• Tidak ada hasil yang ditemukan

Reza Ainun Asyifa 12103244008

N/A
N/A
tinna utami

Academic year: 2023

Membagikan "Reza Ainun Asyifa 12103244008"

Copied!
125
0
0

Teks penuh

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk perilaku agresif, faktor-faktor penyebabnya dan dampak perilaku agresif pada anak tunagrahita sedang. Subjek yang dipilih adalah subjek tunggal yang termasuk dalam anak tunagrahita kategori sedang, bersekolah di SLB N Pembina Yogyakarta dan mempunyai kecenderungan berperilaku agresif. Salah satu permasalahan yang dihadapi anak tunagrahita adalah perilaku agresif yang disebabkan oleh rendahnya tingkat kecerdasan.

Contoh kasus yang ditemui peneliti adalah seorang anak tunagrahita sedang di SLB N Pembina Yogyakarta diketahui memiliki perilaku agresif. Oleh karena itu, perlu diadakan penelitian yang berjudul “Studi Kasus Perilaku Agresif Anak Tunagrahita Kategori Sedang Kelas IV Di SLB Negeri Pembina Yogyakarta”.

Manfaat Teoritis

Manfaat Praktis untuk guru dan sekolah

Perilaku agresif adalah perilaku yang diarahkan dan dimaksudkan untuk merugikan orang lain baik secara psikis maupun fisik. Kekerasan fisik dan ejekan verbal terhadap orang lain sebagai bentuk provokasi langsung dapat menimbulkan perilaku agresif. Apa penyebab internal dan eksternal (anteseden) perilaku agresif pada anak tunagrahita sedang di SLB N Pembina Yogyakarta.

Bagaimana bentuk (perilaku) perilaku agresif verbal dan non verbal yang dilakukan anak tunagrahita sedang di SLB N Pembina Yogyakarta. Apa dampak (akibat) perilaku agresif terhadap diri sendiri dan lingkungan pada anak tunagrahita sedang di SLB N Pembina Yogyakarta.

Subjek Penelitian

Lokasi yang dijadikan lokasi penelitian adalah SLB N Pembina Yogyakarta yang terletak di Jalan Imogiri 224, Desa Giwangan, Kecamatan Umbulharjo. Panduan wawancara orang tua subjek berisi pertanyaan-pertanyaan terkait dengan kebiasaan subjek, sikap di rumah, penyebab perilaku agresif subjek, dan upaya menangani upaya di rumah ketika subjek berperilaku agresif. Panduan wawancara guru mata pelajaran yang berisi pertanyaan tentang pandangan terhadap mata pelajaran, kebiasaan dan sikap mata pelajaran dalam pembelajaran, bentuk-bentuk perilaku agresif yang terlihat di dalam kelas.

Panduan wawancara tetangga subjek berisi pertanyaan-pertanyaan terkait melihat subjek dari berbagai sudut pandang. Panduan wawancara kepada teman sekelas subjek berisi pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan sikap subjek terhadap seluruh teman sekelas dan di luar kelas. Panduan wawancara untuk orang tua siswa lain, yang berisi pertanyaan mengenai pandangan subjek terhadap sekolah ketika bermain dengan siswa lain.

Jenis teknik observasi yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah observasi sistematis, sehingga memerlukan kerangka pengumpulan informasi pada subjek (Sutrisno Hadi). Landasannya adalah teori analisis perilaku terapan dengan menganalisis ABC (Antecedent, Behavior, Consequence) terhadap perilaku agresif subjek. Observasi dilakukan untuk memperoleh data berupa bentuk perilaku agresif subjek, dampak perilaku agresif subjek, anteseden perilaku agresif subjek, hubungan subjek dengan orang lain, dan kinerja subjek.

Jenis observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi partisipan pasif, yaitu penelitian yang dilakukan secara langsung, peneliti hanya datang sebagai pengamat ke lokasi penelitian tanpa terlibat dalam kegiatan pembinaan (Sugiyono, 2010). Instrumen teknik observasi dalam penelitian ini berupa checklist observasi yang diklasifikasikan menurut sumber/informan yang akan diwawancarai. Dokumentasi yang digunakan dalam penelitian ini meliputi foto aktivitas subjek di sekolah dan di rumah, foto wawancara dengan orang tua subjek, foto bersama wali kelas subjek, foto bersama orang tua siswa lain, dan foto orang tua dengan tetangga subjek.

Instrumen Penelitian

Menurut Hamid, metode dokumentasi adalah informasi yang bersumber dari data-data penting baik dari lembaga atau organisasi maupun dari perorangan. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara dan dokumentasi sehingga instrumen yang digunakan adalah pedoman observasi, pedoman wawancara dan dokumentasi. Frustrasi, pola asuh otoriter, sedikit dukungan emosional, tidak ada perlindungan terhadap anak, kurangnya orang tua.

Tabel 1. Kisi-kisi Pedoman Observasi
Tabel 1. Kisi-kisi Pedoman Observasi

Uji Keabsahan Data

Triangulasi Data

Data akhir yang diperoleh merupakan rata-rata dari data yang diperoleh kedua pengamat (Vivi Suryaningsih).

Triangulasi Metode

Triangulasi Sumber

Penelitian ini dilakukan di SLB Negeri Pembina Yogyakarta yang terletak di Jalan Imogiri Timur No. 224 Giwangan, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta. Berdasarkan data profil SLB N Pembina Yogyakarta, sekolah ini telah membangun infrastruktur di atas lahan seluas 2,5 hektar sehingga mampu memadai dan menunjang proses pendidikan. Fungsinya menyelenggarakan, mempelajari dan mengembangkan pendidikan khusus serta pelatihan lanjutan bagi tenaga kependidikan dan pengajar.

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada saat survei yaitu pada bulan Oktober sampai dengan Desember 2016, terlihat kondisi fisik gedung SLB Negeri Pembina Yogyakarta sudah baik. Setiap ruangan, baik ruang direktur, ruang staf, ruang kelas, ruang keterampilan, dan ruang pengelolaan kerja, berlantai keramik sehingga dalam kondisi baik. Halaman sekolah sangat luas dan mempunyai 27 ruang kelas untuk KBM, 1 ruang TU, 1 ruang direktur, 1 ruang guru, 1 ruang perpustakaan, 1 ruang.

Di depan sekolah terdapat lapangan serbaguna yang dapat digunakan untuk latihan pada hari Jumat bermain bola bocce. Sedangkan di bagian tengah sekolah juga terdapat lapangan yang biasa digunakan untuk upacara, olah raga dan juga senam. Taman bermainnya terlihat rapi dan terdapat beberapa tempat di bawah pepohonan di pinggir taman.

Berdasarkan data profil SLB N Pembina Yogyakarta, terlihat jumlah guru di SLB sebanyak 56 orang, tenaga kependidikan sebanyak 18 orang dari 9 pengasuh asrama.

Deskripsi Subjek Penelitian

Informan kunci 1 (KI) adalah ibu subjek, KI berusia 43 tahun, dan berstatus ibu rumah tangga. Informan kunci 4 (IN) merupakan wali siswa lain satu kelas dengan subjek berusia 35 tahun yang bekerja sebagai buruh konveksi. Informan kunci 5 (MA) merupakan tetangga subjek yang anaknya juga bersekolah di SLB, berusia 37 tahun dan berstatus ibu rumah tangga.

Informan Kunci 7 (NN) merupakan salah satu teman sekelas subjek yang sering menjadi sasaran perilaku agresif subjek, berusia 12 tahun. Peneliti mengkaji faktor-faktor yang menyebabkan subjek berperilaku agresif dengan melakukan wawancara terhadap subjek dan beberapa informan kunci, serta mengamati perilaku subjek baik di sekolah maupun di rumah. Menurut Informan Kunci 4, sikap egois ibu subjek juga mempengaruhi perilaku agresif subjek.

Perilaku agresif juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan seperti sikap teman subjek yang takut berteman setelah subjek melakukan perilaku agresif terhadapnya, kondisi fisik subjek dan kebutuhan subjek akan perhatian dari lingkungan menurut informan kunci 3. “Selain itu hal ini juga disebabkan oleh faktor kelelahan yang dialami subjek”. (Wawancara tanggal 29 September 2016 pukul 10.00) Informan kunci 5 mengatakan bahwa alasan ibu AAN ikut menjadi penyebab perilaku agresif subjek adalah karena keegoisan sang ibu agar anaknya tidak disalahkan atas perilaku agresif tersebut. Informan kunci 2 berpendapat bahwa AAN pada dasarnya mempunyai ciri-ciri cepat bosan dan suka mencari perhatian guru.

Terlibat AAN sendiri sangat dekat dengan temannya yang berinisial AY, seperti yang diungkapkan oleh Informan Kunci 2 bahwa dia cocok dengan AY dan menganggapnya sebagai pelajar. Laporan dari Key Informan 3 dan Key Informan 2 memberikan informasi bahwa subjek AAN telah berperilaku agresif sejak mengikuti SLB N Pembina pada tahun pertama sekolah yaitu pada saat kelas observasi sebelum penempatan kelas. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Key Informan 2 dan Key Informan 4, peneliti menemukan bahwa subjek berperilaku agresif dengan memberikan respon terhadap teman yang menyentuh tubuh subjek dan hanya sekedar ingin tahu.

Tabel 2. profil Key Informan.
Tabel 2. profil Key Informan.

Pembahasan

  • Latar Belakang Keluarga
  • Kehidupan di Lingkungan Rumah
  • Pembelaan Diri atas Perilaku Lingkungan
  • Keadaan Fisik
  • Identifikasi Bentuk Perilaku Agresif (Behavior)
  • Dampak Perilaku Agresif (Consequence)

Jika subjek memiliki hubungan yang buruk dengan orang lain, hal ini akan memungkinkan subjek untuk melakukan perilaku agresif. Disebutkan Anantasari, cedera fisik dan pelecehan verbal dari orang lain sebagai bentuk provokasi langsung dapat menimbulkan perilaku agresif. Pengaruh lingkungan terhadap subjek hanya sebatas rangsangan terhadap perilaku agresif subjek apabila terjadi keadaan yang tidak disukai subjek.

Perilaku agresif yang paling banyak terjadi adalah membentak, menyebut nama buruk orang lain, serta berbicara kotor dan tidak sopan. Dampak yang ditimbulkan dari perilaku agresif subjek adalah orang lain menghindarinya, terutama teman sekelas yang juga menjadi korban dari perilaku agresif subjek AAN. Perilaku yang dibahas dalam penelitian ini adalah perilaku agresif yang meliputi frekuensi, intensitas, dan durasi.

Perilaku agresif yang paling dominan pada subjek ON adalah berbicara kotor dan kasar kepada siapapun. Dampak dari perilaku agresif yang dilakukan ketiga subjek berdampak pada diri subjek dan lingkungannya. Sendiri, perilaku agresif ketiga subjek memberikan dampak terhadap perasaan puas atau senang setelah melakukan perilaku agresif.

Perilaku agresif mata pelajaran AAN membuat marah para guru di sekolah tersebut karena mata pelajaran AAN menjadi sulit diatur dan mulai mengganggu siswa lain yang sedang fokus belajar. Perilaku agresif subjek AAN menimbulkan kekesalan korban yang menjadi pelampiasan subjek untuk mencari perhatian, seperti siswa yang sering menjadi sasaran subjek. Hal serupa juga dialami subjek AAN, dimana perilaku agresifnya seperti mempermalukan orang lain ditiru oleh AY, teman dekat subjek.

Keterbatasan Penelitian

Faktor Penyebab Perilaku Agresif (Antecendent)

Faktor penyebab terjadinya perilaku agresif subjek adalah kurangnya perhatian dan kasih sayang orang-orang terdekat subjek pada masa lalu dan masa kini, serta kepribadian subjek. Jadi dapat disimpulkan bahwa subjek AAN yang kurang mendapat kasih sayang dari ayahnya serta tidak mendapat perhatian dan contoh perilaku baik dari ayahnya, menerima contoh perilaku buruk karena sering melihat adegan kekerasan di televisi, dan kondisi fisik subjek yang menyebabkannya. fenomena perilaku agresif.

Bentuk Perilaku Agresif (Behavior)

Dampak Perilaku Agresif (Consequences)

Lebih spesifik dampak yang paling banyak dialami subjek adalah tidak mempunyai teman di rumah, namun mempunyai hubungan yang baik dengan salah satu teman di kelasnya, sering diolok-olok sebagai 'bebek tuo' oleh tetangganya di rumah, adalah topik tentang percakapan di kelas. Di lingkungan rumah dan sekolah, siswa dan ibunya tidak disukai oleh orang tua siswa lain, dan sering ditegur oleh guru. Dampak dari perilaku agresif subjek terhadap lingkungan adalah terciptanya hubungan sosial yang tidak sehat, yaitu antara subjek dengan siswa lain seperti dikucilkan, dan antara subjek dengan guru seperti diperlakukan berbeda dengan siswa lain, yang menyebabkan kemarahan karena menjadi korban dari perilaku agresif subjek, dan menjadi teladan perilaku bagi siswa lainnya.

Saran

Bagaimana perilaku AAN ketika berada dirumah ?

AAN sering merasa bosan karena tidak mempunyai teman yang mau bermain dengannya, lingkungan rumahnya kini sepi sehingga membuat anak-anak bosan. Sebelum masuk SLB AAN, teman-teman serumahnya suka bermain dengan anak-anaknya, namun setelah masuk SLB, teman-temannya menghindarinya.

Berapa kali anak menampakan perilaku agresif ?

Bagaimana sikap anak setelah melakukan perilaku di luar kendali ?

Di kelas dia suka mengganggu teman-temannya, tidak mengikuti aturan dan kadang suka memandangnya jika ditanya. Teman-teman sekelasnya takut dengan mata pelajaran, hanya satu orang yang masih mau berteman dengan mata pelajaran, tapi itu kadang-kadang.

Faktor penyebab An berperilaku agresif yang

Apakah anak anda pernah menjadi sasaran tindak

Lalu, bagaimana sikap anda setelah mengetahui AAN

Apakah menurut anda AAN jera ketika sudah di beri

Sering menuntut perhatian guru kelas dengan berteriak, menggedor meja saat proses belajar mengajar sedang berlangsung di kelas. Menyebut nama siswa lain yang tidak disukainya, misalnya memanggil NN “bosok” atau semacamnya. Kurang mendapatkan kasih sayang dari ayah karena subjek tidak dekat dengan ayah karena merasa takut.

Gambar 5. Wawancara bersama guru kelas                                              Gambar 6
Gambar 5. Wawancara bersama guru kelas Gambar 6

Gambar

Tabel 1. Kisi-kisi Pedoman Observasi
Tabel 2. profil Key Informan.
Tabel 3 . Peristiwa Penyebab Perilaku Agresif Subjek AAN (Antecedent) Antecedent Internal
Tabel 4 . Bentuk Perilaku Agresif subjek AAN ( Behavior) Bentuk Perilaku Agresif Verbal  Bentuk Perilaku Agresif Non
+4

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil penelitian ini menunjukkan 5,59 % bentuk perilaku agresif adalah menyerang secara verbal atau simbolis, sehingga dapat disimpulkan bahwa bentuk perilaku agresif

Perilaku agresif merupakan perilaku seseorang baik verbal atau nonverbal yang bertujuan untuk menyakiti orang lain dan ada unsur kesengajaan didalamnya. Perilaku agresif

Secara keseluruhan penerapan metode bermain peran ( role playing ) berpengaruh positif dan efektif digunakan untuk mengurangi perilaku agresif non verbal anak

Bentuk perilaku tersebut dapat dijabarkan menjadi perilaku agresif yang muncul pada individu, yaitu agresif verbal aktif langsung seperti menghina, memaki,

Perilaku agresif adalah segala bentuk perilaku individu yang ditujukan untuk melukai atau mengganggu orang lain atau suatu subyek, baik secara verbal maupun nonverbal yang

Latar belakang : Perilaku kekerasan merupakan suatu bentuk perilaku agresif atau kekerasan yang ditunjukkan secara verbal, atau fisik keduanya kepada suatu objek, orang

Penelitian ini menggunakan data skala yaitu skala perilaku agresif pada anak (perilaku agresif fisik, perilaku agresif verbal, penyerangan terhadap obyek, dan pelanggaran hak

Distribusi frekuensi parenting stress pada orang tua Dalam merawat anak Tunagrahita berdasarkan aspek. perilaku anak yang sulit