• Tidak ada hasil yang ditemukan

Refleksi Diri dalam Kolaborasi dan Kerjasama Kesehatan

N/A
N/A
astrid Nova

Academic year: 2025

Membagikan " Refleksi Diri dalam Kolaborasi dan Kerjasama Kesehatan"

Copied!
4
0
0

Teks penuh

(1)

REFLEKSI DIRI DALAM KOLABORASI DAN KERJASAMA KESEHATAN

Disusun oleh:

Astrid Nova Fortuna 1906373531

Mahasiswa Profesi Dokter Gigi FKG UI 2023 Kelompok IPE-16

Pembimbing :

Ns. Andi Amalia Wildani, S.Kep., M.Kep

PROGRAM STUDI PROFESI DOKTER GIGI FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS INDONESIA JAKARTA

2025

(2)

Selama mengikuti pembelajran mengenai kolabroasi dan kerja sama tim kesehatan saya mendapati observasi ke Rumah sakit UI dan modul mengenai Pasien yang memerlukan kolaborasi dan kerja sama tim berbagai tenaga kesehatan.

Berdasarkan modul dan observasi tersebut saya membuat saya menjadi lebih menyadari dan memahami bagaimana pentingnya kolaborasi dan kerjasama antar profesi kesehatan. Saya menjadi lebih memahami dan banyak belajar mengenai bagaimana kolaborasi dan komunikasi antar profesi kesehatan yang baik, bagaimana peran masing- masing profesi kesehatan, bagaimana cara menangani kendala atau konflik yang dapat terjadi, dan sebagainya.

kolaborasi di layanan kesehatan sangat penting untuk memberikan pelayanan yang baik optimal. Kerjasama atau hubungan harus saling melengkapi antara para penyedia layanan kesehatan yang memiliki cakupan keahlian, pengetahuan, kemampuan dan pengalaman yang berbeda-beda. Tim harus mempunyai tujuan yang jelas dengan tanggung jawab dalam mencapainya. Tujuan yang ada tetap harus dilakukan berfokus pada pelayanan kepada pasien, peran setiap profesi harus dimengerti dengan baik dan peran yang ada haruslah sesuai dengan kompetensi setiap individu dalam tim tersebut, komunikasi yang baik, rasa menghargai, dan dukungan dari setiap profesi yang ada kepada anggota tim yang lain, diperlukan juga pemimpin yang baik, dimana mampu memastikan dan mendorong setiap anggota dapat mengerjakan tugas dengan baik sekaligus menjaga hubungan dan komunikasi yang ada, struktur organisasi juga harus jelas, dan dapat membuat prioritas mengatur dan membuat keputusan.

Selama dua minggu, saya dapat mereview bagaimana proses saya dalam memberikan pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang sudah saya jalani selama dalam pendidikan dokter gigi ini. Saya pun dapat melatih kemampuan saya untuk berkomunikasi secara efektif, menjadi wadah untuk mengulas kembali yang dibutuhkan dan perlu ditingkatkan untuk melayani pasien. serta mempelajari secara nyata mengenai cara kolaborasi dan kerjasama dengan tim agar di kemudian hari dapat memilimalisir konflik yang terjadi.

Sebagai calon dokter gigi, saya merasakan manfaat yang besar, terutama saat berdisukusi dengan fakultas lain. Saya memahami bahwa kasus pasien yang tidak berkaitan langsung dengan area gigi dan mulut, juga memerlukan peran dokter gigi dalam hal edukasi memelihara kesehatan gigi dan mulut. Dokter gigi tidak kalah penting perannya dalam ikut serta dan memberikan aspirasi untuk merencanakan solusi

(3)

penanganan pasien secara holistik. Keselamatan pasien adalah tujuan utama dari kolaborasi kesehatan, maka dari itu pembelajaran ini memberikan gambaran mendetail bagaimana kerjasama tim kesehatan seharusnya dilaksanakan dengan baik.

Selain itu, saya diajarkan untuk melihat pasien sebagai individu, bukan hanya satu area gigi dan mulut saja. Oleh karena itu, saya perlu mempertimbangkan risk and benefit dalam penanganan. Apabila pasien yang memiliki kondisi sistemik, dokter gigi perlu berdiskusi dan konfirmasi perawatan dari dokter lainnya. berarti tidak ada profesi yang mampu berdiri sendiri. Di modul saya berperan dalam memberikan aspirasi dari pandangan dokter gigi dan diskusi berjalan sangat lancar dan saling menghargai. Saya merasakan kerjasama yang baik dalam tim kami, saya cukup bisa dalam membantu menjembatani pendapat dari antar profesi lain sehingga mendapatkan keputusan bersama.

Hambatan saya adalah merasa kurang memahami kasus dan berfokus pada kondisi mulut dan gigi pasien, Namun, saya memahami bahwa itulah peran saya ada di tim, memberikan pendapat mengenai kesehatan gigi dan mulut. pertimbangan mendetail tentang pasien sekecil apapun berbagai tenaga kesehatan sangat berpengaruh dalam prognosis perawatan. Dalam memperbaiki hambatan ini, saya perlu lebih sering diskusi penanganan kasus pasien dengan teman profesi lainnya sehingga kemampuan kolaborasi saya lebih baik, kedepannya saya akan mempraktikkan sambil belajar bagaimana seharusnya kerjasama dokter gigi dengan profesi lain dapat dijalankan dengan baik.

Kelemahan saya yang belum terbiasa dengan kolaborasi antar tim tenaga kesehatan, bisa saya atasi dengan terus menerus belajar dan mungkin dengan kelebihan saya seperti saya pandai untuk berkomunikasi dan berani menyuarakan pendapat, dapat membantu kolaborasi dan kerja sama tim saya berjalan dengan baik. karena komuniasi sayang di perlukan agar tercapai tujuan bersama yang tepat dan tidak ada konflik ataupun miskomunikasi. Selain itu saya juga mempunyai jiwa kemimpinan dimana, dalam kolbarasi diperlukan sifat tersebut. Pemimpin tim harus menciptakan lingkungan kerja yang kolaboratif, di mana setiap anggota tim merasa dihargai, didengarkan, Mendorong inovasi dan perbaikan berkelanjutan.

Selain itu tantangan lainnya adalah jika terdapat banyak pasien dalam satu hari yang membuat kinerja menjadi tidak efesien karena kewalahan, Namun dengan adanya kolaborasi dan kerjasama tim seharusnya dapat meminimalisir hal tersebut. Oleh karena itu, saya perlu memperdalam pemahaman mengenai tanggung jawab masing-masing

(4)

profesi, mengasah kemampuan komunikasi yang lebih baik, dan mempelajari cara mendelegasikan tugas secara efektif agar setiap anggota tim dapat berkontribusi secara optimal. Untuk meningkatkan efektivitas kolaborasi, pelatihan tentang kerja sama antarprofesi kesehatan sebaiknya menjadi bagian integral dari pendidikan berkelanjutan di setiap bidang kesehatan. Penting untuk saling menghargai dan membantu satu sama lain dalam mencapai kolaborasi yang optimal.

Referensi

Dokumen terkait

Pelayanan dokter gigi di poliklinik gigi rumah sakit adalah kesempurnaan pelayanan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat konsumen akan pelayanan kesehatan yang sesuai standar

Yudisium Dokter Gigi adalah pengumuman kelulusan mahasiswa pendidikan profesi dokter gigi yang telah menyelesaikan semua kegiatan kepaniteraan klinik pada semua

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan mengenai tingkat pengetahuan mahasiswa profesi program studi pendidikan dokter gigi terhadap penggunaan antibiotik di RSGM UNSRAT

Surat ijin dari pimpinan instansi/sarana pelayanan kesehatan dimana dokter dan dokter gigi dimaksud bekerja (khusus bagi dokter dan dokter gigi yang bekerja di sarana

Bila dibandingkan dengan profesi kesehatan lain seperti dokter umum (41.841) dan dokter gigi (11.857), jumlah perawat paling besar di bandingkan profesi kesehatan lain di

(6) Calon mahasiswa baru Program Profesi selain Program Profesi Dokter, Dokter Gigi, dan Ners yang dinyatakan lulus seleksi penerimaan mahasiswa baru harus

4 f.melakukan pembinaan bersama terhadap dokter dan dokter gigi mengenai pelaksanaan etika profesi yang ditetapkan oleh organisasi profesi; dan, g.melakukan pencatatan terhadap dokter

Prosedur Standar Operasional (SOP) untuk Kolaborasi Interprofesional dalam Pelayanan