Resume Hukum Perdata
“Perkawinan Putus dan Akibatnya”
Nama: Iswan Agustian NPM : 2112011304
A. Pengertian Perkawinan Putus
Perkawinan putus tidak terdapat dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan. Hal tersebut bukan berarti perceraian tidak diperbolehkan, perceraian dapat terjadi dengan alasan-alasan tertentu serta harus dilaksanakan di depan sidang pengadilan. Perceraian didefinisikan sebagai upaya atau jalan terakhir setelah segala upaya atau jalan terakhir setelah segala upaya untuk mendamaikan suami-istri telah ditempuh namun tidak berhasil dan kalaupun suami-istri harus mempertahankan perkawinannya dalam keadaan tidak bahagia, kekal, dan sejahtera akan menimbulkan masalah-masalah lebih lanjut.
Dalam Pasal 38 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan disebutkan beberapa hal yang menyebabkan putusnya hubungan perkawinan, antara lain:
Kematian; Putusnya perkawinan atas kehendak Tuhan, sehingga tidak banyak menimbulkan persoalan lebih lanjut.
Perceraian; Apabila perkawinan putus karena perceraian, waktu tunggu bagi yang masih berdatang bulan ditetapkan 3 (tiga) kali suci dengan sekurang-kurangnya 90 (sembilan puluh) hari dan bagi yang tidak berdatang bulan ditetapkan 90 (sembilan puluh) hari (Pasal 39 ayat (1) huruf b). Perceraian terdiri dari dua jenis, yaitu (1) Cerai Talak dan (2) Cerai Gugat. Cerai Talak adalah suatu bentuk perceraian yang dijatuhkan oleh suami kepada istrinya di depan sidang pengadilan, yang dikenal umum dan banyak terjadi di Indonesia. Sedangkan, Cerai Gugat adalah perceraian yang diajukan oleh suami atau istri atau kuasanya.
Atas Putusan Pengadilan; Adalah perceraian yang dilakukan dengan putusan Pengadilan Agama bagi menganut agama Islam ataupun dengan putusan Pengadilan Negeri bagi yang menganut selain agama Islam yang Perjanjian pembagian didasarkan oleh suatu gugatan perceraian dari salah satu pihak suami atau istri.
B. Akibat Perkawinan Putus Karena Perceraian
Perceraian terdiri dari tiga akibat, yaitu terhadap anak dan istri, terhadap harta perkawinan, dan terhadap status. Berikut penjelasannya:
Akibat terhadap anak dan istri
Mengacu pada ketentuan Pasal 41 Undang-undang perkawinan, ada tiga hal yang perlu dipatuhi sebagai akibat perkawinan putus karena perceraian, antara lain:
1. Bapak dan Ibu tetap berkewajiban memelihara anak dan mendidik anak mereka semata-mata untuk kepentingan anak. Apabila terjadi perselisihan, pengadilan memberi putusannya.
2. Bapak harus bertanggung jawab atas semua biaya pemeliharaan pendidikan yang diperlukan anak, jika tidak mampu, pengadilan akan mengikutsertakan tanggung jawab tersebut kepada Ibu.
3. Pengadilan dapat mewajibkan kpeada mantan suami untuk memberikan biaya penghidupan kepada mantan istri.
Akibat terhadap harta perkawinan
Harta bawaan dan harta perolehan tidak menimbulkan masalah karena harta tersebut dikuasi oleh masing-masing pihak. Namun, harta bersama akan timbul persoalan.
Mengacu pada ketentuan Pasal 37 Undang-undang Perkawinan, apabila terjadi perkawinan putus karena perkawinan, harta bersama diatur menurut masing-masing hukumnya. Bagi yang kawin menurut hukum Islam, hukum Islam tidak mengenal harta bersama karena istri diberi nafkah oleh suami. Bagi mereka yang kawin menurut agama kristen, tetapi tunduk pada KUH Perdata, jika terjadi perceraian, harta bersama diagi dua antara mantan suami dan mantan istri.
Akibat terhadap status
1. Kedua mereka itu tidak terikat tali perkawinan lagi dengan status janda dan duda.
2. Kedua mereka itu bebas melakukan perkawinan dengan pihak lain.
3. Kedua mereka itu boleh melakukan perkawinan kembali sepanjang tidak dilarang oleh undang-undang atau agama mereka