• Tidak ada hasil yang ditemukan

Psikometrika MAKALAH - Dr. Abdul Kadir, SH, M.Si

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "Psikometrika MAKALAH - Dr. Abdul Kadir, SH, M.Si"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

PSIKOMETRIKA

MAKALAH

Disusun untuk Memenuhi Tugas Kelompok Mata Kuliah Psikometrika Dosen Pengampu : Khairuddin, S.Psi., M.Psi.

KELOMPOK 1

1. Ruth Yulia Hutahaean ( 178600093 ) 2. Cindy Rahma Wati ( 178600139 ) 3. Rachmania Masitah ( 188600063 ) 4. Auwalia Desi Ramadhani ( 188600124 ) 5. Zalsa Nabila Fauren ( 188600142 )

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS MEDAN AREA

MEDAN 2020

(2)

ii

KATA PENGANTAR

Assalamu‟alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Puji dan syukur kami haturkan kepada Allah Subhanahu wa Ta‟ala, atas berkah dan kasih sayang yang diberikan oleh-Nya, kami dapat menyelesaikan makalah tentang “Sejarah dan Dasar-Dasar Psikometri”, untuk memenuhi tugas kelompok matakuliah Psikometrika. Serta kami ucapkan shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad Shalallahu „alaihi Wasallam.

Dalam penyusunan makalah ini, kami turut mendapatkan bimbingan dari dosen pengampu matakuliah tersebut, Khairuddin, S.Psi., M.Psi. Maka dari itu, kami sangat bersyukur dan mengucapkan terima kasih atas dukungan ilmu yang sangat bermanfaat bagi kami semua.

Harapannya, melalui tulisan ini, kami juga turut berkontribusi dalam memajukan proses pembelajaran untuk kepentingan pendidikan di negara ini.

Adapun kekurangan dalam tulisan ini, kiranya dapat disampaikan kritik dan saran agar menjadi karya tulis yang lebih baik.

Wassalamu‟alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Senin, 23 Maret 2020

(3)

iii DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iii

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 1

1.3 Tujuan Penulisan ... 1

1.4 Manfaat Penulisan ... 2

BAB 2 PEMBAHASAN ... 3

2.1 Sejarah Psikometri ... 3

2.2 Dasar-Dasar Psikometri ... 3

2.2.1 Pengukuran, Evaluasi, dan Tes ... 3

2.2.2 Konstanta dan Variabel ... 9

2.3 Teori Respons Aitem... 11

2.3.1 Konsep dan Asumsi Teori Sifat Laten ... 11

2.3.2 Beberapa model Logistik ... 12

2.4 Penskalaan ... 13

2.4.1 Metode Psikofisik dan Metode Psikometrik ... 13

2.4.2 Metode Perbandingan Pasangan ... 14

2.4.3 Metode Interval Tampak Setara ... 15

2.4.4 Metode Interval Berurutan ... 15

2.4.5 Metode Rating yang Dijumlahkan ... 15

BAB 3 PENUTUP ... 18

3.1 Kesimpulan ... 18

3.2 Saran ... 18

DAFTAR PUSTAKA ... 19

(4)

1 BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Saat ini, kemajuan dalam suatu penelitian sudah sangat berkembang. Para peneliti-peneliti tidak memandang usia seseorang karena banyak peneliti yang muda maupun yang tua utuk mencari sesuatu yang baru dalam penelitiannya. Di setiap negara-negara banyak melakukan sebuah penelitian untuk menyelesaikan sebuah tugas ataupun mencoba mencari sesuatu dari fenomena-fenomena yang berkembang pada zamannya. Penelitian yang dilakukan, harus memiliki data- data yang harus diukur agar mendapatkan hasil sesuai yang diharapkan, dimana hasil penelitian tersebut harus valid atau disebut dengan data-data tersebut bersifat nyata, dengan cara menguji realibilitas data tersebut. Maka, dalam kesempatan ini memerlukan pengetahuan yang banyak tentang penelitian dalam konteks pengukuran perilaku manusia.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa sejarah dari psikometri?

2. Apakah pengertian dari psikometri?

3. Bagaimana penggunaan dari dasar-dasar psikometri?

4. Apa saja pokok pembahasan dalam psikometrika?

1.3 Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan ini adalah untuk menyelesaikan tugas, dan agar dapat mengetahui sejarah psikometri, pengertian psikometri, memahami dasar-dasar psikometri, dan dapat mengetahui apa saja jenis-jenis yang digunakan dalam sebuah pengukuran.

1.4 Manfaat Penulisan

Manfaat dalam penulisan ini diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada pembaca mengenai sejarah dan dasar-dasar psikometri.

(5)

2 BAB II PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Psikometri

Psikometri merupakan cabang ilmu psikologi khususnya mempelajari tentang pengukurang tingkah laku secara kuantitatif. Arti “Psiko” berasal dari kata psikologi yaitu ilmu yang mempelajari perilaku, sedangkan “metri” berarti pengukuran. Sehingga psikometri adalah ilmu yang mempelajari tentang segala hal yang bersangkut paut dengan pengukuran kuantitatif terhadap perilaku manusia.

Perilaku manusia mengandung banyak aspek, khususnya fisik dan psikis.

Prikometri memusatkan perhatiannya pada pengukuran aspek psikologis manusia.

Membahas tentang apa itu pengukuran, perilaku, bagaimana mengukur perilaku, untuk keperluan apa pengukuran dilakukan, dan sebagainya.

Psikometri atau Psychometric didefinisikan dalam Chambers Twentieth- Century Dictionary sebagai branch of psychology dealing with measurable factors. Psikometri berkembang bersama dengan perkembangan teori dan pengukuran inteligensi. Perkembangan teori inteligensi dipengaruhi oleh teori evolusi Galton (1983z0 yang sangat mempercayai teori evolusi ini, kemudian mempengaruhinya teori tentang genius Galton pada tahun 1869 menulis Hereditary Genius: An inquiry into its Laws and Consequence.

Galton adalah bapak psikometri. Dia mendirikan laboratorium antropometri di South Kensington exhibition tahun 1883. Galton melakukan studi geneologi terhadap keluarga-keluarga terkemuka dibidang sains dan berpendapat bahwa kegeniusan yang bersifat genetika ini ditemukan dalam keluarga-keluarga ini, termasuk dikeluarganya sendiri. Beliau mula-mula mengukur kemampuan visual, kemampuan mendengar, kecepatan reaksi, dan itngkat ambang pendengaran, kemudian melakukan pengukuran hasil belajar. Selanjutnya, Galton bekerja sama dengan Karl Pearson melakukan penelitian untuk menemukan keterkaitan antara hasil belajar dengan kemampuan penglihatan atau ketajaman penglihatan. Penelitian ini dilakukan untuk menjawab pertanyaan hasil belajar yang tinggi. Desain penelitian yang digunakan adalah metode korelasi dengan

(6)

3

menggunakan teknik korelasi Product Moment dari Perason. Teknik korelasi dalam statistika digunakan untuk menemukan keterkaitan atau korelasi antara variabel satu dengan variabel lain. Korelasi dapat dinyatakan jika tingginya smor hasil pengukuran pada satu variabel diikuti oleh skor yang tinggi juga pada variabel lainnya. Korelasi semacam ini dinamakan korelasi positif, sedangkan tingginya skor pada atu variabel yang diikuti oleh rendahnya skor pada variabel lain dinamakan korelasi negatif.

Penelitian Galton Perason inilah yang merupakan kegiatan pertama penerapan statistik dalam psikologi. Statistik menuntut data berupa angka. Oleh karena itulah engukuran perilaku yang dilakukan oleh Francis Galton juga mendeskripsikan hasil pengukuran adalah suatu proses dalam mendeskripsikan data dalam bentuk angka satu bilangan. Dengan dmeikian, pengukuran kuantitatif dalam bidang psikologis telah dirintis sejak lama dan herannya dalam perkembangan keilmuan, psikologis begitu besar seimbang dengan pengukuran kualitatif dalam psikologi.

2.2 Dasar-Dasar Psikometri

2.2.1 Pengukuran, Evaluasi, dan Tes a. Pengukuran

Ilmu pengukuran (measurement) merupakan cabang dari ilmu statistika terapan yang bertujuan membangun dasar-dasar pengembangan tes yang lebih baik sehingga dapat menghasilkan tes yang berfungsi secara optimal, valid, dan reliabel. Pengukuran adalah suatu prosedur pemberian angka (kuantifikasi) terhadap atau variabel sepanjang suatu kontinum.

Kontinum tersebut ada dua, yaitu kontinum fisik dan kontinum psikologis. Kontinum fisik menyangkut tentang berat, kecemasan, tinggi, dan sebagainya. Kontinum fisik dapat mengukur atribut psikologis dengan menggunakan skala psikologis, dan hasilnya dapat dinamakan kontinum psikologis. Misalnya adalah skala psikologis dapat menghasilkan kontinum kecerdasn yang menggambarkan bahwa Y lebih cerdas daripada X.

(7)

4

Secara operasional, pengukuran merupakan suatu prosedur perbandingan antara atribut yang hendak diukur dengan alat ukurnya. Berikut beberapa karakteristik pengukuran, adalah :

1. Merupakan perbandingan antara atribut yang diukur dengan alat ukurnya.

Dalam pengukuran, ada yang namanya subjek pengukuran dan objek pengukuran. Subjek pengukuran misalnya mengukur sebuah meja, yang kita ukur bukan mejanya, melaainkan tinggi dan lebar meja tersebut. Lalu, kita juga tidak dapat mengukur mmanusianya, melainkan yang dapat kita ukur di dalam diri manusia itu adalah inteligensi atau prestasinya. Tetapi kalau objek pengukuran adalah dimensi yang diukur, kita hanya akan mengetahui alat ukurnya apabila atribut yang hendak diukur telah diketahui lebih dahulu.

2. Hasilnya dinyatakan secara kuantitatif.

Kuantitatif berarti berwujud angka. Suatu proses pengukuran akan dinyatakan selesai apabila hasilnya telah diwujudkan dalam bentuk angka yang biasanya. Misalkan dalam pengukuran panjang, hasilnya akan berwujud angka semisal 25 cm atau 50 m. Begitu juga dengan aspek nonfisik atau aspek psikologis.

3. Hasilnya bersifat deskriptif.

Maksudnya adalah hanya sebatas memberikan angka yang tidak diinterpretasikan lebih jauh. Misalnya hasil ukur terhadap luas meja adalah , tidak dijelaskan bahwa apakah angka tersebut sedang, luas, atau sangat luas.

b. Evaluasi

Interpretasi terhadap hasil pengukuran hanya dapat bersifat evaluatif apabila disandarkan pada suatu norma atau suatu kriteria. Norma berarti rata-rata, yaitu harga rata-rata bagi suatu kelompok subjek. Kelompok subjek dapat berupa kelompok usia, kelompok kelas, kelompok jenis kelamin, kelompok suku, kelompok budaya, atau kelompok bangsa.

(8)

5

Dengan norma dan kriteria, hasil yang sama dari suatu pengukuran dapat saja mendatangkan interpretasi yang berbeda. Contohnya adalah sebagai berikut :

 Skor 35 pada tes SPM akan berlainan artinya bila dihasilkan oleh subjek yang berusia 27 tahun dengan subjek yang berusia 12 tahun.

 Laju kendaraan 40 km/jam akan berbeda maknanya apabila laju kendaraan antara sepeda dan mobil.

Secara ringkas, karakteristik evaluasi adalah :

1. Merupakan pembandingan antara hasil ukur dengan suatu norma atau suatu kriteria

2. Hasilnya bersifat kualitatif.

3. Hasilnya dinyatakan secara evaluatif.

c. Tingkat Hasil Pengukuran

Hasil pengukuran, akan berada pada salah atu tingkat pengukuran (levels of measurement) menurut kompleksitasnya. Level- level hasil pengukuran adalah sebagai berikut :

1. Skala Nominal

Skala nominal berfungsi untuk identifikasi, yaitu membedakan antara satu subjek dengan subjek yang lainnya.

Contoh : nomor punggung pemain sepak bola digunakan untuk identifikasi pemain, tetapi bukan untuk menunjukkan bahwa nomor punggung pemain tersebut yang lebih berkualitas dari pada pemain yang lain.

Selain untuk identifikasi, angka bisa dikatakan untuk klasifikasi atau kategoriasi.

Contoh : kategorisasi jenis kelamin, dimana pada jenis kelamin pria diberikan angka 1, dan wanita diberi angka 0. Ataupun dalam klasifikasi warna, dimana wara merah diberi angka 1, hijau 2, putih 3, dan seterusnya.

Tetapi, dapat dilakukan perubahan angka pada identifikasi ataupun kategorisasi. Dimana tidak selalu angka pria adalah 1, dan

(9)

6

wanita adalah 0, kita bisa saja mengganti angka pada wanita 1, dan begitu juga pada pria menjadi angka 0. Dalam klasifikasi warna, bisa saja kita mengubah warna merah menjadi angka 9, begitu juga seterusnya, dengan syarat angka tersebut tidak mengaburkan identifikasi atau kategorisasi semula. Hal ini dinamakan transformasi isomorfik.

2. Skala Ordinal

Suatu hasil pengukuran disebut berada pada level ordinal kalau angkanya berfungsi menunjukkan adanya penjenjangan kualitatif.

Contoh : Dalam pemberian nomor pemenang pada kejuaraan tinju.

Jenjang kualitatif antara juara pertama dengan juara ke dua belum tentu sama dengan jarak jenjang kualitatif antara juara ke dua dengan juara ke tiga. Tetapi bisa saja kita mengubah setiap angka jenjang, selama urutan jejang yang satu dengan yang lain tidak berubah, atau urutan objek masih tetap. Hal ini dinamakan transformasi monotonik.

Contoh :

Mawar : 1 Melati : 2 Anggrek : 3 Cempaka : 4

Kemudian, kita dapat melakukan transformasi terhadap angka jenjang secara monotonik, tetapi tanpa mengubah jenjangnya, hal ini dinamakan invariant.

Mawar : 2 Melati : 4 Anggrek : 7 Cempaka : 8

(10)

7 3. Skala Interval

Hasil ukur skala interval adalah hasil pengukuran ordinal yang memiliki jarak antarjenjang yang tetap (selalu sama).

Contoh : Dalam deret angka 1,2,3,4,5,6,7, kita tentu akan mengatakan jarak antara angka 6-4 adalah sama dengan jarak 5-3, dan jarak 7-5.

4. Skala Rasio

Pada level pengukuran yang tertinggi adalah hasil ukur yang berskala rasio. Level rasio adalah level interval yang memiliki harga 0 mutlak, artinya harga 0 menunjukkan atribut yang diukur tidak pada objek yang bersangkutan.

Contoh : ukuran-ukuran berat, ukuran panjang, banyaknya benda, dsb, memiliki harga 0 mutlak.

d. Tes Psikologi

Lee J. Cronbach dalam bukunya Essentials of Psychological Testing (1970), mendefinisikan tes merupakan suatu prosedur yang sistematis, yaitu yang dilakukan berdasarkan tujuan dan tata cara yang jelas. Tes melakukan pengamatan terhadap perilaku seseorang dan mendeskripsikan perilaku tersebut dengan bantuan skala angka atau suatu sistem penggolongan. Jadi, objek pengukurannya adalah atribut psikologis, namun sampel perilaku yang tampak yang dapat diukur secara langsung (Crocker & Algina, 1986).

Crocker dan Algina (1986), mengemukakan berbagai permasalahan yang dihadapi para penyusun tes, yaitu :

1. Tidak ada pendekatan tunggal dalam pengukuran konstrak apapun yang dapat diterima secara universal

2. Pengukuran psikologis pada umumnya didasarkan pada sampel perilaku yang jumlahnya terbatas.

3. Pengukuran selalu mungkin mengandung eror.

4. Satuan dalam skala pengukuran tidak dapat didefinisikan dengan baik.

(11)

8

5. Konstrak psikologis tidak dapat didefinisikan secara operasional semata, tapi harus pula menampakkan hubungan dengan konstrak atau fenomena lain yang dapat diamati.

Indikator perilaku yang diungkap oleh tes psikologis dapat digolongkan menjadi dua kelompok besar (Cronbach, 1970), yaitu perilaku performansi maksimal (maximal performance) dan perilaku sebagai performansi tipikal (typical performance).

1. Performansi Maksimal

Istilah performansi maksimal identik dengan kemampuan kognitif individu. Dalam pengembangan tes ini harus diberikan stimulus-stimulus yang berstruktur jelas, sehingga tujuan pertanyaan dan arah jawaban dapat dipahami oleh individu sebelum ia mencoba memberikan responnya. Karena tes ini berkaitan dengan kognitifnya, jawaban individu dikatakan sebagai jawaban yang “benar” atau

“salah”.

Contoh tes :

 Inteligensi (WAIS-R, WISC-R, Stanford-Binet, CFIT, Kauffman ABC, dll)

 Tes bakat ( subtes-subtes FACT, DAT)

 Prestasi belajar ( tes semester, EBTANAS)

 Tes potensi belajar ( TPA, UMPTN, SAT, GRE)

2. Performansi Tipikal

Performansi yang ditampilkan individu adalah sebagai proyeksi dari kepribadiannya sendiri, sehingga perilaku yang diperlihatkannya cenderung umum dirinya dalam menghadapi situasi tertentu.

Jadi, dalam tes ini, dirancang dengan menggunakan stimulus yang tidak berstruktur sehingga individu membuat penafsirannya sendiri terhadap stimulus tersebut dan merespon sesuai dengan afektif dalam dirinya. Jadi, respon pada individu tersebut tidak dapat dikatakan “salah”.

(12)

9 Contoh tes :

 Kepribadian ( Rorschach, Wartegg, TAT)

 Skala-skala sikap

 Inventori minat

 Berbagai skala afektif kepribadian

2.2.2 Konsta dan Variabel

Konsta adalah simbol kuantitatif yang angkanya tidak bervariasi. Ada konsta yang bersifat universal, artinya mewakili simbol yang berlaku umum pada semua kasus di semua tempat.

Contoh : dalam bidang matematika, konstanta π yang harganya adalah 3,141592654.

Variabel adalah simbol yang nilainya dapat bervariasi, yaitu angkanya dapat berbeda-beda dari satu subjek ke subjek yang lain. Variasi angka tersebut tidak hanya dalam arti variasi kuantitatif, akan tetapi juga dapat mengandung arti variasi kualitatif.

Contoh :

 Jenis kelamin dikatakan variabel kualitatif, ia dapat bervariasi sebagai pria atau wanita. Sedangkan secara kuantitatif, pria = 1 dan wanita = 0.

 Dalam aspek psikologis, seperti kemampuan kognitif atau berbagai karakter kepribadian dapat dijadikan objek penelitian.

a. Representasi Simbolik

Dalam ilmi statistika (statistics) kita mnegenal istilah statistik (statistics) dan istilah parameter (parameter). Statistik adalah besaran-besaran kuantitatif yang berlaku bagi suatu sampel sedangkan parameter adalah besaran-besaran kuantitatif bagi variabel yang sama yang berlaku bagi populasinya.

Simbol-simbol dalam statistik dan parameter disajikan dengan menggunakan huruf-huruf tertentu yang berlaku universal. Pada besaran- besaran parameter menggunakan simbol-simbol Yunani, tetapi pada

(13)

10

simbol-simbol statistik digunakan huruf-huruf latin. Beberapa simbol- simbol yang populer digunakan adalah :

Besaran Statistik Parameter

Mean (harga rata-rata) µ (Mu)

Deviasi standar s Σ (Sigma)

Kovarians X dan Y

Koefisien korelasi Pearson r Ρ (Rho)

Koefisien regresi b Β (Beta)

Skor-Murni T Τ (Tau)

Eror pengukuran E Ε (Epsilon)

Banyaknya subjek n N

b. Aljabar Sumasi

Dalam aturan-aturan penjumlahan (+) dan perkalian (x) dimudahkan oleh penggunaan simbol-simbol operasi aljabar.

Pengurangan (-) merupakan penjumlahan negatif, sedangkan pembagian (:) dikatakan sebagai perkalian dengan bilangan pecahan.

Sumasi atau penjumlahan dalam statistika disimbolkan oleh huruf Ʃ (sigma). Semua variabel yang mengikuti tanda ini, berarti harus dijumlahkan.

Simbol sumasi yang paling sederhana adalah penjumlahan skor pada satu variabel dari n subjek, yaitu :

= + + ... +

l ini menyatakan bahwa harga X harus dijumlahkan mulai dari sampai , berapapun besar n. Kalau n = 3, maka Ʃ = + + . Misalkan =4, =3, dan =5, maka Ʃ = 4+3+5 = 12

c. Aljabar Ekspektasi

Nilai ekspektasi atau nilai harapan merupakan semacam nilai rata- rata dari suatu distribusi skor. Unutk variabel diskret X, nilai harapannya dirumuskan sebagai :

(14)

11

Ε (X) = ∑ p( X = )

2.3 Teori Respons Aitem

2.3.1 Konsep dan Asumsi Teori Sifat Laten

Teori tes klasik (classical test theory) telah mendominasi dan berjasa dalam dunia pengukuran. Tetapi, dalam teori tes klasik, memiliki keterbatasan sehingga adanya permasalahan dalam pengembangan tes dan instrumen pengukuran, sebagai berikut :

 Parameter-parameter aitem yaitu indeks kesukaran dan indeks diskriminasi ternyata merupakan karakteristik aitem yang tergantung pada kelompok sampel yang digunakan untuk menghitungnya (group- dependent).

 Diperlukan asumsi kesetaraan eror pengukuran bagi semua subjek yang dikenai tes, padahal tidak adanya dukungan yang memperkuatnya.

a. Kurva Karakteristik Aitem

Teori respons aitem (IRT), dikembangkan atas dasar dua postulat, yaitu : 1. Performansi subjek pada suatu aitem dapat diprediksi oleh

seperangkat faktor, yang disebut traits, latent traits, atau kemampuan. Maksudnya adalah respons terhadap aitem dalam tes, didasari oleh sifat-sifat laten jumlahnya tidak lebih banyak daripada aitem tes tersebut.

2. Hubungan antara performansi subjek pada suatu aitem dan perangkat kemampuan (abilitas) laten yang mendasarinya, dapat digambarkan oleh suatu fungsi yang menaik secara monotonik yang disebut item characteristic function atau item characteristic curve (ICC).

b. Asumsi-Asumsi

Model matematik dalam IRT mengatakan bahwa probabilitas subjek untuk menjawab suatu aitem dengan benar tergantung pada kemampuan subjek dan karakteristik aitem. Ada beberapa asumsi-asumsi secara tidak langsung dapat diukur dan dibuktikan, sebagai berikut :

(15)

12

1. Dalam setiap tes, hanya ada satu kemampuan yang diukur oleh aitem-aitem, disebut dengan asumsi unidimensionality.

2. Lalu asumsi local independence (independensi lokal), yaitu kemampuan-kemampuan yang mempengaruhi performansi dijadikan konstan, maka respons subjek terhadap pasangan aitem manapun juga akan independen secara statistik satu sama lain.

2.3.2 Beberapa Model Logistik

Model logistik banyakdigunakan karena lebih sederhananya prosedur komputasi. Teori respons aitem mengenal 3 macam model logistik, dimana perbedaan ketiganya terdapat pada perbedaan banyaknya parameter yang dipakai untuk menggambarkan karakteristik aitem. Parameter-parameter tersebut adalah :

= indeks kesukaran aitem = indeks deskriminasi aitem

= parameter probabilitas tebakan semu

Peneliti harus pandai memilih model tersebut, apakah cocok terhadap perangkat data yang ingin di analisis. Dibuktikan dengan menjelaskan hasil tes yang diperoleh.

Berikut ini 3 macam model IRT unidimensional, yaitu : 1. Model Logistik Satu Parameter

Model ini merupakan model yang sangat populer, dikarenakan model ini karakteristik aitem hanya ditunjukkan oleh statistik yang merupakan parameter tingkat kesukaran aitem, dimana probabilitas untuk menjawab benar adalah sebesar 0,5. Semakin besar nilainya, maka akan semakin besar kemampuan yang dituntut untuk memperoleh 50% peluang menjawab dengan benar.

2. Model Logistik Dua-Parameter

(16)

13

Parameter ini proporsional terhadap slop ICC di titik pada skala abilitas. Aitem-aitem yang memiliki slop yang curam berarti memiliki daya diskriminasi yang lebih tinggi, dan mampu membedakan subjek menurut tingkat abilitas laten mereka daripada aitem-aitem yang memiliki slop landai.

3. Model Logistik Tiga-Parameter

Pada model ini, dimasukkan satu parameter karakteristik aitem lagi, yaitu parameter probabilitas untuk menjawab dengan benar secara kebetulan, yang lebih dikenal dengan nama parameter pseudo-chance level. Jadi, subjek yang memiliki kemampuan yang sangat rendah, memiliki peluang untuk menjawab aitem dengan benar.

2.4 Penskalaan

2.4.1 Metode Psikofisik dan Metode Psikometrik

Penskalaan (scalling) merupakan suatu prosedur penempatan atribut objek pada titik-titik tertentu sepanjang suatu kontinum. Kontinum adalah deretan angka yang berurutan sepanjang suatu garis lurus. Apabila angka diperoleh dari pengukuran yang menggunakan skala fisik (misalnya timbangan) maka kontinumnya disebut kontinum fisik dan apabila angka diperoleh dari skala psikologis atau dari perkiraan subjek disebut kontinum psikologis.

Pendekatan metodologis dalam pengukuran dikelompokkan menjadi 2, yaitu :

a. Metode psikofisik (psychophysical metods)

Untuk mempelajari hubungan antara sifat-sifat fisik suatu objek atau stimuli dengan sensasi atau rasa yang ditimbulkan. Metode ini mencoba mencari jawaban terhadap pernyataan mengenai “hubungan antara sifat fisik suatu stimulus dan dampak psikologisnya akibat perilaku subjek dan mengenai cara mengaitkan nilai skala fisik dengan nilai skala psikologi.”

(17)

14

b. Metode psikometrik (psychometric methods)

Lebih memusatkan terhadap permasalahan perbedaan individual pada karakeristik yang bersifat murni psikologis seperti inteligensi, minat, harga diri, dsb.

Pada pengembangan tes psikologi, di samping asumsi mengenai kontinum unidimensional teoretik, proses penskalaan memusatkan pada karakteristik angka yang merupakan nilai skala. Dalam hal ini Torgerson (1958) mengemukakan ada 3 pendekatan utama yaitu :

a. Metode yang berorientasi pada subjek, ditujukan pada masalah penempatan individu pada titik-titik tertentu sepanjang kontinum. Inilah yang umumnya menjadi tujuan pengadaan tes bakat dan tes prestasi.

b. Metode yang berorientasi pada stimulus, bertujuan untuk meletakkan stimulus pada kontinum psikologis atribut yang bersangkutan.

c. Metode yang berorientasi pada respon, merupakan metode penskalaan yang paling kompleks. Pada hal ini data respon digunakan untuk meletakkan subjek pada suatu kontunium psikologis berdasarkan kekuatan item yang dipilih atau dijawab dengan benar,sedangkan dalam waktu yang bersamaan item-item yang diskalakan menurut banyaknya sifat yang dimiliki oleh subjek yang menjawab dengan benar.

2.4.2 Metode Perbandingan Pasangan

Beberapa atribut psikologis dapat diletakkan disepanjang suatu kontinum psikologis berdasarkan nilai skalanya yang ditentukan oleh hasil perkiraan subjek (judgment). Beberapa objek psikologis termaksud dibandingkan sepasang demi sepasang menurut suatu dimensi aspek yang ditentukan sehingga bila banyaknya atribut yang dibandingkan adalah k maka banyaknya pasangan yang dibandingkan adalah ½k(k-1). Proses perbandingan pasangan-pasangan tersebut dilakukan oleh sekelompok subjek yang banyaknya disimbolkan oleh huruf N.

Salah satu keterbatasan dalam penggunaan metode perbandingan pasangan adalah banyaknya stimulus atau objek yang akan diskalakan ada 10 maka pasangan yang perlu dibandingkan akan berjumlah 45 pasang, bila objek

(18)

15

yang hendak diskalakan berjumlah 20 pasang maka perlu membandingkan sebanyak 190 pasang, tentu hal tersebut merupakan pekerjaan yang banyak membutuhkan waktu dan ketelitian yang tidak mudah untuk dipenuhi.

2.4.3 Metode Interval Tampak Setara

Metode ini dapat dijadikan sebagai salah satu prosedur alternative.

Tujuan metode ini adalah meletakkan beberapa objek pada suatu kontinum yang terbagi atas beberapa interval.

A B C D E F G H I J

K

Huruf-huruf pada kontinum mewakili letak yang semakin ke kanan berarti semakin tingginya kualitas suatu objek menurut dimensi yang diperhatikan.

Semakin ke kiri berarti semakin kecil atau semakin rendahnya kualitas dimensi yang dimiliki oleh objek.

2.4.4 Metode Interval Berurutan

Sebagaimana dalam prosedur interval tampak-setara, dalam prosedur penskalaan dengan metode interval berurutan kita dapat menggunakan suatu kontinum yang terbagi atas beberapa interval, misalkan sembilan atau sebelas interval. Asumsi pokok dalam metode interval berurutan tampak-setara, sebagaimana namanya, adalah kesetaraan jarak interval kelas diantara kategori- kategori sepanjang suatu kontinum, Metode interval berurutan dimaksudkan sebagai usaha dalam pengatasan masalah dimana subjek telah menempatkan suatu stimulus pada ketegori yang terletak paling kanan karena ia menilai bahwa stimulus tersebut memiliki kualitas yang paling tinggi dan bila kemudian ia menemukan stimulus lain yang ternyata dinilainya lebih tinggi daripada stimulus pertama, maka ia tidak punya pilihan selain meletakkan stimulus tersebut dalam kategori yang sama.

a. Mengistemasi Luas Interval

(19)

16

Dalam metode ini, sebelum menentukan letak suatu objek atau stimulus pada kontinumnya,terlebih dahulu dilakukan estimasi terhadap luas interval pada kesebelas titik A sampai K. Seperti telah dikatkan, prosedur estimasi ini tidak dilakukan sendiri-sendiri bagi setiap stimulus melainkan didasarkan pada data dari kesemua stimulus yang ada.

b. Menghitung Nilai Skala

Komputasi nilai skala bagi setiap stimulus yang merupakan titik letaknya pada suatu kontinum dihitung berdasarkan median distribusi penilaian subjek. Untuk itu digunakan rumus:

S = bb + [ ( 0,50 – pkb ) / p] w

bb = Batas bawah interval kategori yang berisi median Pkb = Proporsi kumulatif di bawah kategori yang berisi median P = Proporsi dalam kategori yang berisi median

W = Luas interval kategori yang berisi median

Telah diketahui bahwa median adalah suatu angka yang membat 0,50 proporsi atau 50% frekuensi angka yang lebih kecil daripada angka median tersebut.

2.5.5 Metode Rating yang Dijumlahkan

Metode rating yang dijumlahkan –populer dengan nama penskalaan model Likert (Gable, 1986)- merupakan metode penskalaan yang berorientasi pada respons. Dengan kata lain, dalam metode ini, kategori-kategori respons akan diletakkan pada suatu kontinum. Oleh karena itu data penskalaannya pun berupa respons-respons yang diberikan oleh responden terhadap seperangkat stimulus. Prosedur penskalaan respons dengan metode rating yang dijumlahkan didasari oleh duam sumsi, yaitu:

(20)

17

a) Setiap stimulus memiliki karakterikstik favorabel atau tak-favorabel, yang jelas. Karkteristik favorabel adalah sifat yang secara normatif dianggap baik,diinginkan, atau disukai.

b) Respons positif terhadap suatu stimulus favorabel dan respons negatif teradap stimulus tak favorabel harus diberi bobot yang lebih tinggi daripada respons negatif terhadap stimulus favorabel dan respons positif terhadap stimulus tak-favorabel.

Untuk melakukan penskalaan dengan metode ini, responden diminta untuk memberikanresponsnya dalam lima kategori ordinal. Srbagai contoh, adalah respons yang sangat populer, yaitu “sangat tidak setuju” (STS), “tidak setuju” (TS), “tidak dapat menetukan” atau “entahlah” (E), “setuju” (S), dan

“sangat setuju” (SS). Prosedur rating dijumlahkan dipakai untuk menghitung besarnya jarak diantara masing-masing kategori respons.

(21)

18 BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Psikometri digunakan untuk pengukuran dalam aspek fisik maupun psikologis. Dimana dalam aspek fisik, pengukuran dapat dilakukan pada berat badan, tinggi, dan sebagainya. Pengukuran dalam konteks psikologis, mencakup pengukuran tentang inteligensi, minat, prestasi, dan sebagainya. Dimana setiap pengukuran yang dilakukan, harus berupa angka-angka dalam data yang didapatkan. Pengukuran memiliki tingkat-tingkat hasil pengukuran, yaitu skala nominal, skala ordinal, skala interval, dan skala rasio.

3.2 Saran

Sebaiknya, dalam melakukan penelitian, para peneliti harus pandai memilih metode-metode apa yang sesuai digunakan agar pelaksanaan penelitian dan data yang diperoleh dapat akurat/valid. Dalam penulisan ini, semoga dapat bermanfaat bagi para peneliti dan bagi khalayak umum untuk menjadi bahan referensi tambahan.

(22)

19

DAFTAR PUSTAKA

Azwar, Dr. Saifuddin. 1999. Dasar-Dasar Psikometri.Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR.

Magfirah. 2017. Sejarah Psikometri, diakses dari

https://id.scrib.com/document/358213384/B-Q11116007-Magfirah-Sejarah- Psikometri

Referensi

Dokumen terkait

Mg Ke- Kemampuan Akhir yang diharapkan Sub-CPMK Materi/ Bahan Kajian Metode Pembelajaran Waktu Pengalaman Belajar Mahasiswa Kriteria dan Indikator Penilaian Bobot Nilai % 1 2 3 4 5

6 Mg Ke- Kemampuan Akhir yang diharapkan Sub-CPMK Materi/ Bahan Kajian Metode Pembelajaran Waktu Pengalaman Belajar Mahasiswa Kriteria dan Indikator Penilaian Bobot Nilai % 1 2

Sub-CPMK Metode/Model Pembelajaran* Small Group Discussion Contextual Insturction Self Directed Learning Sub-CPMK 1 Mampu menganalisa konsep manajemen risiko √ √ Sub-CPMK 2

Mendownload RTM Tugas 7 dan mendiskusikannya Metode pembelajaran : Self Paced Learning PT [1X2X60’’] Tugas 7 : RTM Tugas 7 Contoh Konsep Pendidik dan Anak Didik dalam Situasi Nyata

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum empiris karena penelitian ini dilakukan dengan cara menganalisa hukum yang tertulis dari bahan pustaka dan data primer

Gambar 1 : Analisis Instruksional Mg Ke- Kemampuan Akhir yang diharapkan Sub-CPMK Materi/ Bahan Kajian Metode Pembelajaran Waktu Pengalaman Belajar Mahasiswa Kriteria dan