• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rekomendasi ICEL terhadap Aksi Mitigasi di Sub Sektor Limbah Padat Domestik

N/A
N/A
achmad ilham

Academic year: 2025

Membagikan "Rekomendasi ICEL terhadap Aksi Mitigasi di Sub Sektor Limbah Padat Domestik"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

Rekomendasi ICEL terhadap Aksi Mitigasi di Sub Sektor

Limbah Padat Domestik

(2)

Rekomendasi ICEL terhadap Aksi Mitigasi di Sub Sektor Limbah Padat Domestik

Penulis

Bella Nathania Yobel Novian Putra

Peninjau

Raynaldo G. Sembiring

Penanggung Jawab

Raynaldo G. Sembiring

Diterbitkan oleh

Indonesian Center for Environmental Law (ICEL)

Jl. Dempo II No. 21, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, 12120, Indonesia Telp: (021) 7262740 | [email protected]

www.icel.or.id

September 2024

(3)

S E P T E M B E R 2 0 2 4

Rekomendasi ICEL terhadap Aksi Mitigasi di Sub Sektor

Limbah Padat Domestik

(4)

1 Pendahuluan

aporan dari Global Methane Assessment (2021) menunjukan bahwa setengah dari emisi metana dihasilkan melalui aktivitas manusia.

Emisi yang dihasilkan melalui tempat pembuangan akhir sampah dan limbah cair berkontribusi terhadap dua puluh persen dari total emisi metana yang dihasilkan melalui aktivitas manusia. Selain berkontribusi terhadap perubahan iklim, emisi metana juga membentuk ground-level ozone (O3) yang merupakan salah satu polutan pencemaran udara.

Pengurangan emisi melalui sektor limbah terutama dari sub sektor limbah padat domestik dapat dikategorikan sebagai low-hanging fruit karena (a) metana merupakan jenis gas yang memiliki waktu yang singkat di atmosfer (atmospheric lifetime), sehingga pengurangan terhadap emisi metana berkontribusi cepat terhadap reduksi emisi gas rumah kaca dan meningkatkan kesehatan masyarakat; dan (b) upaya pengurangan emisi metana terutama pada tempat pembuangan akhir membutuhkan biaya yang rendah dengan dampak yang signifikan.

Oleh karenanya, pengurangan sampah/limbah padat domestik terutama dari tempat pembuangan akhir merupakan salah satu cara yang efektif untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dari sektor limbah.

L

(5)

2

Rekomendasi Umum

1 Indonesia’s Second NDC (SNDC) dan/atau Peta Jalan NDC perlu memprioritaskan aksi mitigasi berdasarkan hierarki pengelolaan sampah

emerintah Indonesia perlu untuk memprioritaskan pencegahan dan pengurangan sampah dalam aksi mitigasi sesuai dengan hierarki pengelolaan sampah. Pada NDC pertama dan Enhanced NDC, Pemerintah Indonesia telah

mengadopsi aksi mitigasi berdasarkan hierarki pengelolaan sampah, yaitu dengan pendekatan “reduce, reuse, recycle” (3R).

Namun, prinsip 3R yang diadopsi di dalam ENDC terbatas pada 3R untuk kertas.

Penerapan prinsip 3R untuk jenis sampah lainnya utamanya aksi pencegahan dan pengurangan, yang melingkupi sampah organik, plastik, dan jenis sampah lainnya juga penting dalam upaya mengurangi emisi gas rumah kaca.

P Pemerintah Indonesia

perlu untuk memprioritaskan

pencegahan dan pengurangan sampah

dalam aksi mitigasi sesuai dengan hierarki

pengelolaan sampah.

(6)

2 Indonesia’s Second NDC (SNDC) dan/atau Peta Jalan NDC perlu mempertimbangkan kembali untuk memasukan aksi mitigasi yang menukar satu jenis gas rumah kaca menjadi gas rumah kaca lainnya.

NDC pertama dan Enhanced NDC didominasi dengan teknologi pembakaran sampah (PLTSa/RDF) maupun pemanfaatan gas TPA melalui proses flaring (LFG recovery and utilisation). Membakar sampah organik untuk mencegah terbentuknya gas metana hanya menyebabkan terbentuknya gas CO

2

yang akan tetap berkontribusi pada peningkatan temperatur global.

1

Hal yang sama juga terjadi bila gas TPA dibakar menggunakan proses flaring. UNFCCC menekankan bahwa target Perjanjian Paris hanya dapat tercapai dengan mengurangi gas rumah kaca CO

2

dan non-CO

2

.

3 Indonesia’s Second NDC (SNDC) dan/atau Peta Jalan NDC perlu memasukan target pengembangan sistem pengelolaan sampah secara terpilah sebagai kondisi pemungkin untuk mitigasi gas rumah kaca yang efektif dari sub-sektor limbah padat/sampah

Secara spesifik, sangatlah penting untuk memasukan target tingkat pengumpulan sampah secara terpilah di sumber dalam SNDC dan/atau Peta Jalan NDC. Tanpa upaya pemilahan sampah, teknologi apapun akan menjadi sulit untuk diterapkan, biaya penanganan sampah akan meningkat di hilir sistem, dan pada akhirnya upaya mitigasi gas rumah kaca di sub- sektor sampah akan sulit dicapai.

1 IPCC, “Emissions from Waste Incineration”. https://www.ipcc- nggip.iges.or.jp/public/gp/bgp/5_3_Waste_Incineration.pdf, hlm. 459.

Sangatlah penting untuk memasukan

target tingkat

pengumpulan sampah secara terpilah di sumber dalam SNDC

dan/atau Peta Jalan NDC.

(7)

3

Rekomendasi Aksi Mitigasi Dalam Sektor Limbah Padat Domestik Dalam Second

NDC Indonesia Dan/Atau Peta Jalan NDC

(8)

Aksi Mitigasi dalam Enhanced NDC 2022

Rekomendasi Aksi Mitigasi untuk

Second NDC dan/atau Peta Jalan NDC Analisis

Waste utilisation by composting and 3R (paper)

ICEL merekomendasikan:

1. Aksi mitigasi dalam SNDC dan/atau Peta Jalan NDC dapat didasarkan pada komposisi dan jenis sampah.

Pengomposan untuk sampah organik dan daur ulang material untuk jenis sampah lainnya, termasuk kertas, logam dan kaca.

2. SNDC dan/atau Peta Jalan NDC menekankan aksi mitigasi untuk komposisi sampah terbesar (SIPSN, 2023) yaitu sampah organik dengan sampah sisa makanan (40.7%) dan kayu/ranting/daun (11.6%).

SNDC dan/atau Peta Jalan NDC mencantumkan target pengumpulan sampah terpisah dari sumber sebagai prasyarat pengolahan sampah yang baik.

Pemisahan aksi mitigasi berdasarkan jenis sampah menjadi penting untuk dilakukan, karena perbedaan jenis sampah akan berpengaruh pada perbedaan pendekatan mitigasi yang dilakukan.

Pengumpulan dan pengolahan sampah organik yang terpisah dari sumbernya dapat mengurangi emisi metana dari TPA hingga 62%, bahkan dengan ambisi yang moderat. Bila ditambahkan dengan strategi pengolahan biologis sampah residu dan penerapan tanah penutup TPA yang aktif secara biologis, maka pemerintah

Indonesia dapat emisi metana dapat berkurang sampai 95%.2 Pengumpulan sampah secara terpisah dari sumber juga sangat penting untuk menghindari kontaminasi silang. Pasalnya

kontaminasi silang mengganggu proses pengolahan sampah yang dapat didaur ulang, seperti plastik dan kertas, juga merusak kualitas kompos yang dihasilkan. Apabila sampah tercampur digunakan dalam proses pengolahan secara biologis lainnya seperti bio-konversi (misal: Black Soldier Fly), vermikomposting, ataupun biodigester), maka produk pengolahannya akan

berpotensi besar mengandung zat racun akibat kontaminasi silang.

Aksi mitigasi yang ICEL rekomendasikan akan dijelaskan lebih lanjut di dalam bagian “Rekomendasi Penambahan Aksi Mitigasi di dalam SNDC dan/atau Peta Jalan NDC”.

2 Zero Waste to Zero Emission: How Reducing Waste is a Climate Gamechanger (GAIA, 2022).

(9)

Utilisation of waste to switch from landfill disposal to zero landfill disposal in 2060

ICEL merekomendasikan agar aksi mitigasi ini:

1. Dibuat lebih spesifik dengan memfokuskan penghentian

pembuangan sampah organik ke TPA Mengeluarkan PLTSa dan RDF dari upaya zero landfill disposal

Dalam dokumen NDC pertama dan Enhanced NDC, Pemerintah Indonesia menargetkan tercapainya target zero landfill disposal in 2060 dengan menambahkan kapasitas teknologi waste-to-energy yang berada pada posisi terbawah dari hirarki pengelolaan sampah.

Mengingat sebagian besar sampah yang masuk ke TPA adalah sampah organik, cara tercepat dan paling ekonomis untuk mengurangi beban TPA dan emisi metana adalah dengan menghentikan pembuangan sampah organik ke TPA. Selaras dengan aksi mitigasi ini, pengolahan sampah organik sedekat mungkin dengan sumber yang mengikuti prioritas hirarki pengelolaan sampah.

Aksi mitigasi yang ICEL rekomendasikan akan dijelaskan lebih lanjut di dalam bagian “Rekomendasi Penambahan Aksi Mitigasi di dalam SNDC dan/atau Peta Jalan NDC”.

LFG recovery and utilisation

ICEL merekomendasikan agar LFG recovery dan utilisation

dipertimbangkan untuk tidak dimasukan kembali di dalam SNDC dan/atau Peta Jalan NDC sebagai aksi mitigasi.

Berdasarkan beberapa literatur, LFG recovery and utilisation belum cukup efektif menjadi solusi mitigasi perubahan iklim di Indonesia karena:

1. Efektivitas penangkapan gas metan dari TPA rendah.

Gas yang dihasilkan di TPA memiliki efisiensi tangkapan yang rendah dengan rentang 10-65%.3 Tercatat efisiensi dari ratusan

3 Stanisavljević, N., Ubavin, D., Batinić, B., Fellner, J. & Vujić, G. (2012) Methane emissions from landfills in Serbia and potential mitigation strategies: a case study.

Waste Management & Research, 30(10): 1095–1103. Dapat diakses melalui: https://doi.org/10.1177/0734242X12451867

(10)

TPA di Inggris4 dan Amerika Serikat5 hanyalah sebesar 48%.

Angka tersebut dapat menjadi lebih rendah mengingat beberapa faktor efisiensi sistem landfill gas recovery and utilisation6:

• Sebagian besar metana dilepaskan saat TPA masih beroperasi. Diperkirakan 61% dari gas metana yang dihasilkan hasil pembusukan sampah makanan di TPA tidak dapat ditangkap oleh sistem penangkap gas, terutama dari sel TPA yang aktif beroperasi.7 Metana yang dihasilkan tersebut langsung lepas ke atmosfer karena sampah

makanan membusuk secara cepat sehingga emisinya lepas sebelum masuk ke dalam sistem pengumpulan gas di TPA.8 Metana yang tidak terkumpul selama durasi tersebut menyebabkan efisiensi keseluruhan berkurang secara signifikan. Adapun TPA di Indonesia yang menerapkan sistem ini baru memasang sistem penangkap gas setelah TPA beroperasi selama beberapa tahun. TPA yang lebih tua menghasilkan gas lebih sedikit seiring berkurangnya aktivitas biologis di dalam sel TPA.

• Efisiensi akan menurun ketika manajemen dan perawatan TPA tidak dilaksanakan dengan baik. Penggunaan LFG memerlukan perhatian khusus terhadap inspeksi dan pemeliharaan sistem pengumpulan dan material penutup

4 Review of Landfill Methane Emission Monitoring (DEFRA UK, 2014)

5 Themelis, Nickolas & Bourtsalas, Athanasios. (2021). Methane Generation and Capture of U.S. Landfills. Journal of Environmental Science and Engineering A. 10.

10.17265/2162-5298/2021.06.001

6 Oonk, H. (2012). Efficiency of landfill gas collection for methane emission reduction. Greenhouse Gas Measurement and Management, 2(2–3), 129–145.

https://doi.org/10.1080/20430779.2012.730798

7 Quantifying Methane Emissions from Landfilled Food Waste (US EPA, 2023)

8 Ibid.

(11)

TPA. Di sisi lain, masih banyak TPA di Indonesia yang masih beroperasi dengan standar open dumping. TPA open dumping menyebabkan rusaknya pipa pengumpul gas karena akumulasi tekanan dari tumpukan sampah baru di TPA. Pada akhirnya peralatan penangkap gas menjadi semakin tidak efisien seiring berjalannya waktu.

• Tingkat pengumpulan gas TPA juga dibatasi oleh kapasitas pemanfaatan gas TPA. Gas metana yang dilepaskan di TPA cenderung berfluktuasi namun akan menurun tingkat produksinya dalam jangka panjang. Di sisi lain, kapasitas pemanfaatan gas menggunakan mesin relatif tetap. Apabila gas yang terkumpulkan tidak dapat dimanfaatkan, efisiensi sistem secara keseluruhan akan menurun.

2. Memberikan insentif untuk terus memproduksi dan membuang sampah organik ke TPA

Usia operasi sistem landfill gas recovery and utilisation pada umumnya adalah 10 sampai 20 tahun. Lamanya usia operasi ini umumnya dikunci melalui kontrak proyek sehingga

memberikan insentif untuk mempertahankan tingkat produksi metana yang tinggi dengan menimbun sampah organik yang seharusnya dapat dikembalikan ke tanah melalui

pengomposan maupun teknologi pengolahan secara biologis lainnya.

3. Sistem pengumpulan gas TPA adalah salah satu opsi teknologi paling mahal untuk mitigasi metana di sektor sampah

Dalam beberapa kasus, pemasangan pipa pengumpul LFG dan

(12)

peralatan pembakaran atau pembangkit energi dapat menelan biaya puluhan juta dolar.9 Gas TPA tidak sama dengan biogas yang dihasilkan dari bahan organik yang dipisahkan dari sumbernya dengan biodigester (anaerobic digestion). Gas TPA jauh lebih terkontaminasi dan memiliki nilai energi yang lebih rendah. Diperlukan biaya yang besar untuk memurnikan gas TPA agar kemurnian dan nilai kalornya meningkat untuk dapat dimanfaatkan secara komersil. Di sisi lain pemerintah

Indonesia perlu memastikan ketersediaan dukungan finansial selama usia operasi. Ini menyebabkan kondisi “financial and feedstock lock-in” sehingga dukungan untuk intervensi

sebelum sampah masuk ke TPA berkurang, seperti pencegahan susut pangan (food loss and waste), pengolahan sampah organik, biokonversi sampah organik menjadi pakan hewan, dan pengumpulan sampah terpilah dari sumber.

PLTSa/RDF (Refuse Derived Fuel) implementation

ICEL merekomendasikan agar

PLTSa/RDF untuk tidak dipertimbangkan sebagai aksi mitigasi di dalam SNDC dan/atau Peta Jalan NDC.

Berdasarkan beberapa literatur, PLTSa dan RDF tidak cukup efektif untuk menjadi pilihan solusi mitigasi perubahan iklim di Indonesia, karena:

1. Pembakaran sampah menggunakan teknologi insinerasi memiliki lepasan karbon yang tinggi

Di Amerika Serikat, insinerator adalah fasilitas pembangkit listrik dengan intensitas emisi tertinggi. Per unit listrik yang dihasilkan, insinerator mengeluarkan 1,7 kali lebih banyak emisi gas rumah kaca dibandingkan PLTU batu bara.10 Hal

9 Financing Landfill Gas Projects in Developing Countries (World Bank, 2016)

10 Tangri, N., “Waste incinerators undermine clean energy goals”, June 2023, PLOS Clim 2(6): e0000100, https://doi.org/10.1371/journal.pclm.0000100

(13)

serupa juga terjadi di Eropa di mana intensitas emisi karbon dari energi yang dihasilkan insinerator sampah adalah sebesar 580g CO2eq/kWh atau sekitar dua kali lebih besar dari

intensitas karbon jaringan listrik rata-rata Uni Eropa saat ini (296g CO2eq/KWh).11

2. Timbulan dan komposisi sampah Indonesia didominasi oleh sampah organik yang tidak cocok dengan teknologi

insinerasi dan co-insinerasi

Hal ini diperparah dengan situasi pengumpulan sampah di Indonesia yang masih tercampur. Tingkat kelembapan sampah yang tinggi menurunkan efisiensi pembakaran sampah dan memerlukan bahan bakar tambahan (auxilary fuel) dari bahan bakar fosil seperti batu bara dan gas untuk memastikan sampah dapat terbakar dengan sempurna.

3. RDF tetap berkontribusi negatif terhadap emisi gas rumah kaca

Berdasarkan riset terhadap penggunaan RDF bagi pabrik semen di Cirebon, diketahui bahwa RDF tetap berpotensi untuk

berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca sebesar 8.40E-01 kg CO2 eq.12 Di samping itu, penggunaan RDF juga

membutuhkan investasi teknologi yang tinggi.13

11 Vahk, J., “The impact of Waste-to-Energy incineration on climate: A Policy Brief”, September 2019

12 T T Anasstasia, et.al., “Life Cycle Assessment of Refuse Derived Fuel (RDF) for Municipal Solid Waste (MSW)

Management: Case Study Area Around Cement Industry, Cirebon, Indonesia”, IOP Conf. Series: Materials Science and Engineering 778 (2020) 012146 IOP Publishing doi:10.1088/1757-899X/778/1/012146, hlm. 7.

13 Ibid., hlm. 9.

(14)

Rekomendasi penambahan aksi mitigasi dalam SNDC dan/atau Peta Jalan NDC

Food loss and waste reduction through food banking, food donation and food sharing

ICEL merekomendasikan agar sisa makanan yang masih laik untuk

dikonsumsi dapat dimanfaatkan kembali melalui sistem food sharing, food

donation and food banking sebagai salah satu aksi mitigasi.

Pencegahan sampah makanan adalah strategi pengurangan gas rumah kaca, baik gas metana dan CO2, yang paling penting di sektor sampah. Aksi mitigasi ini memiliki dampak positif yang lebih besar dibandingkan pengolahan sampah menggunakan teknologi seperti pengomposan dan biodigestor. Setiap ton dari makanan yang tidak pernah menjadi sampah akan menghindarkan produksi gas metana yang akan dihasilkan di TPA, juga emisi di hulu sistem seperti proses produksi di sektor agrikultur dan transportasi pangan.

Aksi pengurangan susut pangan dan sampah makanan (food loss and waste reduction) bukanlah hal yang baru bagi Indonesia. Di dalam dokumen Long-Term Strategy for Low Carbon and Climate Resilience 2050 (LTS-LCCR 2050), pemerintah Indonesia telah memasukan aksi ini sebagai salah satu strategi jangka panjang khususnya dari sektor AFOLU. SNDC merupakan kesempatan strategis bagi Pemerintah Indonesia untuk menurunkan strategi tersebut sebagai aksi mitigasi baru.

Ada beberapa opsi pengurangan sampah makanan di sektor sampah.

Salah satunya adalah penyelamatan pangan dengan

mendistribusikan kembali makanan laik makan ke masyarakat.

Beberapa aktivitas yang dapat dilakukan adalah berbagi pangan secara langsung (food sharing), donasi pangan (food donation),

(15)

maupun bank pangan (food banking). Upaya-upaya tersebut merupakan prioritas utama dalam penanganan sisa makanan dibandingkan dengan beberapa cara lainnya, seperti pemanfaatan untuk pakan hewan, anaerobic digestion, kompos, insinerasi, dan tempat pembuangan akhir.14

Donasi pangan merupakan salah satu solusi jangka pendek yang penting untuk mengatasi sampah makanan, karena memungkinkan kelebihan makanan yang akan menjadi sampah untuk

didistribusikan kembali kepada orang-orang, seringkali kepada mereka yang rawan pangan.15 Satu studi kasus menunjukan bahwa donasi makanan dapat aksi mitigasi yang efektif, dengan 78% dari 237 ton kelebihan makanan yang didistribusikan kembali dimakan, memberikan manfaat bagi ratusan orang yang membutuhkan.

Donasi makanan menghasilkan hampir dua kali lipat manfaat iklim dari pencernaan anaerobik, yang mendukung hirarki pengelolaan sampah.16 Sistem donasi makanan memiliki kontribusi emisi negatif dibandingkan dengan cara-cara penanganan lainnya.17 Kontribusi emisi dari donasi pangan adalah -5.583 kg CO2e/t.18

Food waste composting

ICEL merekomendasikan agar

pengomposan sampah sisa makanan secara terdesentralisasi dan sedekat

Sisa makanan yang tidak laik makan bagi manusia dapat diolah menggunakan teknologi pengomposan. Pengomposan sampah makanan merupakan salah satu cara mudah untuk mengurangi

14 J.A. Moult, et.al., “Greenhouse gas emissions of food waste disposal options for UK retailers”, Food Policy Volume 77, May 2018, Pages 50-58.

15 United Nations Environment Programme, “Food Waste Index Report 2024: Tracking Progress to Halve Global Food Waste.” [online]. Available:

https://wedocs.unep.org/20.500.11822/45230.

16 Sundin N., et.al, “Surplus food donation: Effectiveness, carbon footprint, and rebound effect”, Resources, Conservation and Recycling, Volume 181, 2022, 106271, ISSN 0921-3449, https://doi.org/10.1016/j.resconrec.2022.106271.

17 Ibid.

18 Ibid.

(16)

mungkin dengan sumber menjadi salah satu aksi mitigasi.

emisi gas rumah kaca, khususnya metana, di sektor sampah.

Pengomposan secara umum akan membantu mitigasi perubahan iklim, karena:

a. mengurangi penggunaan pupuk kimia dan pestisida, yang baik produksi maupun pengaplikasiannya mengeluarkan emisi gas rumah kaca;

b. meningkatan kesuburan tanah dan mengurangi emisi yang mungkin ditimbulkan dari kerja-kerja yang perlu dilakukan untuk meningkatkan kesuburan tanah;

c. meningkatkan kesuburan tanaman yang mampu untuk menangkap dan menyimpan karbon; dan

d. meningkatkan kemampuan tanah untuk menangkap dan menyimpan karbon.19

Di sisi lain, metode pengomposan akan sangat berpengaruh pada emisi gas rumah kaca yang dikeluarkan. Beberapa opsi teknologi pengomposan adalah sebagai berikut:

a. Pengomposan di sumber (contoh: home composting, backyard composting, dan community composting)

b. Open technologies c. Enclosed technologies.

Riset menunjukkan bahwa rata-rata pengurangan emisi gas rumah kaca dari aktivitas pengomposan adalah sebagai berikut:

a. -58 kg CO2-eq tonne-1 ww untuk pengomposan dari sumber;

b. -37 kg CO2-eq tonne-1 ww untuk open composting;

19 X.F. Lou dan J. Nair, “The impact of landfilling and composting on greenhouse gas emissions – A review”, Bioresource Technology 100 (2009) 3792–3798, hlm. 3796.

(17)

c. -32 kg CO2-eq tonne-1 ww untuk enclosed composting.20 Pengomposan dari sumber memiliki manfaat paling besar

dibandingkan dengan pengomposan di fasilitas pengomposan yang terpusat, karena emisi dari proses elektrifikasi fasilitas

pengomposan besar dan emisi yang dikeluarkan dari proses pengumpulan dan pengangkutan sampah dapat diminimalisir.21

Residual waste biostabilization

ICEL merekomendasikan proses

biostabilisasi sampah residu yang masih tercampur sebagai strategi transisi Pemerintah Indonesia dalam upaya mencegah timbulnya gas metana dari sampah segar di TPA yang masih aktif beroperasi. Hal ini perlu dilakukan tanpa mengabaikan aksi mitigasi lainnya sesuai prioritas pada hierarki pengelolaan sampah (food loss and waste reduction, food waste

bioconversion for animal feed, dan food waste composting).

Mengingat bahwa sampah organik akan tetap ada sebagai residu bahkan setelah pemilahan di sumber dan pengolahan sampah organik, sampah residu seharusnya tidak berakhir di TPA tanpa melalui stabilisasi biologis terlebih dahulu. Proses ini diantaranya berupa pencampuran sederhana dan teknik aerasi mirip

pengomposan terbuka.

Tujuan akhir dari biostabilisasi adalah untuk mengurangi potensi sampah residu dalam menghasilkan gas metana. Meskipun prosesnya mirip dengan pengomposan, proses ini tidak

menghasilkan kompos yang dapat digunakan karena sifat sampah residu yang tercampur dan terkontaminasi silang.

Salah satu pendekatan umum untuk menstabilkan sampah residu sebelum ditimbun adalah pemulihan mekanis dan pengolahan biologis, yang telah terbukti mengurangi timbulan metana di TPA

20 A. Boldrin, et.al., “Composting and compost utilization: accounting of greenhouse gases and global warming contributions”, Waste Management and Research, 27(8), 800-812, 2009, DOI: 10.1177/0734242X09345275, hlm. 15.

21 Ibid.

(18)

sebesar 80-90% atau lebih.22,23,24 Melalui cara ini, biostabilisasi berfungsi sebagai proses penyaringan akhir dari bahan organik, termasuk sampah organik kotor atau terkontaminasi yang masih ada di dalam sampah residu.

Biocover application for legacy landfill

ICEL merekomendasikan penerapan lapisan penutup yang aktif secara biologis (biocover) sebagai strategi mitigasi emisi fugitif, khususnya metana, dari TPA yang sudah tidak beroperasi dan ditutup. Adapun aksi mitigasi ini perlu dilakukan tanpa mengabaikan prioritas hierarki pengelolaan sampah sebagaimana dijelaskan pada bagian sebelumnya.

Sebuah studi menemukan bahwa hanya 9% dari emisi metana TPA yang berasal dari TPA yang sudah tidak beroperasi.25 Namun, studi lain menunjukan bahwa lokasi-lokasi tersebut dapat terus

mengeluarkan metana selama beberapa dekade setelah tidak beroperasi lagi.26

Oleh karena itu, langkah mitigasi terakhir untuk TPA yang masih terus menerima residu dan sampah tercampur ataupun TPA yang lebih tua adalah penggunaan penutup biologis aktif (biocover) di lokasi-lokasi tersebut. Semakin banyak penelitian yang

menunjukkan biocover dapat mengurangi sejumlah besar emisi di TPA, khususnya metana. Penutup ini pada dasarnya merupakan lapisan yang terbuat dari kompos atau bahan organik lainnya yang ada di TPA. Memanfaatkan mikroba yang mampu mencerna gas metana yang muncul dari lapisan bawah TPA, dapat mengurangi

22 Bayard, R., J. de Araújo Morais, G. Ducom, F. Achour, M. Rouez, and R. Gourdon. 2010. “Assessment of the Effectiveness of an Industrial Unit of Mechanical–

Biological Treatment of Municipal Solid Waste.” Journal of Hazardous Materials 175 (1): 23–32. https://doi.org/10.1016/j.jhazmat.2009.10.049.

23 Gioannis, G. De, A. Muntoni, G. Cappai, and S. Milia. 2009. “Landfill Gas Generation after Mechanical Biological Treatment of Municipal Solid Waste. Estimation of Gas Generation Rate Constants.” Waste Management 29 (3): 1026–34. https://doi.org/10.1016/j.wasman.2008.08.016.

24 Scaglia, Barbara, Roberto Confalonieri, Giuliana D’Imporzano, and Fabrizio Adani. 2010. “Estimating Biogas Production of Biologically Treated Municipal Solid Waste.” Bioresource Technology 101 (3): 945–52. https://doi.org/10.1016/j.biortech.2009.08.085

25 Powell, Jon T., Timothy G. Townsend, and Julie B. Zimmerman. 2016. “Estimates of Solid Waste Disposal Rates and Reduction Targets for Landfill Gas Emissions.”

Nature Climate Change 6 (2): 162–65. https://doi.org/10.1038/nclimate2804

26 Agency for Toxic Substances and Disease Registry (2001) “Landfill gas primer: An overview for environmental health professionals.” [DARING] Dapat diakses melalui:

https://www.atsdr.cdc.gov/hac/landfill/html/ch2.html

(19)

emisi TPA secara rerata hingga 63%.27,28,29,30 Angka ini lebih tinggi dari efisiensi penangkapan gas TPA dengan teknologi LFG recovery and utilization yang telah dibahas di bagian sebelumnya.

Tergantung dari kondisi lingkungan, cara ini bahkan bisa

menciptakan kondisi emisi “negatif” dengan menyerap emisi gas metana dari atmosfer.31,32 Di sisi lain, dukungan finansial untuk biocover dapat berpotensi menjadi insentif yang buruk untuk membuang kompos berkualitas rendah ke TPA sebagai strategi mitigasi. Hal ini merupakan praktik yang perlu untuk dihindari.

27 Jeong, Seongeun, Xinguang Cui, Donald R. Blake, Ben Boldrin, A., Andersen, J. K., Møller, J., Christensen, T. H. & Favoino, E. (2009) Composting and compost utilization: Accounting of greenhouse gases and global warming contributions. Waste Management & Research, 27(8): 800–812. [DARING] Dapat diakses melalui:

https://doi.org/10.1177/0734242X09345275

28 Lou, X. F. & Nair, J. (2009) The impact of landfilling and composting on greenhouse gas emissions–a review. Bioresource Technology, 100(16): 3792–3798. [DARING]

Dapat diakses melalui: https://doi.org/10.1016/j.biortech.2008.12.006

29 Stern, J. C., Chanton, J., Abichou, T., Powelson, D., Yuan, L., Escoriza, S. & Bogner, J. (2007) Use of a biologically active cover to reduce landfill methane emissions and enhance methane oxidation. Waste Management, 27(9): 1248–1258. [DARING] Dapat diakses melalui: https://doi.org/10.1016/j.wasman.2006.07.018

30 Barlaz, M. A., Green, R. B., Chanton, J. P., Goldsmith, C. D. & Hater, G. R. (2004) Evaluation of a biologically active cover for mitigation of landfill gas emissions.

Environmental Science & Technology, 38(18): 4891– 4899. [DARING] Dapat diakses melalui: https://doi.org/10.1021/es049605b

31 Lou XF, Nair J. The impact of landfilling and composting on greenhouse gas emissions--a review. Bioresour Technol. 2009 Aug;100(16):3792-8. doi:

10.1016/j.biortech.2008.12.006. Epub 2009 Jan 19. PMID: 19155172.

32 Stern, J.C., Chanton, J.P., Abichou, T., Powelson, D.K., Yuan, L., Escoriza, S., & Bogner, J.E. (2007). Use of a biologically active cover to reduce landfill methane emissions and enhance methane oxidation. Waste management, 27 9, 1248-58

(20)

Narahubung

Bella Nathania

Plt. Deputi Direktur bidang Program [email protected]

0812-1932-3195

(21)

Jl. Dempo II No. 21, Kebayoran Baru Jakarta Selatan, Indonesia 12120 www.icel.or.id

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pendapatan Domestik Regional Bruto Sub Sektor Perdagangan Provinsis Jawa Tengah tahun 1985-2009 dengan menggunakan variabel nilai

Aspek teknis : Upaya pengolahan limbah padat medis dengan menggunakan insinerator RSUD Ponorogo untuk melayani limbah padat medis dari RSUD Ponorogo dan

Salah satu upaya untuk mengurangi kadar limbah rumah tangga dengan sistem pengolahan limbah secara Biology irigation Limbah Domestik dengan Eceng gondok

Berdasarkan hasil perhitungan, estimasi besarnya emisi GRK sektor limbah padat yang dihasilkan di kabupaten Karangasem, dari tahun 2011 sebesar 2.918 ton CO2e dan

Teknologi pengolahan air limbah domestik blackwater dan greywater yang sesuai untuk wilayah pemukiman padat penduduk di Kecamatan Rungkut adalah Teknologi dengan

Dalam upaya peningkatan Sanitasi Kota Kediri saat ini, ada empat sub sektor yang menjadi fokus utama yaitu : Sub sektor Air Limbah Domestik, Sub sektor

Dengan demikian, pengelolaan air limbah domestik merupakan upaya mengubah citra “air limbah domestik” dari sesuatu yang negatif dan merugikan menjadi sesuatu yang bernilai positif dan

Tahapan Perhitungan Jaringan Perpipaan Air Limbah Domestik 4.1.2 Kriteria Perencanaan Sub-sistem Pengumpulan Perencanaan sub-sistem pengumpulan dapat mengikuti kriteria sesuai dengan