• Tidak ada hasil yang ditemukan

SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM

N/A
N/A
Gemilang Makmur .P

Academic year: 2023

Membagikan "SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM"

Copied!
232
0
0

Teks penuh

Bagi umat Islam pada umumnya, buku ini dapat menjadi referensi untuk memahami perjalanan Islam sehingga dapat meminimalisir mitos-mitos yang ada yang menyertai sejarah kebudayaan dan peradaban Islam. Selain penting bagi orang dalam, buku ini juga layak dibaca oleh orang luar yang ingin mengetahui sejarah peradaban Islam.

PARADIGMA SEJARAH

Di sisi lain, pusat lingkaran dan sekitarnya juga menyebabkan munculnya pusat baru, yang di sekelilingnya muncul lebih banyak gejala.8 Teori yang digunakan sebagai alat analisis adalah teori konflik, gerakan sosial, dan ideologi perlawanan. Teori konflik digunakan untuk menganalisis permasalahan kedua, ketiga dan keempat, sedangkan teori gerakan sosial digunakan untuk menganalisis permasalahan kedua dan ketiga.

PENGERTIAN PERADABAN

Sebaliknya, jika tantangan-tantangan yang timbul dari dinamika sejarah tidak dapat disikapi, maka masyarakat seperti ini akan mengalami kemunduran peradaban. Oleh karena itu, peradaban sebagai akumulasi kebudayaan-kebudayaan tinggi bersifat dinamis dan berfluktuasi mengikuti ritme sejarah.

PERADABAN ISLAM

Akumulasi berbagai kebudayaan yang diilhami ruh Al-Qur'an menjadi peradaban besar Islam bahkan menjadi peradaban besar masyarakat dunia. Meski mempunyai corak yang berbeda-beda, namun seluruh bentuk identitas dalam peradaban Islam memiliki semangat tauhid yang sama.

MUHAMMAD SAW: ARSITEK PERADABAN

Dalam paradigma 'definisi sosial', gagasan dan pemikiran agama berperan kuat dalam mewarnai realitas sosial di masyarakat. Namun sejarawan Mahmud Pasha membenarkan dalam penelitiannya berdasarkan fakta sejarah bahwa Nabi Muhammad SAW lahir pada hari Senin tanggal 12 Rabi'ul Awwal tahun 571.22 Namun sejarawan lain berpendapat berbeda.

PEWAHYUAN: FONDASI PERUBAHAN

Ibn Ishaq berkata bahawa Zaid bin Haritsah adalah orang yang pertama masuk Islam daripada golongan lelaki selepas Ali Bin Abi Talib. Terdapat lapan orang yang masuk Islam, menunaikan solat dan memperkenankan segala yang datang kepada Nabi Muhammad.

HIJRAH: PROSES PEMBENTUKAN PERADABAN

Acara pimpinan pengumpulan mushaf Al-Quran yang tersebar pada masa Abu Bakar ini merupakan acara budaya karena belum pernah disampaikan sebelumnya oleh Nabi Muhammad SAW. Ayat-ayat yang tertulis di pohon kurma, batu, kulit dan tulang binatang dikumpulkan atas perintah Abu Bakar untuk menjaga keaslian Al-Qur'an.

EKSPANSI PERTAMA

Sejak Mu’awiyah dan keturunannya, sistem kepemimpinan kharismatik pada masa awal khilafah telah bertransformasi menjadi sistem monarki berbasis marga. Al-Futuhat untuk membebaskan wilayahnya dari cengkraman kerajaan Romawi dan Persia terhenti pada era Khalifah Ali karena terkena dampak konflik internal antara Ali dan Aisyah, Tholhah dan Zubair (perang unta) dan antara Ali dan Mu’awiyah (siffin). perang).

EKSPANSI II

Kebijakan politik Muawiyah terutama ditujukan pada perluasan wilayah teritorial atau perluasan wilayah kekuasaan politik. Dalam ekspansinya, Muawaijah berhasil menaklukkan berbagai wilayah Barat (Kekaisaran Bizantium) dan Timur (wilayah Sassanid Persia).

PEMERINTAHAN BANI MARWAN: AWAL ERA

Hal inilah yang menyebabkan munculnya era baru kemakmuran di dunia Islam pada era Umar bin Abdul Aziz. Kebijakan-kebijakan Khalifah Umar Bin Abdul Aziz yang juga menjadi prestasi gemilangnya dapat dijelaskan dalam lima hal, yaitu: Kemuliaan Khilafah Bani Umayyah selalu diidentikkan dengan kebijakan-kebijakan Khalifah Umar Bin Abdul Aziz sebagai khalifah yang terkenal, adil dan perhatian terhadap masyarakat rendahan dan minoritas.

Khalifah Yazid bin Abdul Malik dikenal sangat materialistis (hubb al-dunya) dan tidak begitu peduli terhadap kehidupan masyarakat kelas bawah.

KLAN ABBASIYAH: KELUARGA BANI HASYIM . 61

Sejak Abul Abbas mendeklarasikan Dinasti Abbasiyah terus berlanjut dengan khalifah kharismatik yang kuat secara politik. Abu Ja'far Al-Mansur adalah khalifah yang meletakkan dan memperkuat landasan kehidupan bernegara bagi Dinasti Abbasiyah. Hal terpenting yang membuat Harun Al-Rasyid mampu membawa Dinasti Abbasiyah mencapai puncak peradaban adalah semangatnya terhadap pengembangan kebudayaan.

Sejak awal penubuhannya sehingga Khalifah Al-Watsiq, Dinasti Abbasiyah sangat progresif dalam bidang pengembangan ilmu dan penyelidikan sains.

DINASTI-DINASTI ERA DESENTRALISASI

  • Dinasti Idrisi (788-985 M)
  • Dinasti Tahiriyah (820-872 M)
  • Dinasti Shaffariyah (868-901 M)
  • Dinasti Samaniah (874-999 M)
  • Dinasti Aghlabiyah (800-909 M)
  • Dinasti Tuluniah (868-905 M)
  • Dinasti Hamdani (928-1003 M)
  • Dinasti Ikhsyidiah (935-969 M)
  • Dinasti Bani Buwaih (945-1055 M)
  • Dinasti Seljuk (1037-1127 M)
  • Dinasti Fatimiyah (909 M-1171 M)
  • Dinasti Ayyubiyah (1174-1250)
  • Daulah Bani Umayah II di Spanyol (711-1013 M) 105
  • Dinasti Mamalik (1250-1517 M)

Pada masa Al-Mu’tamid terjadi segitiga permusuhan antara keluarga Bani Abbas, Syi’ah dan Khawarij yang saling melemahkan. Hal ini menyebabkan mencairnya hubungan Al-Mu'tamid dengan kaum Syi'ah, khususnya marga Hamdani.Bahkan pada era Khalifah Al-Muqtadir, beberapa keluarga Hamdani memperoleh posisi penting dalam struktur politik Bagdad. Thugrul mengembalikan kekuasaan khalifah yang telah lama direbut oleh kaum Syiah Bani Buwaih.

Kelompok Syiah asal Yaman ini sebelumnya menguasai Afrika Utara dan menaklukkan Mesir, membentuk dinasti Fatimiyah yang berbasis di Kairo.

PERANG SALIB (1095-1291 M)

Bohemond, salah satu pemimpin Tentara Salib, memiliki tujuan praktis untuk menaklukkan wilayah dan mendirikan dinasti. Kekuasaan kekuatan Islam di bawah kepemimpinan Salahuddin al-Ayyubi melemahkan ambisi perang Salib yang dilancarkan atas nama agama oleh Paus Urbanus II, Uskup Sylvester II, dan Paus Eugenius III. Palestina, yang merupakan kota suci agama-agama surgawi, kembali ke kekuasaan Tentara Salib pada tahun 1219 setelah Salahuddin al-Ayyubi dari Tentara Salib ditangkap.

Pada zaman Mamalik, perjuangan menentang tentera salib telah dimulakan oleh Sultan Ay Beik dan diteruskan oleh Sultan al-Malik al-Dzahir Baybar.

SERANGAN MONGOL DAN DINASTI ILKHAN . 124

TIGA DINASTI MESIN

  • Turki Usmani (1280-1922 M)
  • Dinasti Shafawi (1507-1722 M)
  • Dinasti Mughal (1526-1858 M)

Pada masa pemerintahannya, Dinasti Turki Ottoman mengukir sejarah peradaban yang cukup cemerlang di berbagai bidang. Di bidang militer, tercatat Turki Ottoman mampu melakukan ekspansi yang dimotori oleh al-Fatih. Perseteruan dengan Turki Utsmaniyah terus berlanjut hingga para pemimpin dinasti Syafawi sesudahnya, seperti Tahmasp hingga Muhammad Khudabanda.

Kesultanan Turki Utsmaniyah lebih mengandalkan kekuatan militer, sedangkan Dinasti Safawi lebih mengandalkan aliansi suku dan lembaga tarekat.

FAKTOR-FAKTOR KEBERHASILAN

Desentralisasi merupakan era di mana umat Islam terpecah menjadi berbagai dinasti kecil yang dipimpin oleh sultan setempat. Karena tidak adanya perkembangan peradaban yang signifikan di era sentralisasi, maka muncullah dinasti mesin mesiu untuk mendapatkan harta karun peradaban dunia yang hilang. Keinginan inilah yang membuat dinasti mesin mesiu mampu menjadi kerajaan dan menjadi negara adidaya di dunia.

Keberhasilan dinasti mesiu juga tidak terlepas dari kepemimpinan politik pemerintah, ketangguhan militer, dukungan masyarakat agraris (petani), adaptasi budaya (pada masa Mughal) dan yang lebih penting didukung oleh kekuatan ekonomi yang kuat yaitu pertanian. dan perdagangan.

SEBAB-SEBAB PERADABAN SURUT

Jadi kemunduran dinasti mesin mesiu dari sudut pandang ekonomi bermula dari ketidakmampuan mereka mengubah modal (harta tidak aktif) menjadi modal (harta bergerak). Kekayaan modal yang ada pada Dinasti Bubuk Mesiu (khususnya para petani, saudagar, dan pemilik tanah) tidak dikelola dengan baik sehingga tidak dapat bergerak secara dinamis. Secara teologis, semangat pemikiran Islam progresif juga tidak menonjol di era Dinasti Mesiu ini.

Berakhirnya dinasti mesin debu menandai era baru dalam sejarah, yang sering dikenal sebagai era teknis modern.

SENTUHAN PERADABAN BARAT

Sentuhan dan hegemoni Barat terhadap Islam sebenarnya terjadi pada abad ke-17 dalam bentuk perdagangan, sedangkan hegemoni politik dan militer terjadi pada abad ke-19. Baru pada abad ke-19 hal ini tidak lagi memuaskan Barat, sehingga Barat melanjutkan ekspansinya dengan kekuatan militer dan mengubah dirinya menjadi penjajah. Pada abad ke-19, era imperialisme Barat atas negara-negara Muslim dan Timur secara terbuka dimulai.

Berbeda dengan masa lalu, ketika pada abad ke-17 sarana politik dan militer tidak dikedepankan dan hanya sarana perdagangan yang digunakan (di Indonesia perusahaan Belanda menggunakan nama VOC) untuk memenuhi kebutuhan perekonomian industri.

WACANA DEKONTRUKSI WARISAN ISLAM

Para pemimpin dan pemikir negara-negara Islam akhirnya membuka mata terhadap keterbelakangan dan kantuk umat Islam. Ini merupakan syarat mutlak yang tidak dapat ditawar-tawar jika umat Islam ingin terbebas dari keterbelakangan, kolonialisme, kebodohan dan kemiskinan. Hal ini juga menunjukkan bahwa umat Islam harus menghormati tradisi ulama masa lalu sebagai bahan pertimbangan dalam menciptakan tradisi baru.

Dekonstruksi dimaknai sebagai cara penyegaran, dan bukan berarti umat Islam meninggalkan tradisi keagamaan yang diyakininya (seperti budaya sekuler Barat).

FAKTOR-FAKTOR KETIDAKBERDAYAAN

Bagi ulama sekuler, peradaban Barat bahkan dijadikan acuan dalam membangun peradaban di dunia Islam, seperti anggapan sudah saatnya sistem negara Islam monarki diganti dengan sistem demokrasi seperti Barat. Meski reaksi terhadap peradaban Barat di dunia Islam berbeda-beda, namun secara umum nampaknya semakin tumbuh kesadaran bahwa umat Islam harus siap menjaga ajaran dasar Al-Qur'an (bukan ajaran agama yang bukan produk ulama). ) dan membuat ketentuan. sikap positif terhadap tradisi baru yang lebih kontekstual. Muhammad Arkoun juga mengkritik umat Islam yang statis (jumud) karena tidak mau melihat dinamika peradaban Barat sebagai fakta sejarah.

Dunia Islam dalam sejarahnya belakangan ini, terutama setelah bersinggungannya peradaban Barat dengan dunia Islam, telah melahirkan gerakan-gerakan yang berupaya mencapai sintesa antara Islam dan peradaban modern dengan merevisi ajaran Islam dan menanamkannya dengan tafsir-tafsir baru untuk ditafsirkan.187 Perkenalannya dengan peradaban Barat telah menggugah semangat untuk menyalakan api kebudayaan Islam yang pernah jaya namun sempat padam saat itu.

TEOLOGI PEMBARUAN: SEBUAH UPAYA

Dalam keadaan seperti itu, pada abad ke-20 muncullah tokoh-tokoh intelektual keagamaan seperti Hasan al-Banna dan al-Maududi198 yang menonjolkan gaya fundamentalisnya dalam bentuk gerakan untuk kembali pada ajaran dasar Al-Qur’an dan membangun Sunnah sebagai landasannya. menjadi landasan masyarakat dan menentang peradaban Barat serta tegas menolak Westernisme, sekularisme, dan imperialisme. Kehadiran aktivis intelektual pada tahun 1970-an dilatarbelakangi oleh rasa ketidakpuasan terhadap paradigma pemikiran dan gerakan intelektual modernis-sekularis yang sedikit berakar pada tradisi Islam (turats). Para intelektual aktivis terpelajar modern hadir dalam pola baru, yaitu komitmen terhadap transformasi masyarakat muslim, dengan pemikiran dan gerakannya masih dalam kerangka ideologi dan program yang dapat diakui murni berdasarkan tradisi Islam. tahun 1970-an, meski memiliki perbedaan dalam beberapa hal, namun memiliki ciri penting yang sama, yaitu menghadirkan sintesa pemikiran dan gerakan Islam transformatif berdasarkan tradisi Islam yang kuat, serta menjadi aktivis dalam proses transformasi umat Islam.

Antusiasme para intelektual Islam terhadap wacana pemikiran budaya Islam begitu tinggi sehingga sering disebut dengan periode “antusiasme intelektual”209 untuk membedakannya dengan periode “antusiasme politik” seperti yang terjadi pada masa-masa sebelumnya.

UPAYA MEMBUMIKAN ISLAM

Di antara isu-isu umum yang dikembangkan kedua aktivis intelektual ini adalah universalisme Islam dan kosmopolitanisme peradaban Islam,215 konsep negara Islam dan pluralisme tidak ada. 214 Isu-isu yang muncul sebagai wujud kepedulian terhadap permasalahan umat Islam dan bangsa Indonesia antara lain formalisme politik Islam, kosmopolitanisme, pluralisme dan keberagaman bangsa, demokrasi, persatuan bangsa, kemanusiaan dan lain-lain. 215 Gagasan Islam kosmopolitan bagi kedua tokoh ini bermula dari kenyataan bahwa Islam mempunyai nilai-nilai universal yang harus diimbangi dan dibenarkan oleh kosmopolitanisme peradaban Islam. Untuk lebih jelasnya lihat Abdurrahman Wahid, Universalisme Islam dan Kosmopolitanisme Peradaban Islam, Makalah, (Jakarta: Paramadina, 1988), hal.

229 Jalaluddin Rahmat, “Islam dan Kekuasaan, Pelaku atau Instrumen”, dalam Imam Azis dkk., Agama, Demokrasi dan Keadilan (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1993), hal.74.

MENUJU TATANAN SOSIO-KULTURAL BARU

Menurut Djohan Effendi, membela kebebasan beragama bagi semua orang dan menghormati agama sebenarnya adalah bagian dari menjadi seorang Muslim.234 Yang ingin ditekankan oleh Djohan Effendi adalah perlunya transformasi teologi kebebasan manusia dengan menciptakan keadilan sosial bagi masyarakat, tanpa memandang agama atau golongan. latar belakang. Diakui dengan jelas bahwa arus modernisasi dan dinamika yang dibawanya dari luar telah membawa pada pembaharuan dan pemahaman baru terhadap isi ajaran agama, yang kemudian disusul dengan upaya untuk merumuskan kembali ajaran agama.236 Berdasarkan fenomena sejarah tersebut, Islam yang ada saat ini sudah ada. gerakan budaya mulai menekankan keterbukaan dan dialog, mencari format sintetik baru. Hal ini hanya dapat dicapai jika pemikiran umat Islam dibiarkan bebas merespons tuntutan dan tantangan modernitas secara kreatif, diikuti dengan upaya merumuskan kembali dan menerapkan kembali ajaran-ajaran dalam kehidupan yang telah berubah.237 Realitas sosio-historis bersifat dinamis, sehingga kehidupan umat Islam dapat berubah. Hadirnya dinamika baru yang muncul akibat arus modernisasi harus disikapi dengan penafsiran agama yang kontekstual.

237 Greg Barton, “Liberalisme: Dasar-Dasar Pemikiran Progresif Abdurrahman Wahid”, dalam Greg Fealy en Greg Barton (Ed), Tradisionalisme Radikal, Persimpangan Nahdlatul Ulama-Negara, terj. A.

UNIVERSALISME BARAT

FAKTOR KONFLIK PERADABAN

PERADABAN ISLAM VERSUS BARAT

SEBUAH CATATAN

Referensi

Dokumen terkait

Diantara cakupannya itu ada yang berkaitan dengan sejarah proses pertumbuhan, perkembangan dan penyebarannya, tokoh-tokoh yang melakukan pengembangan dan penyebaran

Dari usaha-usaha yang dilakukan oleh sebagian intelektual Muslim dalam melakukan rekonstruksi studi keislaman, Hasan Hanafi menyebut bahwa Islamic thought sudah saatnya

Dari kerangka itu, maka Sejarah Kebudayaan Islam di madrasah meru- pakan salah satu mata pelajaran yang menelaah tentang asal-usul, perkem- bangan, peranan

Identitas kesukuan yang merupakan asas kehidupan sosial masyarakat Arab, ketika mereka menjadi muslim mengganti dengan identitas baru yakni islam, loyalitas kabilah ditukar

3 Zuhairini, Sejarah Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1992), 130-134.. Dinamika Pendidikan Islam Pasca Orde Baru Salah satu bentuk pembinaan yang konkret dan sangat

Masalah praktis yang baru akan dapat dipecahkan secara cepat jika mengacu pada kerangka teori dasar yang telah ada.. Meningkatkan pemahaman dan keyakinan

Umat muslim pada masa Umayyah telah menoreh catatan sejarah yang mengagumkan dalam bidang intelektual, banyak perestasi yang mereka peroleh khususnya perkembangan pendidikan

Elemen Capaian Pembelajaran Kompetensi Lingkup Materi Tujuan Pembelajaran Periode Klasik 650 M - 1250 M Peserta didik mampu menganalisis perkembangan peradaban Islam di masa