TUGAS PSIKOLOGI KLINIS SESI 8
Nama/NIM : Indriarti Oktavia Gunawan/20210701128
Jawaban : Link jurnal : 1.
http://jurnal.untad.ac.id/jurnal/index.php/jppm/article/download/17652/pdf 2. https://jurnal.umk.ac.id/index.php/gusjigang/article/download/1655/1076 1. Terapi eksistensial adalah sebuah teknik konseling yang berpusat pada implikasi serta filsafat hidup dalam menghayati arti kehidupan di dunia.
Fokus konseling eksistensial humanistik terletak pada kondisi kehidupan manusia Ketika hidup di alam semesta, didalamnya juga termasuk tanggung jawab setiap individu, Rasa cemas merupakan unsur yang ada dalam sebuah kehidupan batin. Suatu Usaha dalam menemukan arti kehidupan seorang manusia, keberadaan ketika melakukan komunikasi dengan individu lain, kematian adalah kecenderungan dalam melakukan pengembangan diri sebaik mungkin.
Hakikat konseling humanistik menekankan renungan filosofi tentang apa artinya menjadi manusia. Psikolog humanistik mencoba untuk melihat kehidupan manusia sebagaimana manusia itu sendiri melihat kehidupan mereka. Mereka lebih cenderung untuk berpegang pada prespektif optimistik tentang sifat alamiah manusia. Mereka berfokus pada
kemampuan yang dimiliki manusia untuk berfikir secara sadar dan rasional dalam mengendalikan hasrat biologisnya, serta dalam meraih potensi
maksimal mereka. Bebas memilih untuk menentukan nasib sendiri, kebebasan dan tanggung jawab, kecemasan sebagai suatu unsur dasar, pencarian makna yang unik di dalam dunia yang tak bermakna, berada sendiri dan berada dalam hubungan dengan orang lain keterhinggaan dan kematian, dan kecenderungan mengaktualkan diri.Yang paling diutamakan dalam konseling eksistensial-humanistik adalah hubunganya dengan klien.
Kualitas dari dua orang yang bertatap muka dalam situasikonseling merupakan stimulus terjadinya perubahan yang positif. Artinya psikologi humanistik sangat memperhatikan tentang dimensi manusia dalam
berhubungan dengan lingkungannya secara manusiawi dengan menitik- beratkan pada kebebasan individu untuk mengungkapkan pendapat dan menentukan pilihannya, nilai-nilai, tanggung jawab personal, otonomi, tujuan dan pemaknaan.
Pada konseling eksistensial-humanistik yang paling diutamakan adalah hubunganya dengan klien. Kualitas dari dua orang yang saling bertatap muka dalam situasi konseling merupakan stimulus terjadinya
perubahanperubahan yang positif. Atau konseling sering juga
dikonseptualisasikan sebagai dialog antara individu dengan individu.
Konselor teori humanistik, termasuk Bugental, Rogers, dan Maslow, penentuan nasib sendiri bagian berharga dari klien. Mereka menekankan pentingnya konselor menemukan potensi kliennya yang unik. Mereka percaya pada pentingnya memfasilitasi klien untuk memahami diri mereka sendiri berkenaan dengan potensi yang unik ini dari diri mereka Artinya apapun keputusan yang diambil oleh klien konselor wajib menghargai setiap keputusannya itu, karna pada prinsipnya segala keputusan yang diambil oleh klien adalah tanggung jawabnya.
Tujuan konseling Eksistensial humanistik yaitu: 1). Agar klien mengalami keberadaannya secara otentik dengan menjadi sadar atas keberadaan dan potensi-potensi serta sadar bahwa ia dapat membuka diri dan bertindak berdasarkan kemampuannya, seperti: menyadari sepenuhnya keadaan sekarang, memilih bagaimana hidup pada saat sekarang, memikul tanggung jawab untuk memilih. 2). Meluaskan kesadaran diri klien, dan karenanya meningkatkan kesanggupan pilihannya yakni menjadi bebas dan
bertanggung jawab atas arah hidupnya. 3). Membantu klien agar mampu menghadapi kecemasan sehubungan dengan tindakan memilih diri, dan menerima kenyataan bahwa dirinya lebih dari sekadar korban
kekuatankekuatan deterministic di luar dirinya. Intinya dalam konseling humanistik ini adalah bagaimana seorang konselor bisa memanusiakan manusia dengan memanfaatkan segala potensi yang ada di dalam diri klien dengan berbagai teknik dan cara yang memungkinkan.
2. Link jurnal :
https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/bisma/article/view/20001/pdf Konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui
wawancara konseling oleh seorang ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (disebut klien) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien. Bimbingan dan Konseling bertujuan agar peserta didik dapat menemukan dirinya, mengenal dirinya dan mampu merencanakan masa depannya. Prayitno S (dalam sedanayasa, 2009 : 74) menyatakan bahwa prinsip-prinsip bimbingan dan konseling pada umumnya berkenaan dengan sasaran pelayanan, masalah klien, tujuan dan proses penanganan masalah, program pelayanan dan
penyelenggaraan pelayanan.
Menurut Prayitno & Erman Amti (dalam Sedanayasa, 2009 : 71) ada 10 fungsi dari konseling disekolah, yaitu :
1) Fungsi Pemahaman adalah fungsi bimbingan konseling yang membantu siswa agar memiliki pemahaman terhadap dirinya dan lingkungannya.
2) Fungsi Preventif adalah fungsi yang berkaitan dengan upaya konselor untuk senantiasa mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan berupaya untuk mencegahnya, supaya tidak dialami oleh konselor.
3) Fungsi Pengembangan yaitu fungsi bimbingan dan konseling yang sifatnya lebih proaktif dari fungsi-fungsi lainnya.
4) Fungsi Penyembuhan adalah fungsi bimbingan konseling bersifat kuratif. Fungsi ini berkaitan dengan upaya pemberian bantuan kepada siswa yang telah mengalami masalah, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar, maupun karir.
5) Fungsi Penyaluran adalah fungsi bimbingan dan konseling dalam
membantu konseli memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan atau program studi dan memantapkan penguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya.
6) Fungsi Adaptasi adalah fungsi membantu para pelaksana pendidikan, kepada kepala sekolah atau madrasah dan staf, konselor, dan guru yang menyesuaikan program pendidikan terhadap latar belakang pendidikan, minat, kemampuan, dan kebutuhan konseli.
7) Fungsi Penyesuaian adalah fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu konseli agar dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya secara dinamis dan konstruktif.
8) Fungsi Perbaikan adalah fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli sehingga dapat memperbaiki kekeliruan dalam berpikir, berperasaan, dan bertindak (berkehendak).
9) Fungsi Fasilitasi adalah memberikan kemudahan kepada konseli dalam mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, serasi, selaras, dan seimbang seluruh aspek dalam diri konseli.
10) Fungsi Pemeliharaan adalah fungsi bimbingan dan konseling untuk membantu konseli supaya dapat menjaga diri dan mempertahankan situasi kondusif yang telah tercipta dalam dirinya.
Tujuan konseling kognitif (Cognitive therapy) adalah untuk memperkuat sistem pengujian realitas yang berhubungan dengan interpretrasi yang tidak berfungsi. Konseli diajar untuk memperbaiki pemrosesan kognitif danmemperkuat asumsi-asumsi yang memungkinkan dia dapat
mengatasi masalahnya. Definisi tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa konseling Kognitif adalah proses belajar bagi siswa untuk meperkuat system pengujian realitas yang berhubungan dengan interpretrasi yang tidak berfungsi.
3. Link : 1.
http://www.journal.umtas.ac.id/index.php/innovative_counseling/article/
view/260/167
2. https://scholar.archive.org/work/uemm7s2vjzhf3m34t6mv54kpzi/access/
wayback/http://journal.uinjkt.ac.id:80/index.php/empati/article/download/
9777/5060
Menurut Situmorang (2018), model kognitif perilaku (CBT) terdiri dari hierarki pikiran yang dibagi menjadi tiga bagian utama yaitu:
a) Negative Automatic Thoughts(NATs): pikiran yang muncul secara otomatis, cepat, dan tanpa sadar dari dalam pikiran ketika
seseorang sedang mengalami stres atau emosi negatif terkait dengan kesulitan akademik yang akan dihadapi. Misalnya,
"Matematika itu sulit, mau saya belajar seserius apapun, saya pasti tidak akan pernah bisa mengerjakan nya!"
b) Asumsi dasar, merupakan asumsi yang mendasari dan memandu perilaku individu sehari-hari, menetapkan standar, nilai-nilai hidup, dan aturan untuk hidup.
c) Keyakinan inti (core belief), merupakankeyakinan paling dasar tentang diri, yaitu keyakinan bahwa tidak mampu secara
akademik dan keyakinan tidak berdaya. Keyakinan individu terhadap ketidakberdayaan ini. Misalnya "Saya tidak bisa mengerjakan
matematika dengan baik karena kemampuan berhitungmu saya sangat lambat!"
Distorsi Kognitif : Gangguan kognitif atau yang lebih dikenal dengan distorsi kognitif (Burns, 1988) adalah sesuatu yang dapat dialami oleh individu terdiri dari penyimpangan pemikiran-pemikiran, antara lain berupa: personalization, over generalization, filter mental, mind reading, must statement, minimization dan lain sebagainya.
Pernyataan distorsi kognitif mind reading
"Saya rasa, saya tidak punya pilihan lain selain mengikuti apa keinginan orangtua saya. Jika tidak, mereka pasti akan kecewa dan menganggap saya sebagai anak yang tidak berbakti."
Pernyataan distorsi kognitif personalization :
"Apa yang dibicarakan orangtua saya benar, saya masih muda dan tidak memiliki pengalaman apa-apa, jadi saya hanya bisa mengikuti keinginan orangtua saya saja."
Pernyataan distorsi kognitif mind statemen :
"Aku harus khawatir terhadap hal-hal yang dapat membahayakan, tidak menyenangkan atau menakutkan. Jika aku tidak mengkhawatirkannya aku takut hal-hal itu terjadi."