• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rizal Adriansyah Rusmana Kelas: Manajemen B3

N/A
N/A
Rizal Adriansyah R

Academic year: 2023

Membagikan " Rizal Adriansyah Rusmana Kelas: Manajemen B3"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

Nama: Rizal Adriansyah Rusmana Kelas: Manajemen B3

NIM: 5111211181

1. Peraturan Perusahaan PT Telkom Indonesia .Tbk

PT Telkom adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang telekomunikasi dan teknologi informasi di Indonesia. Seperti kebanyakan perusahaan besar, PT Telkom pasti memiliki peraturan perusahaan yang diterapkan untuk mengatur tata kelola perusahaan. Namun, saya tidak memiliki informasi mengenai peraturan perusahaan PT Telkom secara spesifik, karena peraturan perusahaan bisa saja berubah-ubah sesuai dengan kebijakan internal dari perusahaan dan peraturan dari pemerintah yang berlaku.

Secara umum, peraturan perusahaan PT Telkom sebagai perusahaan Telekomunikasi harus sesuai dengan undang-undang yang berlaku dalam bidang telekomunikasi seperti undang- undang nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi, undang-undang nomor 32 tahun 2002 tentang Penyelenggaraan pos dan Informatika, undang-undang nomor 11 tahun 2008 tentang ITE, serta peraturan pemerintah yang lain yang berlaku.

Peraturan ketenagakerjaan di perusahaan PT Telkom harus sesuai dengan Undang- Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan perjanjian kerja bersama yang telah ditandatangani oleh pihak perusahaan dan serikat pekerja.

Beberapa peraturan ketenagakerjaan yang mungkin diterapkan oleh PT Telkom antara lain:

A. Sistem gaji: PT Telkom harus menetapkan sistem gaji yang sesuai dengan standar industri dan sesuai dengan perjanjian kerja bersama yang telah ditandatangani.

Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, atau disingkat UU No. 13/2003, mengatur tentang berbagai hal yang berkaitan dengan ketenagakerjaan, termasuk sistem gaji. Dalam UU tersebut diatur bahwa sistem gaji harus adil dan sesuai dengan kompetensi dan produktivitas pekerja.

Beberapa pasal yang berkaitan dengan sistem gaji di dalam UU No. 13/2003 antara lain:

(2)

1) Pasal 78, yang menyatakan bahwa perusahaan harus menetapkan sistem gaji yang adil, transparan, dan tidak diskriminatif, serta sesuai dengan kompetensi dan produktivitas pekerja.

2) Pasal 80, yang menyatakan bahwa perusahaan harus memberikan upah atau gaji yang sesuai dengan jenis pekerjaan yang dilakukan, serta harus memperhatikan tingkat produktivitas pekerja.

3) Pasal 81, yang menyatakan bahwa perusahaan harus menetapkan sistem gaji yang transparan dan terbuka untuk diketahui oleh para pekerja.

4) Pasal 82, yang menyatakan bahwa perusahaan harus memberikan imbalan atau penghargaan kepada pekerja yang memiliki kinerja yang baik.

5) Pasal 84, yang menyatakan bahwa perusahaan harus memberikan uang makan, uang transportasi, dan tunjangan lainnya yang diatur dalam perjanjian kerja bersama atau peraturan perusahaan.

UU No. 13/2003 juga menyatakan bahwa perusahaan harus memastikan bahwa sistem gaji yang diterapkan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Dan perjanjian kerja bersama (PKB) yang telah ditandatangani juga harus diperhatikan. PKB merupakan perjanjian yang ditandatangani oleh pihak perusahaan dan serikat pekerja yang mengatur hak dan kewajiban kedua belah pihak, termasuk tentang sistem gaji.

B. Jam kerja: PT Telkom harus menetapkan jam kerja yang sesuai dengan standar industri dan sesuai dengan perjanjian kerja bersama yang telah ditandatangani.

Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (UU No.

13/2003) mengatur tentang berbagai hal yang berkaitan dengan ketenagakerjaan, termasuk jam kerja. Dalam UU tersebut, diatur beberapa hal mengenai jam kerja yang harus diterapkan oleh perusahaan, antara lain:

1) Pasal 74, yang menyatakan bahwa perusahaan harus menetapkan jam kerja yang sesuai dengan jenis pekerjaan yang dilakukan dan sesuai dengan kondisi fisik dan mental pekerja.

2) Pasal 75, yang menyatakan bahwa perusahaan harus memberikan istirahat yang cukup bagi pekerja, serta harus memperhatikan kondisi kesehatan pekerja.

(3)

3) Pasal 76, yang menyatakan bahwa perusahaan harus memberikan libur yang cukup bagi pekerja, serta harus memperhatikan kondisi keluarga pekerja.

4) Pasal 77, yang menyatakan bahwa perusahaan harus memberikan cuti yang cukup bagi pekerja, serta harus memperhatikan kondisi kesehatan pekerja.

5) Pasal 79, yang menyatakan bahwa perusahaan harus memberikan remunerasi atau imbalan yang sesuai bagi pekerja yang bekerja lembur.

Pasal-pasal tersebut menyatakan bahwa perusahaan harus memperhatikan kondisi fisik dan mental pekerja, serta harus memberikan istirahat, libur, cuti yang cukup, serta remunerasi yang sesuai untuk pekerja yang bekerja lembur, untuk menjaga kesejahteraan pekerja. Dalam hal ini perjanjian kerja bersama (PKB) yang telah ditandatangani juga harus diperhatikan, PKB merupakan perjanjian yang ditandatangani oleh pihak perusahaan dan serikat pekerja yang mengatur hak dan kewajiban kedua belah pihak, termasuk tentang jam kerja.

C. Cuti: PT Telkom harus menyediakan cuti bagi karyawan sesuai dengan standar industri dan sesuai dengan perjanjian kerja bersama yang telah ditandatangani.

Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (UU No.

13/2003) mengatur tentang hak-hak pekerja, termasuk hak untuk mendapatkan cuti.

Dalam UU tersebut, diatur beberapa hal mengenai cuti yang harus diterapkan oleh perusahaan, antara lain:

1) Pasal 77, yang menyatakan bahwa setiap pekerja berhak atas cuti tahunan dengan hak memperoleh upah.

2) Pasal 77 ayat (2), yang menyatakan bahwa jumlah cuti tahunan yang diberikan kepada pekerja paling sedikit sebanyak 12 hari kerja dalam setahun.

3) Pasal 77 ayat (3), yang menyatakan bahwa jika dalam suatu tahun kalender pekerja baru bekerja sebagian dari tahun tersebut, maka jumlah hari cuti yang diberikan ditentukan dengan proporsional dengan jangka waktu kerja.

4) Pasal 77 ayat (4), yang menyatakan bahwa jika seorang pekerja telah bekerja paling sedikit 6 bulan berturut-turut dalam suatu periode kerja, maka ia berhak atas cuti tahunan.

(4)

5) Pasal 77 ayat (5), yang menyatakan bahwa jika seorang pekerja baru mulai bekerja setelah periode kerja dimulai, maka ia hanya berhak atas cuti setelah ia bekerja paling sedikit 6 bulan berturut-turut dalam suatu periode kerja.

6) Pasal 77 ayat (6), yang menyatakan bahwa seorang pekerja dapat mengambil cuti tahunan dengan persetujuan dari pemberi kerja, selama jumlah cuti yang diambil tidak mengurangi produktivitas pekerjaan.

7) Pasal 77 ayat (7), yang menyatakan bahwa pemberi kerja harus memberikan cuti tahunan ke

D. Tunjangan: PT Telkom harus menyediakan tunjangan bagi karyawan sesuai dengan standar industri dan sesuai dengan perjanjian kerja bersama yang telah ditandatangani.

Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (UU No.

13/2003) mengatur tentang hak-hak pekerja, termasuk hak untuk mendapatkan tunjangan. Dalam UU tersebut, diatur beberapa hal mengenai tunjangan yang harus diterapkan oleh perusahaan, antara lain:

1) Pasal 84, yang menyatakan bahwa setiap pekerja berhak atas uang makan dan uang transportasi serta tunjangan-tunjangan lain yang diatur dalam perjanjian kerja bersama atau peraturan perusahaan.

2) Pasal 84 ayat (2), yang menyatakan bahwa jumlah uang makan dan uang transportasi serta tunjangan-tunjangan lain yang diterima pekerja tidak boleh kurang dari yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.

3) Pasal 84 ayat (3), yang menyatakan bahwa besarnya uang makan, uang transportasi dan tunjangan-tunjangan lain yang diterima pekerja ditentukan berdasarkan perjanjian kerja bersama atau peraturan perusahaan, serta dapat dinegosiasikan kembali setiap tahun.

UU No. 13/2003 juga menyatakan bahwa perusahaan harus memastikan bahwa tunjangan yang diterapkan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku dan perjanjian kerja bersama (PKB) yang telah ditandatangani oleh pihak perusahaan dan serikat pekerja. PKB mengatur hak dan kewajiban kedua belah pihak termasuk tentang tunjangan yang diterima oleh pekerja.

(5)

E. Perlindungan kesehatan: PT Telkom harus menyediakan perlindungan kesehatan bagi karyawan sesuai dengan standar industri dan sesuai dengan perjanjian kerja bersama yang telah ditandatangani.

Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (UU No.

13/2003) mengatur tentang hak-hak pekerja, termasuk hak untuk mendapatkan perlindungan kesehatan. Dalam UU tersebut, diatur beberapa hal mengenai perlindungan kesehatan yang harus diterapkan oleh perusahaan, antara lain:

1) Pasal 92, yang menyatakan bahwa setiap pemberi kerja harus memberikan perlindungan kesehatan yang sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

2) Pasal 92 ayat (2), yang menyatakan bahwa pemberi kerja harus memberikan perlindungan kesehatan bagi pekerjanya yang ditetapkan dengan perjanjian kerja bersama atau peraturan perusahaan.

3) Pasal 92 ayat (3), yang menyatakan bahwa pemberi kerja harus menyediakan fasilitas kesehatan di tempat kerja dan menjamin keamanan dan kesehatan pekerja sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

4) Pasal 92 ayat (4), yang menyatakan bahwa pemberi kerja harus memberikan pelatihan kesehatan dan keselamatan kerja bagi pekerjanya.

5) Pasal 92 ayat (5), yang menyatakan bahwa pemberi kerja harus memberikan perlindungan kesehatan bagi pekerja yang sakit atau mengalami kecelakaan kerja dengan cara yang sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

UU No. 13/2003 juga menyatakan bahwa perusahaan harus memastikan bahwa perlindungan kesehatan yang diterapkan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku, seperti peraturan yang diatur dalam UU No. 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja, dan perjanjian kerja bersama (PKB) yang telah ditandatangani oleh pihak perusahaan dan serikat pekerja. PKB mengatur hak dan kewajiban kedua belah pihak termasuk tentang perlindungan kesehatan yang diterima oleh pekerja.

F. Perlindungan hukum: PT Telkom harus menyediakan perlindungan hukum bagi karyawan dalam hal terjadi masalah di tempat kerja.

(6)

Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (UU No.

13/2003) mengatur tentang perlindungan hukum bagi pekerja, termasuk memberikan jaminan perlindungan hukum yang adil dan proporsional bagi pekerja yang mengalami diskriminasi, perlakuan tidak wajar, atau pelanggaran hak-hak pekerja lainnya. Dalam UU tersebut, diatur beberapa hal mengenai perlindungan hukum yang harus diterapkan oleh perusahaan, antara lain:

1) Pasal 2 ayat (4), yang menyatakan bahwa setiap pekerja berhak atas perlindungan hukum yang adil dan proporsional jika mengalami diskriminasi, perlakuan tidak wajar, atau pelanggaran hak-hak pekerja lainnya.

2) Pasal 91, yang menyatakan bahwa setiap pekerja berhak atas perlindungan hukum yang adil dan proporsional jika mengalami perlakuan yang tidak wajar dari pemberi kerja, serta dapat memperoleh ganti rugi atas kerugian yang dideritanya.

3) Pasal 140, yang menyatakan bahwa setiap pekerja berhak atas perlindungan hukum yang adil dan proporsional jika mengalami diskriminasi dari pemberi kerja, serta dapat memperoleh ganti rugi atas kerugian yang dideritanya.

4) Pasal 141, yang menyatakan bahwa setiap pekerja berhak atas perlindungan hukum yang adil dan proporsional jika mengalami pelanggaran hak-hak pekerja lainnya dari pemberi kerja, serta dapat memperoleh ganti rugi atas kerugian yang dideritanya.

Selain itu, Dalam UU No.13/2003 juga diatur tentang Perlindungan hukum juga diatur dalam perjanjian kerja bersama (PKB) yang telah ditandatangani oleh pihak perusahaan dan serikat pekerja. PKB mengatur hak dan kewajiban kedua belah pihak termasuk tentang perlindungan hukum yang diterima oleh pekerja.

G. Pemberhentian Karyawan: PT Telkom harus melakukan pemberhentian sesuai dengan peraturan yang berlaku dan sesuai dengan perjanjian kerja bersama yang telah ditandatangani.

Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan (UU No.

13/2003) mengatur tentang pemberhentian karyawan dari suatu perusahaan. Dalam UU

(7)

tersebut, diatur beberapa hal mengenai pemberhentian karyawan yang harus diterapkan oleh perusahaan, antara lain:

1) Pasal 164, yang menyatakan bahwa pemberi kerja dapat memberhentikan pekerja dengan diberikan kesempatan untuk menyampaikan pandangan terlebih dahulu, dengan atau tanpa uang santun sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku.

2) Pasal 164 ayat (2), yang menyatakan bahwa pemberhentian pekerja dapat dilakukan apabila terjadi pelanggaran yang dilakukan oleh pekerja, apabila tidak sesuai dengan ketentuan perjanjian kerja bersama atau peraturan perusahaan 3) Pasal 165, yang menyatakan bahwa pemberi kerja harus memberikan surat

pemberitahuan tertulis kepada pekerja yang akan diberhentikan, yang berisi alasan pemberhentian dan jangka waktu surat pemberitahuan, minimal 2 (dua) bulan sebelum pelaksanaan pemberhentian, kecuali dalam hal-hal yang cepat dan tidak dapat dihindari.

4) Pasal 166, yang menyatakan bahwa pemberhentian pekerja yang dilakukan tanpa sebab yang sah atau tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan merupakan pelanggaran dan dapat dikenakan sanksi administratif berupa denda atau pidana.

5) Pasal 168, yang menyatakan bahwa pemberhentian pekerja yang dilakukan oleh pemberi kerja harus diterima oleh pekerja dan dicatat dalam buku karyawan.

Itulah beberapa hal yang diatur dalam UU No.13/2003 tentang pemberhentian karyawan, pemberhentian harus sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan perjanjian kerja bersama (PKB) yang telah ditandatangani oleh pihak perusahaan dan serikat pekerja. PKB mengatur hak dan kewajiban kedua belah pihak termasuk tentang pemberhentian karyawan.

PT Telkom sebagai perusahaan BUMN harus mengikuti peraturan-peraturan yang berlaku di negara Indonesia, seperti peraturan ketenagakerjaan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan dan perjanjian kerja bersama yang telah ditandatangani oleh pihak perusahaan dan serikat pekerja.

(8)

2. Perjanjian Kerja Bersama PT Telkom. Tbk dengan serikat karyawan

Dalam operasionalnya Undang-Undang No 13 Tahun 2003 tidak bisa dilakukan secara langsung. Dalam artian bahwa perlu adanya penjabaran untuk mengatur hubungan antara pekerja dan pengusaha. Penjabaran tersebut salah satunya adalah Perjanjian Kerja Bersama (PKB). PKB merupakan hasil dari kesepakatan untuk melakukan pekerjaan yang dilakukan oleh pihak pengusaha dan serikat pekerja.

Dapat dilihat bahwa dibuatnya PKB adalah untuk mengatur syaratsyarat kerja hak dan kewajiban kedua belah pihak. Demikian pula bahwa PKB adalah merupakan perjanjian induk yang harus diperhatikan dalam membuat perjanjian kerja. Berdasarkan aturan normatif itulah maka dalam implementasinya PT Telkom.Tbk menerapkan aturan yang ada dengan membuat Perjanjian Kerja Bersama (PKB) antara Pihak Manajemen dan Serikat Karyawan. Perjanjian Kerja Bersama (PKB) antara Karyawan Perusahaan Perseroan (PERSERO) PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk yang dalam hal ini diwakili secara sah oleh Serikat Karyawan Perusahaan Perseroan (PERSERO) PT.

Untuk melaksanakan Hubungan Industrial dalam rangka menciptakan hubungan kerja yang serasi, aman, mantap, tenteram dan dinamis serta perwujudan ketenangan kerja dan perbaikan kesejahteraan karyawan, kepastian hak dan kewajiban masing-masing pihak SEKAR dan TELKOM Sekar Telkom pun telah memancangkan empat pilar peran kesejarahan sebagai haluan organisasi yaitu pertama sebagai wadah pemersatu karyawan, kedua sebagai wadah aspirasi karyawan, ketiga sebagai mitra konstruktif manajemen dan keempat sebagai pengawal dan penegak Good Governance (Bersih, Transparan dan Profesional).

Tujuan Perjanjian Kerja Bersama:

Tujuan diadakannya Perjanjian Kerja Bersama (PKB) di PT. Telkom.Tbk merupakan pelaksanaan dari Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003. Dengan dibuatnya Perjanjian Kerja Bersama (PKB) maka dimaksudkan sebagai acuan dalam mengatur hubungan industrial antara karyawan PT. Telkom.Tbk dan Manajemen PT. Telkom.Tbk yang mengatur siklus ketenagakerjaan di Telkom mulai dari rekruitmen hingga pensiun14. Menginggat perkembangan ketenagakerjaan yang dinamis dengan berbagai permasalahan yang dapat muncul seperti tersebut diatas sudah semestinya bahwa pelaksanaan dari PKB yang telah disepakati harus tetap menjadi acuan hubungan kerja di PT. Telkom.Tbk

(9)

3. Kesimpulan

Peraturan perusahaan adalah aturan yang ditetapkan oleh pihak manajemen perusahaan untuk mengatur tata kelola perusahaan. Peraturan ini harus sesuai dengan undang- undang yang berlaku dan perjanjian kerja bersama (PKB) yang telah ditandatangani oleh pihak perusahaan dan serikat pekerja.

Undang-undang yang harus diperhatikan dalam menetapkan peraturan perusahaan antara lain Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Tindak Pidana dan Penegakan Hukum (Ketentuan Umum dan Tata Cara Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi), serta Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.

Peraturan perusahaan juga harus sesuai dengan PKB yang telah ditandatangani oleh pihak perusahaan dan serikat pekerja. PKB mengatur hak dan kewajiban kedua belah pihak, seperti gaji, jam kerja, cuti, tunjangan, dll. Jika perusahaan ingin mengubah peraturan yang telah ditetapkan dalam PKB, perubahan tersebut harus melalui musyawarah dan disetujui oleh kedua belah pihak.

Secara keseluruhan, peraturan perusahaan harus sesuai dengan undang-undang dan PKB yang berlaku. Peraturan yang tidak sesuai dapat menyebabkan masalah hukum dan menyebabkan perusahaan harus menanggung kerugian. Oleh karena itu, perusahaan harus memastikan bahwa peraturan yang ditetapkan sesuai dengan undang-undang dan PKB yang berlaku sebelum diterapkan.

Referensi

Dokumen terkait

Pelaksanaan perlindungan hukum belum sepenuhnya berjalan dengan baik sesuai dengan Pasal 5 UU No.13 Tahun 2011 dan diatur lebih lanjut berdasarkan UU No.11 Tahun 2009

Pasal 66 ayat (1) UU Nomor 13 tahun 2003 mengatur bahwa pekerja/buruh dari perusahaan penyedia jasa tenaga kerja tidak boleh digunakan oleh pemberi kerja untuk

Di Indonesia sendiri hak dan kewajiban konsumen diatur dalam UU No.8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen Hak Konsumen diatur didalam Pasal 4 (lihat Lampiran 1)... Hak tersebut

Pasal 9 UU Perlindungan Konsumen mengatur mengenai larangan pelaku usaha yang menawarkan, memproduksi, mengiklankan suatu barang secara tidak benar dan/atau

Ketentuan mengenai pemusnahan narkotika diatur dalam Pasal 91 Undang- Undang 35 Tahun 2009 Tentang Narkotika yang menyatakan, “Kepala Kejaksaan Negeri setempat

Jadi, perlindungan konsumen bagi pengguna rokok elektrik jika berdasarkan pasal 19 UU Perlindungan Konsumen tentang Tanggung Jawab Pelaku Usaha yang menyatakan

Bila perkawinan putus karena perceraian maka harta bersama, menurut Pasal 37 UU No 1 / 1974 diatur menurut hukumnya masing- masing .  Selain dalam Undang-undang

Mengenai kewajiban perusahaan untuk mendaftarkan pekerja atau buruhnya sebagai peserta jaminan sosial diatur dalam Pasal 4 ayat 1 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004, yaitu: “Pemberi