TUGAS MATA KULIAH HUKUM PERIKATAN
“Sejarah Perkembangan Hukum Perikatan di Indonesia”
Oleh
ISWAN AGUSTIAN NPM 2112011304
PRODI ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS LAMPUNG
2022/2023
________________________________________________________
Abstrak
Hukum nasional di negara Indonesia masih menggunakan hukum zaman kolonial warisan Belanda yang telah menjajah Indonesia selama ratusan tahun. Belanda mewarisi beberapa hukum nasional yang salah satunya adalah Kitab Undang- Undang Hukum Perdata (KUH Perdata), KUH Perdata adalah terjemahan dari Burgelijk Wetboek Voor Indonesie atau yang kita kenal sebagai BW. Burgelijk Wetboek terdiri dari empat bagian, salah satunya adalah bagian ketiga yang membahas tentang perikatan yang menjadi pokok bahasan pada artikel ini.
__________________________________________________________________
Kata kunci: Perikatan, Burgelijk Wetboek, Hukum
A. Pendahuluan
Kehidupan dalam masyarakat tidak dapat dilepaskan dari hukum,
“Ubi Societas Ibi Ius” yaitu dimana ada masyarakat disitu pasti ada hukum.
1Hukum berfungsi sebagai pengatur yang bersifat mengikat dan memaksa serta memiliki sanksi yang tegas terhadap pelanggarnya. Hukum memiliki beberapa cabang disiplin ilmunya masing-masing, salah satunya adalah hukum perdata yang menjadi pedoman segala bentuk tindakan antar individu atau antar perseorangan. Hukum Perdata dibagi kembali menjadi tiga buku yang salah satunya adalah buku III tentang perikatan.
Perikatan didefinisikan sebagai suatu hubungan hukum antara dua orang atau lebih dalam lapangan harta kekayaan dimana satu pihak berhak atas sesuatu dan pihak lain berkewajiban memenuhi sesuatu. Hubungan hukum dalam lapangan harta kekayaan menimbulkan suatu akibat hukum yaitu perikatan. Perikatan sendiri bersumber pada Pasal 1233 Burgelijk Wetboek yang menyatakan tentang sumber perikatan yakni perikatan yang lahir dari per-setujuan atau perjanjian, dan perikatan yang lahir dari undang-undang.
ketentuan-ketentuan dalam KUH Perdata termasuk perikatan masih menggunakan hukum kolonial yang pernah berlaku di Indonesia ketika masa penjajahan
Belanda. Seiring dengan perkembangan zaman, hukum perikatan yang pernah berlaku dahulu dirasa sudah tidak relevan dengan kondisi Indonesia saat ini.
Pengaturan Perikatan sebagai hukum yang mengatur hubungan antar pihak yang melakukan perjanjian tentunya akan terus mengalami perubahan mengikuti perkembangan kehidupan masyarakat. Oleh sebab itu, Indonesia perlu melakukan penyesuaian untuk memperbaharui hukum perikatan mengikuti perkembagan zaman. Kemudiannya, penulis menghimpun dan menelaah perkembangan hukum perikatan di Indonesia lewat literatur-literatur yang relevan guna mencari
informasi apakah pengaturan hukum perikatan Indonesia sudah mengalami pembaharuan atau masih tetap pada format awal mengikuti hukum kolonial.
1 Sasongko, Wahyu. “Dasar-Dasar Ilmu Hukum”.
B. Pembahasan
B.1. Pengaruh Hukum Internasional terhadap Hukum Perikatan Indonesia Aktivitas perdagangan yang dilakukan masyarakat internasional menjadi perkembangan awal hukum kontrak internasional. Seiring dengan kemajuan teknologi, proses transaksi antar pedagang dan pembeli lintas negeri dapat lebih mudah dilakukan tanpa mengetahui terlebih dahulu siapa yang menjadi penjual dan siapa yang menjadi pembeli. Kondisi yang sedemikian mudahnya
memunculkan kewaspadaan akan kecurangan yang dilakukan oleh kedua belah pihak baik produsen maupun konsumen saat melakukan transaksi lintas
negaranya. Perkembangan yang sedemikian rupanya sulit diterima oleh hukum nasional negara-negara. Berkaitan dengan itu, pada abad ke-19 Hindia Belanda atau Indonesia mulai menyusun hukum nasionalnya mengenai kontrak.
Pemerintah kolonial menetapkan Burgelijk Wetboek yang berisi ketentuan-
ketentuan mengenai perikatan atau verbintenis yang kemudian dapat diberlakukan di Indonesia atas asas konkordansi dan selanjunya melalui Pasal II aturan
peralihan berubah menjadi Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHP).
Burgelijk Wetboek buatan pemerintah kolonial juga turut memasukkan prinsip dasar hukum perdagangan internasional ke dalam aturannya. Hal tersebut terlihat dalam ketentuan Pasal 1338 ayat (1) BW yang memuat tentang prinsip kebebasan berkontrak. Prinsip kebebasan berkontrak merupakan prinsip universal yang membolehkan setiap orang untuk mengadakan perjanjian apa saja, baik yang belum diatur maupun sudah diatur dalam undang-undang. Prinsip kebebasan berkontrak menimbulkan pembaharuan model-model kontrak baru yang
sebelumnya belum dibukukan dalam Hukum Perjanjian Indonesia. Kontrak yang sebelumnya hanya dipergunakan dalam lingkup bisnis, sekarang mulai merambah ke bidang pembangunan seperti kontrak konstruksi. Kontrak konstruksi bersifat terbuka kepada siapapun tidak harus melibatkan warga negara Indonesia maupun badan hukun Indonesia tetapi juga mampu melibatkan pihak asing. 2
B1.2. Pemberlakuan Sistem Hukum Terbuka pada Hukum Perikatan Indonesia
Pada permulaanya, sistem hukum perikatan menganut sistem tertutup, dimana setiap pihak-pihak yang terikat tunduk pada undang-undang yang berlaku. Sistem tertutup disebabkan oleh pengaruh aliran legisme yang menganut paham tiada hukum diluar undang-undang. Namun, dalam perkembangannya sistem tertutup
2 Kuahaty, Sarah. “Pengaruh Hukum Internasional Terhadap Perkembangan Hukum Kontrak di Indonesia”, Jurnal Sasi Vol. 20, No. 2 (2014), DOI:
https://doi.org/10.47268/sasi.v20i2.328
mengalami keredupan akibat perkembangan zaman dikarenakan para pihak yang melakukan perikatan tidak melulu harus tunduk pada undang-undang. 3
Dewasa ini, sistem hukum perikatan Indonesia menganut sistem terbuka sebagaimana disimpulkan dalam Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata yang menerangkan bahwa segala perjanjian yang secara sah berlaku sebagai undang- undang bagi mereka yang membuatnya.4 Setiap pihak dalam melaksanakan perjanjian diberi kebebasan untuk menentukan undang-undangnya sendiri, asalkan tidak bertentangan dengan kesusilaan dan ketertiban umum. Penerapan sistem hukum terbuka memerlukan adanya pembatasan agar substansi perjanjian diakui secara sah di mata hukum. Setiap pihak yang akan melakukan perjanjian perlu memperhatikan syarat sah perjanjian pada Pasal 1320 KUH Perdata. Pelanggaran terhadap ketentuan yang berlaku akan mengakibatkan suatu perjanjian dianggap tidak pernah ada dan juga dapat berpotensi menimbulkan wanprestasi terhadap debitur.
C. Kesimpulan
Hukum Perikatan Indonesia merupakan bagian dari Hukum Perdata Indonesia yang berakar pada hukum kolonial warisan dari Belanda. Sedari bangsa Indonesia merdeka, ketetapan-ketetapan dalam hukum perikatan tidak pernah mengalami perubahan walaupun diterpa perkembangan zaman. Keadaan kehidupan sosial masyarakat dahulu pastinya berbeda dengan saat ini, sehingga beberapa aturan terdahulu sudah tidak relevan bila disandingkan dengan keadaan yang sekarang.
Pemerintah Indonesia senantiasa perlu melakukan pembaharuan pasal-pasal dalam KUH Perdata khususnya pada buku III tentang perikatan agar mampu menyikapi perkembangan zaman guna menciptakan rasa aman bagi para pihak yang akan melakukan perjanjian.
Daftar Pustaka
3 Dengah, Kartika. “Eksistensi Serta Akibat Penerapan Sistem Terbuka padab Hukum Perikatan”, Lex Privatum Vol. 3, No. 4 (2015).
4 Setiawan, I Ketut Okta. “Hukum Perikatan”. Sinar Grafika: Bandung. 2015. Hal 1
Muhammad, Abdul Kadir. 1990. Hukum Perdata Indonesia. Bandung: PT Citra Aditya Bakti.
Salim. 2019. Hukum Kontrak: Teori dan Tekhnik Penyusunan Kontrak. Jakarta:
Sinar Grafika.
Setiawan, I Ketut Okta. 2015. Hukum Perikatan. Bandung: Sinar Grafika.
Kiani. 2022. KUH Perdata Indonesia Warisan Kolonial, Apakah Masih Relevan Hingga Saat ini ?. DHP Law Firm. Diunduh 29 September 2022 . DOI:
https://www.dhp-lawfirm.com/kuh-perdata-indonesia-warisan-kolonial-apakah- masih-relevan-hingga-saat-ini/
Kuahaty, Sarah. “Pengaruh Hukum Internasional Terhadap Perkembangan Hukum Kontrak di Indonesia”, Jurnal Sasi Vol. 20, No. 2 (2014), DOI:
https://doi.org/10.47268/sasi.v20i2.328
Dengah, Kartika. “Eksistensi Serta Akibat Penerapan Sistem Terbuka pada Hukum Perikatan”, Lex Privatum Vol. 3, No. 4 (2015).