a
Cara menjalani kehidupan, melampaui Dimensi Ruang dan Waktu
Dasar kelanjutan ego dan kapasitas untuk mendominasi adalah klaimnya atas kepengarangan dari semua pengalaman subjektif.
‘’Aku pikir” sangat cepat dalam menyela dirinya sendiri sebagai anggapan penyebab dari semua aspek kehidupan seseorang. Ini sulit dideteksi kecuali dengan fokus perhatian yang intens selama meditasi terhadap asal dari arus pikiran.
Waktu yang berjalan diantara peristiwa yang dirasakan secara internal dan klaim ego terhadap kepengarangan adalah sekitar 1/10.000 detik. Setelah kesenjangan ini ditermukan, ego kehilangan dominasinya.
Menjadi jelas bahwa orang adalah saksi dari fenomena dan bukan penyebab atau pelaku.
Maka, diri diidentifikasi sebagai sesuatu yang disaksikan dan bukan sebagai saksi atau yang mengalami.
Singkat kata, bisa dikatakan bahwa ego adalah kumpulan posisionalitas yang disatukan oleh keangkuhan dan ketakutan. Ego dilepaskan oleh kerendahan hati radikal, yang mengerem
penyebarannya.
Seni menjalani Hidup dengan Katoka
Untuk membatalkan dominasi konten mental, orang perlu menghilangkan ilusi bahwa pikiran bersifat pribadi, pikiran berharga, atau pikiran itu milik, atau berasal dari diri
seseorang. Seperti tubuh, pikiran dan isinya sebenarnya adalah produk dari dunia.
Pikiran aku mengetahui menghalangi kemawasan tertinggi dari kata “aku”yang sejati.
Kata “tahu” bersifat dualistik dan mengasumsikan dikotomi antara subyek yang terpisah
“yang mengetahui” dengan sesuatu yang eksternal untuk diketahui.
Realitas menjadi terbukti dengan sendirinya setelah rintangan persepsi dan aktivitas mental dihilangkan, termasuk semua sistem kepercayaan.
Ego tidak perlu ditundukkan, yang perlu adalah berhenti mengidentifikasi dengan ego.
Taklukkan Keterbatasan: Menggapai Pencerahan dengan Melepaskan penghalang
Ego/pikiran takut jika tidak berpikir ia akan:
1. Menjadi bosan, dan 2. Berhenti ada
Masalah kebosanan relatif mudah ditransendesi hanya dengan melihat bahwa kebosanan hanyalah rasa frustasi karena tidak dihibur oleh pemikiran-pemikiran “menarik”.
Untuk mentransendesi pemikirannya, minat harus benar-benar difokuskan ulang pada mencari substansi dari mana pikiran muncul.
Orang melihat ilusi bahwa dirinya tidak sanggup menjalani kehidupan kecuali dia berpikir. Tidak ada kejadian seperti itu.Orang tidak perlu berada di sana. Orang tidak perlu menganggap bahwa ada seseorang “aku”yang bertanggung jawab atas tindakan seseorang.
Semuanya berjalan dengan sendirinya. Keangkuhan egolah yang berkata “aku
melakukan ini, aku berpikir begitu, aku memutuskan itu” . sama sekali tidak ada “aku” dalam hal ini. Semua ini memutuskan sendiri dan melakukan sendiri, oleh sendiri (otonomi).
Obyektifikasi berhenti. Pengalaman bergeser dari keadaan berurutan ke proses itu sendiri, dari linier ke non-linier, dan obyektif serta subyektif adalah satu.
Berhenti mengidentifikasikan tubuh/emosi/pikiran sebagai bentuk “aku”. Jujur dan akui bahwa tubuh/emosi/pikiran itu milik Anda tetapi bukan Anda.
Walaupun ini tampak artifisial, aneh, asing, dan tidak natural pada awalnya namun realitas dasarnya adalah kebenaran tertinggi, yang membuatnya sangat kuat dan alat yang tangguh.
Pikiran akan mencoba menyangkal realitas dan kebenaran ini (itulah yang “harus dilakukannya”) karena kebenaran dirasakan sebagai musuh.
Sementara informasi biasa “didapatkan” dengan usaha di dalam upaya spiritual penekanannya ada pada menghilangkan, melepaskan, dan menyerahkan. “pekerjaan” itu melibatkan mengidentifikasi posisionalitas dan kemudian mentransendensikan perlawanan ego serta melepaskan ilusi kontrol atau kedaulatannya.
Dengan demikian, inti dari upaya spiritual selaras dengan membatalkan dan membongkar pikiran, bukannya memperkaya pikiran.
Amaliah yang Ilmiah
Dengan memahami dan menerima sifat ego, ego ditransendensi dan akhirnya runtuh lalu menghilang setelah semua posisi dan dualitasnya dipasrahkan.
Ego tidak tercerahkan, tetapi menghilang dan musnah. Kemudian ego digantikan oleh realitas Transendental sebagaimana yang dijelaskan oleh sang Budha.
Sama seperti matahari bersinar ketika awan menghilang, Realitas Diri memancar dengan sendirinya sebagai Pengungkapan, Realisasi, dan Pencerahan.