• Tidak ada hasil yang ditemukan

Redesain Interior Gedung Pertunjukan Cak Durasim Berbasis Teknologi dengan Pendekatan Modern Heritage

N/A
N/A
Ricky ubaidillah

Academic year: 2024

Membagikan "Redesain Interior Gedung Pertunjukan Cak Durasim Berbasis Teknologi dengan Pendekatan Modern Heritage"

Copied!
122
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS AKHIR – DI 234801

REDESAIN INTERIOR GEDUNG PERTUNJUKAN CAK DURASIM BERBASIS TEKNOLOGI DENGAN PENDEKATAN MODERN HERITAGE SEBAGAI PUSAT PELESTARIAN KESENIAN JAWA TIMUR

FAUZIYATUTS TSANIYAH PUTRI NRP 5029201046

Dosen Pembimbing

Dr. Mahendra Wardhana, S.T., M.T.

NIP 19720428 200312 1 001

Program Studi Sarjana

Departemen Desain Interior

Fakultas Desain Kreatif dan Bisnis Digital Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

2024

(2)

ii

TUGAS AKHIR – DI 234801

REDESAIN INTERIOR GEDUNG PERTUNJUKAN CAK DURASIM BERBASIS TEKNOLOGI DENGAN PENDEKATAN MODERN HERITAGE SEBAGAI PUSAT PELESTARIAN KESENIAN JAWA TIMUR

FAUZIYATUTS TSANIYAH PUTRI NRP 5029201046

Dosen Pembimbing

Dr. Mahendra Wardhana, S.T., M.T.

NIP 19720428 200312 1 001

Program Studi Sarjana

Departemen Desain Interior

Fakultas Desain Kreatif dan BIsnis Digital Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

2024

(3)

iii

FINAL PROJECT – DI 234801

REDESIGN INTERIOR OF THE CAK DURASIM PERFORMANCE BUILDING AS THE CENTER FOR PRESERVATION AND APPRECIATION OF EAST JAVANESE ARTS

FAUZIYATUTS TSANIYAH PUTRI NRP 5029201046

Dosen Pembimbing

Dr. Mahendra Wardhana, S.T., M.T.

NIP 19720428 200312 1 001

Undergraduate Program

Department of Interior Design

Faculty of Creative Design and Digital Business Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Surabaya 2024

(4)

REDESAIN INTERIOR GEDUNG PERTUNJUKAN CAK DURASIM BERBASIS TEKNOLOGI DENGAN PENDEKATAN MODERN HERITAGE SEBAGAI PUSAT

PELESTARIAN KESENIAN JAWA TIMUR

TUGAS AKHIR

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Desain pada Program Studi S-1 Departemen Desain Interior

Fakultas Desain Kreatif dan Bisnis Digital Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Oleh: FAUZIYATUTS TSANIYAH PUTRI NRP. 5029201046

Disetujui oleh Tim Penguji Tugas Akhir:

1. Dr. Mahendra Wardhana, S.T., M.T. Pembimbing

2. Aria Weny Anggraita, S.T., M.MT. Penguji

3. Ajeng Kusuma, S.Ds., M.Arch. Penguji

SA rer®®

(5)

REDESIGN THE INTERIOR OF THE CAK DURASIM PERFORMANCE BUILDING AS THE CENTER FOR PRESERVATION AND APPRECIATION OF EAST JAVANESE ARTS

FINAL PROJECT

Submitted to fulfill one of the requirements for obtaining a degree Bachelor of Design at Undergraduate Study Program of Interior Design

Department of Interior Design

Faculty of Faculty of Creative Design and Digital Business Institut Teknologi Sepuluh Nopember

By: FAUZIYATUTS TSANIYAH PUTRI NRP. 5029201046

Approved by Final Project Examiner Team:

1. Dr. Mahendra Wardhana, S.T.. M.T. Advisor 7%0 ...

2. Aria Weny Anggraita, S.T., M.MT. Examiner A S

3. Ajeng Kusuma, S.Ds., M.Arch. Examiner

SURABAYA |

\ i 2024 )

(6)

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama mahasiswa/NRP : Fauziyatuts Tsaniyah Putri / 5029201046 Program studi : Desain Interior

Dosen Pembimbing / NIP : Dr. Mahendra Wardhana, S.T., M.T./ 19720428 200312 1 001

dengan ini menyatakan bahwa Tugas Akhir dengan judul “Redesain Interior Gedung Pertunjukan Cak Durasim Berbasis Teknologi dengan Pendekatan Modern Heritage sebagai Pusat Pelestarian Kesenian Jawa Timur” adalah hasil karya sendiri, bersifat orisinal, dan ditulis dengan mengikuti kaidah penulisan ilmiah.

Bilamana di kemudian hari ditemukan ketidaksesuaian dengan pernyataan ini, maka saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

Surabaya, 29 Juli 2024 Mengetahui

Dosen Pembimbing Mahasiswa,

R

Dr. Mahendra Wardhana, S.T., M.T. Fauziyatuts Tsaniyah Putri

NIP. 19720428 200312 1 001 NRP. 5029201046

(7)

The undersigned below:

Name of student / NRP Department

Advisor / NIP

hereby declare that the Final Project with the title of “Redesign the Interior of The Cak Durasim Performance Building as The Center for Preservation and Appreciation of East Javanese Arts”

is the result of my own work, is original, and is written by following the rules of scientific writing.

If in the future there is a discrepancy with this statement, then I am willing to accept sanctions in accordance with the provisions that apply at Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

Acknowledged Advisor

Dr. Mahendra Wardhana, S.T., M.T.

NIP. 19720428 200312 1 001

Fauziyatuts Tsaniyah Putri / 5029201046 Interior Design

Dr. Mahendra Wardhana, S.T., M.T./ 19720428 200312 1 001

Surabaya, 29 July 2024 Student,

METERAI TEMPEL

0ALX 141419944

Fauziyatuts fsaniyah Putri NRP. 5029201046

(8)

v

ABSTRAK

REDESAIN INTERIOR GEDUNG PERTUNJUKAN CAK DURASIM BERBASIS TEKNOLOGI DENGAN PENDEKATAN MODERN HERITAGE SEBAGAI PUSAT

PELESTARIAN KESENIAN JAWA TIMUR

Nama Mahasiswa / NRP : Fauziyatuts Tsaniyah Putri / 5029201046 Departemen : Desain Interior FDKBD - ITS

Dosen Pembimbing : Dr. Mahendra Wardhana, S.T., M.T.

Abstrak

Gedung pertunjukan Cak Durasim yang terletak pada komplek Taman Budaya Jawa Timur merupakan perwujudan dari upaya untuk mewadahi pelestasian seni dan budaya Jawa Timur. Gedung Cak Durasim merupakan ruang publik yang berfungsi sebagai tempat wisata sekaligus pusat pengkajian dan pengembangan kesenian di Jawa Timur. Namun dengan adanya kemajuan teknologi maka masyarakat lebih condong terhadap modernisasi dan juga berdampak kepada perubahan sikap dan minat masyarakat yang cenderung memilih tempat wisata yang modern. Oleh sebab itu, maka bagaimana cara untuk meningkatkan daya tarik dan minat masyarakat terhadap gedung pertunjukan Cak Durasim? bagaimana fasilitas gedung pertunjukan yang ideal untuk menunjang aktivitas pengunjung dan pelaku kesenian? sehingga perlu dilakukan perancangan untuk menghasilkan desain yang dapat meningkatkan kembali daya tarik dan minat berkunjung masyarakat dan memberikan fasilitas ideal untuk mewadahi aktivitas pengunjung dan pelaku kesenian. Metode yang digunakan dalam perancangan objek desain adalah metode design thinking. Perancangan ini menghasilkan desain dengan fasilitas yang ideal bagi pengunjung dan pelaku kesenian dengan penerapan konsep budaya yang dikemas secara modern dan penerapan teknologi untuk memberikan pengalaman imersif kepada pengunjung, sehingga dapat meningkatkan kembali minat masyarakat untuk melestarikan dan mengapresiasi kesenian budaya Jawa Timur.

Kata kunci: Cak Durasim, Gedung Pertunjukan, Teknologi, Modern Heritage.

(9)

vi

ABSTRACT

REDESIGN THE INTERIOR OF THE CAK DURASIM PERFORMANCE BUILDING AS THE CENTER FOR PRESERVATION AND APPRECIATION OF

EAST JAVANESE ARTS

Student Name / NRP : Fauziyatuts Tsaniyah Putri / 5029201046 Department : Interior Design FDKBD - ITS

Advisor : Dr. Mahendra Wardhana, S.T., M.T.

Abstract

The Cak Durasim performance building located in the East Java Cultural Park complex is the embodiment of efforts to accommodate the preservation of East Javanese arts and culture.

Cak Durasim Building is a public space that functions as a tourist attraction as well as a center for the study and development of arts in East Java. However, with the advancement of technology, people are more inclined towards modernization and also have an impact on changing attitudes and interests of people who tend to choose modern tourist attractions.

Therefore, how to increase the attractiveness and public interest in the Cak Durasim performance building? how is the ideal performance building facility to support the activities of visitors and performers? so it is necessary to design to produce a design that can increase the attractiveness and interest of visiting the community and provide ideal facilities to accommodate the activities of visitors and artists. The method used in the design of the design object is the design thinking method. This design produces a design with ideal facilities for visitors and artists with the application of cultural concepts that are packaged in a modern way and the application of technology to provide immersive experiences to visitors, so as to increase public interest in preserving and appreciating East Javanese cultural arts.

Keywords: Cak Durasim, Performance Building, Technology, Modern Heritage.

(10)

vii

KATA PENGANTAR

Tiada kata yang dapat mewakili perasaan penulis kecuali rasa syukur. Puji syukur diucapkan kehadirat Allah Swt. atas segala rahmat-Nya penulis dapat menyusun laporan tugas akhir yang berjudul “Redesain Interior Gedung Pertunjukan Cak Durasim Berbasis Teknologi dengan Pendekatan Modern Heritage sebagai Pusat Pelestarian Kesenian Jawa Timur” dengan baik dan terselesaikan tepat waktu. Laporan tugas akhir ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Desain dari Departemen Desain Interior, Fakultas Desain Kreatif dan Bisnis Digital, Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Dalam penyusunan laporan tugas akhir ini, tentu tak lepas dari dukungan dan bimbingan dari berbagai pihak. Maka penulis ucapkan rasa hormat dan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu. Pihak-pihak yang terkait di antaranya sebagai berikut:

1. Bapak Dr. Mahendra Wardhana,S.T., M.T. selaku Kepala Departemen Desain Interior ITS dan dosen pembimbing penulis yang telah memberikan wawasan dan ilmu yang bermanfaat serta membimbing penulis selama menyelesaikan Tugas Akhir.

2. Ibu Aria Weny Anggraita, S.T., M.MT. dan Ibu Ajeng Kusuma, S.Ds., M.Arch. selaku dosen penguji yang telah memberikan saran dan masukan yang membangun bagi penulis selama pelaksanaan tugas akhir.

3. Bapak-Ibu dosen serta karyawan di Departemen Desain Interior yang telah banyak membantu penulis selama menempuh perkuliahan.

4. Ayah, Ibu, Mas Eka, Mbak Wikan, dan Icha yang selalu memberikan dukungan dan kepercayaan serta mendoakan kelancaran penulis selama menempuh pendidikan di Departemen Desain Interior ITS.

5. Teman-teman seperjuangan Departemen Desain Interior ITS angkatan 2020. Terutama Kesi, Citra, Karisma, Anggit, Ida, Bri, Bela, dan Alifia terima kasih sudah berkenan menemani, menghibur, serta memberikan pengalaman yang menyenangkan selama perkuliahan penulis selama masa perkuliahan.

6. Teman-teman Alumni BIC MAN 1 Jember, atas dukungannya kepada penulis.

7. Hani, Icha, Tria, Rifa, Ilma, Arin dan Bakdi yang selalu memberikan dukungan dan doa, serta membantu penulis dalam kelancaran penyusunan laporan tugas akhir ini

8. Serta semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang juga telah memberikan bantuan kepada penulis selama perkuliahan maupun pengerjaan Tugas Akhir.

Dengan ini laporan tugas akhir yang telah penulis susun diharapkan dapat memberikan manfaat kepada semua pihak. Namun, penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan dan penulis terbuka dengan segala kritik dan saran yang diberikan agar penulis dapat lebih berkembang menjadi lebih baik lagi kedepannya. Semoga laporan tugas akhir yang telah penulis susun ini dapat dijadikan referensi untuk perangcangan lainnya.

Surabaya, Juli 2024

Penulis

(11)

viii

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ... i

APPROVAL SHEET ... ii

PERNYATAAN ORISINALITAS ...iii

STATEMENT OF ORIGINALITY ... iv

ABSTRAK ... v

ABSTRACT ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ...viii

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR TABEL ... xii

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

1.1 LATARBELAKANG ... 1

1.2 RUMUSANMASALAH ... 1

1.3 BATASANMASALAH ... 2

1.4 TUJUAN ... 2

1.5 MANFAAT ... 2

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 3

2.1 PERANTAMANBUDAYA ... 3

2.2 SENIPERTUNJUKAN ... 3

2.2.1 Jenis-Jenis Seni Pertunjukan ... 3

2.2.2 Seni Pertunjukan Jawa Timur ... 4

2.3 STUDIGEDUNGPERTUNJUKAN ... 4

2.3.1 Persyaratan Gedung Pertunjukan ... 5

2.4 TEKNOLOGIPADAGEDUNGPERTUNJUKAN ... 10

2.4.1 Pencahayaan ... 10

2.4.2 Surround Sound ... 10

2.5 MODERNHERITAGE ... 12

2.5.1 Konsep Heritage ... 12

2.5.2 Desain Modern ... 12

2.6 STUDIEKSISTING ... 12

2.6.1 Komplek Taman Budaya Jawa Timur ... 12

2.6.2 Gedung pertunjukan Cak Durasim ... 13

2.6.3 Lokasi dan Site plan ... 14

2.7 KAJIANANTROPOMETRI ... 15

2.8 STUDIPEMBANDING ... 17

2.8.1 Gedung Kesenian Jakarta ... 17

2.8.2 Gedung Radjawali Semarang Cultural Center ... 18

2.8.3 Auditorium Theatre, Chicago ... 18

2.8.4 Imperial Theatre, Saint John ... 19

BAB 3 METODOLOGI... 21

3.1 METODEDESAIN ... 21

3.2 TAHAPANPROSESDESAIN ... 22

3.2.1 Pengumpulan Data ... 22

3.2.2 Understanding ... 22

3.2.3 Empathize ... 23

3.2.4 Define... 23

3.2.5 Ideate ... 23

(12)

ix

3.2.6 Prototype ... 23

3.2.7 Test... 23

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN ... 25

4.1 ANALISISDATA ... 25

4.1.1 Analisis Data Hasil Observasi ... 25

4.1.2 Analisis Data Hasil Wawancara ... 27

4.1.3 Problems and Goals ... 31

4.1.4 Value Proposition ... 32

4.2 KONSEPDESAIN ... 35

4.2.1 Konsep Makro ... 35

4.2.2 Konsep Mikro ... 36

4.2.3 Deformasi Corak Kebudayaan Jawa Timur ... 37

4.3 VALIDASIDESAIN ... 39

4.3.1 Concept Testing 1 ... 39

4.3.2 Concept Testing 2 ... 41

4.4 DESAINAKHIR ... 43

4.4.1 Layout dan Sirkulasi ... 43

4.4.2 Implemantasi Desain Ruang Terpilih ... 43

4.4.3 Penerapan Sistem Akustik ... 47

4.4.4 Penerapan Teknologi ... 48

4.4.5 Gambar Perspektif ... 49

4.5 VALIDASIAKHIR ... 50

BAB 5 PENUTUP ... 53

5.1 KESIMPULAN ... 53

5.2 SARAN ... 53

DAFTAR PUSTAKA ... 55

LAMPIRAN ... 57

BIODATA PENULIS ... 107

(13)

x

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2. 1 Jarak Antar Kursi ... 6

Gambar 2. 2 Letak Pintu Keluar ... 6

Gambar 2. 3 Ketinggian Kursi Penonton ... 6

Gambar 2. 4 Metode Mendapatkan Garis Pandang ... 7

Gambar 2. 5 Langit-Langit Pemantul ... 7

Gambar 2. 6 Pemantulan bunyi dari bentuk permukaan yang berbeda ... 8

Gambar 2. 7 Ground Control Follow Spot System ... 10

Gambar 2. 8 Surround Sound System... 11

Gambar 2. 9 Layout Eksisting Gedung Cak Durasim ... 14

Gambar 2. 10 Site plan Komplek Taman Budaya Jawa Timur ... 14

Gambar 2. 11 Antropometri Ketinggian Antar Baris Tempat Duduk Penonton ... 15

Gambar 2. 12 Antropometri Ukuran Tempat Duduk Penonton ... 15

Gambar 2. 13 Antropometri Area Resepsionis ... 15

Gambar 2. 14 Antropometri Sofa Pria dan Wanita ... 16

Gambar 2. 15 Antropometri Jarak Antar Sofa yang Berhadapan ... 16

Gambar 2. 16 Antropometri Meja Rias ... 16

Gambar 2. 17 Antropometri Meja Bar ... 17

Gambar 2. 18 Studi Pembanding 1 ... 17

Gambar 2. 19 Studi Pembanding 2 ... 18

Gambar 2. 20 Studi Pembanding 3 ... 18

Gambar 2. 21 Studi Pembanding 4 ... 19

Gambar 2. 22 Proses Deformasi Modul 1 ... 38

Gambar 2. 23 Modul 1 ... 38

Gambar 2. 24 Komposisi Modul 1 ... 38

Gambar 2. 25 Proses Deformasi Modul 2 ... 39

Gambar 2. 26 Modul 2 ... 39

Gambar 2. 27 Komposisi Modul 2 ... 39

Gambar 3. 1 Metodologi Desain ... 21

Gambar 4. 1 User Persona Pengguna 1 ... 27

Gambar 4. 2 User Persona Pengguna 2 ... 28

Gambar 4. 3 User Persona Pengguna 3 ... 28

Gambar 4. 4 Emphaty Map Pengguna 1 ... 29

Gambar 4. 5 Empathy Map Pengguna 2 ... 29

Gambar 4. 6 Empathy Map Pengguna 3 ... 30

Gambar 4. 7 User Journey Map Pengguna ... 31

Gambar 4. 8 Dote Vote ... 31

Gambar 4. 9 Decision Matrix ... 32

Gambar 4. 10 Value Proposition ... 33

Gambar 4. 11 Bubble Diagram dan Value Proposition Map ... 34

Gambar 4. 12 Bubble Diagram dan Value Proposition Map ... 34

Gambar 4. 13 Tree Method ... 35

Gambar 4. 14 (a) Karpet Motif Gajah Oling; (b) Marble Tile; (c) Tegel Geometris ... 36

(14)

xi Gambar 4. 15 (a) Permainan Tekstur Wall Panel; (b) Wall Panel Kayu Tekstur Geometris; (c)

Material Steel pada Dinding; (d) Wall Moulding Indische empire ... 36

Gambar 4. 16 (a) Plafon Auditorium Cembung; (b) Plafon Gypsum dengan Lis Profil ... 37

Gambar 4. 17 Signage dan Elemen Estetis Perancangan Gedung Cak Durasim ... 37

Gambar 4. 18 Layout Ruang Pertunjukan Alternatif Satu ... 40

Gambar 4. 19 Gambar Perspektif Pengembangan Ruang pertujukan ... 42

Gambar 4. 20 Pengembangan Layout ... 43

Gambar 4. 21 Sirkulasi Gerak ... 43

Gambar 4. 22 Logo Branding Cak Durasim ... 44

Gambar 4. 23 Desain Furnitur ... 44

Gambar 4. 24 Treatment Dinding ... 45

Gambar 4. 25 Treatment Lantai ... 45

Gambar 4. 26 Detail Treatment Lantai ... 46

Gambar 4. 27 Desain Plafon ... 46

Gambar 4. 28 Desain Signage ... 46

Gambar 4. 29 Penerapan Sistem Akustik... 47

Gambar 4. 30 Penerapan Akustik dan Standar Ruang Pertunjukan ... 47

Gambar 4. 31 Penerapan Video Mapping ... 48

Gambar 4. 32 Penerapan Surround Sound ... 48

Gambar 4. 33 Gambar Perspektif Ruang Pertunjukan ... 49

Gambar 4. 34 Detail Gambar Perspektif Ruang Pertunjukan ... 49

Gambar 4. 35 Gambar Perspektif Ruang Pertunjukan dengan Video Mapping... 50

(15)

xii

DAFTAR TABEL

Tabel 4. 1 Analisis Eksisting Lantai 1 Gedung Cak Durasim ... 25

Tabel 4. 2 Hasil Concept Testing 1 ... 41

Tabel 4. 3 Hasil Concept Testing 2 ... 42

Tabel 4. 4 Hasil Validasi Desain Akhir ... 50

(16)

1

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Indonesia dikenal sebagai negara dengan kekayaan dan keanekaragaman budaya yang beragam. Kebudayaan tersebut tentunya memiliki keunikan dan khas tersendiri sesuai dengan daerahnya masing-masing. Beragamnya budaya di Indonesia menjadi sebuah kebanggaan sekaligus tantangan untuk melestarikan agar dapat terus diwariskan kepada generasi selanjutnya. Namun perkembangan zaman dan globalisasi berdampak kepada perubahan sikap dan minat masyarakat kepada budaya tradisional, sehingga dapat menjadi tantangan pelestarian budaya tradisional. Karena pelestarian budaya tradisional bergantung pada sikap dan perilaku dari masyarakat (Firdausiyah, 2016).

Kebudayaan erat kaitannya dengan kesenian, hubungan keduanya mengacu kepada nilai estetika yang lahir dari ekspresi rasa manusia, sehingga salah satu cara untuk melestarikan budaya tradisional adalah dengan melestarikan kesenian daerah. Pelestarian seni dan budaya ini juga dapat mewujudkan tujuan SDGs SDGs nomor 11 tentang “Kota dan pemukiman yang berkelanjutan” dengan target nomor 11.4 yakni “Mempromosikan dan menjaga warisan budaya dunia” (Bappenas, n.d.). Dalam upaya menjaga warisan budaya tersebut, Indonesia sudah memiliki wadah untuk pelestasian seni dan budaya yang diwujudkan dalam bentuk taman budaya sebagai pusat kebudayaan dan kesenian masing-masing daerah, salah satu contohnya adalah UPT Taman Budaya Jawa Timur. Taman Budaya Jawa Timur (TBJT) merupakan ruang publik yang berfungsi sebagai tempat wisata sekaligus pusat pengkajian dan pengembangan kesenian di Jawa Timur. TBJT juga dikenal sebagai wadah bagi pelaku dan penikmat kesenian untuk terus mengembangkan dan mengapresiasi kesenian Jawa Timur mulai dari seni rupa, tari, musik, hingga seni pertunjukan.

Pada komplek TBJT terdapat beberapa area dan gedung, salah satunya adalah gedung Cak Durasim, yakni gedung pertunjukan yang multifungsi untuk pagelaran tari, musik, dan teater. Bahkan gedung Cak Durasim menjadi pusat penyelenggaraan kesenian dari berbagai daerah di Jawa Timur. Namun mayoritas pengunjung gedung Cak Durasim adalah kalangan pemerhati seni. Di era globalisasi ini perkembangan teknologi akan semakin maju, sehingga dapat mendorong masyarakat pada modernisasi. Hal tersebut menyebabkan minat masyarakat lebih condong kepada tempat wisata dengan fasilitas yang memadai serta desain yang modern.

Oleh sebab itu, redesain gedung Cak Durasim perlu dilakukan menarik perhatian pengunjung dari berbagai lapisan masyarakat dengan cara memberikan fasilitas yang dapat mewadahi aktivitas pengunjung dan pelaku kesenian yang ada dengan tampilan desain yang modern, namun tetap dapat merepresentasikan budaya dan kesenian Jawa Timur sebagai bentuk pelestarian warisan budaya.

1.2 RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimana meningkatkan daya tarik dan minat masyarakat terhadap gedung pertunjukan Cak Durasim?

2. Bagaimana fasilitas gedung pertunjukan yang ideal?

a. Menunjang aktivitas pengunjung

b. Menunjang aktivitas dan kebutuhan pelaku seni pertunjukan?

(17)

2

1.3 BATASAN MASALAH

1. Desain menyesuaikan dengan keadaan eksisting dan tidak merubah struktur utama dan bentuk bangunan.

2. Redesain dilakukan pada gedung Cak Durasim pada komplek Taman Budaya Jawa Timur yang difokuskan merupakan ruang pertunjukan.

1.4 TUJUAN

1. Menghasilkan desain yang dapat meningkatkan daya tarik dan minat berkunjung masyarakat pada gedung pertunjukan Cak Durasim.

2. Menciptakan fasilitas pertunjukan yang ideal untuk menunjang aktivitas pengunjung dan pelaku kesenian.

1.5 MANFAAT

1. Bagi Mahasiswa

Tugas akhir ini sebagai sarana pengaplikasian ilmu yang telah diperoleh selama menempuh pendidikan di Departemen Desain Interior Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

2. Bagi Institusi

Diharapkan dapat menjadi salah satu referensi desain interior gedung bagi pihak UPT Taman Budaya Jawa Timur untuk kedepannya.

3. Manfaat Akademis

Hasil dari tugas akhir perancangan desain interior ini dapat dijadikan sumber referensi dan inspirasi dalam pengembangan gedung pertunjukan daerah lainnya. Selain itu, hasil tugas akhir ini dapat memberikan wawasan dan pengetahuan tambahan dalam bidang desain interior, baik bagi mahasiswa desain interior maupun pihak lain yang membutuhkan.

(18)

3

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 PERAN TAMAN BUDAYA

Kelahiran Taman Budaya merupakan sebuah kebijakan Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada tahun 1970an. Direktur Jenderal Kebudayaan waktu itu, Prof. DR Ida Bagus Mantra, menyaksikan bahwa pada negara- negara lain pusat-pusat kebudayaan dan kesenian begitu hidup dan berkembang dengan pesat.

Fasilitas yang mendukungnya sedemikian bagus seperti gedung pertunjukan, galeri seni rupa, teater terbuka, dan ruangan lokakarya yang sangat terpadu. Hal tersebut menginspirasi pemikiran beliau tentang pentingnya pusat kebudayaan dan kesenian untuk didirikan di setiap povinsi di Indonesia. Sekurangnya pusat-pusat kebudayaan itu dapat menjadi wadah bagi kekayaan ragam seni budaya daerah yang ada di Indonesia (cakdurasim.com, 2019).

Taman Budaya (TB) diidentikkan dengan “Art Center” pada setiap provinsi sebagai ruang publik dan ruang penyajian konservasi seni dan budaya. Peran Taman Budaya sebagai ruang penyajian konservasi seni dan budaya, adalah agar masyarakat dapat mengetahui tentang kekayaan jenis-jenis seni tradisi yang dimiliki oleh suatu daerah. Dalam hal ini, penyajian karya-karya konservasi ini juga kuat hubungannya dengan konsep proses pencarian nilai-nilai baru yang berhubungan dengan sistem nilai tradisi. Dengan kata lain, karya-karya baru seni budaya dalam berbagai disiplin itu diharapkan berangkat dari ruang sejarah sosial lingkungan masyarakatnya melalui pemahaman, pelacakan dan riset-riset seni tradisi (HD, 2021).

Salah satu Taman Budaya yang ada di Indonesia adalah Taman Budaya Jawa Timur (TBJT), yang mulai aktif kembali pada tahun 2011. Sebagai arts center, TBJT memiliki Pergelaran periodik yang dijadwalkan sepanjang tahun meliputi pagelaran Ludruk, Wayang Kulit, Seni Musik, dan Apresiasi Seni Pakeliran serta Gelar Seni Budaya Daerah, bahkan juga Diskusi Seni Budaya (cakdurasim.com, 2019). Peran dan fungsi TBJT diatur dalam Peraturan Gubernur (PERGUB) Provinsi Jawa Timur Nomor 46 Tahun 2018 Pasal 11, yakni:

a. Pelaksanaan penyusunan perencanaan program dan kegiatan UPT;

b. Pelaksanaan dokumentasi, publikasi dan penyajian seni budaya;

c. Pelaksanaan peningkatan apresiasi seni budaya lingkup UPT;

d. Pelaksanaan kurasi dan penyajian seni budaya;

e. Pelaksanaan ketatausahaan, pengelolaan aset dan pelayanan masyarakat;

f. Pelaksanaan monitoring, evaluasi dan pelaporan;

g. Pelaksanaan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas.

2.2 SENI PERTUNJUKAN

Seni pertunjukan merupakan sebuah karya seni yang melibatkan empat unsur, yakni waktu, ruang, penampil, dan hubungan antara penampil dan penonton. Dalam sebuah pertunjukan terjadi sebuah hubungan interaksi anatara penampil dan penonton, penampil menginterpretasikan materi kepada penonton dalam bentuk tutur kata, ekspresi, gerakan tubuh, tarian, dan musik,

2.2.1 Jenis-Jenis Seni Pertunjukan

Berdasarkan dari unsurnya, seni pertunjukan dikelompokkan menjadi tiga jenis, yakni seni tari, seni musik, dan seni teater, dengan pemahaman bahwa ketiganya bergerak dalam eskperimen artistik yang variatif dan dikategorikan dalam genre tradisional dan modern kontemporer.

(19)

4

2.2.1.1 Seni Tari

Seni tari merupakan seni yang mengutamakan gerakan indah dari tubuh manusia yang diiringi dengan irama musik. Gerakan-gerakan yang dihasilkan memiliki makna dan pesan tertentu yang ingin disampaikan kepada penonton sebagai sarana hiburan yang menjadi sebuah praktik budaya salam masyarakat.

2.2.1.2 Seni Musik

Seni musik dihasilkan dari sebuah ekspresi diri manusia yang timbul dari pikiran dan perasaan yang kemudian disusun dalam bentuk nada, irama, melodi, dan harmoni. Dalam pelaksanaannya seni musik dapat menggunakan alat musik atau alat-alat lainnya yang dapat menghasilkan bunyi.

2.2.1.3 Seni Teater

Dalam pengertian aktivitas seni, teater merupakan seni peran yang menggambarkan sebuah kisah melalui olah tubuh, suara, rasa dan ruang. Seni teater terbagi menjadi dua jenis, yakni teater tradisional atau teater yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia seperti wayang, ludruk, lenong, ketoprak dan sebagainya. Kemudian ada juga teater modern yang penyampaian ceritanya berasal dari kejadian sehari-hari, contoh teater modern adalah drama, sinetron, film, dan sebagainya.

2.2.2 Seni Pertunjukan Jawa Timur a. Pertunjukan Tari Jawa Timur

Jawa timur memiliki berbagai seni pertunjukan tari tradisional, tarian tersebut selain sebagai hiburan masyarakat namun juga dapat berfungsi sebagai bentuk apresiasi dan pelestarian tradisi. Pertunjukan tari ini biasanya digelar pada acara atau momen tertentu. Contoh pertunjukan tari khas Jawa Timur adalah, Reog Ponorogo (asal Ponorogo), Jejer Gandrung (asal Banyuwangi), Tari Remo (asal Jombang), Tari topeng Guro Gudho, dan sebagainya.

b. Pertunjukan Musik Jawa Timur

Pertunjukan musik Jawa Timur sudah menjadi budaya masyarakat di setiap daerahnya. Pertunjukan seni musik ini memiliki fungsi sebagai pengiring pagelaran tari dan teater, namun tak jarang pula pertunjukan musik yang digelar pada momen penting lainnya. Contoh pertunjukan musik Jawa Timur adalah Gamelan, Karawitan, Gedongan, Bheru, dan sebagainya.

c. Pertunjukan teater Jawa Timur

Jawa Timur juga memiliki seni pertunjukan teater tradisional yang beragam, seperti Ludruk, Jemblung, Wayang Topeng, Topeng Dhalang, Jek Dong, dan sebagainya. Seni teater tersebut biasanya menceritakan tentang kehidupan masyarakat sehari-hari maupun cerita wayang yang dipengaruhi budaya india.

Perbedaan seni teater Jawa Timur dengan daerah lainnya adalah terletak pada corak wayang atau kostum yang dipakai dan tata bahasa khas Jawa Timuran.

2.3 STUDI GEDUNG PERTUNJUKAN

Dengan adanya berbagai jenis kesenian pertunjukan maka diperlukannya fasilitas untuk mewadahi kegiatan tersebut. Gedung pertunjukan merupakan fasilitas yang dipergunakan sebagai tempat pagelaran pertunjukan, baik seni tari, musik maupun teater. Oleh karena itu, persyaratan ruang pada gedung pertunjukan harus dipenuhi sesuai dengan fungsinya, agar pesan

(20)

5 yang disampaikan pelaku seni dapat tertangkap dengan baik sehingga tercapai sebuah kualitas pertunjukan yang optimal dan menimbulkan kepuasan bagi penikmatnya (Narita, 2014).

2.3.1 Persyaratan Gedung Pertunjukan 2.3.1.1 Tata Ruang

Bentuk ruang teater dan susunan kursi mempengaruhi terhadap kualitas suara yang didistribusikan kepada penonton.

a. Persegi

Bentuk ruang persegi paling umum diterapkan. Keuntungannya bentuk ruang persegi adalah dapat menghasilkan suara yang seragam dan tidak menghasilkan gema. Namun kekurangannya adalah jarak penonton dan panggung cukup jauh sehingga penonton tidak dapat mendengar sumber suara dan melihat panggung dengan baik. Namun hal tersebut dapat diatasi dengan penyesuaian jarak antara panggung dan penonton, serta pengaplikasian Treatment plafon pantul sehingga suara dapat terdistribusikan dengan rata.

b. Tapal Kuda

Bentuk ruangan jenis ini biasa digunakan untuk ruang opera. Bunyi dapat diserap secara efisien, karena jarak penonton dengan panggung tidak terlalu jauh.

Kelemahannya adalah bagian lengkung pada area penonton menyebabkan suara yang diserap akan menjadi terlalu tinggi sehingga bunyi yang dihasilkan tidak terdistribusi secara merata.

c. Hexagonal

Bentuk ruangan hexagonal dapat mendekatkan jarak kursi penonton dengan panggung. Keuntungannya adalah dengan adanya area dinding ruangan dibuat bersegi-segi dapat menghasilkan pemantulan bunyi yang efektif. Energi bunyi juga dapat didistribusikan secara merata ke seluruh ruangan.

d. Kipas

Bentuk ruangan kipas menampung kursi penonton lebih banyak dengan sudut pandang yang optimal. Namun, kelemahannya terdapat pada akustiknya yang disebaabkan oleh bentuk dinding bagian samping yang melebar ke belakang sehingga memungkinkan terjadinya gema dan bunyi yang dihasilkan tidak seragam.

Menurut penelitian yang dilakukan (Utami et al., 2022), menunjukkan analisis bahwa bentuk teater yang paling fleksibel dan mudah untuk digunakan dari berbagai jenis pertunjukkan seni tari, teater dan seni musik adalah bentuk panggung persegi dan bentuk heksagonal. Analisis tersebut disesuaikan dengan kaidah-kaidah ergonomi dan persyaratan akustik sehingga membuat penonton nyaman dan juga menikmati pertunjukan seni.

2.3.1.2 Tata Susunan Kursi

Luas kursi penonton dalam satu baris setidaknya diperlukan jarak ≥0,5 m2 untuk setiap kursinya. Kemudian untuk ruang sirkulasi setidaknya berjarak minimal 30-50 cm dan jarak antar baris kursi minimal sebesar 85 cm. Selain itu, penggunaan kursi lipat dapat memberikan sirkulasi gerak yang lebih bebas (Neufert, 2002).

(21)

6

Gambar 2. 1 Jarak Antar Kursi (Sumber: Neufert, 2002)

Pada setiap 3-4 baris kursi penonton harus tersedia pintu keluar darurat dengan lebar 1 m (Neufert, 2002).

Gambar 2. 2 Letak Pintu Keluar (Sumber: Neufert, 2002)

Ketinggian tempat duduk juga perlu diperhatikan. Tinggi tempat duduk terletak pada garis pandangan. Garis pandang berlaku untuk semua tempat duduk di ruang penonton dengan setiap baris membutuhkan ketinggian pandangan secara penuh sebesar 12 cm (Neufert, 2002).

Gambar 2. 3 Ketinggian Kursi Penonton (Sumber: Neufert, 2002)

(22)

7 2.3.1.3 Persyaratan Akustik

Penataan akustik pada ruangan merupakan sistem tata suara yang bertujuan untuk menghasilkan kualitas suara yang dapat dinikmati secara nyaman oleh semua pengguna di ruangan tersebut. Sistem tata suara yang baik merupakan indikator penting untuk menentukan keberhasilan suatu desain (Amalia Putri & Caisarina, 2020). Berikut ini adalah persyaratan yang baik dalam suatu gedung pertunjukan seni menurut (Doelle, 1972).

a. Loudness (Kekerasan)

Semakin jauh jarak penonton dengan sumber suara maka suara akan semakin melemah saat perambatan. Dalam memenuhi standar kekerasan yang optimal, berikut beberapa persyaratan yang perlu dipenuhi:

1. Memperpendek jarak agar penonton sedekat mungkin dengan sumber bunyi.

Jarak kursi penonton maksimal 20 m untuk suara yang optimal.

2. Menaikkan sumber bunyi agar terlihat oleh penonton sehingga gelombang bunyi dapat merambat secara langsung.

3. Lantai tempat duduk penonton dibuat landai dan miring, karena bunyi lebih mudah diserap bila merambat melewati penonton dengan sinar datang miring.

Persyaratan umum dengan pertimbangan keamanan, gradien kemiringan lantai penonton tidak boleh melebihi 1:8 atau 30°.

Gambar 2. 4 Metode Mendapatkan Garis Pandang (Sumber:Doelle, 1972)

4. Ruangan harus dilapisi dengan lapisan pemantul bunyi untuk memberikan energi bunyi pantul tambahan pada tiap bagian daerah penonton, terutama pada tempat-tempat duduk yang jauh.

Gambar 2. 5 Langit-Langit Pemantul (Sumber:Doelle, 1972)

(23)

8

5. Permukaan pemantul bunyi yang pararel (horizontal maupun vertical), terutama yang dekat sumber bunyi, harus dihindari, untuk menghilangkan pemantulan kembali yang tak diinginkan ke sumber bunyi.

6. Penonton harus berada di daerah penonton yang menguntungkan, baik dalam hal melihar maupun mendengar. Daerah tempat duduk yang sangat lebar harus dihindari.

7. Bila di samping sumber bunyi utama yang biasanya ditempatkan di bagian depan auditorium, terdapat bunyi tambahan di bagian lain ruang, maka sumber bunyi tambahan ini harus dikelilingi oleh permukaan pemantul bunyi.

8. Di samping permukaan pemantul yang berfungsi menguatkan bunyi langsung ke penonton, permukaan pemantul tambahan harus disediakan untuk mengaraahkan bunyi kembali ke pementas. Pemantul-pemantul bunyi yang ditempatkan dengan benar dapat menguatkan energi bunyi dan menciptakan suatu kondisi lingkungan yang dikenal sebagai space effect.

b. Pemantulan Bunyi

Pemantulan bunyi terjadi pada permukaan yang keras, tegar, dan rata seperti beton, bata, batu, plaster, dan sebagainya. Selain itu, permukaan pemantul cembung cenderung menyebarkan gelombang bunyi dan permukaan cekung cenderung mengumpulkan gelombang bunyi pantul dalam ruang. Dalam auditorium ukuran sedang dan besar, kondisi mendengar dapat banyak diperbaiki dengan penggunaan pemantul-pemantul bunyi yang besar yang ditempatkan di tempat yang sesuai.

Gambar 2. 6 Pemantulan bunyi dari bentuk permukaan yang berbeda (Sumber:Doelle, 1972)

c. Difusi Bunyi

Difusi bunyi merupakan kondisi suatu sumber bunyi dapat terdistribusi secara merata dari sisi bagian ruang sehingga dapat sampai kepada penonton. Hal penting yang harus diperhatikan untuk pengadaan difusi dalam ruang adalah menggunakan permukaan tak teratur (elemen-elemen bangunan yang ditonjolkan, langit-langit yang ditutup, dinding-dinding yang bergerigi, kotak-kotak yang menonjol, dekorasi permukaan yang dipahat, bukaan jendela yang dalam, dan lain-lain.) harus digunakan dengan ukuran yang cukup pada ruang-ruang dengan RT yang agak panjang untuk memperbaiki kondisi mendengar.

d. Pengendalian Dengung

Auditorium harus bereaksi terhadap bunyi yang dihasilkan agar bunyi yang ditimbulkan sumber tidak mati atau berkurang dengan cepat. Hal tersebut dapat dilakukan dengan meningkatkan dan memperpanjang bunyi asli. Perpanjangan

(24)

9 bunyi disebabkan oleh pemantulan berulang-ulang dalam ruang tertutup setelah sumber bunyi dimatikan disebut dengan dengung.

Waktu dengung (Reverberation Time) dapat dipengaruhi oleh luas dan jumlah elemen penyerap bunyi yang ada pada suatu ruangan. Bahwa semakin besar volume ruang, maka semakin panjang RT dan semakin banyak penyerapan dalam ruang, maka semakin pendek. Dalam sebuah auditorium, penonton melakukan penyerapan bunyi sekitar 0,45 m2 per orang. Apabila auditorium tidak penuh maka akan berpengaruh terhadap kondisi pendengaran, maka untuk mengganti hilangnya penyerapan yang berasal dari penonton adalah dengan menerapkan tempat duduk yang empuk dan bahan penyerap pada bagian bawah tempat duduk.

Sebagai aturan umum, bahan penyerap bunyi harus dipasang sepanjang permukaan batas auditorium yang mempunyai kemungkinan besar menghasilkan cacat akustik seperti gema, gaung, pemantulan yang berkepanjangan dan pemusatan bunyi.

e. Ruang Bebas Cacat Akustik

Cacat akustik merupakan kondisi suatu ruang auditorium yang tidak didesain dengan baik, sehingga menyebabkan munculnya permasalahan akustik yang dapat mengganggu keyamanan pengguna. Cacat akustik meliputi:

1. Gema

Gema merupakan bunyi yang dihasilkan karena adanya pantulan oleh suatu permukaan bidang pantul dan mengalami penundaan secara berulang-ulang, sehingga bunyi yang dihasilkan menjadi tidak seragam.

2. Pemantulan berkepanjangan

Pemantulan yang berkepanjangan merupakan cacat akustik yang sejenis dengan gema, tetapi penundaan waktu antara penerimaan bunyi langsung dan bunyi pantul lebih singkat.

3. Pemusatan bunyi

Pemusatan bunyi adalah cacat akustik yang disebabkan oleh pemantulan bunyi pada permukaan yang berbentuk cekung. Intensitas bunyi pada daerah tersebut menjadi sangat tinggi dan merugikan karena menyebabkan distribusi bunyi tidak merata.

4. Ruang Gandeng

Bila suatu auditorium dihubungkan dengan ruang disampingnya yang dengung, maka kedua ruang itu membentuk ruang gandeng. Selama rongga udara ruang yang bergandengan itu saling berhubungan, maka bunyi dengung yang masuk dari ruang tetangga ke dalam auditorium akan terasa, walaupun dengung dalam auditorium tersebut telah diatur dengan baik.

5. Serambi Bisikan

Frekuensi bunyi yang tinggi mempunyai kecenderungan untuk "merangkak"

sepanjang permukaan cekung yang besar, seperti kubah setcngah-bola. Suatu bisikan yang diucapkan di dekat kubah tersebut secara mengherankan akan terdengar pada sisi yang lain.

(25)

10

2.4 TEKNOLOGI PADA GEDUNG PERTUNJUKAN 2.4.1 Pencahayaan

Penataan peralatan pencahayaan dilakukan untuk mendukung kegiatan pementasan, berikut merupakan jenis-jenis lighting yang dapat digunakan dalam sebuah pementasan.

a. PAR (Parabolic Aluminized Reflector)

PAR digunakan untuk menembakkan beam/cahaya dan berperan untuk mengisi dan menghasilkan suasana pada ruangan.

b. Moving Head

Lighting ini memiliki motor yang dapat menggerakkan kepala lampu hingga 180 derajat untuk mengatur posisi, arah, dan kecepatan gerakan.

c. Follow Spot

Jenis lighting ini menghasilkan cahaya yang menyorot pada objek tertentu. Tujuannya adalah agar penonton dapat memberikan fokusnya kepada objek yang disorot. Untuk menggerakkan lampu jeni ini biasanya dilakukan secara manual oleh operator. Namun ada juga teknologi ground control follow spot system, sehingga alat dapat dikonrol melalui monitor dan tidak perlu berada pada ketinggian tertentu.

Gambar 2. 7 Ground Control Follow Spot System

(Sumber: https://prggear.com/product/prg-proprietary-ground-control-best-boy-hp-luminaire/ diakses pada 28 Maret 2023 pukul 20.00 WIB)

d. Lampu Sorot

Sesuai dengan namanya lampu ini berfungsi untuk memberikan pencahayaan terpusat pada area tertentu sehingga dapat memberikan sebuah aksen pada objek yang disorot.

e. Lampu Blitz

Strobo blitz digunakan untuk pencahayaan dekorasi lampu panggung. Lampu ini bersifat kedap kedip blitz sehingga dapat menghadirkan suasana yang semarak.

2.4.2 Surround Sound

Surround sound merupakan teknologi audio yang dirancang untuk menciptakan pengalaman mendengar yang lebih imersif dan realistis. Dalam sistem penerapannya audio diproduksi dari beberapa speaker yang diaplikasikan di sekitar pengguna, sehingga suara yang dihasilkan seperti berasal dari berbagai arah dan jarak yang berbeda.

(26)

11

Gambar 2. 8 Surround Sound System

(Sumber:https://lonelybrand.com/blog/wireless-surround-sound-guide/ diakses pada 28 Maret 2023 pukul 20.10 WIB)

a. 5.1 Surround Sound

Pengaturan ini adalah yang paling populer. Sistem ini menggunakan lima speaker yang ditempatkan secara strategis di seluruh ruangan untuk memberikan ilusi kebisingan di seluruh ruangan. Dua buah speaker ditempatkan di bagian depan ruangan menempel pada dinding kiri dan kanan. Satu unit penerima speaker ditempatkan di tengah ruangan dan dua speaker surround terakhir ditempatkan di dinding kiri dan kanan.

b. 7.1 Surround Sound

Pengaturan ini meningkatkan sistem surround 5.1 dengan dua speaker tengah tambahan yang ditempatkan di bagian belakang ruangan. Hal ini memungkinkan suara yang datang dari belakang menjadi lebih keras dan tajam. Speaker diletakkan pada sisi kanan dan satu lagi di sisi kiri, untuk menyempurnakan perangkat audio yang sudah ditempatkan secara strategis di seluruh ruangan.

2.4.2 Video Mapping

Video mapping merupakan salah satu perkembangan teknologi yang dapat dikategorikan dalam bidang kesenian. Video mapping diaplikasikan melalui proyektor yang memproyeksikan video pada objek 3D, mulai dari objek berukuran kecil hingga gedung dengan arsitektur bersejarah. Teknologi ini dimanfaatkan untuk karya seni, pertunjukan teater atau panggung, media interaktif, hingga arsitektur ruang kota.

Di masa sekarang masyarakat cukup tertarik dengan adanya pertunjukan video mapping. Pertunjukan yang digelar biasanya merupakan hasil kolaborasi dengan media seni lainnya, ataupun dapat menjadi sebuah pertunjukan yang berdiri sendiri. Video mapping berkembang menjadi salah satu media hiburan baru bagi masyarakat.

Berikut merupakan keunggulan dari teknologi video mapping:

1. Memberikan pengalaman imersif pada pengunjung dengan hasil proyeksi yang dihasilkan

2. Fleksibel karena bebas menentukan video dan tema yang akan diterapkan pada suatu kegiatan. Selain itu, ukuran video juga bebas dan dapat menyesuaikan bentuk objek proyeksinya.

3. Lebih efisien untuk menghemat waktu, tenaga, dan produksi karena tidak perlu mendekorasi seluruh permukaan backdrop pagelaran secara detail, karena hanya perlu memproyeksikan video.

(27)

12

2.5 MODERN HERITAGE 2.5.1 Konsep Heritage

Desain interior heritage memiliki arti pusaka budaya, baik berupa corak khas yang lahir dari tradisi budaya yang turun-temurun maupun hasil dari peristiwa bersejarah. Salah satu pusaka budaya yang lahir dari adanya peristiwa bersejarah merupakan bangunan dengan arsitektur kolonial Belanda. Gaya arsitektur kolonial Belanda berkembang menjadi tiga era (Purnomo et al., 2017):

1. Arsitektur Indische empire

Gaya ini diperkenalkan oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels dan populer pada periode tahun 1808-1811. Indische empire merupakan percampuraan kebudayaan Eropa, Indonesia, dan China. Gaya ini berkiblat pada Neoklasik Prancis atau gaya imperial. Ciri khas gaya indische empire adalah memiliki denah yang simetris, kolom bergaya Yunani, pemakaian kusen dan kaca belum banyak digunakan.

2. Arsitektur Kolonial Transisi

Setelah indische empire muncul gaya Kolonial Transisi pada periode yang cukup singkat yakni tahun 1890-1915. Disebut sebagai gaya transisi karena pada saat itu di Hindia Belanda sedang terjadi modernisasi sehingga banyak terjadi perubahan termasuk segi arsitekturnya. Ciri khas gaya adalah masih mengikuti gaya indische empire, simetri penuh, dalam upaya menghilangkan kolom gaya Yunani, menggunakan bevel-bevel khas Belanda.

3. Arsitektur Kolonial Modern

Gaya colonial modern memiliki ciri khas menghindari bentuk simetris, lebih mencerminkan “Form Follow Function” dan “Clean Design”, mulai menggunakan besi cor dan bahan kaca dalam jumlah besar, serta penggunaan warna putih yang dominan.

2.5.2 Desain Modern

Desain modern merupakan desain yang selalu mengikuti perkembangan jaman dan berkaitan dengan hidup modern masyarakat. Karakteristik desain interior modern meliputi penggunaan bentuk geometris dan minim ornamentasi, lebih mengedepankan fungsi dan efektivitas, penggunaan warna netral untuk memberikan kesan luas pada ruangan. Selain itu, desain interior modern juga mulai menerapkan teknologi maju untuk menyesuaikan sikap masyarakat pada era modern ini.

2.6 STUDI EKSISTING

2.6.1 Komplek Taman Budaya Jawa Timur

Taman Budaya Jawa Timur (TBJT) berfungsi sebagai Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kesenian di Jawa Timur yang dikenal sebagai ruang publik bagi berlangsungnya kegiatan seni dan budaya. Masyarakat mengenalnya sebagai tempat diselenggarakannya pergelaran kesenian di Gedung Cak Durasim, Pendopo Jayengrana, Galeri Prabangkara atau di bagian lain dalam kompleks Taman Budaya. Sebagian lagi mengenalnya sebagai tempat latihan menari, teater, musik, menggambar/melukis, pedalangan dan seni-seni lainnya.

Sejumlah sarana dan prasarana di TBJT sengaja menggunakan nama-nama tokoh seni tradisional, baik yang memang ada dalam sejarah, maupun hanya dikenal dalam

(28)

13 cerita rakyat. Cak Durasim misalnya, betul-betul tokoh ludruk legendaris yang memang pernah ada dalam sejarah. Namanya kemudian diabadikan menjadi nama gedung pertunjukan. Sedangkan beberapa fasilitas lainnya menggunakan nama tokoh dalam cerita rakyat bernama Sawunggaling, beserta nama-nama saudara, bahkan nama ibunya.

2.6.1.1 Visi dan Misi Taman Budaya Jawa Timur a. Visi

Terwujudnya Taman Budaya yang terpercaya dan terdepan dalam melestarikan, mengelola dan mengembangkan seni budaya di Jawa Timur.

b. Misi

1. Melestarikan dan mengembangkan seni-seni Jawa Timur secara adil dan berkesinambungan;

2. Mempromosikan potensi kesenian dan karya-karya seniman Jawa Timur melalui penyediaan sarana dan kegiatan yang apresiatif;

3. Memfasilitasi proses olah seni para seniman dan pelaku seni untuk berkaya yang lebih kreatif dan inofatif agar mampu bersaing;

4. Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia seniman dalam menghadapi berbagai tantangan di masyarakat;

5. Mengembangkan dan memperkuat jejaring berkesenian.

2.6.1.2 Fungsi dan Tujuan Taman Budaya Jawa Timur

Sejak awal tahun 2011 Taman Budaya Jawa Timur kembali memulai kiprahnya sebagai arts center dengan berbagai kegiatannya seputar pergelaran kesenian, pengkajian kesenian, apresiasi dan melakukan inventarisasi dan dokumentasi kesenian, sehingga menjadi alternatif tempat hiburan yang apresiatif dan edukatif bagi masyarakat umum.

Setelah melalui serangkaian perubahan tugas dan fungsi yang diatur melalaui Peraturan Gubernur, maka Taman Budaya mempunyai tugas dan fungsi sebagai berikut:

1. Pengumpulan, pengolahan, analisis data dan informasi, pelaksanaan dan evaluasi kegiatan pengembangan dan penyajian seni dan budaya.

2. Pelaksanaan seminar, sarasehan, diskusi, lokakarya, workshop dan peningkatan apresiasi seni dan budaya.

3. Pelaksanaan dokumentasi dan publlikasi kegiatan Taman Budaya 4. Pelaksanaan fasilitasi penyajian seni budaya.

5. Penyelenggaraan kerjasama presentasi karya seni.

6. Pelaksanaan ketatausahaan dan pelayanan masyarakat.

7. Pelaksanaan tugas-tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas.

2.6.2 Gedung pertunjukan Cak Durasim

Gedung Cak Durasim merupakan sebuah ruang pertunjukan yang memiliki panggung proscenium dan kapasitas penonton 600 kursi. Luas bangunan keseluruhan 29,5 x 47,5 meter. Gedung ini dapat digunakan untuk pertunjukan kesenian modern dan tradisi atau acara yang membutuhkan eksklusivitas lainnya.

Pada Gedung Cak Durasim terbagi menjadi ruang lobby dengan fasilitas loket tiket dan meja resepsionis, area tunggu dan pajangan koleksi plakat, café corner, serta toilet

(29)

14

umum dengan desain yang universal untuk pengunjung. Kemudian, terdapat ruang enterway yang menghubungkan antara lobby dengan ruang pertunjukan. Selain itu, enterway juga terhubung pada ruang VIP yang ditujukan untuk tamu khusus. Ruang selanjutnya adalah ruang pertunjukan yang dilengkapi pintu darurat pada bagian kanan dan kiri ruangan. Ruang khusus persiapan para pelaku seni juga disediakan pada area backstage meliputi ruang rias, ruang latihan, ruang persiapan, toilet, serta loading dock.

Gambar 2. 9 Layout Eksisting Gedung Cak Durasim (Sumber: Dokumen Penulis, 2023)

2.6.3 Lokasi dan Site plan

Gedung Cak Durasim terletak pada komplek Taman Budaya Jawa Timur (TBJT) yang berlokasi di Jl. Genteng Kali no 85, Surabaya, Indonesia 60275. Pada Gambar 2.4, Gedung Gak Durasim berada pada area berwarna biru.

Gambar 2. 10 Site plan Komplek Taman Budaya Jawa Timur (Sumber: Dokumen Penulis, 2023)

(30)

15 2.7 KAJIAN ANTROPOMETRI

Antropometri merupakan sebuah studi mengenai dimensi tubuh dengan lingkungannya.

Tujuan penerapan studi antropometri pada desain interior adalah untuk menciptakan sebuah desain yang ergonomis sehingga dapat menciptakan kenyamanan pada pengguna. Berikut kajian antropometri yang menjadi acuan untuk desain interior gedung pertunjukan.

a. Area Tempat Duduk Penonton

Gambar 2. 11 Antropometri Ketinggian Antar Baris Tempat Duduk Penonton (Sumber: Dimodifikasi dari Panero & Zelnik, 1979)

Dari data di atas didapatkan bahwa ketinggian (B) tiap baris tempat duduk penonton berukuran minimal 12.7 cm, angka tersebut didapat dari pengukuran ectocanthus (kornea mata sebelah luar) hingga bagian puncak kepala manusia (Panero & Zelnik, 1979).

Gambar 2. 12 Antropometri Ukuran Tempat Duduk Penonton (Sumber: Dimodifikasi dari Panero & Zelnik, 1979)

Dari data di atas ukuran kursi dengan lebar bahu (C) 50.8-66.0 cm dan lebar dudukan (D) sebesar 68.6-76.2 cm. Kemudian dengan jarak antar baris (E) sebesar 86.4-106.7 cm.

Meskipun jarak yang sering digunakan sebesar 81.3 cm, namun direkomendasikan untuk menggunakan ukuran sebesar 101.6 cm (Panero & Zelnik, 1979).

b. Area Resepsionis (Pembelian tiket dan informasi)

Gambar 2. 13 Antropometri Area Resepsionis (Sumber: Dimodifikasi dari Panero & Zelnik, 1979)

(31)

16

Hubungan antara permukaan kerja dengan ketinggian duduk merupakan sebuah pedoman kunci. Ukuran yang digunakan dalam pedoman area resepsionis meliputi lebar meja resepsionis (D) dengan rentang 55.9–76.2 cm; ketinggian kursi (F) dengan rentang 61.0-68.6 cm; ketinggian meja kerja (G) dengan rentang 91.4-99.1 cm; tinggi counter top (H) sebesar 20.3-22.9 cm (Panero & Zelnik, 1979).

c. Area Tunggu

Gambar 2. 14 Antropometri Sofa Pria dan Wanita (Sumber: Dimodifikasi dari Panero & Zelnik, 1979)

Dapat diketahui untuk lebar tubuh manusia persentil ke-95 maksimal berukuran 57,9 cm, belum perhitungan untuk pakaian yang digunakan. Oleh karena itu jarak per orang diberi kelonggaran hingga 66.0-71.1 cm, yakni ukuran 66.0 untuk jarak duduk wanita (H) dan jarak duduk untuk pria (D) dengan ukuran 71.1 cm (Panero & Zelnik, 1979).

Gambar 2. 15 Antropometri Jarak Antar Sofa yang Berhadapan (Sumber: Dimodifikasi dari Panero & Zelnik, 1979)

Selanjutnya pada gambar 2.15 dapat digunakan untuk acuan jarak antara sofa yang saling berhadapan. Jarak bersih (G) yang diberikan memiliki rentang minimal 76.2-91.4 cm.

d. Ruang Rias

Gambar 2. 16 Antropometri Meja Rias (Sumber: Dimodifikasi dari Panero & Zelnik, 1979)

(32)

17 Gambar 2.16 menjelaskan tentang jarak bersih (A) yang dibutuhkan antara meja rias dan bidang lainnya yakni sebesar 61.0-71.1 cm. Namun untuk mengakomodasi sirkulasi gerak disekitar area meja rias (E) maka rentang minimal yang dibutuhkan adalah 106.7- 116.8 cm(Panero & Zelnik, 1979). Kemudian berikut merupakan jarak-jarak lainnya yang dapat dijadikan pedoman dalam mendesain ruang rias, yakni untuk ketinggian meja rias (H) berukuran 71.1-76.2 cm; lebar meja rias (D) sekitar 40.6-61.0 cm; lebar zona aktivitas rias(B) sebesar 30.5-40.6 cm.

e. Area Kafe

Jarak yang harus diperhatikan adalah jarak antara konter penyajian dengan pembeli agar dapat dijangkau dengan mudah. Selain itu, juga terdapat counter top yang berfungsi sebagai penutup parsial antara peralatan penjual dan pembeli. Lebar area kerja dan area saji (A) memiliki rentang ukuran 104.1-109.2 cm, kemudian untuk lebar sirkulasi kerja penjual memiliki rentang ukuran minimal 76.2-91.4 cm. Detail lain yang harus diperhatikan adalah kode (C) dengan ukuran minimal 25.4 cm, kode (D) untuk ketinggian bar sebesar 106.7 cm, kode (E) untuk ketinggian kursi bar sebesar 78.7-81.3 cm, dan ukuran footrest dengan ketinggian (F) 30.5-33.0 cm dan lebar (G) minimal sebesar 22.9 cm.

Gambar 2. 17 Antropometri Meja Bar (Sumber: Dimodifikasi dari Panero & Zelnik, 1979)

2.8 STUDI PEMBANDING

2.8.1 Gedung Kesenian Jakarta

Gedung Kesenian Jakarta merupakan bangunan bersejarah peninggalan Inggris dan Belanda. Pada sekitar tahun 1811-1816, gedung ini digunakan sebagai tempat pagelaran teater oleh para tentara Inggris. Kini, gedung ini sudah sepenuhnya dikelola oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di bawah tanggung jawab Dinas Pariwisata Pemprov DKI dan berfungsi sebagai gedung pertunjukan. Sesuai namanya, Gedung ini menjadi salah satu tempat bagi para seniman untuk memamerkan hasil karyanya berupa sastra, drama, teater, musik, film, dan lainnya.

Gambar 2. 18 Studi Pembanding 1

(Sumber: https://tourismnews.id/gedung-kesenian-jakarta/ diakses pada 17 Desember 2023 pada pukul 19.05)

(33)

18

a. Gedung merupakan bangunan bersejarah, sehingga interior kental dengan style klasik eropa.

b. Memberikan pengalaman seperti menghadiri teater di eropa yang megah.

c. Banyak ornamen klasik sebagai ciri khas teater.

d. Penampilan beragam mulai dari drama, teater, orkestra, konser musik, sampai pertunjukan tari.

e. Tersedia ruang rias, ruang dekorasi, ruang tunggu penonton, ruang istirahat pemain, AC, kamera CCTV, dan electric billboard.

2.8.2 Gedung Radjawali Semarang Cultural Center

Gedung Radjawali Semarang Cultural Center (SCC) merupakan bangunan baru.

Kesan artistik yang terlihat pertama kali pada bagian muka bangunan, Desain tersebut terinspirasi dari kekayaan alam dan kebudayaan yang ada di Indonesia. Gedung Radjawali SCC memiliki 3 bagian utama yakni, performance hall, multifunction hall, dan outdor plaza. Outdoor Plaza merupakan ruang terbuka yang berfungsi sebagai pagelaran outdoor, sarana olahraga, area berkumpul komunitas, sekaligus sebagai area parkir.

Gambar 2. 19 Studi Pembanding 2

(Sumber: https://www.upradio.id/radjawali-semarang-cultural-center-hadirkan-performance-hall-kelas- dunia-di-kota-semarang/ diakses pada 17 Desember 2023 pukul 20.05)

a. Dibangun berdasarkan kolaborasi seni budaya warisan nenek moyang dengan karya seni modern.

b. Memiliki akses khusus untuk penyandang disabilitas.

c. Fasilitas untuk kebutuhan lighting dan sounding sudah modern dan canggih.

d. Terdapat LED Videotron pada panggung pertunjukan.

e. Gedung berstandar Internasional.

2.8.3 Auditorium Theatre, Chicago

Auditorium Theatre merupakan bangunan bersejarah di Chicago dan dianggap sebagai salah satu prestasi desain dan teknik yang paling berpengaruh. Arsitek Adler dan Sullivan mendesain ulang daan membuat perubahan signifikan pada bangunan. Gedung Auditorium Theatre merupakan struktur besar dengan fasad Romawi dan desain ornamen organik di seluruh interior bangunan (auditoriumtheatre, n.d.).

Gambar 2. 20 Studi Pembanding 3

(Sumber: https://chicagodetours.com/auditorium-theater/ diakses pada 17 Desember 2023 pukul 21.00)

(34)

19 a. Akustik terkenal sempurna. Setiap kebisingan di atas panggung dapat didengar dengan sempurna bahkan pada tingkat paling atas sekalipun. Interior teater berbentuk seperti terompet atau tabung bicara untuk membantu proyeksi suara dari panggung melalui serangkaian lengkungan dan panel bersudut.

b. Banyak ornamen-ornamen tradisional khas Amerika pada berbagai sudut ruangan, menimbulkan kesan agungdan mewah.

c. Pada bagian atap yang melengkung terdapat ornamen yang dihiasi dengan 3500 bulb warm light, lampu tersebut mengelilingi penonton sehingga menghadirkan kesan megah dan dramatis.

d. Seluruh struktur tahan api.

2.8.4 Imperial Theatre, Saint John

Gambar 2. 21 Studi Pembanding 4 (Sumber:imperialtheatre.ca, n.d.)

Imperial Theatre merupakan bangunan bersejarah yang dibuka kembali pada Mei 1994 setelah dikembalikan ke kemegahan aslinya pada tahun 1913 di zaman Victoria.

Teater ini memiliki aksesibilitas kursi roda dan area lobi dilengkapi dengan bar corner.

Fasilitas produksi yang lengkap mencakup sistem tata suara dan pencahayaan profesional, panggung, dok pemuatan, kemampuan terbang, lubang orkestra, layanan sambungan listrik, dan banyak lagi. Berikut beberapa fasilitas yang dimiliki oleh Imperial Theatre (Imperial Theatre, n.d.):

a. Imperial Theatre berkomitmen tidak hanya terhadap pemeliharaan dan pengelolaan Teater Bersejarah berusia 110 tahun, namun juga terhadap masa depan yang berkelanjutan dan lebih hijau. Imperial Theatre memiliki tanggung jawab untuk mengurangi jejak karbon dan membuat perubahan strategis dalam pengoperasian fasilitas dengan memilih solusi energi yang lebih bersih dan efisien.

b. Interior lobby telah direnovasi namun tetap mempertahankan kesan heritage dengan memerhatikan detail arsitektur bersejarah pada bangunan, dan menambahkan elemen kontemporer pada ruangan.

c. Area pembelian tiket dan pusat informasi menjadi satu, namun dipisahkan oleh partisi sehingga dapat lebih fokus pada fungsinya masing-masing.

d. Pada sisi kanan loby terdapat bar corner, sehingga pengunjung dapat membeli makanan dan minuman sebelum pertunjukan dan saat istirahat.

(35)

20

e. Menerapkan universal design, sehingga memudahkan pengunjung dengan disabilitas.

Selain itu juga menyediakan alat bantu dengar, kursi roda, dan kotak pertolongan pertama.

f. Tersedia water station yang diperuntukkan untuk semua pengunjung.

g. Penempatan spotlight pada ruang pertunjukan disembunyikan sehingga bagian ceiling terlihat rapi.

h. Terdapat ornamen-ornamen klasik yang dipertahankan dari awal gedung berdiri.

Ornamen tersebut memberikan kesan khas eropa yang sangat megah.

(36)

21

BAB 3 METODOLOGI

3.1 METODE DESAIN

Metode yang dilakukan dalam perancangan desain interior Gedung Cak Durasim adalah design thinking. Design thinking adalah sebuah proses, pendekatan, atau metode berpikir untuk mencari suatu solusi yang inovatif atas suatu permasalahan dengan cara yang kreatif dan berfokus pada sisi manusia (Agustina, 2022).

Design thinking memiliki alur yang terdiri dari lima tahap (Agustina, 2022). yakni:

1. Empathize, dalam tahap ini penulis perlu melibatkan empati untuk mengenal pengguna dan memahami mindset pengguna terkait keinginan, kebutuhan serta tujuan mereka.

2. Define, tahapan ini merupakan tahap pengolahan data yang didapat pada tahap empathize.

Data dipilah, dianalisis, dan disimpulkan sehingga menjadi sebuah problem statement yang spesifik.

3. Ideate, merupakan tahap pengembangan hasil problem statement dalam proses brainstorming inovasi desain dan ide-ide solusi lainnya.

4. Prototype, tahap ini adalah tahapan visualisasi hasil ideate dalam bentuk fisik, sehingga dapat dilihat, diuji, dan dianalisis.

5. Test, pada tahap ini hasil prototype diuji kepada pengguna untuk meminimalisir kegagalan.

Review yang didapat dari pengguna dapat dijadikan bahan evaluasi dan melakukan iterasi, perubahan, dan penyempurnaan lebih lanjut.

Design thinking merupakan metode yang bersifat user-centered, dalam pengambilan solusinya didasarkan kepada kebutuhan pengguna. Design thinking dilakukan dengan proses yang interaktif, yakni akan terus berulang hingga mendapatkan solusi yang optimal. Pada perancangan interior Gedung Cak Durasim, design thinking merupakan metode yang efisien karena Gedung Cak Durasim merupakan sebuah fasilitas yang menjadi pusat aktivitas budaya masyarakat sebagai penggunanya.

Gambar 3. 1 Metodologi Desain (Sumber: Dokumentasi Penulis, 2023)

(37)

22

3.2 TAHAPAN PROSES DESAIN 3.2.1 Pengumpulan Data

3.2.1.1 Data Primer

Data primer merupakan sumber data yang diperoleh dan dikumpulkan langsung oleh penulis melalui observasi dan wawancara.

1. Observasi

Penulis melakukan pengamatan dan analisis secara langsung terhadap objek eksisting. Data yang didapatkan berupa:

a. Gambar kerja eksisting b. Suasana interior eksisting

c. Fasilitas dan ruang yang disediakan d. Alur sirkulasi aktivitas pada eksisting e. Dokumentasi eksisting

2. Wawancara

Wawancara dilakukan kepada narasumber yang merupakan pengunjung dan pengelola Gedung Cak Durasim. Pertanyaan yang diajukan berupa pertanyaan demografi narasumber dan mengenai pengalaman dan perasaan yang dirasakan saat beraktivitas di Gedung Cak Durasim secara detail.

3.2.1.2 Data Sekunder

Data sekunder merupakan sumber data yang didapatkan secara tidak langsung, yakni dengan melakukan studi literatur melalui media perantara seperti penelitian terdahulu, buku, jurnal, artikel, dan sebagainya. Studi literatur yang dilakukan meliputi:

1. Studi Eksisting 2. Studi Pembanding 3. Studi Pustaka 3.2.2 Understanding

Pada tahap ini dilakukan pada awal proses desain setelah pengumpulan data yang dilakukan. Hasil data sekunder yang didapat dari studi literatur digunakan untuk mendalami studi eksisting, studi pembanding, studi pustaka.

1. Studi Eksisting,

Studi eksisting juga dilakukan dengan pengambilan data sekunder untuk mengambil informasi lebih detail melalui internet dan artikel-artikel terkait objek desain.

2. Studi Pembanding

Data yang didapatkan berupa analisis terhadap kelebihan dan kekurangan pihak kompetitor. Kemudian membuat daftar fasilitas dan ide apa saja yang dapat diterapkan pada perancangan interior Gedung Cak Durasim

3. Studi Pustaka

Studi pustaka dilakukan menggunakan data sekunder yang didapat melalui penelitian terdahulu, buku, jurnal, dan artikel. Berikut pendalaman pustaka yang dilakukan:

a. Studi taman budaya b. Studi seni pertunjukan c. Studi gedung pertunjukan d. Studi corak jawa timur e. Studi antropometri

(38)

23 3.2.3 Empathize

Pada tahap empathize terdapat dua pengolahan data, yakni data hasil observasi dan wawancara. Data yang didapatkan selama observasi dianalisis untuk menemukan permasalahan yang ada pada eksisting. Sedangkan data wawancara akan diolah untuk menghasilkan user journey map, User Persona, dan empathy map.

User journey map berisi hasil identifikasi mengenai perasaan dan ekspetasi pengguna pada saat melakukan aktivitas di beberapa touchpoints yang ada dalam objek desain, kemudian dari identifikasi tersebut penulis dapat menghasilkan ide-ide untuk meningkatkan user experience pada tiap touchpoints. Selain itu, User Persona merupakan sebuah visualisasi profil pengguna yang didapatkan dari hasil mengenal dan memahami mindset pengguna. Kemudian untuk hasil dari wawancara berupa kendala dan keinginan pengguna (pain-gain) ketika berada di objek desain akan dihimpun dalam bentuk empathy map.

3.2.4 Define

Data yang didapatkan pada tahap empathize akan dipilah dan dianalisis melalui dote vote yang dilakukan bersama tim. Kemudian disimpulkan menggunakan decision matrix sehingga dapat menghasilkan sebuah problem and goals statement yang spesifik.

3.2.5 Ideate

Tahap selanjutnya adalah creating generative ideas berdasarkan problem and goals statement yang dihasilkan pada tahap define. Ide-ide solusi dihasilkan dari diskusi tim menggunakan crazy 8 method, masing-masing anggota tim memberikan ide dan inovasi untuk menjawab permasalahan dan tujuan yang ingin dicapai pada objek desain.

Data yang didapatkan dari crazy 8 method, studi pembanding, dan studi eksisting dihimpun dan dianalisis untuk merumuskan value proposition dan invention points yang akan diimplementasikan pada bubble diagram. Selanjutnya dilakukan pembuatan value proposition table untuk menentukan konsep dan fokus pembahasan pada perancangan objek desain.

3.2.6 Prototype

Konsep yang dihasilkan pada tahap ideate akan dijadikan landasan dalam membuat rencana desain. Prototyping dilakukan dengan pembuatan visualisasi desain berupa rencana layout, perspektif, dan moodboard.

3.2.7 Test

Tahapan test dilakukan dengan mengkomunikasikan hasil desain kepada user untuk mendapatkan validasi apakah desain sudah menjawab permasalahan yang ada. Proses ini dilakukan secara berulang melalui proses iterasi hingga mencapai desain akhir yang paling optimal.

(39)

24

(halaman ini sengaja dikosongkan)

Gambar

Gambar 2. 6 Pemantulan bunyi dari bentuk permukaan yang berbeda  (Sumber:Doelle, 1972)
Gambar 2. 10 Site plan Komplek Taman Budaya Jawa Timur  (Sumber: Dokumen Penulis, 2023)
Gambar 2. 13 Antropometri Area Resepsionis  (Sumber: Dimodifikasi dari Panero & Zelnik, 1979)
Gambar 2. 16 Antropometri Meja Rias  (Sumber: Dimodifikasi dari Panero & Zelnik, 1979)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penulisan ini adalah sebagai berikut: (1) Menyediakan fasilitas atau wadah untuk menampilkan seni pertunjukan tradisional Jawa dengan menciptakan suasana yang edukatif dan

Oleh karena itu, perancangan Pusat Pertunjukan dan Pengembangan Seni Musik Gamelan Jawa di Surakarta diharapkan dapat menjadi wadah pelestarian serta pengembangan seni musik

Ekspresi gedung pertunjukkan yang sesuai dengan jiwa musik dan tari kontemporer adalah ekspresi gedung dengan bangunan Jawa namun dalam bentuk yang lebih

Tujuan penulisan ini adalah sebagai berikut: (1) Menyediakan fasilitas atau wadah untuk menampilkan seni pertunjukan tradisional Jawa dengan menciptakan suasana yang edukatif dan

Permasalahan yang diangkat pada Gedung Pertunjukan Seni Musik di Yogyakarta adalah Bagaimana wujud rancangan Gedung Pertunjukan Seni Musik di Yogyakarta dengan pengolahan

Perancangan Pusat Kesenian di Surabaya dengan memberikan fasilitas yang dapat mewadahi untuk pertunjukan berbagai macam cabang kesenian, serta rekreasi seni dan budaya di

KESIMPULAN Dalam perancangan ini berusaha merancang sebuah gedung seni pertunjukan di kota manokwari dengan menerapkan arsitektur modern yang dapat mewadahi kegiatan pentas seni yang

Rumusan Masalah Bagaimana merancang sebuah gedung seni pertunjukan di kota manokwari dengan menerapkan arsitektur modern yang dapat mewadahi kegiatan pentas seni?.