• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rangkuman Materi Pengelolaan Kelas Efektif - Kampus Mengajar Minggu Ke-3

N/A
N/A
Dini Lusiana Sinaga

Academic year: 2025

Membagikan "Rangkuman Materi Pengelolaan Kelas Efektif - Kampus Mengajar Minggu Ke-3"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

Rangkuman Materi Pembekalan Kampus Mengajar Minggu Ke-3

 Senin, 5 februari 2024

Materi 1 : Pengelolaan Kelas Efektif - Elisa Fatmawati

Definisi pengelolaan kelas efektif adalah lancar, sedikit sekali kebingungan & keterhambatan, memaksimalkan kesempatan pembelajaran, sudah memiliki RPP yang lengkap, dan membuat media pembelajaran dan teknik asesmen.

Untuk penerapannya kita bisa membuat kesepakatan kelas dan juga prosedur kelas agar kelas tetap berjalan secara efektif. Selain itu kegiatan story telling juga bisa diterapkan untuk meningkatkan literasi serta adanya kegiatan ninja master yang berguna untuk menghafalkan perkalian sehingga dapat meningkatkan kegiatan numerasi.

Sebagai pengelola kelas yang efektif, ada beberapa langkah yang dapat Anda lakukan:

1. Tetapkan aturan dan harapan yang jelas : Sampaikan aturan kelas dan harapan kepada siswa secara tegas. Pastikan mereka memahami apa yang diharapkan dari mereka dalam hal perilaku, kerja keras, dan partisipasi.

2. Bangun hubungan yang positif dengan siswa : Jadilah pendengar yang baik dan tunjukkan minat pada kehidupan siswa di luar kelas. Kenali kekuatan dan minat mereka sehingga Anda dapat menghubungkan pembelajaran dengan pengalaman mereka.

3. Gunakan variasi dalam metode pengajaran : Gunakan berbagai metode pengajaran seperti ceramah, diskusi kelompok, proyek kolaboratif, atau pembelajaran berbasis masalah. Ini akan membantu mempertahankan minat siswa dan memenuhi gaya belajar yang berbeda.

4. Berikan umpan balik yang konstruktif : Berikan umpan balik yang jelas dan konstruktif kepada siswa tentang kemajuan mereka. Fokus pada penguatan positif dan berikan saran yang dapat membantu mereka meningkatkan keterampilan mereka.

5. Kelola waktu dengan baik : Rencanakan kegiatan kelas dengan baik dan pastikan setiap menit digunakan secara efektif. Gunakan strategi pengelolaan kelas, seperti countdown atau isyarat visual, untuk membantu siswa tetap fokus dan mengikuti jadwal.

6. Libatkan siswa dalam pembelajaran : Berikan kesempatan bagi siswa untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran. Gunakan pertanyaan terbuka, diskusi, dan kegiatan kreatif untuk mendorong pemikiran kritis dan kolaborasi.

7. Tangani perilaku yang tidak pantas dengan adil : Jika ada siswa yang melanggar aturan, tangani dengan adil dan konsisten. Berikan konsekuensi yang sesuai dan berikan kesempatan bagi siswa untuk memperbaiki perilaku mereka.

8. Jaga komunikasi dengan orang tua : Jalin hubungan yang baik dengan orang tua siswa dan berikan pembaruan secara teratur tentang kemajuan siswa. Libatkan orang tua dalam proses pembelajaran dan minta umpan balik mereka.

Prinsip pengelolaan kelas yang efektif antara lain:

a. aturan dan harapan yang jelas b. Prosedur rutin

c. Konsisten d. Kukungan positif

(2)

e. Memahami karakteristik murid f. Libatkan murid

g. Bijak mengelola,perilaku bermasalah h. Komunikasi efektif

i. Kembangkan hubungan positif j. Evaluasi dan refleksi terus menerus

Empat kunci pengaturan ruang kelas yang baik antara lain : 1. Jadilah wilayah berlalu lintas tinggi bebas dari kemacetan

2. Pastikan bahwa para siswa dapat dipantau dengan mudah oleh guru

3. Jaga fasilitas dan perlengkapan pengajaran yang sering digunakan mudah diakses

4. Pastikan bahwa para siswa dapat dengan mudah melihat presentasi dan tampilan seisi kelas.

Inspirasi mengelola kelas:

- pajangan dinding yg relevan dgn kebutuhan pembelajaran - kotak kejujuran dan penyimpanan.

- kumpulan portofolio siswa

Manajemen waktu jam pelajaran (JP) Media pendukung manajemen waktu :

SD: 1 JP = 35 menit - pengatur waktu fisik

SMP: 1 JP = 40 menit - aplikasi pengatur waktu berbasis web

SMK: 1 JP = 45 menit - timer portable

Mengelola perilaku bermasalah

• bukan masalah: sekilas tidak memperhatikan pelajaran

• masalah kecil: berteriak dan meninggalkan kelas

• masalah besar ttpi trbatas lingkup&efeknya: tidak mau mengerjakan tugas berulang kali

• memperparah: siswa keliling kelas saat harus menyelesaikan tugas

Prinsip pengelolaan kelas inklusif

• memahami kondisi, karakter, dan kebutuhan siswa

• penerimaan dan penghargaan trhdp keberagaman

• adaptasi kurikulum sesuai kebutuhan & kemampuan siswa

• dukungan dan kolaborasi

(3)

Perbedaan pengelolaan kelas & pengelolaan pembelajaran:

• Kelas: pengaturan orang/fasilitas

• Pembelajaran: pengaturan materi/teknik pengajaran.

Materi 2 : Pencegahan 3 Dosa Pendidikan (Kekerasan Seksual) – Indra Budi Setiawan

Definisi Kekerasan menurut Permendikbud

Pasal 1, Permendikbudristek Nomor 30 Tahun 2021

"Kekerasan Seksual adalah setiap perbuatan merendahkan, menghina, melecehkan, dan/atau menyerang tubuh, dan/atau fungsi reproduksi seseorang, karena ketimpangan relasi kuasa dan/atau gender, yang berakibat atau dapat berakibat penderitaan psikis dan/atau fisik termasuk yang mengganggu kesehatan reproduksi seseorang dan hilang kesempatan melaksanakan pendidikan tinggi dengan aman dan optimal."

Pasal 1, Permendikbud Nomor 46 Tahun 2023

Kekerasan adalah setiap perbuatan, tindakan, dan/atau keputusan terhadap seseorang yang berdampak menimbulkan rasa sakit, luka, atau kematian, penderitaan seksual/reproduksi, berkurang atau tidak berfungsinya sebagian dan/atau seluruh anggota tubuh secara fisik, intelektual atau mental, hilangnya kesempatan untuk mendapatkan Pendidikan atau pekerjaan dengan aman dan optimal, hilangnya kesempatan untuk pemenuhan hak asasi manusia, ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, kerugian ekonomi, dan/atau bentuk kerugian lain yang sejenis.

KEKERASAN SEKSUAL

Setiap perbuatan merendahkan, menghina, melecehkan, menyerang tubuh, dan/atau fungsi reproduksi seseorang karena ada ketimpangan relasi kuasa dan/atau gender.

Penderitaan psikis dan/atau fisik termasuk yang mengganggu kesehatan reproduksi seseorang:

Pasal 10. Permendikbudristek , Nomor 46 Tahun 2023 : “Hilang kesempatan melaksanakan pendidikan dan/atau pekerjaan dengan aman dan optimal.”

Pasal 1, Permendikbudristek, Nomor 30 Tahun 2021 : “Hilang kesempatan melaksanakan pendidikan tinggi dengan aman dan optimal.”

Indikator yang menjadi penanda kekerasan seksual adalah paksaan.

Riset dan Berita

88% dari total kasus kekerasan di Lembaga Pendidikan yang diadukan ke Komnas Perempuan (2015-2021) merupakan kasus Kekerasan Seksual.

Dari kasus yang diadukan ke Komnas Perempuan (2015-2021):

1. Perguruan Tinggi 35%,

(4)

2. Pendidikan berbasis agama 19%, 3. Tingkat SMA/SMK 15%, 4. Tingkat SMP 6%, dan 5. TK, SD, SLB 9%.

Survei dan Data

77% dosen menyatakan "kekerasan seksual pernah terjadi di kampus".

63% dari mereka tidak melaporkan kasus yang diketahuinya kepada pihak kampus (Ditjen Diktiristek, 2020).

Isu Seputar Kekerasan Seksual

a. Normalisasi terhadap pelecehan seksual

 Kerap melontarkan

 Humor yang merendahkan dan melecehkan (Sexist Jokes)

 Menganggap korban over-reacting

 Persepsi sosial

b. Pengungkapan (disclosure) merupakan keputusan sulit bagi korban

 Kesenjangan relasi dan posisi

 Minim informasi tentang Batasan

 Tidak tahu harus melapor kemana

 Takut laporannya tidak diterima dan dipercaya

 Takut kehilangan kesempatan

 Penundaan pelaporan (delay disclosure) c. Intimidasi pasca pelaporan

 Ancaman terhadap status

 Intimidasi pimpinan

 Tuntutan menjaga nama baik

 Keberpihakan pimpinan terhadap pelaku

 Stigma dan diskriminasi kepada korban/pelapor d. Dalam pelaporan justru menyalahkan Korban (Victim blaming)

 Menyesal telah melaporkan

 Tidak diterima secara empatik

 Dinilai dan dinasehati

 Mengalami victim blaming

 Reviktimisasi Stereotip dan Bias Gender

Sebuah keyakinan yang berkaitan dengan perilaku yang membedakan perempuan dan laki-laki. Keyakinan tersebut berupa pelabelan yang sudah lama terbentuk dalam kehidupan masyarakat, yang kemudian menimbulkan pandangan dan sikap yang lebih mengutamakan salah satu jenis kelamin ketimbang jenis kelamin lainnya.

Biasanya lebih berpihak kepada laki-laki daripada kepada perempuan atau sebaliknya.

(5)

1. Kelumpuhan Sementara atau Tonic Immobility

Korban kekerasan seksual seringkali dipersalahkan karena tidak melawan, berteriak atau lari saat mengalami kekerasan, padahal saat itu mereka masih mengalami kelumpuhan sementara atau tonic immobility.

2. Menyalahkan Korban atau Victim Blaming

Bila konsep kelumpuhan sementara atau tonic immobility tidak dipahami, dampaknya akan terjadi pada dua tingkat:

Internal: Korban menyalahkan diri sendiri atau self blaming Eksternal: Pihak lain menyalahkan korban atau victim blaming

3. Tuduhan Palsu atau False Accusation

Tantangan yang dihadapi korban kekerasan seksual juga ditambah dengan pembebanan pembuktian yang seolah menjadi tanggung jawab korban untuk membuktikan keabsahan kasus yang dilaporkannya. Selain fenomena masyarakat yang cenderung menyalahkan korban kekerasan seksual, hal lain yang juga membuat banyak korban kekerasan seksual enggan melaporkan kasusnya adalah pandangan bahwa mereka melakukan tuduhan palsu. Banyak korban kekerasan seksual yang kemudian malah dilaporkan balik dengan pasal pencemaran nama baik, karena dianggap tidak memiliki bukti yang cukup kuat.

4. Pembebanan Korban

Aparat Penegak Hukum membebani korban untuk mengumpulkan bukti dan mencari pasal untuk menindaklanjuti kasus atau yang lebih dikenal sebagai beban pembuktian. Masyarakat membebani korban untuk upaya pencegahan kekerasan seksual yang akan datang. Pengguna media sosial daring membebani korban untuk bersuara melalui fenomena "spill."

Sesuai dengan kebijakan perlindungan anak, peserta didik di bawah usia 18 tahun (usia anak) belum mampu memberikan persetujuan (incompetent consent), sehingga aktivitas seksual apapun yang melibatkan anak termasuk dalam kategori kekerasan seksual.

*Undang Undang No 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak Konsekunsi pidana UU Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual.

Bentuk kekerasan seksual Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023 Pasal 10 Ayat (2):

a. Penyampaian ujaran yang mendiskriminasi atau melecehkan tampilan fisik, kondisi tubuh, dan/atau identitas gender Korban,

b. Perbuatan memperlihatkan alat kelamin dengan Sengaja.

c. Penyampaian ucapan yang memuat rayuan, lelucon, dan/atau siulan yang bermuansa seksual pada Korban

d. Perbuatan menatap Korban dengan nuansa seksual dan/atau membuat Korban merasa tidak nyaman.

e. Pengiriman pesan, lelucon, gambar, foto, audio, dan/atau video bernuansa seksual kepada Korban.

f. Perbuatan mengambil, merekam, dan/atau mengedarkan foto dan/atau rekaman audio dan/atau visual Korban yang bernuansa seksual.

g. Perbuatan mengunggah foto tubuh dan/atau informasi pribadi Korban yang bernuansa seksual.

(6)

h. Penyebaran informasi terkait tubuh dan/atau pribadi Korban yang bernuansa seksual.

Materi 3 : Praktik Baik Pembelajaran Numerasi di SMK - Febriandrini Kumala

Matematika adalah ilmu yang membahas pola, keteraturan, dan tingkatan.

Numerasi : Mengaplikasikan ilmu hitung dalam kehidupan sehari-hari, Tujuan guru untuk mendampingi peserta didik dalam mengakses, menggunakan, menafsirkan, mengkomunikasikan informasi dan ide matematika

Literasi numerasi : Kompetensi mengaplikasikan konsep bilangan dan operasi hitung dan menginterpretasi informasi kuantitatif dengan percaya diri tinggi dalam kehidupan sehari-hari

Literasi Matematika : Membuat penilaian secara mumpuni dan mengaitkan matematika untuk memenuhi kebutuhan individu sebagai seorang warga dunia yang konstruktif, peduli, dan reflektif

Konteks Numerasi Proses Numerasi Konten Numerasi

Personal Memformulasikan Bilangan

Sosial Budaya Menggunakan Aljabar

Saintifik Menginterpretasikan Geometri Pengukuran

Analisis Data Tahapan Numerasi:

Pengalaman

Berinteraksi dengan keluarga di rumah atau komunitas di lingkungannya

Pengetahuan

Dari pengalaman, dapat terbentuk pengetahuan numerasi secara informal yang tepat atau tidak

Pembelajaran Membangun pembelajaran numerasi di sekolah berdasarkan pengalaman dan pengetahuan

(7)

Numerasi

Tujuan dan Cakupan Kompetensi Numerasi

Penalaran

Pemecahan Masalah Pengambilan Keputusan

Bilangan

Operasi Bilangan

Bentuk, ruang dan pengukuran Pengelolaan Data

Tujuan Pembelajaran = Menggunakan observable action (kata kerja aksi yang diobservasi secara riil)

1. Aksi  dengan kata kerja

2. Nyata  diobservasi oleh guru dan didemo oleh siswa-siswi

3. Performa pemahaman  6 jenis pemahaman (Menjelaskan, memberi makna, menerapkan, mengkritisi, empati, menyadari pola piker dan aksi) + hasil belajar

Pembelajaran Terdiferensiasi  Tujuan  Konten (Penyajian beragam dalam bentuk visualisasi)

 Proses (Bentuk pemahaman)

 Produk (Hasil berupa proyek, laporan, atau esai) Saat ini diterapkan

Diajarkan sebagai kuantitas numerik tanpa unit pengukuran

Keterkaitan antara pekerjaan dan bilangan jelas dibuat oleh guru

Menghasilkan jawaban yang dilakukan dengan satu cara dan secara kompetitif

Akurasi jawaban ditentukan oleh guru, benar/salah tidak bisa dinegokan Tidak terkait dengan teknologi

Harus dilakukan

Bilangan diikuti unit pengukuran atau mengcu pada besaran konkret

Keterkaitan antara pekerjaan dan bilangan belum pernah dibuat sebelumnya

Memiliki jawaban yang sangat beragam dan tepat

Akurasi jawaban ditentukan oleh situasi, benar/salah dinegokan

Sangat terkait dengan teknologi

(8)

 Selasa, 6 februari 2024

Materi 1 : Pencegahan 3 Dosa Pendidikan (Intoleransi) – Kosasih Ali Abu Bakar

PUSAT PENGUATAN KARAKTER

(Permendikbud No. 45 tahun 2019, Permendikbud No. 9 tahun 2020, Permendikbudristek No 45). "Tujuan pembentukan lembaga Pusat Penguatan Karakter adalah untuk membumikan Pancasila agar dapat dipahami oleh kalangan milenial", Nadiem Anwar Makarim, Raker dengan Komisi X DPR 28 Januari 2020 . 

"Sistem pendidikan nasional harus mengedepankan nilai-nilai Ketuhanan yang berkarakter kuat dan berakhlak mulia serta unggul dalam inovasi dan teknologi",Joko Widodo, Pidato Presiden RI pada Sidang Tahunan 14 Agustus 2020.

"Tentu saja keahlian adalah perlu, tetapi keahlian saja tanpa dilandaskan jiwa yang besar tidak akan mungkin dapat mencapai tujuannya, inilah perlunya nation character building",Bung Karno.

Visi Merdeka Belajar

Mewujudkan lingkungan satuan pendidikan aman, nyaman, dan merdeka dari kekerasan, termasuk perundungan, intoleransi, dan kekerasan seksual, serta menjunjung tinggi keragaman dan inklusivitas demi terwujudnya SDM Unggul dengan profil Pelajar Pancasila.

Pengukuran iklim kebinekaan di lingkungan pendidikan Indonesia didasarkan pada empat aspek:

1. Sikap Inklusif, Sikap Inklusif peserta didik dan pendidik di satuan pendidikan

2. Komitmen kebangsaan, Dukungan terhadap bentuk negara dan Pancasila sebagal ideologi yang memayungi keragaman agama dan budaya dalam masyarakat Indonesia

3. Toleransi agama dan budaya, Sikap menerima dan menghargai keragaman agama dan budaya di satuan pendidikan

4. Dukungan atas kesetaraan hak antar kelompok,Dukungan dalam kesetaraan hak- hak sipil antara kelompok mayoritas dan minoritas agama dan budaya dari pendidik dan pimpinan satuan Pendidikan.

Persentase satuan pendidikan berdasarkan iklim kebinekaan (%)

1. 32% satuan pendidikan di Indonesia telah membudayakan sikap kebinekaan 2. 59% satuan pendidikan di Indonesia perlu menguatkan sikap kebinekaan, dan 3. 9% satuan pendidikan di Indonesia perlu meningkatkan sikap kebinekaan.

Iklim Kebinekaan : Kondisi sekolah yang menunjukkan adanya sikap dan perilaku kepala sekolah dan guru dalam menerapkan toleransi agama dan budaya serta komitmen kebangsaan.

Indikator Level 2 :

D.8.1 Toleransi agama dan budaya : Sikap dan perilaku yang menunjukkan penerimaan dan penghargaan terhadap keragaman agama dan budaya di sekolah.

(9)

D.8.2 Komitmen kebangsaan : Kesetiaan pada negara dan kesediaan menumbuhkan rasa kebangsaan warga sekolah.

D.8.3 Toleransi dan kesetaraan siswa : Sikap menerima dan menghargai keragaman agama dan budaya di sekolah

KEKERASAN 

Kekerasan adalah setiap perbuatan, tindakan, dan/atau keputusan terhadap seseorang yang berdampak menimbulk, sakit, luka, atau kematian, penderitaan seksual/reproduksi, berkurang atau tidak berfungsinya sebagian dan/atau seluruh anggota tubuh secara fisik, intelektual atau mental, hilangnya kesempatan untuk mendapatkan pendidikan atau pekerjaan dengan aman dan optimal, hilangnya kesempatan untuk pemenuhan hak asasi manusia, ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, kerugian ekonomi, dan/atau bentuk kerugian lain yang sejenis.

Bentuk kekerasan menurut Permendikbudristek 46/2023 - Pasal 6:

1. Kekerasan fisik 2. Kekerasan psikis 3. Perundungan 4. Kekerasan seksual

5. Diskriminasi dan intoleransi

6. Kebijakan yang mengandung kekerasan

Permendikbudristek PPKSP mendefinisikan kekerasan seksual diskriminasi dan intoleransi untuk mendukung upaya pencegał penanganan kekerasan

Permendikbudristek PPKSP Pasal 10-11:

Diskriminasi dan intoleransi

Tindakan pembedaan, pengecualian, pembatasan, atau pemilihan ,atas dasar identitas :

a. Suku/Etnis f. usia k. mental

b. Agama g. status sosial l. sensorik

c. Kepercayaan  h. ekonomi m. fisik

d. Ras i. jenis kelamin

e. Warna kulit j. kemampuan intelektual

Permendikburistek PPKSP menegaskan bentuk diskrim intoleransi untuk memudahkan pemahaman bagi publik

Bentuk-bentuk diskriminasi dan intoleransi pada Pasal 11 ayat (2):

a. Larangan untuk:

1. Menggunakan seragam/pakaian kerja bagi Peserta Didik, Pendidik, dan Tenaga Kependidikan yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan- undangan mengenai pengaturan seragam sekolah maupun seragam Pendidik dan Tenaga Kependidikan:

2. Mengikuti mata pelajaran agama/kepercayaan yang diajar oleh Pendidik sesuai dengan agama/kepercayaan Peserta Didik yang diakui oleh Pemerintah; dan/atau

(10)

3. Mengamalkan ajaran agama atau kepercayaan yang sesuai keyakinan agama atau kepercayaan yang dianut oleh Peserta Didik, Pendidik, atau Tenaga Kependidikan;

b. Pemaksaan untuk:

1. Menggunakan seragam/pakaian kerja bagi Peserta Didik, Pendidik, dan Tenaga Kependidikan yang tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan mengenai pengaturan seragam sekolah;

2. Mengikuti mata pelajaran agama/kepercayaan yang diajar oleh Pendidik yang tidak sesuai dengan agama/kepercayaan Peserta Didik yang diakui oleh Pemerintah; dan/atau

3. Mengamalkan ajaran agama atau kepercayaan yang tidak sesuai keyakinan agama atau kepercayaan yang dianut oleh Peserta Didik, Pendidik, atau Tenaga Kependidikan;

Empati merupakan kunci untuk menumbuhkan dan menanamkan rasa cinta keragaman

Dengan berempati, kita belajar untuk merasakan, memahami, dan memposisikan diri dalam hal perasaan, pemikiran dan pengalaman orang lain. Melatih empati dapat dilakukan dari hal yang paling sederhana seperti mendengarkan aktif, mengucapkan terima kasih, tolong, dan maaf.

Beberapa aspek dalam menciptakan toleransi berdasarkan The British journal of social psychology (2016) dan Journal of personality and social psychology (2006):

 Kemampuan Dasar, Pengetahuan yang didapat melalui aktivitas mencari ide dan memecahkan masalah

 Kemampuan Sosial, Pembelajaran dari pengamatan orang lain atau lingkungan sekitar

 Inklusivitas, Merangkul semua orang atau kelompok, menerima keragaman, dan membantu sesuai kebutuhan

 Interaksi Antar Kelompok, Pengalaman positif antar kelompok yang berbeda mampu mengikis prasangka dan stereotip

 Interaksi Antar Usia, Gap generasi dapat disikapi melalui interaksi, komunikasi dan terbuka untuk saling memahami ekspektasi

 Interaksi Budaya, Interaksi budaya dapat memperkaya keragaman budaya sebagai kekuatan bangsa.

Tidak hanya mencegah kekerasan, rasa cinta terhadap keragaman mendukung Peserta Didik dalam mengembangkan keterampilan abad Ke-21

KUNCI SUKSES ABAD 21 (4K) :

1. Kemampuan Berpikir Kritis Kemampuan menganalisa topik- topik yang kompleks secara mendalam untuk memecahkan masalah dan merefleksikan dalam kehidupan sehari-hari.

2. Kreativitas,Kemampuan mengeksplorasi dan mengimplementasikan ide-ide menggunakan kreativitas dan sudut pandang yang berbeda.

3. Komunikasi,Kemampuan memberikan den menerima ide serta gagasan secara efektif menggunakan beragam media, termasuk teknologi.

4. Kolaborasi,Kemampuan bekerja sama untuk mencapai tujuan yang sama, yaitu memecahkan permasalahan yang ditemukan.

Sebaliknya, tidak mampu mencintai keragaman akan membawa kerugian : a. Kerugian untuk diri sendiri

(11)

1. Kesulitan beradaptasi terhadap perubahan Sikap terbuka dan menghargai perbedaan membentuk pribadi yang mudah menyesuaikan diri terhadap perubahan sebagai bekal masa depan.

2. Kesulitan dalam berkolaborasi,Kecenderungan untuk menutup diri dari kelompok berbeda akan menyulitkan dalam berinteraksi, berteman dan berkolaborasi dengan orang lain.

3. Tidak mampu bersaing di kehidupan bermasyarakat Berpengetahuan saja tidak akan cukup untuk menghadapi tantarigan dunia nyata. Intoleransi akan menghambat generasi muda dalam berkarya dan mengembangkan diri.

b. Kerugian untuk lingkungan

1. Merasa paling benar (eksklusivisme) Menganggap kebenaran hanya dimiliki suatu kelompok tertentu memicu perasaan bahkan tindakan untuk menyingkirkan kelompok lain yang berbeda.

2. Tumbuh prasangka dan stereotip Keengganan mengenal orang lain akan memicu prasangka dan pelabelan buruk terhadap kelompok tertentu yang belum terbukti kebenarannya.

3. Memicu perundungan dan kekerasan Menanamkan nilai toleransi sedini mungkin akan mencegah menjadi pelaku atau korban kekerasan.

Materi 2 : Analytical Thinking and Creative Problem Solving di Sekolah – Asril Novian Alifi

MANUSIA YANG KUAT ADALAH YANG MAMPU MENGHADAPI DAN MENYELESAIKAN MASALAH.BUKAN LARI DARI MASALAH.

Dalam proses problem solving ,otak kanan dan otak kiri harus berkolaborasi untuk menghasilkan solusi yang cemerlang.

Langkah- langkah Problem Solving 1. PENGUMPULAN DATA

a. Jangan terburu menyimpulkan masalah sebelum mendapatkan informasi yang komprehensif

b. Gali informasi ke pihak terkait c. Observasi

d. Mengumpulkan fakta-fakta 2. ANALISIS MASALAH

a. Masalah yang terlihat b. Gejala

c. akar masalah 3. MERUMUSKAN SOLUSI

a. Jika pengumpulan data analisis masalah lebih banyak melibatkan otak kiri, dalam tahapan merumuskan solusi ini kita harus lebih banyak melibatkan otak kanan

b. Untuk mencari solusi-solusi kreatif, kita bisa melakukan proses Brain Strorming, baik secara mandiri atau dengan melibatkan pihak-pihak terkait

c. Substitute : Mengganti dengan yang lain d. Combine  : Menggabungkan dengan hal lain e. Adapt : di adaptasi dari hal lain

f. Modify : Dirubah, Diperkecil atau diperbesar

g. Put to another use : Digunakan untuk kegunaan yang lain

(12)

h. Eliminate : Ada bagian yang Dihilangkan.

i. Reverse : Dibalik

4. MEMBUAT SKALA PRIORITAS a. Penting mendesak

b. Penting tidak mendesak c. Tidak penting mendesak d. Tidak penting tidak mendesak

Berikut ini adalah beberapa poin penting yang dapat dilakukan secara singkat:

1. Memahami konsep dasar: Siswa perlu memahami konsep dasar dari analytical thinking dan creative problem solving. Mereka harus tahu bagaimana menerapkan pemikiran analitis untuk menganalisis masalah dan menemukan solusi kreatif.

2. Latihan pemecahan masalah: Siswa perlu dilibatkan dalam latihan pemecahan masalah yang melibatkan situasi dunia nyata. Ini dapat melibatkan studi kasus, permainan peran, atau proyek-proyek kolaboratif.

Tujuannya adalah untuk melatih kemampuan mereka dalam mengidentifikasi masalah, menganalisis informasi, dan menghasilkan solusi yang kreatif.

3. Mendorong pemikiran kritis: Siswa perlu diajarkan untuk mempertanyakan informasi, mengidentifikasi asumsi, dan mengevaluasi argumen. Mereka harus diajarkan untuk melihat masalah dari berbagai sudut pandang dan mengembangkan pemikiran kritis yang objektif.

4. Menggunakan alat bantu analitis: Siswa perlu diperkenalkan dengan alat bantu analitis seperti diagram alir, tabel, atau grafik. Mereka harus belajar bagaimana menggunakan alat-alat ini untuk mengorganisir informasi, menganalisis data, dan mengidentifikasi pola atau tren.

5. Mendorong kreativitas: Siswa perlu didorong untuk berpikir kreatif dan berani mengemukakan ide-ide baru. Mereka harus diajarkan bahwa tidak ada ide yang salah atau bodoh, dan bahwa eksplorasi ide-ide baru dapat menghasilkan solusi yang inovatif.

6. Kolaborasi dan komunikasi: Siswa perlu diajarkan untuk bekerja secara kolaboratif dalam tim dan berkomunikasi dengan jelas dan efektif. Mereka harus belajar bagaimana mendengarkan pendapat orang lain, menghargai perbedaan, dan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama.

Dengan menerapkan hal-hal ini dalam pembekalan dan penugasan, siswa akan dapat mengembangkan kemampuan analytical thinking dan creative problem solving yang kuat, yang akan bermanfaat dalam kehidupan mereka sehari-hari dan masa depan mereka.

(13)

Materi 3 : Facilitating Skills di Sekolah – Gading Aulia

Facilitating skills adalah kemampuan untuk memandu, mendukung, dan mengelola kelompok atau tim dalam mencapai tujuan bersama. Keterampilan ini sangat penting bagi para guru dan staf sekolah dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan efektif.

Fasilitator adalah seseorang yang merancang alur dan proses hingga interaksi sehingga peserta bisa mengikuti sesi secara efektif. peserta fokus pada "apa" (konten, konteks, isu, ide, masalah, potensi), kemudian beserta membagikan pengetahuan dan pengalamannya. Fasilitator fokus kepada "bagaimana"

dengan memandu proses fasilitasi yang direncanakan. Tujuan fasilitator adalah mempermudah peserta mencapai tujuan yang diinginkan.

7 prinsip dasar fasilitator

1. Kesiapan  tanya dulu tujuan, metode, persiapan sangat penting untuk memfasilitasi.

2. Instruksi  Instruksi tidak boleh terlalu banyak atau sulit dicerna, buatlah instruksi yang mudah atau tanyakan "apakah mereka ada yang belum dimengerti atau belum?"

3. Jelas  Harus jelas tujuan fasilitas di sekolah seperti apa.

4. Netral  Misal, kalau kita memandu harus netral tidak fokus ke satu kelompok tertentu saja, harus bisa menyeimbangkan seluruh partisipasi peserta.

5. Pertumbuhan  Menghargai setiap proses yang telah dilakukan. misalnya mereka telah membuat poster atau quotes dan hasilnya sudah ada, maka di pajang di dinding dll, maka itu adalah apresiasi, apresiasi juga bisa berupa kata kata ataupun penghargaan.

6. Berlimpah  prinsip keberlimpahan harus selalu kita pegang. maka kita harus memanfaatkan semua yg ada di sekolah (sumber daya sekitar). Termasuk menggali penhalaman peserta merupakan prinsip keberlimpahan.

7. Pengetahuan  Kita harus tau dengan siapa kita berbicara, agar bisa menyesuaikan dengan orang yang kita fasilitasi. misal tentang kurikulum meedeka, kira² bapak ibu guru itu sudah mengerti tidak? apakah istilah istilah bhs inggris di dalam mereka mengerti? semua ini harus bisa kita pahami, agar bisa mempermudah sesuai dengan tujuan fasilitator.

Tujuan dari materi ini adalah untuk membantu para guru dan staf sekolah dalam:

 Memahami konsep dasar facilitating skills

 Mengembangkan keterampilan fasilitasi yang efektif

 Menerapkan facilitating skills dalam berbagai kegiatan belajar mengajar Materi facilitating skills di sekolah dapat mencakup beberapa topik berikut:

(14)

1. Konsep Dasar Facilitating Skills - Pengertian facilitating skills - Peran fasilitator

- Prinsip-prinsip fasilitasi

- Sikap dan perilaku fasilitator yang efektif 2. Keterampilan Fasilitasi

- Keterampilan komunikasi - Keterampilan mendengarkan - Keterampilan bertanya

- Keterampilan pemecahan masalah - Keterampilan manajemen konflik - Keterampilan membangun tim

3. Penerapan Facilitating Skills dalam Kegiatan Belajar Mengajar - Fasilitasi diskusi kelas

- Fasilitasi proyek kelompok - Fasilitasi pembelajaran kooperatif - Fasilitasi pemecahan masalah - Fasilitasi refleksi dan pembelajaran

Metode pembelajaran yang digunakan dalam pelatihan facilitating skills dapat bervariasi, antara lain:

 Ceramah * latihan praktik

 Diskusi * studi kasus

 Simulasi * evaluasi

Evaluasi dilakukan untuk mengetahui tingkat pemahaman dan kemampuan peserta dalam menerapkan facilitating skills. Evaluasi dapat dilakukan dengan cara:

 Tes tertulis

 Observasi praktik

 Penilaian proyek

Facilitating skills bermanfaat bagi para guru dan staf sekolah dalam:

 Meningkatkan kualitas pembelajaran

 Menciptakan lingkungan belajar yang kondusif

 Meningkatkan partisipasi siswa

 Mengembangkan kemampuan siswa dalam berpikir kritis, berkomunikasi, dan bekerja sama

 Meningkatkan kinerja guru dan staf sekolah Kemampuan Dasar Fasilitasi

1. Bertanya

Contoh: bayangin bapak/ibu guru jadi murid kelas 2 smp, hal seru apa yang pengen dilakukan terkait dengan aktivitas membaca? dari sini bertanya seperti itu kita bisa mancing ide-ide kreatif karena mereka dikondisikan sebagai anak kelas 2 SMP. maka ide ide yg muncul bisa lebih kaya.

2. Mendengarkan Aktif

3. Mencatat & Mengambil poin penting 4. Mengurutkan (ide/rencana)

(15)

Misal: “oh di awal saya mau ice breaking dulu, baru tanya tanya tentang apa yang telah dilakukan guru dalam peningkatan literasi”

5. Mengambil Kesimpulan 6. Observasi

Misal ketika kita lagi jadi presenter pasti ngerasain ada yg diam², ada guru yg diam² baek, apa yg harus kita lakukan? maka kita bisa meminta bapak ibu guru menceritakan aktifitas mengajar dikelas. blm bisa meyakinkan? kita ubah lagi, kita minta bapak ibu guru menuliskan apa aja apa aktifitas peningkatan literasi yg sudah bapak inu lakukan selama ini, berikan sekian poin dalam waktu sekian, nanti kita tempelkan agar lebih menarik. jadi tujuannya adalah untuk mengumpulkan ide ide dari bapak ibu guru.

Kompetensi Dasarr Fasilitator

Adalah kemampuan kerja setiap fasilitator yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dari sikap kerja untuk meningkatkan munculnya rasa percaya, partisipasi serta proses yang efektif dari sisi fasilitasi yang dibawakan, yang meliputi :

1. Kompetensi Interaksi 3. Kompetensi Visualisasi 2. Kompetensi Merancang Alur Proses 4. Kompetensi Partisipasi Panduan Refleksi 4P

Panduan refleksi mempermudah proses pembelajaran beserta selama sesi fasilitasi. proses ini juga mendukung proses inkuiri karena peserta terlibat dalam proses refleksi secara aktif dan dipandu untuk menemukan pembelajaran yang didapatkan. apa sih yang dilakukan di akhir.

1. pengalaman: suruh mereka ceritain pengalamannya yang telah dilewati.

2. perasaan : gimana perasaannya?

3. pembelajaran : trus hal baru apa yg anak-anak dapatkan? kosakata baru apa yang kalian baru pelajari?

4. penerapan: apa yg bisa diulang atau dipertahankan?

(16)

 Rabu, 7 februari 2024

Resilience With Growth Mindset - Handri Pratama

RESILIENCE / KETANGGUHAN

Kemampuan untuk beradaptasi dan bangkit kembali ketika hal-hal tidak berjalan seperti yang direncanakan.

Resilience juga berarti bisa belajar dari kesalahan dan bergerak maju daripada terus-menerus memikirkan kegagalan.

Perilaku yang dimiliki oleh orang yang tangguh :

- Optimis - reflektif

- Fleksibel - mampu meminta bantuan kepada orang yang tepat

- Kemampuan mengatur emosi Cara membangun pikir yang tangguh :

a. Pikirkan hal-hal yang sudah berjalan baik dan capaian-capaian yang sudah berhasil dicapai.

b. Pecah masalah menjadi bagian yang lebih kecil dan atur capaian-capaian yang lebih terukur.

c. Berfokus pada apa yang ada dalam kendali kita.

d. Persiapkan rencana cadangan dan selalu melihat masalah sebagai tantangan yang harus dipecahkan.

e. Growth mindset : pola pikir yang meyakini bahwa di setiap hari & di setiap saat ada kesempatan untuk tumbuh dan berkembang.

f. Mencari kekurangan dan apa yg harus ditingkatkan g. Mencari ide lain

h. Kegiatan apa yg harus dilakukan i. Evaluasi secara berkala

Materi 2 : Praktik Baik Program Kerja Mitigasi Perubahan Iklim di Sekolah - Asri Aldila Putri

1. Pengurangan Penggunaan Energi Hemat Energi:

- Mematikan lampu dan peralatan elektronik saat tidak digunakan.

- Mengganti lampu dengan LED yang lebih hemat energi.

- Menggunakan kipas angin atau jendela terbuka daripada AC - Memasang panel surya untuk menghasilkan energi listrik.

Penggunaan Transportasi Ramah Lingkungan:

- Mendorong penggunaan sepeda, jalan kaki, atau kendaraan umum untuk ke sekolah.

- Menyediakan tempat parkir khusus untuk sepeda.

- Mengadakan program carpool untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.

2. Pengurangan Sampah:

Pengurangan Sampah Plastik:

(17)

- Melarang penggunaan botol plastik sekali pakai di sekolah.

- Menyediakan tempat minum isi ulang dan dispenser air.

- Mengadakan program edukasi tentang bahaya plastik dan daur ulang.

Pengolahan Sampah Organik:

- Membuat kompos dari sisa makanan dan daun kering.

- Menanam tanaman dengan menggunakan kompos.

- Mengadakan program edukasi tentang pengolahan sampah organik.

3. Penghijauan Sekolah:

Penanaman Pohon:

- Menanam pohon di halaman sekolah dan area sekitar.

- Melibatkan siswa dalam kegiatan penanaman pohon.

- Mengadakan program edukasi tentang manfaat pohon.

Pemeliharaan Taman:

- Merawat taman sekolah dengan baik.

- Menggunakan pupuk organik untuk tanaman.

- Mengadakan program edukasi tentang pemeliharaan taman.

4. Edukasi dan Peningkatan Kesadaran:

Kegiatan Edukasi:

- Menyelenggarakan seminar, workshop, dan pelatihan tentang perubahan iklim.

- Memasukkan materi tentang perubahan iklim ke dalam kurikulum sekolah.\

- Membuat film edukasi tentang perubahan iklim.

Kegiatan Peningkatan Kesadaran:

- Mengadakan kampanye tentang perubahan iklim.

- Membentuk klub pecinta alam atau lingkungan hidup.

- Mengadakan kegiatan bersih-bersih lingkungan sekolah.

5. Kerjasama dengan Stakeholder Lain:

Kerjasama dengan Pemerintah:

- Bekerja sama dengan pemerintah daerah dalam program mitigasi perubahan iklim.

- Mengikuti program pemerintah terkait perubahan iklim.

Kerjasama dengan Organisasi Non-Pemerintah (NGO):

- Bekerja sama dengan NGO yang bergerak di bidang lingkungan hidup.

- Mengadakan kegiatan bersama NGO untuk meningkatkan kesadaran tentang perubahan iklim.

Kerjasama dengan Orang Tua Siswa:

- Mengadakan sosialisasi tentang perubahan iklim kepada orang tua siswa.

- Mendorong orang tua siswa untuk terlibat dalam program mitigasi perubahan iklim di sekolah.

Dampak Positif Praktik Baik:

 Mengurangi emisi gas rumah kaca.

 Meningkatkan kualitas lingkungan sekolah.

 Meningkatkan kesadaran siswa tentang perubahan iklim.

 Mendorong siswa untuk berperilaku ramah lingkungan.

 Menjadi contoh bagi sekolah lain dalam upaya mitigasi perubahan iklim.

(18)

Materi 3 : Self and Team Management - Muhammad Haekal dan Tsania Nadhira

Self-management adalah kemampuan untuk mengatur diri sendiri, mengendalikan emosi, mengambil keputusan yang tepat, dan menetapkan tujuan yang jelas untuk diri sendiri dan tim.

Team management adalah kemampuan untuk memimpin dan mengelola sekelompok orang dalam menyelesaikan tugas dan tujuan bersama.

Pentingnya:

 Meningkatkan produktivitas dan efisiensi

 Meningkatkan kualitas kerja

 Meningkatkan motivasi dan semangat tim

 Menciptakan lingkungan kerja yang positif

 Memperkuat hubungan antar anggota tim

Self-management:

 Pengaturan waktu: Menetapkan prioritas, membuat deadline, dan fokus pada satu tugas

 Motivasi diri: Menemukan tujuan dan passion, membangun self-confidence, dan menjaga positive mindset

 Manajemen stres: Teknik relaksasi, mindfulness, dan menjaga work-life balance

 Komunikasi: Mendengarkan dengan baik, menyampaikan pesan dengan jelas, dan membangun rapport

 Keterampilan interpersonal: Bekerja sama dengan orang lain, menyelesaikan konflik, dan membangun trust

Team management:

 Kepemimpinan: Menetapkan visi dan misi, mendelegasikan tugas, dan memberikan feedback

 Motivasi tim: Menciptakan lingkungan kerja yang positif, memberikan penghargaan, dan membangun rasa saling percaya

 Komunikasi tim: Membangun komunikasi yang terbuka dan efektif, mengadakan meeting yang produktif, dan memberikan informasi yang jelas

 Penyelesaian konflik: Mengidentifikasi akar masalah, mencari solusi yang win-win, dan membangun komunikasi yang terbuka

 Pembangunan tim: Membangun trust, meningkatkan kerjasama, dan menciptakan budaya tim yang positif

Tips:

 Tetapkan tujuan yang jelas dan terukur

 Buatlah rencana kerja yang detail

 Komunikasikan dengan jelas dan efektif

 Berikan feedback yang konstruktif

 Delegasikan tugas dengan tepat

 Berikan penghargaan atas prestasi

 Bangunlah hubungan yang positif dengan anggota tim

 Terus belajar dan berkembang

(19)

Berikut ini diagram matriks dari daniel goldman di bukunya yang bernama “Emotional intelligence matrix”

ada empat kuadran yaitu :

1. Self - Awareness : Memahami dan mengenali potensi diri, mengenali kelebihan dan kekurangan 2. Self - Motivation : Membagi prioritas, mengelola diri menuju tujuan yang diinginkan

3. Social Awareness : Memahami kebutuhan lingkungan sekitar peka/ berempati

4. Relationship Management : Menjadi berpengaruh, mampu memimpin kolaboratif manajemen konflik

Tahap Team :

a. Forming ( Pembentukan ) : Inisiasi tujuan tim, peran dan cara anggota saling berinteraksi.

komunikasi ini cenderung formal dan tidak ada usaha menghindari konflik.

b. Storming ( Munculnya konflik ) : Perbedaan mulai muncul karena perspektif yang berbeda.

pada tahap ini muncul konflik dan tim harus mencari kesempatan agar bisa bergerak sebagai tim yang solid.

c. Norming ( Pembentukan nilai dan norma ) : Penemuan keseimbangan dan kesepakatan.

Anggota mulai memahami peran dan aturan. Norma-norma sosial mulai terbentuk dan kerjasama menjadi lebih mulus.

d. Performing (bekerja optimal) : Anggota tim bekerja sama secara efisien, mengambil tanggung jawab penuh atas tugas-tugas mereka dan fokus pada pencapaian tujuan tim.

Strategi komunikasi :

1. Dominan: tidak membalas api dengan api, tidak bertele-tele, libatkan lebih banyak dalam pengambilan keputusan, tidak mengintruksi, ajak diskusi.

2. Influencer: berikan spotlight, jangan terlalu ditekan utk terorganisir dan detail, libatkan jadi pemimpin diskusi, dan beri pujian.\

3. Simpati: ciptakan lingkungan yg stabil, gunakan kata kata positif dan bicarakan makna, dan lakukan pendekatan personal.

4. Analis: Berbicara dgn logis, sediakan detail dan data, sediakan waktu utk berpikir, tidak baper jika dikritisi.

Manajemen prioritas :

✨ Do, harus dikerjakan saat ini

✨ Decide, harus dijadwalkan bisa dikerjakan nanti

✨ Delegate, pengerjaan bisa dilakukan orang lain.

✨ Delete, tidak perlu dilakukan jika kuadran lain belum terpenuhi

(20)

 Jumat, 9 februari 2024

Materi 1 : Persiapan Menjadi Guru - Dita Djuwita

Menjadi guru merupakan sebuah profesi mulia yang memiliki peran penting dalam membentuk generasi penerus bangsa. Persiapan matang menjadi kunci untuk menjadi guru yang berkualitas dan inspiratif.

Berikut panduan lengkap persiapan menjadi guru:

1. Pendidikan dan Kualifikasi:

- Pendidikan formal: Lulus dari program pendidikan S1 atau S2 kependidikan sesuai dengan bidang mata pelajaran yang ingin diajarkan.

- Sertifikat pendidik: Mengikuti program Pendidikan Profesi Guru (PPG) dan mendapatkan sertifikat pendidik.

- Keterampilan pedagogik: Memahami teori dan praktik pembelajaran, serta mampu menerapkan berbagai metode mengajar yang efektif.

- Keterampilan profesional: Menguasai materi pelajaran yang akan diajarkan dengan baik dan mendalam.

- Keterampilan kepribadian: Memiliki kepribadian yang baik, sabar, teladan, dan mampu menjadi figur yang dihormati oleh siswa.

- Keterampilan sosial: Mampu berkomunikasi dengan baik, menjalin hubungan yang positif dengan siswa, orang tua, dan kolega.

2. Pengalaman Praktis:

- Menjadi guru magang: Mengikuti program magang di sekolah untuk mendapatkan pengalaman mengajar langsung di kelas.

- Menjadi asisten guru: Membantu guru dalam mengajar di kelas, menyiapkan materi pembelajaran, dan menilai tugas siswa.

- Menjadi tutor: Memberikan pelajaran tambahan kepada siswa secara individu atau kelompok.

- Terlibat dalam kegiatan ekstrakurikuler: Membimbing siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler untuk mengembangkan bakat dan minat mereka.

3. Pengembangan Diri:

- Mengikuti pelatihan dan workshop: Meningkatkan keterampilan mengajar dan pengetahuan tentang berbagai metode pembelajaran terbaru.

- Membaca buku dan artikel tentang pendidikan: Memperkaya pengetahuan dan wawasan tentang dunia pendidikan.

- Bergabung dengan komunitas guru: Berbagi pengalaman dan belajar dari guru-guru lain.

- Mengikuti perkembangan teknologi pendidikan: Memahami dan memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

4. Membangun Motivasi dan Semangat:

- Memiliki passion untuk mengajar: Mencintai dunia pendidikan dan memiliki keinginan yang kuat untuk membantu siswa belajar dan berkembang.

- Memiliki komitmen yang tinggi: Bersedia bekerja keras dan dedikasi tinggi untuk profesi guru.

- Memiliki sikap optimis dan pantang menyerah: Menghadapi berbagai tantangan dalam mengajar dengan semangat dan optimisme.

- Memiliki rasa cinta dan kasih sayang terhadap anak-anak: Menyayangi dan menghargai setiap siswa sebagai individu yang unik.

5. Mempersiapkan Mental dan Fisik:

(21)

- Menjaga kesehatan fisik dan mental: Memiliki stamina yang baik untuk menghadapi aktivitas mengajar yang padat.

- Mengelola stres dengan baik: Memiliki kemampuan untuk mengatasi stres dan tekanan pekerjaan.

- Memiliki keseimbangan antara kehidupan pribadi dan profesional: Menjaga waktu untuk keluarga dan diri sendiri.

- Persiapan menjadi guru merupakan sebuah proses yang berkelanjutan. Guru yang baik tidak hanya memiliki pengetahuan dan keterampilan yang mumpuni, tetapi juga memiliki passion, dedikasi, dan semangat untuk terus belajar dan berkembang.

Materi 2 : Manajemen Sekolah - Asril Novian Alifi

Tujuan Manajemen : * Mengelola produk dan * Customer > user : murid & buyer : wali murid Prinsip-prinsip manajemen sekolah

♡ Prinsip ekuifinalitas (terdapat cara yg berbeda utk mencapai tujuan, menekan fleksibilitas dalam pengelolaan dan disesuaikan dengan kondisi)

♡ Prinsip pengelolaan mandiri (Dalam pemecahan masalah, sekolah harus bisa menyelesaikan dengan caranya sendiri)

♡ Prinsip inisiatif manusia (manusia bukanlah makhluk statis, tetapi dinamis) Yang harus dihindari dalam pembentukan RAK/menginisiasi program sekolah :

♡ Sekolah merasa terbebani

♡ Sekolah merasa sulit melakukan

♡ Sekolah harus mengeluarkan biaya banyak.

Program sekolah yang berpihak pada murid :

♡ Program peningkatan kualitas KBM

 Asesmen awal pembelajaran, Outing class (seperti masjid, sawah, pasar, dsb), guru tamu (warga yang memiliki profesi khusus selain guru dan dapat mengajarkan mengenai profesinya ke siswa), pengadaan media pembelajaran kreatif (penggunaan bahan daur ulang), peningkatan kompetensi guru (pelatihan, mentoring, supervisi guru).

♡ Program penunjang praktik baik sekolah

 Kegiatan literasi (kamus dinding. Siswa yg menemukan kata" baru bisa menuliskan kata tsb pada kamus dinding).

Standar Operasional Prosedur (SOP)

• Anak-anak sering tidak disiplin buka karena tidak mau, tapi tidak tahu & tidak mampu

• Buat SOP di tiap-tiap tempat/aktivitas di sekolah

• Latihkan kepada anak tentang SOP tsb

• Waktu yg tepat untuk melatih adalah saat MOS

• Usahakan dalam pembuatan SOP itu tidak banyak (maks. 5) dan bergambar, singkat, padat, jelas.

• SOP tidak hanya ditempel tapi juga dipraktekkan Program untuk wali murid :

• Pertemuan wali murid • Pelibatan dalam kegiatan sekolah

• Kunjungan ke rumah

Materi 3: Komunikasi dan Adaptasi Budaya - Wengki Ariando

(22)

Pengantar Komunikasi dan Adaptasi Budaya

✨ Pengirim pesan saluran penerima

✨ Pemecahan masalah

✨ Pengambilan keputusan Teori komunikasi dan adaptasi budaya

✨ Anxiety/Uncertainty Management Theory

✨ Uncertainty Reduction Theory

✨ Integratif Communication Theory

✨ Co-cultural theory

Adaptasi pada saat pindah ke tempat baru, Adaptasi di tempat kerja. Adaptasi di bisnis baru.

Common symptoms of culture shock

✨ anxiety, depression, loneliness

✨ being homesick

✨ disturbed sleep patterns

✨ poor time management The art of adaptation

✨ Meningkatkan rasa ingin tahu

✨ Fokuskan energi utk memahami

✨ Istirahat dan refleksi kan

✨ Jangan takut melakukan kesalahan

✨ Diskusikan dalam bentuk tukar pikiran To efektif work with gen Z

✨ Leverage teknologi

✨ Highlight tujuan dan dampak

✨ Fleksibel dan kesempatan yang beragam

✨ Kolaborasi dan kerja tim

✨ Umpan balik dan penolakan

Personal: permasalahan kesehatan & mental pribadi, konflik & dinamika kelompok, star syndrome, masalah kepercayaan diri, love affairs.

Fase sekolah:

Guru : datang terlambat dan sering tidak masuk kelas

Murid : menggunakan bahasa daerah/gaul yg sulit dimengerti

Orangtua & institusi : keasyikan dengan kegiatan sekolah dan lula administrasi program.

Masyarakat : lokasi penempatan tidak sesuai, tidak suka dengan manajemen sekolah, banyak masalah sosial lingkungan pada lingkungan sekolah dan isu tabu, oversharing, literasi masyarakat sekitar rendah.

Strategi dalam komunikasi dan adaptasi budaya

✨selalu berjiwa muda & idealis, pahami & terima keberadaan lingkungan baru, jadi pemain dalam tim, ganti kebiasaan.

(23)

Referensi

Dokumen terkait

dengan Learning Starts With a Question pada Pokok Materi Pengelolaan Lingkungan Terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas VII SMP Negeri 3 Sawit Boyolali Tahun Ajaran

Seorang guru memerlukan strategi penyampaian materi untuk mendesain kegiatan belajar mengajar yang dapat merangsang hasil belajar yang efektif dan efisien sesuai dengan

Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah terdapat Pengaruh Penggunaan Media Pembelajaran, Strategi Mengajar dengan Pendekatan Kontekstual, dan Pengelolaan Kelas

Dari hasil penelitian yang diperoleh dari uraian sebelumnya agar proses belajar mengajar Sejarah lebih efektif dan lebih memberikan hasil yang optimal bagi siswa, maka disarankan untuk