Laporan Praktikum
TEKNOLOGI SEDIAAN KOSMETIK
“SABUN CUCI TANGAN”
OLEH :
KELOMPOK : I (SATU)
KELAS : B-D3 FARMASI 2021
ASISTEN : ABDULLAH WALANGADI, S.Farm
LABORATORIUM TEKNOLOGI FARMASI JURUSAN FARMASI
FAKULTAS OLAHRAGA DAN KESEHATAN UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
2023
Lembar Pengesahan
TEKNOLOGI SEDIAAN KOSMETIK
“SABUN CUCI TANGAN”
OLEH :
KELOMPOK : I (SATU)
KELAS : B-DIII FARMASI 2021
1. Indra Setiawan Podungge (821321048) 2. Siti Anggraini Dunggio (821321055)
3. Marseli Tui (821321060)
4. Nur Adha Iyonu (821321068)
5. Shinta S. Rauf (821321073)
Gorontalo, Oktober 2023 Mengetahui sisten
ABDULLAH WALANGADI, S.Farm
NILAI
i KATA PENGANTAR
Asslamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. Atas segala limpahan rahmat, hidayah dan taufiq-nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan
“Teknologi Sediaan Kosmetik” tepat pada waktunya. Shalawat beserta salam semoga tercurahkan kepada nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya, sahabatnya, sampai pada umatnya hingga akhir zaman, Aamiin.
Banyak terima kasih kepada pihak-pihak yang sudah membantu penulis dalam menyelesaikan laporan ini, ucapan terimakasih juga kepada ibu selaku dosen pembimbing, koordinator umum, dan asisten kami yang telah membantu penulis selama proses praktikum.
Sebagai manusia biasa penulis menyadari bahwa penulis tidak luput dari khilaf dan salah. Demikian juga dalam penulisan proses ini. Oleh karena itu dengan hati tulus, penulis akan menerima saran dan kritikan yang dapat menyempurnakan laporan ini.
Wassalamualikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Gorontalo, Oktober 2023
Kelompok I
ii DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... .i
DAFTAR ISI ... .ii
BAB I PENDAHULUAN ... .1
1.1 Latar Belakang ... .1
1.2 Maksud Dan Tujuan Percobaan ... .5
1.3 Manfaat Praktikum ... .5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... .6
2.1 Dasar Teori ... .6
2.2 Uraian Tanaman ... 11
BAB III PENDEKATAN FORMULA ... 14
3.1 Waktu Dan Tempat Pelaksanaan ... 14
3.2 Alat Dan Bahan ... 14
3.3 Studi Preformulasi Zat Aktif ... 14
3.4 Studi Preformulasi Bahan Tambahan ... 14
BAB IV FORMULASI DAN PERHITUNGAN ... 16
4.1 Formulasi ... 16
4.2 Perhitungan ... 16
BAB V CARA KERJA DAN EVALUASI ... 22
5.1 Cara Kerja ... 22
5.2 Tabel Evaluasi ... 22
BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN ... 23
6.1 Hasil ... 23
6.2 Pembahasan ... 23
BAB V PENUTUP ... 26
7.1 Kesimpulan ... 26
7.2 Saran ... 26 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN
1 BAB I
PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan Negara kepulauan yang terletak di zona khatulistiwa (tropik) dan terkenal mempunyai kekayaan alam dengan beraneka ragam jenis tumbuhan, tetapi potensi ini belum seluruhnya dimanfaatkan sebagai bahan industry khususnya tumbuhan berkhasiat obat. Penggunaan tumbuhan sebagai obat tradisional umumnya hanya didasarkan atas pengalaman atau warisan tanpa mengetahui kandungan kimianya secara detail. Tumbuhan tersebut jika ditelaah lebih lanjut mempunyai kandungan kimia aktif biologis, dengan kekayaan tersebut pemerintah dan aparatur Negara mengusahakan adanya jurusan yang mampu memanfaatkan kekayaan tersebut. Salah satu jurusan yang memanfaatkan kekayaan tersebut adalah jurusan farmasi.
Farmasi adalah suatu profesi kesehatan yang berhubungan dengan pembuatan dan distribusi dari produk yang berkhasiat obat, ini meliputi seni dan ilmu pengetahuan dari sumber alam atau sintetik menjadi material atau produk yang cocok dipakai untuk mencegah, dan mendiagnosa penyakit. Dalam farmasi juga mempelajari berbagai ilmu terapan, diantaranya adalah matematika, fisika, biologi, kimia, dan masih banyak cabang ilmu lainnya. Salah satu Ilmu yang mendasar dari farmasi yaitu teknologi sediaan kosmetik (Dirjen POM, 1979).
Sabun merupakan senyawa kimia dari garam natrium atau kalium pada asam lemak yang berasal dari minyak nabati atau lemak hewani. Sabun dapat dibuat dalam dua jenis yaitu sabun cair dan sabun padat (Retnowati, 2013)
Sabun cair menurut Stefanie et al (2017), mampu mengemulsikan air, kotoran/minyak. Sabun cair efektif untuk mengangkat kotoran yang menempel pada permukaan kulut baik yang larut air maupun larut lemak dan membersihkan bau pada kulit serta memberikan aroma yang enak dicium. Salah satu produk sabun adalah sabun cuci tangan.
Sabun cuci tangan adalah sediaan pembersih tangan berbentuk cair yang dibuat dari bahan dasar sabun atau deterjen dengan penambahan bahan lain yang dijinkan dan digunakan untuk kulit tangan tanpa menimbulkan iritasi pada kulit.
2 Meski sama-sama bersifat antibakteri, sabun cuci tangan tidak bisa dipakai sebagai cara menghilangkan jerawat. Sabun cuci tangan hanya ditujukan untuk membersihkan bagian tangan, bukan untuk wajah atau kulit berjerawat lainnya.
(Dewan Standarisası Nasional, 1996). Jenis sabun cuci tangan yang paling sering digunakan oleh tenaga medis di rumah sakit sebelum melakukan prosedur pembedahan adalah chlorhexidine dan produk berbahan dasar iodin. Pilihan selain chlorhexidine dan produk berbahan dasar jodin adalah chloroxylenol dan beachlorophene serta triklosin. Hexachlorophene dan trikiosin jarang digunakan, tapi masih merupakan alternatif yang baik jika ada anggota tim medis menunjukkan reaksi alergi terhadap klorheksidin dan produk berbahan dasar iodin (WHO, 2009).
Ada dua macam cara melakukan kebersihan tangan. Yang pertama adalah cuci tangan dengan menggunakan air mengalir dan sabun (handwash) dan yang kedua adalah dengan menggunakan cairan yang mengandung alkohol 60% – 70%
(handrub).
Bahan penyusun sabun terdiri atas bahan utama dan bahan pendukung.
Bahan utama berupa berbagai jenis minyak nabati (berbentuk cair) atau lemak hewan (berbentuk padat). Bahan pendukung yang umum dipakai dalam proses pembuatan sabun, antara lain, pewangi, pewarna, natrium klorida, natrium karbonat, dan natrium fosfat.
Jenis surfaktan yang umum terkandung dalam produk sabun cuci tangan adalah Sodium Lauryl Sulfate (SLS) atau Sodium Laureth Sulfate (SLES). Selain itu, beberapa produk sabun cuci tangan juga memiliki fungsi tambahan seperti sifat antibakteri.
Pohon mangga adalah tanaman berumur panjang, bahkan beberapa spesiesnya dapat berbuah hingga umur 300 tahun. Akarnya mampu tumbuh ke dalam tanah hingga mencapai kedalaman 6 meter dan akar cabang menyebar ke samping. Mangga termasuk tanaman evergreen sehingga daunnya tetap hijau sepanjang tahun. Mangga atau mempelam adalah nama sejenis buah, demikian pula nama pohonnya. Mangga termasuk ke dalam genus Mangifera, yang terdiri dari 35- 40 anggota dari famili Anacardiaceae. Nama "mangga" berasal dari bahasa Tamil, mankay, yang berarti man "pohon mangga" + kay "buah"
3 Sabun cuci tangan dengan kandungan ekstrak etanol daun mangga yang mengandung tanin, alkaloid, glikosid, steroid, dan triterpenoid, saponin, kaumarin, komponen fenolik, dan flavonoid dan juga mangiferin. Alkaloid yang memiliki kemampuan sebagai anti bakteri dengan mekanismepenghambatan dengan cara mengganggu komponen penyusun peptidoglikan pada sel bakteri. Alkaloid merupakan alkaloid yang ampuh dalam menghambat kinerja beberapa mikroorganisme (Winda Anggia Dwi dkk. 2021).
Berdasarkan uraian diatas maka dilakukan percobaan sabun cuci tangan agar mahasiswa dapat memahami dan mengetahui cara pembuatan teknologi kosmetik pada sediaan sabun cuci tangan.
1.2 Maksud dan Tujuan Praktikum 1.2.1 Maksud Praktikum
1. Bagaimana mahasiswa mampu mengetahui rancangan formula dalam pembuatan sabun cuci tangan dengan zat aktif ekstrak etanol daun mangga.
2. Bagaimana mahasiswa mampu memahami evaluasi pada sediaan sabun cuci tangan dengan zat aktif ekstrak etanol daun mangga.
1.2.2 Tujuan Praktikum
1 Agar mahasiswa mampu cara formulasi dari sediaan sabun cuci tangan dengan zat aktif ekstrak etanol daun mangga.
2 Agar mahasiswa mampu memahami cara pembuatan dari sediaan sabun cuci tangan dengan zat aktif ekstrak etanol daun mangga.
3 Agar mahasiswa mampu mengetahui cara evaluasi dari sediaan sabun cuci tangan dengan zat aktif ekstrak etanol daun mangga.
3.2 Manfaat Praktikum
1. Mahasiswa mampu cara formulasi dari sediaan sabun cuci tangan dengan zat aktif ekstrak etanol daun mangga.
2. Mahasiswa mampu memahami cara pembuatan dari sediaan sabun cuci tangan dengan zat aktif ekstrak etanol daun mangga.
3. Mahasiswa mampu mengetahui cara evaluasi dari sediaan sabun cuci tangan dengan zat aktif ekstrak etanol daun mangga.
4 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Dasar Teori
2.1.1 Pengertian Sabun
Sabun merupakan bahan pembersih kulit yang sering digunakan untuk keperluan sehari-hari. Sabun mandi cair lebih disukai dibandingkan dengan sabun padat karena sabun cair lebih praktis dan lebih higienis. Pembersihan dengan surfaktan yang keras seperti surfaktan anionik dapat menyebabkan iritasi dan kulit kering. Surfaktan mengikat kuat protein kulit menyebabkan kerusakan kulit dan iritasi (Mukherje et al., 2010).
Sabun adalah kosmetik dengan daya pembersih dan dibuat dengan mempersenyawakan lemak-lemak dan basa dalam jumlah yang berlebihan. Ini dilakukan dengan mencampurkan bahan dasar dan memanaskannya. Karena pada proses basa tersedia jumlah yang berlebihan maka dalam kebanyakan sabun masih terdapat sisa-sisa basa sehingga sabun banyak yang bersifat basa. Sabun termasuk golongan deterjen karena mempunyai sifat menurunkan tegangan permukaan suatu zat. Untuk itu, bila sabun dipakai membersihkan sesuatu harus dengan air melarutkannya, sambil membuat busa dan mengadakan emulsifikasi lemak/palit dan kotoran yang menempel pada kulit. Tetapi bila dengan air sadah sabun tidak dapat berbusa, bahkan ia akan membentuk garam-garam kapur dan magnesium yang tidak larut dalam air (Taylor & Francis, 2006).
Sabun diproduksi dan diklasifikasikan menjadi beberapa grade mutu.
Sabun dengan grade mutu Adiproduksi oleh bahan baku minyak atau lemak yang terbaik dan mengandung sedikit atau tidak mengandung alkali bebas. Sabun dengan grade B diperoleh dari bahan baku minyak atau lemak dengan kualitas yang lebihrendah dan mengandung sedikit alkali, namun kandungan alkali tersebut tidak menyebabkan iritasi pada kulit. Sedangkan sabun dengan kualitas C mengandung alkali bebas yang relatif tinggi berasal dari bahan baku lemak atau minyak yang berwarna gelap. (Kamikaze, 2002).
5 Suatu molekul sabun mengandung suatu rantai hidrokarbon panjang plus ion. Bagian hidrokarbon dari molekul itu bersifat hidrofobik dan larut dalam zat- zat non polar. Sedangkan ujung ion bersifat hidrofilik dan larut dalam air. Karena adanya rantai hidrokarbon, sebuah molekul sabun secara keseluruhan tidaklah benar-benar larut dalam air. Namun sabun mudah tersuspensi dalam air karena membentuk misel (micelles), yakni segerombol (50 - 150) molekul yang rantai hidrokarbonnya mengelompok dengan ujung- ujung ionnya yang menghadap ke air. (Ralph J. Fessenden, 1992).
2.1.2 Tujuan Sabun Cuci Tangan
Tujuan utama dari mencuci tangan, khususnya dengan cara yang efektif yaitu dengan menggunakan sabun dan air bersih. Karena faktanya, sekitar 50% pria dan 22% wanita tidak menggunakan sabun ketika mencuci tangan, dan bahkan kebanyakan dari mereka hanya mencuci telapak tangan ketika mencuci tangan.
Tujuan mencuci tangan menurut WHO adalah: melindungi diri dari berbagai macam infeksi dan penyakit berbahaya, mencegah penyebaran bakteri dan virus ke orang lain melalui tangan (WHO, 2020).
2.1.3 Manfaat Sabun Cuci Tangan
Manfaat cuci tangan pakai sabun adalah untuk menjaga tangan agar tetap bersih bukan hanya pertahanan yang efektif melawan penyebaran infeksi dan penyakit serius; mencuci tangan dengan sabun dan air bersih adalah hal yang sangat sederhana dan mudah dilakukan untuk dapat membuat perbedaan besar (WHO, 2020). Perilaku mencuci tangan yang kurang pada anak usia sekolah disebabkan oleh pengetahuan yang masih rendah. Berbagai upaya untuk mensosialisasikan pentingnya mencuci tangan telah dilakukan selama ini, namun hanya dengan metode ceramah sehingga bagi anak usia sekolah dirasa kurang menarik. Pada anak, diperlukan metode yang menarik dan tidak membosankan, salah satunya dengan metode menonton vidio (Magfirah et al., 2020).
2.1.4 Sifat Fisik dan Kimia Bahan Pembuat Sabun
Secara kimiawi, minyak dan lemak dapat mengalami hidrolisis dan oksidasi yang dapat menyebabkan kerusakan akibat adanya sejumlah air dan kontakdengan udara. Hal ini tentunya harus dihindari untuk menjaga kualitas
6 minyak atau lemak agar tetap baik (Dalimuthe, 2009).
Minyak dan lemak mengandung asam lemak dan trigliserida yang dapat digunakan dalam pembuatan sabun. Asam lemak merupakan asam lemah,yang di dalam air akan terdisosiasi sebagian. Sementara trigliserida merupakan komponen utamaminyakdanlemak yang terdiri dari kombinasi berbagai macam asam lemak yang terikat dengan gugus gliserol disebut asam lemak bebas.
(Zulfikar, 2010).
Asam lemak terdiri dari dua bagian, yaitu yaitu gugus hidroksil dan rantai hidrokarbon yang berikatan dengan gugus karboksil. Asam lemak juga merupakan komponen minyak/lemak yang digunakan untuk pembuatan sabun.
Umumnya asam lemak berfase cair atau padat pada suhu ruang (27°C) (Zulfikar, 2010). Semakin panjang rantai karbon penyusunnya, semakin mudah membeku danjuga semakin sukar larut. Asam lemak dapat bereaksi dengan senyawa lain membentuk persenyawaan lipida (Kamikaze, 2002).
Persenyawaan lipida tersebut sering dijumpai di dalam tubuh organisme yang memiliki fungsi khusus dalam penyusunan sel organisme, dimana lemak termasuk dalam golongan lipid netral begitu juga dengan minyak. Asam lemak dikelompokkan menjadi dua kelompok berdasarkan ikatan rangkapnya, yaituasam lemak jenuh (saturated) dan asam lemak tidak jenuh (unsaturated).
Asam lemak jenuh adalah asam lemak yang tidak memiliki ikatan rangkap, sedangkan asam lemak tidak jenuh memiliki satu ikatan rangkap atau lebih. Asam lemak tidak jenuh yang memiliki satu ikatan rangkap dinamakan Mono Unsaturated Fatty Acid (MUFA) dan asam lemak tidak jenuh yang memiliki dua atau lebih ikatan rangkap dinamakan Poly Unsaturated Fatty Acid (PUFA) (Kamikaze, 2002).
Setiap jenis asam lemak memberikan sifat yang berbeda dalam sabun yang terbentuk. Asam laurat dan palmitat dapat ditemukan pada minyak kelapa dan minyak kelapa sawit yang merupakan bahan baku yang biasa digunakan dalam pembuatan sabun. Asam oleat dan stearat yang ditemukan dominan pada minyak atau lemak hewani, dan memberikan sifat melembabkan (moisturizing).
Asam palmitat dan stearat memberikan sifat mengeraskan/ memadatkan sabun
7 dan menghasilkan busa yang stabil dan lembut (Kamikaze, 2002).
2.1.5 Syarat Mutu Sabun
1. Asam Lemak Bebas (ALB)
Asam lemak bebas adalah asam lemak yang berada dalam sabun yang tidak terikat sebagai senyawa natrium ataupun senyawa trigliserida (DSN, 1994 dalam Kamikaze). Tingginya asam lemak bebas pada sabun akan mengurangi daya membersihkan sabun tersebut, karena asam lemak bebas merupakan komponen yang tidak diinginkan dalam proses pembersihan. Pada saat sabun digunakan, sabun tersebut tidak langsung menarik kotoran (minyak), tetapi akan menarik komponen asam lemak bebas yang masih terdapat dalam sabun, sehingga mengurangi daya membersihkan sabun tersebut. Trigliserida apabila bereaksi dengan air maka menghasilkan gliserol dan asam lemak bebas (Fauziah, 2011). Acuan pengujian kadar ALB dilakukan sesuai dengan SNI 06- 3532-1994.
2. Alkali Bebas
Alkali bebas adalah alkali dalam sabun yang tidak terikat sebagai senyawa. Kelebihan alkali dalam sabun mandi tidak boleh melebihi 0,14% untuk sabun Kalium (Kamikaze, 2002). Hal ini disebabkan karena alkali memiliki sifat yang keras dan dapat menyebabkan iritasi pada kulit. Kelebihan alkali pada sabun dapat disebabkan karena konsentrasi alkali yang terlalu pekat atau penambahan alkali yang berlebihan pada proses penyabunan. Sabun dengan kadar alkali yang lebih besar biasanya digolongkan ke dalam sabun cuci (Kamikaze, 2002). Acuan pengujian kadar alkali bebas adalah SNI 06-3532-1994. Dasar pelaksanaannya adalah menghitung kelebihan basa/alkali yang berada dalam sabun sebagai alkali bebas. Alkali bebas bereaksi dengan HCL dengan indicator pp.
Reaksi: KOH+HCL KCL+ H2O 3. Kadar Air
Air adalah bahan yang menguap pada pemanasan dengan suhu dan tekanan tertentu. Kadar air pada sabun batang memiliki nilai maksimal 15%
(Kamikaze, 2002). Hal ini menyebabkan sabun yang dihasilkan cukup keras sehingga lebih efisien dalam pemakaian karena sabun tidak mudah larut dalam air. Dalam penyimpanan, air dengan kadar tersebut akan menunjukkan daya
8 simpan lebih baik. Kadar air sabun akan sangat mempengaruhikekerasan sabun batang yang dihasilkan (BSN, 1998), penentuan kadar air pada produk sabun padat yang dihasilkan menggunakan cara oven terbuka. (Hopper, 1951 dalam Ketaren 1986).
4. Derajat Keasaman (pH)
Berdasarkan SNI 06–3532–1994, pH sabun mandi tidak ditetapkan standardnya. Walaupun demikian, tingkat keasaman (pH) sabun sangat berpengaruh terhadap kulit pemakainya. Umumnya, sabun yang dipasarkan di masyarakat mempunyai nilai pH 9 hingga 10,8. Sabun yang memiliki pH tinggi dapat meningkatkan pertumbuhan bakteri Propionibacterium dan membuat kering kulit. Hal ini terjadi karena sabun dengan pH tinggi dapat membengkakkan keratin sehingga memudahkan masuknya bakteri yang menyebabkan kulit menjadi kering dan pecah-pecah, sedangkan sabun dengan pH terlalu rendah dapat menyebabkan iritasi pada kulit (Almazini, 2009).
2.1.6 Sifat-Sifat Sabun
Sifat-sifat sabun dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Sabun adalah garam alkali dari asam lemak suhu tinggi sehingga akan dihidrolisis parsial oleh air. Karena itu larutan sabun dalam air bersifat basa. CH3(CH2)16COONa+ H2O→CH3(CH2)16COOH + OH
2. Jika larutan sabun dalam airdi aduk, maka akan menghasilkan buih, peristiwa ini tidak akan terjadi pada air sadah. Dalam hal ini sabun dapat menghasilkan buih setelah garam-garam Mg atau Ca dalam air mengendap.
CH3(CH2)16COONa+CaSO4→Na2SO4+Ca(CH3(CH2)16COO)2.
3. Sabun mempunyai sifat membersihkan. Sifat ini disebabkan proses kimia koloid, sabun (garam natrium dari asam lemak) digunakan untuk mencuci kotoran yang bersifat polar maupun nonpolar karena sabun mempunyai gugus polar dan nonpolar. Molekul sabun mempunyai rantai hidrogen CH3(CH2)16 yang bersifat hidrofobik (tidak suka air) sedangkan COONa+ bersifat hidrofobik (suka air) dan larut dalam air.
Nonpolar : CH3(CH2)16 (larut dalam minyak, hidrofobik dan juga memisahkan kotoran nonpolar)
9 Polar : COONa+ (larut dalam air, hidrofobik dan juga memisahkan kotoran polar)
2.1.7 Pengertian cuci tangan
Menurut WHO (2009) cuci tangan adalah suatu prosedur/tindakan membersihkan tangan dengan menggunakan sabun dan air yang mengalir atau Hand rub dengan antiseptik (berbasis alkohol). Sedangkan menurut James (2008), mencuci tangan merupakan teknik dasar yang paling penting dalam pencegahan dan pengontrolan infeksi. Tangan tenaga pemberi layanan kesehatan seperti perawat merupakan sarana yang paling lazim dalam penularan infeksi nosokomial, untuk itu salah satu tujuan primer cuci tangan adalah mencegah terjadinya infeksi nosokomial (Pruss, 2005) serta mengurangi transmisi mikroorganisme (Suratun, 2008).
2.1.8 Indikasi cuci tangan
Indikasi cuci tangan atau lebih dikenal dengan five moments (lima Waktu) cuci tangan menurut SPO gizi adalah:
a) Sebelum masuk ke dalam area produksi dan distribusi b) Setelah memegang bahan mentah/ kotor
c) Setelah memegang anggota tubuh
d) Sebelum dan setelah memporsikan makanan di plato/ alat saji pasien e) Setelah keluar dari kamar mandi/ toilet
2.1.9 Langkah mencuci tangan
Kebersihan tangan di bagi menjadi 2 (dua), yaitu mencuci tangan dengan air mengalir dan sabun (Hand-wash) dan mencuci tangan dengan antiseptik berbasis alkohol (Hand-rub).
Langkah-langkah cuci tangan Hand-wash yaitu:
a. membasuh tangan dengan air, lalu tuangkan sabun anti septik di telapak tangan secukupnya,
b. meratakan dengan kedua telapak tangan,
c. menggosok punggung dan sela-sela jari tangan kiri dengan tangan kanan dan sebaliknya,
d. menggosok kedua telapak dan sela-sela jari tangan kanan dan tangan kiri
10 bergantian,
e. jari-jari sisi dalam dari kedua tangan saling mengunci,
f. menggosok ibu jari kiri dengan cara berputar dalam genggaman tangan kanan dan lakukan sebaliknya,
g. menggosok dengan memutar jung jari-jari tangan kanan di telapak tangan kiri dan sebaliknya searah jarum jam,
h. membilas kedua tangan dengan air mengalir,
i. mengeringkan dengan handuk sekali pakai/ kertas tissue,
j. menutup kran dengan menggunakan handuk sekali paki/ kertas tissue tersebut,
k. semua prosedur dilakukan selama 40-60 detik, 1) indikasi cuci tangan dilakukan pada tangan yang tampak kotor, setelah menggunakan sarung tangan, setelah kontak dengan cairan tubuh pasien, serta setelah 5 X Hand-rub (SPO RSUP Dr. Kariadi, 2012).
Langkah-langkah cuci tangan Hand-rub yaitu:
a. menuangkan larutan anti septik berbasis alkohol ke telapak tangan secukupnya,
b. meratakan di kedua telapak tangan,
c. menggosok punggung dan sela-sela jari tangan kiri dengan tangan kanan dan sebaliknya,
d. menggosok kedua telapak dan sela-sela jari tangan kanan dan tangan kiri bergantian,
e. jari-jari sisi dalam dari kedua tangan saling mengunci,
f. menggosok ibu jari kiri dengan cara berputar dalam genggaman tangan kanan dan lakukan sebaliknya,
g. menggosok dengan memutar ujung jari-jari tangan kanan di telapak tangan kiri dan sebaliknya searah jarum jam,
h. biarkan sampai kering, i) semua prosedur dilakukan selama 20-30 detik (SPO RSUP Dr. Kariadi, 2012).
2.1.10 Bakteri pada tangan
Kuman adalah suatu makhluk hidup yang terdiri dari satu sel dandapat
11 memperbanyak diri dengan cepat, terutama bila terdapat pada tempat suasana yang baik di dalam media dimana makanan untuk kuman tersedia (Hapsari, 2015).
Jumlah normal bakteri pada tangan yaitu sebesar 847 CFU/cm2 pada telapak tangan dan 223 CFU/cm2 pada jari- jari tangan (Costello et al, 2009). Bakteri memiliki bentuk bermacam-macam bentuk morfologi yaitu bulat (Coccus), batang (Basil) dan spiral. Bakteri pada umumnya mempunyai ukuran sel 0,5-1,0 μm kali 2,0-5,0 μm (Fifendy dan Biomed, 2017). Mikroba yang terdapat pada tangan biasanya berupa bakteri kapang, khamir dan virus. Jenis kuman dalam jumlah besar yang terdapat ditangan adalah Helobacter pylori yang dapat menyebabkan maag.
Escherichia coli yang dapat menyebabkan diare, Salmonella sp yang dapat menyebabkan tipus dan diare (Khaeri, 2009). Bakteri yang lain seperti Staphylococcus aureus, Staphylococcus haemoliticus, Clostridium welchii, Pseudomonas spp, Staphylococcus aeruginosa, bakteri Coliform, Pseudomonas spp, Staphylococcus epidermis, Proteus spp, Klebsiella spp dan Entamoeba coli (Rachmawati dan Triyana, 2008).
Bakteri Staphylococcus aureus memiliki potensi untuk menyebabkan penyakit saluran pernafasan, saluran pencernaan dan infeksi melalui kulit. Bahan makanan yang kontak tangan langsung tanpa proses mencuci tangan, sangat berpotensi terkontaminasi Staphylococcus aureus (Hapsari, 2015).
Bakteri Eshericia coli dapat menyebabkan berbagai penyakit dan infeksi terhadap saluran pencernaan pada manusia, diantaranya enterotoknigenik, enterohaemorrhagik, enteropatogenik, enteroinuasiue dan enteroagregatif. Bakteri memiliki spectrum yang sangat luas. Makan di saat kondisi tangan kotor juga dapat memicu hadirnya infeksi bakteri. Bakteri Shigella dapat menyebabkan infeksi berbagai saluran pencernaan. Shigella biasa berada pada air yang terkontaminasi bahkan yang terlihat jernih sekalipun. Untuk membunuh koloni bakteri ini, diperlukan lagi bantuan sabun antiseptic pada proses mencuci tangan (Rachmawati dan Triyana, 2008).
12 2.2 Uraian tanaman
2.2.1 Tanaman mangga (Mangifera Indica L)
1. Klasifikasi tanaman mangga (Mangifera Indica L)
Adapun klasifikasi tanaman mangga (Mangifera Indica L) menurut Maghfoer dkk (2019) adalah sebagai berikut
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnollophyta Class : Dicotyledonae Ordo : Sapindales Famili : Anarcadiaceae Genus : Mangifera
Spesies : Mangifera Indica L
2. Morfologi dan Karakteristik Tanaman mangga
Manga merupakan pohon yang bisa tumbuh mencapai 20 meter atau bahkan lebih. Umumnya manga yang dibudidayakan hanya memiliki tinggi sekitar 10 m atau kurang. Kulit batang manga coklat kelabu sampai kehitaman Kulit batang manga bagian terluar memecah atau beralur. Pohon mangga bertajuk rimbun dan lebarnya bisa mencapai 10 m (Pracaya, 2004).
Daun mangga tergolong daun tunggal karena pada tangkai daunnya hanya terdapat satu helaian daun saja. Daun manga berbentuk lanceolatus (lanset), daging daunnya papyraceus (seperti kertas), tepi daunnya integer (rata). ujung daun acuminatus (meruncing), pangkal daun acutus (runcing), pertulangan daun penninervis (menyirip), permukaan daun scaber (kasap), dan duduk daun folio sparsa (tersebar) (TJitrosoepomo, 1985).
Mangga arumanis memiliki bentuk morfologi yang membedakan dari jenis varietas mangga yang lainnya baik dari segi ukuran batang, bentuk daun, bunga, serta buah. Mangga arum manis ini memiliki bentuk batang dengan percabangan banyak. Diameter batang berkisar antara 150- 210 cm dengan rata-rata tinggi tanaman kurang lebih 10m. Bentuk batang bulat serta berwarna kecoklatan (Ichsan
& Wijaya, 2014).
Daun mangga ini memiliki struktur daun sangat lebat yang berbentuk
Gambar 2.2
C Mangga (Mangifera Indica L)
13 lonjong, memanjang dengan ujung yang meruncing. Panjang daunnya sekitar 22- 24cm. Daun muda berwarna hijau muda agak kemerahan, sedangkan daun tua berwana hijau tua. Daun mangga ini memiliki permukaan daun yang berombak serta memiliki tangkai daun berkisar antara 4,5cm (Ichsan & Wijaya, 2014). Bunga dari daun mangga ini yakni majemuk dan panjangnya kurang lebih 43cm sampai 45cm. Bentuk bunga seperti piramida lancip dengan warna kuning 11 muda agak kemerahan. Tangkai bunga berwarna hijau kemerahan (Ichsan &Wijaya, 2014).
Bunga mangga ini mekar sempurna pada pukul 03.00-07.00 atau pada pukul 12.00 (Oktovianto, et al 2015). Bagian yang paling menarik yakni buah dari tanaman mangga arumanis ini. Buah berwarna mencolok daripada varietas buah yang 9 lainnya. Bentuk buah mangga ini jorong dengan kulit buah berwarna merah jingga ada pula yang berwarna hijau kemerahan. Ukuran buah tidak terlalu besar layaknya buah mangga pada umumnya (sekitar 200-250 gram per buah), rasa buah manis, aroma buah harum dan tajam serta banyak mengandung air (Ichsan &
Wijaya, 2014).
Buah mangga ini memiliki biji yang hampir sama bentuknya dengan buah mangga varian lainnya. Bentuk biji (pelok) pada buah mangga arum manis ini berukuran kecil, lonjong dan pipih (Ichsan & Wijaya, 2014).
3. Kandungan Buah mangga
Kandungan manfaat Tanaman mangga termasuk dalam tanaman obat karena banyak mengandung manfaat. Bagian tanaman mangga banyak 11 mengandung manfaat baik pada bagian akar, kulit, daun, bunga, buah maupun biji.
Bagian akar dan kulit daun mangga dapat dimanfaatkan antara lain sebagai zat anti inflamasi, anti sembelit, sebagai obat sembelit, serta dapat dimanfaatkan sebagai obat luka. Bagian bunga daun mangga dapat dimanfaatkan sebagai antisembelit, mengobati bisul, luka, diare, disentri kronis serta anemia (Parvez, 2016 dalam Elvina, 2018).
14 BAB III
PENDEKATAN FORMULA 3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Praktikum Tehnologi Sediaan Kosmetik percobaan “Sabun Cuci Tangan”
dilaksanakan pada hari rabu, 25 Oktober 2023 pukul 10.00-13.00 WITA, bertempat di Laboratorium Tehnologi Farmasi, Jurusan Farmasi, Fakultas Olahraga Dan Kesehatan, Universitas Negeri Gorontalo.
3.2 Alat Dan Bahan 3.2.1 Alat
Adapun alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu, Aluminium foil, batang pengaduk, corong, gelas kimia, gelas ukur, lumpang dan alu, neraca analitik, spatula, penjepit, penangas air, ph meter, sudip, viskometer.
3.2.2 Bahan
Adapun bahan yang digunakan pada praktikum ini yaitu, alkohol 70%, aquadest, KOH, SLS, metil paraben, Na-cmc, kertas perkamen, kertas saring, ekstrak daun mangga, tutty fruity.
3.3 Studi Preformulasi Zat Aktif
3.1.3 Studi preformulasi Ekstrak Daun Mangga (Sweetman, 2009) Nama resmi : Alkaloid
Nama lain : Nitrogen dan hidrogen Berat molekul : 194,199 g/mol
Rumus molekul : N3HNO2
Kegunaan : Zat aktif sabun cuci tangan
Stabilitas : Akan mengalami dikomposisi pada panas dengan adanya oksigen
pH : Bersifat basa
Kelarutan : Bentuk garam larut dalam air dan larut dalam pelarut organik dalam bentuk bebas atau basanya
Inkompatibilitas : Alkaloid (garamnya) mengendap bila ada potasium Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat terhidari dari cahaya
15 Efek farmakologi : Alkaloid memiliki kemampuan sebagai antibakteri dengan mekanisme penghambatan dengan cara mengganggu komponen peptidolikan pada sel bakteri, alkaloid merupakan salah satu senyawa metabolit sekunder yang mampu dalam menghambat kenerja beberapa mikroorganisme.
3.4 Studi Preformulasi Bahan Tambahan 3.4.1 Aquadest (DepKes RI, 2012)
Nama lain : Air suling, air murni, air steril.
Rumus molekul : H2O
Berat molekul : 18,02 g/mol Rumus struktur :
Kelarutan : Larut dalam semua pelarut polar.
Stabilitas : Bahan kimia yang stabil
Inkompatibiltas : Obat yang terhidrolisis dengan garam alkali, garam anhidrous
Konsentrasi : Ad 100%
pH : 7,00
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup tertutup baik
Alasan penambahan : 1. Aquadest merupakan pelarut yang tidak memiliki inkom dengan bahan lain dan dapat larut dengan semua jenis bahan (Dirjen POM, 2014).
2. Aquadest memiliki sterilisasi yang stabil pada semua keadaan fisik (Galichet, 2005).
3. Aquadest mampu melarutkan dan kemudian menetralkan bahan kimia yang bersifat racun didalam sediaan tertentu (Dirjen POM, 1979).
16 4. Aquadest bebas dari zat-zat pengotor sehingga
bersifat murni (Fettuci, 2008).
5. Sangat baik karena dapat larut dengan semua bahan dan tidak inkom dengan bahan lain (Dirjen POM, 1979).
3.4.2 Tutti Fruity (Frietas dan Nakapma, 2014)
Nama lain : 2.5-dimetyl-4-hydroxy-3(2H)-furanone 4-HDMF Rumus molekul : C6H8O3
Berat molekul : 176,13 g/mol Rumus struktur :
Kelarutan : Mudah larut dalam air
Stabilitas : dalam suatu keadaan memiliki efek asam Inkompatibiltas : Hindari zat pengoksidasi kuat
Konsentrasi : 1%
pH : 2,2
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup tertutup baik
Alasan penambahan : 1. Digunakan sebagai pengaroma, tidak bereaksi dengan komponen lain dan warnanya stabil (Ansel, 1989).
2. Tutty fruity dapat digunakan sebagai bahan tambahan aroma (Cahyadi, 2008)
3. Dapat dijadikan untuk menutupi rasa dan untuk pengaroma konsentrasi yang biasanya dilakukan adalah 1% (Parrot, 1971)
4. Biasanya digunakan dalam farmasi guna menutupi bau yang kurang sedap dan zat-zat yang digunakan dalam formulasi (Parrot, 1971)
17 5. Tutty fruity memiliki kelarutan yang larut dalam air sehingga pada sediaan dibuat cocok digunakan pada sediaan apalagi praktis dalam pemberiannya (Nakarima, 2014).
3.4.3 HPMC (Rowe et al, 2009)
Nama lain : Bennecel MHPC; methyl hydroxypropylcellulose Rumus molekul : C56H108O30
Berat molekul : 324,2848 g/mol Rumus struktur :
Kelarutan : Praktis tidak dalam air panas, kloroform, etanol (95%), dan eter granular
Stabilitas : Serbuk yang stabil, meskipun bersifat higroskopis setelah pengeringan, larutan HPMC stabil pada pH 3-11
Inkompatibiltas : Tidak kompatibel dengan beberapa agen pengoksidasi karena merupakan nonionic, hypromellose tidak kompleks dengan garam logam atau ion organik untuk membentuk endapan tak larut
Konsentrasi : 2-10%
pH : 5,00-8,00
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup tertutup rapat
Alasan penambahan : 1. Semakin besar kadar HPMC maka akan meningkat viskositas sediaan dan semakin besar pula ketahananya (Sinko, 2011).
2. Gelling agent yang dapat digunakan adalah gliserin karena dapat memberikan stabilitas
18 kekentalan yang baik di suhu ruang, walaupun di simpan lama, HPMC merupakan bahan yang tidak beracun dan non iritatif (Rowe dkk, 2009)
3. HPMC umumnya tidak toksik dan tidak menyebabkan iritasi (Rowe, 2009)
4. HPMC digunakan sebagai agen pengemulsi, agen pensuspensi, dan sebagai agen penstabil serta gelling agent pada sediaan topical (Yogesthiraga, 2016)
5. HPMC berpengaruh sebagai daya sebar sediaan (Sukmawati, 2013)
3.4.4 Nipagin (Depkes RI, 1995)
Nama lain : Metil paraben, nipagin, methyl-4- hydroxybenzoate
Rumus molekul : C8H8O3
Berat molekul : 152,15 g/mol
Rumus struktur :
Kelarutan : Larut dalam 500 bagian air, dalam 20 bagian air didih, dalam 3,5 bagian etanol 95% P; mudah larut dalam eter P; etanol dan dalam eter
Stabilitas : Stabil dalam wadah tertutup baik, kering dan sejuk Inkompatibiltas : Aktivitas akan berkurang dengan adanya surfaktan non ionic seperti polisorbat 80 sebagai akibat dari aktivitas misel, adanya propilen glikol 10% dapat mencegah interaksi tersebut
19 Konsentrasi : 0,02-0,3%
pH : 3,00-6,00
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup tertutup baik kering dan sejuk
Alasan penambahan : 1. Nipagin banyak digunakan sebagai pengawet anti mikroba pada sediaan kosmetik, produk makanan dan sediaan farmasi (Rowe, 2009) 2. Nipagin efektif pada pH yang luas dan
memiliki spectrum luas dari aktivitas mikroba, meskipun ereka paling efektif terhadap ragi dan jamur (Rowe, 2009)
3. Nipagin digunakan karena memiliki bentuk aktivitas antimikroba berspektrum luas, tidak berwarna, stabil, dan murah (Cashman, 2006) 4. Nipagin sering digunakan sebagai pengawet karena keamannya serta aktivitasnya terhadap mikroba pada batas kadar yang telah di tentukan (Nofita dan Ulfa, 2017)
5. Nipagin merupakan pengawet yang banyak digunakan sebagai antimikroba di dalam produk kosmetik (Rahmawaty dkk, 2015).
3.4.5 Gliserin (Rowe et al, 2009)
Nama lain : glycerol, glycerin, eroderol Rumus molekul : C3H8O3
Berat molekul : 92,09 g/mol Rumus struktur :
20 Kelarutan : Praktis tidak larut dengan benzene, kloroform, dan minyak, larut dengan etanol 95%, methanol dan air
Stabilitas : Pada suhu 200C, gliserin sebanikanya ditempat yang kering dan sejuk
Inkompatibiltas : gliserin dapat meledak jika dicampurkan dengan oksidator yang kuat seperti kromium trioksida, potassium klorat, atau potassium permanganate.
Warna hitam pada gliserin terjadi karena paparan cahaya, atau kontak dengan seng oksida atau dasar bismuth nitrat
Konsentrasi : 30%
pH : 6,00-7,00
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup tertutup rapat
Alasan penambahan : 1. Gliserin berfungsi sebagai humektan dapat meningkatkan kelembapan kulit (Rowe et al, 2009).
2. Beryamin (1998) menjelaskan, gliserin banyak ditemukan pada sediaan kosmetik karena merupakan humektan yang berfungsi menghidrasi kulit.
3. Penambahan gliserin bertujuan untuk
humektan pelembab kulit (Ahmad maulana dkk, 2014).
4. Sifat gliserin yang higroskopis dapat menarik air sehingga kestabilan akan terjaga dengan cara mengabsorbsi kelembapan (Barel dkk, 2009).
5. humektan juga dapat mempertahankan
kelembapan kulit sehingga tidak kering (Ardana dkk, 2015).
21 3.4.6 Sodium Lauryl Sulfate
Nama lain : Sodium lauryl sulfate, Natrium lauryl sulfate, Sodium monolauril sulfate
Rumus molekul : C11H25NaO45
Berat molekul : 288,38 g/mol Rumus struktur :
Kelarutan : Larut dengan air, praktis tidak larut dalam kloroform dan eter
Stabilitas : Stabil terhadap penyimpanan normal, pH dibawah 2,5 menyebabkan natrium lauryl sulfate terhidrolisis, jauhkan dari zat pengoksidasi Inkompatibiltas : Beraksi dengan surfaktan kationik, emulsifying
agent, skin penetrasi, wetting agent Konsentrasi : 0,5-2,5%
pH : 6-9
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya
Alasan penambahan : 1. Sodium lauryl sulfat merupakan surfaktan jenis anionic yang memiliki daya pembersi (Ichsan, 2016).
2. Sirfaktan yang larut dalam air, berkinerja baik dan kuat, membersihkan kotoran dan minyak, menghasilkan sediaan warna yang baik (Paye, 2006).
3. Dapat mencegah koalensi atau pecahnya sediaan karena adanya penggabungan partikel-partikel kecil (Spiess, 1996).
22 4. Memiliki keunggulan dalam membersihkan, kestabilan kimia dan harganya yang ekonomis, dan dapat mampu membantu menurunkan tegangan permukaan (Faizal, 2017).
5. Mampu menurunkan tegangan dan memiliki daya bersih yang baik digunakan pada sediaan sabun (Ichsani, 2016).
3.4.7 KOH (Rowe et al, 2009)
Nama Resmi : KALI HYDROEHLORIDUM
Nama lain : Kalium Hidroksida Rumus molekul : KOH
Berat molekul : 56,1056 g/mol Rumus struktur :
Kelarutan : Kurang lebih dalam 630 air bagian air, dan 1300 bagian air mendidih praktis tidak larut dalam etanol 95%
Stabilitas : Simpan dalam wadah plastik
Inkompatibiltas : Inkom dengan agen pengoksidasi kuat, kualitas basa kuat
Konsentrasi : 25-30%
pH : 11
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat terhindar dari cahaya Alasan penambahan : 1. Karena koh dapat membantu proses saponifikasi dan mempengaruhi karateristik mutu sabun diantaranya kadar asam lemak bebas dan alkali bebas. (Naomi dkk, 2013)
23 2. KOH digunakan dalam reaki saponifikasi
sabun (Kurnia dan hakim, 2015)
3. Konsentrasi KOH berpengaruh terhadap
karateristik sabun cair yang dihasilkan (Anggraini, 2012)
4. Karena makin tinggi konsentrasi dari koh maka semakin besar juga viskositas sabun cair yang dihasilkan (Paramita, 2014)
5. KOH akan mengikat fase minyak sehingga akan membentuk misel, jika jumlah koh makin banyak maka fase minyak yang diikuti juga makin banyak
24 BAB IV
FORMULASI DAN PERHITUNGAN 4.1 Formulasi
4.1.1 Formula Utama
Dibuat sediaan sabun cuci tangan yang mengandung
R/ Ekstrak Etanol Kemangi 8 % (Zat Aktif)
KOH 25% (Pembentuk sabun)
Gliserin 10% (Humektan)
HPMC 1% (Gelling Agent)
Sodium lauryl sulfat 1% (Surfaktan)
Nipagin 0,3 % (Pengawet)
Tutty fruity 1% (Pengaroma)
Aquadest Ad 250% (Pelarut)
4.1.2 Forumula Alternatif
Dibuat sediaan sabun cuci tangan yang mengandung
R/ Ekstrak Etanol Kemangi 8 % (Zat Aktif)
KOH 25% (Pembentuk sabun)
Minyak zaitun 15% (Humektan)
Na-CMC 1% (Gelling Agent)
Sodium lauryl sulfat 1% (Surfaktan)
Asam stearate 1% (Penstabil busa)
Nipagin 0,3 % (Pengawet)
Tutty fruity 1% (Pengaroma)
Aquadest Ad 250% (Pelarut)
4.2 Perhitungan Bahan 4.2.1 Perhitungan Bahan Utama
1) Ekstrak daun mangga 8% = 8
100 x 250 mL
= 20 mL
2) Gliserin 10% = 10
100 x 250 mL
25
= 25
3) KOH 25% = 25
100 x 250 mL
= 62,5 gr
4) HPMC 1% = 1
100 x 250 mL
= 2,5 gr 5) Sodium lauryl sulfat 1% = 1
100 x 250 mL
= 2,5 mL
6) Tutty Fruity 1% = 1
100 x 250 mL
= 2,5 mL
7) Nipagin 0,3% = 0,3
100 x 250 mL
= 0,3 mL Aquadest Ad 250% = 100 – (115,3)
= 134,7 mL 4.2.1 Perhitungan Bahan Utama
1) Ekstrak daun mangga 8% = 8
100 x 250 mL
= 20 mL 2) Minyak zaitun 15% = 15
100 x 250 mL
= 37,5 mL
3) KOH 25% = 25
100 x 250 mL
= 62,5 gr
4) Na-CMC 1% = 1
100 x 250 mL
= 2,5 gr 5) Sodium lauryl sulfat 1% = 1
100 x 250 mL
26
= 2,5 mL
6) Asam stearate 1% = 1
100 x 250 mL
= 2,5 mL
7) Tutty Fruity 1% = 1
100 x 250 mL
= 2,5 mL
8) Nipagin 0,3% = 0,3
100 x 250 mL
= 0,75 mL Aquadest Ad 250% = 100 – (130,75)
= 119,25 mL
27 BAB V
CARA KERJA DAN EVALUASI 5.1 Cara Kerja
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Dibersihkan alat menggunakan alkohol 70%
3. Ditimbang semua bahan sesuai perhitungan
4. Dikembangkan HPMC dengan menggunakan air panas
5. Ditambahkan gliseerin ke dalam sedikit demi sedikit dan campur hingga homogen
6. Ditambahkan nipagin dan nipasol aduk hingga homogen
7. Ditambahkan ekstrak etanol daun mangga sedikit demi sedikit dan aduk hingga homogen
8. Ditambahkan SLS dan aduk hingga homogen 9. Dilakukan uji evaluasi
10. Dimasukkan kedalam wadah dan kemasan 5.2 Evaluasi
Uji Prinsip Syarat Hasil Gambar
Uji organoleptik
Uji ini dilakukan
proses pengindera
dimana menggunakan parameter bau, warna, tekstur, dan bentuk dari
sediaan (Wulandari et
al, 2016)
Sediaan diamati meliputi bau,
warna, dan bentuk dari sediaan (Muthmainnah
dkk, 29019)
Warna : kuning Tekstur : cair
Bau : buah
28 Uji pH Uji pH
dilakukan untuk menentukan
tingkat keasaman sebuah sampel
dengan menggunakan
pH meter (Yunitawati, et
al., 2011)
Syarat ph sabun cair yaitu
8-11 (Kosinda, 2016)
8
Uji stabilitas busa
Dilakukan dengan 1gr sediaan dan 10mL aquadest
dalam tabung reaksi lalu dikocok dan dihitung tinggi
busanya (SNI,2017)
Syarat tinggi busa adalah 4-7
cm (SNI,2017)
4,5 cm
Uji homogenitas
Dengan meletakkan sediaan diatas
kaca dan melihat ada atau tidaknnya butiran/partikel- partikel kecil yang tidak larut
Tidak adanya partikel atau butiran kasar yang tidak larut
(Rasyid et al, 2019)
Tidak homogen
29 (rasyid, et al.,
2019) Uji
Viskositas
Pengujian dilakukan untuk
melihat nilai kekentalan
suatu zat dengan menggunakan
viscometer (Ardana, et al.,
2015)
Standar umum sabin cair yaitu 500-1996 cps
(SNI, 2017)
768 cps
Uji daya sebar
Dilakukan dengan meletakkan sediaan diatas kaca objek dan ditimpa dengan kaca objek lain lalu diukur daya
sebar (Sayuti, 2015)
Syarat uji daya sebar 3-5 cm (Sayuti, 2015)
Tinggi = 4cm Lebar = 5 Cm
30 BAB VI
HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1 Hasil
6.1.1 Hasil Sediaan
Gambar 6.1
Sediaan Sabun Cuci Tangan
6.2 Pembahasan
Sabun cair pembersih tangan merupakan pembersih yang dibuat dari bahan aktif detergen sintetik dibuat dari proses saponifikasi dengan atau tanpa penambahan zat lain serta tidak menimbulkan iritasi pada kulit tangan (BSN, 2017).
Mekanisme cuci tangan adalah aktifitas membersihkan tangan dengan cara menggosok dan menggunakan sabun serta membilasnya pada air yang mengalir.
Mencuci tangan adalah proses menggosok kedua permukaan tangan dengan kuat secara bersamaan menggunakan zat yang sesuai dan dibilas dengan air dengan tujuan menghilangkan mikroorganisme sebanyak mungkin juga mengungkapkan bahwa cuci tangan (juga dianggap hygiene tangan) adalah satu satunya prosedur terpenting dalam pengendalian infeksi nosokomial (Potter, 2015).
Pada praktikum kali ini kami melakukan percobaan membuat sediaan
“Sabun cuci tangan” dengan menggunakan zat aktif daun manga, alasan kami menggunakan daun mangga sebagai zat aktif yaitu karena ekstrak daun mangga mengandung senyawa flavonoid, alkaloid, steroid, polifenol, tannin, dan saponin yang dapat menghambat bakteri (Setyowati, 2022). Selain itu ekstrak etanol daun mangga memiliki aktivitas antimikroba menghambat bakteri gram positif seperti staphylococcus aureus yang biasanya terdapat pada lantai (Islam et al, 2010).
31 Langkah pertama yang kami lakukan pada saat praktikum yaitu menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan, lalu membersihkan alat yang akan kami gunakan menggunakan alcohol 70%. Kami menggunakan alkohol 70%, karena dapat berfungsi sebagai antiseptic yang dapat membunuh bakteri dan virus serta mematikan mikroorganisme yang ada menempel pada alat sehingga alat menjadi steril (Rosmala Dewi, 2010). Persentase alcohol sebagai antiseptik yaitu 60-95%
dimana persentase alkohol yang kurang dari 60% dinilai kurang efektif untuk membunuh bakteri atau virus di tangan sedangkan alcohol 95% tidak efektif membunuh kuman karena terlalu cepat menguap dan dapat merusa (Sianipar dkk, 2021) lalu ditimbang semua bahan yang akan kami gunakan sesuai perhitungan bahan.
Langkah pertama adalah mengembangkan Na-CMC. Alasan kami menggunakan Na-CMC yaitu karena menurut Huichao el at, (2014), Hpmc dapat digunakan sebagai gelling agent yang baik karena dapat memberikan stabilitas kekentalan yang baik disuhu ruang, walaupun disimpan lama dan karena Na-cmc merupakan bahan yang tidak beracun CMC-Na dikembangkan dengan menggunakan air panas sering dijadikan pilihan utama untuk formulasi karena dapat meningkatkan viskositas. CMC dapat digunakan sebagai gelling agent dalam sediaan gel karena CMC-Na memiliki stabilitas yang baik pada suasana asam maupun basa.
Langkah selanjutnya yaitu gliserin sedikit demi sedikit dan aduk homogen.
Alasan kami menggunakan gliserin yaitu karena menurut Nurlina et al (2013), gliserin berfungsi sebagai bahan pelembut (humektan) dalam sediaan sabun cair, selain itu sifat gliserin yang higroskopis dapat menarik air sehingga kestabilan akan terjaga dengan cara mengabsorbsi kelembapan (Barel dkk, 2009).
Langkah selanjutnya yaitu ditambahkan KOH sedikit demi sedikit dan aduk hingga homogen. Alasan kami menggunakan KOH yaitu karena menurut Rasel (2009), Koh membantu proses saponifikasi dan mempengaruhi karakeristik diantaranya kadar asam lemak dan KOH akan mengikat fase minyak sehingga akan membentuk misel, jika jumlah koh makin banyak maka fase minyak yang diikuti juga makin banyak.
32 Langkah Selanjutnya ditambahkan nipasol diaduk hingga homogen. Alasan kami menggunakan nipagin nipasol yaitu karena menurut Rowe et al (2009), nipasol merupakan sebagai pengawet antimikroba dan efektif pada keasaman ph dan nipasol digunakan karena memiliki bentuk aktivitas antimikroba berspektrum luas, tidak berwarna, stabil, dan murah (Cashman, 2006).
Langkah selanjutnya yaitu ditambahkan SLS dan diaduk hingga homogen.
Alasan kami menggunakan SLS yaitu karena menurut Plumb (2009), SLS memiliki aktivitas antibakteri, dan merupakan surfaktan jenis anionik yang dapat digunakan sebagai bahan pembasah dan juga pembersih kulit yang baik untuk penggunaan topikal.
Kemudian ditambahkan ekstrak etanol daun mangga. Lalu dilakukan uji evaluasi pada sediaan yaitu uji organolpetik, uji homogenitas, uji ph, uji stabilitas busa, uji viskositas, uji hedonik
Uji Organoleptik menurut Reveny et al, (2016) untuk mengetahui sifat fisik sediaan secara visual dengan melihat wujud dari warna, bau, tekstur sediaan sabun lantai yang telah dibuat. Hasil yang di dapatkan yaitu warna kuning, aroma buah, dan bentuk atau tekstur yang cair. Uji organoleptic sesuai standar SNI yang ditetapkan yaitu bentuk cair, dan memiliki bau dan warna yang khas.
Uji homogenitas menurut Mukhriani (2014) dilakukan dengan cara meletakan sediaan diantara eluen kaca objek dan amati ada atau tidak ada partikel kasar. Hasil yang di dapat dari uji ini adalah terdapatnya partikel-partikel dalam sediaan. Sedangkan pada penelitian Dinanti (2020) sediaan asbun cuci tangan ekstrak etanol daun mangga didapatkan homogen dimana sesuai standar SNI yaitu tidak terdapat partikel/butiran yang tidak larut.
Uji viskositas menurut verawaty (2020) yaitu dengan menggunakan viscometer brookfield dimana sediaan diletakkan dan menggunakan spindle yang sesuai. Pada sediaan sabun cuci tangan hasil yang didapatkan yaitu sebesar 788 cps dimana sediaan sabun cuci tangan harus memiliki viskositas 3000-50.000 cps/ 500- 2000 cps dan uji viskositas juga untuk kekentalan (Kasenda et al, 2016).
Uji pH menurut Verawaty (2020) sediaan dilakukkan dengan ph meter dimana pH meter dicelupkan terlebih dahulu kedalam larutan buffer lalu dicelupkan
33 kedalam sediaan dan tunggu nilai pH yang keluar. Hasil yang didapatkan yaitu pH 8 hal ini masih memenuhi persyatan yaitu syarat ph sabun cuci tangan yaitu ph 8- 11 (Kasenda et al, 2016).
Uji tinggi busa dilakukan dengan 1 gr sediaan dan 10 mL aquadest dalam tabung reaksi lalu dikocok dan diukur tinggi busa yang dihasilkan. Hasil yang didapatkan tinggi busa mencapai 11 cm dan setelah di diamkan 5 menit tinggi busa mencapai 4,5 cm menurut Sari dan ferdinan (2017) Tidak adanya perubahan busa pada tinggi busa setelah didiamkan selama 5 atau 10 menit.
Kemungkinan kesalahan yang dilakukan yaitu pada saat perhitungan dan penimbangan bahan sehingga dapat menyebabkan hasil dari sediaan yang tidak seperti yang diharapkan dan pada saat pengadukan yang tidak menerus diaduk sehingga sediaan tidak homogen dan masih mempunyai partikel partikel kecil.
34 BAB VII
PENUTUP 7.1 Kesimpulan
1. Formulasi sabun cuci tangan yang baik adalah dengan merancang formula sesuai dengan komponen-komponen yang ada dalam sabun cuci tangan dimana komponen-komponen tersebut memuat standar konsentrasi yang sesuai dengan syarat yang telah ditentukan. Adapaun rancangan formulasi sabun cuci tangan yang dibuat adalah zat aktif ekstrak daun mangga 8%, KOH 25% (pembentuk sabun), gliserin 10% (humektan), Na-CMC 1%
(pengental), SLS 1% (surfaktan), Nipagin 1% (pengawet), tutty fruity 1%
(pengaroma), dan aquadest (pelarut).
2. Pembuatansabun cuci tangan dengan mengembangkan Na-CMC terlebih dahulu, dan meleburkan KOH, nipagin serta melarutkan SLS, setelah itu dimasukkan gliserin ke dalam lumping alu yang telah berisis Na-CMC, ditambahkan KOH dan nipagin secara perlahan-lahan dan aduk hingga homogen, ditambahkan ekstrak daun mangga dan aduk hingga homogen, selanjutnya ditambahkan SLS dan tutty fruity dan aduk hingga homogen, terakhir tambahkan aquadest sampai mencukupi 250mL, sediaan yang telah jadi dilakukan uji evaluasi.
3. Evaluasi uji sediaan yaitu meliputi uji mutu fisik antara lain uji organoleptis (warna, bentuk dan bau), uji pH, pemeriksaan viskositas, pemeriksaan homogenitas, pemeriksaan daya sebar dan uji tinggi busa yang dilakukan dengan melihat tinggi busa dari sediaan dan didiamkan selama 5 atau 10 menit.
7.2 Saran
7.2.1 Saran untuk Jurusan
Diharapkan pihak jurusan dapat meningkatkan fasilitas-fasilitas yang ada pada laboratorium yang digunakan.
35 7.2.2 Saran untuk laboratorium
Agar kiranya dapat meningkatkan kelengkapan alat-alat yang ada dalam laboratorium, agar para praktikan dapat lebih mudah, cepat, dan lancar dalam melakukan suatu percobaan atau penelitian.
7.2.3 Saran Untuk Asisten
Kami mengharapkan agar kiranya dapat terjadi kerja sama yang lebih baik lagi antar asisten dan praktikan saat berada di dalam laboratorium maupun diluar laboratorium. Sebab kerja sama yang baik akan lebih mempermudah proses penyaluran pengetahuan dari asisten kepada praktikan.
7.2.4 Saran Untuk Praktikan
Diharapkan kepada para praktikan agar kiranya dapat menyimak dengan baik saat asisten memberikan arahan agar mempermudah kita menyelesaikan praktikum.
DAFTAR PUSTAKA
Achmad R. 2004. Kimia Lingkungan. Jakarta: ANDI Yogyakarta.
Afrozi, A S. 2017. Pembuatan Sabun Dari Limbah Minyak Jelantah Sawit Dan Ekstrak Daun Serai Dengan Metode Semi Pendidihan. J Ilmiah Teknik Kimia 1(1), 1-10
Agoes, Sukrisno. 2012. “Auditing: Petunjuk Praktis Pemeriksaan Akuntan oleh Akuntan Publik”. Jilid 1, Edisi 4, Jakarta: Salemba empat
Agustina, Sari. (2010). Pengaruh Kemandirian Belajar Siswa dan Fasilitas Belajar diSekolah Terhadap Prestasi Belajar Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi (KKPI) Siswa Kelas XI Jurusan Administrasi Perkantoran SMK Negeri 1 Karang anyar Tahun Pelajaran 2009/2010. Universitas Sebelas Maret. Surakarta
Anief, 1995, Ilmu Meracik Obat, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Ansel, H. C., 2005, Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi, diterjemahkan oleh Ibrahim, F., Edisi IV, 605-619, Jakarta, UI Press.
Badan Standardisasi Nasional. 1996. Standar Nasional Indonesia Tentang Sabun Mandi Cair. SNI 06-4085-1996. Jakarta.
Badan Standardisasi Nasional. 2017. Standar Nasional Indonesia Tentang Sabun Cuci Tangan Cair. SNI 2588-2017. Jakarta.
Barel A.O, Marc Paye, & Howard I. Maibach, 2009,Handbook of Cosmetic Science and Technology. Edisi ketiga. New York: Informa Healthcare.
Departemen Kesehatan Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia. Ed ke 4.
Departemen Kesehatan RI: Jakarta. 1288 hal.
Departemen Kesehatan RI. 2008. Profil kesehatan Indonesia 2007. Jakarta :Depkes RI Jakarta
Depkes RI. 2007. Keputusan Mentri Kesehatan RI No: 900/MENKES/VII/2007.
Konsep Asuhan Kebidanan. Jakarta.
Depkes RI., 1979. Farmakope Indonesia, Edisi III, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta,6-7.
Depkes RI., 2014. Farmakope Indonesia, Edisi IV. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta. 93-94
Dimpudus, S. A., Yamlean, P. V. Y., & Yudistira, A. (2017). Formulasi Sediaan Sabun Cair Antiseptik Ekstrak Etanol Bunga Pacar Air (Impatiens balsamina L.) dan Uji Efetivitasnya terhadap Bakteri Staphylococcus aureus seara in vitro. Jurnal Ilmiah Farmasi – UNSRAT, 6(3), 208–215.
Ditjen POM. (1979). Farmakope Indonesia. Edisi Ketiga. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Hal. 32-33
Fachmi, C., 2008, Pengaruh Penambahan Gliserin dan Sukrosa terhadap Mutu Sabun Transparan, Skripsi, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Frederiksen, K., Guy, R.H., and Petersson, K. 2015. “Formulation considerations in the design of topical, polymeric film-forming systems for sustained drug delivery to the skin”. European Journal of Pharmaceutics and Biopharmaceutics. EJPB 11796: 2-3.
Harborne, J., 1997, Metode Fitokimia : Penentuan Cara Modern Menganalisis Tumbuhan, Ed. 2, ITB, Bandung.
Henny, P., Juswono dan R. Retnowati, 2013. Isolasi dan Karakterisasi dari Minyak.
Bunga Cengkeh (Syicigium aromaticum) Kering Hasil Destilasi.
Uap.Student
Kurnia F. dan Hakim, I. (2015) Pembuatan Sabun Cair Dari Minyak Jarak Dan Soda Q Sebagai Upaya Meningkatkan Pangsa Pasar Soda Q. Semarang:
Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro
Lachman L., Herbert, A. L. & Joseph, L. K., 2008, Teoridan Praktek Industri Farmasi Edisi III, 1119-1120, Penerbit Universitas Indonesia, Jakarta.
Lachman, dkk. 1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri. Jilid II. Suyatmi S, Aisyah I, penerjemah. Jakarta: UI Press. Terjemahan dari: The Theory and Practice of Industrial Pharmacy.
Mitsui T., 1997, New Cosmetic Science, Dalam Elsevier Science B.V., Amsterdam.
Mukhriani, 2014, Ekstraksi, Pemisahan Senyawa, dan Identifikasi Senyawa Aktif, Jurnal-Kesehatan Vol VII No. 2, Fakultas Ilmu Kesehatan UIN Alaudin Makassar, Makassar.
Noor, S.U., dan Nurdyastuti, D., 2009, Lauret-7- Sitrat sebagai Detergensia dan Peningkat Busa Pada Sabun Cair Wajah Glysine soja (Sieb.) Zucc, J. Ilm.
Far Ind, 7 (1), 39-47.
Petrucci, H. Ralph; Wiliam, S. Harwood; Geoffrey, F, Herring; dan Jeffrey D.
Madura. 2008. Kimia Dasar ( Prinsip – Prinsip dan Aplikasi Modern) Edisi Kesembilan Jilid 2. Jakarta : Erlangga. Hal : 344.
Plumb P., 2009, Sodium Lauryl Sulfate, Dalam Rowe R.C., Sheskey P.J. and Quinn M.E., eds. Handbook of Pharmaceutical Excipients Sixth Edition, Pharmaceutical Press, London, p. 651-653
Purwati Silla (2021) Pengaruh Konsentrasi Kalium Hidroksida (KOH) Terhadap karakteristik Sabun Cair Dari Ekstrak Tanaman. Tesis Diploma, Akademi Farmasi Surabaya.
Putri, Winda Anggia Dwi. 2021. “Formulasi Sediaan Facial wash Ekstrak etanol daun kemangi (Ocimum Basilicum L).” Universitas Islam Negeri Maulana Malik.
Retnowati, E. (2012). Worked examples in mathematics. 2nd International STEMin Education Conference (hal. 393-395). Beijing: SSCI
Rogers, T.L ., 2009, HPMC, In: Rowe, R.C., Sheskey, P.J. & Quinn, M.E. (Eds.) Handbook of Pharmaceutical Excipient , Sixth edition, 326-329, Pharmaceutical Press and American Pharmasist Association, London.
Rowe R.C, P.J, Sheskey, & M.E, Q, 2009, Handbook of pharmaceutical Excipients, sixth edition. USA: Pharmaceutical Press.
Rowe R.C, P.J. Sheskey, S.O. Owen, 2006, Handbook of Pharmaceutical Excipients, 5th ed., Pharmaceutical Press, London
Sinko, P. J., 2011, Martin Farmasi Fisika dan Ilmu Farmasetika edisi 5, diterjemahkan oleh Tim Alih Bahasa Sekolah Farmasi ITB, 706, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.
Stefanie, A.D., Paulina, V.Y.Y., Adithya, Y., 2017, Formulasi Sediaan Sabun Cair Antiseptik Ekstrak Etanol Bunga Pacar Air (Impatiens Balsamina L.) dan Uji Efektivitasnya Terhadap Bakteri Staphylococcus Aureus Secara In Vitro, Pharmacon Jurnal Ilmiah Farmasi, 6 (3): 208-215.
Suratun, S. Heryani, & Manurung, S., 2008, Pelayanan Keluarga Berencana dan Pelayanan Kontrasepsi, Jakarta: Trans Info Media: 15-16, 19, 87-89 Susiati.(2008). Keterampilan Keperawatan Dasar, Paket 1, Erlangga Medical.
Tri Margono, 1993. Buku Panduan Teknologi Pangan. PDII-LIPI. Jakarta WHO WHO.World Health Organization. 2009;1–3
WHO (2009). Improving Health System and Service for Mental Health:
WHOLibraryCataloguing-in-PublicationData.
Widyasanti, A., Farddani, L., dan Rohdiana, D. 2016. “Pembuatan Sabun Padat Transparan Menggunakan Minyak Kelapa Sawit (Palm oil) dengan Penamabahan Bahan Aktif Ekstrak Teh Putih (Camellia sinensis)” Jurnal Teknik Pertanian Lampung. 5(3) : 125-136