TEKNIK PEMBESARAN UDANG VANAME (Litopenaeus Vannamei) Di BALAI BESAR PERIKANAN BUDIDAYA AIR PAYAU JEPARA (BBPBAP
JEPARA)
PRAKTIK LAPANGAN I.2
TARUNA SEMESTER VI
Oleh :
1. Akhmad Aji Rifki 2. Aura Yufi Andani 3. Danu Rizkiyana Putra 4. Ummi Kulsum
5. Zahrotul Firdaus
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI AKUAKUTUR PERIKANAN POLITEKNIK AHLI USAHA PERIKANAN JAKARTA
2025
TEKNIK PEMBESARAN UDANG VANAME (Litopenaeus Vannamei) Di BALAI BESAR PERIKANAN BUDIDAYA AIR PAYAU (BBPBAP)
JEPARA
Oleh :
Akhmad Aji Rifki (58224114655) Aura Yufi Andani (58224214657) Danu Rizkiyana Putra (58224114660) Ummi Kulsum (58224214672) Zahrotul Firdaus (58224214675)
Laporan Praktik Lapangan I.2 Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk mengikuti Ujian Akhir Semester
PROGRAM SARJANA TERAPAN
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI AKUAKULTUR POLITEKNIK AHLI USAHA PERIKANAN
JAKARTA 2025
PRAKTIK LAPANGAN I.2
Judul : TEKNIK PEMBESARAN UDANG VANAME (Litopenaeus Vannamei) di BALAI BESAR PERIKANAN BUDIDAYA AIR PAYAU (BBPBAP) JEPARA
Penyusun : 1. Akhmad Aji Rifki (58224114655) 2. Aura Yufi Andani (58224214657) 3. Danu Rizkiyana Putra (58224114660) 4. Ummi Kulsum (58224214672) 5. Zahrotul Firdaus (58224214675) Program : Teknologi Akuakultur
Menyetujui Dosen Pembimbing,
Sumiarsih S.Pi.,M.Pi Purwanto S.Pi.,M.Pi
Pembimbing I Pembimbing II
Megetahui,
Afandi Saputra, S.St.Pi., MP. Harry Krettiawan S.Si.,M.Si Ketua Program Studi Sekretaris Program Studi
KATA PENGANTAR
Pertama, Puji syukur kami panjatkan atas ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Praktik Lapang I.2 yang berjudul “TEKNIK PEMBESARAN UDANG VANAME (Litopenaeus Vannamei) Di BALAI BESAR PERIKANAN BUDIDAYA AIR PAYAU (BBPBAP) JEPARA” Laporan Praktik Lapang I.2 ini disusun sebagai salah satu syarat untuk mengikuti ujian akhir semester pada Program Studi Teknologi Akuakultur Politeknik Ahli Usaha Perikanan. Kegiatan ini diharapkan dapat menambah wawasan, keterampilan, dan pengalaman dalam bidang budidaya perikanan, khususnya di bidang pembesaran udang vanamei.
Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan dan bimbingan selama proses kegiatan berlangsung, khususnya kepada dosen pembimbing, penanggung jawab dan teknisi unit NSBC serta seluruh rekan yang turut membantu dalam pelaksanaan kegiatan ini.
Upaya maksimal telah penulis lakukan untuk menyelesaikan laporan ini, namun penulis menyadari masih banyak kekurangan dan kesalahan. Oleh sebab itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat dibutuhkan penulis untuk menyempurnakan laporan ini. Akhir kata, semoga laporan ini dapat memberikan manfaat dan menjadi referensi bagi pembaca.
Jakarta, 27 April 2025
Penulis
UCAPAN TERIMAKASIH
Pertama, Puji syukur kami panjatkan atas ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga Laporan Praktik Lapangan I.2 ini dapat diselesaikan dengan tepat waktu. Selain itu, penulis menyadari dalam peyusunan laporan ini tidak lepas dari bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Maka dari itu, Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan ucapan terimakasih kepada kepada Ibu Sumiarsih S.Pi.,M.Pi dan Bapak Purwanto S.Pi.,M.Pi Selaku pembimbing I dan II, yang telah memberikan bimbingan, dorongan, dan semangat dalam penyusunan Laporan Praktik Lapang ini. Ucapan terima kasih penulis sampaikan pula kepada:
1. Supito, S.Pi, M.Si., selaku kepala Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau Jepara;
2. Dr. Ani Leilani, M.Si selaku Direktur Politeknik AUP;
3. Dr. Heri Triyono, A.Pi., M.Kom., selaku Wakil Direktur I Politeknik AUP;
4. Dr. Danu Sudrajat, A.Pi., MAP., selaku Wakil Direktur II Politeknik AUP;
5. Yenni Nuraini, S.Pi., M.Sc., selaku Wakil Direktur III Politeknik AUP;
6. Afandi Saputra, S.St.Pi, MP.,selaku Ketua Program Studi Teknologi Akuakultur;
7. Harry Krettiawan S.Si.,M.Si., selaku Sekretaaris Program Studi Teknologi Akuakultur;
8. Penanggung jawab lapangan dan Teknisi Unit Pembesaran Udang Vaname;
9. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan Laporan Praktik Lapang.
Dalam penyusunan laporan ini, penulis telah berusaha dengan upaya maksimal, namun penulis menyadari bahwa penulisan laporan ini masih jauh dari kata sempurna. Hal ini disebabkan karena keterbatasan waktu dan literatur yang penulis miliki serta kemampuan penulis sendiri yang masih jauh dari memuaskan. Akhir kata, penulis mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca dan semoga laporan ini dapat memberikan manfaat.
Jakarta, 27 April 2025
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR... iv
UCAPAN TERIMAKASIH...v
DAFTAR ISI... vi
DAFTAR TABEL...vii
DAFTAR GAMBAR...viii
DAFTAR LAMPIRAN...ix
1 PENDAHULUAN...1
1.1 Latar Belakang... 1
1.2 Tujuan...2
1.3 Batasan Masalah...2
2 TINJAUAN PUSTAKA... 3
2.1 Klasifikasi dan Morfologi Udang Vaname (Litopeanaeus vannamei)3 2.2 Habitat Udang Vaname (Litopeanaeus vannamei)...4
2.3 Daur Hidup Udang Vaname...4
2.4 Teknik Pembesaran Udang Vaname...5
2.4.1 Persiapan Wadah... 5
2.4.2 Pengisian Air...5
2.4.3 Pemasangan Alat... 6
2.4.4 Penebaran Benur...6
2.4.5 Manajemen Pemberian Pakan...7
2.4.6 Pengelolaan Kualitas Air...7
2.4.7 Pemberantasan Hama dan Penyakit...8
2.4.8 Penyiponan... 8
2.4.9 Monitoring Pertumbuhan...9
2.4.10 Pemanenan...9
3 METODE PRAKTIK...10
3.1 Waktu dan Tempat...10
3.2 Alat dan Bahan...10
Tabel 1. Bahan-bahan yang digunakan...10
3.3 Metode Pengumpulan Data...11
3.4 Metode Kerja...13
a. Data Primer...13
b. Data Sekunder...13
3.5 Metode Pengolahan Data...13
4 HASIL DAN PEMBAHASAN...14
4.1 Hasil Praktik Kerja Lapang...14
4.1.1 Grafik Pertumbuhan Bobot...14
4.1.2 Grafik Pertumbuhan Panjang...14
4.1.3 Pengambilan Data... 15
4.1.4 Data Kualitas Air...15
4.2 Pembahasan Praktik Kerja Lapang...15
4.2.1 Persiapan Wadah... 15
4.2.2 Pengisisan Air...16
4.2.3 Pemasangan Alat... 17
4.2.4 Manajemen Pemberian Pakan...19
4.2.5 Pengelolaan Kualitas Air...20
4.2.6 Manajemen Hama dan Penyakit...22
4.2.7 Monitoring Pertumbuhan...23
4.2.8 Penyiponan... 25
4.2.9 Pemanenan...26
5 SIMPULAN DAN SARAN...27
5.1 Kesimpulan... 27
5.2 Saran...27
DAFTAR PUSTAKA...28
LAMPIRAN...34
Bahan :...36
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR LAMPIRAN
1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) seluas sekitar 2,7 juta kilometer persegi. Sekitar 75% dari total wilayah Indonesia terdiri atas perairan pesisir dan laut.
Letaknya yang berada di sepanjang garis khatulistiwa menjadikan perairan Nusantara kaya akan keanekaragaman hayati. Seiring menurunnya hasil perikanan tangkap, budidaya perikanan termasuk komoditas udang menjadi salah satu alternatif masa depan yang menjanjikan bagi sektor perikanan nasional. Oleh karena itu, pemanfaatan dan pengembangan sumber daya perairan pantai serta laut perlu dilakukan secara bijak, rasional, dan berkelanjutan.
Saat ini, budidaya udang vannamei (Litopenaeus vannamei) dengan sistem intensif semakin banyak diminati masyarakat, khususnya mereka yang tinggal di wilayah pesisir. Kegiatan ini dikelola baik oleh pemerintah maupun sektor swasta. Potensi lahan untuk budidaya juga cukup besar, yaitu sekitar 2.963.717 hektare, namun lahan yang sudah dimanfaatkan baru sekitar 22,18% atau 657.436 hektare (Dirjen Perikanan Budidaya, 2014).
Indonesia sendiri dikenal sebagai salah satu negara pengekspor utama udang vannamei di dunia. Berdasarkan data tahun 2020, produksi udang nasional mencapai sekitar 650.000 ton (Soebjakto, 2020). Kemudian pada tahun 2021, nilai ekspor udang Indonesia tercatat sebesar US$2,23 miliar, yang menyumbang sekitar 39% dari total nilai ekspor produk perikanan, mengalami peningkatan sebesar 9,3% dibandingkan tahun sebelumnya. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan produksi udang nasional sebesar 2 juta ton per tahun pada tahun 2024 (Amarta, 2022).
Udang vannamei merupakan spesies yang paling dominan dibudidayakan di Indonesia dengan berbagai metode pemeliharaan, mulai dari sistem tradisional, semi-intensif, intensif, hingga supra-intensif (Gunarto et al., 2012). Spesies ini berasal dari daerah subtropis pantai barat Amerika, mulai dari Teluk California di Meksiko hingga pantai barat Amerika Tengah dan Selatan, termasuk Guatemala, El Salvador, Nikaragua, Kosta Rika, hingga Peru.
Udang vannamei memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan spesies udang lainnya, antara lain lebih tahan terhadap penyakit, memiliki rasio konversi pakan yang rendah, tingkat kelulushidupan yang tinggi, serta relatif mudah dibudidayakan (Ariadi et al., 2021). Selain itu, udang ini juga tumbuh lebih cepat, sehingga masa pemeliharaan menjadi lebih singkat. Ukuran panennya pun cenderung seragam, pakan buatannya relatif murah, dan
mampu bertahan pada kepadatan tinggi serta rentang salinitas antara 5 hingga 30 ppt, menjadikannya sangat potensial untuk dikembangkan.
Salah satu daerah di Provinsi Jawa Tengah yang telah berhasil mengembangkan teknologi budidaya udang vannamei adalah Kabupaten Jepara. Wilayah ini terletak di pesisir utara dengan garis pantai sepanjang 82,73 km dan terdiri atas 16 kecamatan, yang meliputi 9 kecamatan pesisir dan 7 kecamatan pedalaman (Ekosafitri et al., 2017). Kabupaten Jepara juga memiliki lahan tambak seluas sekitar 1.077,917 hektare (Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Jepara).
Berdasarkan uraian tersebut, penulis tertarik untuk melaksanakan kerja praktek di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara, Provinsi Jawa Tengah. BBPBAP Jepara merupakan salah satu unit pelaksana teknis utama milik pemerintah yang memiliki peran penting dalam pengembangan teknologi dan inovasi budidaya udang di Indonesia. Oleh karena itu, judul kegiatan kerja praktek yang diangkat adalah: “Teknik Pembesaran Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) di BBPBAP Jepara Provinsi Jawa Tengah.”
1.2 Tujuan
Tujuan dari pelaksanaan kerja praktek ini adalah untuk mempelajari serta mengaplikasikan secara langsung teknik pembesaran udang vannamei (Litopenaeus vannamei) di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara, Provinsi Jawa Tengah.
1.3 Batasan Masalah
Adapun batasan masalah yang diharapkan dari kerja praktek ini adalah mahasiswa dapat melakukan praktek pembesaran udang vannamei secara langsung, menambah wawasan, pengalaman dan keterampilan mahasiswa dalam menerapkan ilmu yang ditekuni untuk dijadikan bekal kedepannya.
2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Klasifikasi dan Morfologi Udang Vaname (Litopeanaeus vannamei) Menurut (Ruswahyuni, 2010) klasifikasi udang vannamei adalah sebagai berikut:
Filum : Arthropoda
Subfilum : Crustacea Kelas : Malacostraca Subkelas : Eumalacostraca Superordo : Eucarida
Ordo : Decapoda
Subordo : Dendrobranchiata Famili : Penaeidae
Genus : Litopenaeus
Spesies : Litopenaeus vannamei Morfologi udang vannamei dapat dilihat pada gambar 1.
Seperti halnya jenis udang penaeid lainnya, morfologi udang vannamei (Litopenaeus vannamei) secara umum terdiri atas dua bagian utama, yaitu kepala (cephalothorax) dan perut (abdomen). Bagian kepala dilindungi oleh lapisan kitin yang berfungsi sebagai pelindung tubuh. Di dalamnya terdapat antennulae, antenna, mandibula, serta dua pasang maxillae. Selain itu, kepala udang ini juga dilengkapi dengan tiga pasang maxiliped dan lima pasang kaki jalan (pereopoda), yang sering disebut juga sebagai kaki sepuluh (decapoda).
Rostrum udang vannamei berbentuk ramping, memanjang, dengan pangkal menyerupai segitiga. Bagian uropoda berwarna merah kecokelatan, dengan ujung berwarna kuning kemerahan atau sedikit kebiruan. Kulit tubuhnya tipis dan transparan. Tubuh udang ini berwarna putih kekuningan, disertai dengan bintik-bintik coklat dan hijau di bagian ekor. Udang betina dewasa memiliki punggung yang keras dan warna telson serta kipas ekornya
(uropoda) kebiruan, sedangkan udang jantan dewasa memiliki petasma yang simetris. Udang vannamei dapat tumbuh hingga mencapai panjang tubuh sekitar 23 cm.
2.2 Habitat Udang Vaname (Litopeanaeus vannamei)
Udang vannamei secara alami hidup di dasar perairan dengan kedalaman hingga 72 meter. Spesies ini banyak ditemukan di wilayah Samudra Pasifik, mulai dari perairan Meksiko hingga kawasan Amerika Tengah dan Selatan. Habitat udang vannamei bervariasi, tergantung pada tahap perkembangan dan kebutuhan hidupnya. Secara umum, udang ini bersifat bentik, yaitu hidup di permukaan dasar laut. Jenis habitat yang paling disukai adalah dasar perairan yang lunak, biasanya berupa campuran antara lumpur dan pasir (Haliman dan Adijaya, 2006 dalam Nabil, 2016).
2.3 Daur Hidup Udang Vaname
Menurut Martosudarmo (dalam Prasetyo, 2014), udang vannamei mengalami beberapa tahapan perkembangan dari fase menetas hingga mencapai kedewasaan, yaitu sebagai berikut:
Tahapan ini merupakan inti dari kegiatan budidaya di tambak atau kolam yang bertujuan untuk menghasilkan udang siap konsumsi:
1. Benur (PL10–PL15): Benur ditebar ke kolam pembesaran setelah melalui proses aklimatisasi guna menyesuaikan diri dengan lingkungan baru agar tidak mengalami stres.
2. Tahap Awal Pembesaran: Udang mulai diberi pakan buatan (pelet) yang disesuaikan dengan kebutuhan dan umurnya. Dalam tahap ini, parameter kualitas air seperti suhu, salinitas, kandungan oksigen terlarut, dan pH diawasi dengan ketat.
3. Tahap Lanjutan Pembesaran: Udang mengalami pertumbuhan yang signifikan, sehingga kebutuhan pakan dan pengelolaan kualitas air menjadi lebih kompleks dan intensif. Proses ini berlangsung selama kurang lebih 2,5 hingga 3 bulan, tergantung pada ukuran udang yang ingin dicapai saat panen.
4. Proses Panen: Panen dilakukan ketika udang telah mencapai ukuran yang diinginkan (misalnya antara 100 hingga 30 ekor per kilogram). Proses ini dapat dilakukan secara bertahap (parsial) maupun secara keseluruhan.
2.4 Teknik Pembesaran Udang Vaname 2.4.1 Persiapan Wadah
Tahap awal dalam proses budidaya udang vannamei adalah mempersiapkan wadah atau kolam. Langkah ini mencakup pembersihan kolam, pengeringan, serta perbaikan struktur kolam jika ditemukan kerusakan. Proses dimulai dengan membersihkan kolam dari lumut, sisa pakan, dan organisme lain yang menempel pada lapisan plastik kolam, karena jika tidak dibersihkan dapat memicu pertumbuhan bakteri selama masa budidaya.
Menurut K et al. (2021), kolam harus dibersihkan hingga benar-benar kering untuk mengeliminasi sebagian besar mikroorganisme patogen, melepaskan gas-gas beracun yang terperangkap di dasar kolam, serta memutus siklus hidup hama dan penyakit dari periode budidaya sebelumnya.
Pengeringan kolam dilakukan dengan memanfaatkan sinar matahari selama 1 hingga 2 minggu. Tujuannya adalah untuk membunuh sisa-sisa maupun telur hama yang masih tertinggal, membasmi penyakit, serta mengoksidasi gas beracun.
Pengeringan ini juga efektif untuk membasmi organisme seperti tritip (runti) dan lumut, sehingga lebih mudah dibersihkan.
Tahap selanjutnya adalah perbaikan kolam, yang tidak kalah penting. Kegiatan ini mencakup menambal bagian kolam yang mengalami kebocoran serta memeriksa saluran masuk (inlet) dan keluar (outlet), guna memastikan tidak ada komponen seperti baut pengunci pada pipa inlet yang lepas atau rusak.
2.4.2 Pengisian Air
Proses pengisian air kolam biasanya disesuaikan dengan kondisi pasang surut air laut, karena sumber air yang digunakan berasal dari aliran yang langsung terhubung ke laut. Saat air laut pasang, air dipompa masuk ke dalam tandon hingga mencapai ketinggian sekitar 150 cm. Setelah itu, air didiamkan selama satu hari dan ditambahkan kaporit dengan dosis 30 ppm. Selanjutnya, air dialirkan ke kolam pembesaran hingga mencapai ketinggian 120 cm dan kembali diendapkan selama 3 hingga 4 hari. Pada tahap ini, juga ditambahkan kapur dengan tujuan untuk merangsang pertumbuhan plankton sebagai pakan alami.
Sementara itu, pergantian air dilakukan secara rutin untuk menjaga kualitas air agar tetap optimal, mendukung pertumbuhan udang, serta mengurangi tingkat kematian. Menurut Fuady dan
Nitisupardjo (2013), pergantian air dilakukan setiap tiga hari sekali dengan mengganti sekitar 10–20% dari total volume air tambak.
2.4.3 Pemasangan Alat
Setelah dilakukan pengisian air maka tahapan selanjutnya adalah pemasangan alat seperti kincir, instalasi listrik, serta pemasangan lampu penerangan yang ada di tambak, hal ini harus dipersiapkan semaksimal mungkin agar selama berjalannya proses budidaya nantinya tidak terjadi kendala. Menurut (Untara lutfi et al , 2018) tujuan pemasangan kincir adalah untuk mensuplai oksigen, selain itu kincir juga berguna untuk mengarahkan kotoran dasar ke sentral dan membantu proses treatment air sebagai pengaduk hal ini juga disampaikan oleh kamaruddin et al (2017) yang mengatakan Pemasangan kincir dibuat agar membuat arus yang memusat ke central drain di tengah tambak yang bertujan agar kotoran, sisa pakan dapat berkumpul di tengah tambak sehingga dapat dibuang atau dikeluarkan melalui central drain kincir yang digunakan harus memiliki kemampuan untuk mengaerasi dan mensirkulasi air ditambak pembesaran dan budidaya Semakin lama umur budidaya maka penggunaan kincir semakin banyak.
Kapasitas 1kincir bisa menghasilkan oksigen terlarut untuk 400 kwintal atau sekitaran 400 kg udang. Pemasangan kincir harus dilakukan secara tepat sehingga menimbulkan arus yang memusat ke daerah central drainage sehingga mempermudah pembuangan lumpur yang merupakan bahan organik berupa sisa pakan dan kotoran udang (Erlangga, 2012).
2.4.4 Penebaran Benur
Penebaran benur dilakukan secara langsung dengan cara mengapungkan kantong plastik berisi benur di permukaan air kolam. Tujuannya adalah untuk menyesuaikan suhu dan kondisi air di dalam kantong dengan perairan kolam, proses ini dikenal sebagai aklimatisasi. Aklimatisasi bertujuan untuk mengurangi tingkat kematian benur selama dan setelah proses penebaran.
Salah satu tanda aklimatisasi berhasil adalah munculnya embun pada plastik, yang menandakan adanya perpindahan panas dari air dalam kantong ke air kolam hingga mencapai kesetimbangan suhu.
Penebaran umumnya dilakukan pada pagi hari guna menghindari suhu air yang terlalu tinggi. Hal ini sejalan dengan pendapat Khumaidi et al. (2012) yang menyatakan bahwa waktu penebaran sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari karena pada waktu tersebut fluktuasi kualitas air, seperti suhu, pH, dan salinitas, relatif stabil.
2.4.5 Manajemen Pemberian Pakan
Manajemen pemberian pakan merupakan hal yang sangat penting dalam budidaya dimana dalam budidaya pakan merupakan salah satu aspek penentu dalam keberhasilan budidaya jika manajemen pakan diolah sebaik mungkin maka hampir bisa dipastikan budidaya tersebut akan mendapatkan hasil sesuai dengan yang diharapkan dan juga pakan merupakan sumber pengeluaran terbesar dalam usaha budidaya yaitu sekitar 60 - 70%
dari total biaya produksi.Menyediakan pakan yang sesuai dengan kebutuhan nutrisi udang merupakan suatu hal yang tidak kalah penting karena kualitas pakan yang baik akan menghasilkan udang vannamei yang berkualitas, Pakan yang diberikan pada udang berperan dalam peningkatan kualitas dan pertumbuhan udang.
Penambahan bobot pada udang dan laju pertumbuhan dipengaruhi oleh penyerapan nutrisi yang terkandung pada pakan (Suwoyo dan Mangampa, 2010 dalam Darwantin et al 2016).
Cara pemberian pakan yang merata dapat menghindari terjadinya kompetisi dalam mendapatkan makanan. Apabila kompetisi dapat dihindari, maka sifat kanibalisme akan semakin tajam dan menjolok apabila ukuran udang sangat berfariasi. Pakan alami lebih banyak digunakan saat udang masih berukuran kecil.
Pada fase zoea, udang akan bersifat herbivora dan memakan fitoplankton. Saat fase Mysis, udang akan bersifat karnivora, sehingga pakan yang akan di konsumsi berupa zooplankton. Pakan buatan berbentuk pelet dapat mulai dilakukan sejak benur ditebar hingga udang siap panen. Frekuensi pemberian pakan pada udang biasa dilakukan 4-6 kali sehari (Renitasari et al., 2021).
2.4.6 Pengelolaan Kualitas Air
Kualitas air yang baik merupakan sebuah hal yang harus dipenuhi dalam usaha pembesaran udang, karena kualitas air yang baik akan sangat mempengaruhi pertumbuhan dari udang itu sendiri. Jika kualitas air tidak dijaga dengan baik maka akan menyebabkan udang itu stres dan terkena penyakit bahkan bisa menyebabkan kematian karena penyakit yang menginfeksi tubuh udang tersebut. Beberapa parameter kualitas air yang mempengaruhi pertumbuhan dan tingkat kelangsungan udang antara lain: suhu, oksigen terlarut, pH dan salinitas air (Supono,2018).
Dalam akuakultur tentu saja tidak akan terlepas dari air sebagai komponen pokoknya. Oleh sebab itu mengetahui paramater kualitas air sangat dibutuhkan dalam budidaya Udang Vaname.
Salah satunya dengan mengevaluasi paramater kualitas air pada awal tebar Day of Culture 5 –12 hari dan akhir masa panen tot al Day of culture 85 –93 hari. Sehingga peran air yang sangat penting patut dijaga agar sesuai dengan baku mutu bagi kultivan (Farabi et al, 2023). Adapun kualitas air yang optimal menurut (Maghfiroh et al.,2019) oksigen terlarut berkisar antara 4,83 –6,51 mg/L, nilai pH berkisar antara 8,1 –8,5, nilai suhu berkisar antara 28 − 31 oC, nilai salinitas berkisar 20 − 21ppt, nilaikandungan nitrit berkisar 0,3 –0,4mg/L,nilai kandungan nitrat 1,25 –1,35 mg/L dan nilaikandungan amonia berkisar 0,01– 0,03mg/L.
2.4.7 Pemberantasan Hama dan Penyakit
Hama menurut Herlina (dalam Fahmi,2016) adalah organisme pengganggu yang dapat mempercepat berkurangnya jumlah udang yang dipelihara dalam waktu singkat. Secara umum hama dikategorikan kedalam dua kategori hama predator yang merupakan hama pemangsa dapat memangsa udang dalam jumlah yang banyak seperti ikan kakap, kepiting, bangsa burung dan bangsa ular. Hama kompetitor yaitu golongan pesaing menjadi pesaing dalam hidup udang baik makanan maupun oksigen contohnya siput , ikan dan udang.
Adapun penyakit yang sering menyerang udang pada saat berjalannya proses budidaya yaitu Bacterial White Spot Syndrome (BWSS), dan Penyakit (Early mortality syndrome) EMS yang dikenal juga dengan (acute hepatopancreatic necrosis disease) AHPND atau penyakit nekrosis hepatopankreas akut, merupakan penyakit baru yang ditemukan pada tahun 2009 yang merupakan penyakit yang menyerang sistem pencernaan udang.
2.4.8 Penyiponan
Penyiponan merupakan kegiatan pembersihan kolam dari sisa makanan, kotoran, serta sisa molting dari kulit udang dengan cara disedot dan dibuang keluar kolam melalu pipa central drainase . Penyiponan ini dilakukan dengan menggunakan alat bantu selang spiral dengan panjang 5 meter, pada tambak NSBC
ini dilakukan penyiponan setiap hari yaitu pada pagi dan sore.
Sedangkan fungsi penyiponan menurut Haliman dan Adijaya (2005) dalam Kamaruddin et al., (2018) adalah salah satu cara untuk mencegah kadar amonia didasar tambak terlalu tinggi. Namun metode penyiponan juga memiliki resiko yaitu bisa menyebabkan kematian udang, dikarenakan udang mengalami stress karena gelombang air yang ditimbulkan dari proses penyiponan.
2.4.9 Monitoring Pertumbuhan
Monitoring adalah kegiatan pemantauan yang dilakukan selama masa pemeliharaan udang, adapun monitoring yang sering dilakukan dalam usaha budidaya yaitu metode sampling dengan tujuan untuk mengetahui pertumbuhan ukuran bobot dan panjang udang dan hasil sampling juga berfunsi untuk mengetahui Hasil sampling juga dapat digunakan untukmengetahui berat rata rata udang/ Average Body Weight (ABW), , Pertumbuhan Laju Spesifik, efisiensi penggunaan pakan, Feed Conversion Ratio (FCR) dan mengetahui Survival rate (Kelangsungan hidup). Sampling dilakukan setiap 10 hari namun ketika udang telah melewati usia 40 hari sampling dilakukan setip 7 hari sekali.
2.4.10 Pemanenan
Tahapan akhir dari usaha pembesaran udang adalah pemanenan. Pemanenan adalah proses pengambilan seluruh udang yang ada di kolam tanpa ada yang tersisa, panen terdiri atas dua jenis yaitu panen total dan panen parsial. Panen parsial adalah panen yang dilakukan dengan mengambil sebagian biomassa udang dengan tujuan dan alasan yaitu untuk mengurangi kepadatan, untuk mengurangi pemberian pakan, mempercepat pertumbuhan, mengurangi suspensi yang disebakan oleh pakan, sedangkan panen total adalah kegiatan panen yang dilakukan secara keseluruhan atau tidak tersisa biomassa udang di tambpijamaidi et al, 2022).
3 METODE PRAKTIK 3.1 Waktu dan Tempat
Praktek Kerja Lapang ini dilaksanakan mulai dari 14 April 2025 sampai 30 April 2025 di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara Provinsi Jawa Tengah.
3.2 Alat dan Bahan
Bahan-bahan yang digunakan selama melakukan praktek kerja lapang pembesaran udang vannamei dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Bahan-bahan yang digunakan
Bahan Keterangan
Benur Post Larva
Probiotik Sebagai pembentuk bakteri yang
menguntungkan
Kaporit Sebagai bahan desinfektan
Pellet Pakan buatan digunakan pada
proses budidaya
Pupuk Za Menumbuhkan plankton
Air Laut dan Air Tawar Sebagai media untuk budidaya udang vannamei
Progol Perekat Pakan
Molase Campuran Untuk Probiotik Air
Alat-alat yang digunakan beserta fungsinya dalam pembesaran
udang vandapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Alat-Alat yang digunakan
Alat Kegunaan
Alat pembersih Untuk membersihkan kolam
Kincir air Mensirkulasi air, mengmpulkan
kotoran yang terdapat pada kolam
Pompa Air Untuk memasukkan air
Anco Untuk mengontrol nafsu makan
udang
Pipa Untuk memasukkan air dalam kolam
Ph Meter Pengecekan kadar Ph
Ember Untuk mengaduk pakan
Refractometer Pengukuran salinitas
Kamera Hp Dokumentasi kegiatan
Selang Spiral Alat Bantu Untuk Penyiponan
Do meter Pengukuran kadar Do di perairan
Alat Tulis Mencatat dalam pengumpulan data
Timbangan Untuk menimbang pakan dan
udang pada saat sampling
Timbangan analitik Untuk menimbang sampling udang Pipa inlet dan outlet Saluran sirkulasi air/pemasukan
dan pengeluaran air
Jaring Jala Alat Untuk Panen
Gayung dan Centong Membantu penyebaran Pakan
3.3 Metode Pengumpulan DataPengumpulan data dalam suatu studi ilmiah dimaksudkan untuk bahan atau data relevan, akurat reliable yang hendak kita amati. Oleh karena itu perlu digunakan metode pengumpulan data berupa:
a. Observasi
Teknik observasi (pengamatan) merupakan salah satu cara pengumpulan informasi mengenai obyek atau cara mengumpulkan bahan-bahan veterangan (data) yang dilakukan dengan mengadakan data dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena yang sedang dijadikan sasaran pengamatan Dalam beberapa hal, informasi yang diperoleh melalui pengamatan
memiliki tingkat akurasi dan keterpercayaan yang lebih baik daripada informasi yang diperoleh melalui wawancara (ritawa, 2016). Dalam kerja praktek ini observasi yang dilakukan yaitu dengan cara mengamati dan mencatat kegiatan yang dilakukan dalam persiapan wadah dan media pembesaran udang, penebaran benur, manajemen pemberian pakan, pengolahan dan analisa kualitas air, pencegahan hama dan penyakit pemanenan serta mendokumentasikan hal-hal yang berkaitan dalam kegiatan Pembesaran Udang Vannamei di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara Provinsi Jawa Tengah.
b. Partisipsi aktif
Partisipasi aktif adalah keterlibatan langsung peneliti dalam berbagai aktivitas yang dilakukan, di mana peneliti turut berperan dalam seluruh tahapan pembesaran udang vannamei. Kegiatan tersebut mencakup persiapan wadah dan media pembesaran, penebaran benur, manajemen pemberian pakan, pengolahan dan analisis kualitas air, pengendalian hama serta penyakit, proses pemanenan, hingga aktivitas lain yang berkaitan dengan produksi nauplii udang vannamei. Melalui keterlibatan ini, peneliti dapat memperoleh data dan informasi secara langsung mengenai proses produksi nauplii di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara, Provinsi Jawa Tengah.
c. Wawancara
Metode wawancara dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan secara langsung kepada pihak terkait, seperti teknisi atau pekerja, guna memperoleh data yang lebih akurat berdasarkan pengalaman mereka selama bekerja.
d. Studi Pustaka
Metode ini dilakukan untuk memperdalam pengetahuan yang diproleh dari buku cetak yang bertujuan untuk melengkapi data-data yang kurang lengkap menjadi akurat.
3.4 Metode Kerja
a. Data Primer
Data primer didapatkan dengan pengamatan langsung Teknik Pembesaran Udang Vannamei di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara, Jawa Tengah.
Selanjutnya data yang akan diperoleh dianalisis secara deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui keadaan Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara, Jawa Tengah serta
akan datang.
b. Data Sekunder
Data sekunder merupakan data yang menunjang suatu instansi seperti tingkat pendidikan, jabatan, serta sarana dan prasarana pendukung sebagai tolak ukur kemajuan suatu usaha b alai perikanan yang baik, organisasi dan pengalaman kerja bagi setiap tenaga kerja disuatu balai juga mempengaruhi kemajuan suatu balai. Adapun data sekunder yang akan diambil selama praktek PKL dapat dilihat seperti Tabel berikut:.
3.5 Metode Pengolahan Data
Data yang diperoleh selama kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) diolah dan dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan kualitatif untuk menggambarkan kondisi dan hasil kegiatan pembesaran udang vannamei di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara.
1. Pengumpulan dan Klasifikasi Data Data dibedakan menjadi:
Data Primer: diperoleh melalui observasi langsung, sampling, dan wawancara dengan teknisi tambak. Data meliputi berat udang, panjang udang, jumlah populasi, kualitas air, jumlah pakan, dan dokumentasi harian kegiatan tambak.
Data Sekunder: diperoleh dari arsip internal BBPBAP Jepara, buku literatur, jurnal ilmiah, dan data pendukung lainnya.
2. Pengolahan Data
Data yang diperoleh dianalisis menggunakan rumus-rumus berikut:
Average Body Weight (ABW)
ABW=Total Bobot(gram) Jumlah Individu
Average Daily Gain (ADG)
ADG= ABW akhir−ABW awal Jumlah hari(Periode pemeliharaan)
Biomassa
Biomassa=ABW x Jumlah Individu
Feed Conversion Ratio (FCR)
FCR= f Wt−Wo
Survival Rate (SR)
SR=Nt
Nox100 % 3. Analisis Statistik Sederhana
Data pertumbuhan dan efisiensi budidaya dianalisis menggunakan statistik deskriptif:
Rata-rata (Mean)
Kenaikan atau penurunan tren per waktu
Penyajian grafik pertumbuhan (ABW & ADG) 4. Penyajian Data
Data yang telah diolah disajikan dalam bentuk:
Tabel: untuk menunjukkan angka-angka hasil perhitungan ABW, ADG, FCR, dan SR.
Grafik: untuk menampilkan tren pertumbuhan berat (ABW), pertumbuhan harian (ADG), dan biomassa selama pemeliharaan.
Narasi Deskriptif: untuk menjelaskan hasil dan kondisi budidaya berdasarkan pengamatan lapangan.
3.6 Metode Analisis Data
Data yang diperoleh selama kegiatan Praktik Kerja Lapangan (PKL) dianalisis secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk tabel untuk menggambarkan Teknik Pembesaran Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara, Jawa Tengah, beserta permasalahan yang dihadapi. Selanjutnya, dilakukan identifikasi alternatif solusi berdasarkan kondisi nyata di lapangan yang disesuaikan dengan referensi atau literatur yang relevan.
Adapun rumus-rumus yang umum digunakan dalam perhitungan, salah satunya adalah Feed Conversion Ratio (FCR), sebagaimana dikemukakan oleh Djajasewaka (1985) dalam (Iskandar & Elrifadah, 2015), dengan rumus sebagai berikut:
FCR= f Wt−Wo
Keterangan :
FCR = Feed Conversion Ratio
F = Jumlah pakan yang diberikan selama masa pemeliharaan (gram)
Wt = Biomassa akhir (gram)
Sementara itu, rumus untuk menghitung Survival Rate (SR) mengacu pada Effendie dalam (Hartini et al., 2013).
SR=Nt
Nox100 % Keterangan:
SR = Tingkat kelulushidupan ikan (%)
No = Jumlah larva pada awal pengamatan (ekor) Nt = Jumlah larva pada akhir pengamatan (ekor)
Sementara itu, rumus untuk menghitung Average Body Weight (ABW) dalam (Maksum et al., 2023)
ABW=Total Bobot(gram) Jumlah Individu
Keterangan:
ABW = Rata-rata bobot per ekor (gram)
Total Bobot = Jumlah keseluruhan bobot hewan (gram)
Jumlah Individu = Total jumlah hewan dalam populasi
Sementara itu, rumus untuk menghitung Average Daily Gain (ADG) dalam (Maksum et al., 2023)
ADG= ABW akhir−ABW awal Jumlah hari(Periode pemeliharaan)
Keterangan:
ADG = Rata-rata pertambahan bobot per hari (gram/hari)
Bobot Akhir = Bobot per ekor saat akhir pemeliharaan (gram/ ekor)
Bobot Awal = Bobot per ekor saat awal pemeliharaan (gram/ ekor)
Lama Pemeliharaan = Jumlah hari masa pemeliharaan (hari) Sementara itu, rumus untuk menghitung biomassa
Biomassa=ABW x Jumlah Individu
Keterangan:
Biomassa = Total bobot seluruh hewan dalam satuan gram atau kilogram
ABW = Bobot rata-rata per ekor (gram)
Jumlah Individu = Total jumlah hewan yang hidup
4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Praktik Kerja Lapang
4.1.1 Grafik ABW
Sampling menjadi salah satu cara untuk memantau pertumbuhan udang dalam jangka waktu tertentu. Sampling dilakukan pada hari pemeliharaan ke-19,29 dan ke-
35. Tujuannya untuk mengetahui mengetahui pertumbuhan bobot mutlak, Berikut merupakan grafik pertumbuhan bobot mutlak dapat dilihat pada Gambar 4.
20 30 40 47 54 68 75 82 87 92
0 5 10 15 20 25 30
0.815 2.22 4.6 6.5 8.73
13.45
17.17
20.97 21.84
25.24
ABW
ABW DOC
gram/ekor
Gambar 4 : Grafik ABW
Grafik ABW menunjukkan bahwa berat rata-rata udang vaname meningkat seiring waktu, dari 0,815 gram pada DOC 20 menjadi 25,24 gram pada DOC 92. Ini menandakan pertumbuhan yang baik dan berkelanjutan selama masa pemeliharaan.
4.1.2 Grafik ADG
Sampling dilakukan pada hari pemeliharaan hari ke-20,.
Tujuannya untuk mengetahui ADG, Berikut merupakan grafik ADG dapat dilihat pada Gambar 5.
20 30 40 47 54 68 75 82 87 0
0.1 0.2 0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 1
0.14 0.11
0.95
0.31 0.295
0.53 0.54
0.17
0.08
ADG
ADG DOC
Gambar 5 : Grafik ADG
Grafik ADG (Average Daily Gain) pada udang vaname menunjukkan dinamika pertumbuhan harian selama masa pemeliharaan. Berdasarkan grafik, terlihat bahwa pertumbuhan harian udang mengalami fluktuasi yang cukup signifikan.
Pada awal pemeliharaan, yaitu pada DOC 20 hingga DOC 30, ADG mengalami penurunan dari 0,14 menjadi 0,11 gram/hari, yang kemungkinan disebabkan oleh fase adaptasi awal udang terhadap lingkungan barunya. Namun, pada DOC 40 terjadi lonjakan drastis dengan ADG mencapai 0,95 gram/hari, yang merupakan nilai tertinggi sepanjang periode pemeliharaan. Hal ini menunjukkan bahwa pada fase tersebut, udang berada dalam kondisi optimal untuk pertumbuhan.
Setelah mencapai puncaknya, ADG menurun tajam pada DOC 47 menjadi 0,26 gram/hari, dan stabil di angka 0,295 pada DOC 54. Penurunan ini dapat dipengaruhi oleh perubahan kualitas air, pergantian jenis pakan, atau faktor stres lainnya.
Pertumbuhan kembali meningkat pada DOC 68 dan 75 dengan nilai ADG sebesar 0,53 dan 0,54 gram/hari, menunjukkan bahwa udang kembali berada dalam kondisi yang mendukung untuk tumbuh dengan baik. Namun, menjelang akhir periode, yaitu pada DOC 82 hingga DOC 87, ADG kembali menurun tajam menjadi 0,17 dan akhirnya 0,08 gram/hari. Penurunan ini mengindikasikan bahwa udang telah memasuki fase akhir pemeliharaan dan mendekati masa panen, di mana pertumbuhan cenderung melambat secara alami.
4.1.3 Tabel Biomassa
Biomassa dalam konteks budidaya perikanan (seperti ikan atau udang) adalah total berat hidup dari seluruh organisme yang dipelihara dalam suatu unit budidaya, seperti kolam, tambak, atau keramba.
No .
Panen ABW (gram) Populasi
(ekor)
Biomassa (Kg)
1. Parsial 1 11,90 39.194 432,6
2. Parsial 2 18,23 32.285 566,4
3. Parsial 3 25,48 35.135 896,3
4. Total 35 30.660 1034,4
jumlah 137.274 2.929,7
Tabel ini memberikan gambaran tentang perkembangan berat rata- rata udang dan hasil panen dari waktu ke waktu. Terlihat bahwa berat rata-rata udang terus meningkat seiring dengan berjalannya waktu panen. Panen parsial memungkinkan pemanenan udang yang telah mencapai ukuran tertentu secara bertahap, sementara panen total dilakukan di akhir siklus budidaya untuk memanen sisa populasi. Total biomassa yang dihasilkan dari seluruh rangkaian panen adalah 2.929.7 kg dari total 137.274 ekor udang yang dipanen.
4.1.4Survival Rate (SR)
Survival Rate (SR) atau Tingkat Kelangsungan Hidup adalah persentase jumlah benih atau hewan budidaya yang berhasil hidup sampai akhir periode pemeliharaan (biasanya hingga panen).
SR=Nt No x100 SR=137.274
183.000x100 SR=75 %
Tingkat kelangsungan hidup (SR) udang pada siklus budidaya tersebut adalah 75%, artinya dari 183.000 ekor yang ditebar, hanya 137.274 ekor yang bertahan hidup hingga akhir masa pemeliharaan.
4.1.5 Feed Conversion Rasio (FCR)
FCR adalah singkatan dari Feed Conversion Ratio atau Rasio Konversi Pakan. FCR merupakan salah satu parameter penting dalam budidaya perikanan untuk mengukur efisiensi penggunaan pakan.
Pakan merupakan hal penting dalam usaha budidaya udang karena biaya operasional pada pakan menyerap biaya terbesar dalam masa produksi. Pada lokasi praktik, kami memperoleh catatan data dalam 1 siklus dengan total jumlah pakan yang dihabiskan tambak B4 yaitu 5.431 kg dan jumlah biomassa 2.929,7 kg. Sehingga FCR yang didapat adalah 1,85. Artinya, untuk menghasilkan 1 Kg daging hanya membutuhkan 1,85 kg pakan.
4.2 Pengambilan Data 4.2.1 Data Kualitas Air
Kualitas air sangat berpengaruh terhadap keberhasilan budidaya, sehingga perludilakukan pengecekan secara rutin, dari hasil pengecekan kualitas air, didapatkan kesimpulan bahwasannya kualitas air pada waktu tertentu terdapat perbedaan baik suhu ataupun pH. Berikut merupakan data kualias air pada tambak NSBC . Data kualitas air dapat dilihat pada tabel 5.
Tabel 5 : Data Kualitas Air
No. Parameter Hasil Pengukuran
1 Suhu
30°C2 pH 8
3 DO 5,39 mg/l
4 Salinitas 20 ppt
5 Alkalinitas 168,09 mg/l
6 Amonia 0,641 mg/l
7 Nitrat 0,246 mg/l
8 Nitrit 0,029 mg/l
9 TOM 235,45 mg/l
4.3 Pembahasan Praktik Kerja Lapang
Kegiatan PKL yang dilakukan di tambak NSBC, BBPBAP Jepara yang berlangsung selama empat bulan, terhitung 14 April 2025 sampai 30 April 20 25. Berikut merupakan kegiatan yang dilaksanakan selama kegiatan PKLberlangsung:
4.3.1 Persiapan Wadah
NSBC merupakan blok tambak yang melaksanakan budidaya udang sebanyak 5 kolam dengan bentuk petak dengan diameter 1.500 M2 dengan tinggi kolam 150 cm.
Alasan kolam petak dipilih karena memiliki keunggulan diantaranya seperti yang diungkapkan fatimah et al (2022) yang mengatakan kolam petak dapat dibangun secara berjajar atau berdekatan sehingga lebih hemat tempat dan juga pemberian pakan lebih mudah dikarenakan memiliki pematang Persiapan wadah menjadi hal yang cukup penting sebelum memulai kegiatan budidaya terkhususnya budidaya udang. Tahapan dalam persiapan wadah dan media meliputi pengeringan kolam dan pembersihan, perbaikan konstruksi dan fasilitas kolam yang mengalami kerusakan, pemasangan kincir,serta instalasi listrik pada kolam. Persiapan wadah di awali dengan pengeringan kolam, pengeringan kolam bertujuan untukmembunuh lumut dan tritip yang menempel pada plastik kolam agar nantinya mempermudah proses pembersihan, Pembersihan ini dilakukan untuk membuang tritip, lumut, lumpur, sisa pakan, atau organisme yang telah mati. Semua kotoran tersebut dibersihkan karena dapat menjadi inang untuk tumbuhnya agen penyakit berupa bakteri dan virus. Teknik pembersihan dilakukan dengan cara penyemprotan atau dengan menyikat kolam. Setelah pembersihan pada kolam selanjutnya pembersihan kincir, kabel serta tali tambang agar terhindar dari tritip dan lumut dan keesokan harinya dilanjutkan dengan melakukan sterilisasi pada alat alat yang akan digunakan di dalam kolam pada saat proses budidaya nantinya.
Langkah berikutnya adalah penjemuran kolam. Tujuan dari penjemuran ini adalah untuk membasmi bakteri patogen, virus, jamur, dan parasit lain yang mungkin masih ada di dalam kolam, yang bertujuan agar kolam dapat dipastikan dalam keadaan bersih dan bebas dari mikroorganisme berbahaya. Selanjutnya perbaikan kolam mulai dari penambalan plastik yang bocor, pemasangan pipa sentral dan pengecekan inlet. Setelah pengeringan di lakukan perawatan seperti penambalan pada plastik yang dapat mengahkibatkan kebocoran, setelah semu sudah dipastikan t idak terdapat kebocoran selanjutnya kolam akan dijemur kembali, hal tersebut dilakukan untuk mencegah penularan penyakit yang disebabkan bakteri pathogen, virus, jamur maupun mikroorganisme lainnya. Keberhasilan mengendalikan hama dan penyakit adalah faktor penting dalam peningkatan produksi udang.
4.3.2 Pengisisan Air
Air dari laut yang dialirkan dari tepi pantai dialirkan ke pompa tandon untuk selanjutnya dipompa menggunakan pompa air dengan
tandon dilakukan pada saat air laut dalam keadaan pasang pada malam hari, sekitar jam 9-11 malam, dan pada pukul 2- 4 pagi. Air yang akan digunakan untuk mengisi tambak ditreatment terlebih dahulu agar kondisi lingkungan hidup udang optimal. Tandon yang digunakan pada tambak NSBC yaitu kolam tanah yang dilapisi terpal HDPE (High-density Polyrthilene) dengan ukuran kolam 500 M2 dan kedalaman 2 m.
Treatment air yang diberikan pada tandon yaitu dengan memberikan kaporit.Perawatan air menggunakan kaporit mempunyai tujuan yaitu untuk membunuh bakteri dan mikroorganisme pencemar yang ada di dalam air sebelum dimasukkan ke dalam petakan yang nantinya bisa menggangu kesehatan udang di dalam kolam Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Ghufron et al. (2017), Bahwa Sterilisasi di lakukan dengan pemberian kaporit bertujuan sebagai sanitasi air yang dapat membunuh bakteri dan mikroorganisme yang merupakan bahan pencemar pemberian kaporit sebagai perawatan air ini juga dapat mengoksidasi zat besi yang apabila konsentrasinya terlalu tinggi dapat membahayakan kelansungan hidup udang vannamei. Setelah perlakuan pada air di tandon, air sudah bisa dialirkan menggunakan pompa celup ukuran 8 inch dan 12 inch menuju kolam. Fungsi dari kaporit juga untuk mensterilkan pipa inlet mulai dari tandon hingga kolam atau tambak budidaya. Selanjutnya pada pipa inlet atau pipa pemasukan air diberi jaring dengan mesh size/ukuran 2 mm yang berfungsi Pengisian air dilakukan secara bertahap sampai air mencapai ketinggian 100-120 cm dari ketinggian nol.
4.3.3 Pemasangan Alat
Pemasangan alat-alat dilakukan setelah pengisian air, selanjunya dilakukan pemasangan alat lainnya seperti Perakitan kincir, central rain, pipa outlet, anco dan keperluan lainnya seperti instalasi listrik, lampu penerangan. Semua akan di persiapkan sampai semua siap untuk penebaran benur.
A. Pemasangan Kincir
Salah satu yang dilakukan adalah pemasangan kincir. Kincir dipasang pada saat ketinggian air sudah lumayan tinggi, agar mempermudah saat proses pemasangan. Pada tambak NSBC Setiap kolam terdapat 8 – 10 buah kincir dengan kekuatan 1 HP.
Kincir dengan kekuatan 1 HP dapat menyuplai oksigen untuk 400 kg udang. Kincir yang telah di perbaiki atau telah di cek oleh mekanik tambak dan sudah di nyatakan aman selanjutnya pemasangan kincir menggunakan bambu dan tali berbahan PS (Packing String) sebagai pengikat agar kincir tetap di satu tempat atau sebagai pengatur posisi.
Kincir sangat penting dalam budidaya udang seperti pendapat (Romansyah, 2021) yang menyatakan salah satu hal penting dalam
budidaya udang di tambak atau kolam adalah sumber DO (Disolved Oksigen) yang cukup dalam air atau jumlah kadar oksigen yang cukup. Sumber oksigen biasanya diharapkan dari pergantian air, penggunaan kincir air, blower dan sejenisnya. Pengaturan kincir bertujuan agar selama pemeliharaan kotoran seperti feses, sisa pakan, dan bahan organik lainnya akan berkumpul disentral drain.
Kombinasi arah dan posisi kincir harus searah jarum jam agar menghasilkan kondisi pusaran air yang mampu mengarahkan kotoran di dasar tambak ke arah pembuangan air tambak (Sari, 2019).
B. Pemasangan Anco
Anco adalah jaring angkat yang terpasang diperairan, berbentuk empat persegi panjang, yang terdiri dari jaring yang keempat ujungnya dikat dalaam 1 tali yang berada di tengah (Salsabila et al., 2023). Penggunaan anco diharapkan sebagai ala t bantu dalam mengestimasi tingkat konsumsi pakan harian untuk penyesuaian kebutuhan pakan dari udang yang dipelihara serta sebagai alat bantu dalam memantau respon udang terhadap pakan yang diberikan (Bahri et al., 2020). Serta untuk mencegah terjadinya overfeeding dalam sistem produksi budidaya.
Pemasangan anco dilakukan setelah kolam terisi air. Peletakan anco dilakukan setelah pengisisan air pada kolam budidaya.
Anco yang digunakan di setiap kolamnya berbentuk persegi dengan ukuran 40 cm x 40 cm.
C. Instalasi Listrik
Instalasi listrik juga sangat penting dalam persiapan budidaya udang, pemasangan instalasi listrik di lakukan oleh mekanik ahli, pemasangan instalasi mulai dari pemasangan kabel kincir, penerangan, pemasangan kabel wifi efishery, dan pemasangan panel kincir, semua di persiapkan di awal kegiatan dimana listrik harus di pastikan dalam keadaan aman agar tidak terjadi permasalahan pada saat proses budidaya.
D. Pipa Central Drain
Pipa central drain merupakan pipa yang berada pada tengah kolam yang berfungsi sebagai tempat keluarnya air menuju outlet. Pipa Central Drain dengan ukuran 8 Inch dilengkapi selang spiral yang berukuran 5 Inch panjang 5 m yang digunakan untuk kegiatan penyiponan.
E. Pipa Outlet
Pipa outlet berfungsi sebagai tempat keluarnya air limbah budidaya ke saluran pembuangan. Pipa outlet
berukuran 8 Inch dengan tinggi 125 cm. Tinggi pipa outlet ini disesuaikan dengan tinggi air kolam.
4.3.4 Manajemen Pemberian Pakan
Manajemen pemberian pakan meliputi dosis pemberian pakan, frekuensi pemberian pakan dan cara pemberian pakan. Dalam pemberian pakan salah satu hal yang perlu diperhatikan yaitu penentuan dosis pakan selama melakukan kegiatan budidaya. Pakan yang diberikan pada udang adalah pakan komersil atau pakan pabrikan.
Pada saat benur baru di tebar pakan yang pertama diberikan menggunakan pakan komersil dengan ukuran 930 p. Selanjutnya pemberian pakan komersil berupa pelet tenggelam dengan ukuran 931 – 933 p dengan merk Gold Coin. Pakan yang diberikan mengandung protein yang cukup tinggi yaitu 35%, lemak 6 %, serat kasar 4%, abu 4%, kadar air 12%. Frekuensi pemberian pakan merupakan salah satu bagian penting dalam manajemen pemberian pakan. Hal ini berkaitan dengan sifat udang sebagai hewan yang memiliki sifat makan secara terus-menerus sehingga membutuhkan pakan selalu dalam kondisi baik.
Terdapat beberapa program pemberian pakan udang Vannamei, salahsatunya adalah metode blind feeding (pakan buta) hingga udang berusia 30-40 hari pemeliharaan atau setelah turun anco (Darmawan, 2018). Sedangkan pemberian pakan udang setelah blind feeding doc diatas 30, dilakukan berdasarkan kebutuhan udang (demand feeding) . Tingkat kebutuhan pakan udang dapat dilihat dari nafsu makan udang berdasarkan pengecekan anco (Ridho, 2021). Nafsu makan udang sangat mempengaruhi dalam pembuatan program pemberian pakan udang. Pada awal pemeliharaan, pemberian pakan harus dicampur dengan air agar pakan cepat tenggelam, dan tidak berhamburan karena angin. Pakan bisa ditebar keliling tepi tambak. Cara pengontrolan nafsu makan udang masih mengandalkan hasil sipon. Apabila terlalu banyak pakan yang terbuang maka bisa dipastikan nafsu makan udang berkurang.
Pada tambak NSBC pakan dicampur dengan suplemen vitamin C dengan merk kalvit dan dosis 3 sendok makan per kolam. Vitamin C berperan sebagai antioksidan yang melindungi sel-sel udang dari kerusakan yang disebabkan oleh radikal bebas. Ini dapat membantu mempertahankan
kesehatan tubuh udang dan mencegah stres oksidatif dan meningkatkan daya tahan udang terhadap penyakit. Pada pakan juga diberi campuran yaitu probiotik lactobacillus dengan dosis 3 sendok makan per kolam yang berfungsi untuk untuk memperbaiki pencernaan, meningkatkan pertumbuhan, SR, imunitas serta menekan vibrio dalam pencernaan. Frekuensi pemberian pakan dalam sehari dilakukan sebanya k6 kali yaitu pada pukul 07.00, 10.00, 13.00, 16.00, 19.00, dan 22.00 WIB.
4.3.5 Pengelolaan Kualitas Air
Kualitas air tambak berkaitan erat dengan kondisi kesehatan udang. Kualitas air yang baik mampu mendukung pertumbuhan udang secara optimal. Hal ini berhubungan dengan faktor stress udang akibat perubahan kualitas air di tambak. Padat tebar yang tinggi dan pemberian pakan yang banyak dapat menurunkan kondisi kualitas air. Hal ini diakibatkan adanya akumulasi bahan organik. (Arsad et al., 2017) dikarenakan udang memanfaatkan protein pakan sekitar 16.3-40.87%, sementara sisanya dikeluarkan dalam bentuk ekskresi residu pakan dan feses. Hal tersebut didukung dengan pernyataan (Supono, 2018) kualitas air yang buruk disebabkan meningkatnya senyawa- senyawa beracun (toxicant) seperti amoniak, nitrit, maupun H2S dalam konsentrasi tinggi dapat menyebabkan kematian maka pengelolaan kualitas air selama proses pemeliharaan menjadi suatu keharusan yang sangat penting.
Salah satunya dengan menerapkan pergantian air setiap hari dan penyiponan dilakukan dua kali dalam sehari.
Pergantian air sendiri di lakukan setiap hari degan membung 40 % dari air kolam, serta penyiponan yang rutin dilakukan. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah terjadinya penyebaran penyakit. Yustianti et al., (2013) yang menyatakan bahwa faktor yang paling mempengaruhi kelangsungan hidup udang yaitu pengelolaan dalam pemberian pakan dan pengelolaan kualitas air yang baik pada media pemeliharaan.
Manajemen kualitas air prinsipnya melakukan pengelolaan parameter kualitas air secara berkala agar selalu berada kisaran optimal yang dibutuhkan dalam budidaya udang (Khumaidi et al., 2022). Beberapa parameter kualitas air yang harus selalu dipantau Pada NSBC yaitu suhu, salinitas, pH air, kandungan oksigen
ukursejalan dengan pendapat (Novianti, 2020) ada beberapa parameter yang perlu diawasi secara rutin meliputi suhu, salinitas, pH air, dan kandungan oksigen terlarut. Pada NSBC pengecekan kualitas air dengan menggunakan beberapa alat ukur bernama Thermometer, DO meter, Refractometer dan pH meter.Monitoring kualitas air meliputi Suhu, Salinitas, Tinggi Air, pH, DO:
a. Suhu
Pengukuran suhu pada kegiatan pembesaran udang dengan menggunakan thermometer. Hasil pengukuran suhu di Tambak NSBC BBPBAP Jepara dapat di lihat pada tabel 5 halaman 27. Hasil pengukuran suhu pada pembesaran udang vannamei didapatkan suhu rata rata perhari yaitu 28,8°C. Dari hasil pengukuran suhu pada lokasi budidaya sesuai dengan pendapat (Multazam &
Hasanuddin, 2017), dimana beliau menyatakan suhu (ideal25 – 31°C), suhu air bisa berpengaruh terhadap sintasan, pertumbuhan, reproduksi,tingkah laku, pergantian kulit, dan metabolisme.
b. pH
Pengukuran pH pada kegiatan pembesaran udang dengan menggunakan pH meter. Hasil pengukuran pH d i Tambak NSBC BBPBAP Jepara , dapat di lihat pada tabel 5 Hasil pengukuran pH yaitu 7,86 Angka tersebut termasuk dalam angka optimal dalam pembesaran vannamei . Hal inididukung oleh pendapat (Multazam &
Hasanuddin, 2017) yang menyatakan bahwa nilai dan derajat keasaman (pH) Besarnya pH air yang optimal untuk kehidupan udang adalah 7,5 – 8,5 (netral), merupakan pH yang normal untuk pertumbuhan udang Vannamei.
c. DO/ Disolved Oxygen
Pengukuran DO pada kegiatan pembesaran udang dengan menggunakan DO meter. Hasil pengukuran DO di Tambak NSBC BBPBAP Jepara dapatdi lihat pada tabel 5 adalah 4,97 ppm. Angka tersebut termasuk dalam angka optimal dalam pembesaran udang. Hal ini didukung oleh pendapat (Purnamasari, 2017) menyatakan bahwa kandungan oksigen terlarut yang baik untuk kehidupaan udang Vannamei adalah 4- 8 mg/ L.
d. Salinitas
Pengukuran salinitas pada kegiatan pembesaran udang dengan menggunakan refraktometer. Hasil pengukuran salinitas di Tambak NSBC BBPBAP Jepara, dapat di lihat pada tabel 5 adalah 30 ppt. Salinitas merupakan salah satu aspek kualitas air yang memegang peranan penting karena mempengaruhi pertumbuhan udang. Salinitas tersebut merupakan salinitas yang baik bagi pertumbuhan udang, kenaikan dan penurunan salinitas yang terjadi masih berada dalam kisaran optimal dan masih mendukung pertumbuhan dan kehidupan udang Vannamei.
Sesuai dengan pendapat (Novianti, 2020).
Udang muda yang berumur 1–2 bulan memerlukan kadar garam 15–25 ppt agar pertumbuhannya dapat optimal. Setelah umurnya lebih dari 2 bulan, pertumbuhan udang relatif baik pada salinitas antara 5–30 ppt.
Pendapat ini juga sesuai dengan pernyataan Nababan. (2015) dalam (Purnamasari, 2017) menyatakan bahwa salinitas yang baik untuk pertumbuhan antara 10-30 ppt.
4.3.6 Manajemen Hama dan Penyakit
Permaslahan penyakit merupakan salah satu kendala yang sangat berpengaruh langsung terhadap udang. Pada Tambak NSBC BBPBAP Jepara penyakit yang sering menimpa udang adalah White Spot Syndrome (WSS) dan Aacute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND).
dengan meningkatnya waktu pemeliharaan.a. Pertumbuhan Bobot Mutlak
Pertumbuhan bobot mutlak merupakan pertumbuhan berat total udang selama pemeliharaan dan dinyatakan dalam gram.
Keberhasilan budidaya udang Vannamei tidak terlepas dari faktor parameter kualitas air, pakan, perlakuan dan lainnya. Faktor tersebut mempunyai peran krusial dalam perkembangan dan pertumbuhan udang Vannamei. Bobot udang vannamei di kolam B4 pada hari pemeliharaan ke 19 yaitu 0,81 gr dan bobot udang pada hari pemeliharaan ke 29 yaitu 2,14 gr. Maka pada kolam A4 mengalami pertumbuhan bobot mutlak selama10 hari sebesar 1,33 gr.
b. Pertumbuhan Panjang Mutlak
Pertumbuhan panjang mutlak merupakan hasil dari selisih
ikan pada awal pemeliharaan. (Darwantin & Sidik, 2016).
Pengukuran anjang udang vannamei di kolam B4 dilakukan pada hari pemeliharaan ke 19 yaitu 5 cm dan panjang udang pada hari pemeliharaan ke 29 yaitu 7,3 cm. Maka pada kolam B4 mengalami pertumbuhan panjang mutlak sebesar 2,3 cm selama 10 hari.
Pertumbuhan panjang udangtersebut sudah cukup baik sesuai dengan pernyataan Gunarto & Hendrajat (2008) mendapatkan laju pertumbuhan harian udang vannamei berkisar antara 1,5-2,5.
c. Efisiensi Pakan
Efisiensi pakan yang di sampaikan pada tabel 4 pada kolam B4 yaitu 93,5%. Semakin besar nilai efisiensi pakan maka semakin baik, karena udang memakai energi dalam pakan untuk proses metabolisme, proses pencernaan, respirasi, kerja saraf, keseimbangan garam, berenang, dan aktivitas pertumbuhan. Nilai efisiens pakan pada kolam B4 tergolong besar, semakin besar nilai efisiensi pakan maka semakin efisien pula ikan tersebut menggunakan pakan yang dikonsumsi untuk pertumbuhannya (Iskandar & Elrifadah, 2015) dan (Purnamasari,2017).
d. Feed Convertion Rate (FCR)
Feed Convertion Ratio diartikan sebagai perbandingan antara berat pakan yang dimakan udang dengan pertambahan berat udang maka menghasilkan perbandingan rasio yang terjadi ketika pada saat panen. Pada kegiatan pembesaran udang Vannamei pakan yang telah dihabiskan selama 100 hari masa pemeliharaan yaitu sebanyak 4,296 kg. FCR udang pada kolam tersebut dapat dilihat pada Tabel 6 FCR 1,2 pada udang tersebut dapat dikatakan baik, karena sesuai dengan pernyataan (Ariadi &
Wafi, 2020) bahwa semakin rendah nilai FCR maka akan berpengaruh positif terhadap penghematan biaya operasional pakan, semakin kecil nilai FCR semakin baik karena hal ini menunjukkan semakin kecil biaya yang dikeluarkan untuk pembelian pakan sehingga keuntungan yang diperoleh semakin tinggi.
e. Survival Rate (SR)
Survival Rate (SR) merupakan tingkat kelangsungan hidup udang dibandingkan dengan jumlah tebar dan dinyatakan dengan persen. Pada tambak NSBC, umumnya persentase tingkat kelangsungan hidup (SR) yang dicapai dalam setiap siklus berkisar antara 89%. Angka ini dianggap sangat baik, sesuasi pendapat (Bahri 2020 dalam (Fatimah et al., 2022) tingkat kelangsungan hidup dianggap baik jika nilai SR > 70%. Sementara itu, untuk tingkat kelangsungan hidup kategori sedang, berkisar antara 50- 60%, dan untuk kategori rendah, nilai SR di bawah 50%.
4.3.7 Penyiponan
Penyiponan merupakan kegiatan pembersihan dasar perairan secara manual yang bertujuan untuk membersihkan dari endapan lumpur, molting, dan sisa pakan melalui central drainase. Penyiponan menggunakan alat bantu berupa selang sipon dengan panjang 5 meter.
Pada tambak NSBC penyiponan dilakukan setiap hari agar tetap menjaga kebersihan kolam. Penyiponan dilakukan pada pagi dan sore hari dikarenakan untuk menghindari stress pada udang. Selain dengan penyiponan pergantian air secara berkala juga sangat mempengaruhi metabolisme udang. Pada Tambak NSBC penyiponan di lakukan setiap hari, pada pagi dan sore hariagar tetap menjaga kebersihan kolam untuk menghindari stres pada udang yang dapat menyebabkan udang terserang penyakit.
Kegiatan penyiponan pada tambak NSBC , penyiponan dilakukan mulai pada DOC 3 hari, penyiponan pada umur DOC 3-15 di lakukan sekali yaitu pada pagi hari, setelah memasuki DOC 16, penyiponan di lakukan 2 kali dalam sehari yaitu pagi dan sore hari, Hal ini sesuai dengan pernyataan (Sinaga et al., 2020) penyiponan dilakukan dengan tujuan mengurangi ammonia yang bersifat racun pada air dan meningkatkan kualitas perairan. Metode penyiponan ternyata masih memiliki resiko kematian ikan yang cukup tinggi, hal ini karena ikan mengalami stress sehingga nafsu makan ikan akan menurun. secara teknis upaya untuk memperbaiki kualitas air salah satunya dilakukan penyiponan atau pergantian air secara berkala.
4.3.8 Pemanenan
Pemanenan udang biasanya dilakukan dengan dua metode panen, yaitu panen parsial dan panen total. Panen parsial bertujuan untuk mengurangi populasi udang pada petakan, sehingga diharapkan udang yang belum dipanen akan memiliki produktifitas yang lebih baik. Panen parsial dilakukan ketika umur udang 60-80 hari atau Ketika sudah mencapai berat rata-rata yang telah ditentukan untuk melakukan panen parsial.
Sementara untuk panen total dilakukan ketika udang sudah tidak menunjukan penambahan berat atau dalam situasi yang kurang memungkinkan untuk dilanjutkan proses budidaya, biasanya dalam kondisi normal panen total dilakukan pada umur 110-120 hari. Panen udang juga biasanya dilakukan sesuai dengan permintaan pasar. Oleh sebab itu panen dapat dilakukan secara sebagian (parsial) dan secara total. Pada Tambalk NSBC panen parsial dilakukan sebanyak 3 kali sebelum dilakukannya pemanenan secara total. Panen parsial perlu beberapa kali dilakukan supaya menjaga udang dalam keadaan yang aman. Udang dipanen total dipengaruhi oleh banyaknya permintaan pasar, biasanya udang yang dipanen memiliki berat 30 gram dengan size 33 per kg. Pada tambak NSBC panen total dilakukan pada DOC 115 hari dengan berat rata rata per ekor 28
5 SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan
Tahapan kegiatan pembesaran udang vannamei di tambak NSBC BBPBAP Jepara meliputi persiapan kolam, pengisian air, pemasangan alat, penebaran benur, pemeliharaan udang yang meliputi manajemen pemberian pakan, pengelolaan kualitas air, pemberantasan hama dan penyakit, penyiponan serta monitoring pertumbuhan dan kegiatan akhirnya pemanenan. Hasil sampling pada hari pemeliharaan ke-19, 29 dan ke-39. Serta didapatkan data laju pertumbuhan bobot 1,33 gr, laju pertumbuhan panjang udang 2, 3 cm, laju pertumbuhan spesifik 13,3%, efisiensi pakan 93,5 %, FCR 1,29 dan tingkat kelulushidupan 89 %.
5.2 Saran
Saran untuk kegiatan pembesaran budidaya di tambak NSBC adalah agar selalu tetap menjaga kebersihan daerah sekitar tambak agar dapat mencegah penyebaran penyakit dan membuat alat penghalau burung yang lebih baik supaya dapat menghalau burung yang masuk ke dalam area tambak.
DAFTAR PUSTAKA
Amarta, B. 2022. Skripsi: Kinerja Pertumbuhan Udang Vaname (Litopenaues vannamei) Dengan Penambahan Probiotik Pada Pakan (Doctoral dissertation, Politeknik Negeri Lampung).
Ardiansyah, M. 2019. Manajemen Pakan Pada Pemeliharaan Larva Udang Vaname (Litopenaeus vannamei Boone) Di PT. Suri Tani Pemuka (JAPFA) Unit Hatchery Makassar Kabupaten Barru. Tugas Akhir. Prodi Budidaya Perikanan. Politeknik Pertanian Negeri Pangkep.
Ariadi, H., Syakirin, M. B., Pranggono, H., Soeprapto, H., dan Mulya, N. A. 2021. Kelayakan finansial usaha budidaya udang vaname (l. Vannamei) pola intensif di pt.
Menjangan mas nusantara, banten. AKULTURASI:
Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan, 9(2), 240-249.
Arsad, S., Afandy, A., Purwadhi, A. P., V, B. M., Saputra, D. K., dan Retno, N. 2017. Pemberian Pakan Pada Budidaya Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) Intensif Dengan Sistem Index.
Bahri, S., Mardhia, D., dan Saputra, O. 2020. Growth and graduation of Vannamei shell life (Litopenaeus vannamei) with feeding tray (anco) system in AV 8 Lim Shrimp Organization (LSO) in Sumbawa District. Jurnal Biologi Tropis, 20(2), 279-289.
Darmawan E., M., 2018. Analisis Kelayakan Usaha Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) Keramba Jaring Apung Laut Di Kepulauan Seribu. Journal of Indonesian Agribusiness/Jurnal Agribisnis Indonesia, 10(2).
Darwantin, K., Sidik, R., dan Mahasri, G. 2016. Efisiensi penggunaan imunostimulan dalam pakan terhadap laju pertumbuhan, respon imun dan kelulushidupan udang vannamei (Litopenaeus vannamei). Jurnal Biosains Pascasarjana, 18(2), 123-139.
31 | P K L 1 . 2
Dzakiy, A. G. E. 2021. Pencegahan Dini Penyakit Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease (Ahpnd) Pada Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) Dan Uji polymerase
Erlangga, E. 2012. Budidaya Udang Vannamei Secara Intensif. Pustaka Agro Mandiri. Pamulang - Tangerang Selatan. 25 Oktober 2018.
Fahmi, M. N. 2016. Manajemen Kualitas Air pada Pembesaran Udang Vannamei (Litopenaeus vannamei) dalam Tambak Budidaya Intensif di Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BLUPPB) Karawang, Jawa Barat.
Farabi, A. I., dan Latuconsina, H. 2023. Manajemen Kualitas A ir pada Pembesaran Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) di UPT. BAPL (Budidaya Air
Payau dan Laut) Bangil Pasuruan Jawa Timur. Jurnal Riset Perikanan dan Kelautan, 5(1), 1-13.
Fatimah, F., Hendri, A., Ibrahim, Y., Diansyah, S., dan Islama, D. 2022. Efektifitas Produksi Budidaya Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) Pada Kolam Bundar dan Petak DI CV. Markisa Farm Aceh Barat Daya. Jurnal Akuakultura Universitas Teuku Umar, 6(2), 61-67.
Fuady, M. F., dan Nitisupardjo, M. 2013. Pengaruh pengelolaan kualitas air terhadap tingkat kelulushidupan dan laju pertumbuhan udang vaname (Litopenaeus vannamei) di PT. Indokor Bangun Desa, Yogyakarta. Management of Aquatic Resources Journal (MAQUARES), 2(4), 155-162.
Ghufron, M. 2017. Teknik Pembesaran udang vaname (Litopenaeus vannamei) Pada Tambak Pendampingan PT. Central Proteina Prima tbk d Desa Randutatah, Kecamatan Paiton, Probolinggo, jawa timur. Prosiding
Gunarto, G., Suwoyo, H. S., dan Tampangallo, B. R. 2012.
32 | P K L 1 . 2
39
Budidaya udang vaname pola intensif dengan sistem
bioflok di tambak. Jurnal Riset Akuakultur, 7(3), 393-405.
Hartini, S., Sasanti, A. D., dan Taqwa, F. H. 2013. Kualitas air, kelangsungan hidup dan pertumbuhan benih ikan gabus (Channa striata) yang dipelihara dalam media dengan penambahan probiotik. Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia, 1(2), 192-202.
Hasibuan, S., Syafriadiman, N., Nasution, S., dan Darfia, N. E.
2021. Pengapuran dan pemupukan untuk meningkatkan kualitas air kolam budidaya di Rumbai Bukit Kecamatan Rumbai Pekanbaru. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, 27(4), 293-300.
Iskandar dan Elfaridah.2015. Pertumbuhan dan efisiensi pakan ikan nila (Oreochromis niloticus) yang diberi pakan buatan berbasis kiambang. Jurnal Ziraah 40(1) : 18 – 24.
Kamaruddin, A., Suryadi, A., Jumanti, A., Sundari, A., Utomo, D.E., Hermawati, H., Mahendra, I.G.R., Niti, I.A