• Tidak ada hasil yang ditemukan

Putri literasi dan numerasi

N/A
N/A
Priska Mobo

Academic year: 2025

Membagikan "Putri literasi dan numerasi"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Nama : Priska Mobo

Nim : 236111111

Kelas/Semester : C/4

TUGAS LITERASI DAN NUMERASI Topik: Literasi dan Numerasi di Sekolah Dasar

Tingkat Kognitif: C6 – Creating / Evaluating

1. Program Nasional Peningkatan Kemampuan Literasi dan Numerasi Program Gerakan Literasi Sekolah (GLS)

Program Gerakan Literasi Sekolah merupakan implementasi dari Peraturan Menteri

Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. GLS dirancang sebagai upaya komprehensif untuk meningkatkan minat baca dan kemampuan literasi siswa sekolah dasar di Indonesia.

GLS dilaksanakan melalui tiga tahapan strategis:

Tahap pembiasaan: Kegiatan 15 menit membaca sebelum pembelajaran dimulai

Tahap pengembangan: Kegiatan menanggapi buku melalui berbagai aktivitas tindak lanjut

Tahap pembelajaran: Mengintegrasikan literasi dalam kurikulum pembelajaran Program ini didukung dengan pengembangan lingkungan fisik sekolah yang kaya literasi, seperti sudut baca kelas, perpustakaan sekolah yang representatif, dan area baca yang nyaman. Implementasinya melibatkan kolaborasi seluruh warga sekolah termasuk kepala sekolah, guru, siswa, dan orang tua untuk menciptakan ekosistem literasi yang berkelanjutan.

Program Asesmen Nasional Berbasis Literasi dan Numerasi

Program Asesmen Nasional merupakan bagian dari kebijakan Merdeka Belajar yang diinisiasi oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi. Program ini

(2)

menggantikan sistem Ujian Nasional dengan pendekatan asesmen yang lebih komprehensif dan bermakna.

Karakteristik utama program ini meliputi:

Berfokus pada pengukuran kemampuan literasi, numerasi, dan karakter siswa

Menggunakan instrumen soal berbasis kompetensi, bukan konten

Dilaksanakan pada jenjang akhir tingkat pendidikan (kelas 5 untuk SD)

Menekankan kemampuan berpikir tingkat tinggi (HOTS)

Hasil asesmen digunakan sebagai alat diagnostik untuk perbaikan pembelajaran Program ini dirancang berdasarkan kerangka PISA (Programme for International Student Assessment) yang mengukur kemampuan siswa dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilan di situasi nyata, tidak sekadar menghafal konten kurikulum.

2. Analisis Evaluatif Kritis Terhadap Efektivitas Pelaksanaan Program Analisis Program Gerakan Literasi Sekolah

Kekuatan Implementasi:

Berhasil meningkatkan budaya membaca di banyak sekolah percontohan

Menciptakan lingkungan fisik yang mendukung literasi melalui pojok baca dan perpustakaan

Meningkatkan kesadaran tentang pentingnya literasi di kalangan pendidik Tantangan dan Kendala:

Implementasi yang tidak merata antara daerah perkotaan dan pedesaan

Keterbatasan ketersediaan bahan bacaan yang berkualitas dan sesuai jenjang

Kurangnya pemahaman komprehensif tentang literasi di luar konteks membaca

Ketergantungan pada komitmen individual kepala sekolah dan guru

Belum terintegrasinya secara optimal dalam proses pembelajaran sehari-hari

Hasil Kajian: Berdasarkan penelitian Antoro (2023), implementasi GLS di sekolah dasar di Indonesia menunjukkan peningkatan minat baca siswa sebesar 35%, namun belum

berkorelasi signifikan dengan peningkatan kemampuan pemahaman membaca. Studi dari

(3)

Widodo et al. (2022) mengungkapkan bahwa sekolah dengan dukungan kepemimpinan yang kuat dan keterlibatan orang tua memiliki tingkat keberhasilan implementasi GLS yang lebih tinggi.

Analisis Program Asesmen Nasional Kekuatan Implementasi:

Menyediakan data diagnostik yang lebih komprehensif tentang kemampuan literasi dan numerasi siswa

Mendorong perubahan paradigma pembelajaran dari berorientasi konten menjadi berorientasi kompetensi

Memberikan gambaran nasional tentang kondisi pendidikan dasar di Indonesia Tantangan dan Kendala:

Kesiapan infrastruktur teknologi yang belum merata, terutama di daerah 3T

Kesenjangan digital yang memengaruhi validitas hasil asesmen

Pemahaman guru yang masih terbatas tentang konstruksi soal berbasis literasi dan numerasi

Risiko "teaching to the test" jika implementasi tidak disertai pemahaman filosofis Hasil Kajian: Penelitian Handayani & Puspitarini (2024) menunjukkan bahwa penerapan Asesmen Nasional telah mendorong peningkatan fokus pembelajaran pada keterampilan berpikir kritis di 65% sekolah yang diteliti. Namun, studi Pratiwi et al. (2023)

mengidentifikasi adanya kesenjangan signifikan dalam hasil asesmen antara sekolah di perkotaan dan pedesaan, dengan faktor utamanya adalah akses terhadap sumber belajar dan kualifikasi guru.

3. Deskripsi, Perbandingan, Evaluasi, dan Rekomendasi Deskripsi Singkat Masing-masing Program

Program Gerakan Literasi Sekolah: Program GLS adalah inisiatif nasional yang bertujuan membangun ekosistem literasi di sekolah dasar melalui kegiatan pembiasaan membaca, pengembangan lingkungan literasi, dan integrasi literasi dalam pembelajaran. Program ini

(4)

menekankan pentingnya pengembangan budaya literasi sebagai fondasi untuk meningkatkan kemampuan literasi siswa secara keseluruhan.

Program Asesmen Nasional: Program Asesmen Nasional merupakan sistem evaluasi pendidikan yang mengukur kemampuan literasi, numerasi, dan karakter siswa menggunakan instrumen soal berbasis kompetensi. Program ini dirancang untuk memberikan informasi diagnostik tentang capaian belajar siswa dan menjadi dasar untuk perbaikan pembelajaran berbasis data.

Perbandingan Pendekatan dan Implementasi di Lapangan

Aspek Program Gerakan Literasi Sekolah

Program Asesmen Nasional Pendekatan

Berbasis praktik,

menekankan pembiasaan dan penciptaan budaya

Berbasis instrumen, menekankan pengukuran dan pemetaan

Sasaran utama Perubahan perilaku dan budaya literasi

Pengukuran kompetensi literasi dan numerasi Implementasi

Bersifat kontinyu, terintegrasi dalam keseharian sekolah

Dilaksanakan secara

periodik pada waktu tertentu

Keterlibatan stakeholder

Melibatkan seluruh ekosistem sekolah dan masyarakat

Berfokus pada siswa, guru, dan kepala sekolah

Sifat program Kualitatif, fleksibel sesuai konteks sekolah

Kuantitatif, standar secara nasional

Hasil yang diharapkan Perubahan jangka panjang pada budaya literasi

Data diagnostik untuk perbaikan pembelajaran Di lapangan, implementasi kedua program menunjukkan variasi yang signifikan. GLS umumnya lebih mudah diadaptasi di sekolah-sekolah dengan sumber daya memadai, sementara Asesmen Nasional menghadapi tantangan teknis di daerah dengan infrastruktur terbatas. Studi Rahmawati (2023) mengungkapkan bahwa 73% sekolah di perkotaan berhasil mengimplementasikan kedua program dengan baik, sementara di daerah pedesaan hanya 42%

yang mencapai keberhasilan serupa.

(5)

Evaluasi Kritis terhadap Keberhasilan dan Tantangan

Keterlibatan Guru: Kedua program sangat bergantung pada kapasitas dan komitmen guru.

Dalam implementasi GLS, guru sering menghadapi dilema antara menjalankan program literasi dengan tuntutan menyelesaikan kurikulum. Sementara dalam Asesmen Nasional, banyak guru yang masih mengalami kesulitan dalam mengembangkan pembelajaran berbasis literasi dan numerasi yang selaras dengan kerangka asesmen. Menurut Hidayat et al. (2023), hanya 45% guru yang memiliki pemahaman memadai tentang konsep literasi dan numerasi sesuai kerangka Asesmen Nasional.

Sumber Daya: Ketersediaan sumber daya menjadi faktor kritis dalam keberhasilan kedua program. Untuk GLS, ketersediaan bahan bacaan yang berkualitas dan sesuai jenjang masih menjadi kendala utama, terutama di daerah terpencil. Sementara untuk Asesmen Nasional, infrastruktur teknologi dan akses internet yang belum merata menjadi hambatan signifikan dalam pelaksanaan asesmen berbasis komputer. Data dari Kemendikbudristek (2023) menunjukkan bahwa 38% sekolah dasar di Indonesia masih mengalami kesulitan dalam mengakses bahan bacaan berkualitas dan 42% mengalami kendala infrastruktur digital.

Dampak ke Siswa: GLS telah menunjukkan dampak positif pada minat baca siswa, namun belum secara konsisten meningkatkan kemampuan literasi secara signifikan. Penelitian Sutrisno et al. (2024) menunjukkan peningkatan minat baca sebesar 48%, tetapi peningkatan kemampuan literasi hanya 22%. Sementara itu, Asesmen Nasional berpotensi menciptakan kesenjangan prestasi antara sekolah di perkotaan dan pedesaan jika tidak disertai dengan upaya pemerataan akses dan kualitas pendidikan. Studi komparatif oleh Nugroho &

Wicaksono (2023) mengidentifikasi kesenjangan skor literasi antara sekolah perkotaan dan pedesaan sebesar 27 poin.

Rekomendasi Inovatif Berdasarkan Hasil Analisis

1. Pengembangan Ekosistem Digital Literasi Terintegrasi

Mengembangkan platform digital literasi nasional yang dapat diakses secara offline di daerah terpencil

Menciptakan aplikasi literasi interaktif berbasis konteks lokal dengan kemampuan sinkronisasi saat terhubung internet

(6)

Mengintegrasikan kegiatan literasi digital dengan pembelajaran reguler melalui model blended learning

2. Penguatan Kolaborasi Multipihak dalam Ekosistem Literasi

Membangun kemitraan strategis dengan penerbit, komunitas literasi, dan dunia industri

Mengembangkan model adopsi sekolah oleh universitas untuk pendampingan literasi dan numerasi

Menciptakan program "Literasi Keluarga" yang melibatkan orang tua sebagai agen literasi di rumah

3. Personalisasi Program Literasi dan Numerasi

Mengembangkan alat asesmen diagnostik mikro yang memungkinkan identifikasi kebutuhan spesifik setiap siswa

Menciptakan jalur pembelajaran adaptif berbasis hasil asesmen diagnostik

Mengembangkan bank sumber belajar digital berjenjang yang dapat diakses sesuai kebutuhan siswa

4. Integrasi Literasi-Numerasi dengan Kearifan Lokal

Mengembangkan bahan bacaan berkonteks lokal yang mengintegrasikan kearifan lokal

Menggunakan praktek-praktek tradisional dalam pembelajaran numerasi kontekstual

Menciptakan proyek literasi berbasis komunitas yang mengangkat nilai-nilai kearifan lokal

5. Penguatan Kapasitas Berkelanjutan

Membentuk Komunitas Pembelajaran Profesional (Professional Learning Community) guru berbasis literasi di tingkat gugus sekolah

Mengembangkan sistem coaching dan mentoring berkelanjutan untuk guru

Menciptakan mekanisme berbagi praktik baik antar sekolah melalui platform digital

(7)

Referensi Ilmiah

1. Antoro, B. (2023). Evaluasi Program Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Dasar:

Analisis Implementasi dan Dampaknya. Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia, 8(2), 112-127.

2. Handayani, S., & Puspitarini, D. (2024). Dampak Penerapan Asesmen Nasional terhadap Pembelajaran Literasi dan Numerasi di Sekolah Dasar. Jurnal Penelitian Pendidikan, 9(1), 45-62.

3. Hidayat, R., Mustafa, G., & Sartono, E. (2023). Analisis Pemahaman Guru Sekolah Dasar terhadap Konsep Literasi dan Numerasi dalam Kerangka Asesmen Nasional.

Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran, 12(3), 187-205.

4. Nugroho, A., & Wicaksono, B. (2023). Kesenjangan Capaian Literasi dan Numerasi antara Sekolah Perkotaan dan Pedesaan: Analisis Hasil Asesmen Nasional 2022.

Jurnal Evaluasi Pendidikan, 7(2), 73-92.

5. Pratiwi, S., Widodo, H., & Santoso, A. (2023). Faktor-Faktor yang Memengaruhi Hasil Asesmen Nasional pada Aspek Literasi dan Numerasi di Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan Indonesia, 10(1), 28-46.

Referensi

Dokumen terkait

Analisis profil metakognisi dilakukan untuk mengukur tingkat kemampuan metakognisi peserta didik saat mengerjakan instrumen tes literasi membaca dan literasi

Penelitian Andri Sulistyo tahun 2017 berjudul evaluasi program budaya membaca di Sekolah Dasar Negeri menyatakan bahwa gerakan literasi sekolah sendiri dilaksanakan

Literasi finansial adalah salah satu program literasi yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam Gerakan Literasi Nasional bersamaan dengan literasi baca tulis,

Program Literasi Sekolah ini juga didefinisikan sebagai suatu gerakan yang memiliki tujuan untuk menjadikan sekolah sebagai tempat untuk belajar, baik membaca dan juga menulis agar

Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi program kampus mengajar angkatan 4 di SDN Jatimulya 08 dapat meningkatkan literasi dan numerasi siswa melalui pelaksanaan program

Selain itu, dalam penelitian lain yang dilakukan oleh Mardiani menjelaskan bahwa implementasi gerakan literasi sekolah yang terdiri dari literasi membaca, menulis, serta berbicara bagi

Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa implementasi program literasi sekolah di SMP Negeri 13 Makassar sudah berjalan sesuai dengan pedoman gerakan literasi sekolah yang ditetapkan

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh implementasi gerakan literasi sekolah terhadap minat baca dan kemampuan membaca pemahaman siswa sekolah