pada hari ke. tindakan ROM kekuatan otot pada. satu. Tindakan ROM Pasif dan ROM. ekstremitas. 5,. Aktif mengalami peningkatan pada hari. sedangkan pada ekstremitas bawah kanan. ke tiga siang hari dengan nilai kekuatan. 3 kiri 5. Pada tanggal 22 Februari 2021. otot atas dan bawah sebelah kanan 4 dan. pukul 16.00 sebelum dan sesudah. atas dan bawah sebelah kiri 5. Penulis. atas. kanan. 3. kiri. kekuatan. otot. terdapat sebelum. (9) tetap melakukan intervensi tersebut. DAFTAR PUSTAKA. selama 5 hari dikarenakan pasien belum. Astrid, M., Elly, E., & Budianto, B.. diperbolehkan pulang dan sesuai jurnal. (2011).. Pengaruh. yang digunakan penulis bahwa tindakan. Range. ROM efektif dilakukan selama 5 hari.. Terhadap Kekuatan Otot, Luas. Of. Latihan. Motion. (ROM). Gerak Sendi dan Kemapuan KESIMPULAN dan SARAN. Fungsional Pasien Stroke di. Kesimpulan. RS Sint Carolus Jakarta. Jurnal. Pengelolaan asuhan keperawatan pada pasien stroke non hemoragik dalam. Ilmu. Keperawatan. dan. Kebidanan, 1 (4), 175-182.. pemenuhan kebutuhan aktivitas dan. Darmawan, A. S. (2016). Hubungan. latihan dengan masalah keperawatan. Antara Jenis Patologi Stroke. ganguan mobilitas fisik berhubungan. dengan Outcome Kejang pada. dengan penurunan kekuatan otot yang. Pasien Stroke di RSUP DR. dilakukan tindakan latihan rentang gerak. Sardjito. Skripsi. Yogyakarta:. Range Of Motion (ROM) dilakukan. Fakultas. selama 5 hari pagi dan siang hari. Universitas Gadjah Mada.. berturut-turut. menit. Dewi, I. P., & Pinzon, R. T. (2016).. didapatkan hasil terjadi peningkatan. Resensi Buku Stroke in ASIA,. kekuatan. 315–316.. otot. selama. yang. 15. Kedokteran. semula. skala. kekuatan otot bernilai 3 menjadi skala. Hidayat. A. Alimul Aziz dan Uliyah. kekuatan otot bernilai 3. Tindakan latihan. Musrifatul (2014). Pengantar. rentang gerak Range Of Motion (ROM). kebutuhan. efektif dilakukan pada pasien stroke non. Edisi. hemoragik dengan penurunan kekuatan. Salemba Medika.. otot.. 2. dasar buku. 1.. manusia. Jakarta:. Hislop, Helen. (2013). Principles of. Saran. Manual. Muscle. Testing.. Sebagai tambahan pengetahuan dan. http://books.google.co.id/book. wawasan tentang asuhan keperawatan. s?id=dYqrAAAAQBAJ&pg=P. pada pasien stroke non hemoragik. A2&DQ=manual++muscle+te. dengan pemenuhan kebutuhan aktivitas. sting&hl=id&sa=X&ved=0ah. dan latihan (ROM).. UKwjL diakses tanggal 23 Januari 2020 pukul 06.30 WIB. (10) Kemenkes RI, (2018). Riset Kesehatan Dasar ; RISKESDAS, Jakarta:. Hemoragik. Balitbang. Soehadi. Nur Wakhidah Anisa, (2015). Asuhan Keperawatan Dengan. Pada. Tn. Gangguan. Persarafan. :. di. Gladiolatas. Daerah. Dilihat. 02. Surakarta.. Non Ruang. Pengembangan. Kesehatan. Kementrian RI tahun 2016.. Sakit. Smeltzer, S., & Bare, B. (2013). Brunner. Sukoharjo,. & Suddarth’s Textbook of. Maret. 2019. Medical. Surgical. Nursing.. http://eprints.ums.ac.id/33741/. Philadelpia: Lippincott. 19/naskah%20publikasi%20il. Triasti, A. P., & Pudjonarko, D. (2016).. Of. Faktor. Nurshing Buku 3 Edisi.. Salemba Medika: Jakarta. (2017).. Standar. Keperawatan Definisi. Keperawatan Definisi. Indikator. Intervensi Indonesia: Tindakan. Keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI. Standar. Keperawatan. Luaran Indonesia:. Definisi dan Kriteria Hasil keperawatan, Edisi 1. Jakarta: DPP PPNI. Dodya. Fungsi Kedokteran. Diponegoro, 5(4), 460–474.. (2015). Health Tropic Stroke,. dan. (2019).. Kognitif.. yang. Indonesia:. dan. Standar. Mempengaruhi. Faktor. Word Health Organization (WHO).. DPP PPNI (2018).. –. Diagnosis. Diagnostik, Edisi 1. Jakarta:. Pradana. Prijonegoro.. (2016). Badan Penelitian dan. Potter and Perry. (2010). Fundamental. PPNI.. Dr.. Sistem. miah.pdf. PPNI.. RSUD. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdes).. Rumah. Umum. Di. W. Stroke. Hemoragic. PPNI.. Fisik Pada Passien Stroke Non. Mahardika.. (2016).. Upaya Peningkatan Mobilitas. Cerebrovaskuler Accident.. (11)

Referensi

Dokumen terkait

Hasil studi menunjukkan bahwa pengelolaan asuhan keperawatan pada pasien Asma Bronkial dalam pemenuhan kebutuhan oksigenasi dengan masalah keperawatan bersihan jalan napas tidak efektif

Hasil studi menunjukkan bahwa pengelolaan asuhan keperawatan pada pasien cedera kapala ringan dalam pemenuhan kebutuhan aman nyaman nyeri dengan masalah keperawatan nyeri akut dilakukan

Hasil studi menunjukkan bahwa pengelolaan asuhan keperawatan pada pasien Asma dalam pemenuhan kebutuhan oksigenasi dengan masalah keperawatan Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif yang

Hasil studi menunjukkan bahwa pengelolaan asuhan keperawatan pada pasien fraktur tertutup ekstermitas bawah dalam pemenuhan kebutuhan aman nyaman : nyeri dengan masalah keperawatan

Hasil studi menunjukkan bahwa pengelolaan asuhan keperawatan pada pasien Hipertensi dalam pemenuhan kebutuhan aman dan nyaman nyeri, dengan masalah keperawatan nyeri akut yang dilakukan

Hasil studi pengelolaan asuhan keperawatan pada pasien ibu post partum dalam pemenuhan kebutuhan fisiologis produksi ASI dengan masalah keperawatan menyusui tidak efektif yang dilakukan

Hasil studi menunjukkan bahwa pengelolaan asuhan keperawatan pada pasien Penyakit Paru Obstruktif Kronik dalam pemenuhan kebutuhan oksigenasi dengan masalah keperawatan bersihan jalan

Hasil studi menunjukkan bahwa pengelolaan asuhan keperawatan pada pasien dalam pemenuhan kebutuhan aman dan nyaman dengan masalah keperawatan nyeri akut yang dilakukan tindakan